Bismillahi walhamdulillah
puji syukur selalu kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wata'ala, dimana dengan Taufiq dan hidayah Allah lah kita bisa menuliskan kembali tentang ilmu Allah, shalawat dan salam tas junjungan kita Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan seluruh keluarga para sahabat dan jurriyyat dan pengikut beliau hingga Yaumil kiamat
40. Al muqit
( Al mutammimu Lil arba'in min asmailla Al Husna, Al Muqit) yang ke 40 dari Asmaul Husna Al Muqit, Al hafizul Muqit, ( almukitu huwa khroliqul aqwat, wamusiluha illal Abdan) muqit itu artinya yang menciptakan qut, qut itu bahasa kitanya makanan pokok yang di butuhkan untuk kehidupan manusia, jadi makanan pokok kita itu apa? yang dengan makanan itu kita ini bisa hidup, di dalam bahasa arab Qut, nah Allah yang menciptakan qut itu di sebut dengan Al Muqit, Allah subhanahu wata'ala di antara namanya adalah Al Muqit, yang menciptakan makanan pokok manusia atau yang lainnya untuk manusia yang dengan manakan itu bisa hidup, dan dia jugalah yang menyampaikannya ke dalam tubuh manusia
Sehingga Al Muqit ini lebih khusus daripada Ar Razzaq, kalau Ar Razzaq itu umum, Allah yang memberikan rezeki termasuk pakaian, termasuk perhiasan, termasuk kepada manakan makanan yang tidak pokok, nah itu ar Razzaq, kalau Al Muqit, nah ini Allah yang menciptakan makanan yang sifatnya pokok bagi manusia dan dengan makanan pokok itu manusia bisa hidup, dan Allah juga yang menyampaikan itu kepada manusia dan sampailah ke dalam tubuh manusia itu
Allah menciptakan manakan pokok kita dan Allah jugalah yang menyampaikan ke dalam tubuh kita, dalam hal menyampaikan makanan pokok itu ke dalam tubuh manusia ada dengan cara yang ladzim, yang biasa ada pula dengan cara ghoirulladzim, yang luar biasa, nah di waktu kita mencari makan, misalnya makanan pokok kita ini nasi, di waktu kita memasak nasi, masak, menyuap nasi ke mulut, nah itu hakikatnya yang berperan di situ adalah Al muqit, kita yang waktu itu memasak nasi, menyuap nasi, itu merupakan mazhor, daripada nama Allah Al Muqit, itulah Allah menyampaikan makanan ke dalam tubuh kita dengan cara yang ladzim, Allah gerakkan manusia untuk mencari makanan itu, Allah gerakkan hati manusia untuk memasaknya, Allah gerakkan manusia untuk menyuapnya sehinnga sampai ke dalam tubuh manusia tadi, dengan sampainya itu makanan ke dalam tubuh manusia, maka manusia pun bisa bangkit dan bisa hidup, nah itu dengan cara yang ladzim,
adapula Allah subhanahu wata'ala menyampaikan makanan itu kepada manusia dengan cara yang tidak ladzim, seperti yang Allah contohkan kepada Siti Maryam alahassalam, ibunda nabi Isa alaihissalam, nah kalau kita hendak makanan kira mencari, memasak, menghidangkan, menyuap, lalu kita bisa bertenaga, nah kalau Siti Maryam ini Allah sampaikan kepada dia makanan dengan cara yang ghoirulladzim, Siti Maryam tidak pernah mencari makanan, Siti Maryam tidak pernah memasak, setiap hari makanan datang ke tempat ibadahnya itu, di dalam Alquran di jelaskan oleh Allah subhanahu wata'ala pada surah Ali Imran ayat 37
Nabi Zakaria yang selalu menjaga diri Maryam begitu membuka kamar atau tempat ibadahnya Siti Maryam, ada makanan, padahal kamar itu di kunci dari luar, tidak akan bisa seorangpun masuk ke dalam kamar Siti Maryam itu begitupun orang yang di dalam tidak akan bisa keluar, begitu nabi Zakaria membuka pintu kamar, terkejut karena ada makanan, sudah masak, tinggal siap di makan, besok buka kamar ada lagi makanan, begitulah seterusnya, tanpa ada Siti Maryam ini mencarinya, tanpa memasaknya, makanan sudah siap,
Maka nabi Zakaria bertanya kepada Siti Maryam, darimana makanan ini, ( qolat huwa min indillah) ini dari Allah subhanahu wata'ala) nah ini cara Allah menyampaikan makanan kepada Siti Maryam dengan cara ghoirulladzim, yang luar biasa, nah itu berlaku kepada Siti Maryam, kepada ummat nabi kita shalallahu 'alaihi wasallam, banyak sekali terjadi, kepada para Aulia Allah, di antaranya kepada (zunnun Al misri) nah beliau ini bilamana masuk rumah sudah siap aja makanan, untuk di makanan, padahal rumah itu terkunci dan di dalamnya tidak ada orang, begitu dia pulang dari masjid hendak kerumah di bukanya pintu ada makanan siap di makan, itulah cara Allah memberikan rezeki kepada orang-orang yang Allah kehendaki dengan cara yang luar biasa, Kalau kita ini orang biasa, harus beli beras dulu ke pasar, bawa ke rumah, di basuh berasnya, di masak, baru bisa di makan
Nah ada lagi Allah menyampaikan makanan itu yang lebih hebat daripada yang tadi, yaitu Allah berikan kepada ashabul Kahfi, ashabul Kahfi yang tidur di dalam gua selama 309 thun, tidur selama itu tanpa ada yang tahu siapa yang memberikan mereka makan dia sehingga masih hidup, selama 309 thun kemudian di bangunkan oleh Allah dalam keadaan kuat, dalam keadaan sihat, nah disinilah Allah subhanahu wata'ala menyampaikan makanan pokok kepada mereka para ashabul Kahfi dengan cara yang luar biasa, demikian juga kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, nabi kita itu sanggup berpuasa berapa haripun, nabi sanggup, artinya tidak ada sahur, tidak ada buka puasa, masih kuat nabi kita,
nah ada sahabat hendak mencontoh puasa macam nabi buat, tidak ada sahur, tidak ada buka puasa, maka ujar nabi jangan ( innama yut'imuni wayasqini) Allah yang memberi makan aku Allah yang memberi minum aku, itu lah nama Allah Al Muqit, Allah yang menyampaikan makanan pokok kepada manusia sehingga mereka bisa hidup, bisa kuat, ada dengan cara yang ladzim, cara seperti kita ini orang biasa, dan adapun dengan cara ghoirulladzim, yang luar biasa, seperti yang terjadi kepada orang orang yang di kehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala
Seperti kisah ashabul Kahfi tadi, mereka di tiduran Allah hingga 309 tahun lamanya, begitu mereka bangun, terbangunlah kawan kawannya, tidak terasa, saling bertanya berapa lama kita ini sudah tidur, ntahlah, macam terasa sehari je, lihat di kantong ada duit, coba nanti ke pasar beli makanan untuk kita ini, ternyata duitnya sudah tidak berlaku lagi karna sudah 309 tahun lalu, nah ada riwayat yang mengatakan sampai sekarang masih di tidurkan lagi oleh Allah sampai lah nanti turunnya nabi Isa alaihissalam, mereka akan bangun kembali
Maksalmina
Tamliqrha
Martunis
Ninus
Zunuanis
Saliulis
Palestatiulis
Itulah 7 orang para ashabul Kahfi sampai sekarang di berikan makan oleh Allah subhanahu wata'ala, jadi itulah nama Allah yang bernama Al Muqit, Allah yang menciptakan makanan pokok dan Allah jugalah yang menyampaikannya ke dalam badan manusia ini
( Al mukmin bismillah Al Muqit), orang yang beriman dengan nama allah Al Muqit, nah kita sudah tahu bahwa Allah yang menciptakan makanan pokok, dan Allah yang menyampaikannya ke dalam tubuh kita, kalau kita beriman dengan nama itu dan kita sudah faham maknanya, kita di suruh untuk berakhlak sepertinya, yaitu apa? Kita di himbau, kita disuruh Allah subhanahu wata'ala, agar memberikan makan kepada hamba hamba allah, yang di sebut sebagai ( it'amutta'am)
Orang yang beriman dengan Allah, percaya kepada Allah dengan namanya Al Muqit, maka dia akan suka memberi makan orang lain, karena itu adalah bahagian daripada keimanan kita kepada Allah, Karna Allah yang menciptakan makanan, Allah yang memberi makanan itu kepada kita, menyampaikannya ke dalam tubuh kita maka kita selaku hamba Allah, beriman dengan Allah, maka kita pun di suruh untuk suka memberikan makan kepada hamba hamba Allah ( it'amutta'am)
Banyak sekali hadist2 Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan tentang kelebihan, manfaat, daripada ( it'amutta'am) di antaranya Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Minnuzibatil Maghfiroh, it'amutta'am) Ujar nabi sebahagian perkara yang bisa menghapuskan dosa kita ( it'amutta'am) memberikan makan kepada orang, karena ini lebih hebat daripada istighfar, kekuatannya dalam hal menghapus dosa dosa kita
dan lebih cepat menghapuskan dosa
Karena di kisahkan dahulu, ada orang ahli ibadah, lebih 60 tahun dia ini berkhralwat, kerjanya ibadah kepada Allah, suatu hari dia ini keluar untuk mencari makanan, dalam perjalanan mencari makanan itu, dia tergoda dengan seorang perempuan, akhirnya dia berjina dengan perempuan itu, padahal dia ini 60 tahun kerjanya ibadah saja kepada Allah, satu hari dia mencari makanan dia pun berjiza dengan seorang perempuan, nah roti yang ada di tangannya itu, dia bawa, ada orang kelaparan, di kasihkannya roti itu kepada orang yang kelaparan tadi, kenyang itu orang, nah di beritahukan nabi pada waktu itu, bahwa seorang ahli ibadah yang 60 tahun tadi itu ibadahnya habis semuanya amal ibadahnya karena dia berzina, di timbang amal ibadah 60 tahun itu sirna, habis, hangus, dengan satu perbuatan yang dia lakukan
Maka di datangkan amalnya yang hanya memberikan roti kepada ornsg yang sedang kelaparan, di masukkan dalam timbangan amal kebaikannya, maka memanglah amalnya, artinya sepotong roti yang dia berikan kepada orang yang sangat memerlukan itu dapat menghapuskan dosanya, itu sebab ujar nabi kita
( Minnuzibatil Maghfiroh it'amutta'am) Termasuk hal yang mengdatangkan ampunan Allah kepada kita adalah memberikan makan kepada orang lain
makin banyak makin bagus, walaupun itu hal yang sederhana, dan tanpa ada balasan sedikitpun kepada orang yang kita berikan makan itu
Tapi kalau kita undang ada orang datang ke rumah kita, kita suruh baca tahlil, suruh baca Alquran, dan lain sebagainya kemudian kita kasi makan, itu bukan termasuk kepada ( it'amutta'am? Sudah 1 jam orang duduk, baru kita kasi makan, itu bukan, sama sama berbuat baik namanya itu, belum murni lagi pemberian makanan itu, kalau (it'amutta'am) bagi orang makan, selesai, tanpa meminta balasan apapun daripada orang yang kita berikan makanan itu, nah pekerjaan seperti itu adalah buah keimanan kita kepada nama Allah Al Muqit dan dapat menghapuskan dosa dosa yang kita lakukan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( krhiyarukum man at'amatta'am) orang yang paling baik di antara kalian itu ujar nabi adalah orang yang suka memberikan makan kepada orang lain,
2. Dan lagi buah keimanan kita kepada nama allah Al Muqit, ( anla yakqua illa halala) bahwa dia tidak makan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya itu melainkan makanan yang halal, makanan yang di izinkan Allah subhanahu wata'ala, Karna makanan ini ada yang jelas jelas haram, ada yang jelas jelas halal, dan adapula yang di tengah-tengah, belum jelas lagi antara haram dan halalnya
Jadi makanan yang haram ini ada dua macam
1. Jelas haram barangnya, seperti bangkai, seperti daging babi, nah ini makanan haram, jelas barangnya
2. Barang itu menjadi haram karena dengan cara yang haram mendapatkannya, misal ini beras halal, daging halal, cuman cara mendapatkannya itu dengan cara yang haram, maka barang itupun tidak jadi halal, kita dapat nasi dengan cara mencuri akhirnya jadi haram, misal kita ni ada sapi, cuman cara menyembelihnya salah, maka daging sapi itu menjadi haram, nah orang yang beriman dengan nama Allah Al Muqit, maka dia tidak akan maju makan kecuali daripada makanan yang halal, makanan yang di izinkan Allah untuk di makan
Para ulama menyimpulkan dari berbagai macam dalil, apa keuntungan kita makan yang halal itu, ujar mereka, makanan yang halal itu adalah
1. ( Munawwirulqulub)
Menerangkan hati kita, orangnya menjadi cerdas, itulah makanan yang halal bisa menerangi hati seseorang
2. ( Husuluttaufiq? faidahnya memakan makanan yang halal itu juga bisa menghasilkan kegemaran untuk ibadah kepada Allah, karena tubuh badan kita ini di berikan makanan yang halal, terus di kasi yang halal, maka datang Taufiq Allah, dengan Taufiq itu segala macam ibadah bisa dengan ringan di lakukan, tidak terasa berat, Karna orang yang makan haram tidak akan bisa mendorong dirinya untuk bisa Istiqomah beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala, jadi kalau kita ini ada masalah dengan ibadah kita, kenapa ibadah kita tidak mahu rutin, kenapa ibadah kita tidak mahu Istiqomah, nah kita periksa sumber makanan itu dan usahakan semua itu halal
3. ( Husulu ijabatillah) Itulah hasil daripada makanan yang halal, ijabah dari Allah, kalau kita berdoa, doa kita di ijabah oleh Allah, karena makanan kira ini halal, Karna yang menghambat doa kita itu akibat kita ini makan makanan yang haram, atau makan subhat, nah ini yang menyebabkan doa kita terhalang
4. Taat, perbuatan ibadah dan taat kita di terima oleh Allah subhanahu wata'ala, karena tubuh kita di isi dengan barang yang halal itu
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, ujar nabi ( ya Sa'ad, atib mat'amak takum, Mustajabat dakwa) wahai Sa'ad baguskanlah makanan kamu niscaya engkau mustajab doa, kalau engkau hendak jadi orang yang mustajab doa, maka baguskanlah makanan engkau dengan makanan yang halal ( walladzi nafsun muhammadin biyadih) ujar nabi kita demi Allah, bahwa seseorang hamba yang makan sesuap makanan yang haram ke dalam tubuhnya, maka Allah tidak akan menerima ibadahnya 40 hari, nah ini kita makan makanan yang haram, sesuap 40 hari ibadah kita di tolak oleh Allah subhanahu wata'ala, itu hanya sesuap aja apalagi lebih
Di kisahkan ada seorang raja, di satu kota di negeri Iraq, nah ini kejadian di zaman dahulu, ini raja orangnya pintar, tapi imannya kurang, tapi dia tahu betul permasalahan agama, dan di kota itu terkenal, orang-orang kota itu mustajab doa, kalau ada raja yang berkuasa di situ, raja ini tidak jujur, berkhianat, begitu di doakan oleh masyarakatnya, maka mati rajanya, ada lagi raja berkuasa, orangnya tidak jujur, berkumpul masyarakat, berdoa, mati rajanya, begitulah seterusnya, maka tibalah waktunya raja yang pintar tadi ini, hendak mengakali, mencari cara orang kampung ni, masyarakat ni, ujarnya kalau ada tidak jujur, aku salah, di doahkan mereka aku nanti, bisa mati aku
Maka di selidiki oleh raja, akhirnya ketemu, ternyata orang orang, masyarakatnya ini hanya makan makakan yang halal, maka si raja ini pun mengolah pengumuman keluruhan penduduk, besok hari seluruh rakyat membawa sebiji terus, satu orang satu biji, karena aku perlu, maka masing masing orang pun datang membawa telur, lalu si raja itu besok nya memberikan pengumuman, aku sekarang bertukar pikiran, tidak perlu lagi telur, jadi penduduk silahkan ambil kembali telur telur yang sudah di kasi kan kemarin dan segera bawa pulang
Dan masyarakat pun datang untuk mengambil kembali telur itu, maka penduduk pun kembali pulang kerumahnya, dan merekapun makan masing masing itu telur, ujar di raja, penduduk ku sekarang sudah makan barang subhat semuanya, karena tidak jelas yang punya siapa, masing masing mengambil, lalu si raja ini berbuat dzolim, itu ini, dan berkumpul lah penduduk tadi untuk berdoa kepada Allah, tidak Qabul doa mereka karena makan makanan yang subhat tadi, nah ini kisah nyata, dan luar biasa pengaruh orang yang hanya makan telur subhat pun doanya tidak di dengar Allah, apalagi orang orang yang setiap hari berani makan makanan yang haram, jelas akan mengganggu ibadahnya, doanya kepada Allah
Jadi orang yang beriman kepada Allah, khusus nama Allah Al Muqit, dia akan suka memberi makan kepada orang lain, dan dia tidak akan makan kecuali makanan yang di izinkan oleh Allah subhanahu wata'ala, yaitu makanan yang halal, kalau kita ini hendak menjadikan anak kita baik, menjadikan akhlaknya baik, 40 hari petunjuk para ulama, jangan di berikan makanan kecuali makanan yang pasti halal, nah itu lah buah keimanan kita kepada Allah
Insyaallah di lain kesempatan kita bisa melanjutkan kembali dengan izin Allah, aamiin ya Allah, mudahan Allah teguhkan hatiku dalam taat dan taqwa, mudahan Allah menolong kita semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar