Bismillah
( Assani wal arba'un min asmailla Al Husna Al jalil)
yang ke 42 dari Asmaul Husna adalah Al Jalil, sebagian kita menterjemahkan Al Jalil itu adalah maha besar, sama dengan Al Kabir, maha besar, Al Jalil maha besar, peebedaannya kalau Al Kabir itu maha besar zatnya, zat Allah itu maha besar, sehingga tidak bisa di perdapati dengan akal manusia yang sehebat apapun akal manusia itu
Tidak bisa di jangkau, di perdapati, bagaimana zat Allah itu, sehingga di sebutlah dia Al kabar, maha besar, kalau Al Jalil, maha besar juga, cuman kembali kepada sifatnya, sifat-sifat Allah itu maha besar, Al Jalil, mangkanya kalau kita sembahng itu menguvapkan takbir, Allahu Akbar, nah akbar itu Al Kabir, maha besar, zatnya, karena kita sembahyang ini menghadap zat Allah, bukan sifatnya, misa kalau kita sembahyang allahul ajal, nah itu tidak sah
Karena Jalil ini maha besar tapi sifatnya, kalau Kabir itu maha besar zatnya, nah itu lah perbedaan antara maha besar Kabir dengan maha besar Jalil, Allah maha besar zatnya di sebut Al Kabir, Allah maha besar sifatnya di sebut dengan Al Jalil
( Qola bakdul ulama, Al Jalil huwal mausufu
bin'util Jalal) Al Jalil itu artinya yang di sifati dengan sifat-sifat kebesaran di sebut Al Jalil, ( wan'utul Jamal) sifat-sifat kebesaran itu ( kal 'ijji) seperti kemuliaan ( Wal mulki) Seperti kerajaan ( wattakoddusi) kesucian, ( Wal grhina) kekayaan ( walkodrat) kekuasaan ( Wal kuwwah) kekuatan ( Wal kohri) memaksa, mengalahkan ( Al 'ijbar) memaksa, ( wa ghoiriha) dan lain sebagainya, nah itu contoh sifat-sifat kebesaran
Dan lawannya ini ada sifat keindahan ( Al jamil) sifat keindahan itu seperti penyayang, pemaaf, pemurah, pelindung, penyantun, penolong, nah itu sifat-sifat keindahan Allah, yang bersifat dengan kebesaran namanya Al Jalil, namun kalau bersifat keelokan namanya Al jamil ( wamin sifati jalalihi) sebahagian daripada sifat kebesaran Allah
( 'ikzaju man sya wa izlalu man sya) Memuliakan orang yang dia kehendaki, menghinakan orang yang dia kehendaki,
jadi Allah dengan sifat kebesaran itu bisa memuliakan si Fulan, bisa menghinakan si Fulan yang lain, nah esok hari bisa di balik yang semalam di hinakan hari ini bisa di muliakan, dan yang semalam di muliakan hari ini bisa di hinakan Allah l, kenapa bisa demikian? Semudah itu Allah bisa menghinakan dan memuliakan, karena Allah punya sifat kebesaran itu,
Allah bisa memberikan Kerajaan kepada orang yang dia kehendaki, Allah bisa mencabut kerajaan itu terhadap orang yang dia kehendaki, nah ini lah sifat daripada kebesaran Allah subhanahu wata'ala, orang yang hari ini diam di istana, besok bisa di penjara, nah ini ada, ada orang yang hari ini di penjara besok bisa berada di istana, nah ini pun bisa juga, karena Allah bisa memuliakan orang yang dia kehendaki dan Allah bisa menghinakan orang yang Allah kehendaki, tidak ada sulitnya bagi Allah yang demikian itu karena Allah punya nama Al Jalil, yang maha besar
Orang yang dulunya jadi pembantu kita suatu saat kita ni yang di bantunya, orang yang dulu jadi bawahan kita suatu saat dia bisa menjadi atasan kita
( Wayahdi man ya sya, wayudhillu mayyasya) setengah sifat kebesaran Allah, Allah memberikan hidayah kepada orang yang Allah kehendaki dan Allah menyesatkan orang yang Allah kehendaki, hidup serumah, tidur sekamar, bahkan seranjang, makan bersama-sama, tapi dengan mudah bagi Allah satu Allah bagi hidayah, yang satunya lagi Allah sesatkan, ( wamazalika 'a lallah bi ajiz)
Allah tidak sulit sedikitpun melakukan itu, semuanya itu di bawah kekuasaan Allah subhanahu wata'ala
Jadi Al Jalil ini adalah satu nama Allah yang menakutkan kita, karena hari ini bisa saja kita beriman kepada Allah, siapa tahu kita besok menjadi orang kafir, mengkanya jangan sombong kalau kita ini sudah beriman, karena Allah bisa membolak balikkan hati kita, hari ini kita bisa menjadi orang kaya, besok kita bisa menjadi orang fakir miskin, hari ini kita punya kedudukan yang tinggi siapa tahu besok kita menjadi orang yang di bawah, nah itu semuanya akan kembali kepada nama Allah Al Jalil yang maha besar, yang mempunya sifat-sifat kebesaran
( Al mukmin bismillahil Jalil, ayyakrh syallaha ta'ala) Orang yang beriman dengan nama Allah Al Jalil, dia takut kepada Allah itu, kalau kita berhadapan dengan orang, orang ni bisa mencabut kita daripada kedudukan kita, pasti kita takut, berhati-hati kita menghadapnya, bisa bisa kita ni bisa di cabutnya, kita kendak bertamu dengan atasan kita, nah dia ini suatu saat bisa aja memindahkan kita kemana-mana, bisa mencabut kedudukan kita, maka kalau kita berjumpa dengannya maka takut kita, berhati-hati kita dalam berbicara, hati-hati kita bertindak, hati-hati kita duduk, hati-hati kita memandang
Karena kalau dia kecewa, kalau kita salah, bisa bisa jabatan kita di ambilnya, nah jadi kalau orang yang beriman dengan Allah itu punya sifat kebesaran, maka dia takut kepada Allah subhanahu wata'ala, nah ini takut yang mulia, takut yang tinggi, karena ada orang itu takut kepada Allah terhadap siksanya, aku sangat takut kepada Allah , Allah ni bisa menyiksa aku, bisa membuat ke neraka, nah itu takut kepada Allah baik, tapi masih di bawah di bandingkan dengan kedudukan orang yang takut kepada Allah karena Allah punya sifat kebesaran itu
Orang yang beriman, orang yang percaya bahwa Allah punya nama Al Jalil, yang punya sifat-sifat kebesaran, ( ayyakrh syallaha ta'ala) maka dia takut kepada Allah subhanahu wata'ala ( Li annahu bi jalalihi, yukti mayyasya, wa yamna'u mayyasya) karena Allah yang maha besar itu dengan kebesarannya dia bisa memberi kepada orang yang dia kehendaki, dan tidak maju memberi kepada orang yang tidak ia kehendaki ( wa annahu kodirun ayyasluba ni'amahu Fi sya'atin Wahidah ) Allah itu mampu mengambil nikmatnya sekejap mata, nah Allah ni mampu mengambil nikmatnya dengan mudah, dengan sekejap mata
Dulu kita ini mampu melihat, sekarang tidak bisa lagi melihat, dulu kita mendengar sekarang tidak bisa lagi, dulu kita sihat sekarang tidak sakit-sakitan, nah Allah mudah mengambil itu dari kita, nah bayangkan betapa takutnya kita kepada Allah yang seperti itu, ( wa'annahu 'alimun bi ahwalil 'abdi, ma dzohar wama bathan ) dan Allah yang maha besar yang punya sifat-sifat kebesaran itu dia mengetahui keadaan kita yang dzohir maupun yang bathin, ilmu adalah bahagian daripada sifat kebesaran, kita yakin bahwa Allah tahu keadaan kita secara dzohir kita dan bathin kita, nah bayangkan seperti apa takutnya kita kepada Allah?
kita tidur Allah tahu, kita bangun Allah tahu, kita makan, mandi, semuanya Allah tahu, baik itu dzohir maupun bathin, sedikit hati kita ni ada buruk sangka yang tidak baik kepada orang nah semuanya itu Allah tahu, nah coba bayangkan bagaimana takutnya kita kepada Allah itu, karena semuanya Allah tahu tentang kita, dan ilmu adalah bahagian daripada sifat kebesaran Allah subhanahu wata'ala, ( wa'annahu grhoiniyyun ) dan bahwa Allah itu terkaya daripada taatnya kita, dan kaya adalah bahagian dari sifat kebesaran, Allah maha kaya, nah kayanya Allah itu macam apa? Kayanya Allah itu tidak butuh, tidak perlu taat kita kepadanya
Kita ni taat Allah tidak tambah kaya, kita tidak taat Allah tidak akan miskin karena Allah maha besar dan sebahagian kebesarannya Allah adalah maha kaya, ( jikalau seluruh alam ini, kafir kepada Allah, tidak ada masjid, tidak ada surah, tidak ada majlis ilmu, seluruh alam ini kafir kepada Allah, sedikitpun tidak akan mengurangi kebesaran Allah subhanahu wata'ala, lain halnya dengan raja dunia, raja dunia itu bisa tegak, bisa kokoh kalau rakyatnya patuh, tapi kalau rakyatnya tidak patuh, semuanya hendak memberontak kepada raja, tidak taat kepada rajanya maka akan runtuh kerajaannya
Seberapa hebatnya itu presiden kalau semua rakyatnya kompak tidak mahu patuh, maka akan runtuh kekuasaan, nah itu lah bedanya, walaupun semua orang tidak mahu taat kepada Allah, maka sedikitpun Allah tidak akan terganggu dan tidak mengurangi kebesaran Allah subhanahu wata'ala
( Walau annama fil'alama amanu wattaqow mazada Fihi jalalihi syai'a) jikalau bahwa seluruh alam semesta ini taat dan taqwa kepada Allah, seluruhnya orang kompak berdzikir, sembahyang, apakah Allah bertambah kemuliaannya? Tidak juga, Karena Allah sudah maha mulia, Allah sudah maha besar, Allah sudah maha kaya
Jadi ketaatan kita ini semata-mata Kembali kepada kita sendiri bukan kepada Allah, kita berdzikir, kita sembahyang, siapa yang untung? diri kita sendiri
( Jadi Al iman bismillah Al Jalil yurisul khrosyah) beriman dengan nama Allah Al Jalil itu membuahkan takut kita kepada Allah subhanahu wata'ala, kalau yang kita ingat Allah itu hanya punya sifat kebesaran, hidup dalam dunia ni tidak ada lapangnya, tidak ada nyamannya kalau Allah ini hanya punya sifat kebesaran, kita ingin Allah tu maha menyiksa maka hidup kita ini akan susah, itu sebabnya di sisi lain Allah ada punya sifat keindahan, keelokan, Al jamil, supaya hati kita ini nyaman, supaya hati kita ini senang
Bila hati kita ini ingat Allah punya nama Al Jalil, takut kita, serta takut, dan ingat bahwa Allah itu punya sifat-sifat al jamil maka hati kita pun akan nyaman, Allah itu pemaaf, Allah itu penyayang, Allah itu pelindung, maka hati kita nyaman, itu sebabnya hati kita ini antara dua kepada Allah, kadang-kadang takut karena mengingat sifatnya, namanya Al Jalil, dan kadang-kadang kita kepada Allah ini cinta mengharap kepada Allah dengan sifat Allah yang indah itu
( Qola ta'ala, firman Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Qur'an pada surah at Taubah ayat 13
Allah itu berhak engkau takuti daripada yang lainnya jikalau kalian beriman, jadi ujar Allah jikalau kalian itu beriman Allah lah yang paling engkau takuti bukan selain daripada Allah subhanahu wata'ala, kadang-kadang kita ni banyak yang kita takuti dan melebihi rasa takutnya kita itu di banding dengan rasa takut kita kepada Allah subhanahu wata'ala, padahal Allah sudah sampaikan di dalam Al-Qur'an
Allah itu lah yang paling berhak engkau takuti, bila Allah menyuruh, jalankan, takut kita, langsung kerjakan, bila Allah sudah melarang, jangan berani kita buat, takut kita kepada Allah, nah siapapun yang hendak menyuruh kita, hendak memaksa kita, kalau Allah sudah melarang jangan kita buat, karena Allah yang paling penting dan paling berhak kita takuti
Jadi kita percaya kepada Al Jalil bahwa allah memiliki segala sifat kebesaran kebesaran tadi akan menimbulkan di dalam hati kita rasa takut kepada allah subhanahu wata'ala, nah takut ini adalah akhlak bagi orang yang beriman kepada Allah Al Jalil , dia takut kepada Allah, nah macam takut kepada Allah itu? Karena kalau kita tanya semua orang jawab takut aku kepada Allah? Takut aku ujarnya, semuanya mengaku takut
Cuman sebenar-benarnya orang yang takut kepada Allah itu macam apa? Apakah hanya di ucapkan aku takut kepada Allah ( wamin simalil khros yah ) dan sebagian daripada hasil ketakutan kita kepada Allah Al Jalil, ( ikhlasul amal lillah? Ini kita kenapa bisa beribadah ikhlas, Karna kita takut kepada Allah, Allah tahu isi hati kita, kita ini sembahyang, kita baca Al Qur'an, kita berbuat baik, kita beribadah, semua yang kita kerjakan itu Allah mengetahui dengan jelas, nah jadi musti ikhlas
Jadi kalau kita takut kepada Allah salah satu buah rasa takut itu adalah ikhlas dalam beribadah dalam beramal kepada Allah subhanahu wata'ala, nah apa arti ikhlas itu? Nah para ulama mengatakan ikhlas itu ada tiga turunan, ada tiga tingkatan, bila kita masuk antara salah satu itu maka sudah termasuk kita ini orang yang ikhlas :
1. ( Yuti'ullah ) Dia taat kepada Alla, dia sembahyang itu bentuk taat kepada Allah, membaca Al-Qur'an itu bukti dia taat kepada Allah, dia membaca Al-Qur'an itu, dia sembahyang itu, dia mengerjakan taat itu ( lintisali Amrih )
karena semata-mata menjunjung perintah Allah dan menghendaki kesenangan dunia dan akhirat nah itu ikhlas yang pertama, nah aku Sembahyang ini kenapa? Karena di suruh Allah, perintah Allah,
( Kumu 'akimissholah) Dirikan sembahyang, di suruh Allah aku Sembahyang, dengan sembahyang ini aku berharap mendapatkan Rida Allah, aku bisa masuk syurga Allah, hidup lancar berkah dan bahagia, kenapa baca Al-Qur'an? Karena di suruh Allah dan Rasul, itu sebabnya ku baca Al-Qur'an dan harapanku dengan aku mengamalkan membaca Al-Qur'an aku nanti di kubur ada kawanku yaitu Al-Qur'an, aku selamat, di akhirat selamat, rezeki ku berkah dan lain sebagainya, nah itu ikhlas
2. ( ayyuti'allah lintisali Amrih maha tholabil huzujil ukrh rowiyah) dia takut kepada Allah menjunjung perintah Allah dan hanya mengharapkan bahagian-bahagian urkhrowi, aku baca Al-Qur'an menjunjung perintah Allah, dan tujuanku mudahan aku mendapatkan Rida Allah, itu aja, dan aku membaca Al-Qur'an, aku membaca surah tabarok, satu aja niatku mudahan aku ni selamat nanti di kubur, dunia tidak ada tujuannya, yang penting akhirat, nah ini ikhlas yang nomor dua, lebih tinggi daripada yang pertama tadi, kalau yang pertama aku berbuat baik, aku beribadah, aku membaca Al-Qur'an , masuk syurga dan hendak juga hatinya mendapatkan dunia, kalau ikhlas yang kedua ini semata-mata untuk urusan dunia
3. ( Lintisali amrillah ma'a tholabir Rido? Dia menjunjung perintah Allah, melakukan taat, mengerjakan ibadah, sembahyang, membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhaan daripada Allah subhanahu wata'ala, itu saja titik, di hati nya tidak ada surga, tidak ada neraka, tidak tahu kesenangan dunia, aku Sembahyang menjunjung perintah Allah mudahan Allah Rida kepadaku, itu saja, nah ini lah derajat yang paling tinggi daripada ikhlas
Nah ikhlas itu bisa kita dapat kalau kita takut kepada Allah, kenapa kita takut kepada Allah? Karena Allah punya sifat-sifat kebesaran yang bisa berbuat apapun kepada kita dan mengetahui segala macam tentang diri kita ini baik yang dzohir maupun yang bathin semuanya Allah tahu jelas kita akan takut kepada Allah subhanahu wata'ala
Dan lagi Buah daripada takut kepada kepada Allah adalah ( Wasiyanatun nafsi 'anil maksiyah) menjaga diri daripada melakukan perbuatan maksiat, Karna orang yang takut kepada Allah tidak mungkin berani melakukan maksiat, kenapa orang berani maksiat? Karena dia tidak takut kepada Allah, kalau takut kepada Allah tidak berani maksiat, nah kepada kita ni mahu melakukan dosa? Kenapa berani maksiat, kenapa berani berzina, kenapa berani melakukan riba, kenapa berani menipu orang? Kenapa berani mencuri, karena tidak takut kepada Allah, ? Sudah jelas itu alasannya, tidak ada alasan yang lain
Karna kalau dia takut kepada Allah tidak akan berani melakukan dosa dan maksiat, jadi takut kenapa Allah ini ( siyanah) menjaga diri daripada dosa dan maksiat kepada Allah subhanahu wata'ala
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah hadistnya
( Layalizunnar rozulun baqo min krhos yatillah) tidak masuk neraka orang yang menangis, menitiskan air mata karena takut kepada Allah, macam kita ini takut kepada Allah kenapa? Karena banyak berbuat dosa, buat silap--salah, selama ini banyak betul kita ni meninggalkan yang di suruh Allah, sudah lah meninggalkan yang di suruh Allah, berani pula melanggar hukum Allah, buat dosa dan maksiat, nah merasa bersalah kita pun menangis
( Astaghfirullah hal adzim) Minta ampun aku ya Allah, banyak dosa hamba, banyak nikmat yang engkau berikan kenapa hamba ya Allah, tapi hamba balas dengan dosa dan maksiat, itu yang kita selalu, kita renungkan, kemudian kita menangis, nah ini tangisan takut kepada Allah, setitis air mata itu bisa memadamkan neraka jahanam, nah jadi tangisan ini luar biasa, asalkan tangisan itu karna takut kepada Allah subhanahu wata'ala
Banyak melanggar hukum hukum Allah, maka Allah melihat, di hadapan engkau ya Allah hamba melakukan dosa dan maksiat ini, di hadapan engkau ya Allah hamba mencuri ini, di hadapan engkau ya Allah hamba melakukan perzinahan, riba dan lain sebagainya, itu kita sesali, akhirnya keluar air mata kita, nah air mata yang keluar itu sangat berharga di sisi Allah subhanahu wata'ala, tangisan seperti ini adalah tangisan yang di ajarkan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam
Para ulama mengatakan ada 10 macam tangisan, tidak musti baik ke-sepuluhnya itu
1. ( Buka'ul khros yah wal khrouf) Tangis takut kepada Allah, ingat dosa, ingat salah kita, ingat banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, tapi di balas dengan perbuatan dosa dan maksiat, nah ini tangisan takut kepada Allah, ini tangisan yang paling mulia
2. ( Buka'urrohmah) Ada tangisan kasih sayang, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam waktu menggendong putra beliau yang bernama Ibrahim, ada anak nabi laki-laki Ibrahim dari ibundanya mariyatul kibtiyyah, ibrahim ini masih bayi, sakit, dalam sakaratul maut, maka nabi kitapun menangis, di tanya sahabat, tangis apa itu wahai Rasulullah? Ujar nabi ini tangisan Rahmah, tangisan kasih sayang dengan anak kecil, nah ini tangisan yang berpahala, kalau ada kita lihat orang sakit, ada kita lihat orang yang susah, karena kasih sayang kita ini di balas Allah dengan pahala
3. ( Buka'ul mahabbah wassya'uq) Tangisan cinta dan rindu, ada orang yang kita sayang, baik itu anak, orsngtua, rindu sangat karena sudah lama tidak berjumpa akhirnya menangis, nah ini tergantung kepada siapa yang Dia cintai, tergantung kepada siapa yang Dia rindukan, kalau kita rindu kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, kita baca sholawat nabi, kita baca sifat-sifat nabi, kita ingat kisah-kisah nabi, sunnah-sunnah nabi, akhirnya kita rindu kepada Rasulullah dan menangis karna demikian itu, namanya adalah
( Buka'ul mahabbah wassya'uq ) Tangisan cinta dan rindu, nah ini berpahala, kalau kita rindu kepada Rasulullah, kita rindu kepada orang-orang Sholih, rindu kepada ayah ibu kita, anak kita, adik beradik kita dan lainnya, akhirnya kita menangis, nah ini tangis yang mendatangkan pahala
4. ( Buka'ul Farah wassurur) Ada tangisan gembira, sangking gembiranya sampai menangis, macam kita lihat ada orang bersungguh-sungguh berlatih hendak memenangkan perlombaan lari akhirnya memang diapun menangis sangking gembiranya, nah ini tangisan tidak ada pahalanya, tapi kalau dia berhasil mencapai sesuatu target, dia misalnya hendak menghafalkan Al-Qur'an, dia pun hafal, dan dia pun gembira senang hatinya karena sudah bisa menghafal, akhirat dia pun menangis karna kegembiraannya itu, nah ini berpahala, karena yang di lakukannya itu adalah bentuk ketaatan kepada allah subhanahu wata'ala
5. Ada juga tangisan kesakitan, ini tidak jadi pahala, (buka'ul muglim) tangis karena ada sesuatu yang menyakitkan,
6. ( Buka'ul huzum 'ala mafat) Menangis karena duka cita atas kehilangan sesuatu, macam kematian, kehilangan harta, kehilangan dompet menangis karena kehilangan benda, nah ini tangisan tidak ada mendatangkan manfaat
7. ( Buka'ut dho'afi) Tangisan karena kelemahan, dia berjuang sedemikian lupa akhirnya dia kalah juga, nah ini ada, sudah berlatih mati-matian, sudah bekerja keras, akhirnya kalah, dia pun menangis,
8. ( Buka'unnifaq) Tangis munafiq, luarnya saja menangis, tapi hatinya suka
9. ( Buka'ul musta'jir) Menangis karena di upah, macam pemain sinetron, pemain film, dia itu menangis nanti di upah orang duit, ujar sutradara nangis kamu, nah menangis dia
10. ( Buka'ul muwafaqah) Tangis yang mengikut, lihat kawan kita menangis kita pun ikut menangis, nah jadi sekian banyak tangisan tadi, air mata kita keluar, yang paling berharga di sisi Allah adalah
( Buka'ul khros yah) Tangisan takut kepada Allah subhanahu wata'ala, dimana kita ingat dosa, ingat azab Allah, nah disitu kita menangis, menyesal berbuat dosa dan maksiat kitapun menangis, nah inilah tangisan yang di muliakan Allah subhanahu wata'ala
Alhamdulillah ya Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
minta doahkan, insyaallah