Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allahu subhanahu wata'ala, dimana karna hidayah dan Taufiq, Kisa masih bisa merasakan nikmat Islam yang telah Allah berikan kepada kita, serta shalawat dan salam atas junjungan kita nabi besar Muhammad sallallahu alaihi wa salam. Semoga nantinya kita mendapat syafa'at Baginda nabi di Yaumil akhir kelak, aamiin.
Nama Asmaul Husna yang ke 11 ialah Al-Mutakabbir
Dimana di dalam Al-Quran hanya satu kali di sebutkan nama Allah ya Mutakabbir-Nya Allah, dalam surah Al-hasr ayat 23,
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْجَبَّارُ ٱلْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُ
Artinya: Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
— Surat Al-Hasyr Ayat 23
Menurut sebagian dari para ulama yang tentang mentafsirkan tentang Al-mutakabbir ini ialah :
Al mutakabbir itu artinya (Dialah yang melihat seluruhnya kecil) dengan nisbah kepada dzatnya yang mulia, dan dia tidak melihat kebesaran, keagungan, melainkan semuanya itu adalah milik-Nya Allah.
Contohnya sebagaimana Raja memandang para budak-budaknya.
artinya Allah itu lah memiliki keagungan, kesempurnaan, kemuliaan, dan lainnya hanya milik Allah, dan yang lainnya itu adalah kecil, hamba, hina, remeh, sehingga Allah lah yang mempunyai sifat keagungan dan kebesaran atas segala apa yang ia ciptakan.
Contohnya ketika ada seorang makhluk ciptaan Allah, yang bersifat takabbur, takabbur itu artinya orang yang melihat dirinya besar, melihat dirinya mulia, melihat dirinya punya kekuatan, melihat dirinya punya kemampuan.
Padahal yang berhak meliki sifat tersebut ialah hanya Allah, yakni Al mutakabbir, ( karna hanya Allah lah yang memiliki sifat keagungan, dan kebesaran, karna itu menunjukkan Allah itu maha sempurna) berbeda halnya dengan kita ini makhluk ciptaan Allah.
Adapun contohnya :
kalau Allah itu memiliki sifat Al-mutakabir ini, maknanya Allah menunjukkan sifatnya yang maha sempurna dari kelemahan.
Akan tetapi ketika hanya sebagai makhluknya Allah ini, memiliki sifat takabbur, maknanya kelemahan, aib, kelemahan, atau penyakit.
La Li Anna hul kholikul Akwan, biyadihi malakutu kul Li sya'i, wa ilayhi yarziul Amru Kullu, lani hayatal la 'Azhomati, lani hayatal lakamali, lani hayatal likuwwati, iza arodasyian, ayyakulalahu Kun payakun,
Nah, kenapa Allah itu sempurna, dengan namanya Al mutakabbir, karna Allah lah yang menciptakan Alam semesta, maka hanya Allah yang berhak memiliki kerajaan tersebut, dan kepada Allah seluruh perkara akan di kembalikan, tidak ada kesudahan bagi kerajaan, tidak ada kesudahan bagi keagungan nya Allah, tidak ada kesudahan bagi kesempurnaannya, tidak ada kesudahan bagi kekuatannya, bila Allah menghendaki bagi sesuatu, berkatalah Allah Kun, maka jadilah sesuatu itu.
بَدِيۡعُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِؕ وَ اِذَا قَضٰٓى اَمۡرًا فَاِنَّمَا يَقُوۡلُ لَهٗ كُنۡ فَيَكُوۡنُ
(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu (Al-Baqarah 117)
Maka itu lah sebabnya hanya Allah berhak memiliki sifat/nama Al-mutakabbir ini,
Kalau kita lihat susunan dari nama nama Allah tadi, di surah Al hasyr, ayat 23, nah susunan-susunan itu, memberikan isyarat, bahwa, orang yang berhak bernama al-mutakabbir itu, orang yang mesti mempunyai nama nama sebelumnya, orang yang berhak mutakabbir, yang bersifat takabbur itu, ialah orang yang musti mempunyai nama nama sebelumnya.
Adanya nama Al-malik : yang kekuasaannya tidak terbatas
Al-quddus : maha suci dari segala kekurangan, dari segala ke aiban
as-salam, maha selamat dari segala macam penyakit
Al-mu'min : yang maha mengamankan
Al-muhaimin : yang maha mengawasi
Al-aziz : yang maha mulia, yang maha perkasa
Al-jabbar : yang maha lurus/lulus kehendaknya, dari segala macam kehendak
Nah baru lah Al-mutakabbir, jadi kalau seperti kita ini makhluknya Allah, manusia, yang takabbur, apakah kita punya nama nama sebelum itu? Nah kalau sebelumnya itu kita tidak punya, maka jangan sekali-kali kita memiliki sifat takabbur itu, karna hanya Allah lah yang berhak miliki nama tersebut ataupun sifat tersebut.
Sehingga kalau kita ini makhluk Allah yang memiliki sifat takabbur, itu adalah aib pada diri, kenapa? Karna tidak punya kekuatan apa-apa,
Apakah kita bisa meluruskan segala kehendak kita, bahkan tidak semua kehendak kita itu bisa tercapai? Apakah kita punya kerajaan yang kekuasaannya tidak terbatas?
Maka kenapa kita merasa diri mulia, merasa diri besar, merasa diri bersih dari kesalahan, maka demikianlah kalau kita sebagai makhluk ini mempunyai sifat takabbur, maka itu ialah aib,
Sehingga Allah memberikan kita akal, untuk bisa memikirkan hal tersebut, sehingga kita tidak berhak memilik nama al-mutakabbir ini, atau sifat takabbur,
Maka kalau ada orang yang mengaku dirinya mulia, berarti ada kekurangan pada dirinya, maka sama-sama kita minta pertolongan kepada Allah semoga kita terjauhkan daripada hal-hal demikian.
Ujar imam Ali Radiallahu anhu, : tidak lah bersifat takabbur seseorang manusia, melainkan ada kekurangan, ada cacat dalam diri orang ini, tidak sihat akalnya. Tidak sempurna akalnya,
Kalau orang-orang yang sudah sempurna akalnya, maka tidak mungkin merasa dirinya mulia, dirinya besar, sedangkan dia punya banyak aib, dosa, karna makhluk seperti kita ini bahkan tidak punya apa-apa kecuali semua itu atas pertolongannya Allah,
Maka tidak seharusnya kita bersifat demikian, dan apabila kita masih memiliki sifat takabbur yang demikian, merasa diri mulia, merasa diri hebat, tanpa dosa dan aib, maka suatu saat akan di hinakan oleh Allah
Kola Rasulullah ( Rasulullah bersabda, )
Wa man takabbara, (siapa yang merasa dirinya hebat, yang merasa dirinya mulia)
wadha 'a hullah ( maka pasti akan Allah hinakan dia)
Contohnya namrud begitu sombongnya kemudian Allah turunkan nabi ibrahim alaihissalam, maka hancurlah namrud, kemudian fir'aun dengan sombongnya ia maka kemudian Allah turunkan nabi musa alaihissalam, maka hancurlah Fir'aun, abu Jahal begitu sombongnya, Allah turunkan nabi Muhammad, maka hancurlah dia, begitu mudah-Nya Allah untuk menghinakan siapapun yang Allah kehendaki.
Maka hal tersebut adalah bentuk gambaran daripada Allah, sehingga ketika Allah memberikan akal kepada kita, semakin sehat akal kita, semakin sempurna akal kita, makin menunduk, dan makin merasa hina, dan tidak punya daya apa-apa di hadapan Allah.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ}.
Artinya: “Rasulullah bersabda: ‘Barang siapa yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat). Dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” (HR Imam Ibnu Mandah dan Imam Abu Nu’aim). Dalam riwayat lain disebutkan:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: “Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR Muslim)
Maka takutlah kepada Allah, sehingga kita terjauhkan dari pada sifat sombong, karena setiap orang uang sombong/takabbur, Allah akan hinakan dirinya,
Orang yang ingin beriman dengan sifat Allah Al-mutakabbir itu ialah
a. Yang pertama ketika kita mengiqtikatkan dalam hati bahwa yang berhak bersifat takabbur itu hanyalah Allah.
b. Kita berusaha untuk sentiasa bersikap tawadhu dengan Allah dan tawadhu dengan sesama makhluk Allah.
Contoh tawadhu dengan Allah ialah, menganggap diri kita tidak ada apa-apanya di banding dengan Kebesaran Allah, dan apa-apa yg sudah di berikan Allah kepada kita. Hingga muncul rasa di dalam hati kita untuk menjunjung perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan Allah.
kemudian tawadhu terhadap makhluk Allah, contohnya kita tidak boleh melihat diri kita lebih baik daripada orang lain.
c. Kita melihat selain Allah itu kecil, artimya tidak bisa di jadikan sandaran atau pegangan, maka tempat bersandar dan tempat meminta pertolongan hanyalah kepada Allah. Hanya percaya kepada Allah dan janji-janji Allah. Dan berpegang teguh kepada Allah. Baru lah di tambahkan di barengi dengan usaha kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar