Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum, dengan memahami makna dunia seseorang yang beriman kepada Allah, hendak lah memandang dunia sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah, serta mencari rezeki yang halal, sehingga dengan rezeki tersebut akan membantu lancarnya beribadah kepada Allah. Rezeki yang di makan kemudian mendarah daging, yang di berikan kepada anak istri dari hal-hal yang haram akan mendatangkan hal yang tidak baik di kemudian harinya, hati akan penuh dengan kegelapan, tiada sinar yang akan terang-benerang, hingga carq kembalinya hati nantinya dengan bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala.
Dengan demikian ketika seseorang hamba yang ingin memahami dunia, maka di anjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah yang akan memberikan petunjuk, kasi jalan, beri pahaman tujuan hidup di dunia ini, sehingga insyaAllah terhindar dari nikmat dunia yang ( melalaikan ), serba kecukupan akan mendatangkan rasa lalai, manakala kecukupan tersebut di gunakan untuk beribadah tidak masalah, lalai seperti bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, Serta terus-terusan melakukan perbuatan yang di larang Allah.
Bukankah dunia ini akan Kita tinggalkan? Seseorang yang mati hatinya akan selalu menuruti kehendak nafsunya, seakan-akan bisa berkehendak sendiri, hingga menyimpulkan kehidupan di dunia hanya untuk mengejar kepuasan sahaja, manakala mati adalah akhirannya, sehingga selama hidup di dunia hanya fokus memikirkan apa sahaja yang bisa menyenangkan hati, hingga berlomba-lomba dalam kehampaan yang fana. manakala orang yang dalam hatinya punya iman dan rasa takut kepada Allah, akan menjadikan dunia sebagai alat bantu untuk berusaha menggapai akhirat, hingga terpisah pun jasad dengan ruh, hingga terpisah pun dunia dengan segala isinya, maka ia tetap tersenyum, dan kembali pulang dengan tenang, hingga segala kehidupan akan di perhitungkan ketika sudah meninggal dunia.
Oleh karna dunia ini hanya tempat persinggahan semata, sehingga kita harus lah terus berdoa kepada Allah supaya nikmat dunia yang Allah berikan tidak melalaikan kita dalam melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang hamba. InsyaAllah dengan doa Allah akan bantu.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشَ الْآخِرَهْ فَأَكْرِمْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdo'a: "ALLAHUMMA LA 'AISYA ILLA 'AISYAL AAKHIRAH FA AKRIMIL ANSHAAR WAL MUHAAJIRAH (Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang hakiki) kecuali kehidupan akhirat, oleh karena itu, muliakanlah kaum Anshar dan Muhajirin)." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib, dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Anas radliallahu 'anhu."
"Syaikh Ibnul Utsaimin –rahimahullah– mengatakan: Rasul –shallallahu’alaihi wasallam– dahulu bila melihat suatu perkara dunia yg membuatnya takjub, beliau mengatakan:
لبيك إن العيش عيش الآخرة/
Labbaik, innal ‘aisya ‘aisyul akhirah/ “Aku penuhi panggilanmu ya Allah, sungguh kehidupan yg hakiki adalah kehidupan akherat” (HR. Bukhari 2834, Muslim 1805) Karena bila seseorang melihat suatu perkara dunia yang membuatnya takjub, mungkin saja dia meliriknya, sehingga dia berpaling dari Allah. Oleh karena itu beliau mengatakan: “labbaik” sebagai jawaban panggilan Allah azza wajalla, kemudian beliau memantapkan hatinya dg mengatakan: “Sungguh kehidupan yg hakiki adalah kehidupan akhirat“.
Karena kehidupan yang membuatmu takjub ini adalah kehidupan yang pasti sirna, sedang kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akherat. Oleh karena itu, termasuk diantara sunnah ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan di dunia ini adalah mengucapkan: “Labbaik, innal aisya aisyul akhirah” (Syarah Mumti‘, 3/124).
mamSyafi’i mengatakan: Rasulullah–shallallahu alaihi wasallam– mengucapkannya (yakni ucapan: “Innal ‘Aisya ‘Aisyul Akhirah“) di momen yang paling membahagiakan dan di momen yang paling menyusahkan.
Sungguh beruntung seseorang yang di dalam hatinya ada iman kepada Allah, hingga tidak selalu memanggap bahwa hidup selama di dunia mengakui kepunyaannya, hingga merasa diri paling hina, tidak berisi apa-apa, ilmu yang di pelajari, kemudian ia belajar, lalu pandai, menjadi orang yang berilmu, hingga ia sadar ilmu yang di dapat adalah hadiah dari Allah semata, kemudian ia bekerja dengan modal ilmu yang di titipkan, kemudian menjadi orang yang berjaya, apakah pantas baginya mengakui keberhasilan itu? Dan lupa dengan hadiah dan nikmat yang sudah Allah berikan kepadanya?
Semoga kita semua, tuan-puan, sahabat, menghadirkan diri, ikut serta dalam rasa kehambaan diri dalam hati, menyelam bersama iman, hingga hati bergetar mengingat kasih-sayangnya Allah kepada makhluknya, kepada Kita semua, insyaAllah dengan demikianlah, Allah ampunkan dosa kita semua, dosa dzohir dan batin, silap dan salah, sengaja maupun tidak sengaja, hingga nantinya kita kembali pulang, jangan main-main perihal dosa, harus semangat terus dalam beribadah dengan sebaik-baiknya, dengan bersungguh-sungguh, tanamkam dalam hati kita semuanya, hingga berkumpul, dikumpukan bersama Rasulullah, di kumpulkan bersama orang-orang beriman, orang-orang yang sholeh, di akhiran dunia, dan awalan kehidupan kita di akhirat kelak, aamin, masyaAllah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar