Pages

Kamis, 14 November 2024

Alquran / 85 Surah Al Buruj / hlm 92

Bismillah 

Yang ke 85 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran adalah surah yang bernama Al bujur, ini surah 
( Makkiyyatun) Di turunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah daripada Mekkah ke Madinah
( Wa ayatuha ) Dan ayat ayatnya berjumlah 
( shintani wa isrun ) 22 ayat 

Al Buruj artinya adalah kumpulan kumpulan bintang, Sebahagian daripada para ulama tafsir mengatakan bahwa yang di sebut dengan Al Buruj adalah kumpulang bintang yang berjumlah 12, itu adalah di lewati oleh bumi sewaktu bumi itu mengelilingi matahari, bintang bintang yang 12 itu sebahagianya ada yang di sebut sebagai
( Jadi, hamal, saur, kauz, Mizan, dan di dalam bahasa kita di sebut dengan bintang bintang seperti, kafriqun, libra, virgo dan sebagainya, ) Nah itu ada 12 bintang yang selalu di lewati bumi mengitari matahari 

Jadi bumi dalam perputarannya mengelilingi matahari itu melewati bintang bintang yang 12, dan keadaan suhu di bumi ini, panas, dingin, itu tergantung bumi melewati bintang apa dari yang 12 bintang itu, nah kumpulang bintang bintang itu di sebut dengan Al Buruj namanya, mengetahui tentang bintang bintang itu adalah sesuatu yang di katakan oleh Sebahagian ulama adalah hukumnya fardh kifayah, yang mana dengan mengetahui perbintangan itu maka kita tahu arah kiblat, kita dapat mengetahui timbulnya bulan dan sebagainya 

Dan mempelajari ilmu pengetahuan perbintangan itu bisa juga di katakan hukumnya haram apabila sudah melewati daripada batas batas yang di tntukan, seperti meramal ramal orang dengan ramalan bintang itu, misalnya orang ini lahir di bulan Juni, berarti bintangnya adalah zawza, atau bintang Gemini, nah kalau orang lahir di bulan itu akhlaknya, perangainya seperti ini ini, nah itu sudah merupakan ilmu yang di haramkan oleh Allah subhanahu wata'ala, nah orang yang ahli di dalam ilmu perbintangan itu di sebut sebagai munatjim atau orang yang ahli nujum, dan kita ummat daripada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di larang mempercayai hal hal yang bersangkutan dengan ramalan ramalan bintang itu, 

Kalau manusia lahir di bulan ini maka jodohnya yang bagus di bulan sekian, kalo bulan yang lain tidak cocok, orang yang di bulan Juni, ekonomi kedepannya akan seperti ini, kesihatannya akan menurun dalam beberapa bulan kedepan, nah itu ramalan ramalan bintang yang di haramkan kita mempercayai, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan dalam hadist
( Man soddaqo kahinan aw arrofan, aw munajjimah, lamyukbal lahu solatu arba'ina yauma ) barangsiapa yang mempercayai kahina, kahin itu orang yang menangguh sesuatu yang akan terjadi dengan melalui sahabat sahabatnya jin, contoh seperti apakah aku kalau berusaha ini, bisnis ini, lancar atau tidak kira-kira, 

Manakala arrofan adalah orang orang yang mengetahui tentang perkara yang telah lalu, misalnya orang ada kehilangan barang, apakah bisa dapat kembali, di mana jatuhnya barangku, 2 hari yang lalu, nah mereka bisa tahu, nah itu adalah arrofan , aw munajjiman atau mempercayai kepada ahli ahli perbintangan tadi, nah kalau kita mempercayai yang demikian itu maka tidak di terima shalatnya selama 40 hari, walaupun di surat kabar ada ramalan, di tv ada ramalan bintang itu maka sedikitpun jangan mahu kita percaya, bila kita berani percayainya maka itu akan merusak diri kita, merusak iman kita kepada Allah subhanahu wata'ala 

Bismillahirrahmanirrahim 


Allah subhanahu wata'ala bersumpah demi langit, yang mempunyai kumpulan kumpulan bintang 



Dan demi hari yang di janjikan yaitu hari kiamat 


Dan demi saksi dan yang menyaksikan, sebahagianya ulama tafsir menjelaskan tentang ayat ini adalah, demi saksi dan yang menyaksikan, nah siapa dan apa yang di maksudkan dengan demi saksi itu? Maka para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa yang di maksud dengan saksi itu adalah ( Al yaum wal lail ) hari siang dan malam, jadi hari, siang dan malam itu merupakan saksi tentang apa apa yang kita kerjakan pada hari itu, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan bahwa 
( Laisa min Yaumin yakti alal Abdi, illal yunada bihi yabna 'adam, ana khralkun Jadid, wa ana fima takmalu Alaika syahid) ujar nabi tidak ada hari yang datang daripada seseorang hamba melainkan di seru pada itu hari, hai manusia aku adalah makhluk yang baru, contoh hari ini adalah hari Khamis, ini hari Khamis yang baru, bukan hari Khamis yang sebelumnya, bukan, hari hari yang telah lalu itu dia pulang dan tersimpan di bawah arshnya Allah subhanahu wata'ala 

Aku adalah makhluk yang baru, dan aku akan menyaksikan apa apa yang kau perbuat, perbuatan lah engkau kebaikan niscaya aku bersaksi untuk engkau nanti pada hari kiamat, jikalau aku telah pergi, niscaya engkau tidak akan bisa lagi melihat aku lagi selamanya 
Dan malam pun berkata seperti itu, nah Allah subhanahu wata'ala bersumpah dengan hari, para salafussholihin, orang orang Sholeh terdahulu apabila mereka pernah melakukan sesuatu yang tidak di senangi oleh Allah, misalnya pada hari Selasa mereka melakukan berbuat sesuatu yang di murkai Allah, di benci Allah, maka setiap hari Selasa mereka itu akan sedih, karna pada hari Selasa yang dahulu mereka pernah melakukan suatu dosa atau perkara yang di larang oleh Allah, nah sedihnya macam apa, kalau kalau dosa yang pernah di lakukannya pada hari Selasa yang dahulu itu tidak terhapus oleh Allah subhanahu wata'ala dan itu hari akan bersaksi nanti di hadapan Allah subhanahu wata'ala pada hari kiamat, nah ini yang di takutkan mereka,

jadi setiap hari Selasa umapamanya dia akan sedih dan termenung, dia tafakur dan kemudian bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala, mudah mudahan Allah ampunkan aku

( Wasyahidin ) Dan demi saksi ( wamashud) dan demi yang di saksikan, maka yang di saksikan ini menurut Sebahagian ulama tafsir adalah, Yaumul jumuaah, hari Jumaat, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ( aksiru 'alayya minassolah yaumal jumuah, Fa'innahu yaumun Mashud, tashaduhul malaikat akrhozahul Ibnu Majah) sabda Baginda Rasulullah perbanyaklah kalian bershalawat atasku pada hari Jumaat karena itu adalah hari adalah hari yang di saksikan, menyaksikan akan hati itu oleh malaikat malaikat Allah subhanahu wata'ala, artinya pada hari itu adalah Allah menurunkan banyak malaikat malaikat ke bumi ini khusus untuk menyaksikan perbuatan manusia dan malaikat itu tidak di turunkan pada hari hari yang lainnya, mangkanya itu orang yang beriman yang mati pada hari jumaat dia akan selamat daripada fitnah kubur 

Orang yang beriman mati di hari Jumat maka akan mendapatkan keistimewaan dan terlepas daripada fitnah kubur, karena di hati itu banyak malaikat malaikat yang khusus di perintahkan Allah untuk menyaksikan orang orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala 
Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Kullu 'amalin yakmaluhu insani Yaumal jumuah yuktabulahu bi sab'ina Hasanah rowahu tabaroni) Tiap tiap amal kebaikan yang di lakukan oleh manusia pada hari Jumaat maka akan di tulis 70 kebaikan padanya 
Kenapa, Karna pada hari Jumat itu amal ibadah kita di saksikan langsung oleh para malaikat malaikat khsus di di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala pada hari Jumat itu yang tidak di turunkan di hari hari selanjutnya 

Dan alangkah hinanya, alangkah rendahnya kalau kita berbuat maksiat pada hari Jumat itu, kita akan di saksikan oleh banyak malaikat sewaktu kita maksiat, kita menentang dan tidak taat kepada Allah subhanahu wata'ala, 

( La tub'asunna ) Kalian sungguh nantinya akan di bangkitkan pada hari kiamat itu, Allah subhanahu wata'ala bersumpah untuk meyakinkan kepada manusia tenteng terjadinya hari berbangkit itu, ini surah surah makkiyyah, yang di turunkan di mekah, karna orang orang kafir qurais Mekah itu tidak percaya dengan hari kebangkitan, sehingga Allah bersumpah dengan matahari, Allah bersumpah dengan macam macam yang meyakinkan mereka bahwa hari kebangkitan itu pasti akan terjadi, pasti akan kalian temui atau jumpai 

Di laknat orang orang yang membikin Parit, ini kejadian sebelum jaman nabi kita Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang dimana api di nyalakan di dalam parit itu sedangkan mereka duduk di sekitar parit itu dan mereka menyaksikan bagaimana orang orang yang beriman di masukkan ke dalam parit yang sedang menyala itu, ada seorang penguasa dahulu kala sebelum jamannya Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di suatu tempat yang bernama nazran, nah ini nazrah antara Madinah dan Yaman, disitu kalau ada orang orang yang menyembah Allah pasti akan di siksa, nah seperti apa mereka menyiksanya? Mereka bikin parit kemudian di nyalakan api di dalam parit itu, kemudian mereka duduk di sekitar itu parit, kalau ada orang lewat, orang itu beriman kepada Allah, menyembah Allah dan dia ini tidak manu menyembah berhala, maka akan di masukkan ke dalam parit,

maka Allah subhanahu wata'ala menjelaskan di dalam ayat ini, mereka itu adalah orang orang yang terkutuk, orang orang yang terlaknat

Dan mereka tidak menyiksa ( membakar )orang yang beriman itu melainkan karna mereka beriman dengan Allah yang maha mulia dan terpuji, jadi kalau ada orang yang beriman di masukkan mereka ke dalam parit yang menyala apinya, 

Yang bagi Allah itu adalah kerajaan langit dan bumi dan Allah atas tiap tiap sesuatu itu menyaksikan 

Sesungguhnya orang orang yang menganiaya orang orang yang beriman Baik mukmin laki-laki atau mukmin perempuan, mereka itu di siksa karna menjalankan perintah Allah, dan jikalau mereka tidak taubat maka bagi mereka azab jahannan dan azab yang membakar, nah disini Allah subhanahu wata'ala mengingatkan kepada orang orang yang mengganggu, kepada orang orang yang berani menganiaya terhadap orang-orang beriman yang mana mereka itu ingin menjalankan perintah Allah, yang mana mereka itu hendak menegakkan hukum Allah di permukaan bumi ini, nah siapa siapa yang menghalangi mereka beribadah, siapa siapa yang menghalangi mereka untuk bertakwa kepada Allah maka Allah mengancam mereka dengan azan jahannam yang membakar itu 

Tercatat di dalam sejarah kita ( Masyitoh) seorang perempuan di zamannya Firaun, dia menyembah Allah, dia di aniaya bahkan sempat terbunuh karna Masyitoh ini mempertahankan keimanannya kepada Allah subhanahu wata'ala, nah orang seperti Fir'aun itu termasuk dalam ayat ini 

Dia mengganggu dan menghalangi orang orang yang hendak beribadah kepada Allah, dan lagi di jaman Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di sebutkan lagi salah satu seorang syahid yang bernama Yasir, bapaknya daripada Ammar, ini Yasir seorang laki-laki tua yang miskin, dia di paksa untuk meninggalkan imannya kepada Allah, dia di hukum untuk kembali kepada agamanya yang dahulu meninggalkan Islam, tapi Yasir tetap bertahan sampai dia akhirnya mati syahid
Istri Yasir yang bernama sumaiyyah, perempuan tua ini adalah perempuan pertama yang gugur sebagai syahid di dalam Islam, nah ini perempuan di siksa di tombak perutnya karna mempertahankan imannya kepada Allah, 
Nah orang orang yang mengganggu itu di sebutkan oleh Allah subhanahu wata'ala di dalam Alquran dengan kalimat 

Oleh para ulama tafsir di sebutkan bahwa termasuk di dalam ayat ini juga adalah orang orang tua yang kenghala anak anaknya untuk menjalankan perintah Allah, contohnya anaknya hendak taat kepada Allah di ganggu, anaknya hendak menjalankan syariat Allah di halangi, anaknya hendak sekolah agama tidak di hiraukannya, nah ini termasuk juga ke dalam ayat ini 

Termasuk di dalam ayat ini juga adalah seorang suami yang melarang istrinya menjalankan hukum Allah subhanahu wata'ala, istrinya ingin menjadi orang yang taat kepada Allah, istrinya ingin menjadi orang yang baik dan Sholehah, tapi suaminya menghalangi, nah suami itupun akan termasuk di dalam ayat Allah yang ini, demikian juga pemerintah yang menghalangi rakyatnya menjalankan ibadah, pemerintah yang menghalangi rakyatnya bertakwa kepada Allah, maka itu pemerintah itupun akan termasuk kepada ayat Allah 

Nah kita seorang rakyat wajib tunduk dan patuh kepada Ulil amar, kepada pemerintah, seorang anak wajib taat dan patuh kepada kedua orangnya, seorang istri wajib taat dan patuh kepada suaminya, selama apa apa yang di perintahkan oleh semuaan mereka itu tidak bertentangan dan melanggar hukum Allah subhanahu wata'ala, tapi kalau perintah dari pemerintah, perintah daripada orangtua, perintah daripada suami bertentangan dengan hukum Allah, melanggar hukum Allah subhanahu wata'ala, maka Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan bahwa 
( La to'ata bi makhlukin fi maksiatil khroliq ) Tidak boleh taat kepada seorang juapun dari pada makhluk kalau itu suatu perkara maksiat atau melanggar hukum daripada Allah subhanahu wata'ala 

Kalau ada orang yang menghalangi kita taat kepada Allah, ada orang yang menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah, maka orang itu akan di ancam oleh Allah subhanahu wata'ala dengan ancaman neraka jahanam 


Tidak ada komentar:

More Article about this Blog