Pages

Kamis, 31 Oktober 2024

Alquran / 74. surah Al muddassir / hlm 81

Bismillahirrahmani rrahim 

( 'arrabi'atu wassab'un min shuwaril qur'an suratul muddassir ) surah yang ke 74 daripada surah surah Al Qur'an, yaitu surah yang bernama Al muddassir, ini surah 
(Makkiyyatun) Diturunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sebelum hijrah daripada kota Mekkah ke Madinah
( Wa ayatuha) Dan ayat berjumlah( Sittun wa krhomsun) 
56 ayat 

Surat Al muddassir ini di mulai dengan 


Wahai Baginda Rasulullah, ( Al muddassir itu adalah ) salah satu daripada sekian nama yang di berikan Allah kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam 
Hai Baginda Rasulullah, artinya hai orang yang berselimut, seumpamanya Al Muzzammil, Allah subhanahu wata'ala memanggil nabi kita dengan panggilan yang lembut, yang penuh dengan kasih sayang, ya ayyuhhal muddassir, wahai nabi yang sedang berselimut itu, 

Kenapa Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di namai dengan Al muddassir yang berselimut, ada beberapa riwayat daripada ahli tafsir yang menjelaskan tentang sebab sebab itu, di antaranya adalah, kenapa nabi kita berselimut sehingga di sebut sebagai Al muddassir, ini surat Al muddassir adalah surat yang awal awal turun kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, di awal awal masa kenabian

( Awwalu manazala minal Qur'an, iqro, ) Yang pertama turun daripada Alquran kepada Baginda Rasulullah adalah iqra, itu semuanya sudah mengetahuinya, waktu Baginda Rasulullah menerima wahyu pertama itu, beliau pertama kali secara langsung berjumpa dengan Jibril alayhissalam, Jibril dengan kuat memeluk Baginda Rasulullah menyampaikan Wahyu, setelah selesai, nabi kita pulang, dada beliau bergetar, lalu beliau sampai di rumah dan berkata kepada istri beliau ( jammiluni jammiluni) selimutkan aku selimutkan aku, maka beliau di selimuti oleh istri beliau yang bernama sayyidatina Khadijah Al qubro 

Bagitu baginda Rasulullah di selimuti maka turun ayat Allah, turun Wahyu daripada Allah yang di sampaikan oleh Jibril alayhissalam ( ya ayyuhhal Muzzammilu kumillaila) hai orang yang berselimut, bangunlah kamu sembahyanglah kamu di malam hari, Allah subhanahu wa ta'ala lewat Jibril mewahyukan agar bangun ( kumillail) lalu nabi kita sejak itu selalu bangun di malam hari untuk shalat tahajjud dan merupakan kewajiban khusus untuk Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ( shumma fataral Wahyu) kemudian Wahyu itu lama tidak turun kepada Baginda Rasulullah, setelah kejadian itu Wahyu terhenti, nabi kita pun merasa sedih, ada perasaan gelisah

Maka Baginda Rasulullah baik ke gunung gunung untuk menunggu Wahyu Allah, akhirnya begitu sampai beliau di gunung Hiro, beliau di seru ( ya Muhammad innaka Rasulullah) ada suara yang mengatakan seperti itu 
Hai Muhammad bahwa engkau adalah rasul Allah 
( Fanazaro ila yaminihi wa simalihi) Ada bunyi yang berkata hai Muhammad engkau adalah utusan Allah, rasul Allah, beliau memandang ke arah kanan, ke arah kiri tidak ada terlihat sesuatu, ketika beliau memandang ke atas, ternyata di langit langit itu ada duduk malaikat di atas kursi, persis seperti malaikat yang pertama datang sewaktu beliau menerima wahyu di gua hiro itu 

( Faru'iba) Baginda Rasulullah ketakutan ( warozi'a ila Khadijah) beliau kembali kerumah kepada Siti Khadijah 
Lalu Baginda Rasulullah berkata ( dassiruni, dassiruni ) 
Selimutkan aku selimutkan aku, nah itu sebablah surah ini di namakan dengan Al muddassir, begitu nabi kita di selimuti oleh istri beliau, ( fanazala Jibril ) Jibril turun membawa Wahyu ( waqola ya ayyuhhal muddassir) hai nabi yang sedang berselimut 

Bangunlah kamu ( pa'anjir ) berikan kabar kepada orang orang yang tidak beriman bahwa neraka Allah yang sangat pedih itu menunggu mereka, sampaikan kepada semua orang orang kafir Quraisy, orang orang kafir Mekkah bahwa jikalau mereka tidak mahu berikan kepada Allah, tidak berikan kepada Baginda Rasulullah maka azab Allah sangat pedih menunggu mereka


Dan besarkan lah Allah subhanahu wata'ala, nah ayat ini adalah sangat dalam makna dan tafsirnya, karena Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dalam menyampaikan dakwah, dalam menyampaikan ajakan kepada manusia untuk menyembah Allah itu menemui dalam berbagai macam rintangan dan halangan, nah ini kita semua sudah tahu, kisah kisah Baginda Rasulullah, baik itu halangan maupun cobaan, hinaan, cacian, bahkan sampai kepada ancaman pembunuhan, itu sebabnya ayat ini menegaskan bahwa ( warabbaka pakabbir) dan besarkan tuhan engkau, artinya apa bahwa bagaimanapun yang akan di alami sewaktu berdakwah itu, membela agama Allah itu, ingat bahwa Allah itu adalah maha besar, selain Allah itu kecil bahwa tidak ada sama sekali, 

Para ahli tafsir menjelaskan ( warabbaka pakabbir )
Artinya ( la takbud siwwallah ) jangan kamu menyembah selain daripada Allah ( wala taro li ghoirihi fiklan illa lah)
Dan jangan kamu melihat satu perbuatan melainkan itu adalah perbuatan Allah subhanahu wata'ala, nah kalau sudah seseorang itu menjadi da'i, seseorang yang mengajak ummat untuk ke jalan Allah, maka sudah mantaplah hatinya bahwa tidak ada perbuatan selain daripada perbuatan Allah maka bagaimanapun halangan dan rintangan tentu tidak akan menjadi persoalan baginya, 

maka beribadah lah kalian kepada Allah lalu kamu akan bisa Musyahadah, barulah engkau bisa melihat dimana segala perbuatan itu adalah perbuatan Allah, jadi kita di tuntut beribadah dahulu barulah bisa kita dapat Musyahadah, nah Musyahadah itu apa? Antara lainnya adalah bahwa tidak adanya perbuatan melainkan semua adalah perbuatan Allah subhanahu wata'ala, tauhid af'al

Nah apakah kita bisa menanamkan tauhid yang demikian itu di dalam hati kita sehingga dalam setiap keadaan kita bisa selalu ingat bahwa tidak ada perbuatan melainkan itu adalah perbuatan Allah, nah kita tidak bisa Musyahadah seperti itu kalau belum menemui tahapan tahapan awal, apa itu ?( 'ukbudillah ) beribadah dahulu kepada Allah, barulah Allah memberikan sesuatu yang berharga yaitu Musyahadah tadi, artinya apa, walaupun kita ini pandai baca kitab, kita rajin menuntut ilmu, dan sebagainya, maka kita tidak akan bisa mendapatkan Musyahadah itu, karena jalannya hanya satu yakni ibadah

Sebagaimana yang sudah di sampaikan oleh para ulama ada beberapa tahapan tahapan seseorang manusia untuk bisa menyaksikan Musyahadah itu, segala perbuatan daripada Allah subhanahu wata'ala, karena ibadah itu tidak akan bisa terus menerus, tidak akan bisa Istiqomah, tidak akan bisa muazobah, kecuali dengan 7 perkara ini yang musti kita miliki terdahulu 

1. ( Musyarofah) Kita musti berjanji di dalam hati kita untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wata'ala, kita berjanji di dalam hati untuk selalu menjauhi apa yang di larang oleh Allah, syarat kan dalam hati kita seperti itu, niatkan dalam hati kita bahwa kita punya keinginan yang kuat, tekat yang kuat sejak hari ini aku akan selalu taat kepada Allah dan menjauhi segala macam apa apa yang di larang oleh Allah subhanahu wata'ala, nah itu janji terhadap diri kita, karena kita yang tahu hal demikian 

Setelah itu barulah kita lakukan 
2. ( Murokobah) Di adakan pengintaian pada diri, apakah diriku ini benar benar menjelaskan yang sudah kita janjikan itu, yang sudah kita niatkan itu? atau kita sudah melanggar apa yang sudah kita syaratkan tadi? Maka selalulah kita lihat diri kita lihat hati kita tentang apa apa yang sudah kita janjikan itu 

Nah setelah itu apa, di adakan yang namanya
2. ( Muhasabah ) Di hitung, daripada pagi apa yang aku perbuatan, tengah hari aku mengerjakan apa, sore, malamnya apa yang sudah aku lakukan, apa yang di taat, apa yang di langgar, maka lihatlah diri kita, jadi jikalau ada kesalahan atau pelanggaran terhadap janji janji itu
Maka di adakan yang namanya ( mu'akobah) hukuman 

Nah apa hukumannya, aku baca Alquran contohnya, aku hendak shalat Sunnah, sehingga adanya hukuman untuk mengganti perbuatan perbuatan yang tidak baik yang sudah kita lakukan, nah demikian itu bisa melatih diri kita untuk selalu terbiasa dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi diri kita daripada perbuatan dosa, perbuatan sia sia, nah ( mu'akobah ini tidak akan bisa terlaksana kalau tidak adanya mujahadah) perjuangan, bersungguh-sungguh hendak melakukan yang demikian itu, kalau kita masih santai santai aja nah tidak akan berguna apa apa

Nah kalau sudah kita mujahadah, kita berjuang, kita bersungguh-sungguh, kita mampu mendidik diri kita, mampu mengatasi nafsu kita, mengalahkan syahwat kita, kalau diri kita salah kita hukum, apa setelah itu kita lakukan ( muhadoroh) selalu menghadirkan Allah dalam kehidupan kita, kita selalu paksaan hati kita, pikiran kita untuk mengingat Allah subhanahu wata'ala, baik itu di mulut kita berdzikir, baik hati kita, pikiran kita semuanya kita paksakan setiap detiknya untuk selalu mengingat Allah subhanahu wata'ala, menghadirkan Allah 

Nah kalau sudah demikian berjalan dengan normal dan terbiasa maka kita akan mendapatkan sesuatu yang namanya ( Allah bukakan keajaiban keajaiban ciptaan Allah subhanahu wata'ala, nah sesudah kita menjalankan itu barulah kita di berikan Allah yang namanya Musyahadah tadi, nah jadi ini tidak gampang 
( Laa taro fiklan illa lah ) Tidak kau lihat perbuatan melainkan perbuatan Allah

 
Nah apa lagi yang di sampaikan Jibril alayhissalam kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam 

Sucikan pakaian engkau, para ahli tafsir menjelaskan bukan pakaian itu seperti gamis, jubah, baju, bukan itu yang di maksud dengan sucikan pakaian, pakaian itu adalah antara lain sebagai berikut 

1. Hati
2. Amal 
3. Jisim 
4. Agama
5. Nafsu 

Nah itu yang musti di bersihkan, lima perkara itu di umpamakan dengan pakaian

1. Nah yang pertama 
bersihkan hati engkau daripada sifat sifat yang membuatkan kita jauh dengan Musyahadah, seperti doa yang di karang oleh Sayyid Muhammad bin Sulaiman aljajuli pengarang daripada dala'ilul krhairat, dalam doa beliau apa 

( allahumma ya Robbi bi jahid nabiyyikal Mustofa, wa Rasulikal Murtado, Thoohhir qulubana minqulli wasfin yaba'i duna An Musyahadatika wa mahabbatik ) ya Allah dengan pangkat nabi engkau, 
( Tohhir qulubana ) Sucikan hati kami, dari segala sifat yang menjauhkan kami dari Musyahadah kepada engkau dan mencintai engkau, nah jadi minta kepada Allah agar di bersihkan hati daripada sifat sifat itu 

( Walyukim ala bab qoblihi hajiban minal murokobah) 
Dan hendaklah dia mendirikan di atas pintu hatinya dinding daripada murokobah, yang mencegah dinding itu akan was was, penyakit hati, geritik hati yang jahat, daripada masuk kepada hati, nah jadi di buatkan di pintu hati Kita itu murokobah, arti murokobah itu pengawasan, kalau ada rasa was was, macam mana rezeki ku besok, apakah ada rezeki? Nah langsung kita ingatkan hati, tidak boleh seperti itu, 

misal kita berobat kesana kemari, belum sembuh juga, kalau di hati kita ada geritik hati yang jahat, apakah aku ini di perbuatan orang, atau sakit tu ini akan terus menerus tak kunjung sembuh, nah langsung kita ingatkan hati, ohh tidak boleh seperti itu, itulah murokobah, pengawasan, di buatkan di dalam hati pintu supaya jangan masuk hal hal yang tidak baik di dalam hati, 

karena apabila sudah masuk was-was di dalam hati, sudah masuk geritik hati yang jahat, 
( absadathu) maka dia akan merusak akan hati kita 
( Wayaksuru bakda jalik) Dan sulit sesudah demikian itu ( irhk rajuha minhu) kalau sudah masuk itu penyakit ke dalam hati kita, sudah tertanam di dalam hati, walaupun sejam, walaupun sehari, maka sulit untuk menyembuhkannya, 

Nah itulah gunanya kalau kita ada murokobah di dalam hati, pengawasan di dalam hati, maka murokobah ini yang akan langsung menindak, misal ada timbul di hati geritik yang jahat, buruk sangka kepada orang, khawatir dan takut akan rezeki Allah, kenapa hidupku macam ini aja, tidak ada perubahan, padahal aku rajin aja ibadah, rajin menuntut ilmu, dan lain sebagainya kenapa Allah demikian, nah langsung kita ingatkan dengan pengawasan di dalam hati, oh aku tidak boleh seperti ini, tidak ini semuanya Allah yang perbuatan, ini ujian Allah, aku terima aja, jadi musti langsung kita awasi dengan kembalikan semuanya kepada Allah, supaya hal hal buruk itu tidak tertaman di hati kita

Macam penyakit juga, begitu ada gejala kita langsung obati, nyaman aja, tapi kalau penyakitnya sudah parah, nah sudah untuk mengobatinya, begitupun dengan hati, maka musti kita langsung ingat kepada Allah, ( wa innaha inda khrolathu) karena itu was-was, penyakit hati, geritik hati yang jahat tadi, bila sudah masuk ke dalam hati, akan merusak hati kita, dan sulit sudah demikian untuk 
Menyembuhkannya, maka sebelum terjadi yang demikian, lebih baik kita obati di awal, cepat2 kita buang 

( Walyubalik fih tangkiyati qolbih) Dan hendaklah dia bersangatan pada membersihkan hatinya, 
( Alladzi huwa maudi'u nazori Robbihi) Yang mana hati itu adalah merupakan tempat pandangan tuhan, jadi hati itu adalah tempat pandangan Allah yang pertama, manusia itu yang pertama di pandang Allah adalah hatinya, baru setelah itu yang lainnya, misal orang sembahyangkan, yang pertama itu hati yang di pandang Allah, hatinya dulu, baik tidak hatinya, bila hatinya tidak baik, maka gugurlah pergerakan anggota tubuhnya, 

Bila hatinya baik, maka dia sudah mendapatkan pahala di situ, yang lainnya akan menyusul, jadi bersangatan lah, bersungguh-sungguh, membersihkan hati ini, yang mana hati itu adalah tempat pandangan tuhan, nah dari apa kita bersungguh-sungguh, bersangatan hendak membersihkan hati itu? 

1. ( Minal mayli ila sahawaaati dun na) Daripada condong kepada keinginan, keinginan dunia, kepada keinginan keinginan dunia yang melalaikan engkau daripada Allah subhanahu wata'ala, nah jadi di dalam hati kita ini di bersihkan daripada keinginan keinginan yang melalaikan kita kepada Allah, jangan hendak, apalagi berani menginginkan sesuatu yang sudah jelas kita ketahui bahwa itu bakal merusak agama kita, jangan keinginan dengan sesuatu yang itu bakal merusak hati kita, jangan kepingin dengan sesuatu yang itu bakal melengahkan kita, membuang waktu kita daripada mengingat-ingat Allah, nah jangan 

Maka hati itu betul-betul di bersihkan daripada keinginan yang macam itu, ni kita sudah tahu, ini sesuatu ini akan membuat kita repot, sesuatu ini akan membuatkan kita lalai, sesuatu ini akan membuatkan kita lupa kepada Allah, sesuatu ini akan membuatkan ibadah kita terganggu, membuatkan sembahyang kita berantakan, sesuatu ini membuatkan kita tidak ingat lagi rakaat sembahyang, sesuatu ini sudah jelas kita tahu akan membuatkan kita terlambat sembahyang, nah jangan hendak dengan sesuatu itu, jangan kita kepengen dengan itu, karena kita sudah tahu itu yang sebenarnya membuatkan kita rusak 

Jadi bersungguh-sungguh daripada membersihkan hati dari menginginkan sesuatu yang membuatkan kita lalai kepada Allah, contohnya macam salah seorang sahabat nabi, dia ini sembahyang di kebun, begitu dia sembahyang, di dalam sembahyangnya dia teringat akan indahnya itu kebun, pemandangannya, buah-buahnya, sampaikan dia terlupa akan jumlah rakaat yang dia kerjakan pada sembahyangnya itu, karena hatinya itu sudah tertuju kepada keindahan kebunnya itu,

Sesudah ia selesai sembahyang, diapun datang berjumpa Dengan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, dan menyatakan bahwa, kebun saya ini, yang mengganggu saya sembahyang ya rasulallah, maka akan saya wakafkan untuk kaum muslimin, karena Kabun tu membuatkan saya lengah, membuatkan saya lupa kepada Allah

Apalah daya kita ini orang awam tidak mungkin bisa yang demikian seperti itu lelaki, tapi harapan kita ini pengen dengan sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah, sesuatu yang membuatkan kita ingat kepada Allah, kita ini hendaknya setuju dan mengambil sesuatu yang bakal mendorong kita untuk dekat dengan Allah, jadi jangan hendak kepingin dengan sesuatu yang membuatkan kita lupa kepada Allah, jangan kepingin, apapun itu, pekerjaankah, nah ini pekerjaan misalnya untungnya banyak, tapi kalau ku kerjaan ini, aku bakal repot, bakal susah hati, sembahyangku tidak tentu lagi waktunya, tertinggal nanti sholatku, nah tidak usah di ambil, karena itu jelas jelas akan membuatkan masalah bagi kita , Dan akan mengganggu hati kita, jadi kalau hendak dekat dengan Allah usahakan aja seperti itu, apapun yang membuatkanku jauh daripada Allah tinggalkan 

Nah sifat sifat apa yang menyebabkan kita tidak bisa Musyahadah kepada Allah ? Penyakit hati apa 

1. Riya contohnya beribadah selalu aja ada maksudnya selain daripada Allah, Riya itu lebih samar, lebih tersembunyi daripada semut yang hitam yang sedang berjalan di atas batu yang hitam di dalam yang gelap gulita, lebih halus lagi Riya itu 
2. Ujub, sombong, nah seseorang ini punya sifat demikian maka akan Allah palingkan ayat ayat Allah daripadanya, karena Allah tidak akan memberikan sesuatu yang berharga kepada orang yang sombong 
Nah hati yang rendah itulah yang akan di berikan Allah sesuatu yang paling berharga, maka rendah hatilah 
3. Al ujub, merasa istimewanya diri, merasa diri hebat daripada orang lain, tidak merasa bahwa itu hanyalah titipan dan pemberian daripada Allah subhanahu wata'ala, dan ini menyebabkan lupa kepada Allah 
4. Dengki 
5. Dendam
6. Su'udzhoon bil muslimin ( buruk sangka kepada orang Islam, nah inilah penyakit penyakit hati yang membuatkan kita terhindar daripada cinta Allah, daripada Musyahadah 

( Adamurrido bil qodo wal qodar,) Tidak senang dengan ketetapan Allah, tidak senang dengan takdir Allah, nah itu termasuk dosa hati yang mendinding kita daripada mendapatkan keridhaan dan kecintaan Allah, semisal kita ni berkata kenapalah aku di ciptakan Allah macam ini, kenapa aku di berikan keluarga seperti ini, kenapa aku di berikan ujian, cobaan, masalah seperti ini, kenapa aku, kenapa bukan orang lain, nah geritik geritik hati seperti ini lah yang menyebabkan pendinding kita untuk mendapatkan kecintaan daripada Allah subhanahu wata'ala, seharusnya kita Rida aja, ikhlas dan sabar pasti akan Allah berikan sesuatu yang paling berharga kalau kita bisa melakukan hal hal yang demikian itu 

( Wa bugrhdus Sholihin ) Benci kepada orang yang Sholeh, di dalam hati kita ini ada benci kepada orang Sholeh, ada tidak senang dengan orang orang yang di suruh oleh Allah untuk mencintai mereka malah kita ini membencinya, nah itu dosa pada hati, penyakit pada hati

( 'adamurrahmah bil muslimin ) Tidak ada sayangnya di dalam hati kita dengan orang muslimin, nah ini penyakit, dosa pada hati, ada orang muslim dapat musibah, bala dan bencana, kita ni biasa aja, tidak ada rasa kasian nya, tidak membantu apalagi mendoakannya, 

( 'iradatusshu bil muslim) Menghendaki kejahatan kepada orang Islam, di hati kita ini ada keinginan bahwa di Fulan itu menderita, si Fulan itu sakit, hancur, di dalam hati kita ini ada kepingin si Fulan itu sengsara, rugi, nah ini penyakit hati, 

( 'arrido bil maksiat) Senangnya hati kita senang maksiat, ridonya hati kita dengan perkasa dosa, melihat tv, hp, padahal yang kita tonton itu adalah banyak dosa dan maksiatnya, mulai dari pakaiannya, percakapannya, nah senang hati kita, setuju kita melihat yang demikian itu, orang yang berbuat maksiat itu, membuat dosa film itu mereka mendapatkan honor , mendapatkan gaji, nah kita yang disini mendapatkan dosanya, rugi benar kita ini 

Nah penyakit yang seperti itu lah yang kita disuruh untuk berdoa dan supaya di hilangkan dengan ucapan
( allahumma ya Robbi bi jahid nabiyyikal Mustofa, wa Rasulikal Murtado, Thoohhir qulubana minqulli wasfin yaba'i duna An Musyahadatika wa mahabbatik )



Nah sambungannya adalah daripada doa tersebut ini
( Wa'aminna ala Sunnah wal jama'ah, wassawqi 
Ilal liko'ik ya jaljala Li wal ikram )
Dan wafatkan kami dalam keadaan Sunnah wal jama'ah 
Dan berikan kami kerinduan untuk selalu berjumpa dengan engkau ya Rabb ( wassiyabaka fatohhir) maka bersihkan lah hati engkau daripada sifat sifat seperti tadi

2. ( Wa 'amalaka, fatohhir amalak) Bersihkan amal perbuatan engkau, nah amal perbuatan apa yang di bersihkan ini yang di maksudkan itu, kita bersihkan amal amal kita, terutama ibadah ibadah kita daripada hal hal yang membuat ibadah tidak sah, kita bersihkan ibadah kita amalan amalan kita yang membuat dia tidak beradab kepada Allah subhanahu wata'ala 
( Mal hurimal adab hurimal Sunnah, wamal hurimal Sunnah hurimal fardoh) orang yang terbiasa meninggalkan adab dia akan terbiasa meninggalkan yang sunnat, orang yang terbiasa meninggalkan yang sunnat akan meninggalksn yang wajib, 

3. ( Wajismaka ) Sucikan jisim engkau daripada maksiat, tubuh kita, ( wadinaka ) sucikan agama engkau, daripada bid'ah, daripada sesuatu yang tidak ada daripada agama
( Wa nafsaka) Bersihkan nafsu kamu daripada itu 
( Ammarah bisshuk) ( Wassiyabaka fatohhir) 


Tinggalkan, jauhkan diri engkau daripada segala macam perbuatan dosa, 



Dan jangan kamu merasa setiap kali berbuat baik itu bahwa kamu berjasa, lalu kamu ingin meminta balasan balasan yang banyak atas perbuatan baik itu, dan kamu lupa kepada Allah bahwa kamu bisa melakukan perbuatan baik yang demikian itu, padahal Allah yang memberikan engkau kemampuan itu untuk berbuat 

Jadi jangan sekali-kali kita berbuat suatu kebaikan baik itu kepada Allah atau kepada sesama manusia, terus kita seakan akan menganggap bahwa itu adalah jasa kita, 
( Wala tamnun) Maksudnya ada orang yang ahli ibadah kemudian dia berdoa kepada Allah, kemudian doanya ini belum lagi di kabul kabulkan, lalu dirinya merasa aneh kenapa Allah tidak mengabulkan doah ku, padahal aku ini rajin shalat berjamaah, aku ini rajin membaca Alquran, rajin melakukan ibadah ibadah yang lainnya, nah merasa aneh karna doahnya belum di kabulkan oleh Allah 
Nah ini tamnun namanya 

Maka bersabarlah engkau karena Allah subhanahu wata'ala, 


Wahai nabi yang sedang berselimut 

Bangunlah dan kabarkanlah kepada orang yang tidak beriman bahwa neraka menunggu mereka 

Agungkan, besarkan Tuhanmu 

Sucikan pakaianmu, jauhi segala maksiat


Dan janganlah kamu merasa berjasa dalam berbuat baik, 

Dan sabarlah engkau karna Allah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah