Pages

Jumat, 16 Agustus 2024

Alquran / 53. surah An-Najm/ hlm61

Bismillah wAlhamdulillah 

( Asshalisu Wal krhomsun min shuwaril qur'an suratunnajmi ) Yang ke 53 surah-surah yang ada di dalam Alquran, yaitu surah yang bernama An-Najm
Ini surah ( Makkiyyatun) di turunkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam sebelum hijrah daripada Mekkah ke Madinah, 
( Wa ayatuha ) Dan ayat-ayatnya berjumlah
( Shintani wa shittun) 62 ayat 

An-Najmi artinya adalah bintang, menurut sebahagian ahli tafsir yang di maksudkan dengan bintang disitu adalah ( assyuraya) yaitu bintang Suraya, 

Demi bintang apabila dia terbenam

Teman kamu nabi Muhammad itu tidaklah sesat, baik perkataan maupun perbuatannya 

Dan dia nabi Muhammad itu tidak bertutur atas dasar hawa nafsunya, melainkan apa yang di ucapkan dan di smapaikannya itu berdasarkan Wahyu yang di wahyukan kepadanya, nah ini Allah telah bersumpah, menyatakan untuk meyakinkan kepada manusia bahwa nabi Muhammad itu, pertama tidaklah sesat, baik perkataannya atau perbuatannya, kemudian yang kedua Allah menyatakan bahwa nabi Muhammad itu tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan semua itu adalah waktu yang datang daripada Allah subhanahu wa ta'ala 

Bersangkutan dengan ayat ini, di riwayatkan dari
'urwah bin Jubair, ( 'anna 'utbatabna Abi lahab, Wakana tahtahub bintu rasul shalallahu 'alaihi wa salam ruqoyyah, arhodal huruj ilassyam faqola, la'atiyanna Muhammad fala'utiyannah, Fa'atahu faqola ya Muhammad wakafirum bin Najmi iza hawa, shumma taffarobih wajhih Rasulillahi shallallahu 'alaihi wassalam, 
Warodda ibnatahu wadhollaqoha, faqola Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, allahumma shallit 'alaihi kalbam mingkilabih akrhozahul hakim ) 

Utbah nama seorang laki-laki putra abu lahab, utbah ini sekaligus juga menantu junjungan kita Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, karena salah seorang putri dari Rasulullah di ambil istri oleh utbah yang bernama ruqayyah, kita musti mengetahui bahwa Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam mempunyai 7 orang anak, diantaranya adalah 

1. Putra Rasulullah yang bernama Al Qosim, Qosim ini wafat sebelum dewasa, sebelum berkeluarga 
2. Putri Rasulullah yang bernama Zainab, zainab ini istri daripada 'abil ash, 
3. Putri Rasulullah yang bernama ruqayyah di ambil istri oleh utbah anaknya abu lahab
4. Putri Rasulullah yang bernama Fatimah, di ambil istri oleh Al imam sayyidina Ali karromallahu wajhah 
5. Putri Rasulullah yang bernama ummu kulsum, Ummu kulsum ini di ambil istri oleh 'utaibah, adiknya utbah putra oleh abu lahab juga
6. Putra Rasulullah yang bernama Abdullah, semua itu lahir di Mekkah Al Mukarramah daripada ibundanya saydatina krhadijah 
7. Kemudian di Madinah lahir lagi satu putra Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bernama Ibrahim daripada ibundanya yang bernama Mariyah Al kibtiyah, demikianlah putra putri Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam 

Jadi utbah putranya abu lahab ini hendak berangkat ke negri Syam, ke negeri siria, dia berkata sebelum aku hendak berangkat ke negeri Syam aku mahu datangi dulu Muhammad dan aku akan sakiti Muhammad itu, datang utbah kepada Rasulullah, utbah berkata ya Muhammad, memanggil langsung dengan nama, tidak punya adab kepada mertua, maka Baginda Rasulullah menyampaikan ( 'aba'uka shalasatun ) orangtua engkau itu ada 3 
( 'abukalladzi waladak) Orangtua yang melahirkan engkau ( Walladzi zawwazaka ibnatah ) mertua engkau
( Walladzi 'allamak) Dan orang yang mengajarkan ilmu agama kepada engkau 

( Ya Muhammad, Wakafirum binnajmi iza hawa) ujar utbah ya Muhammad, aku kafir dengan wannajmi iza hawa, ayat yang pertama di dalam surah tadi ( shumma 
Ta'ala bi wajhih Rasulillahi shallallahu 'alaihi wassalam) kemudian dia meludah di hadapan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam,
 ( Warodda ibnatahu wadhollaqoha) Dan dia mengembalikan putri Rasulullah dan menceraikannya 
( Faqola Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam) Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyampaikan 
( allahumma shallit 'alaihi kalbam mingkilabih akrhozahul hakim ) Bahasa kiranya mudahan itu utbah di makan binantang buas matinya 

Setelah itu uthbah pun pergi melanjutkan perjalanannya ke negeri Syam, di tengah jalan di malam hari dia beserta rombongannya tidur, datang seekor binatang buas dan menerkam kepada itu kepala utbah, maka matilah utbah itu, nah ruqayyah putri Baginda Rasulullah yang sudah di ceraikan utbah ini di kawinkan oleh Baginda Rasulullah, atas dasar Wahyu daripada Allah kepada sayyidina Utsman bin Affan radiallahu'anh 

baginfa Rasulullah tidak bertutur melainkan daripada Wahyu yang datang daripada Allah, 

Abdillah bin amar

Aku dulunya mencatat semua apa yang Baginda Rasulullah katakan, Rasulullah bicara ku tulis, Kemudian kawan-kawanku orang Quraisy memberikan saran kepadaku, wahai Abdullah bin amar, apakah engkau mencatat semua perkataan Rasulullah, sedang Rasulullah itu hanya manusia sama seperti kita apakah engkau tidak salah mencatat semua perkataan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, setelah mendengarkan itu akhirnya aku berhenti mencacat perkataan daripada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, 

kemudian sesudah itu aku ceritakan kepada Baginda Rasulullah kejadian yang demikian itu, maka Baginda Rasulullah menyampaikan ( uktub, fawalladzi nafsih biyadih ma krharaza minni illal Haq ) ujar Baginda Rasulullah tulis apa yang aku kata, demi Allah tidak keluar daripadaku melainkan semuanya itu adalah benar 
Maka sesuai lah dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang sudah di jelaskan di dalam Alquran 

Sebagaimana dengan surat-surat sebelumnya surah ini juga banyak memberikan petunjuk dan arahan daripada Allah subhanahu wa ta'ala untuk kita semua agar selamat dunia dan akhirat, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surah ini dapat ayat 31

Bagi Allah lah sesuatu yang ada di langit dan di bumi semuanya itu milik Allah subhanahu wa ta'ala, Allah membalas orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan perbuatan mereka, ( bima 'amilu) dengan apa-apa yang mereka kerjakan, dan Allah membalas orang-orang yang berbuat baik ( bil Husna) dengan kebaikan 

Nah kemudian di sini para ulama tafsir meneliti, Allah berfirman bahwa Allah membalas orang-orang yang berbuat jahat itu ( bima 'amilu) dengan apa yang mereka kerjakan, dan Allah membalas orang yang berbuat kebaikan ( bil Husna ) dengan kebaikan yang berlipat ganda, seharusnya biasanya kalau ada orang berbuat baik maka di balas dengan apa yang di perbuatnya, tapi Allah tidak, Allah akan memberikan begitu banyak ganjaran dengan sebab satu kebaikan, berbeda dengan satu keburukan di balas Allah sesuai dengan satu keburukan juga, nah inilah bentuk Rahmat dan kebaikan daripada Allah subhanahu wa ta'ala 

Hadist qudsi mengatakan bahwa 
( Iza hamma 'abdi bi hasanatin walam yakmalha, katabtuha lahu Hasanah, fa'in 'amilaha katabtuha 'asroh hasanat ila sab'i mi'ati jakfin, wa'iza hamma bi syai yi'atin Walam yakmalha, lam 'aktub alaihi fa'in 'amilaha katabtuha syai yi'atan Wahidah rowahu Bukhari Muslim )
Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan apabila seorang hambaku bercita-cita hendak melakukan satu kebaikan, semisal esok aku hendak i'tikaf di masjid, esok aku hendak bersedekah memberi makan orang 

( Walam yakmalha) Dan dia tidak melakukan cita-cita tersebut karena sesuatu yang menghalanginya seperti uzur, tidak jadi, maka aku tulis kata Allah baginya satu kebaikan, jika dia jadi mengerjakan cita-citanya itu maka aku tulis baginya kata Allah 10 kebaikan sampai 700 gandanya pada catatan amal kebaikannya, dan apabila seorang hamba hendak bercita-cita berbuat jahat, semisal esok aku hendak mencuri, hendak merampok, hendak menyakiti hati orang, hendak berbuat perkara yang jahat, ( Walam yakmalha ) dan dia tidak melakukannya karena takut kepada Allah 
( lam 'aktub alaihi) Maka tidak akan aku catat baginya satu dosapun, ( fa'in 'amilaha ) tapi jika dia kerjakan itu dosa yang dia cita-citakan itu ( katabtuha syai yi'atan Wahidah) maka aku tulis satu dosa baginya 

Orang-orang yang bersungguh-sungguh hendak menjauhi dirinya daripada perbuatan dosa-dosa besar, macam zina, riba, korupsi, dzolim kepada orang, nah orang yang Menjauhi dari dosa-dosa besar, dan dia ada sedikit melakukan dosa kecil macam kita tak sengaja terlihat aurat perempuan yang nampak rambutnya, 
( Inna robbaka wasi'ul maghfirah ) Sesungguhnya Allah maha luas ampunannya, artinya dosa-dosa kecil yang kita tidak mengaja itu akan terhapus dengan sendirinya dengan kita mengerjakan amal ibadah kepada Allah, seperti shalat, baca Al Qur'an dan lainnya, oleh karena kita bersungguh-sungguh menghindarkan diri daripada berbuatan dosa besar, maka dosa kecil otomatis akan di hapus oleh Allah subhanahu wa ta'ala 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda 
( Assolawatul Krhomsu Wal jumu'atu Ilal jum'aah, Wal Romadonu ilal Romadon, mukaffirotun lima bainahunna izaztunibatil krhaba'ir ) sembahyang lima waktu, dari Juma'at ke Juma'at berikutnya, dari bulan ramadhan ke ramadhan berikutnya, itu menghapuskan dosa di tengah-tengahnya, contohnya Dzuhur dan ashar, nah di tengah-tengahnya kalau ada dosa kecil maka akan terhapus oleh Allah subhanahu wa ta'ala, magrib sembahyang lagi kita, dosa antara asar sampai magrib akan terhapus, selama itu dosa kecil yang tidak mengaja kita lakukan dan kitapun cepat-cepat memohon ampunan kepada Allah maka akan Allah ampunkan dosa-dosa kita itu 
( izaztunibatil krhaba'ir) Asalkan kita menjauhkan diri daripada melakukan segala macam dosa-dosa besar

Al imamul Ghazali mengatakan bahwa dosa yang kecil-kecil tadi dia bisa berubah menjadi dosa besar dengan sebab antaranya

1. Ada seorang perempuan tidak memakai jilbab ke pasar, ke kantor, keluar luar, kemana-mana tidak pakai jilbab, itu dosa kecil, tapi bisa berubah menjadi dosa besar bilamana itu di kerjakan 
( Al isror Wal muwazobah ) Mengekali, secara terus-menerus, mengulangi perbuatan itu berubah lah dia menjadi dosa besar, jadi dosa sekecil apapun itu bilamana di kerjakan secara terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar, nah ini tidak akan di hapus oleh Allah dosa kita dengan kita mengerjakan shalat dan ibadah, musti dengan benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala 
2. ( Istizhoruz zambih ) Meremehkan, menganggap enteng tentang dosa
3. (Assu rur fizzambih ka'annahu Nikmah) Gembira Senang hatinya melakukan perbuat dosa kecil maka berubah dia menjadi dosa besar
4. (Attahawwun bi sidrillah wa hilmih )
Dia meremehkan dengan hukum Allah, meremehkan dengan kemaafan allah, padahal Allah dah maafkan dosa kecil tapi dia remehkan itu maka berubah menjadi dosa besar
5. ( Izharuzzambih) Menampakkan dosa, mempertontonkan dosa, memperlihatkan, menceritakan dan lain sebagainya, contohnya dia bercerita dengan kawannya semalam aku ada terlihat aurat perempuan, 
6. Perbuatan dosa kecil yang di lakukan oleh orang alim, atau orang yang menjadi terkenal, atau panutan kemudian di ikuti oleh orang banyak, contohnya ada orang yang terkenal melakukan perbuatan dosa kecil kemudian di ikuti oleh orang banyak, maka berubah dosa itu menjadi dosa besar, Jadi selama kita bisa menghindari daripada perbuatan dosa besar maka dosa kecil akan di hapus oleh Allah dengan sendirinya 

bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala itu sungguh luas ampunannya


Dia Allah yang lebih tahu, mengetahui dengan kamu, ketika Allah ciptakan kamu dari tanah, nabi Adam, Allah yang tahu akan kamu ketika kamu itu menjadi janin di dalam perut ibu kamu, artinya Allah yang tahu apakah kita ini orangnya ahli surga atau ahli neraka, apakah kita orang yang beruntung, apakah kita ini orang yang celaka semuanya itu Allah yang tahu sewaktu kita dalam perut itu, oleh karena itu ( fala tuzakku antusakum) jangan kamu menganggap diri kamu suci, jangan menganggap diri kamu hebat, jangan menganggap diri kamu bersih, jangan menganggap diri kita ini lebih baik daripada orang lain, lebih taqwa, lebih alim, lebih beriman, jangan, Allah melarang, karena yang demikian itu urusan Allah, bukan urusan kita, ( Huwa aklamu bimanittaqo) sungguh Allah tahu dengan siapa-siapa yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda 
( Yakunu qowmuyyakro'unal qur'an, layuzawiju hanazirahum, yakulun kodkarokna qur'an, Faman akro'u minna Waman aklamu Minna, Ula'ika minkum ayyuhal ummah, 'ula'ikahum wakudunnar, rowahubnul mubarok Fi Zuhdi Warroko'iq ) ujar nabi kita selagi akan ada nantinya suatu kelompok, mereka itu pandai membaca Alquran, tajwidnya fasih, lagunya hebat, tapi Alquran itu tidak melewati tenggorokan mereka, di mulut saja, tidak sampai masuk ke hatinya, 

mereka berkata  ( kodkaroknal qur'an ) Kami ini ahli dalam membaca Alquran, kami ini hebat dalam membaca Alquran (Faman akro'u minna) Tidak ada orang yang lebih fasih, yang lebih hebat daripada kamu dalam membaca Alquran ( Waman aklamu Minna) siapa disini yang lebih hebat, yang lebih alim bacaannya daripada kami, siapa yang lebih taqwa, siapa yang lebih benar daripada kami ( Ula'ika minkum ayyuhal ummah, ') mereka itu adalah golongan kami wahai ummat ini kata Rasulullah ( ula'ikahum wakudunnar) mereka itu nantinya akan menjadi bahan bakar api neraka 

Qolan nabi shalallahu alaihi wasallam 
( Iza samikturrozula yakulu halakannas fahuwa ahlakuhum, Rowahu muslim ) Bila kau mendengar seorang laki-laki atau perempuan berkata, manusia sudah hancur sekarang ini, manusia sudah rusak sekarang ini maka ketahuilah ( fahuwa ahlakuhum ) maka dia lah orang yang paling rusak dan yang paling binasa, andaikata ada seorang pedagang berkata, begadang sekarang ni semuanya tak jujur, nah dia sendiri yang tidak jujur, andaikata ada seorang ulama yang berkata sekarang ini manusia semua sudah rusak, nah dia ini orang yang paling rusak dan binasa

Oleh karena itu Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam tidak pernah membenarkan perbuatan umatnya bahwa merasa diri lebih baik, lebih mulia, lebih bagus daripada orang lain, merasa diri lebih takwa lebih alim daripada orang lain, karena urusan menilai yang demikian itu adalah urusan daripada Allah subhanahu wa ta'ala, dan Allah lah yang lebih mengetahui, maka daripada itu selalu lah kita mengakui kelemahan diri kita, mengakui bahwa kita ini banyak mempunyai kelemahan, dosa, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia, jangan sampai kita merasa diri lebih baik daripada orang lain, insyaallah di lain kesempatan kita berjumpa kembali 

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog