Yang ke 80 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran adalah surah yang bernama Abasa, ini surah
( Makkiyyatun) Di turunkan allah subhanahu wa ta'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sebelum hijrah daripada Mekkah ke madinah
( Wa ayatuha) Dan ayat ayatnya berjumlah
( Sinnati wa arba'un) 42 ayat
Allah subhanahu wata'ala berfirman pada ayat 33 dan juga seterusnya, Allah mengatakan bahwa
maka ketika datangnya hari kiamat, atau tiupan sangkakala yang kedua, dimana seluruh manusia di bangkitkan kembali daripada kuburnya dan di halau semuanya menuju tempat yang di sebut dengan Mahsyar untuk menjalani yang di sebut proses timbangan sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia terhadap amal perbuatannya selama hidup di dalam dunia ini
Pada hari itu Allah subhanahu wata'ala mengatakan, pada hari kiamat itu seseorang lari daripada saudaranya, kalau di dunia kita senantiasa datang, dekat dengan saudara kita maka pada hari kiamat itu kita akan lari dan menjauh daripada suadara kita, nah bukan hanya itu
Dari lari juga dia daripada itu bapaknya, nah selama ini orangtua kita adalah tempat kita mengadu, tempat kita berlindung di dalam dunia, tapi di akhir justru kita menjauhkan dari daripada keduanya
Dan lari juga seseorang pada hari itu daripada istrinya dan juga anak anaknya, anak istri yang selama ini tempat kita mencurahkan kasih sayang dan perhatian, namun di alam akhirat nanti kita akan tinggalkan semua itu dan kita akan lari menjauh daripada mereka
Nah kepada seseorang itu menjauh daripada keluarganya, kenapa kita tidak ingin bertemu dengan orangtua kita, kenapa kita tidak ingin bertemu dengan istri dan anak kita, dan kenapa kita menjauh daripada saudara saudara kita, Al imam fakrhrurrazzi mengatakan
( Wassababu bi zalikal firor, Al ihtirozu 'anil mutholabah)
Sebab pada yang demikian itu menjauh daripada keliarha adalah karena menghindari diri pada tuntutan tuntutan mereka, karena kita takut kalau saudara saudara yang kita datangi itu menuntut haqnya pada kita
Kita takut mendekat kepada ibu, bapa, karena kalau kalau ibu bapa itu menuntut Haq kepada kita, kita menjauh terhadap anak dan istri kita karna kita takut kalau mereka itu menuntut Haq yang ada pada diri kita
( Yaqulul akrhuma wassyaitani bi Malik) seseorang yang berjumpa pada saudaranya pada hari itu, maka saudaranya akan menuntut kepada dia
( Ma wassyaitani bi Malik ) Tidak lah engkau pernah membantu aku dengan harta engkau, di dalam dunia aku kesusahan engkau tidak pernah membantu, di dalam dunia aku banyak hutang engkau tidak menolongku
Di dalam dunia aku kesulitan hidup engkau tidak pernah memikirkan yang demikian itu, maka sekarang aku tuntut engkau karena engkau adalah saudaraku, maka menjauhlah kita daripada itu
( Wal abawani yaqulani kassarta fi birrina ) Kedua orangtua kita kalau kita datangi pada hari itu mereka akan berkata kepada kita, engkau kurang berbakti kepada kami semasa kami masih hidup dahulu di dalam dunia, maka pada hari ini kami akan menuntut engkau, nah apa yang di tuntut? Artinya minta pahala kepada kita, atau menanggungkan dosa dosa mereka, dan kami minta pahala engkau agar kami bisa selamat menghadapi perhitungan dan timbangan amal nanti
( Wasohibatu taqul at'amtanil haram Wafa'alta, wasonakta ) kalau kita bertemu dengan istri kita di akhirat itu, apayang di kata istri kita, wahai suamiku engkau ada memberikanku makan daripada yang haram di dalam dunia, engkau selalu menyuruhku yang itu tidak wajib aku lakukan, engkau selalu membiarkanku dalam dosa namun engkau tidak pernah memberikan ku nasihat dan teguran, nah sekarang ini dosa dosaku minta di tanggungkan kepada engkau dan amal ibadahmu minta di berikan kepadaku, nah seperti apalah keadaan kita pada waktu itu sedangkan kita ini belum tentu selamat hendak memberikan pahala kepada orang pula
Bagi tiap tiap orang daripada mereka pada hari itu, masing masing mereka hendak mencari keselamatan diri mereka sendiri, seorang anak hanya mementingkan dirinya sendiri, orangtuanya hendak masuk neraka tidak jadi masalah, orangtua yang penting dirinya selamat tidak lagi memikirkan anak anaknya, nah di saat saat genting itu tiap tiap orang akan mementingkan dirinya sendiri, maka tidak adalah lagi guna persahabatan, perkawanan, dan lain sebagainya
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala di dalam Alquran pada surah almukminun ayat 101 yang menegaskan tentang hal ini adalah, Allah mengatakan
Bilamana sudah di tiupnya sangkakala yang kedua tidak ada lagi urusan keluarga pada hari itu, ( fala ansaba bainahum) tidak ada lagi urusan saling tanya menanya, masing masing sibuk dan akan menyelamatkan dirinya sendiri, Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu menafsirkan ini ayat, ( yukrhadu biyatil 'abdi awil 'amati yaumal kiyamah
Fayunsabu 'ala ru'usil awwabin wal akhirin, summa yunadi munadin haza Fulan bin Fulan, mankana lahu
Haqqun falyaktihi ila haqqih) pada hari kiamat nanti, seseorang hamba di bawa di tangannya, di pegang di tangannya dan didirikan di tengah tengah makhluk, dan disitu ada pengumuman wahai penghuni Mahsyar, yang berdiri ini adalah Fulan bin Fulan, nah berdiri kita
Seluruh penduduk Mahsyar semuanya memandang kita
( Mankala lahu haqqun falyaktihi ila haqqih) Barangsiapa yang ada Haq kepada ini orang silahkan datang kemari untuk menuntut haqnya, siapa siapa yang pernah di dzolimi ini orang silahkan datang, untuk mengambil haqnya, nah mendengarkan pengumuman itu gembiralah perempuann perempuan, kenapa gembira? Karena dia punya Haq atas orangtuanya, Karna kadang kadang orangtua ini bersikap tidak adil terhadap anak anaknya
Biasanya anak laki-laki selalu di utamakan dalam segala hal sedangkan anak perempuan di nomor dua kan
Padahal Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sudah menyampaikan bahwa ( 'ikdilu baina auladikum ?
Adillah kamu terhadap anak anak kamu baik itu anak laki-laki maupun perempuan, mah pada saat itu anak perempuan akan menuntut kepada ayahnya
( Aw'ala zawziha) Perempuan tadi gembira karena mungkin dia merasa ada hak atas suaminya, di dalam dunia kita ini hanya tahu istri itu yang harus berbakti kepada suami, di dalam dunia kita hanya menyuruh istri selalu taat kepada kita laki-laki, tapi barangkali ada hak hak istri yang tidak kita penuhi, ( aw'ala akrhi ha) atau dia merasa punya Haq kepada saudaranya, ( aw'alabniha ) atau atas pustranya, atau kepada anak anaknya
Jadi setiap tuntutan tuntutan orang yang di dzolim pada hari kiamat itu tidak ada lain selain daripada 2 perkara, adakalanya kita bayar dengan pahala kita, atau dosanya kita yang menanggungkan, nah coba kita bayangkan kita ini di dalam dunia menjadi seorang pedagang, pengusaha, kemudian kita ini mendzolimi banyak orang, karena kita berjualan itu ada penipu orang, nah berapa tahun kita melainkan itu maka beberapa banyak sungguh orang orang yang akan menuntut haqnya nanti di hari kiamat kepada diri kita ini, banyangkan ada orang menjabat seorang kepala desa, dikemudian dia mengambil Haq haq penduduk desa, maka masyarakat di desa itu semuanya akan menuntutnya nanti d hari kiamat
Jangankan kita hendak menghadapi orang banyak, menghadapi anak istri kita nanti saja kita sudah kewalahan, apalagi camat, bupati, gubernur lebih banyak lagi orang yang akan menuntut dirinya, pasti tidak akan cukup membayar tuntutan itu dengan amal kebaikannya, nah kalau sudah tidak cukup berarti dia akan menanggung dosa dosa orang yang banyak itu
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Man kanat indahu madzhlimatun Li akrhi aw min irdihi awsya'i, falyatahallalhu yaum ila akhir hadist) kata Baginda Rasulullah barangsiapa yang pernah berbuat kedzoliman kepada orang lain, hendaklah dia minta halal sekarang di dalam dunia, sebelum masa tidak adalagi yang namanya Dinar dan dirham, nah apa maksudnya, artinya sudah tidak bisa lagi minta halal, minta maaf
Karena kalau sudah di akhirat tidak berlaku lagi itu
( Fala ansafa bainahum) Tidak ada lagi urusan urusan keluarga disitu,
Masing masing akan di sibukkan dengan keadaan dirinya sendiri, nah jadi ada orang bertanya? Siapa lagi yang di harapkan di hari itu, ayah, ibu, suami, istri, saudara, tidak bisa lagi menolong kita, nah yang menjadi harapan dari keadaan itu satu satunya adalah orang orang yang bisa yang mampu memberikan syafaat dan pertolongan kepada kita, itu aja yang bisa kita harapkan, nah siapa yang bisa memberikan pertolongan dan syafaat itu?
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Yasfa'u yaumal kiyamah, shalasatun Al ambiyak, summal ulama, summassyuhada Rowahu Ibnu Majah)
Memberikan syafaat pada hari kiamat itu kata Baginda Rasulullah ada tiga kelompok manusia,
1. Adalah kelompoknya para nabi
2. Kelompoknya para ulama
3. Kelompoknya para syuhada, orang orang yang syahid di Sabilillah,
Namun mereka mereka itu bisa memberikan syafaat setelah sudah di berikan izin daripada yang punya syafaat yaitu junjungan kita Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalama, nah hanya itu lah yang bisa menolong diri kita nanti, kita nanti meminta pertolongan mereka nanti fi akhirat, dan satu satunya makhluk Allah yang bisa menolong kita daripada yang memberikan izin untuk menolong orang lain yaitu Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam namun di pandang Mahsyar itu tempatnya ang sangat luas, lebih dari milyaran orang disitu, nah dimana kita bisa bertemu dengan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, nah ini masalahnya
Nah dimana kita akan berjumpa dengan Baginda Rasulullah untuk minta pertolongan, untuk minta syafaat, nah di dalam hal ini Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyampaikan dalam sebuah hadistnya
( Inna awlannas fi yaumal kiyamah, aksarukum 'alayya solatan rowahu Tirmidzi) Nah yang pertama untuk bisa menjumpai Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di tempat hari kiamat dan untuk bisa mendapatkan syafaat daripada Rasulullah, pertama caranya adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, karena shalawat ini adalah merupakan amalan, ibadah yang sangat di andalkan pada hari itu untuk menunjukkan arah kemana kita bisa mencari dan berjumpa dengan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam
1. ( Inna awlannas ) Nah para pensyarah hadist mengatakan awla itu artinya adalah orang yang paling dekat dengan ku, orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat, orang yang paling berhak mendapatkan pertolongan dan perlindungan ku pada hari kiamat iyalah, orang yang paling banyak di antara kalian bershalawat atasku, nah siapa sahaja kalau ini orang banyak bershalawat kepada Baginda Rasulullah maka lebih dekat dirinya dengan Baginda Rasulullah
2. Kemudian cara yang ke 2 untuk menemui Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di hari akhir itu adalah ( Al Ihsan ila ahli baitin nabi shalallahu 'alaihi wassalam fid dun ya) yaitu berbuat baik kepada keluarga kluarga nabi shalallahu alaihi wasallam di alam dunia ini,
Nah sudahlah kita ini banyak bershalawat kemudian berkelakuan baik kepada ahli keluarga keluarga Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, karena Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyampaikan barangsiapa yang berbuat baik kepada keluargaku di alam dunia maka nanti aku sendiri yang akan membalasnya di akhirat ujar Baginda Rasulullah
( 'arba'atun ana lahum syafi'un yaumal kiyamah
Al mukrimu lizurriyati walkodi lahum hawa'izahum, wasa'ilahum fi umurihim Indama turru ilaih Wal
muhibbulahum bi qolbihi wa lisani rowahu Dailami)
Ada 4 yang aku memberikan syafaat kepada mereka di hari kiamat, ujar Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam
1. ( Al mukrimu lizurriyati) Orang yang memuliakan jurriyyatku
2. ( walkodi lahum hawa'izahum) Orang yangmenunaikan hajat hajat mereka, nah hajat itu apa artinya (ma laulahu) sesuatu yang jikalau itu tidak ada dia jadi susah hati, nah itu namanya hajat, menunaikan hajat mereka, misalnya ada keturunan nabi ini orang susah hidupnya, hendak berdakwah kesana kemari sulit, tidak punya kederaan, kemudian mereka hendak berhajat sepeda, kemudian nanti kalau uangnya sudah ada aku bayar kembali ini sepeda, nah kalau ada orang yang menolong itulah hajat
3. ( wasa'ilahum fi umurihim Indama turru ilaih )
Dan mengusahakan bagi jurriyyat nabi kepada perkara perkara yang membuat mereka terdesak dengan itu
Contohnya ada salah seorang jurriyyat nabi tersedak akan suatu hutang, kemudian kita usahakan untuk menolong mereka itu, bagimana caranya, jalan keluarga supaya kita bisa menolong itu keturunan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam,
4. ( Wal muhibbulahum bi qolbihi wa lisani ) dan kita mencintai mereka itu baik dengan hati dan lisan kita
Nah memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di tambah kepada kita berbuat baik kepada ahli keluarga keturunan Baginda Rasulullah, itu adalah modal yang besar untuk dekat kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam nanti di yaumal kiyamah nanti, yang mana pada hari itu semua keluarga, semua orang yang kita tolong, kita bantu akan lari meninggalkan kita yang tinggal hanyalah Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam
Wajah wajah mereka di hari kiamat itu bercahaya, terang benderang, nah wajah wajah siapa itu? Maka Ibnu Abbas mengatakan, itulah wajah wajah orang orang yang selalu qiyamullail, yang bangun untuk mengerjakan shalat di malam hari semata-mata hanya karena Allah subhanahu wa ta'ala, maka pada hari kiamat itu wajahnya akan bersinar tenang sangat
Tertawa gembira
Dan wajah wajah mereka pada hari itu berdebu, nah siapa wajah orang yang demikian ini
Dan di liputi oleh kehitaman yang gelap gulita
Mereka itulah orang orang kafir yang ingkar kepada Allah subhanahu wata'ala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar