Pages

Senin, 14 April 2025

14. Pembahasan yang di bolehkan nya Mengqosor sembahyang

Bismillah 

Qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amiin), yang ke 8 syarat daripada di bolehkan nya Mengqosor sembahyang ( dawamussafari, ila tamamissholah, ay ilanihayatiha, ) berkekalan itu musafir sampai selesai sembahyang, ( ay ilanihayatiha) sampai selesai sembahyang, misal kita ni masih berada di perjalanan, akan tetapi, ( falaw aqoma fi asna'iha) jikalau dia bermukim di pertengahan sembahyang ( aw nawal iqomata) atau dia berniat mukim fiha, pada pertengahan sembahyang ( fa'alaihi itmamuha, maka wajib atasnya menyempurnakan sembahyang, Tamam, 

Umpamanya kita ni berada di dalam kapal, perjalanan balik menuju kampung kita, lalu di dalam kapal itu kita sembahyang Mengqosor Dzuhur dua rakaat, kapal ni terus aja berjalan menuju kampung, nah kitapun shalat, baru selesai satu rakaat kita kerjakan, kapal yang berjalan ni misalnya sudah sampai kepada perbatasan kampung kita, ada pengumuman bahwa telah sampai di perbatasan tempat kita tinggal, nah otomatis, yang di dalam kapal ini, kita ni, musti menyempurnakan shalat, tambah lagi 3 rakaat, tadi kan baru satu rakaat, karena bilamana sudah masuk perbatasan, sudah habis masanya musafir wajib kita menambah 3 rakaat, cukupkan jadi 4 rakaat Dzuhur, tidak boleh lagi hanya 2

Yang kedua contohnya disini adalah orang musafir hendak sembahyang qosor, begitu dia hendak sembahyang baru satu rakaat dia berniat di dalam hatinya dia hendak bermukim di tempat ini, maka wajib baginya menyempurnakan shalat Dzuhur seperti mana biasanya, 4 rakaat

Kemudian yang ke 9, syarat Mengqosor itu adalah
( Niyyatul qosri 'indal ihram) Niat Mengqosor itu ketika takbiratul ihram, nah jadi wajib membuat niatnya contoh ( usholli fardil dzhuhri rak'ataini qosron) kalau tertinggal niat qosron nya maka tidak boleh mengqosor, ( falawnasiyyaha ) jikalau dia lupa akan memasang niat qosornya ( Lazimahul itmam)  maka wajib baginya menyempurnakan sembahyang, contohnya kita ni hendak shalat qosor, begitu takbiratul ihram Allahu akbar, lupa kita niat qosor, nah wajib baginya sembahyang Tamam, 4 rakaat 

Yang ke 10, ( attaharruzu ammayunabi niyyatal qosri fi dawamissholah ) menjaga dan memelihara daripada sesuatu yang menolak, yang menafikan akan niat qosor pada selama sembahyang qosor itu ( kanniyyatil itmam) nah ini musti kita jaga, misal kita ni lagi sembahyang qosor, kalau di pertengahan sembahyang qosor itu kita hendak merubah, aku sembahyangnya Tamam aja yang sempurna, nah ini batal qosornya, maka wajib baginya melanjutkan tambahan rakaat menjadi 4, tidak boleh lagi baginya 2 rakaat

( Aw ) Atau ( syaqqa fi niatil qosor ) atau dia ragu-ragu pada niat qosor, nah ini orang sedang Mengqosor sembahyang dzuhur, sudah 1 rakaat di kerjakannya, nah di dalam hatinya, aku tadi apakah sudah berniat qosor atau belum, nah ragu-ragu, maka baginya tidak jadi mengqosor, wajib baginya sembahyang Tamam, shalat dengan sempurna 4 rakaat Dzuhur ( aw nawal iqomata asna assholah ) atau juga dia berniat bermukim di pertengahan sembahyang ( faqihadzihil halat) pada ini keadaan keadaan tadi ( Yazibu alaihil itmam) wajib baginya menyempurnakan sembahyang 4 rakaat, ( qama qola sohibu saffatizzubat, wasyarduhunniyyatu
Fil ihromi wa tarkuma khrolafa fitdawamin ) 

ke 11 ( Anla yaqtadiyya bimutimmin Fi juz'in min sholatihi ) dia tidak boleh mengikut kepada orang yang sembahyang tamam, pada satu bahagian daripada sembahyang, jadi orang yang sembahyang qosor, tidak boleh mengikut orang yang sembahyang Tamam, kalau orang yang sembahyang Tamam boleh mengikuti orang sembahyang qosor, misal ada orang sembahyang qosor, kemudian tidak ikut di belakangnya shalat, otomatis dia jadi imam, kita makmum, nah dia ini sedang shalat qosor, manakala kita ni shalat Tamam, shalat yang sempurna nah ini boleh, tapi kalau si imam ni shalat Tamam, kita ikut di belakangnya tapi kita shalat qosor nah ini tidak boleh, 

( Masa'ilu fil qosri ) Beberapa Masalah dalam sembahyang qosor ini, 
1. ( Iza syaqqal makmum fi niyyatil imam, ) apabila ragu-ragu si makmum pada niat imam, adalah niat si imam ni mengqodor atau Tamam, apakah kita mengqosor, misal kita ni tak kenal imamnya,tiba tiba ada kita lihat orang mengangkat takbir Allahu Akbar, nah kita di belakang ini ragu ragu, apakah si imamni shalat qosor juga kah, atau tidak, apakah boleh kita ikut sembahyang di belakang imam yang tidak belum tahu jelas niatnya itu apa? Nah jawabannya adalah ( yazuzu Lil makmum) boleh bagi makmum ( taqliku niyyatil qosri, ) mentaqlik niat qosor 
( Iza 'alima ) Bilamana dia mengetahui ( annal imama ) bahwa si imam itu juga musafir,

Nah taqliknya seperti apa? ( Usholli farda dzhuhri rak'ataini qosron in qosorol imam, wa arba'a raka'atin in 'atammal imam ) artinya aku ini hendak sembahyang qosor jika Mengqosor juga imam, dan aku berniat sembahyang 4 rakaat sembahyang dzuhur, jika imam juga demikian, nah boleh kita berniat seperti itu dalam keadaan ini, asalkan Kita tahu bahwa si imam ni juga seorsng musafir, cuman kita ni tak tahu kalau niat imam ni apakah qosor atau Tamam, shalat yang sempurna 

( Wa amma iza syaqqa fi safaril imam ) Adapun bilamana dia ragu ragu dengan Musafirnya imam, ( falayazuzzu taqlikun niyyat) tidak boleh baginya mentaqlik niat seperti yang demikian tadi, ( wayazibu alaihil itmam) Dan wajib baginya sembahyang Tamam dengan sempurna, contohnya kita ni hendak sembahyang di dalam perjalanan cuman kita ni ragu-ragu apakah imam kita ni orang yang musafir atau tidak, nah bilamana di hati kita ni ada ragu ragu maka tidak boleh kita ikut sembahyang qosor mengikuti imam 
Lain halnya yang tadi, kalau tadi kita yakin bahwa imam ni orangnya musafir juga, cuman kita tidak tahu apakah imam ni shalat qosor atau sholat Tamam, nah ini kita boleh bertaqlik dengan imam, itu lah bedanya 

Kemudian yang ke 2 adalah ( malhalatullati yanqothi'u
indahassafar, ) apakah keadaan keadaan yang terputus di sisi itu oleh keadaan musafir, ( yanqothi'ussafar) terputus oleh musaffir ( bi halata'in) pada dua keadaan 
( indahuma) Pada sisi dua keadaan itu ( layazuzul qosru) tidak boleh mengqosor) 

1. ( Niyyaturrujuk) Niat kembali, ( min maqisin) daripada orang berhenti ( mustaqillin ) yang mengambil keputusan Sendiri ( ila watho'nihi) ke negerinya ( wakot baqiyya) dan sungguh tersisa ( 'aqollu min marhata'in) kurang daripada dua marhalah ( ila mathonihi) kepada negerinya, kepada kampungnya, kita ni rencananya hendak pergi ke kota, dari rumah sudah merencanakan seperti itu, nah begitu sampai di pertengahan jalan, kita ni hendak balik lagi ke rumah, tak jadi pergi ke kota, nah pada saat itu tidak boleh lagi bagi kita hendak mengqosor, Karna sudah putus dari jarak mengqosor 

2. ( Niyyatul iqomah) Niat bermalam ( fi baladin) pada suatu tempat atau negeri ( arba'ata ayyamin) selama 4 hari, ( fa'aksara ) atau lebih, nah kita ni hendak ke Surabaya umpamanya, berangkat lah kita daripada rumah, begitu lewat batas kota sudah boleh kita qosor, jamak, terus kita melanjutkan perjalanan, maka boleh bagi kita hendak mengqosor shalat, begitu sampai kita di Surabaya, lalu kita pun berniat, aku di Surabaya ini hendak bermukim selama seminggu umpamanya, atau aku hendak 4 hari, nah mulai dari niat kita itu bermukim, maka kita pun tidak boleh lagi mengqosor sembahyang, tidak boleh lagi menjamak, Karna apa? Karna sudah ada niat hendak bermukim lebih dari 4 hari, maka shalatnya seperti biasa 
Kalau hanya tujuannya ini cuman niatnya hanya bermalam 3 hari 3 malam saja, maka masih boleh andaikata dia hendak shalat qosor, masih boleh, Karna belum lebih daripada 4 hari 

3. ( Iza aqoma fi maudi'in) Bilamana dia bermukim di suatu tempat ( Li qodo'i hajatin ) untuk menunaikan hajatnya, ( yatawaqqo'u qodo'aha) yang dia harapkan tunai itu hajatnya ( fi aqolli min arba'ati ayyamin ) kurang daripada 4 hari, ( fata'akrh krhorot maka tertunda, ) fayazuzu lahu tarokhrrus) boleh baginya mendapatkan keringanan ( illa samaniyyata asar yauman) sampai 18 hari, nah macam kita hendak ke Surabaya tadi, rencananya berapa hari kita hendak kesana misal 3 hari,
Dan dia berharap hajatnya Tunai, misal dia hendak pergi berobat di rumah sakit Surabaya, nah ujar doktor dalam 3 hari akan beres urusan, nah dia di dalam 3 hari itu boleh mengqosor, sekalinya udah 3 hari belum selesai juga urusan berobatnya, sampai lah 5 hari, belum juga selesai, sampai lah 18 hari ini orang mendapatkan keringanan boleh Mengqosor sembahyang, kalaupun dia hendak shalat sempurna silahkan, namun untuk masalah ini mendapat keringanan yang demikian itu 

Yang ke 4 ( hukmul qosri fi solatil maqdiyyah ) 
Hukum qosor pada sembahyang qodo'an ( yazuzu qosru sholatil fa'itah) Boleh mengqosor sembahyang qodo'an 
( iza fatathu) Bilamana dia luput sembahyang qodo'an itu akan dia ( wahuwa musafirun) dan dia ini seorsng musafir ( wa'aroda ayyaqdiyaha) Dan dia hendak mengqodhonya, maka itu boleh, misalnya beberapa minggu laku dia musafir, ada beberapa waktu shalat dia tertinggal, nah belum di qodo'nya, maka boleh dia mengqodo shalatnya, Karna yang di qodo'nya itu adalah qosor juga Karna dia ni pada waktu itu seorsng musafir

Nah ada lagi, macam kita ni pada waktu dalam perjalanan, banyak luput, tidak sembahyang, nah sudah sampai ke rumah, kita pun hendak mengqodhonya sembahyang yang tertinggal itu, maka mengqodhonya musti Tamam, musti sempurna raka'atnya, tidak boleh qosor, kenapa? Walaupun yang kita qodo ini sembahyang yang qodor, dalam keadaan musafir, tapi karena kita ni sekarang sudah berada di kampung kita maka musti mengerjakan qodo'an itu dengan sempurna 

Yang ke 5 ( iza syaqqa fissholah ) ragu ragu dalam sembahyang adakah luput akan dia pada perjalanan atau pada waktu hador, maka tidak boleh baginya mengqosor, misalnya kita ni sudah sampai di kampung, kemudian hati kita ni ragu ragu, aku ada sembahyang magrib tertinggal, cuman ketinggalannya apakah aku masih di perjalanan atau sudah sampai di kampung, maka yang demikian itu tidak boleh mengqosor, tetap di kerjakan dengan shalat Tamam,

Yang ke 6 ( iza kana limaksidihi tariqoni)Bila adalah bagi tujuannya itu dua jalan ( thowilun wa kasir) jauh ataupun dekat , panjang dan pendek, ( wasolakottowil) dan dia mengambil jalan yang jauh, ( fahalyazuzu lahu qosrussholah) adalah boleh baginya mengqosor sembahyang ( fihi Amla) atau tidak boleh, nah kita ni hendak pergi berangkat ke kota, nah ada dua jalan hendak ke sana, ada jalan yang elok, ada jalan yang rusak, ada jalan yang jauh ada jalan yang dekat, nah kalau jalan yang dekat ni cuman 60kilo mitrin, maka belum bisa kita qosor, tapi kalau kita mengambil jalan yang jauh, otomatis sudah lebih daripada 82 kilo mitrin, maka bolehkah baginya mengqosor sembahyang ( fahalyazuzu lahu qosrussholah,

Maka jawabannya adalah ( insahalaka haza Toriq) jika dia menjalani ini jalan ( Li gorodhin shohih) karena ada tujuan yang shohih, tujuan yang baik, ( kasuhulatittoriq) seperti mudahnya jalan, ( awli amli Toriq) atau keamanannya pada jalan ( fayazuzu lahu qosrussholah fihi) maka boleh baginya mengqosor shalat, misalnya aku mengambil jalan yang jauh aja karena nyaman jalan nya tidak ada lubang, jalannya aman, kalau yang satunya memang dekat cuman jalannya rusak, berlobang, dan tidak aman, jadi akupun mengambil jalan yang jauh, karena ada tujuan yang demikian maka boleh baginya mengqosor sembahyang 

Tapi kalau tujuannya hendak mengambil jalan yang jauh itu hanya untuk biar bisa boleh Mengqosor sholat Karna sudah melebihi jarak qodor, lebih dari 82kilo mitrin,nah ini yang tidak boleh, ( falayazuzzu lahu qosru) 

Yang ke 7, ( iza nawal qosro wa'arodal itmam, asna'a sholatihi duna hazah, falayazuzzu lahu Zalik) bila
Bila dia berniat qosor kemudian hendak beralih ke sembahyang Tamam, tidak ada hajat apa apa, maka boleh baginya demikian itu, misal kita ni sembahyang qosor ( usholli fardhal asri rak'ataini qosron lillahi ta'ala) nah kitapun sembahyang, begitu sampai rakaat kedua, rasanya nyaman aja, ku ganti aja lah sembahyang Tamam dengan sempurna 4 rakaat asar, nah ini boleh baginya yang demimian itu di rubah 

Yang ke 8, ( iza safaral afdu, ma'a Sayyid wa zawzatu, )
Bilamana musafir seorang pembantu bersama dengan tuannya, musafir seorsng isteri bersama dengan suaminya, nah pembantu ini tidak tahu kemana tujuan tuannya, seorang istri ini tidak tahu tujuan kemana suaminya, ujar suaminya ayo kita berangkat, kemana belum tahu, nah seorang pembantu ini, seorang istri ini tidak boleh baginya mengoqsor sembahyang dalam perjalanan kecuali sudah lewat daripada dua marhalah sekitar 82 kilo mitrin tadi, sama halnya seperti orang menjadi sesuatu yang hilang, hendak kemana, jawabannya aku hendak mencari cari ada yang hilang, nth lah kemana tujuannya, yang penting intinya sampai dapat, kemanapun itu akan ku cari, nah orang yang seperti ini tidak boleh baginya mengqosor, kecuali lebih daripada 2 marhalah perjalanannya, baru boleh 

Alhamdulillah
 




Tidak ada komentar:

More Article about this Blog