( Arrobi' Wal krhomsun min shuwaril qur'an suratul qomar) yang ke 54 daripada surah-surah yang ada di dalam Alquran, yaitu surah yang bernama Al qomar, ini surah ( Makkiyyatun) di turunkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah
( Wa ayatuha) Dan ayat-ayatnya berjumlah
( Khromsun wa krhomsun ) 55 ayat
Ma makna Al qomar itu, artinya adalah bulan
Hari kiamat telah dekat, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan dalam satu pidato beliau, beliau pada waktu itu berpidato di waktu matahari ingin tenggelam, atau di sore hari, Baginda Rasulullah menyampaikan bahwa ( ma baQia min dun ya kum
Fima madoh, Illa mislu ma baQia min Hazal yaum Fima madoh, ) kata Rasulullah tidak tersiksa, tertinggal dari dunia kamu, dari yang sudah lewat atau berlalu, melain seumpama yang tersisa dari ini hari pada yang telah lalu
Artinya dunia yang sekarang ini kita rasakan adalah laksana sore hari mendekati dengan kiamat
Di dalam hadist riwayat muslim Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
( 'u istu 'ana wassa'ah kahataini ) Aku di utus, dan kiamat ujar Rasulullah ( kahataini) seperti dua ini, artinya dekat ini ayat di turunkan Allah 1400 tahun yang lalu, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sudah menyatakan bahwa kiamat itu adalah dekat, artinya sekarang ini, pada masa ini kiamat akan semakin dekat
Dan telah terbelah bulan, mereka itu orang-orang kafir Quraisy apabila melihat ayat Allah, melihat mukjizat, mereka berpaling dan mereka berkata itu merupakan sihir yang sangat kuat,
( Iztalu, qolu Ibnu Abbas, iztama'al Alal musrikun ila
Rasulillah shallallahu 'alaihi wassalam )
Ibnu Abbas menceritakan bahwa orang-orang musyrik mendatangi Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, mereka mengata hai Muhammad, jika engkau benar seorang utusan Allah, maka belahkan bagi kami itu bulan menjadi dua bahagian, sebelah bulan itu berada di atas gunung Abi qubais, dan sebelahnya lagi berada di atas 'u ay kaat, ini orang-orang Quraisy menantang Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam
Maka Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menyampaikan ( infa'altu tukminun) jika aku perbuat apakah kalian mahu beriman (Qolu, na'am ) iya kami mahu beriman, dan malam itu tepat berbetulan dengan malam purnama, Baginda Rasulullah meminta kepada Allah agar memberikan apa yang mereka minta, maka doa Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam di kabulkan oleh Allah, maka bulanpun terbelah dua, satu bahagiannya berada di atas gunung Abi qubais, dan satunya lagi berada di atas gunung uay kaad, assuwaida
( Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam yunadil musyrikin, ya Fulan, ya Fulan, ishadu, 'azakarahul qurtubi bi tafsirih ) Setelah bulan terbelah Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam berseru, hai Fulan bin Fulan, saksikan olehmu, maka ketika orang-orang kafir Quraisy melihat kejadian bulan terbelah itu, apa yang di katakan oleh mereka ( haza sihrubnu 'abi kafsyah ) ini merupakan sihir yang sangat dahsyat daripada Muhammad, nah mereka mengatakan itu sihir, jadi mereka tidak beriman, dan mereka berpaling padahal sudah nampak jelas di depan mata mereka kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala di perlihatkan kepada mereka
Demikian pula kisah yang pernah di alami oleh Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam beserta seorang kafir Quraisy yang bernama rukanah, rukanah ini orang yang paling kuat atau juara musara'ah di Mekkah, olahraga seperti gulat, siapa saja bila bergulat melawannya pasti akan kalah, suatu hari Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lewat, rukanah melihat ada Rasulullah, di panggilnya wahai Muhammad ujarnya, apakah engkau mengaku menjadi rasul Allah, kalau engkau benar rasul Allah engkau pasti bisa mengalahkanku, ujar nabi kita mahu, asalkan engkau beriman, oke bila aku kalah aku beriman ujar rukanah, bergulatlah Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam dengan rukanah, akhirnya rukanah kalah, setelah kalah ujar rukanah, sekali lagi, kalah lagi, oke sekali lagi, kalah lagi dia, tiga kali kalah berturut-turut rukanah berkata ( haza Muhammad sohirun alim ) ini Muhammad penyihir yang luar biasa
Demikian lah kisah ayat Allah
Nah di dalam surah ini banyak hal yang di ceritakan, di jelaskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai petunjuk dan pelajaran bagi kita semuaan ini yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala
Sesungguhnya orang-orang durjana itu berada dalam kesesatan dan kebingungan dan akan berada di dalam api neraka yang menyala-nyala
mereka di telungkupkan di dalam api neraka yang menyala atas wajah mereka, Dan di katakan bagi mereka rasakan lah azab neraka
Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu sudah kami ciptakan sesuatu sesuai dengan takdirnya, Allah menciptakan sesuatu itu dengan takdir, tidak ada sesuatu di dalam dunia ini di alam manapun satu kejadian manapun besar atau kecil, semuanya itu melainkan sudah di takdirkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Maka ayat ini di turunkan kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam di waktu orang-orang kafir Quraisy mendebat Rasulullah tentang qodar, tentang takdir Allah subhanahu wa ta'ala, Ibnu Majah mengeluarkan hadist ( walammakila ya Muhammad, yaktubu 'alaina junub Fayu'azzabunabih, ) wahai Muhammad bagaimana Allah yang menakdirkan dosa atas kami tapi Allah juga yang menyiksa kami, mana mungkin? Allah yang menakdirkan kami yang berbuat maksiat, Allah yang mengizinkan kami, Allah juga yang menyiksa, ujar Baginda Rasulullah ( antum krhusama'ullah yaumal kiyamah ) kamu ini nanti akan menjadi musuh-musuh Allah pada hari kiamat
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
( Iza kana Yaumul kiyamah nada munadin 'ala liyakum krhusama'ullah, wahumul qodariyyah ) apabila hari kiamat nanti Allah berseru memerintahkan kepada malaikat hendaklah bangun kalian musuh-musuh Allah, nah siapakah mereka itu? ( Al qodariyyah) Golongan qodariyyah, Ibnu Hajar mengatakan bahwa
( Washummiyyatil qodariyyah krhusama'ullah, bi'annahum yukrhosimunahu fi'annahu la yazuzu ayyukoddirollah Almaksiyyata, Alal abdi, summa wayu'azzibah ) di sebut qodariyyah itu musuh Allah, karena mereka itu mendebat akan Allah, mereka mengatakan bahwa tidak boleh Allah mentakdirkan satu maksiat kemudian Allah yang menyiksanya, tidak boleh yang demikian itu, jadi maksiat yang di lakukan seorang hamba itu semata-mata kemampuan dan kekuatan yang ada pada diri si hamba bukan takdir daripada Allah subhanahu wa ta'ala, nah ini pendapat golongan qodariyyah yang di sebut musuh-musuh Allah
Jadi kalau seseorang berbuat salah, berbuat dosa dan maksiat itu kekuatan dia, bukan dari Allah, itu sebab Allah siksa, ujar mereka , sedang golongan ahli Sunnah mengatakan bahwa ( fala yahzuzufil'alam, Illa wahuwa sodirun 'an ilmihi Wa qudrotihi, wa 'irodatih, )
Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini melainkan semuanya itu terbit daripada ilmu, qudrot, irodat Allah subhanahu wa ta'ala, baik itu perkara yang baik maupun sesuatu yang jahat ( wa'antukmina bil qodar, ghroirihi wa sarrihi) kamu beriman dengan takdir baik maupun yang kurang baik ( minallah ) daripada Allah subhanahu wa ta'ala, tidak ada yang terjadi di alam ini melainkan semuanya itu sudah di tetapkan oleh Allah ta'ala
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam
( Ma min nafsim mamfusa Illa wakod khataballahu Makanaha minal jannati wannar, Illa wakod kutibat shakiyatan aw sya'idah, Kila afalanattakil, qolal la, ikmalu wa latattakilu faqullum muyassarunlima krhuliqolah
Ila akhir, rowahu Ahmad) tidak ada seseorang yang hidup, yang bernyawa melainkan sudah Allah tetapkan tempatnya, di syurga atau di neraka, Allah sudah menetapkan apakah dia ini orang yang celaka atau dia ini orang yang beruntung, itu sudah di takdirkan oleh Allah
Lalu sahabat bertanya, kalau begitu yang demikian wahai Rasulullah apakah boleh kami ini pasrah, tidak perlu ibadah, tidak perlu nuntut ilmu, tidak perlu semuanya itu, kan sudah di tetapkan Allah semuanya, walau pun kami ini rajin ibadah tapi nanti di akhirat kami di tetapkan Allah ahli neraka, tetap ke neraka juga matinya, walaupun kami ini sedikit ibadah, kalau sudah di tetapkan Allah masuk syurga, pasti akan ke syurga akhirnya, nah sahabat pun bertanya apakah boleh kami pasrah wahai Rasulullah, Rasulullah menjawab ( Laaa ) tidak boleh ( ikmalu ) kalian musti berbuat beribadah, musti taat, ( wala tattaqilu ) jangan pasrah, karena tiap-tiap orang itu di mudahkan baginya sesuatu yang di ciptakan dia untuk sesuatu itu, orang-orang yang sudah di takdirkan Allah beruntung dia pasti akan di mudahkan Allah untuk taat dan beramal ibadah manakala orang yang di takdirkan Allah celaka maka dia pun di mudahkan untuk berbuat amal yang akan membawa dia kepada kecala itu
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
( ihrish 'ala na yanfa'uk Wasta'im Billah, wala ta'jas, wa'in 'ashobaka syai'un walataqullaw 'anni fa'altu kaza wa kaza, walakin kul qhoddarullah wamasya'a fa'al, fa'inna law taftahu amalassyaiton rowahu Ahmad )
Ujar nabi kita, inginlah kamu, gemarlah kamu atas sesuatu yang memberikan manfaat kepadamu dunia dan akhirat, berbuatlah kamu untuk sesuatu yang mendapatkan mendapatkan bagimu dunia dan akhirat, dan minta tolong dengan Allah, jangan lemah, jangan malas, jika menimpa akan kamu sesuatu yang buruk, jangan kamu kata, kalau aja aku tidak demikian, pasti tidak terjadi, kalau aja aku tidak pergi pasti tidak kehilangan di rumah , kalau aja aku ga ngelakuin ini tidak terjadi hal yang demikian itu, nah kata Baginda Rasulullah jangan macam itu, tapi Katakan lah bahwa Allah telah mentakdirkan yang demikian itu terjadi padaku dan kehendak Allah pasti terjadi
Karena perkataan kalau, kalau, andaikan, andaisaja semua itu perkataan adalah membuka pintu pintu syaitan, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda ( Akrhofu ala ummati Bakdi krhoslataini, Taqzibam bil qodar, wa tasdikon Bin Nujum )
Aku takutkan sesudahku nanti kata Baginda Rasulullah
Dua perkara, pertama ( Taqzibam bil qodar) mendustakan dengan takdir, di berikan nasihat, wahai tuan bersabarlah ini sudah takdir Allah macam ini, ujarnya, apa takdir takdir itu, engkau yang salah itu sebab terjadi yang demikian, mana ada takdir itu, nah ini orang mendustakan takdir Allah, dan lagi ( watasdiqon bin Nujum) dan percaya dengan ramalan-ramalan
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
( Walau angfakta mislu 'uhudin jahaban fi Sabilillah
Ma qobilahum mingka Hatta tukmina bil qodar, )
Andaikata kamu rajin bersosial menyumbang kesana kemari, seperti gunung Uhud emas banyaknya, di berikan, di sedekahkan semuanya itu kepada orang lain, maka Allah tidak akan menerima itu sehingga kamu beriman dengan takdir Allah, yakinlah engkau bahwa sesuatu yang di takdirkan Allah menimpa engkau tidak akan bisa luput daripada engkau,
bagaimanapun kuatnya kita, Bagaimanapun gagahnya kita, hebatnya kita, kalau sudah datang menimpa kepada kita takdir Allah maka tidak akan bisa luput daripada kita, dan sesuatu yang kamu luput daripadanya tidak akan kena, andaikata takdir kita luput tidak menimpa kepada kita, Bagaimana caranya pasti tidak akan kena, jika engkau mati atas selain ini keyakinan ( ladkrhaltannar)
Engkau mati masuk ke dalam api neraka, jadi jangan sampai kita ini berani mendustakan takdir daripada Allah subhanahu wa ta'ala,
Kemudian yang kedua tadi Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menyampaikan ( tasdikon Bin Nujum)
Percaya kepada ramalan-ramalan bintang, karena sekarang banyak yang demikian itu maka jangan sedikitpun kita percaya dengan ramalan itu
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquran
Ibnul zauji menyatakan haza dalil ( ala Anna man za'a ma'annan Nujum thaddullu 'ala ghoib, fahuwa kafir)
Ini dalil bahwa orang yang percaya bahwa ramalan-ramalan bintang itu mengetahui hal hal yang ghoib, berarti dia kafir, ujar ramalan bintang Minggu ini engkau akan sakit, beberapa Minggu kedepsn pekerjaanmu akan lancar, engkau akan di mudahkan, beberapa bulan lagi ekonomimu akan menurun, dan lain sebagainya, nah bila kita percaya itu berarti kita kafir atas apa yang sudah di turunkan Allah kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, dan jelas bertentangan dengan apa yang sudah di sampaikan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam Alquranul Karim Jadi jangan lagi kita baca baca itu ramalan,
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
( Mal lam yardho bi qodo'illah, wayukmim bi qodorillah falyatamis ilahan ghoirollah rawahu tabaroni )
Siapa siapa yang tidak Rida dengan ketetapan Allah, tidak beriman dengan takdir Allah, maka hendaklah dia mencari tuhan selain daripada Allah subhanahu wa ta'ala, Karna dalam setiap hari kita tidak akan pernah terlepas daripada apa-apa yang sudah di tetapkan Allah, pasti, bisa Allah menetapkan kita untuk mendapatkan nikmat, bisa Allah menetapkan kita untuk mendapat bala, bisa Allah menetapkan kita untuk melalukan taat, ibadah, segala macam kebaikan, bisa Allah menetapkan kita untuk melakukan berbuat dosa atau maksiat
Nah oleh karena itu kita menyikapinya dengan Rida kepada Allah subhanahu wa ta'ala, apabila Allah menetapkan kepada kita untuk mendapat nikmat, maka kita wajib Rida dengan yang memutuskan, siapa, yakni Allah, kita wajib Rida dengan keputusan Allah yang sudah memutuskan bagi kita untuk mendapat nikmat, kita wajib Rida dan bersyukur atas nikmat yang demikian itu, contohnya hari ini kita dapat duit 10.ribu rupiah, maka kita Rida kepada Allah, dan Rida dengan nikmat, duit itu, dan kita Rida dan bersyukur kepada Allah atas nikmat itu artinya kita gunakan duit itu kepada jalan jalan yang di Ridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Kemudian kita dapat bala, sakit umpamanya, kita wajib Rida kepada yang memutuskan, yakni Allah, kita wajib Rida dengan qodo, keputusan itu, wajib Rida kepada Allah karena memberi sakit itu, ( wayazibussabru alaih)
Dan kita wajib sabar atas yang demikian itu, kemudian lagi kita di putuskan Allah untuk melakukan perbuatan taat, sehingga kita hari ini bisa ibadah bisa beramal, bisa taat kepada Allah, maka kita wajib Rida dengan keputusan Allah, wajib Rida dengan taat yang bisa kita lakukan itu karena semata-mata pertolongan daripada Allah, wajib Rida dengan taat yang di lakukan, dan wajib juga kita selalu ingat di dalam hati bahwa semua taat dan ibadah yang bisa kita kerjakan itu adalah bantuan dan kekuatan daripada Allah subhanahu wa ta'ala
Bila kita di tetapkan oleh Allah melakukan perbuatan dosa dan maksiat, Allah menetapkan, menakdirkan kita hari ini berbuat maksiat, maka kita wajib Rida atas keputusan Allah, wajib Rida benci kepada perbuatan dosa dan maksiat itu, dan kita wajib taubat dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala, nah demikian itu yang wajib kita menyikapinya dengan Rida kepada Allah
Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar selalu di jadikan Allah menjadi orang yang Rida atas apapun yang sudah di tetapkan oleh Allah kepada diri kita ini, mudahan kita semuanya ini menjadi orang-orang beruntung baik di dunia maupun di akhirat dan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta'ala aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin
Menit 24.30 insyaallah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
minta doahkan, insyaallah