Pages

Jumat, 14 November 2025

41. Al Hasib, yang memperhitungkan segala macam perbuatan manusia

Bismillah 

( Al Hadi wal arba'un mim asmailla al husna, Al Hasib) yang ke 41 dari asmaul Husna, Al Hasib

41. Al Hasib

Artinya adalah yang maha memperhitungkan
( Alladzi yuhasibu 'ibadahu 'ala 'akmalihim, yuhasibu tho'i 'ina 'ala tho'atihim, wayuhasibul 'asin 'ala maksiyatihim) jadi Al hasib itu yang menghitung akan hamba hambanya atas amal perbuatan, Allah akan menghitung orang orang yang taat atas ketaatan mereka dan Allah menghitung orang orang yang maksiat itu atas kemaksiatan mereka, yang di hitung itu adalah yang sudah di kumpulkan oleh malaikat rakib dan 'atit, tentang segala macam apa yang kita kerjakan dalam sehari selama ini 

Malaikat sebelah kanan kita rakib, pencatat amal baik, tiap hari di laporkan dalam catatannya kepada Allah subhanahu wata'ala, sedangkan malaikat sebelah kiri atlit melaporkan apa apa perkara dosa dan maksiat dari hamba itu, tetapi dua malaikat ini hanya melaporkan kepada Allah yang dzohir dari amal kita, yang anggota tubuh kita, tangan, kaki, mata, dan lainnya, itu yang bisa di catat, sedangkan apa yang ada di dalam hati kita, itu hanya Allah yang mengetahuinya, di dalam hati kita tentang ikhlas, tentang Rida, tentang tawakal, nah itu amalan amalan hati malaikat tidak punya wewenang untuk mencatat itu, karena hati manusia ini hubungannya dengan Allah subhanahu wata'ala, demikian pula maksiat hati seperti sombong, ria, takabbur, ujub, dan lainnya, itu pun tidak bisa di catat oleh malaikat, Karna semuanya itu berhubungan langsung kepada Allah subhanahu wata'ala 

Jadi setelah kita wafat, kita berada di alam barzah, di alam kubur, nah berapa lama kita berada di dalam kubur ( ila yaumi yub'asun) sampai hari kita di bangkitkan kembali oleh Allah, nah kapan kita di bangkitkan? Hari kiamat, kiamat terjadi bilamana isrofil di suruh Allah meniup sangkakala, tiup sangkakala terjadilah kiabat kubro, kiamat besar yang menghancurkan alam semesta ini, nah di dalam waktu 40 tahun menurut pendapat sebahagian ulama, di tiup lagi sangkakala yang kedua, maka itulah hari di bangkitkan seluruh manusia, dan manusia hidup kembali seperti mana keadaan waktu dia mati di dunia itu, jadi macam apa kita mati di dunia macam itu lah kita di bangkitkan dari kubur kita, setelah bangkit dari kubur, kemudian kita akan di halau ke suatu tempat yang rata yang namanya itu ( Mahsyar) 

Nah berapa lama manusia itu berada di Padang Mahsyar, itu hanya Allah yang mengetahui dengan jelas, bukan hanya setahun, dua tahun, ribuan tahun, manusia itu di kumpulkan sejak jaman nabi Adam sampailah hari kiamat, di kumpulkan di tempat yang namanya Mahsyar tadi, di situ tidak ada minuman, disitu tidak ada makanan, disitu tidak ada naungan, disitu tidak ada pakaian, semuanya manusia ( hufatan 'urotan) telanjang dan manusia tidak punya sandal di telapak kakinya, jadi yang bisa mengenyangi kita pada saat itu, kalau kita di dalam dunia suka memberikan orang makan, yang bisa menghilangkan haus di sana itu, adalah orang orang yang semasa hidupnya dahulu suka memberikan orang lain minum, yang di beri pakaian disitu adalah orang yang di dalam dunia suka memberikan pakaian

Mangkanya ada hadist yang mengatakan 
( Man kasa lillah, kasahullah, waman at'ama lillah, at'amahullah, wamansakolillah, sakohullah) siapa di dalam dunia memberi orang pakaian karena Allah niatnya, di padang mashyar akan di berikan pakaian, ( waman at'ama) siapa yang memberi makan manusia dalam dunia ( lillah) karena Allah 
( At'amahullah) Maka di situ dia akan di berikan makanan, ( waman sakolillah) siapa yang di dalam dunia suka memberikan minum karena Allah ( sakohullah) maka di Padang Mahsyar itu akan di berikan minum oleh Allah subhanahu wata'ala 

Nah setelah pasang Mahsyar itu, proses selanjutnya manusia akan di hisab oleh Allah subhanahu wata'ala, di hisab itu artinya di perhitungkan, di panggil manusia itu satu persatu, menghadap siapa? Langsung menghadap Allah subhanahu wata'ala, di periksa amal amal kebaikannya, di periksa lagi amal amal kejahatannya, berapa banyak, di periksa apa apa yang pernah di lakukan oleh hatinya, baik itu hati dalam kebaiannya, dan hati dalam kejahatannya, semuanya akan di perhitungkan oleh Allah subhanahu wata'ala, setelah proses perhitungan ini, proses selanjutnya adalah Mizan, timbangan amal, jadi timbangan amal ini merupakan keputusan dari apa yang ada dalam perhitungan hisab seseorang manusia itu, nah hasilnya apa? 

Siapa siapa yang di berikan buku catatan amalnya menyambut dengan tangan kanan berarti ini orang menang kebaikannya, dan siapa orang yang mengambil catatan amalnya dengan tangan kiri, berarti ini orang kalah amal kebaikannya, nah itu lah proses terjadinya hari kiamat sampai manusia itu menuju ke syurga atau ke neraka Allah, 

nah jadi di hitung Allah, apa yang kita ucapkan ini, tidak akan hilang, apa yang kita lihat, tidak akan hilang, ada perhitungannya, kita ucapkan kebaikan ada pahalanya, kita lihat kejahatan maka ada dosanya, jadi jangan pernah kita anggap bahwa apa yang ku ucapkan ini, apa yang ku lihat ini bakal hilang, tidak, semuanya itu akan di perhitungkan oleh Allah subhanahu wata'ala 

Allah berfirman di dalam Al-Qur'anul Karim, pada surah an-nisa ayat 86, 


sesungguhnya Allah atas tiap tiap sesuatu ( Hasiba) menghitung, jadi bukan hanya manusia, makhluk makhluk lain pun di hitung, di dalam riwayat hadsit di sebutkan kambing yang di dalam dunia, yang punya tanduk, kemudian menunduk kambing yang satunya, nah di akhirat nanti akan di bangkit kambing yang bertanduk itu, kambing yang tidak bertanduk akan di buatkan Allah ada tanduknya, yang asalnya kambing di dunia itu bertanduk, di buatkan allah tidak ada tanduknya, jadi kambing yang menanduk di dunia itu, akan di tanduk balik oleh kambing yang di tanduknya ketika hidup di dunia

Ujar Allah wahai kambing tanduk balik itu kambing yang di dalam dunia menanduk engkau, sesudah itu, sudah terbalas ( kuni turoba) jadilah engkau Tanah ujar Allah, jadi kambing itu tidak masuk surga dan tidak masuk neraka, karena sesudah habis perhitungan hisab tanduk tadi, maka merekapun kembali menjadi tanah, nah apalagi manusia yang suka berbuat jahat kepada orang, yang suka berbuat dzolim kepada orang, memukul orang, di dalam dunia lepas daripada hukum, tapi di akhirat nanti di mahkamah Allah satu orangpun tidak akan luput daripada hukum Allah, tidak akan hilang, tetap akan di perhitungkan oleh Allah 

Jadi jangan bangga orang yang menyakiti manusia di dalam dunia, kemudian di dalam dunia dia bebas, selamat dari hukuman, jangan anggap itu selesai, karena di akhirat akan di hisab Allah, di perhitungkan kembali apa apa yang sudah di lakukannya selama hidup di dunia, 

Firman Allah subhanahu wata'ala 

Kemudian sesungguhnya kepada kamilah kembali semuanya dan atas Kamilah menghisab semuanya itu 

Jadi Allah menghitung, yang di hitung adalah amal kita, puasa kita itu di hitung? Nah di hitung dalam arti, akan di periksa puasa kita ini, apakah puasa kita ini benar atau tidak, kalau puasa kita ini benar, puasanya sah, puasanya bagus, maka akan di anggap jadi satu kebaikan, Karna tidak musti orang yang puasa itu sudah langsung di hitung kebaikan, karena puasa nya akan kembali di periksa oleh Allah subhanahu wata'ala 

Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda di dalam riwayat imam turmudzi 
( inna awwala ma yuhasabu bihil 'abdu yaumal kiyamah, min 'amalihi sholatuhu) awal yang di hitung oleh Allah subhanahu wata'ala di amal kebaikan, awal yang di periksa, Karna malaikat mencatat, ini si Fulan bin Fulan sembahyang asar, sembahyang dzuhur, magrib, isya, nah ini malaikat tugasnya hanya mencatat, perkara sembahyang itu di terima atau tidak, bagus atau tidak, itu kuasa Allah yang menentukan, malaikat tugasnya hanya mencatat aja

Amal ibadah, puasa, zakat, sedekah, sembahyang, nah awal yang di periksa oleh Allah adalah sembahyang, oh ini di buku laporan malaikat ada sembahyang, apakah sembahyang benar atau tidak, seperti apa sujudnya, seperti apa rukuknya, seperti apa bacaannya, hatinya, nah itu akan di periksa oleh Allah subhanahu wata'ala, 

( Fa'in sholahat) Jikalau sembahyang ini bagus, di periksa sembahyang bagus, syarat dan rukunnya sempurna, ( faqod aflaha wa'anjah) maka seseorang ini lulus dan selamat ( fa'in fasadad) jika sembahyang sudah rusak, tidak bagus, kurang syarat dan rukunnya, tidak beres bacaannya, maka dia akan rugi, apabila permulaan ini seorang hamba sudah tidak bagus amalnya, maka seterusnya itu tidak akan bagus lagi, karena sembahyang ini adalah ( 'imanuddin) sembahyang itu tiang agama, kalau tiang ini tulus, yang lainnya pun ikut lurus, tapi kalau tiang ini bengkok, semuanya akan bengkok, 

Macam kalau kita ini bangun rumah, kalau tiangnya aja bengkok, bangunannya, semuanya pun ikut mereng, atapnya, dindingnya mereng, itu sebabnya kalau sembahyang kita ini bagus bagi seseorang automatis ibadah yang lainnya pun akan ikut lurus, ikut bagus, nah jadi di hisab, di perhitungkan oleh Allah segala macam amal ibadah kita, sembahyang kita, puasa kita, barulah di hitung, mana yang jadi pahala, mana yang tidak jadi pahala 

( Qola bakdul ulama, berkata sebahagian ulama, ahlul Jannah tobaqotun, penghuni syurga itu beberapa tingkatan) orang yang masuk syurha itu ada beberapa tingkatannya, ( attabqotul ula) tingkatan yang pertama ( yadkhrulu nal jannah BI ghoiri hisab? Ada orang yang masuk syurga tanpa di hisab oleh Allah subhanahu wata'ala, jadi orang yang tidak di hisab ini otomatis tidak akan di timbang, karena sudah langsung tanpa hisab, begitu orang ini bangkit dari kuburnya, terus sampai kepada syurga, tidak ada rintangan, tidak ada halangan baginya, tidak adanya perhitungan dan pemeriksaan, inilah kelompok yang pertama ( yadkhrulu nal jannah BI ghoiri hisab ) 

Nah siapakah mereka itu? Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( yadkhrulu nal jannah min ummati sab'una Alfan ni ghoiri hisab ( masuk syurga daripada ummatku, 70 ribu tanpa di hisab oleh Allah subhanahu wata'ala, nah ummat nabi berapa milyar jumlahnya dari nabi Adam sampai kepada hari kiamat, sangat banyak, tapi nabi mengatakan 70 ribu dari ummatku tanpa di hisab itu, sedangkan jumlah sahabat saja pada saat nabi kita wafat menurut sebahagian riwayat 124ribu, sahabat nabi, yang masuk syurga tanpa di hisab itu ujar nabi 70ribu, artinya sahabat saja tidak cukup, 

Nah kemudian di tambah setiap orang yang 70ribu ini bisa membawa 70 orang, jadi 70×70ribu, sekitar 4 jutaan orang, nah ini masih tidak cukup, di kota aja lebih daripada 4juta penduduk, bagaimana dengan seluruh kaum muslimin, maka nabi kita pun minta lagi kepada Allah, kalau cuman 4juta, sedikit benar ummatku itu masuk syurga tanpa di hisab, maka di tambah lagi oleh Allah subhanahu wata'ala dengan ( shalasu hasayat? Dengan tiga kautan daripada kautan Allah subhanahu wata'ala, andaikata kita kaut itu, yang mengaut itu adalah Allah, tiga kautan kelompok kaum muslimin nanti di Padang Mahsyar, di kaut tiga kautan langsung di masukkan ke syurga tanpa hisab 

Nah jadi kita tidak bisa membayangkan berapa banyak daripada kautan Allah itu, pasti sangat banyak, yang di kaut Tuhan ini tentu tidak sembarang manusia, di antaranya Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda 
( iza wukifal 'ibad Lil hisab, Yunadi Munadin liyakum man 'azruhu 'alallahu falyadkhrulil Jannah, summa nada saniyyah liyakum man 'azruhu 'alallah, qolu wamanjalladzi yazruhu 'alallah? Qola 'al 'afuna 'aninnas, fakoma kaza wa kaza alfan, fadkhrolul Jannah BI ghoiri hisab akhrozahul Baihaqi) nah di Padang Mahsyar itu ada pengumuman hendaklah maju orang orang yang mempunyai pahala atas Allah, tidak ada yang maju, orang-orang di Padang Mahsyar ni, pengumuman lagi yang kedua, hendaklah maju orang orang yang punya pahala atas Allah, tidak ada yang maju jua,

Lalu bertanya siapa gerangan orang yang punya pahala atas Allah itu? Lalu malaikatpun menjawab 
'al 'afuna 'aninnas) orang orang yang suka memaafkan manusia, nah orang orang yang di dalam dunia suka memaafkan manusia lainnya 
( Fayakumun? Maka berdiri lah mereka, (kaza wa kaza Alfan) sekian ribu orang yang berdiri, 
( fadkhrolul Jannah BI ghoiri hisab) merrkapun masuk syurga tanpa di hisab oleh Allah subhanahu wata'ala, nah jadi yang 70ribu pertama itu, nabi tidak menyebut siapa orangnya, masuk syurga tanpa di hisab, lalu nabi pun menjelaskan siapa yang 70ribu itu orang-orang nya 

70 ribu orang yang masuk syurga tanpa di hisab itu ujar nabi ( humulladzina la yastarkun Walayaktawun, walayatathoiyyarun, wa'ala robbihim yatawakkalun rowahuk Bukhori ) nah yang70 ribu ini yang masuk syurga tanpa hisab bukan para sahabat, bukan tabi'in, bukan tabi'it tabi'in, yang 70 ribu masuk syurga tanpa di hisab tanpa di periksa itu orang-orang yang dalam dunia kalau dia sakit dia tidak minta tawar kepada orang, kalau di tawar tidak apa-apa ( ya yastarkun) dia tidak minta tawar, 
Aku misalnya tawarkan lah kepalaku sakit, tidak mahu dia seperti itu, tawarkan lah, bacakanlah ini pinggangku sakit, tidak mahu dia, ( Walayaktawun 
Dan dia tidak mahu menggunakan siyar, 

( Walayatathoiyyarun) Dan dia tidak mahu bertiyaroh dalam pekerjaan mereka, tiyaroh itu apa? Orang orang yang hendak melakukan sesuatu kebaikan, sesuatu yang tidak maksiat, menunggu hari baik, oh misal hari ini jangan musafir, Karna hari ini tidak bagus, nah dia tidak mahu menggunakan itu, macam ada orang hendak menikah, oh jangan di bulan ini, karena di bulan ini tidak bagus, bulan yang lain saja, nah dia tidak mau menggunakan teori-teori tiyaroh tadi, hendak berdagang misalnya, buka aja, bismillah, tawakal kepada Allah, jangan hendak menggunakan teori oh hari ini tidak baik, jangan buka, oh bulan ini tidak baik jangan buka, kalau hendak berdagang silahkan saja, bismillah tawakal kepada Allah 

( Wa'ala robbihim yatawakkalun) dan mereka sepenuhnya bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala, tak de istilah hari baik lah, intinya aku hendak berdagang, bismillah, tawakal kepada Allah subhanahu wata'ala, nah orang orang yang 70ribu pertama yang masuk syurga tanpa di hisab itu, adalah orang orang yang seperti ini di dalam dunia, kalau dia sedang sakit tidak mahu minta-minta tawarkan, tolong lah bacakan aku ini, biar ini, tidak, kalau dia sakit tidak mau bersiyar, kalau dia hendak berbuat sesuatu pekerjaan, tidak menunggu tiyaroh, jadi tiyaroh itu di ambil daripada asal kata burung, 

Karna orang jahiliah itu setuju menggunakan burung, baik apa tidak kalau hari ini aku musafir, maka di ambilnya buruh, bilamana di lepaskannya itu burung, terbangnya ke kanan berarti baik, tapi kalau terbangnya ke kiri, berarti tidak baik, jadi kalau burungtu terbang ke kanan, langsung dia ini hendak musafir, itu orang jahiliah, itu pengertiannya secara khusus, tapi kalau secara umum artinya orang yang selalu menggantungkan nasibnya dengan keadaan keadaan, tidak bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala

2. kemudian yang kedua, golongan yang masuk syurga tanpa hisab itu adalah ( mayyuhasabu hisabayyasiro, falyadkhrulil Jannah bi su'in wala 'azab) nah ini gelombang yang kedua, Karna tidak sebelumnya sudah kita bahas tentang gelombang yang pertam masuk ke dalam syurga tanpa hisab, begitu gelombang pertama tapi semuanya sudah habis masuk ke dalam syurga, maka masuklah gelombang yang kedua, gelombang yang kedua ini, di hisab, di periksa, tapi periksanya dengan periksa yang mudah, ( yasiro ) dengan perhitungan yang sedikit, perhitungan yang mudah, macam kalau kita pergi kesuatu tempat ada penjaganya disitu, kita ni membawa tas, begitu sampai di petugas, di suruhnya buka tas kita, dan setelah itu di suruhnya kita lewat, buka tas, lewat, buka tas lewat, 

Nah siapa mereka mereka itu yang di hisab, dengan perhitungan yang mudah? Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( ayyuhannas, absussalam, wa'at'imutta'am, wasilul 'arham, wasollu billayli wannasu niyam tadkhrulul Jannah bi salam) ujar nabi kita wahai manusia tebarkan salam, sering sering lah kamu memberi makan kepada orang lain, ada orang, beri makan, tanpa ada permintaan apapun daripada yang kita beri itu, beri aja makan, suka hatinya, senang hatinya memberi orang makan, dan setuju berbuat baik kepada keluarga, dan dia senang untuk sholat tahajud pada malam hari

Mereka ini akan masuk syurga (Bi salamin ) dengan perhitungan yang mudah, nah ini ada orang Islam, dan dia suka melakukan perkara-perkara yang demikian tadi, senang hatinya, suka memberi salam kepada orang, suka memberikan makan kepada orang, suka berbuat baik kepada keluarga, suka sembahyang Qiyamullail, orang yang seperti nanti di akhirat akan di hisab dengan perhitungan yang mudah, 

dan lagi yang kedua yang di hisab dengan mudah ini adalah orang yang di dalam dunia sudah menghisab dirinya sendiri, nah ini pun di akhirat akan di hisab dengan hisab dengan mudah, artinya dia ini sudah menghitung dirinya sendiri, oh hari inu aku ada salah aku minta maaf, aku hendak taubat kepada Allah, pagi tadi aku ada buat salah, siang tadi, malam tadi, di perhitungkannya segala macam apa sahaja perkara dosa dan maksiat yang dia lakukan kemudian dia bersungguh hendak taubat kepada Allah, nah ini orang sedang menghisab dirinya sendiri nanti di akhirat akan mendapatkan hisab yang mudah 

Dan kemudian ( 'attabqotusshalisah? golongan yang ketiga di antara kaum muslimin ( mayyunaqosul hisab) orang yang di teliti hisabnya, misalnya ibarat barang itu seperti tas kita ini di buka petugas, di periksa satu persatu, ini ada baju, baju siapa, beli dimana ini baju, di dalam tas ini ada kopiah, dapat dimana, pake uang apa belinya, satu persatu di periksa dengan secara detail dan menyeluruh, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( mannuqisol hisab 'utjiza) siapapun yang kalau di teliti hisabnya, pasti dia ini akan masuk neraka, siapapun ujar nabi, kalau manusia di teliti Allah, di periksa Allah hisabnya satu persatu pasti akan masuk neraka 

Di periksa matanya, kemana di gunakannya, tahun sekian detik sekian, jam sedikian, hari ini, satu persatu di teliti, sembahyang satu persatu di teliti Allah, wudhunya, rukuknya, sujudnya, bacaannya, semuanya manusia tidak akan selamat, Karna yang memeriksa ini adalah Allah subhanahu wata'ala yang maha tahu tentang apapun itu, jadi kelompok yang ketiga ini akan di teliti Allah hisabnya, berhubung di teliti ( 'utjiba) dia di azab, di masukkan ke dalam api neraka, tapi karena dia ini 
( Muwahhidun) Orang yang bertauhid kepada Allah, di dalam neraka sekian waktu setelah itu Allah masukkan dia ke syurga, 

Nah siapa mereka mereka yang ke tiga ini, orang yang di dalam dunia tidak pernah menghitung, menghisab dirinya sendiri, bila orang ini di dalam dunia tidak mahu menghisab dirinya, nanti di akhirat Allah sendiri yang menghitung, nah ini yang jadi sulit, jadi orang ni hari demi hari berlalu, Minggu demi minggu berlalu, bulan, tahun ke tahun, tidak pernah sama sekali menghisab dirinya, adakah hari ini aku berbuat taat, apa jangan-jangan aku melalukan dosa dan maksiat, adakah kejahatan yang kulakukan, nah tidak pernah sama sekali dia melihat dirinya sendiri, akhirnya Allah yang menghisab di akhirat maka jadi sulitlah urusannya 

( Al mukmin bismillahil hasib,) Orang yang beriman dengan nama Allah Al Hasib, kita percaya Allah itu maha menghitung, Allah itu maha memeriksa, nah sudah percaya betul kita itu, kalau kita benar-benar percaya bahwa Allah itu akan menghitung seluruh amal perbuatan kita, ( ayyakrhofa munakasyatal hisab) dia pasti takut kalau Allah itu meneliti hisab, meneliti pemeriksaannya nanti, jadi kalau kita sudah tahu bahwa Allah itu punya nama Al Hasib, sudah percaya kita, sudah beriman kita, maka kita akan takut, kalau kalau Allah akan memerisak aku dengan pemeriksaan yang teliti itu, mangkanya kita di suruh berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala 
( Allahumma hasibni hisabayyasiro ) Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah

2. Kalau sudah beriman kepada nama Allah Al Hasib, ( wa'ayyubadila ila muhasabati nafsihi piddun ya) dia segera menghitung dirinya sendiri di dalam dunia ini, karena ujar sayyidina Umar mengatakan bahwa ( hasibu amfusakum qobla'an tuhasabu) hisab diri kamu sebelum kalian nanti di hisab oleh Allah subhanahu wata'ala, periksa diri kamu, imam Al-qurtubi, di dalam kitabnya attazkiroh? Mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menghisab diri itu, supaya kita di akhirat nanti tidak sulit lagi hisabnya, 

ujar imam ( wahisabunnafsih, ayyatuba ilallah ta'ala ankulli maksiatin) orang yang menghisab diri itu, dia itu taubat kepada Allah dari segala macam dosa dan kemaksiatan, mengkanya hisab ini ada orang buat tiap hari, supaya tidak terlalu banyak menghitungnya, ada orang yang setiap sembahyang menghisab dirinya, hikmah nabi daud alaihissalam, coba dalam sehari semalam itu adakan waktu menghisab diri, karena sehari semalam itu ada macam macam waktu kita, ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk istirahat, ada waktu untuk ibadah, tapi jangan lupa sehari semalam gunakan juga waktu untuk menghisab diri, menghitung dan memeriksa dirinya 

Mulai dari subuh tapi apa yang ku kerjakan, kalau ada maksiat minta ampun kepada Allah, oh aku habis subuh tadi ada menggibah orang, ada menyakiti orang, ada buat dosa, nah langsung taubat kepada Allah subhanahu wata'ala, dan bukan hanya sekedar memeriksa diri daripada maksiat, bukan hanya sekedar taubat kalau ada dosa, tapi musti memoerdapati dengan apa yang sudah dia tinggalkan dari kefarduan itu, oh dzuhur tadi aku tidak sembahyang, tadi subuh aku sembahyang, dari waktu subuh sampai dzuhur tidaklah ada maksiat ku lakukan, aku kerja, cuman waktu dzuhur aku tidak sembahyang misalnya, nah karena tidak sembahyang dzuhur, tidak boleh hanya taubat aja, musti di tambahkan dengan mengganti kembali sholat dzuhur yang tertinggal itu, di qodo

( Wayatadaroqu) musti dia perdapati apa yang ketinggalan daripada kefarduanngya dan daripada kewajibannya, ( wayaruddul madzolim ila ahliha) oh tadi aku mulai dzuhur smpai asar ada pergi makan, tapi belum bayar, ( yaruddul madzolim ila ahliha) maka langsung bayar, jumpa langsung kepada yang punya, minta halal dan bayar itu makanan yang sudah di makan tadi, itulah bukti orang yang benar-benar menghisab dirinya, bukan hanya melulu minta ampun, minta ampun kepada Allah, karena itu belum cukup, kalau dosa yang kita lakukan itu berkaitan dengan Allah, minta ampun, tapi kalau dosa dengan makhluk, dua musti syaratnya, minta ampun kepada Allah dan minta halal Rida kepada manusia, kalau ada kita ghiba musti kita minta maaf langsung, kalau ada uang musti kita bayar, (yaruddul ) kembalikan kepada yang punya nah itu baru benar orang yang bertaubat 

Kalau di dalam dunia kita setiap hari macam itu, kita hitung, kita hisab diri kita, nanti di akhirat tidak sulit lagi, nah ini orang akan masuk surga dengan hisab yang mudah kenapa? Karena di dunia dia sudah menghisab dirinya sendiri, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda 
( Al qayyisu Mandana Nafsah) Ujar nabi kita, orang yang namanya cerdik, orang yang pintar itu adalah orang yang sudah menghitung dirinya di dalam dunia, kalau kita misal hendak musafir, hendak umrah, musti kita berhitung, aku umrah berapa hari, 15 hari, berapa uang yang musti ku persiapkan, berapa baju, dan lain sebagainya, nah itu pasti kita hitung, kalau kita ni pintar lah, kalau kita tidak pintar tak terpikir tentang itu 

Apalagi orang yang hendak mati, musafir ke akhirat, musti menghitung diri, ( Al qayyis Mandana Nafsahu) menghitung dirinya, supaya nyaman di sana ada persiapan dan perhitungan, oh di Padang Mahsyar itu orang tak pakai baju, orang haus, kelaparan, maka di dalam dunia aku hendak memberikan orang pakaian karena Allah, aku memberi makan minum kepada orang karena Allah, mudahan Allah terima ini persiapanku nanti di akhirat, sudah, bismillah, ( Al qayyisu Mandana Nafsahu) itulah orang yang pintar 

Imam Al fudhoil bin Iyad berkata ( man hasaba Nafsahu qobla yuhasab, krhoffafil kiyamah hisabuhu, wamallam yuhasib Nafsahu damat hasratuhu, wadholat wakafatuhu Yaumal kiyamah? Ujar imam barangsiapa di dalam dunia menghisab dahulu dirinya dia akan ringan hisab di hari kiyamat, tapi orang yang di dalam dunia tidak maju menghisab, menghitung, tidak mahu memeriksa dirinya, maka di akhirat akan panjang penyesalannya, lama berhenti di kiamat itu

Inilah nama Allah Al hasib, Allah itu maha menghitung, maha memeriksa, segala macam amal perbuatan yang kita perbuat, baik itu besar maupun sekecil apapun itu pasti akan ada catatannya dengan jelas dan teliti, 


Sekecil apapun kebaikan pasti akan di perlihatkan oleh Allah dan sekecil apapun kejahatan kita pasti akan di perlihatkan oleh Allah subhanahu wata'ala 

Insha Allah mudahan Allah senantiasa memberikan kami kemudahan dan pertolongan, Taufik Hidayat dan Inayah, sehingga bisa Istiqomah dalam taat dan taqwa kepada Allah, dan kita semuaan ini selalu di Tolong Allah , aamiin yaa rabbal 'alamin

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog