Pages

Selasa, 22 Oktober 2024

Alquran / 66, surah At tahrim / hlm 73

Bismillahirrahmanirrahim 

( Assadisatu wassittun min shuwaril qur'an suratul tahrim) yang ke 66 daripada surah surah dalam Alquran yaitu surat yang bernama dengan at tahrim, ini surah 
( Madaniyyatun) Di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sesudah hijrah daripada Mekkah ke Madinah 
( Wa ayatuha ) Dan ayat ayatnya berjumlah 
( isnata asrah ) 12 ayat 

Bahagian awal daripada ayat ayat di dalam surah at tahrim adalah 


Wahai Baginda Rasulullah, kenapa kamu haramkan sesuatu yang Allah halalkan bagi kamu, untuk menyenangkan hati istri istri engkau, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang 


Sungguh Allah mensyariatkan bagi kamu untuk melepaskan sumpah, dan Allah menolong kamu, dan dia Allah maha mengetahui dan maha bijaksana 

Menurut berbagai pendapat daripada ulama tafsir, sebab turunnya ini ayat dan ayat ayat berikutnya adalah 
( Krholabbimariyyata Yaumi Hafsah Fa'ardhoha bizalik, wastaqtamaha Falamtaktum fatallakoha ) dari sekian banyak riwayat yang menjelaskan turunnya ini ayat maka kita ambil salah satunya, sebagaimana kita ketahui bahwa Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam itu banyak mempunyai istri, di antara istri beliau ada yang bernama Siti Aisyah, ada yang bernama Siti Hafsah, dan lainnya 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam kawin dengan beliau beliau itu setelah wafatnya istri beliau yang paling beliau cintai, yaitu sayyidatina khradijah Al kubro, dan lagi Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di samping banyak mempunyai istri beliau juga ada mempunyai hamba sahaya, budak budak perempuan yang bisa di lakukan sebagaimana istri, di antara hamba sahaya yang beliau miliki adalah yang bernama Mariatul 'kibtiyyah, seorang perempuan muda, yang putih, rambutnya ikal, dan lagi cantik, ini perempuan adalah hadiah daripada raja Mesir untuk Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam 

Nah mengingat bahwa Mariah ini perempuan yang cantik dan sebagainya, otomatis akan menarik perhatian bagi istri-istri Rasulullah yang lainnya, apalagi Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dengan Mariah ini di karuniai seorang anak yang bernama Ibrahim, nah pada suatu hari Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam berada di rumah Siti Hafsah, putri daripada sayyidina Umar bin Khattab radiallahu'anhuma, sewaktu beliau berada di rumah Siti Hafsah, maka Siti Hafsah ini Minta izin kepada Rasulullah untuk keluarga menemui orangtuanya, maka Baginda Rasulullah pun memberikan izin, Siti Hafsah pun berangkat meninggalkan rumah 

Sepeninggalan Siti Hafsah di rumah, Baginda Rasulullah memanggil hama sahaya beliau yang bernama Mariatul 'kibtiyyah tadi, dia pun datang masuk ke rumah Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, nah untuk di ketahui bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ini tidak di wajibkan untuk bergiliran dengan istri-istri beliau 
Hendak tidur dimana, terserah, demikian itu di berikan kebebasan oleh Allah subhanahu wata'ala, Kareena itu merupakan khusussiyyah 

Ketika Baginda Rasulullah bersama dengan Mariatul 'kibtiyyah tadi, tiba" datang istri beliau yang bernama Hafsah tadi, Siti Hafsah datang dengan menunggu di luar rumah sambil menangis, cemburu, marah sampai mengeluarkan kata kata yang kurang baik kepada Baginda Rasulullah, maka Rasulullah pun membuat cara untuk menyenangkan hati Siti Hafsah ujar nabi 
( Sejak hari ini itu Mariatul 'kibtiyyah haram atasku, haram aku menyentuhnya, cuman ingat wahai Hafsah ini rahasia jangan di ceritakan kepada siapa juapun, Hafsah pun gembira mendengarkan perkataan nabi tadi 

Nah si Hafsah ini malah menceritakan kepada Siti Aisyah, wahai Aisyah tadi aku sampai dirumah aku marah Baginda Rasulullah dengan Mariatul 'kibtiyyah, akhir rasul mengharamkan Mariah untuk di sentuh beliau, nah perkataan Siti Hafsah kepada Aisyah ini di ketahui oleh Baginda Rasulullah langsung daripada Allah subhanahu wata'ala, karena itu Hafsah membuka rahasia
Akhirnya ( fathollaqaha ) maka Rasulullah pun menceritakan kepada Siti Hafsah itu, setelah di cerai oleh Rasulullah datang Jibril kepada nabi kita, ujar Jibril kepada nabi ya rasulallah ( rajik'aha) rujuk itu Hafsah

( Fa'innaha showwamah qowwamah Wa'innaha min azwajik fil jannha ) karena dia orangnya ahli tahadzut, orangnya ahli puasa, dan dia nanti termasuk kepada istri engkau di dalam syurga ( farazik'aha ) maka Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pun rujuk kepada itu Siti Hafsah tadi, dan Baginda Rasulullah pun setelah mengatakan bahwa Mariatul 'kibtiyyah tadi haram bagi beliau dan itu merupakan satu sumpah dan mengakibatkan beliau tidak boleh menyentuh Mariah kecuali dengan membayar kaffarat sumpah, maka rasul pun memerdekakan seorang budak, dan beliaupun boleh kembali berhubungan dengan Siti Mariatul 'kibtiyyah tersebut 

Wahai nabi kepada engkau mengharamkan sesuatu yang di halalkan Allah, kan budak itu halal, sebenarnya tidak perlu wahai rasul engkau bersumpah, dan mengharamksn itu Mariatul 'kibtiyyah demi untuk menyenangkan istri engkau yang bernama Hafsah, sebenarnya Siti Hafsah itu yang seharusnya berusaha untuk menyenangkan hati engkau wahai Rasulullah 
( Wallahu ghofurullahim) Allah maha pengampun lagi maha penyayang, Dan Allah mensyariatkan bagi kalian 
Cara pembatalan sumpah itu dan Allah selalu menolong kamu dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana 

Ayat tersebut dan yang mengiringinya memberikan kepada kita beberapa hukum, memberikan kepada kita beberapa hikmah, antara lain disitu di jelaskan di dalam ayat itu ( takzimunnabi shallallahu 'alaihi wassalam binida'ihi biya ayyuhannabi ) membesarkan nabi shalallahu 'alaihi wassalam dengan panggilan Allah kepada beliau dengan ya ayyuhannabi, karena jelas Allah tidak pernah memanggil nabi kita dengan panggilan ya Muhammad, tidak seperti nabi nabi yang lain, ya Ibrahim, ya musa, ya Isa, ya Nuh, hai Ibrahim, hai Musa, hai Isa, hai Nuh, tapi untuk nabi kita Baginda Rasulullah Allah sangat mengagungkan, ya ayyuharrasul, wahai Rasulullah, ya ayyuhannabiyyu, wahai nabiallah,

Nah ini adalah satu pelajaran bagi ummat, pelajaran bagi kita bawah Allah sendiri mengagungkan nabi Allah, apalagi kita selaku ummat beliau, hendaknya wajib bagi kita membesarkan, menghormati, mengagungkan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, oleh karena itu banyak pendapat para ulama mengatakan bahwa di haramkan seorang manusia memanggil manggil Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dengan panggilan nama, ya Muhammad, walaupun beliau masih hidup, atau sudah wafat, jangan kita berani sekali kali memanggil dengan panggilan hai Muhammad 

Dan banyak juga para ulama berpendapat sunnat juga hukumnya kita menambah sayyidina dalam bershalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam 
Semata-mata hanya untuk takzim, mengagungkan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam

Kemudian pelajaran yang ke dua yang kita ambil daripada ayat tadi adalah 
( Layambaghi irdho'uzzawjah bitahrimi ma'ahallahullah)
Tidak patut, tidak usah, menyenangkan bini itu dengan mengharamkan yang di halalkan Allah, artinya kalau kita ini hendak menghibur istri, hendak menyenangkan hatinya, jangan sampai kita ini bersumpah, jangan sampai kita ini mengharamkan sesuatu yang di halalkan oleh Allah, contohnya kita ini suka pergi ke suatu tempat yang kita nyaman, kemudian istri kita tidak suka, lalu kita katakan kepada istri kita, demi Allah, ku haramkan diriku tak mahu lagi ke tempat itu, padahal ke tempat itu hukumnya halal aja, nah jangan sampai demikian yaa

3. ( Sunniyyatu hinsilyamin izaro'al insa ahsan ) di sunnatkan kita membatalkan Sunnah apabila kita anggap pembatalan itu lebih baik, contoh demi Allah lah aku tidak mahu lagi membantu engkau umpamanya, padahal membatu orang itu kan adalah suatu kebaikan, tapi karna sudah di ucapkan sumpah demi Allah aku tidak mau membantu lagi, nah di sunnatkan kita membatalkan sunnat itu ( wa'alaihi kaffaratortul Yamin ) bilamana sumpah itu kita batalkan automatic kita bayar denda, nah apa dendanya ( 'itkurokobah ) memerdekakan seorang budak, ( 'aw'it'amu 'asharoti masakin ) atau memberikan makan 10 orang miskin ( Kullu miskinin mudddun)' tiap tiap satu miskin satu mud ( Awkisuwatuhum bima yusamma kiswah ) atau boleh juga memberikan masing masing orang miskin pakaian kepada 10 orang miskin
Nah demikianlah dendanya, kaffaratnya 

4. ( 'istiqoquttalak ala zawjatillati lataktumussirrozzauz)
Berhak untuk di ceraikan untuk di talak istri yang tidak bisa menyimpan rahasia suami, artinya kalau kita mentalak, menyerahkan istri yang melakukannya seperti itu kita tidak bertentangan di dalam hukum Allah 

5. ( Nunniyyaturrujuk Ilal mutallaqah iza kanat shawwamah qawwamah Tho'i'ah ) kita sunnat merujuk istri yang di ceraikan tadi kalau dia ini orang yang ahli ibadah, ahli taat kepada Allah subhanahu wata'ala 

Sebagaimana dengan surat-surat yang lainnya, surah at tahrim ini banyak memberikan petunjuk, memberikan pelajaran bagi kita, di sampai di dalam ayat ini banyak menceritakan tentang rumah tangga Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, juga banyak memberikan kepada kita nasihat, antara lain firman Allah pada ayat 6

Hai Orang orang yang beriman pelihara diri kamu, pelihara anak istri kamu daripada api neraka, jaga jangan sampai engkau, anak istri mu masuk neraka, neraka itu nyalanya terdiri daripada manusia manusia yang kafir dan batu-batuan, apa yang di maksud dengan perintah ini? Karena ini perintahnya wajib, artinya setiap orang itu menjaga diri jangan sampai masuk neraka, dan menjaga anak bininya jangan sampai masuk neraka 

Imam Al allusi dalam tafsirnya Ruhul ma'ani menyatakan 
( Wikayatunnafsi aninnar, bittarqil ma'asi, wafi'lit ta'at ) memelihara diri daripada api neraka itu jalannya dua pertama meninggalkan yang di larang Allah, dan melakukan yang di perintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala nah bila kita mampu melakukan demikian berarti kita sudah memberikan perisai diri kita daripada api neraka 
(wa wikayatul ahli bi'hamlihim ala Zalik, binnushi
Wattaqdih ) adapun menjaga anak bini, keluarga daripada api neraka adalah mendorong mereka, mendesak mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan meninggalkan segala macam maksiat dengan nasihat dan pendidikan agama,

Karena kalau kita aja yang taat, diri kita saja yang ahli ibadah, tapi kita tidak sempat memberikan nasihat, memberikan pendidikan kepada anak istri kita, tidak sempat memberikan teguran kepada keluarga kita, maka kitapun akan mendapatkan siksa daripada Allah, karena kita sebagai laki-laki bukan hanya wajib takwa kepada Allah, kita juga wajib menjaga keluarganya agar tidak meninggalkan takwa 

( Wastudillabiha Alal Annahu Yazibu alarrazul, ta'allumu ma yazibu minal faro'id wa taklimuhuliha ula, ) 
Firman Allah subhanahu wata'ala tadi merupakan dalil wajib atas laki-laki belajar yang wajib daripada kefarduan
Dan mengajarkan kepada mereka, nah orang yang hendak menjadi seorang ayah di samping dia belajar ilmu tentang kefarduan, dan hukum hukum Allah maka kewajiban yang lain adalah mengajarkan ilmu tersebut kepada anak dan istrinya, 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Wafil hadist rohimallahu rozulan qola ya ahla
Sholataqum, siyyamakum, zakatakum, 
Minkinakum, yatimakum, zironakum, la'allallah  yazma'ukum ma'ahu Fil Jannah ) ujar nabi kita Allah sayang kepada seorang laki-laki yang dia berkata wahai keluargaku, wahai anakku, wahai istriku, jaga shalat kamu, jaga puasa kamu, jaga zakat kamu, perhatikan orang orang miskin di sekitar kamu, perhatian anak anak yatim dan jiran tetangga kamu, Allah sayang kepada laki-laki yang seperti itu dan mudahan Allah mengumpulkan kalian beserta dia di dalam syurga nanti 


( Waqila) Dan di katakan, ( Inna 'asaddannas 'azaban yaumal kiyamah, manjah h'ala ahla ) paling bersangatan azab terhadap manusia adalah orang orang yang menzahilkan keluarganya, anak tidak lagi di ajari sembahyang, anak tidak di didik ilmu agamanya, tidak di ajari cara menutup aurat dengan benar, tidak di ajarkan puasa dan lainnya, dan dia tidak maju pula menyekolahkan untuk belajar yang demikian itu, nah ini orang akan mendapatkan siksa yang bersangatan pedih pada hari kiamat nanti, artinya kalau kita ini tidak bisa mengajari anak, maka kita sekolahkan kita suruh belajar

( Wafil hadist, la yalqallah 'ahadun bi janbin 'akzoma min zahalati ahli ) tidak berjumpa akan allah oleh seseorang dengan dosa yang lebih besar daripada kejahilan keluarganya, dosa paling besar adalah kita sebagai laki-laki membiarkan kebodohan agama kepada istri dan anak-anak kita 

( Inna awwala maya'allaku birrozul fil kiyamah
'ahluhu wawaladuhu  Wayukifunahu baynayadaih, illahi ta'ala , ila akhir ) bahwa orang yang pertama bergantung kepada seseorang laki-laki pada hari kiamat, orang yang pertama yang datang kepada kita minta tanggung jawab, adalah istri dan anak anak kita, itu orang pertama, mereka menghalangi kita, menghentikan kita di hadapan Allah dan mereka anak anak istri berkata wahai Tuhan kami ambillah Haq kami daripada ini orangtuaku, suamiku, karena dia tidak mengajarkan kepada kami sesuatu yang kami tidak tahu terhadap hukum hukum Allah subhanahu wata'ala, dan dia memberikan kami makan dengan makanan yang haram, sedangkan kami tidak mengetahui yang demikian itu 

Nah ini lah kewajiban seorang ayah, seorang suami untuk menjaga dirinya daripada api mereka, serta istri dan anak anaknya daripada api neraka, itulah yang di maksud dengan firman Allah subhanahu wata'ala abasa ayat 34

Hari kiamat itu seseorang lari daripada saudaranya, daripada ibu bapaknya, serta lari daripada istri dan anak anaknya, kenapa? Karna takut dan merasa bersalah, Karna mereka akan menuntut kepadanya 

Demikianlah kewajiban kita untuk mendidik, istri dan anak kita, liati anak kita, istri kita pakaiannya seperti apa, pergaulannya seperti apa, kawan kawannya seperti apa, nah kalau kita sudah tahu yang demikian semisalnya salah, maka wajib bagi kita untuk menasihati karena yang berdoa kita kalau membiarkan begitu saja, nanti kita yang akan bertanggung jawab nanti di harapan Allah subhanahu wata'ala, dan kita perlu juga mengetahui bagaimana cara mendidik istri dan mendidik anak 

Mendidik istri tidak sama dengan mendidik anak, tidak pula dengan cara berkerasan, Kenapa sebabnya, karena sudah di sampaikan oleh Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, ( innal mar'ata krhulikhod min dila'in a'waz, Fa'in 'akontaha kasartaha, fadariiha ta'isbiha, )
Ujar nabi kita bahwa perempuan itu siapa saja perempuan mereka itu di ciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ( Fa'in 'akontaha kasartaha), jika engkau luruskan dia berarti engkau pecahkan dia, artinya kalau kita didik dengan keras antara dua gendangnya, bila tidak cerai atau di tinggalkannya kita, 

Nah lalu seperti apa caranya ujar Baginda Rasulullah 
( fadariiha ta'isbiha, ) Perlahankah dengan mereka, lemah lembut lah dengan mereka, sedikit demi sedikit untuk merubah sifat dan akhlak yang tidak baik daripada perempuan itu, maka niscaya engkau akan bisa hidup dengan mereka itu dengan cara yang demikian

Demikianlah nasihat daripada Baginda Rasulullah, dan marilah kita melihat kembali tentang tugas kita sebagai suami terhadap istri kira, selaku orangtua kepada anak anak kita apakah kita ini sudah memberikan nasihat, menjaga mereka dengan baik sesuai dengan apa yang sudah di perintah Allah subhanahu wa ta'ala, melihat pakaiannya, melihat pergaulannya, dan segala macam perkara yang tidak baik, nah bilamana kita belum pernah demikian maka masa halnya lah kita ini sedang mencelakai diri kita sendiri, mudahan Allah subhanahu wata'ala menolong kita semuaan ini aamiin ya Allah 

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog