Bermulanya sedih atas kehilangan taat kepada Allah, dimasa lampau, tetapi tidak ada usaha, atau perubahan kepada taat itu, demikianlah rada sedih itu menipu kita.
Sehingga perkara sedih yang kita rasakan di hati atas hilangnya ketaatan kepada Allah, kemudian rasa sedih tersebut menimbulkan usaha dan perubahan untuk bisa memperbaikinya, demikian lah rada sedih itu benar adanya.
Sehingga kita bisa mengetahui ketika hati kita ini sedih mengenang perbuatan kesalahan di masa lalu, maka hendaknya kita memperbaikinya dengan jujur.
Adapun rasa sedih itu terbagi menjadi dua
1. Ada sedih yang di timbulkan karena hal-hal dan perbuatan di masa lalu
2. Kemudian ada rasa sedih yang di munculkan karenal hal-hal atau jangkauan di masa yang akan datang
Kemudian, untuk hal yang pertama itu : rasa sedih yang di kita ingat akan hal-hal di sama lampau ada yang mendatangkan kebaikan dan ada juga yang mendatangkan keburukan, jadi rasa sedih itu ada yang baik dan aja pula yang tifak baik.
Jadi bagaimana kesedihan yang baik itu?
Munculnya rasa sedih yang mendatangkan kebaikan itu bisa terjadi karena kelupaan atas taat kepada agama, sehingga memberikan kesan dan rasa yang tidak nyaman di hati, hingga kesedihan itu menjadi baik yang akan bisa menjadi obat untuk lebih memperhatikan urusan agam di masa yang lampau untuk dijadikan perbaikan di masa yang akan datang.
Dan berkenaan dengan mengingat-ingat hal-hal yang menghilangkan rasa cinta dan taat ini , ataupun sebab-sebab apa saja yang menjadi penghalang atas perbuatan itu sehingga menghilangkan kebaikan-kebaikan dalam diri atas urusan agama yang di senangi, bisa menjadi suatu yang yang baik, di karnakan hati ini bisa menyadarinya, dan berusaha untuk mencari jalan yang terbaik untuk bisa memperbaiki hal tersebut, maka kesedihan yang kemikian adalah kesedihan yang terpuji
Contohnya seperti apa?
Contohnya : sedihnya hati atas perbuatan yang tidak baik (maksiat) yang dilakukan, sedihnya hati atas meninggalkan kewajiban-kewajibab agama, sedihnya hati karena menyia-nyiakan waktu yang di berikan di masa lalu.
Sehingga kita pernah mengingat-ingat perbuatan dosa, yang kita lakukan di masa lalu, kemudian hati kita sedih, lalu kita pernah mendengar bahwasanya ada ancaman-ancaman dari Allah untuk orang-orang yang melakukan dosa, yang pernah kita lakukan itu, maka munculnya kesedihan di dalam hati, kemudian adanya keinginan dan usaha untuk melakukan perbaikan.
"Nah, munculnya tanda-tanda atau rasa sedih yang mendatangkan kebaikan itu akan menunjukkan bahwa hati kita ini masih hidup, Alhamdulillah"
Dan apabila ketika kita mengingat perbuatan-perbuatan yang tidak baik, perbuatan dosa, kemudian kita tidak merasa sedih, maka itu adalah bentuk hati ini sudah mati.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah [2]: 222)
Dan Allah itu pasti mencintai dan suka sama hambanya yang merasa di dalam hatinya rasa sedih kemudian, hamba tersebut ingin berusaha untuk memperbaiki dan bertautan akan kesalahannya itu yang menjadikan ia sedih, maka perbuatan tersebut akan mendatangkan cintanya Allah.
Hingga demikianlah perbuat-perbuatan dan hal-hal yang bisa mendatangkan kebaikan atas kesedihan yang di rasakan, menunjukkan hati itu makmur(hidup), dan itu lah sebab tanda sayangnya Allah kepada kita, masyaaAllah.
Bagaimana kesedihan yang tidak baik itu ?
Kesedihan yang tidak baik itu adalah seperti meningkat sesuatu yang kenalan tentang kehidupan dunia, dan waktu-waktu yang di habiskan untuk perkara dunia, sehingga munculnya rasa sedih di dalam hati ketika mengingat hal tersebut di masa lampau.
Contohnya seperti apa :
Contohya itu seperti ada orang yang sedih mengingat dahulunya hidupnya di dunia itu senang, hartanya banyak, rezekinya lancar, kemudian ketika saat ini semua perihal dunia itu tidak ia dapatkan lagi dan kemudian karena mengingat-ingat itu hatinya sakit, hatinya menjadi sedih, maka kesedihan ini adalah termasuk dalam kesedihan yang tercela, yang tidak baik.
Karena orang-orang yang sedih dan sakit hati karena perkara dunia, dan kelebihan-kelebihan harta dunia yang ia punya atau perbandingan hidupnya dengan yang dahulu dengan yang sekarang jauh berbeda, dulunya ia banyak harta, kemudian sekarang hidupnya biasa saja, hingga mengingat hal itu dia menangis dan sakit hati, maka kesedihan itu adalah kesedihan yang tidak baik.
Maka dari itu, adapun kesedihan yang membuatkan kita menangis, atas hilangnya rasa taat kepada Allah, atau semac perkara agama yang kita tinggalkan di masa lalu, kemudian kita mengingati nya dan kita bersedih, tapi ingin melakukan perbaikkan dan perubahan, maka kesedihan itu adalah kesedihan yang menipu diri kita
Seperti orang yang menuntut ilmu tapi sia-sia
Sehingga hal seperti sama seperti orang yang menuntut ilmu, orang-orang yang menuntut ilmu itu mereka akan mendapatkan ganjangan dari Allah, yang bisa kita lihat di dalam hadist-hadist yang meriwayatkan ganjaran pahala bagi orang-orang penuntut ilmu, dan orang-orang yang menuntut ilmu tersbeut hanya sekedar ingin mendapatkan ganjaran dan pahala perihal menuntut ilmunya saja.
Dan mereka berhenti sampai disitu, sehingga orang-oramg seperti ini sedang menipu dirinya, sedangkan perbuatan yang baik yang seharusnya di lakukan oleh orang-orang yang menuntut ilmu tadi, dengan mengetahuinya ganjaran-ganjaran pahala yang sudah di siapkan oleh Allah, kemudian mereka menambahkan ilmu yang sudah di peroleh tadi dengan sentiasa mengamalkannya, menghafalnya, dan kemudian juga bisa mengajarkannya, maka ini lah termasuk orang-orang yang mendapatkan kebaikan dengan sepenuhnya.
Begitulah ketika hati kita merasa sedih, tetapi tidak ingin memperbaiki penyebab dari kesedihan itu, maka itu akan membuatkan kita tertipu.
Sama juga halnya dengan hati kita bersedih mengingat diri kita di masa lalu, sering sekali meninggalkan shalat, dan jarangnya untuk shalat berjamaah ke masjid, kemudian dengan mengingati perbuatan tersebut hati kita merasa menyesal dan kita bersedih, tetapi tidak ada upaya untuk bangkit, melakukan perubahan, mengganti shalat yang kita lalai di masa lalu, maka kesedihan itu adalah kesedihan yang sia-sia menipu diri.
Nasihat yang sangat penting
Lihat lah kebanyakan manusia-manusia yang ketika mendengarkan pencerah memberikan nasihat, mereka menangis atas nasihat atau perbuatan yang memberikan kesan merasa bersalah di dalam hatinya, sehingga ketika mendengarkan nasihat itu mereka menangis, namun ketika sudah pulang kerumah, tidak ada kesan yang membekas dari nasihat yang di dengarkannya itu tadi, dan tidak ada perubahan terhadap dirinya. Maka tangisan yang di majlis itu tadi adalah kesedihan yang menipu dirinya.
Dengan adanya kesedihan hati kita untuk memperbaiki hal-hal di masa lalu, sehingga kesedihan itu sudah baik, tetapi jangan sampai disitu saja, dan tidak mau berusaha untuk memperbaikinya, adapun ketika dahulu kita sering meninggalkan shalat, maka pada saat ini hendaknya di bayar, atau di qadha, sehingga kesedihan kita itu membuahkan kebaikan, dan kebaikan itu mendatangkan iktikad baik kepada Allah, untuk memperbaikinya. InsyaaAllah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar