Pages

Jumat, 02 April 2021

Jangan campur-adukkan yang haq dan yang bathil

Sebab orang-orang jatuh terlalu dalam kepada sesuatu yang mereka cintai di dunia hingga melebihi cintanya kepada cinta yang luar biasa, pada kekasih (Allah subhanahu wata'ala), dan pada pecinta (Rasullullah shallallahu alaihi wasallam)

sering terjadi kekacauan pemikiran seperti ini, mencintai sesuatu yang tidak benar hingga kurang paham arti dan makna yang sebenar, hingga lupa dengan cinta yang mutlak, kekal selamanya, "ada seorang anak yang menangis tersedu-sedu, mengeluh kepada Allah, atas kembali pulang nya sang ayah tercinta, meninggal dunia, hingga iapun menyalahkan atas kuasanya Allah", sejujurnya sungguh lemahnya iman Kita pada kala itu.

Manakala menjadikan iman itu utuh kembali hendaknya sebagai seorang anak, khususnya sebagai seorang hamba, maka ia seharusnya tersenyum melepaskan segalanya, pasrah akan ketentuan Allah, tak mengapa bersedih sedikit-sedikit, wajah bersedih namun hati ikhlas karna Allah, niscaya Hal tersebut akan membantu hingga tertanam dalam hati dan batinnya bahwa, setiap yang hidup akan kembali pulang, dan dunia akan di tinggalkan, manakala setelah meninggal dunia, maka itu adalah awalan dari sebenar-benarnya kehidupan.

Maka dari itu, hidup di dunia bukan lah mencari kesenangan hingga menuruti segala hawa nafsu, ibarat mencari cinta di tempat yang ramai, manakala ada sebagian mencari cintanya di tempat yang sunyi, apabila ia mencari cinta di tempat yang ramai, ia mengartikan dengan berbagai macam gelak-ketawa, suka-suka, berkumpul-bermegah, hingga ia lupa ketika semua sudah pulang maka tinggal lah gelak-ketawa, suka-suka, tidak berkumpul lagi, hingga mau di artikan apa cinta tersebut?

Adapun beberapa orang yang terlahir menjadi anak dari keluarga yang kaya hendaklah berhati-hati dalam serba kecukupan tersebut, harus di perhatikan dari halalnya rezeki tersebut bukan banyaknya rezeki itu, di karenakan sesuatu yang sudah berikan adalah sebagai ujian selama hidup di dunia, manakala seseorang tersebut di berikan petunjuk oleh Allah untuk bisa memanfaatkan rezeki yang Allah berikan untuk membantu di jalan yang Allah rida, membantu sesama orang-orang beriman, dan meringankan beban-beban saudara, hingga harta yang di titipkan Allah tersebut akan menjadi berkah dunia dan akhirat, karna itu hendaknya ia tidak memandang kekayaan tersebut sebagai alat untuk memenuhi kepuasan dunia sahaja, Ada tanggungjawab yang harus di laksanakan.

Manakala beberapa orang yang terlahir menjadi anak dari keluarga yang sederhana, ataupun dari kalangan orang yang miskin, tidak berpunya, maka hendaklah juga berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia ini, karna boleh jadi dari kemisninan tersebut Allah uji hambanya untuk terus bersabar dan bertaqwa kepada Allah, carilah, semangatlah untuk menjemput rezeki yang halal dari Allah, hingga hidup di dunia akan mendapat berkah, karna kemiskinan bukanlah sebuah musibah, oleh Karena itu jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rezeki hingga mencampur adukkan yang haram dan yang halal demi kepuasan hidup, ada pun sebagian dari mereka menempuh usaha dengan gigihnya, kemudian menjadi orang yang sukses, itu semua adalah kuasanya Allah, bahkan kesuksesan yang di raih di dunia itu adalah berkatnya pertolongan Allah, maka banyak-banyaklah bersyukur pada Allahu subhanahu wata'ala, 

Si kaya akan di uji dengan hartanya, manakala si miskin akan di uji dengan kesabarannya, mereka berdua hendaklah sentiasa bersyukur kepada Allah, sentiasa memahami arti dari ketentuan Allah, hingga hadirnya rasa cinta dan syukur di dalam hatinya akan menjaga iman hingga tidak akan menyalahkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, ikhlas dan rida hanya untuk Allah. Maka cinta itu adalah cinta yang hakiki.

Manakala ada sebagian yang mengartikan mencari cinta di tempat yang sunyi, tak perlu ikuy serta dalam kehambaan dan kerumunan yang menyenangkan hati, kemudian ketika pulang, maka cinta yang ia maksud juga akan fana dan hampa. Yang bisa Saya simpul adalah, cinta tidak di-cari ditempat yang ramai dengan kemegahannya, ataupun di tempat yang sunyi dengan kesendiriannya.

cinta itu jalan, manakala jalan banyak rintangannya, silih-berganti, banyak berjalan-banyak dirasa, maka seorang musafir akan sinhgah sejenak untuk istirahat, dan kemudian meneruskan perjalanan hingga sampi ke rumah yang di tuju, rumah adalah hatinya, manakala cinta adalah jalan untuk menuju hatinya.

Maka dari itu jangan sampai kita menjadi pecinta yang meninggalkan rumah, jangan sampai kita menjadi hamba yang melupakan Allah, dikala senang maupun susah, la tahzan katanya, maka rumahmu adalah hatinya, maka hatimu adalah cintanya untuk semesta. Karna cinta ada waktu-waktunya, ada cinta waktunya untuk bermunajad kepada Allah, ada cinta untuk membenahi diri atas segala kekurangan, segala silap dan salah, adapula cinta kepada istri, kepada anak, kepada sahabat, dan saudara, Serta sesama manusia. 

Maka dari itu hendaklah Kita tidaklah terlalu memegang kuasa atas kepunyaan di dunia ini, tapi khususnya selama hidup di dunia, berikanlah waktu terbaikmu, hingga tujuan akhirat adalah yang paling utama, dan tidak pula bermalas-malasan, insyaAllah dunia akan ikut serta

Aamiin, Alhamdulillah, semoga kita menjadi manusia sekaligus hamba yang taat, menjauhkan diri dari segala perbuatan yang di larang Allah, dan taat serta terus berusaha menjalankan segala perintah Allah. insyaAllah dengan taubatan nasuha Allah ampunkan dosa dzohir dan bhatin, kita ini hamba yang hina, banyak dosa, punya dosa, jangan pernah merasa diri paling alim, paling banyak ilmu, Kita hanya manusia biasa, tidak punya apa-apa, dengan demikian hingga kita bisa termasuk hamba yang beriman serta termasuk dalam golongan orang-orang yang sholeh, hingga bisa berkumpul bersama Rasulullah di syurga kelak.


Tidak ada komentar:

More Article about this Blog