Pages

Kamis, 21 November 2024

Alquran / 91 Surah Asy Syam / hlm 98


Yang ke 91 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran yaitu surah yang bernama asy Syam, ini surah 
( Makkiyyatun) Di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah 
( Wa Ayatuha ) Dan ayat ayatnya berjumlah 
( Krhomsa asroh ) 15 ayat 


Artinya adalah demi Matahari dan cahayanya, Allah subhanahu wata'ala bersumpah dengan matahari dan cahaya, ini menunjukkan bahwa ini menunjukkan bahwa matahari itu menunjukkan peranan yang sangat besar dalam kehidupan alam semesta ini, oleh karena ini Allah subhanahu wa ta'ala menjadikannya sumpah di dalam ayat ini



Demi bulan apabila dia mengelilingi matahari, nah bulan kita ketahui adalah dia mengiringi matahari, begitu matahari tenggelam maka bulan pun muncul, 


Dan demi siang apabila menampakkan akan matahari 


Dan demi malam apabila dia menutupi matahari


Demi langit dan penciptaannya 



Dan demi bumi serta perhamparannya 


Dan demi diri serta penyempurnaan ciptaannya 




Maka Allah mengilhamkan kepada diri itu akan kejahatannya fan ketakwaannya, Allah subhanahu wata'ala yang mengilhamkan kepada masing masing diri untuk berbuat kejahatan atau ketakwaan sehingga tidak ada satu diri juapun yang berbuat apapun melainkan dengan Ilham, dengan arahan dan kehendak daripada Allah subhanahu wata'ala, baik itu perbuatan diri berupa kejahatan atau perbuatan diri itu berupa takwa, maka itu semua adalah Ilham dan kehendak daripada Allah subhanahu wata'ala 

Maka beruntung lah orang orang yang di berikan ilham, yang di berikan kehendak untuk bisa bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala, dan rugi lah orang orang yang di berikan Allah Ilham untuk berbuat suatu kejahatan 
Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Inna minannas nasan mafatihah lil ghoir magholikhroli syar, wa Inna minannasi nasan mafatihah lissyar makrholikalilghoir, ) sesungguhnya di antara manusia ada manusia yang merupakan pembuka bagi kebaikan dan penutup bagi kejahatan, ada manusia yang jadi sumber kebaikan, segala kebaikan timbul daripada manusia itu dan segala macam kejahatan akan tertutup kalau manusia itu ada, nah ada manusia seperti ini

Dimana saja dia berada akan timbul kebaikan, dan tertutup kejahatan, dan sebagian manusia ada pula yang pembuka bagi kejahatan dan penutup bagi kebaikan, ada manusia ini dimana saja dia pergi pasti ada kejahatan, pasti ada keributan, dimanapun dia ada disitu kebaikan tidak bisa di laksanakan 

( Fatuba Liman za'allahu ta'ala ma Fatihah lil ghoir ala yadaih) maka beruntung lah orang orang di jadikan Allah, yang di ciptakan Allah sebagai pembuka atas kebaikan, 
( Wawailun Liman za'allahu ta'ala ) Dan cekala orang yang di jadikan Allah ( ma Fatihah lissyar alaih yadaih ) sumber kejahatan di tangannya, jadi Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan manusia itu, baik manusia itu sebagai sumber kejahatan atau manusia itu sumber kebaikan


Allah subhanahu wata'ala bersumpah dengan berbagai macam ciptaannya, dari Allah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, malam, dengan bumi dengan langit, untuk menyatakan apa sumpah Allah itu? Untuk menyatakan 


Nah ini lah yang di nyatakan oleh Allah, untuk meyakinkan kepada manusia, sungguh beruntung orang yang bisa membersihkan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotori dirinya, membersihkan dari apa? 
( Minal ma'asi) Membersihkan daripada segala macam bentuk dosa dan kemaksiatan, dan sungguh rugi orang yang mengotori dirinya dengan macam bentuk dosa dan kemaksiatan, nah ayat ini secara tidak langsung menyuruh kita untuk membersihkan diri daripada dosa dan maksiat, karena setiap manusia apapun dia selain daripada ( para Ambiya i walmursalin) maka dia tidak akan terpelas daripada dosa dan maksiat 

Allah subhanahu wata'ala tidak menyatakan beruntung orang yang tidak berdosa, Allah tidak mengatakan yang demikian misalnya, nah ini kita tidak akan pernah termasuk, karena orang orang yang tidak pernah berdosa itu adalah orang yang ( maksumin) tapi Allah menegaskan bahwa yang beruntung itu adalah orang orang yang membersihkan dirinya daripada maksiat, jadi kalau kita ini pernah melakukan dosa dan maksiat maka bersihkan lah, bertaubat lah, 

Dan berbagai macam bentuk maksiat yang musti kita bersihkan di dalam diri kita ini namun yang perlu kita bersihkan terlebih dahulu adalah ibunya segala maksiat itu, Karena kalau ibu maksiat ini sudah kita bersihkan maka anak anaknya pun akan hilang, nah apa ibu maksiat yang perlu kita bersih dalam diri kita adalah 
( Qola bakdul huqama, ummahatul khrotoya shalasatu asiya ) berkata sebahagian hukama salah satu ibunya daripada segala macam kejahatan adalah 3 macam 

1. ( Al hasadu ) Dengki ini adalah merupakan ibu kejahatan, karena dengki ini akan melahirkan banyak maksiat, orang yang dengki mau memfitnah, mau menggibah, mau memukul, bahkan mau membunuh, nah jadi dengki itu merupakan induk kejahatan, jadi kalau kita bisa membersihkan sifat dengki ini di dalam hati kita di dalam diri kita maka kita akan membersihkan segala macam perkara yang akan ikut bersamanya nanti 
2. ( Wal hirsyu) Tamak, kenapa orang mahu mencuri, mahu melakukan khrianat dalam pekerjaannya, kenapa orang mau berbuat curang karena adanya sifat tamak di dalam dirinya, nah dari tamak ini akan banyak maksiat yang timbul, kalau kita bisa membersihkan diri daripada sifat tamak ini maka kita akan membersihkan segala macam perkara yang buruk bersamanya 
3. ( Wal kibru) Kesombongan, nah sombong ini asalnya daripada iblis, maka dia mendapatkan laknat, di kutuk oleh Allah subhanahu wata'ala, 

Sifat tamak itu bermula daripada nabi Adam yang tidak puas dengan segala macam kenikmatan yang di berikan oleh Allah di dalam syurga akhir nya dia melanggar hukum daripada Allah dan memakan buah sajaratul khruldi itu, manakala dengki itu bermula daripada Qabil yang membunuh saudaranya sendiri Habil karena adanya sifat iri dengki dan kesombongan itu bermula daripada iblis, nah jadi 3 sifat inilah yang musti kita pelajari yang musti kita hindarkan yang musti kita bersihkan daripada diri kita, mudah mudahan Allah menolong kita 

Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Al hasad ya'kulu Hasanat, kama ta'kulunnarul khrotab) 
dengki itu memakan amal kebaikan sebagaimana api yang memainkan kayu yang kering, nah dimana dengki itu memakan amal kita? Dengan dengki seseorang bisa melakukan perbuatan dosa, seperti gibah, nah gibah ini di akhirat nanti akan menyebabkan kita memberikan amal kebaikan kita kepada orang yang kita gibahkan itu 

Dengan dengki kita bisa memukul orang, sebab dengki di akhirat nanti kita akan bayar dengan amal ibadah kita, nah akhirnya amal ibadah kitapun nanti semuanya habis oleh sebab maksiat iri dengki ini, 

Maka para ulama tasawuf mengatakan ada 3 macam jenis hasad ini, 2 orang di larang 1 yang di maafkan
1. ( Ayyuhibba jawalil Nikmah Anil maksud ) Dia ingin hilang nikmat daripada orang yang di dengki nya itu, artinya di dalam hati kita itu ingin kalau nikmat yang di berikan Allah kepada si Fulan itu berkurang, atau pun tidak mendapatkan nikmat sama sekali, ataupun hilang, 
Nah ini hasad, dosa yang besar 
2. ( Ayyuhibba jawalil Nikmah Anil maksud ilaih) Dia ingin nikmat saudaranya itu berpindah kepadanya, nah ini, 
Contohnya Allah memberikan rezeki lebih kepada saudaranya, nah dia tidak suka, harusnya nikmat rezeki yang lebih itu di berikan kepadanya bukan pada saudaranya, ini pun dosa besar
3. ( Ayyastahiya misla Alinafsih ) Bahwa dia ingin dapat nikmat seperti kawannya, tanpa menginginkan hilang nikmat daripada kawannya itu, contohnya kawan kita ini mendapatkan rezeki banyak, nah kita pun ingin di berikan Allah rezeki yang banyak, tanpa iri dengki kepada kawan kita, nah ini tidak apa apa, ini di maafkan dalam hal urusan dunia dan di sunnatkan kalau perihal urusan akhirat, contohnya ada kawan kita ini rajin ibadah, nah kita pun hendak seperti dia, nah itu di sunnatkan 

2. Induk kemaksiatan tadi adalah tamak, para ulama ilmu tasawuf mengatakan ( Al hirsyu wazhani mazmunun wa ghoiru mazmunin) Tamak itu ada dua, ada tamak yang di cela, ada tamak yang tidak di cela tetapi meninggalkannya lebih baik, tamak yang di cela itu adalah bahwa menyibukkan akan dia sehingga dia terlalai dalam menjalankan perintah Allah, sibuk berdagang, tidak mengurusi lagi kalau sudah azan tetap saja berdagang, tamak hendak mencari rezeki saja kerjaannya sampai lupa kepada Allah, nah ini sifat tamak yang di cela, atau dia ingin memperbanyak harta sebanyak-banyaknya dan bermegah-megah dengannya, dia hendak menjadi kaya, hendak supaya orang lihat dia ini orang kaya, nah ini tamak yang di cela, 

Sedangkan tamak yang tidak di cela akan tetapi jika kita meninggalkan jauh lebih baik, bahwa dia tidak meninggalkan sesuatu daripada perintah Allah dan juga tidak menghendaki dengan hartanya itu akan kemegahan dan untung, dia ini berusaha pas azan dia pun shalat, segala macam aturan Allah di laksanakannya, tapi dia ini semangat dalam usahanya, tujuannya bukan untuk bermegah-megah, tidak, ketamakannya itu dalam hal kebaikan, nah ini tidak di cela di dalam agama kita 

Nabi Adam alaihissalam di riwayatkan berwasiat kepada anak anaknya dengan 5 wasiat, 

1. ( La tadma'innu fit dun ya, ) Wahai anak anakku, kalian jangan merasa tenang dengan dunia ini, jangan lah dunia ini merupakan ketenangan bagi kalian, ketenangan itu hendaknya dengan Allah subhanahu wata'ala, macam kita bisa ibadah, kita bisa shalat berjamaah, kita bisa membaca Alquran nah tenanglah hati kita, jangan kita dapat harta gembira, dapat untung gembira, dan lupa kepada Allah subhanahu wata'ala 

Aku ujar nabi Adam dahulunya merasa tenang dengan surga akhirnya aku di keluarkan dari syurga, dahulu di syurga mendapatkan nikmat yang luar biasanya, mendapatkan keistimewaan dan lain sesbgainya maka nabi adapun tenang dengan Syurga bukan tenang dengan Allah subhanahu wata'ala, sehingga akhirnya dia di keluarkan dari syurga, Allah subhanahu wata'ala menjelaskan di dalam Alquran adalah 

Orang orang yang beriman itu ketenangan hatinya adalah dengan dzikrullah, bahwa dzikrullah itu menentramkan hati, kalau pikiran kita gelisah, hati kita gelisah kemudian kita bawa membaca Alquran, mendengarkan Alquran, berdzikir dan shalawat, nah tenang hati kita demikian itu

2. ( Walatakmalu bihawa nisa'ikum ) Jangan kamu melakukan dengan kehendak istri kamu, karena aku melakukan dengan kehendak istriku akhirnya aku menyesal, nah karena nabi Adam ini menuruti kehendak istrinya hawa sehingga melanggar perintah Allah memakan itu buah sajaratul khruldi maka diapun di usir oleh Allah subhanahu wata'ala dari syurga, Artinya jangan kita ini hendak selalu menuruti kehendak istri sebelum kita memikirkan dahulu dengan segala macam pertimbangan pertimbangan, sebelum akhirnya nanti menyesal sendiri 

3. ( Kullu amalin turidunahu panzuru ) Tiap tiap perbuatan yang kamu inginkan maka pikirkan lah akibatnya, jadi sebelum hendak berbuat sesuatu maka pikirkan lah baik baik terlebih dahulu, contoh ini jelas sudah di larang oleh Allah jadi kalau aku lakukan apa akibatnya, sebelum kita melakukan sesuatu itu apa akibatnya, kalau akibat itu nanti mendapatkan kemurkaan Allah maka jangan di lakukan 

4. ( izatorobat kulubukum Bi sya'in ) Apabila bergolak hati kamu sesuatu maka jauhilah sesuatu itu, artinya kalau kita berhadapan dengan suatu perkara namun hati kita ini ada merasa tidak enak, atau merasa ragu-ragu maka jauhilah perkara yang demikian itu, 

5. ( istasyiru bil umur, ) Bermusyawarah lah kalian dalam segala macam perkara, bertukaran pendapat dengan orang orang yang bakk

3. Induk daripada maksiat tadi adalah ( Al kibir) kesombongan, orang sombong ini bahayanya apa, tidak bisa di nasihatkan, orang sombongi ni suka menghinakan orang, dan sifat kesombongan ini akan membawa kematian kemaksiatan lain yang di murkai oleh Allah subhanahu wata'ala, hadist Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan bahwa 
( La yadkhrulul Jannata mangkana fi qolbihi misqolu habbatin, minkrhordatin, min kibrin, tidak akan masuk syurga orang ada di hatinya ada sifat kesombongan walaupun kecil sebesar zarrah, 

Sungguh beruntung orang orang yang membersihkan dirinya daripada maksiat tadi, nah kita belajar ilmu itu juga termasuk kepada bahagian membersihkan diri, karena kalau kita tidak belajar maka kita tidak akan tahu caranya, jadi belajar ilmu ugama, memahami ilmu agama, berkawan dengan orang orang Sholeh, termasuk kepada ayat ini, 

Dan sungguh rugi orang orang yang mengotori dirinya daripada berbagai macam kemaksiatan kemaksiatan, nah mudah mudahan Allah subhanahu wata'ala selalu memberikan kita hidayah, Taufiq dan inayah sehingga kita menjadi orang orang yang bersih dari berbagai macam kemaksiatan kemaksiatan, aamiin ya Allah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah