Pages

Jumat, 07 Februari 2025

5. Belajar sembahyang Tahhiyatul Masjid

ALHAMDULILLAH 

(Qolal mushonnif Rohima hullah, wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni Amin, ) ( Masa'ilu fi baqiyyatin nawafil ) 
Masalah masalah pada setinggalnya sembahyang sembahyang sunnat, yang pertama ( Al afdholu fi jami'in nawafil, antakuna fil gait ) yang paling baik, paling afdhol pada sekalian sembahyang sunnat bahwa adalah dia di dalam rumah, nah ini mengenai tempat mengerjakannya, ( Illa sunnatal ihrom ) kecuali sunnat ihrom, ( wattawafi ) kecuali sunnat tawab, itu pun ( afdholnya di masjid, ( waddhuha ) sembahyang duha, nah itu afdholnya di masjid, ( Wal istikharah ) dan sembahyang istikharah pun afdholnya di masjid juga 

( Wassafari Wal kujumi mihnu )  Musafir dan datang dari musafir, orang hendak musafir di sunnatkan sembahyang safar dua rakaat, nah orang yang musafir sebelum sampai rumah diirinya maka di sunnatkan singgah dulu ke masjid atau ke surau sembahyang sunnat dua rakaat, ( wa qobliyyatil magrib ) dan qobliyyah magrib, nah itu yang afdhol di masjid atau surau di kerjakan ( Wal manzuroh ) sembahyang yang di nazarkan, nah seperti apa sembahyang yang di nazarkan itu, umpamanya aku bernazar apabila Allah memberikan rezeki kepadaku sesuatu yang ku maksud maka aku bernazar hendak sembahyang sunnat dua rakaat 

Lalu pada hari itu Allah berikan rezski sesuai dengan apa yang di inginkannya, nah dia wajib melaksanakan sunnat nazar, dan nazar ini musti di ucapkan, kalau di dalam hati bernazar belum sah nazarnya, jadi di ucapkan, kalau dia mengucapkannya itu tidak di dengar orang, di rumah, di kamarnya sendri, dia berkata aku bernazar hendak melaksanakan sembahyang dua rakaat nah ini nazar yang sah, kalau hanya di hati masih kurang

Nazar ini terbagi menjadi dua, ada nazar yang bergantung, ada nazar yang tidak bergantung, ada nazar mu'allaq, ada nazar munatzar, nah nazar munatzar ini nazar yang langsung, misalnya aku wajibkan sembahyang dua rakaat atas diriku, nah ini nazar langsung, itu di anjurkan melaksanakan di masjid, kalau yang nazar yang bergantung itu macam tadi, bila dapat rezeki yang di maksud maka diapun sembahyang 

Jadi nazar itu sah ? Yang pertama nazar itu di ucapkan, yang kedua yang di nazarkan ini adalah sesuatu yang hukumnya sunnat, tidak boleh menazarkan sesatu yang sudah wajib, tidak boleh menazarkan yang haram, tidak boleh menazarkan yang makhruh, tidak boleh menazarkan yang mubah, misal aku bernazar, bilamana berhasil, aku habis subuh ini hendak makan, sah kah nazarnya, tidak, Karna selesai subuh itu kalau makan hukumnya tidak wajib, aku bernazar kalau berhasil hendak potong rambut gundul, sah kah nazarnya, tidak, Karna bergundul itu tidak sunnat, apalagi hendak bernazar yang haram, apalgi uang yang wajib 

Misal aku bernazar sembahyang Dzuhur, sah kah, tidak, Karna Dzuhur sudah di wajibkan, jadi yang di nazarkan ini adalah sesuatu yang sunnat, jadi segala macam perkara yang sunnat itu boleh di nazarkan, macam sembahyang duha di nazarkan jadi wajib, sembahyang witir jadi wajib, sembahyang qobliyyah bakdiyyah, jadi wajib, nah orsng orang dahulu di dalam suluk perjalanannya menuju Allah supaya lebih perhatian kepada Allah maka mereka menazarkan perkaya yang sunnat, jadi artinya misal di bulan ini aku wajibkan atas diriku hendak melaksanakan sembahyang qobliyyah dan bakdiyyah, aku wajibkan atas diriku sembahyang duha, 
Aku wajibkan atas diriku hendak sembahyang witir nah jadi otomatis ada perhatian betul kepada perkara yang Sunnat ini, nah itu untuk menjaga perhatian kita, di simpin melaksanakan yang sunnat itu 

( Wal qobliyyah iza dakhrola waktuha) Dan sunnat qobliyyah bila sudah masuk waktunya, itu lebih baik mengerjakannya di masjid, ( wa iza Kana muktaqifan ) 
Bila dia sedang i'tikaf, sembahyang sunnat maka afdholnya di masjid, ( Warman khrofa fawataha ) orang yang takut kehilangan sembahyang sunnat, macam kalau aku ini sembahyang sunnat qobliyyah di rumah terus hendak lanjut ke masjid, takut aku bisa tidak sempat, nanti bisa masbuk aku, nah kalau seperti ini lebih baik di kerjakan nya qobliyyah itu di masjid tidak usah di rumah, kalau takut yang deminian itu 

( 'a Wid takasula ) Atau malas, dia ni sembahyang bakdiyyah isya, bakdiyyah magrib, aku kalau sudah sampai rumah, sudah sampai kamar jadi malas sembahyang, nah di masjid yang baik di laksanakan 
( Wamanafila Yaumil jum'ati ) Dan sunnat sunnat hari jummat, kan ada qobliyyah dan bakdiyyah nya, nah itu di masjid afdholnya, 

( Wal ihyail fuqo'ah ) Dan untuk menghidupkan tempat, misal kita ini ada punya tempat lain selain dari rumah, kan tadi sembahyang sunnat itu paling baik di rumah, kalau khawatir terlambat lebik baiknya di masjid, kalau khawatir jadi malas mengerjakan lebih baik di masjid, 
Atau juga kita ada punya tempat yang bertujuan untuk menghidupkan tempat itu, nah kita di anjurkan untuk sembahyang sunnat di tempat itu, macam kita ni punya toko, kita punya tempat usaha, warung kah, apapun itu tempat, jadi kita di Sunnat kan untuk menghidupkan itu tempat dengan mengerjakan sembahyang, atau dzikir, baca Alquran, shalawat dan lainnya 

Di dalam hadist di sebutkan ( ma min buk'atin yusholla fiha solatun aw zukirollahu alaiha, illastabsyarat Fi zalik 
ila Muntaha, ila syak'il 'arodin ) ujar nabi kita, tidak ada dari satu tempat yang di sembahyangi tempat itu, atau di sebut nama Allah atas tempat itu, melainkan tempat itu bergembira kepada Tuhannya, bergembira nya dia dengan yang demikian itu sampai kepada 7 lapisan tanah, subhanallah, 

Yang kedua masalah sembahyang sunnat ( tahhiyatul masjid ) ( fahiya rok'atani ) tahhiyatul masjid itu dua rakaat, ( fa'aksaru ) bisa lebih, nah tahhiyatul masjid berapa rakaat ( bi taslimatin Wahidah ) dengan adanya satu salam, dua rakaat atau lebih dengan satu salam 
( Watusonnu bakda dukhrulil masjid ) Dan di sunnatkan tahhiyatul masjid itu sesudah masuk masjid,
( watahsu'ul ma'al fardi awil nafli ) dan hasil tahhiyatul masjid itu beserta sembahyang fardhu atau sembahyang sunnat, contohnya kita ini datang ke masjid, kita pun sembahyang qobliyyah Jum'at, qobliyyah Zuhur, datang ke masjid sembahyang sunnat wudhu, datang ke masjid hendak sembahyang sunnat duha, nah bilamana kita kerjakan itu maka akan termasuk lah kepada sunnat tahhiyatul masjid 

Artinya tahhiyatul masjid itu menghormati masjid, dengan apapun sembahyang yang kita kerjakan maka sudah termasuk kepada itu tahhiyatul masjid, kecuali bernazar, kemudian di kerjakan di masjid nah ini berbeda, contoh aku bernazar hendak melaksanakan sembahyang tahhiyatul masjid, nah ini niatnya musti tahhiyatul masjid, kalau tidak bernazar apa apa, kita datang ke masjid kemudian shalat sunnat duha kah, wudhu kah, nah itu sudah termasuk kepada tahhiyatul masjid, macam kita ni datang ke masjid hendak shalat berjamaah, kita dalam keadaan masbuk, imam sudah rakaat kedua, kemudian kitapun langsung shalat mengikuti imam, nah ini sudah termasuk kepada tahhiyatul masjid di dalam shalat berjamaah yang kita kerjakan itu 

( Watafutu biljulus 'amidan, 'awnasiyyan Watholal faslu ) Dan kehilangan tahhiyatul masjid dengan sebab duduk sengaja atau lupa, dan sudah lama dan panjang waktunya, macam masuk kita ni ke masjid, terus duduk, lama kita duduk, nah baru ingat hendak shalat tahhiyatul masjid, nah tidak sunnat lagi karena sudah habis waktunya, kecuali kita berdiri, nah kalau berdiri tidak apa apa, macam kita ni masuk masjid pada saat orang sedang azan, Allahuakbar Allahuakbar, nah kita pun berdiri menunggu, selesai muadzin mengumandangkan azan baru kita shalat qobliyyah contohnya, nah sudah termasuk itu kepada sunnat tahhiyatul masjid 

( walatandariju tahhiyatu Fi rok'atin Wahidah ) Dan tidak termasuk tahhiyatul masjid pada satu rakaat, kalau kita masuk masjid terus hanya mengerjakan satu rakaat saja itu tidak termasuk tahhiyatul masjid, ( aw solatil janazah ) atau sembahyang jenazah, tidak termasuk tahhiyatul masjid, ( aw sajadatissukri aw tilawatah ) atau mengerjakan sujud syukur atau sujud tilawah itu tidak tercakup kepada tahhiyatul masjid, ( wa iza lam yusholliha ) bila dia tidak sembahyang tahhiyatul masjid 
( Fayakumu ma qomaha ) Maka hendaknya dia ( baqiyyatissolihat arba'an ) membaca baqiyyatissolihat 4 kali, misal kita ni masuk masjid tidak punya wudhu, nah tidak boleh langsung sembahyang 

Untuk mengganti yang demikian itu membaca baqiyyatissolihat ( subhanallah walhamdulillah walailaha illallah Wallahu Akbar, walahaula walaquwwata illabillahil 'aliyyul adzim, 4 kali, nah itu mengganti daripada tahhiyatul masjid, 

( Qamaqola sohibussaffatizzubat ) 
Setiap kali masuk masjid maka kita di sunnatkan tahhiyatul masjid, walaupun kita ni sudah shalat tahhiyatul masjid, nah kita pun duduk di masjid, kemudian kita terbatal wudhu, nah kita keluar ambil air wudhu begitu masuk ke pada masjid, maka shalat lagi tahhiyatul masjid, nah keluar lagi kita, masuk lagi ke masjid maka di sunnatkan lagi tahhiyatul masjid, jadi setiap kita masuk masjid di sunnatkan tahhiyatul masjid itu, dan ini waktunya bebas, pagi kah,siang kah, sore kah, bebas, intinya setiap masuk jam berapa saja, shalat tahhiyatul masjid 

Yang ketiga ( shalatuttarawih, wayadkhrulu waktuha bi fiklil isya ) masuknya waktu sembahyang tarawih dengan memperbuat sembahyang isya, ( wayakrh ruzu ) dan keluar masuk tarawih ( bi dulu'il fajri ) dengan terbitnya fajar ( bi layali Ramadhan ) nah walaupun kita ni jamak Takdim, magrib dan isya, intinya sembahyang tarawih ini di kerjanan sesudah kita melaksanakan shalat isya, nah kalau orang belum mengerjakan isya, otomatis belum boleh mengerjakan tarawih 

( Wa'aqolluha rok'atani wa'aksyaruha 'isruna rok'atan ) Sekurang kurangnya tarawih 2 rakaat, atau maksimal nya 20 rakaat ( Wayabudda ayyushollima fiha min kulli rok'atain) tidak boleh tidak bahwa dia salam setiap dua rakaat, nah ini sembahyang tarawih, 

Yang ke 4 adalah ( An naflul mutlak ) sunnat mutlak, artinya shalat sunnat yang bebas waktunya, 
( La hasra lahu ) Tidak terbatas baginya, yang namanya sunnat mutlak ini dari 1 rakaat sampai tidak terbatas jumlah rakaatnya, ( wayazuzu qobla ayyangkusa ayyazida bisatti targrhirin niyyah qobla ziyyadah 'awwin nuksan ) dan boleh dia menambahi atau mengurangi dengan syarat dia berniat terlebih dahulu, contohnya kita hendak sembahyang sunnat mutlak 4 rakaat, 
Nah di tengah tengah sembahyang hendak merubahnya, 2 aja lah, nah itu boleh, atau sunnat mutlak hendak 2 rakaat aja, nah begitu dia mengerjakan tiba tiba berubah pikiran hendak menambahnya jadi 4 atau lebih, nah boleh juga, asalkan kita merubah niat itu sebelum tahhiyat hendak salam 

Yang ke 5, ( qodo'un Nafilah ) menggodo sembahyang sunnat ( yusonnu qodo'un Nafilah Al mu'akkatah ) 
Di sunnatkan mengqodo sembahyang sunnat yang punya waktu ( Lannafilah za tissabab ) Bukan sunnat yang punya sebab, macam ( Tahhiyatul masjid) Nah itu sunnat yang punya sebab, jadi kalau kita masuk masjid tidak sembahyang tahhiyatul masjid, kemudian kita balik ke rumah, sunnat kah kita mengerjakan tahhiyatul masjid lagi? Tidak, Karna ini sembahyang yang punya sebab, nah macam gerhana matahari, kita tidak sembahyang, begitu selesai gerhana matahari, maka tidak sunnat lagi, karena demimian itu punya sebabnya

Lain hal nya sembahyang sunnat yang punya waktu, sunnat di qodo, macam witir, kita ni kesiangan bangun bangun sudah subuh, nah sunnat kita mengqodo witir, macam duha, kita ni kerja di tempat yang sulit hendak solat, waktu sudah masuk duhur, nah boleh kita qodo sunnat duha selesai waktu duzhur, nah ini sembahyang sunnat yang punya waktu bilamana luput maka boleh di qodo, macam sunnat tarawih, malam nya kita ni sakit, maka boleh di qodo siangnya, nah itu sunnat karena sembahyang sunnat ini punya waktunya, lain hal nya dengan sunnat yang ada sebabnya tadi 

Yang ke 6 ( sholatul lail, ay tahajjudi ) sembahyang tahajud ( wahuwa, Wassola bakdannaum wa sholatil isya ) sembahyang tahajjud itu adalah sembahyang yang di kerjakan sesudah tidur dan sudah selesai shalat isya
Kita ni misal tidak tidur sampai jam 2 malam, kemudian hendak shalat tahajud, sah kah? Tidak sah, kenapa? Karna tidak adanya tidur, Karna tahajjud ini harus adanya tidur walaupun sekejap tidurnya, 
Contoh jam 11 kita tidur, bangun jam 12 nah boleh tahajjud, namun tidak ada tidur, maka Bukan tahajjud itu qiyamullail, menghidupkan malam namanya 

( Afdholu waktihi ) Paling afdhol waktunya sembahyang tahajjud ( inkasa mahu ) jikalau dia bagi itu malam ( nisfain ) kepada dua bahagian ( fa nisfuhu akhir ) separuh akhir, Sebagian untuk tidur sebahagian lagi untuk ibadah, nah kalau separuh akhirnya adalah anggap saja jam 12 ke atas ( wa inkasamahu aslasan ) jikalau dia bagi malam itu kepada 3 bahagian, maka sepertiganya, macam sepertiga waktu untuk belajar, seperti lagi untuk tidur, sepertiga lagi untuk ibadah, maka anggap saja jam 1 atau jam 2 pagi, Karna waktu malam itu kan di mulai dari magrib sampai subuh, nah ini di baginya menjadi 3 bahagian 

Seperti Al imam as Syafi'i, membagi 3 malam menjadi 3 bahagian, sebahagian malam untuk ilmu, sebahagian lagi untuk ibadah kepada Allah, sebahagian lagi untuk tidur, misal malam itu jumlahnya ada 9 jam, maka 3 jam, 3 jam, 3 jam, 3 jam ini fokus untuk belajar ilmu, 3 jam berikutnya beribadah, 3 jam istirahat, tidur, nah itu di bagi tiga, ( wa inkasamahu asdasan ) jikalau dia membagi malam itu menjadi 6 bahagian, 

Jadi umpamanya malam itu 12 jam, di baginya 2 jam 2 jam, dan seterusnya, nah apabila waktu yang terbaik untuk melakukan shalat tahajjud ini, ( fasudu urrabi' Wal khromis ) yang baik adalah seper 4nya 

( Fadluhu ) Kelebihan sembahyang malam ( qolallahu ta'ala ) 


Hamba hamba Allah subhanahu wata'la yang mereka itu berjalan di muka bumi dalam keadaan tawadhu, sopan, rendah hati, bila mengkrhitab akan dirinya oleh orang orang jahil, ada orang jahil yang menghinanya, maka mereka berkata dengan perkataan yang selamat daripada dosa 

Dan mereka di dalam hari sujud dan berdiri bagi Tuhan mereka Allah subhanahu wata'la 

( Waqola 'aydon, Amman huwa qonitun ana anlaili
Sajidan waqo'iman, yahzarul akrhirota wayarzu 
Rahmata robbih ) Nah ini Allah menyampaikan, adakah sama orang yang beribadah di malam hari sujud, bangun, takut kepada akhir, hendak mengharapkan Rahmat daripada Allah, adakah sama orang yang demikian itu dengan orang yang tidak beribadah? Tentu saja tidak sama 

( Kul hal yastawilladzi na yaklamun walladzi na la yaklamun ) Sampaikan wahai Rasulullah adakah saama orang yang punya ilmu dan orang yang tidak punya ilmu 


( innama yatazakkaru Ulul Al-Bab ? Biasanya yang bisa mengambil pelajaran itu  adalah orang orang yang punya akal

( Wawaroda fil hadist afdholassolah bakdal faridah
Solatul lail ) Telah datang dari hadits paling afdhol sembahyang lail setelah shalat fardhu adalah sembahyang malam ( 'alaikum bil qiyamillail, fa innahu dakbussolihina qoblakum, wamakrubatun
ila robbikum, wamakfaratun lissai'yiat, wamatrodatun liddak 'anil jasad ) ujar nabi jangan engkau tinggalkan sembahyang malam, bangun malam, 'alaikum, latihlah agar terbiasa, Karna demikian itu adalah kebiasaan orsng orang Soleh, Karna orsng orang soleh itu sudah adatnya bangun malam 

Dan itu ( makrubatun ila robbikum) mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'la ( makfaratun lissai'yiat) menebus bagi dosa dan kesalahan kesalahan 
( wamatrodatun liddak 'anil jasad ) Dan menolak bagi segala macam jenis penyakit daripada tubuhnya dengan izin Allah subhanahu wata'la 

( Sunanu kiyamillail ) Sunnat sunnat bangun malam 
( Bahwa dia sunnat menyapu wajahnya bila bangun, 
( Wa ayyanzura ilassamak) Nah begitu selesai mengucap muka maka lihat ke atas, ( wa yakro'al ayat ) dan kemudian membaca ayat ( min akri ri Suroti Ali Imran) 
( Wa ayyaftatiha tahajjud ) Dan dia memulai tahajjud itu
( Birok'ataini krhofifatayyin ) Dengan dua rakaat yang ringkas ( Wal ikrasu minad du'a Wal istighfar ) dan di sunnatkan pada waktu dia bangun malam itu memperbanyak doa kepada Allah dan istighfar meminta ampun kepada Allah subhanahu wata'la 

( Makhruhatu qiyamillail) Yang di makhruhkan bangun malam ( takrhsisu lailati juma'ati bi qiyami )
Mengkhususkan hari Jumat dengan bangun malam
Nah ini makhruh, malam Jumat aja dia khususnya bangun malam, kalau bukan malam jumaat tidak bangun, nah ini di makhruhkan, lain kalau kita ini membaca amalan amalan khusus yang di suruh oleh nabi pada malam jumaat nah itu tidak apa apa, ujar nabi baca surah Kahfi pada malam jummat, nah ini tidak apa

Tapi kalau beribadah hanya malam jumaat saja pada malam lain tidak, nah ini makhruh , kalau hendak ibadah lebih baik tiap malam bangun, ini baik mencontoh daripada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam 

( Wa qiyamullail kulli hi Da'iman ) Bangun semalam suntuk tak ada tidur nya nah ini di makhruhkan, sepanjang malam tidak tidur, tidak ada hal hal yang bermanfaat, nah ini di makhruhkan juga, Nah lain hal nya kalau pada malam malam yang baik, nah ini boleh, macam malam Lailatul Qadar, macam malam hari Arafah, nah bebas aja hendak memperbanyak, macam puasa juga kalau tiap hari puasa nah ini tidak baik, paling baik pun macam puasa nabi daud, sehari puasa, sehari tidak, beda hal nya kalau kita ni orang yang tidak mampu, tidak ada makanan yang hendak di makan, nah boleh aja berpuasa, mudah mudahan Allah ampunkan 

( Watarkhu tahajjudin 'iktadahuu ) Di makhruhkan meninggalkan tahajjud yang sudah ia biasakan
Orang ni biasanya rajin tahajjud tiap hari, nah tiba tiba ada acara, dia pun meninggalkan tahajjud nya, nah ini di makhruhkan juga















Tidak ada komentar:

More Article about this Blog