Bismillah
( Qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin, babu sholatil qhusufaini) bermula ini pembahasan tentang sembahyang gerhana, ( awil khrusufain, lissyamsi Wal qomar, gerhana matahari dan bulan, ( Wal afshoh, yang lebih fasih ( ay yuqol) bahwa di katakan, ( Al qhusufu lissyamsi Wal khrusufu lil qomar
Al aslu fiha ) bermula dalil tentang ini sembahyang gerhana ( qawluhu ta'ala, ) pada surah Al fusilat ayat 37
Jangan kamu sujud bagi matahari dan bulan, sujudlah kamu bagi Allah yang menciptakan bulan dan matahari itu, ( ingkuntum Iyyahu takbudun) jika kamu bener benar menyembah hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Nah jadi itu dalil di perintahkannya sembahyang gerhana ( wa krobaru ) dan hadist pula menyampaikan
( Innassyamsa Wal qomara, ayatani min ayatillah ) sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah,
( layangkasifaaani limauti 'ahadin wala Li hayatihi ) tidak terjadi itu gerhana matahari atau bulan, Karna kematiannya seseorang atau hidupnya seseorang, anak Baginda Rasulullah wafat, lalu terjadi gerhana lalu orang orang ramai mengatakan oh ini tanda gerhana menunjukkan anak Rasulullah wafat, matahari ikut juga bersedih, kata mereka,
ujar nabi kita ( layangkasifaaani
Limauti 'ahadin wala Li hayatihi) itu terjadinya gerhana matahari bukan karena kematian seseorang dan bukan pula tanda hidupnya seseorang, tapi itu adalah tanda ayat ayat Allah subhanahu wa ta'ala ( fa'izal 'aitum zalik)
bilamana kamu melihat gerhana ( fasollu) maka sembahyanglah, ( wad'uu) berdoalah kamu kepada Allah ( Hatta yangkasifama bikum ) sehingga nampak sesuatu itu bagi kamu
( Hukmuha ) Hukumnya sembahyang gerhana matahari atau bulan itu ( sunnatun mu'akkadatun) sunnat mu'akkad ( Walaaww milumfaridin ) sekalian shalatnya sendirian, ( watushonnu jama'atan ) dan sunnat juga hukumnya berjamaah ( wafil masjid) di masjid di laksanakan, nah ini lebih baik lagi
( Al hikmatu fiha) bermula itu rahasia pada shalat gerhana ( tambihu 'ukbadissyamsi wal qomar, ala annahuma Musyakhrr khroroni, mujallalani, ) nah kenapa kita di suruh untuk melaksanakan sembahyang gerhana, apa rahasianya? Memperlihatkan, menjagakan kepada itu penyembah penyembah matahari dan bulan, bahwa itu matahari dan bulan tunduk dan patuh pada perintah Allah subhanahu wa ta'ala
( walaaw Kana ilahaini ) andaikata matahari dan bulan itu adalah tuhan ( ladafa'an, naksa'an, nafsihima ) niscaya dia bisa menolak kekurangan pada dirinya
( Walam yunha nuruhuma) Dan tidak di hilangkan, tidak di kurang kan, di hapus cahayanya, contohnya, macam matahari yang begitu terang begitu datang gerhana, hilang cahayanya, redup, berkurang cahayanya, nah ini menunjukkan bahwa matahari itu tidak punya daya upaya untuk menghindari dirinya daripada terjadinya itu gerhana,
( Waktuha ) Bermula waktunya sembahyang gerhana itu
( Yadkrhulu fihima) Masuk pada gerhana matahari dan bulan, ( bibtida'i taghoyyur ) dengan permulaan perubahan, misalnya matahari, nah ada tanda dan perubahannya kalau sudah masuk, walaupun sedikit ada tandanya, nah jadi sejak mulai masuk itu tanda gerhana maka itu sudah di sunnatkan sembahyang gerhana ( wayakrh ruzu fil kusuf ) dan keluar waktunya pada itu sembahyang gerhana, ( bil injila) dengan sebab terbuka, misalnya kalau sudah terjadi itu gerhana, kemudian beberapa waktu kedepan sudah hilang itu tanda gerhananya, maka habislah waktu sembahyang
( Wabil ghurubissyamsi kasifatan) dan dengsn tenggelamnya matahari, kasifatan, dengan keadaan itu gerhana, umpamanya terjadinya itu gerhana jam 5 sore, gerhananya belum habis tapi mataharinya sudah tenggelam nah habis juga waktunya
( wafil khrusuf ) Dan pada gerhana bulan, ( bil injila) dengan terbuka, misalnya terjadi gerhana bulan, sedikit harapan tsudah terlihat tandanya, maka sembahyanglah, Karna sudah di sunnatkan, terus itu gerhana, dan akhirnya hilang dan bulan pun kembali seperti biasanya, maka sudah habislah waktu sembahyang gerhana, ( wabi thulu'issyamsi ) dan dengan terbitnya matahari, jadi matahari terbit juga tanda sudah habislah waktu gerhana bulan, ( labi tulu'ilfajri) bukan dengan terbitnya fajar, ( Li Anna sultonal qomar, layafutu Illa bit tulu'issyamas,) karena kekuasaan bulan tidak luput melainkan dengan terbitnya matahari, Karna kalau sudah terbitnya matahari, bulan sudah hilang kerajaannya
( Kaifiyyatu solatiha? Tata cara sembahyang gerhana,
( Laha salasu kaifiyyatin) Ada tiga macam caranya
( Al ula, yang pertama adalah, antusolla rok'ataini kasunnatissubuh ) dia sembahyang dua rakaat seperti sunnat subuh, (min ghoiri tatwil) dengan ketiadaannya di panjangkan, misalnya itu bacaannya surah surah pendek saja jangan panjang-panjang, Nah sembahyang gerhana pun macam itu, kita lihat sudah terjadinya gerhana, bulan atau matahari, kita pun siap-siap ambil wudhu, dan sembahyang ( Usholli sunnata khrusufil qomar ) Aku sembahyang gerhana bulan, rok'atayin, dua rakaat, lillahi ta'ala) Atau ( usholli khusufassyamsi,) aku sembahyang gerhana matahari, rok'atayin, dua rakaat, sunnatan, sunnat, lillahi ta'ala,
Jadi bilamana kita sudah melaksanakan shalat sunnat gernaha maka kita sudah lepas daripada tuntutan Allah subhanahu wa ta'ala, karena Allah menyuruh kita, menuntut kita sembahyang pada waktu gerhana itu, bila kita sudah sembahyang walaupun dengan sedikit rakaat, nah sudah gugur tuntutan itu
( Assaniyyatu ) Adapun cara yang kedua ( antusholla rok'atayin, dia sembahyang dua rakaat, ( min ghoiri tatwilin) dari ketiadaan panjang, ( bi ziadati ruku'in) dengan pertambahan rukuk, ( wa qiyamin) dan berdiri
( Fi kulli rok'atin) Pada tiap tiap rokaatnya, ( fayaqulu fi kulli rok'atin) maka adalah pada tiap tiap rakaat itu, qiyamani, dua kali berdiri, qiro'atani, dua kali qiro'ah, wa ruku'ani dan dua kali rukuk, wa tajibu qiro'atil Fatihah fi kulli qiyam, dan wajib membaca surah Al Fatihah pada tiap tiap qiyam, berdiri, nah ini cara yang nomor dua
Misalnya ( Usholli khusufassyamsi rok'atayin lillahi ta'ala
Aku sembahyang gerhana matahari sunnat kerena Allah subhanahu wa ta'ala, Allahu Akbar, dia pun membaca surah Al Fatihah, dan surah pendek misalnya kul ya ayyuhal kafirun, kemudian rukuk, dan setelah itu berdiri dari rukuk, membaca lagi Al Fatihah dan di lanjutkan dengan surah kul huwallahu Ahad, rukuk lagi kemudian iktidal, sujud, macam biasa, nah bangkit pada rakaat yang kedua membaca alfatihah dengan surah pendek, dan setelah itu rukuk, berdiri lagi, al Fatihah, dengan surah pendek, setelah itu rukuk, iktidal, sujud macam biasa, nah jadi dalam rakaat itu dua kali membaca alfatihahnya, dua kali rujuknya, dua kali membaca sirah pendeknya, ini cara yang kedua
( Assalisah) Kemudian cara yang ketiga, ( wahiyal akmal
Nah ini cara yang paling afdhol, cara yang paling sempurna, ( antusolla rok'atayin) bahwa sembahyang itu gerhana dua rakaat ( kal kayfiyyati saniyyah) seperti cara yang kedua tadi, ( walakim ma'at tatwil) tetapi dengan sertaan panjang, ( fil qiyam) pada berdiri, ( bil qiro'ah, dengan bacaannya, ( wa tatwili fi ruku'at) panjang pada rukuk ( wa sajadah) sujudnya ( bit tasbih)
nah ini yang langsung di laksanakan oleh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ( mikdaruttatwil fil qiyam) kadar panjang dan lamanya berdiri itu macam apa, ( Al qiyamul awwal min rok'atil ula suratul baqoroh,
Misal ( Usholli khusufassyamsi rok'atayin sunnatan lillahi ta'ala ) aku sembahyang sunnat gernaha matahari dua rakaat karena Allah subhanahu wa ta'ala, Allahu Akbar, membaca surah Al Fatihah, setelah itu membaca surah Al Baqarah, nah panjang lebih dua juz surah Al Baqarah itu,
misalnya kita ini tidak hafal surah Al Baqarah, maka boleh aja membaca surah yang lain, yang sama panjangnya sekurang kurangnya mendekati daripada surah Al Baqarah, dan kemudian ( Al qiyamussani) berdiri yang kedua ( minarrok'atil ula) suratul Ali imran
setelah selesai tadi membaca surah Al Baqarah kita pun rukuk, setelah itu bangun semula membaca surah Al fatihah dan di lanjutkan lagi dengan surah Ali Imran atau sekurang kurang surah lain yang sama dengannya,
dan yang ketiga ( Al qiyamul awwal ) berdiri yang pertama ( minarrok'atissaniyah) daripada rakaat yang kedua,( surahtunnisa dan yang sama dengannya,) dan yang yang ke empat ( al qiyamussani ) berdiri yang kedua ( minarrok'atissaniyah ) daripada rakaat yang kedua suratul ma'idah, atau yang sekurang-kurangnya sama dengannya, nah itu hanya berdirinya saja
Dan kadar panjang pada rukuk dan sujud pula ( arruku'u awwal) pada rukuk yang pertama ( minarrok'atil ula) daripada rakaat yang pertama, ( bi qodri mi'ati ayah) dengan kadar sekurang-kurangnya 100 ayat daripada surah Al Baqarah, jadi kita membaca bacaan rukuk itu subaha robbiyal adzimi wabihamdi, subaha robbiyal adzimi wabihamdi, subaha robbiyal adzimi wabihamdi,
kadarnya itu sekurang-kurangnya mebaca 100 ayat daripada surah Al Baqarah, ( arruku'ussani ) manakala rukuk yang kedua ( minarrok'atil ula) daripada rokaat yang pertama, ( bi qodri samanin ayah) dengan kadar 80 ayat ( minassurotil baqoroh) daripada surah Al Baqarah,
Manakala rukuk yang pertama pada rokaat kedua
( Bi qodri sab'ina ayah Minha) Dengan kadar 70 ayat daripada Baqarah, dan rukuk yang kedua daripada rakaat yang kedua adalah ( bi qodri khromsin ayatan Minha) rukun yang terakhir itu dengan kadar sekurang-kurangnya membaca 50 ayat ( minassurotil baqoroh)
subaha robbiyal adzimi wabihamdi, subaha robbiyal adzimi wabihamdi, subaha robbiyal adzimi wabihamdi, nah itu kadar lamanya seperti kita ini membaca 50 ayat daripada surah Al Baqarah, nah sujudnya pun seperti itu juga, demikian lah cara sembahyang gerhana yang sempurna, kita pun di berikan pilihan mana yang kita mampu melakukannya itu yang kita kerjakan,
( Masa'ilu fil kusufa'in ) Masalah - masalah pada gerhana ini, maka sunnat mandi baginya ( la tajayyun) tidak berhias, ( yushonnu Zahru ) sunnat bernyaring
( Fi khrusufil qomar, pada gerhana bulan) Wal isroru? dan pelan pada gerhana matahari, jadi membaca surah membaca Al Fatihah kalau gerhana bulan nyaring bacanya, tapi kalau gerhana matahari, pelan aja kyk shalat dzuhur, ( yushonnu ayyakrh tubal imam ) sunnat bahwa mengkhrutbah oleh imam, ( krhutbatayni) dengan dua kali khrutbah, ( bakdassholah ) sesudah sembahyang, dengan memerintahkan, mengingatkan jamaah agar berbuat baik ( min taubatin, wa shodaqotin, wa ghoiri Zalik, ) mengingatkan orang untuk berbuat baik, bertaubat kepada Allah, bersedekah dan perkara baik ibadah yang lainnya ( Wahiya khrutbah) itu khrutbah (Ka khrutbatil Jumu'ah)
seperti khrutbah jumu'at, fil Arkan, pada rukun
( la fissyurut namun tidak pada syaratnya )
( ijaza tama'at sholawatun ) Bilamana terhimpun sembahyang ( fardun, wajanazatun, wa 'iy dun, kusufun)
nah pas waktunya, sembahyang fardhu ada, sembahyang jenazah ada, sembahyang 'id ada, dan sembahyang gerhana pun ada, misalnya, pada 30 ramadan, belum ada berita hari raya maka kita semua pun puasa, begitu sampai jam 12 baru ada kabar hari ini hari raya, maka kita pun berbuka puasa, nah ini waktu pun sudah dzuhur, kebetulan pada hari itu terjadinya gerhana matahari, dan pula ada orang meninggal dunia, ada shalat jenazah, nah yang mana yang di dahulukan dalam masalah ini, ? maka yang di dahulukan adalah
( Wa inittasa'al waktu ) Jika ini waktu masih luas
( Kuddimatil janazah? Maka dahulukan jenazah, ( summal kusuf kemudian gerhana, summal fardul Aini, dan shalat fardhu, adapun kalau waktunya bersamaan antara fardhu dan jenazah, maka dahulukan fardhu jika waktunya luas
Yang ke lima ( iniztama'al kusufun wa jumu'atun ) jika terhimpun antara gerhana matahari dan juga shalat Jumu'at, ( fayusollil kusufa awwalan) maka sembahyang kusuf dia pertama ( shumma yarkhtubu ) kemudian dia berkhutbah ( bi niyyati krhutbatil Jum'at) dengan niat khutbah jumu'at, ( Summa yushollil Jum'at) kemudian dia shalat Jumu'at, misal pas kebetulan orang azan dan terjadi pula gerhana matahari, maka kita pun sembahyang sunnat gerhana, setelah selesai itu baru kita mulai khrutbah jumu'at seperti biasa dan shalat Jum'at
Yang ke 6 ( tusonnu Sholah) di sunnatkan sembahyang
( Munfaridan ) Seorangan sahaja, ( Inda huduji jalazil ) ketika terjadinya gempa, umpamanya gempa ni sudah mulai, sudah terasa bergoyang rumah, maka sunnat kita sembahyang dua rakaat, ( dan lagi wasawa'ika) ketika terjadi petir petir, nah ini pun sunnat juga sembahyang dua rakaat, dan lagi ( warihin syadidah) ketika terjadinya angin kencang, sunnat kita sembahyang dua rakaat, munfaridan ) Seorangan saja tak perlu berjamaah
Alhamdulillah ya Allah,
Mudahan bisa di lanjutkan lagi pembahasan ini kitab sampai selesai, insyaallah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar