( Arrobi' wal arba'un min asmailla al husna at Rakib)
yang ke 44 dari asmaul Husna adalah Ar Rakib,
( Ar Rakib artinya dialah yang melihat keadaan-keadaan hamba, yang mengetahui dan mendengar perkataan-perkataan mereka dan memelihara, menjaga amal-amal mereka dan yang meliputi daripada yang tersembunyi di hati mereka, dan tidak ada yang hilang daripadanya oleh sesuatu, nah itu ar Rakib, kalau di singkat bahasa kitanya maha mengawasi
Mengawasi itu tentu melihat, mendengar, mengetahui dan juga memelihara, itulah ar Rakib
( Warozi'un ila makna ilim, sama'i, wal basor, wal 'ilmi wal hibji) jadi Ar Rakib ini kembali kepada makna Al basor, melihat, wa sam'i, mendengar, wal 'ilmi, mengetahui, wal hibji, memelihara, nah kumpulkan daripada semuanya itu adalah Ar Rakib
Setiap pengawasan pasti melihat, kalau tidak melihat maka tidak usah menjadi pengawas, pengawas pasti mendengar, pasti mengetahui, dan memelihara, memelihara apa? memelihara apa yang di lihatnya, apa yang di dengarnya, apa yang di ketahuinya, untuk di sampaikan nanti di akhirat kepada diri kita, nah inilah pengawasan daripada Allah subhanahu wata'ala, itu lah Ar Rakib
Jadi sebelum nama Allah Ar Rakib, yang ke 43 itu al Karim, ini termasuk kepada nama Allah yang elok, yang indah, karena Al Karim itu kan artinya yang memaafkan, yang memberi, yang menepati janji, nah itu semua kumpulan yang indah-indah di sebut Al Karim, kalau kita ingat nama Allah itu ada Al Karim, berarti kita ingat bahwa begitu indahnya, begitu eloknya Allah subhanahu wata'ala, dia maha penyayang, maha memberi apa yang kita minta, Allah menepati janjinya, semuanya itu masuk dalam Al Karim, itu nama yang elok dan indah
Sesudah nama yang elok ini, maka di iringi lah dengan Ar Rakib, ini termasuk kepada golongan nama-nama Allah Al Jalal, yang membuatkan hati kita takut, nah ini Ar Rakib, kenapa? karena jelas Allah itu mengawasi, kalau kita dengar Al Karim, hati kita berbunga-bunga, hati kita nyaman, karena Allah itu Al Karim, maha mengampuni dosa dan lainnya, begitu kita masuk kepada nama Allah berikutnya, Ar Rakib, kita ada ketakutan di dalam hati kita, begitulah susunan daripada nama Allah, memindahkan hati kita dari elok kepada kebesaran, dari harap kepada ketakutan
jadi kitapun berfikir kalau hendak berkata-kata, kalau hendak berucap, hendak berbuat, berhati-hati, kenapa? Karena merasakan Ar Rakib ini, Allah mengawasiku, di dalam Al-Qur'an ada beberapa kali di sebut, Allah berfirman pada surah an-nisa ayat 1
Sesungguhnya Allah atas kalian itu wahai manusia, ( roqiba) mengawasi,
Nah jadi kita wajib percaya bahwa di antara nama Allah itu ada ar Rakib, jelas itu sudah, karena di nyatakan sendiri di dalam Al-Qur'an, kalau kita tidak percaya dengan Al Qur'an berarti kita ini bukan termasuk orang yang beriman kepada Allah
( Al mukmin bismillahir Rakib) Orang yang sudah percaya, sudah beriman bahwa ada nama Allah itu ar Rakib, yang maha mengawasi, kita sudah percaya, kita sudah beriman tanpa ragu sedikitpun, ( ayyurokibahu ta'ala) kita musti muroqobah dengan Allah subhanahu wata'ala karena ini adalah buah daripada iman, muroqobah itu adalah buah iman daripada nama Allah Ar Rakib, kita musti muroqobah, nah apa itu muroqoh? muroqobah itu artinya tahunya si hamba, yakinnya si hamba dengan di awasi oleh Allah secara dzohir dan batin, nah itu lah muroqobah, tahu dan yakin, bahwa kita ini di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala
Di mana datangnya muroqobah?, itu datang dari buah keimanan kita kepada nama Allah Ar Rakib, Allah maha mengawasi, lalu kita ini hamba merasa di awasi oleh Allah, jadi tidak cukup hanya sekedar tahu, karena jelas semuanya kita tahu bahwa Allah itu maha mengawasi, tapi musti di tambahkan dengan keyakinan bahwa Allah itu maha mengawasi, dari keyakinan itulah akan timbul kelakukan-kelakuan yang terpuji dari seorang hamba Allah subhanahu wata'ala, Dari yakinnya kita Allah mengawasi gerak-gerik kita, dari yakinnya kita bahwa Allah mengawasi setiap tingkah laku perbuatan, tutur kata kita, maka disitu lah akan timbul kelakukan-kelakuan yang baik dari hamba Allah subhanahu wata'ala
( Qolabnu ato', afdholutta'at muroqobatul haqqi ala dawamil aukod) berkata ibnu ato', paling baik taat itu adalah merasa di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala, kalau kita ini merasa kita duduk ini di lihat Allah, itu paling afdhol taat, artinya apa? sangat besar pahalanya, merasa di awasi oleh Allah, pada saat kita duduk, saat kita berdiri, merasa di awasi oleh Allah, kalau kita berbaring kita merasa di awasi oleh Allah, nah merasa di awasi itu pahalanya sangat banyak, (afdholutta'at muroqobatul haqq,) merasa selalu di awasi oleh Allah
(waqola Sahal) berkata imam Sahal, tidak berhiasa hati dengan sesuatu yang lebih baik, tidak berhias hati seorang hamba dengan sesuatu yang lebih mulia daripada yakinnya si hamba bahwa Allah sedang menyaksikan dia, jadi kalau hati kita ini benar yakin bahwa Allah sedang menyaksikan kita, itu merupakan perhiasan hati yang paling baik dan paling mulia daripada perhiasan-perhiasan hati yang lainnya
karena hati kita ini kadang-kadang bisa memandang kemurahan Allah kepada kita, bisa hati kita ini mengingat begitu murahnya Allah kepada kita, begitu baiknya Allah kepada kita, kadang-kadang hati kita ini bisa mengingat tentang sifat-sifat Allah yang perkasa lalu hati kita pun takut, nah itu perhiasan hati, kita melihat curahan nikmat Allah begitu banyak tak terhingga kepada kita, itu perhiasan hati, tapi perhiasan hati yang paling baik itu adalah di saat kita merasa bahwa kita sedang di saksikan oleh Allah subhanahu wata'ala
Kita merasa di tolong Allah itu perhiasan hati, kita merasa di sayang Allah, itu perhiasan hati, semuanya itu adalah pahala, kita merasa di berikan Allah bantuan dan pertolongan untuk bisa menuntut ilmu, nah itu perhiasan hati dan itu berpahala, tapi paling besarnya pahala dan paling bainnya perhiasan hati itu adalah di mana waktu hati kita itu merasa bahwa kita sedang atau selalu di saksikan oleh Allah subhanahu wata'ala, nah itu yang paling baik perhiasan hati, baik itu kita sedang di dalam kendaraan, kita sedang berada di rumah, kita sedang berada di tempat ramai maupun sunyi, di manapun yang paling baik kita rasakan adalah bahwa kita ini selalu di awasi oleh Allah
Jadi perbanyaklah mengingatkan yang demikian itu, karena itu adalah sebaik-baik perhiasan hati dan paling besar pahalanya, sehingga kalau kita sudah melatih hati kita, sudah melatih diri kita dengan yang demikian itu, maka kita pun berhati-hati dalam bertindak, dalam berkata-kata, dalam melakukan apapun itu, mudahan dengan itu terhindarlah perkara-perkara yang tidak baik
(shamarotul muroqobah) Buah-buah yang di dapat daripada muroqobah itu, nah kalau kita ini sudah merasa di lihat Allah, kalau kita ini sudah merasa di awasi oleh Allah, nah itu ada buahnya? Apa buahnya itu :
1. ( Dalilu kamalil iman) menunjukkan bahwa iman kita sempurna, namun kalau kita lupa bahwa kita ini selalu di awasi Allah berarti iman kita belum sempurna masih kurang, tapi kalau di manapun kita berada kita merasa selalu di lihat Allah, di manapun kita berada selalu merasa di awasi oleh Allah, itu tandanya bahwa iman kita ini sudah sempurnah
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: ( shalasun man fa'alahunna, fakod ta'ima takmal iman, fazakara minha, ayyaklama annallah azza wazalla ma'ahu haisu kana) ujar nabi kita ada 3 perkara, siapa yang melakukan 3 perkara ini maka dia akan merasakan rasanya iman, salah satunya di sebut nabi, orang yang meyakini, orang yang merasakan bahwa Allah itu selalu beserta dia di manapun dia ini berada, itu menunjukkan iman yang sempurna, nah ini merupakan bahagian doa daripada orang-orang dahulu
Doa: allahummarjukni imanan kamilan
( ya Allah berikan kepadaku iman yang sempurna)
nah tanda iman yang sempurna adalah selalu merasa beserta Allah, selalu merasa di lihat Allah, selalu merasa di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala, jadi itu yang pertama buah daripada muroqobah tadi
2. ( Albughrdu 'anil maksiat ) Jauh daripada maksiat, ( qola Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, ( sab'atun yujillu humullah fihi jillih, yaumalajilla Illa jilluh, fazakaro Minha rozulun da'athum ro'atun mansibin wa jamal, faqola inni akhrafullah) ujar nabi kita ada 7 kelompok manusia di Padang Mahsyar mendapatkan naungan dari Allah, yang di mana hati itu tidak adanya naungan kecuali daripada naungan Allah, 7 kelompok manusia, yang tidak kepanasan, tidak kehausan, tidak kelaparan? Kenapa, karena mendapatkan naungan Allah subhanahu wata'ala
Baginda Rasulullah menyebutkan di antara 7 itu, ada seorang laki-laki yang di ajak berzina oleh perempuan yang punya kehormatan dan punya kecantikan, ini perempuan yang punya kedudukan, orangnya hebat, orangnya cantik misalnya, mengajak dia berzina, lalu ujar si laki-laki tadi ( inni akhrafullah, aku takut kepada Allah subhanahu wata'ala, nah si laki-laki ini sedang muroqobah, merasa di awasi oleh Allah, selalu merasa di lihat oleh Allah, jadi orang yang berani melakukan zina itu jelas mereka ini tidak merasa Allah melihatnya, tidak merasa Allah mengawasinya
Jadi selama kita merasa di awasi Allah, di lihat Allah, tidak akan bisa melakukan zina, ujar si laki-laki tadi ( inni akhrafullah) aku takut kepada Allah, demikian pula kepada perempuan, berlaku juga yang demikian itu, perempuan yang di ajak berzina oleh laki-laki yang punya kedudukan, di ajak berzina dengan laki-laki yang punya kemewahan dan ketampanan, ujar si perempuan ( inni akhrafullah) aku takut kepada Allah, nah ini perempuan di Padang Mahsyar akan mendapatkan naungan daripada naungan Allah, Jadi jauh kita dari maksiat kalau kita ini selalu merasa di awasi oleh Allah,
Di sebutkan di dalam kitab ( mukasyafatul qulub) satu kisah tentang rombongan, ini rombongan ada kelompok perempuan, ada kelompok laki-laki, sampai malam hari, rombongan ini istirahat, datang laki-laki mendekati rombongan perempuan, membawa dan hendak melakukan kejahatan, mengajak berzina, ujar perempuan, jangan sekarang karena masih banyak lagi orang bangun, nanti aja kalau semua orang sudah tidur baru kita berzina kalau sekarang masih ramai lagi yang terjaga, baik ujar si laki-laki sampai lah Tengah malam semua orang sudah tidur
Datang laki-laki tadi menjumpai perempuan tadi, mereka pun bertemu, ujar laki-laki semua orang sudah tidur, ayo aja kita berzina, ujar perempuan, itu Allah ada, Allah tidur apa tidak? ujarnya, Allah tidak akan tidur, ( la ta'krhuzuhu sinatu walaya'um) tidak ada bagi Allah itu mengantuk apalagi tidur, memang benar semua orang itu sudah tidur di tengah malam tapi Allah tidak demikian, nah ini perempuan adalah perempuan yang muroqobah kepada Allah subhanahu wata'ala
Dia merasa bahwa Allah itu maha melihatnya, apa yang di perbuatnya Allah tahu, takut dia melakukan perbuatan zina, karena dia merasa senantiasa di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala, inilah perempuan yang mulia, perempuan yang imannya sempurna karena dia sedang merasa bahwa dia di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala
Dan ada lagi di kisahkan sayyidina Umar bin Khattab beserta rombongan musafir, sampai di sebuah gunung sayyidina Umar istirahat, melihat ada pengembangan kambing, seorang budak hamba sahaya, maka di datangi sayyidina Umar, ujar sayyidina Umar ni kambing ni jual aja seekor akan aku beli, hendak kita makan sama-sama di sini, ujar si budak tadi aku tidak berani, aku ni di suruh aja menggembala, tidak jual kambing, ujar sayyidina Umar kalau tuannya bertanya mana kambingnya jawab aja di makan serigala, kenapa kurang ini kambingnya, jawab di makan serigala
Ujar si budak kalau tuan yang punya ini kambing bertanya bisa aja aku ini berdusta tapi kalau Allah nanti yang bertanya macam mana? Tak berani aku hendak berdusta, kalau sudah Allah yang bertanya kemana lagi tempat ku hendak berdusta, tidak bisa, macam mana aku hendak menjawabnya nanti, nah sayyidina Umar ini menguji keimanan seorang budak hamba sahaya tadi, ternyata seorang budak pengembala kambing ini sempurna imannya kepada Allah subhanahu wata'ala, tidak tergoda dengan rayuan dan bujukan, maka sayyidina Umar hormat kepada ini budak, akhirnya di cari dimana tuan engkau, di bawa lah sayyidina Umar kepada tuannya, di beli lah budak tadi, akhirnya di merdekakan, karena telah sempurnanya imannya
Itulah muroqobah tadi, jauh daripada maksiat, tidak akan berani melakukan dosa dan maksiat kepada Allah subhanahu wata'ala, karena selalu merasa di awasi, merasa di lihat, merasa di dengar oleh Allah subhanahu wata'ala,
3. ( Tahsinul ibadah) Membaguskan ibadah kita kepada Allah subhanahu wata'ala, sembahyang kita jadi bagus, puasa kita jadi bagus, bacaan Al-Qur'an kita jadi bagus, semuanya ibadah yang kita lakukan itu Insya Allah akan menjadi bagus, karena kita merasa sedang di lihat oleh Allah subhanahu wata'ala, sedang di saksikan oleh Allah, jelas sembahyang kita itu tidak akan sembarangan
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( fa'illam takun taro, fa'innahu yaro,
'antakbudallah ka'annaka taro, fa'illam takun taro, fa'innahu yaro) ujar nabi kalau engkau beribadah kepada Allah, usahakan seolah-olah engkau itu melihat Allah, artinya nabi kita memerintahkan kepada nabi kita untuk duduk di satu Maqom yang namanya musyahadah
Kalau engkau ibadah ujar nabi, engkau sembahyang, engkau baca Al-Qur'an, maka rasakanlah bahwa engkau sedang melihat Allah,
( Fa'illam takun taro) Jikalau engkau belum sampai ke Maqom itu, belum sampai kepada kedudukan itu ( fa'innahu yaro ) yakinlah bahwa Allah melihat engkau, nah ini lah muroqobah, kalau kita ini belum bisa musyahadah maka ambillah yang ke dua, muroqobah, dan kita tidak akan bisa sampai kepada suatu kedudukan yang namanya musyahadah itu sebelum kita terlebih dahulu masak dalam kedudukan muroqobah ini
Nah begitu lah kita dalam ibadah kepada Allah, macam mana kita mengangkat takbir pada saat sembahyang, karena ini di lihat oleh Allah, rukuk kita, sujud kita, bacaan Al-Qur'an kita seperti apa, karena ini di lihat, di dengar, di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala, baik itu kita sembahyang seorangan maupun sembahyang berjamaah di masjid itu pasti sama, jadi kalau ada orang sembahyangnya di masjid bagus, karena banyak orang, Karena merasa di awasi Allah, begitu dia sembahyang di rumah berantakan, nah ini orang tidak sempurna imannya, dia hanya merasa bahwa sembahyang di masjid baru di awasi Allah, sembahyang di masjid karena ada banyak orang jadi tidak berani asal asalan sholat, orang yang hanya merasa bahwa Allah hanya ada di masjid tidak ada di rumah, dengan muroqobah ini ( tahsinul ibadah) kita akan bagus dalam ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala
4. (Turisul ikhlas) akan membawa kepada ikhlas, kan allah tahu tentang isi hati kita, kita hendak beribadah ini karena Allah atau karena apa? Nah itu jelas Allah tahu, itulah sekian daripada banyaknya manfaat kalau kita sudah bisa muroqobah ini
( wamantakrholla 'anha waqo'a fil muhlikat?
barang yang kosong daripada muroqobah dia akan jatuh daripada perkara-perkara yang mencelakakannya, nah kalau orang ini tidak punya muroqobah, tidak merasa sedang di awasi, sedangdi lihat, sedang di perhatikan oleh Allah, maka jelas ini orang akan masuk kepada jurang-jurang kemaksiatan,
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: ( la'a'la manna aqwaman min ummati ya'tuna yaumal kiyamah bihasanati amsali jibali tiyamah bidho, fayaza'alu Allah azza wazalla ha ba'am mansyuro) ujar nabi aku mengetahui kelompok-kelompok daripada ummatku, mereka datang pada hari kiamat membawa amal kebaikan seperti gunung-gunung di negeri tiyamah, putih bersih, di sampaikan itu kehadiran Allah subhanahu wata'ala, Allah jadikan semua amal kebaikan itu
( Ha ba'am mantsyuro) habis seperti debu yang berterbangan, nah ada orang datang menghadap Allah dengan amal yang banyak sekian gunung, akhirnya itu amal tidak berguna, sia-sia, seperti debu yang berterbangan, tidak bisa memberikan manfaat itu amal
Artinya ini orang di dalam dunia rajin ibadah, di dalam dunia rajin beramal, namun di akhirat tidak ada harganya sama sekali, lalu berkata sahabat Rasulullah yang namanya tsauban, ujarnya ya Rasulullah ( sibhum lana wajallihim lana? Anla nakuna minhum wanahnu la naklam? wahai Rasulullah jelaskan kepada kami terangkan kepada kami siapa kelompok-kelompok itu agar kami tidak masuk daripada yang demikian, sedangkan kami tidak sadar, siapa orang-orangnnya itu? Yang punya banyak sekali amal di dunia, begitu sampai di akhirat malah menjadi debu yang berterbangan tidak ada manfaatnya
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menyampaikan( walakinnahum akwamun, innahum ikhrwanukum wamin jildatikum, waya'krhujuna minallaili kama ta'krhujun, walakinnahum akwamun iza rkhaalaw bimahariminlah, intahakuha? ujar nabi mereka itu adalah saudara-saudara kalian, orang yang beriman kepada Allah, orang yang Islam, mereka ini pun tahajud di malam hari seperti kalian tahajud di malam hari, tetapi mereka itu ujar nabi kalau sudah bersendirian, tidak ada orang lain, di hadapkan kepada perkara yang di haramkan oleh Allah, mereka melakukan perkara yang di haramkan oleh Allah itu, nah itu masalahnya
Semua ibadah di kerjakannya, tapi orang ini tidak bisa melihat yang di haramkan Allah, bila ada yang di haramkan Allah di buatnya, begitu orang sunyi, begitu tidak ada lagi orang, begitu dia duduk di tempat yang sunyi, yang tersembunyi tidak ada orang, nah berani dia melakukan perkara dosa dan maksiat, artinya apa? ini orang tidak punya muroqobah kepada Allah, tidak merasa di lihat Allah, tidak merasa di perhatikan, tidak merasa di awasi oleh Allah subhanahu wata'ala
Orang munafik itu dia menengok, melihat ke kanan, melihat ke kiri, menengok muka, menengok ke belakang, bila tidak ada ada di lihatnya, diapun masuk kepada maksiat, itu orang munafik,
( Yurakibunnas) Dia hanya melihat kepada manusia, ( walayurokibullah) tidak melihat kepada Allah subhanahu wata'ala, nah macam maling juga, kalau tak ada orang mencuri dia, ini hanya melihat kepada manusia bukan kepada Allah, yang di carinya ada pujian manusia , yang di carinya hanya penilaian manusia, yang di carinya pengawasan manusia, manakala dengan Allah dia lupakan ini lah orang munafik, imannya belum sempurna, mudah-mudahan kita semuaan ini terhindar daripada sifat-sifat munafik, aamiin ya Allah
Banyak ayat-ayat di dalam Al-Qur'an menyuruh kepada kita agar kita bersifat muroqobah ini, antara lain Allah berfirman di dalam surah Al Baqarah ayat 225
Ujar Allah ketahuilah bahwa Allah tahu apa yang ada di dalam hati kamu itu, itu jelas Allah tahu, hati kita ada dengki, hati kita ada dengki, hati kita ada dendam, semuanya Allah tahu, nah ini ayat adalah ayat muroqobah, jangan pernah sesekali ini ayat hilang di hati kita, semuanya itu Allah tahu apa yang kita kerjakan,
Dan lagi pada surah Al Hadid ayat 4 ( wahuwa)
Allah itu beserta kalian di manapun kalian itu berada, dan Allah melihat dengan apa yang kalian kerjakan, di manapun kita berada, apapun yang kita kerjakan semuanya Allah tahu, nah ini ayat menyuruh kita agar muroqobah kepada Allah subhanahu wata'ala
Dan lagi Allah berfirman di dalam Al-Qur'an
( Alamyaklam bi'anallah)
Adakah dia tidak tahu bahwa Allah melihat?
allah tahu khianatnya mata kita itu, kita ini melihat ke kiri, tiba-tiba mengalihkan pandangan ke kanan kepada yang tidak baik, nah walaupun itu sekilas saja, khianatnya mata itu Allah tahu,
( wamaturkhfissudur) Dan Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati kita ) nah jadi cukup sudah ayat-ayat Allah tadi itu agar kita merasakan bahwa Allah selalu mengawasi kita, Allah selalu melihat kita menyaksikan kita di manapun kita berada, kita tidak akan terlepas daripada pengawasan Allah subhanahu wata'ala
( Wal hasil, kesimpulannya adalah bahwa muroqobah itu akan menimbulkan rasa takut kepada Allah, kalau kita ini bisa benar-benar muroqobah kepada Allah maka segala macam perbuat dosa dan maksiat bisa kita hindari, kalau lah orang itu murokobah kepada Allah tidak ada lagi perzinahan, tidak ada lagi maling, tidak ada lagi segala macam kemaksiatan, karena perbuatan zina, maling, itu jelas-jelas orang yang tidak muroqobah kepada Allah, mereka merasa tidak di lihat Allah, tidak di awasi Allah, tidak selalu di perhatikan Allah, itu sebabnya berani melakukan demikian, buktinya menunggu orang tidak ada baru berani melakukan zina, berani mencuri, kalau dia merasa selalu di awasi Allah jelas tidak akan berani
2. Malu kepada Allah, di dalam hukum fiqih, kita di dalam kamar sendirian memakai seluar pendak tidak ada masalah, itu menurut hukum fiqih, cuman kalau kita merasa bahwa kita ini di awasi oleh Allah di pandang oleh Allah, tidak akan berani berseluar pendek di dalam kamar walaupun sendirian, kenapa sebabnya? Karena ( Al haya minhu) malu dengan Allah subhanahu wata'ala, nah jadi muroqobah ini bukan hanya menjauhkan kita daripada maksiat tapi menjadikan kita lebih beradap dengan Allah subhanahu wata'ala,
baik itu kita sedang duduk, berdiri, sedang berbaring, apapun itu keadaan kita, karena kita merasa selalau di lihat oleh Allah di awasi oleh Allah maka apapun yang kita kerjakan akan bagus dan baik, tapi kalau muroqobah ini hilang di dalam hati kita akan timbul perbuatan jahat yang akan membuatkan kita jauh ke dalam jurang kemaksiatan
Alhamdulillah selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
minta doahkan, insyaallah