Pages

Kamis, 30 Januari 2025

Al-Qur'an/ 107. surah Al ma'un/ hlm. 114


Surah yang ke 107 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran adalah surah yang bernama Al ma'un, ini surah ( makkiyyatun) di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah 
( Wa Ayatuha) Dan ayat ayatnya berjumlah ( sab'un ) 7ayt

_____
Apakah kamu mengetahui orang orang yang mendustakan agama, menurut Sebahagian ulama tafsir mengatakan ( din ) itu adalah artinya agama, ada sebahagian lagi yang mengartikan dengan hari kiamat 

Tahukah engkau orang yang mendustakan dengan hari kiamat, dan ini merupakan satu ancaman yang sangat keras daripada Allah subhanahu wata'ala, Allah menyebutnya dengan sebutan orang yang mendustakan agama, 

Maka, itu lah orang yang mengusir anak yatim, atau tidak membantu anak yatim, atau menghinakan anak yatim 

Dan tidak terdorong hatinya untuk memberikan makan orang orang miskin, atau menganjurkan untuk memberikan makan orang orang miskin, orang orang yang yang mengusir', mendzolim, menghinakan, tidak membantu anak yatim, Allah menyebutnya itu adalah orang yang mendustakan agama Allah 

Orang yang tidak terdorong hatinya hendak memberikan makan kepada orang miskin, Allah menyebutnya dengan orang yang mendustakan agama, maksudnya adalah prilaku seperti itu, akhlak seperti itu adalah merupakan akhlaknya orang orang yang mendustakan agama Allah 

Walaupun kita mengaku beriman, mengaku beragama Islam, walaupun kita mengaku beriman dengan segala rukun iman, tapi kalau akhlak kita, prilaku kita, tidak menghiraukan anak yatim, tidak terdorong memberi makan orang miskin maka perilaku itu adalah prilaku orang yang mendustakan agama, Allah yang menyebut demikian 

Maksudnya mengusir, tidak membantu, atau menghinakan, atau menggertak, karna keyatimannya, karna ini anak yatim lalu kita usir, karna ini anak yatim tidak usah di bantu, karna dia ini anak yatim lalu di hinakan, karna dia ini anak yatim lalu di gertak, di dzolimi, di sakiti, nah itu maksudnya, karna keyatimannya, 

kalau misalnya ada anak yatim nakal, tidak mahu sembahyang, nah maka kita selaku orang yang menjaga mereka, tidak jadi masalah kalau kita memarahinya dengan tujuan untuk mendidiknya karna tidak sembahyang, bukan karna keyatimannya....

Jadi sangat keres ancaman Allah subhanahu wata'ala kepada orang orang yang menghinakan anak yatim itu, dan juga Allah sangat memuliakan, sangat menyayangi kepada mereka mereka yang menjaga, mendidik anak yatim, Karna keyatimannya, contohnya ada orang ni sayang kenapa anak yatim, karna anak yatim ni kaya nah itu tidak termasuk kepada kemuliaan, 

Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Walladzi ba'asani bil haq, la yu'azzibullah yaumal kiyamah, marrohimal yatim, Wala'ana lahul Kalam, warohima yutma'hu wa Tokfah, rowahu tabaroni ) demi yang mengutus aku dengan benar, tidak lah mengajab Allah pada hari kiamat orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut perkataannya kepada anak yatim, dan dia menyayangi anak yatim itu dengan keyatimannya dan kelemahannya ) 

Nah kita sayang kepada anak yatim itu karna yatimnya itu bukan karna hal yang lain, yatim itu adalah artinya 
( Man mata abuhu, wahuwa dunal buluk ) Orang yang mati bapaknya, orang yang mati ayahnya, dan dia belum baligh, nah itu adalah yatim, ) nah jadi kalau kita mengeraskan perkataan karna untuk mendidiknya maka itu bukanlah sesuatu yang di cela, tapi kalau kita mengeraskan perkataan karna keyatimannya itu nah ini yang berbahaya, ini yang di ancam sangat keras oleh Allah dengan ancaman sebagaimana orang yang mendustakan dengan agama 

Sangat banyak hadist Baginda Rasulullah yang menjelaskan betapa terhormatnya, betapa mulianya orang orang yang menjaga, mendidik anak yatim itu, baik yatim itu anaknya sendiri maupun itu keluarganya sendiri ataupun orang lain, seperti Sabda Baginda Rasulullah 
( 'ana wamro'atun sab'a ul khrofda'in, kahataini yaumal kiyamah, imro'atun 'amad jauzaha, zatamansibin wazamal, Habasad nafsaha 'ala yatamaha Hatta banu 'awmatu Rowahu abu daud ) 

aku kata Rasulullah dan perempuan yang tidak terawat dua pipinya, aku dan perempuan yang tidak terawat dua pipinya, itu artinya perempuan perempuan yang tidak mahu punya suami, maksudnya seperti itu, jadi ujar nabi aku dan perempuan perempuan yang tidak terawat dua pipinya, ( kahataini yaumal kiyamah) seperti ini pada hari kiamat, menunjukkan dua jarinya , artinya berdampingan dengan Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallama, 

Maksudnya apa ? ( Imro'atun 'amad jauzaha) Perempuan yang di tinggal wafat suaminya, ( zataman sibin wa zamalin ) itu perempuan mempunyai kedudukan, orang terhormat artinya, wa zalamin ) orang yang punya kecantikan, menahan akan dirinya untuk menikah lagi , karna sebab mengurusi, menjaga anak anak yatim yang di tinggal suaminya yang meninggal dunia, 

artinya perempuan ini tidak mahu menilang lagi, Karna khawatir terganggu mengurusi anak anaknya yang yatim, nah sampai si anak ini wafat, atau anak ini sudah balighr atau berkeluarga, selama masih kanak kanak, masih yatim, dia menahan dirinya untuk menikah lagi , nah ini perempuan akan berdampingan bersama dengan Baginda Rasulullah di akhirat nanti, nah demikian lah kemuliaan daripada menjaga anak nya sendiri yang yatim di tinggal mati orang ayahnya 

Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Man'ala shalasatan minal Aytam, kana kaman qoma laylahu washoman Hanarohu Wagrhoda auroha, Syahiran syoifahu Fi Sabilillah, wa Kuntu ana wahuwa fil Jannah, akhraawaihi, kama annahataini Urhtaa, rowahu Ibnu
majah ) barangsiapa kata Rasulullah yang menjamin kehidupan tiga orang anak yatim, nah ini umum, anaknya sendiri kah, anak keluarga kah, atau anak orang lain, ada tiga orang, di jaganya, di rawatnya, kehidupannya di jamin, , makanannya, minumnya, pakaiannya, tempat tinggal nya, pendidikan agamanya dan lain sebagainya, 

Maka kata Rasulullah orang itu seperti orang yang bangun malam hari, puasa di siang hari, dan berjihad fi Sabilillah, nah ini pahalanya, besar sekali pahalanya yang akan di berikan oleh Allah subhanahu wata'ala, dan adalah aku dan dia itu ujar Rasulullah di dalam syurga bersaudara, subhanallah, ( kama Anna arkhtaini urkhtani)
Sebagaimana seseorang yang saling bersaudara, nah menjaga anak yatim merupakan sesuatu yang sangat di muliakan oleh Allah sehingga dia akan berdampingan di hari kiamat dan juga di dalam syurga 

Dan di dalam berbagai macam hadist hadist yang lainnya juga menjelaskan berbagai macam keutamaan daripada anak yatim ini, seperti yang di sebutkan di dalam sebuah hadist yang artinya ( barangsiapa yang ingin lembut, tenang hatinya, karna kita ini keras hati umpamanya, arti keras hati itu ? Mendengarkan nasihat tidak masuk, mengingat dosa tidak sedih, tidak menyesal, melihat orang dapat musibah, tidak prihatin, ada saudara sesama muslim dimanapun berada sedang mendapatkan bala bencana nah hatinya biasa saja, keras tidak tersentuh sama sekali, tidak ada kasihannya sama sekali, nah ini keras hati namanya

Ujar Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 
Orang yang keras hati bilamana ingin lembut hatinya, 
Nah orang yang lembut hatinya itu adalah orang yang mudah menerima nasihat, mudah menangis mengingat dosa, dan merasakan perasaan orang orang yang mendapatkan musibah, baik itu sesama muslimin maupun juga sesama manusia makhluk Allah, nah ini lembut hati namanya, siapa yang ingin lembut hatinya dan ingin tercapai hajatnya ujar nabi, maka sayangilah anak anak yatim, dan beri makanlah kepada orang orang miskin, nah ini adalah kebaikan dunia dan akhirat

Tapi jangan di taqlik, di gantung, arti di gantung itu aku bilamana berhasil baru aku memberikan makan anak yatim dan orang miskin, nah itu di gantung namanya, 

Maka itulah orang yang mengusir, tidak membantu, mengghinakan anak anak yatim 

Dan tidak perduli, dan tidak terdorong hatinya hendak memberikan makan orang orang miskin, nah ini menunjukkan sifat Bakhil yang ada pada diri mereka.  Orang yang tidak terdorong hatinya hendak memberikan makan orang miskin walaupun dia beriman, walaupun dia beragama Islam, tapi Allah menyebutkan prilaku itu adalah prilaku yang mendustakan agama 


Di dalam kitab at tar-ghib wat tarhib di sebutkan kenapa begitu beratnya ancaman terhadap mereka mereka yang bersifat Bakhil seperti memberikan makan orang miskin saja tidak mahu dia, karna bahayanya, mudaratnya, kebakhrilan itu sangat banyak, contohnya kita macam di warung, duduk ada orang sebelah kita ini orang miskin, pengertian miskin apa? Miskin itu orang yang mustinya hidup layak itu memerlukan hidup layak dalam sehari 25 sehari, sedangkan penghasilannya cuman 14 ribu,m sehari nah ini miskin,

 nah misal dia punya anak 2, di berikannya biaya tiap hari, di tanggungnya, semustinya kalau dia hendak makan yang wajar seharusnya dia punya duit sehari itu 30 ribu, nah dia bekerja cuman dapat 15 ribu, nah ini orang miskin, bilamana kita tidak terdorong hati kita untuk memberikan makan orang miskin seperti ini, maka kita akan termasuk kepada orang orang yang mendustakan agama, artinya punya sifat Bakhil, 

Nah sifat Bakhil itu bahayanya sangat banyak 

1. Bakhil itu merupakan ( sifatul addeniyyah ) sifat orang orang hina, sehingga Rasulullah pun berdoa kepada Allah, minta perlindungan kepada Allah ( allahumma inni 'auzubika minal burhkli ) ya Allah aku berlindung dengan engkau dengan sifat Bakhil , nah ini sudah jelas tidak baik karena nabi kita sahaja minta perlindungan kepada Allah,
2. ( Yulhibul 'adawah ) Sifat Bakhil ini menyalakan permusuhan, orang Bakhil ini mudah bermusuhan, kenapa Karna tidak tahu rugi sedikitpun, akhirnya berkelahi, bermusuhan 
3. ( Ditul 'iman ) Bakhil dan iman itu tidak bisa menyatu
4. ( Makdiyyun alaihi binnar ) Di pastikan atasnya masuk neraka, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ( ala, Wainna kulla Bakhil finnar, hatmun 'alallah, wa ana bihi kafil, rowahul asbaha ) ujar nabi ketahuilah setiap orang Bakhil itu di neraka, pasti dan aku jamin ujar nabi kita, ( ana bihi kafil )

Nah jadi masih banyak lagi orang orang yang bersifat Bakhil itu sehingga mencegah dirinya untuk memberi makan orang orang miskin 

Kemudian sambungan ayat Allah adalah 

Maka ( wail ) bagi orang orang yang sembahyang, yang mereka itu lalai dari sembahyang mereka, 

Itu adalah ( wadin fi Jahannam) , satu jurang di jahanman, ( Lausuyyirot fihi jibaludun ya, la jabat,Min siddati harrih) Jikalau di jalankan di situ gunung gunung dunia, hancur, karna bersangatan panasnya ( wahuna maskanu mayyatahawanu bissiqolah ) dan itu wadin, itu wail tadi merupakan tempatnya orang orang yang 
( Wayu'akrhiruha an waktiha ) Dan melambai-lambatkannya dari pada waktunya, sembahyang ia cuman, masbuk terus kali berjamaah, lambat terus di ujung ujung waktu shalat baru hendak mengerjakan, macam shalat asar, di kerjakannya 10 menit lagi hendak masuk shalat magrib, begitu terus setiap hari tanpa ada halangan halangan, begitu aja terus tiap hari, disengaja, lalai kepada Allah subhanahu wata'ala dalam shalat

Di dalam Alquran bilamana di sebutkan kalimat ( wail) itu sunnat kita berkata ( waili illam yughrfarli ) 

Neraka Jahannam bagi orang orang yang sembahyang, yang lalai daripada sembahyangnya, nah begitu kita mendengarkan itu, maka sunnat kita membaca 
( waili illam yughrfarli 

Yang mana mereka itu pula Riya, mana sembahyang sudah lalai, melambat lambatkan dari waktunya, di tambah lagi Riya, 

Dan enggan memberikan bantuan walaupun sedikit, ada satu contoh bahwa orang ini tidak mahu memberikan pinjaman apalagi memberikan bantuan, padahal yang demikian itu adalah perkara hal hal yang kecil, nah perilaku perilaku seperti ini sangat tidak baik, Insyaallah di lain kesempatan kita bisa melanjutkan kembali, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin ....

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog