2. Shalat Witir
( Qola mushonnif rahimahullah wanafa'ana bi 'ulumihi fid daroi ni aamiin ) ( babu shalatin Nafilah, 'ayhaza babu sholatin Nafilah, ) bermula ini bab mengenai sembahyang sunnat ( aksamun nawafili shalasatun ? Macam macam sembahyang sunnat ada tiga
1. ( Nafilatun mu'akkatatun ? Sunnat yang di waktukan, macam shalat sunnat tarawih, nah itu di waktukan hanya di laksanakan di bulan Ramadhan ( wal witri) dan shalat witirnya,
2. ( Nafilatun zatu sababin ? Sembahyang sunnat yang mempunyai sebab, artinya kalau tidak ada sebabnya maka tidak di sunnatkan sembahyang, ada sebab sebelumnya ( wahiya 'ala shalasati 'an'wa'in ) sembahyang sunnat yang mempunyai sebab itu ada 3 juga
A. ( Sababun mutaqoddimun ) Sebab terdahulu
( kasunnatittawab ? Seperti sunnat tawab, nah sembahyang sunnat tawab dua rakaat di sunnatkan bagi orang yang sudah tawaf, jadi tawaf dulu di kerjakan 7 kali putaran nah baru lah sembahyang, jadi kalau kita di di kampung mana pakai sembahyang tawaf, kenapa? Karna belum tawaf, belum ada sebabnya
B. ( Watahiyyatil masjidi ) Dan juga seperti sembahyang tahiyyatil masjid, masuk ke masjid dahulu baru shalat Sunnat tahiyyatul masjid, nah masjid ini ada terbagi dua, ada masjid Jamik, ada masjid ghoirul Jamik, Masjid Jamik artinya adalah masjid yang disitu di laksanakan shalat jummat, dan masjid ghoirul Jamik, tidak ada shalat Jum'at disitu, bahasa kitanya surau, nah ini, jadi masuk jangan pulak kita shalat tahiyyatul surau, tetap niatnya tahiyyatul masjid
Berbeda hal nya macam mushalla, nah mushalla itu tidak ada shalat tahhiyyatnya, kenapa? Karna boleh orang haid masuk, nah kalau surau itu lain dengan musholla, di hukum fiqih juga di bedakan antara mushalla dengan surau, jadi sembahyang tahiyyatul masjid itu musti dahulu masuk masjid baru di kerjakan
C. ( Wasunnatil wudhu ? Dan sunnat wudhu, nah ini adalah sembahyang sunnat yang sebabnya itu terdahulu, berwudhu dahulu kemudian baru melaksanakan shalat
2. ( Sababun muqorinun ? Sebab yang besertaan, jadi pas saat sebab maka disitu lah shalat, contohnya, ( kal kisufa'in ? Seperti dua gerhana, gerhana bulan, atau gerhana matahari, nah pas saat terjadi demikian disitu lah kita sembahyang sunnat gerhana, macam sudah selesai gernaha? Tidak shalat lagi, atau sebelum terjadinya gerhana? Belum bisa lagi shalat, jadi sembahyang gerhana itu sunnat apabila terjadinya gerhana
3. ( Sababun muta'akrhirun ) Sebabnya terakhir, jadi sembahyang dulu di kerjakan baru ada sebabnya,
( Kan sunnatil istikharah) Seperti sunnat istikharah, kan kit shalat terlebih dahulu kemudian baru muncul pilihan
( Nafilatun mutlaqoh ? Sunnat yang mutlaqoh
( Wahiyyalladzi la takrhtassu Bi waktin wala sabab )
Shalat mutlaqoh ini tidak bergantung kepada waktu dan sebab, kapan kapan aja bisa di laksanakan,
Niatnya usholli rak'atain lillahi ta'ala) nah apa nama shalatnya? Shalat sunnat mutlak, nah ini yang biasanya di lakukan oleh ulama ulama, ahlul bait seperti sayyidina Ali Jainal Abidin, sembahyang sunnat 1000 rakaat, nah sunnat apa itu namanya? Sunnat mutlak,
karna sunnar mutlak ini tidak tertentu hitungannya, tidak tertentu waktunya dan tidak tertentu juga sebabnya
( Aksamun nawafil ) Pembahagian sembahyang sunnat
( Min nahiyyatil jamaah ? Dari sisi jemaah ( kismani ) 2 macam,
1. ( Ma yusonnu fihal jama'ah ) Yang di sunnatkan padanya berjamaah, sembahyang sunnat, di sunnatkan pula melaksanakannya secara berjamaah ( kal 'iydain ) seperti sembahyang hari raya, nah itu berjamaah
( Wal kusufa'in ) Sembahyang gerhana, sunnat berjamaah ( wahuwa afdholu mimma la yusonnu fihal jama'ah) ini sembahyang sunnat yang di sunnatkan berjamaah lebih afdhol dari sembahyang sunnat yang tidak di sunnatkan berjamaah
Macam tahiyyatul masjid itu tidak sunnat berjamaah, nah mana afdholnya dengan sembahyang hari raya, lebih afdhol sembahyang hari raya, Karna sembahyang hari raya di sunnatkan berjamaah, sembahyang gerhana dengan sembahyang sunnat wudhu, afdhol sembahyang gerhana karna di sunnatkan berjamaah kalau sunnat wudhu tidak,
( Ma la yusonnu fihal jama'ah) Yang tidak di sunnatkan padanya berjamaah ( karrawatibil qobliyyah wal bakdiyyah ) seperti sunnat rawatib, qobliyyah Dzuhur, qobliyyah Asar, bakdiyyah magrib, bakdiyyah isya, nah itu tidak sunnat berjamaah,
Tingkatkan sembahyang sunnat dari yang paling afdhol
( Afdholun nawafili ) Paling afdhol sembahyang sunnat,
( Al 'idani ? Dua hari raya, nah ini paling afdhol sembahyang sunnat sekali setahun, ( Al adha wal Fitri ? sembahyang hari saya Aidil Fitri dan Aidil Adha,
( Li'anna Kila bi Wujubihima ) Karna ada pendapat ulama yang mengatakan idul Fitri dan idul Adha itu wajib hukumnya, itu pendapat di luar imam Syafi'i, karna kalau imam kita Syafi'i mengatakan sunnat dan paling afdhol sembahyang sunnat
( Summal kusyufu lisshamsi ) Kemudian shalat gerhana matahari ( summal kusyufu lil qomar ) gerhana bulan
( Summal 'istisqok) Dan sembahyang minta hujan
( Summal witru) Baru sembahyang witir
( summarrawatibu qobliyyatu wal bakdiyyatu ) barulah sunnat rawatib
( Wa afdholuha ) Paling afdhol sembahyang rawatib
( Rak'atal Fajri ? Dua rakaat sunnat subuh, nah itu paling afdhol , yang ke 7, ( summat tarawehu ) baru sunnat tarawih, 8. ( Summadduha ) Sembahyang duha,
9. ( Summa baqiyyatun nawafil ) Nah baru lah shalat sunnat yang lainnya seperti sunnat tasbih, hajat, taubat, dan lainnya ( waminha, rak'atal ihram wat tawab, dua rakaat sunnat ihram, sunnat tawab, ( wa tahiyyatul masjid, wa sunnatil wudhu )
Nah apa gunanya kita mengetahui urutan tingkatan ke afdholan shalat sunnat yang demikian itu tadi, nah salah satu gunanya adalah seperti kita bernazar, aku bila sehat, bila berjaga aku hendak shalat sunnat yang paling afdhol, nah apa yang paling afdhol tadi ? Sembahyang idul Fitri atau idul Adha,
( Syarhu bakdin nawafil ? Penjelasan Sebahagian sunnat
( Al ula, sholatul witri ) Yang pertama shalat sunnat witir
( wahiya wajibatu inda Abi Hanifata ) Sembahyang witir itu adalah wajib menurut abi Hanifah, jadi kalau sembahyang sunnat harian paling afdhol sembahyang sunnat adalah witir, sesusah shalat 5 waktu paling afdhol sunnat adalah witir ( fadhluha) keutamaan sembahyang witir ( waroda fihal kasiru minal 'ahadist ) Karna telah datang pada sembahyang witir itu banyak hadist
( Minha ) Setengahnya ( innallaha witrun Yuhibbul witra )
Sesungguhnya Allah itu witir, Allah ganjil, satu, esa, dan suka akan yang ganjil, ( awtiru ya ahlal Qur'an) laksanakan lah olehmu witir wahai ahlal Qur'an, hai orang orang yang beriman kepada Alquran
( manlam yutir falaisa Minna ) Ujar nabi orang yang tidak berwitir tidak termasuk golongan kami
( Innallaha kod Amad dakum bi sholatin ) Sesungguhnya Allah menambahkan kamu dengan sembahyang
Ya itu sembahyang ( krhoirun lakum min Humrin na'ami)
Lebih baik bagi kamu daripada unta yang merah,
( Waktuha) Waktu witir, ( min fiklil isya ila tulu'il Fajri ) daripada memperbuat isya sampai terbit fajar, nah jadi orang yang belum Isa tidak sah witir, shalat isya dulu baru witir ( wal afdholu yang paling baik ? Tak khriruha? Melambatkan waktu witir itu ( ila ikhriri lail ) di akhir malam, karna sembahyang di akhir malam itu di saksikan oleh malaikat malaikat khusus
Bahwa sembahyang di akhir malam itu di saksikan oleh malaikat malaikat yang khusus yang tidak ada di awal malam, jadi yang paling baik melambatkan waktu sembahyang witir pada akhir malam
( iza kana yaqlibu Ala zonnihi ) Bilamana kuat atas sangkaannya ( Al istikazu ) bangun ( Qoblal Fajri ) sebelum fajar, nah macam ada orang kuat sangkaannya, sudah terbiasa setiap hari bangun pukul 3 pagi, nah orang yang macam ini kalau hendak shalat witir baik di lakukannya pada pukul 3 pagi,
( Wa Illa ) Namun kalau dia tidak kuat sangkaannya
Aku ni ragu apakah aku nanti bangun atau tidak, jangan jangan ketiduran, kadang kadang bangun kadang kadang tidak bangun, ( fal afdholu ? Yang baik ( takdimuha )
Mendahulukan sembahyang witir, contoh dia ni shalat isya berjamaah kemudian pulang dia, 1 jam kemudian dia pun shalat witir dan setelah itu tidur,
Jumlah rakaat shalat sunnat witir
( 'adadu rok'atiha ) Bilangan rakaat witir ( 'akalluha rok'atin ) sekurang kurangnya witir itu satu rakaat, nah niatnya ( ushollil witra rak'atan lillahi ta'ala) aku sembahyang witir satu raka'at karna Allah ta'ala,
Ataupun ushollil sunnatal witra rak'atan lillahi ta'ala)
( Wa tukrohul mudawamatu ilaiha ) Makhruh terus menerus satu rakaat, dia ni hari hari kalau shalat witir 1 rakaat aja, nah inibmakhruh ( Illa Li uzrin) kecuali uzur,
( Wa adnal Kamal, ) Sekurang kurang sempurnah adalah
( Salasu rok'atin ) 3 rakaat, macam kita ni bernazar kalau sihat nanti aku hendak melaksanakan shalat witir 3 rakaat nah ini musti 3 rakaat di kerjakan , jangan 1 rakaat
( Wa Akmalul Kamal ) Paling sempurna witir
( 'ihda asrota rok'atan ) 11 rakaat
Cara melaksanakan shalat witir
( Kaifiyatuha ) Bermula caranya sembahyang witir
( Laha kaifiyatani ) Ada 2 cara ( waslun wa faslun ) berterusan atau juga terpisah, misal niatnya seperti
( Usholli sunnatal witri salasa raka'atin lillahi ta'ala)
Aku sembahyang sunnat witir 3 rakaat, nah langsung 3
Atau ( ushollil witra) aku sembahyang witir ( salasa raka'atin lillahi ta'ala) 3 rakaat karena Allah ta'ala) 3 rakaat, nah jadi langsung saja 3 rakaat boleh
Nah kemudian yang ke dua terpisah seperti biasa, macam kita shalat tarawih, 2 rakaat di tambah dengan 1
Yang 2 rakaat itu niatnya ( usholli sunnatal witri rak'atain, musti di sebut sunnatal witri, sunnahnya jangan di tinggal, kalau hanya ushollil witra, aku sembahyang witir 2 rakaat nah ini tidak sah, jadi musti ( usholli sunnatal witri) aku sembahyang sunnat witir rak'atain, 2 rakaat
Karena Allah ta'ala, atau ( usholli mukoddimatal witri rak'atain lillahi ta'ala) aku sembahyang mukooddimah witir 2 rakaat karena Allah ta'ala
Nah jadi ada pilihannya bisa pakai niat ( usholli sunnatal witri, atau usholli mukoddimatal witri) nah ini boleh, kalau niatnya hanya, aku sembahyang witir, ini tidak sah, musti di buat mukooddimah nya atau sunnatnya, nah kitapun shalat, baru lah di akhir kita tambah penutupnya satu rakaat, apa niatnya ? ( Ushollil witra rak'atan) Atau usholli sunnatal witra rak'atan) aku sembahyang witir satu raka'at, atau aku sembahyang sunnat witir satu raka'at, nah ini boleh juga di laksanakan
Nah jadi misalnya sembahyang witir 5 rakaat, maka yang paling bagus adalah 2, 2, 1, misalnya 7, 2,2,2 dan 1
Yang pertama tadi adalah ( aswaslu ) ( ayyasila rok'atal akhri rota bima qoblaha ) bahwa dia meraih rakaat terakhir dengan sebelumnya ( kama fi sholati magrib ) seperti sembahyang magrib, aku sembahyang witir 3 rakaat, nah boleh niatnya seperti itu , atau aku sembahyang sunnat witir 3 rakaat, ( ushollil witra salasa raka'atin) 3 rakaat, macam sembahyang magrib , nah boleh, ( wayazuzu fihil iktisaru tasyahudin fil akrhiroh ) dan boleh padanya meringkas atas satu tasyahhud di akhir aja, macam shalat witir 3 rakaat, tapi tasyahhudnya di akhir rakaat aja, ( Aw tasyahhuddaini ) Atau melaksanakan 2 tasyahhud pasa 2 rakaat yang akhir nah macam shalat magrib,
Jadi kalau mengerjakan shalat sunnat witir langsung macam 7 rakaat langsung di akhirnya baru tasyahhud, nah ini yang di sukai oleh abu Hanifah, kalau yang mengerjakan shalat witir terputus, macam 2 rakaat, Bangun, 2 rakaat lagi, lanjut 2 rakaat lagi baru sisanya penutup 1 rakaat, nah itu yang di sukai oleh imamussyafi'i, jadi kalau kita ini Mazhab Syafi'i, maka kita musti mengambil yang demikian, contoh kalau kita hendak mengerjakan witir 3 rakaat, 2 rakaat, bangun baru 1 rakaat
Yang ke dua ( Al faslu ) berpisah, ( ayyafsidar rak'atal akhrirah) bahwa dia memisah rakaat akhir ( Amma qoblaha) dari sebelumnya ( wahiya afdhol) nah ini yang afdhol menurut Mazhab Syafi'i, ( lima waroda min qarohiya li Tasbihi sholatil witri bi Sholatil magrib ) karna hadist yng datang daripada makhruh menyerupai sembahyang witir dengan sembahyang magrib, jadi kalau 3 sekaligus, ada tahyat awal dan akhirnya macam shalat magrib, nah ini di makhruh nya ujar hadist yang menyerupai magrib tadi
( Wayusonnu ayyakro'a Fi sholasi rak'atil akrhiroh) dan di sunnatkan dia membaca pada 3 rakaat yang akhir, misal kita mengerjakan witir 3 rakaat maka di sunnatkan membaca surah ( fil ula ) pada rakaat yang pertama
( Suratal A'la) Sambihis ma robbikal A'la, ( wa fissaniyyah
Di rakaat kedua, ( Al qafirun) nah kemudian salam, baru rakaat yang terkahir penutup, ( fasissalisah ) di rakaat yang ke tiga, ( Al ikhlasa, wal mu'awwizata'in, kul 'auzubirobbil Falaq dan kul 'auzubirobbinnas) nah demikian sunnatnya di baca surah surahnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar