Pages

Minggu, 30 April 2023

Shalat | hlm 6

Ali bin abi thalib radiallahu'anhu wa karramallahu wazhah
Apabila datang waktu shalat maka ia guncang dan kemudian wajahnya berubah, lalu di tanyakan kepadanya, hai amirul mukminin, ada apa engkau, maka ia menjawab, datanglah waktu amanah yang di tawarkan daripada Allah kepada langit, bumi, gunung lalu langit, bumi, dan gunung itu enggan untuk menanggungnya

Dan khawatir akan mengkhianatinya, kemudian saya menanggungnya, jadi sembahyang merupakan suatu amanah yang di perintahkan Allah kepada manusia dan manusia wajib menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya, shalat itu apabila tidak beres rukun, syarat San adabnya bisa membawa celaka kepada orang yang melaksanakan sembahyang itu karena itu adalah amanah

Contohnya kita ni di pinjami orang kendaraan, nah kita mengembalikan kendaraan itu tentu dengan baik, dengan bersih, dengan Sempurna, supaya orang yang meminjamkan kendaraannya itu senang dengan kita, tapi bila kendaraan itu kita kembalikan dalam keadaan rusak, dalam keadaan mogok, dalam keadaan rusak, tentu orang yang meminjamkan itu tidak senang hati dengan pengembalian yang demikian

Nah demikianlah sembahyang, karena shalat itu adalah amanah yang musti di tunaikan dengan sebaik-baiknya, dan di riwayatkan dari Ali ibnu Husain, Ali zaenal abidin cucu daripada sayyidina Ali bin abi thalib, bahwasanya apabila ia berwhudu, maka rupanya menjadi pucat, lalu keluarganya bertanya kepadanya apakah sesuatu yang menimpa kepadamu ketika berwudhu, bila berwudhu pucat, kenapa Tanya keluarganya, lalu ia menjawab, tahu kah kalian di hadapan siapakah saya Ini mahu berdiri artinya shalat, aku bakal menghadapi Allah subhanahu wa ta'ala

Nah itu menunjukkan ketinggiman makrifat daripada imam Ali ibnu Husain radiallahu'anhu karena para ulama Sufi mengatakan : 

( Man arafallah Haabahu) 

Barangsiapa makrifat kepada Allah, barang siapa yang mengenal Allah subhanahu wa ta'ala, pasti akan takut kepada Allah, orang yang benar-benar beriman kepada Allah, pasti akan takut kepada Allah, semakin tinggi makrifatnya, makin tinggi ia kenal kepada Allah makin tinggi ilmu agamanya, makin takut ia kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Di Riwayatkan dari ibnu Abbas radiallahu 'anhuma bahwasanya ia berkata, nabi daus alaihissalam dalam munajatnya, berkata, wahai tuhanku, siapakah yang tinggal di rumahmu, dan dari siapakah yang engkau terima shalat itu, lalu Allah mewahyukan kepada nya nabi daus, hai daud, yang tinggal di rumahku, yang aku terima shalatnya, hanyalah orang yang merendahkan diri kepada keagunganku, ia lalui siangnya dengan ingat kepadaku, dan ia menahan nafsu syahwat dari keinginan-keinginan karena ku, ia memberi makan kepada orang yang kelaparan, ia memberi tempat kepada orang yang asing dalam perjalanan, dan menyayangi orang yang tertimpa Bencana, itulah orang yang cahayanya cemerlang di langit

Seperti matahari, jika ia berdoa kepadaku, maka akan aku perkenankan, jika ia memohon kepadaku, maka aku memberinya, aku jadikan ia menjadi orang yang santun, aku jadikan ia dalam kelalaikan kepada keingatan, dan dalam kegelapan akan cahaya, perumpamaannya adalah seperti firdaus, setinggi-tingginya syurga, yang sungai-subgainya tidak kering dan di dalamnya ada buah-buahan

Nah jadi wahyu Allah kepada nabi daud ini, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menerima shalat itu bukan hanya sedekar khusu'seseorang, tetapi ada sangkut pautnya dengan kelakuan-kelakuannya di luar sembahyang, di simpulkan di situ, bahwa Allah menerima sembahyang seseorang apabila ia punya akhlak tawadhu, orang yang sifat sombong, itu shalatnya di tolak oleh Allah subhanahu wa ta'ala, orang yang bersifat sombong, kalau ia tidak bertaubat sebelum sembahyang, maka sembahyangnya di tolak oleh Allah

Yang kedua, banyak berdzikir kepada Allah, Allah menerima shalat seseorang kalau ia di luar shalatnya itu banyak dzikir kepada Allah, sebabnya apa? Dengan banyak dzikir di luar shalat itu sangat memudahkan ia untuk khusu'kepada Allah, karena shalat itu laksana sakaratul maut, sembahyang itu laksana sakaratul maut, waktu sakaratul maut manusia hanya mengingat sesuatu yang sering di ingatnya, demikian pula shalat, ketika orang hendak shalat maka ia akan mengingati sesuatu apa yang sering ia lakukan di dalam shalatnya

Contohnya : kita ingat kebun, tanamkan, pekerjaan, ladang, anak, istri, nah waktu sakaratul maut kita tidak akan bisa mengingat Allah, karena selama kita hidup yang kita ingat hanya dunia, (karena sakaratul maut adalah cermin yang akan memantulkan apa yang telah kita jalankan selama hidup di dunia,  demikianlah pula prihal shalat juga seperti itu

Ketiga menahan diri daripada yang di larang oleh Allah, sehingga Allah menerima shalat seseorang itu ketika ia mampu menahan diri daripada yang di larang Allah 

Contohnya orang yang menggibah, setelah gibahnya itu shalat, shalatnya tidak di terima Allah, kecuali ia bertaubat dahulu sebelum shalat, orang yang berdusta, lalu shalat maka shalatnya tidak diterima, kalau ia belum bertaubat kepada Allah daripada dosa dustanya itu, kemudian orang yang mencuri, lalu shalat, tidak di terima Allah juga, maka untuk bertuabat kepada Allah terlebih dahulu

Manusia-manusia banyak yang bisa menahan diri daripada yang di larang Allah, nah tapi bukan Karna Allah, ini tidak masuk, contohnya aku tidak mahu melakukan maksiat ini, melakukan dosa ini, bisa-bisa nanti aku dipecat, jabatanku turun, martabatku jatuh kehormatanku jatuh di sisi manusia, atau Hal lain sebagainya, maka itu bukan karena Allah 

Nah yang di maksud ini adalah orang yang mempu menahan diri daripada larangan-larangan Allah semata-mata hanya karena Allah subhanahu wa ta'ala

Kemudian yang ke empat, Allah subhanahu wa ta'ala menerima shalat seseorang yang suka memberikan pertolongan kepada fakir miskin, orang yang diri nya di mampukan oleh Allah, kemudian ia tega membiarkan orang fakir kelaparan, tega membiarkan orang miskin kelaparan maka sembahyangnya di tolak oleh Allah

Kelima memberi tempat kepada orang yang dalam perjalanan, contohnya seperti ibnu sabil seorang musafir, yang di ceritakan Allah di dalam Alquranul karim seperti ada di surah taubah, dan An-Nisa, sehingga ketika kita berjumpa dengan orang yang musafir, kemudian ia sedang kesusahan, tidak cukup ongkos untuk melanjutkan perjalanannya, kemudian ia singgah di suatu kampung, maka di anjurkan kampung itu untuk menolong musafir tadi supaya ia sanggup, bjsa melanjutkan perjalanannya sampai kepada tujuannya, karena musafir ini berhak menerima zakat, kalau-kalau ia sampai pada saat pembagian zakat 

Nah kalau kita ni berjumpa dengan demikian, kemudian kita membiarkan ya, sehingga musafar tadi putus perjalanannya, tidak kita bantu, maka Allah tidak menerima shalat kita,  

Kemudian yang terkhir, Allah menerima shalat seseorang itu kalau ia menolong orang yang kena musibah, jadi shalat kita di terima oleh Allah, apabila kita di luar sembahyang berkelakuan, ber akhlak enam perkata tadi

Dan di riwayatkan daripada hatim Al ahsam, bahwasanya ia ditanya tentang shalatnya, ada orang bertanya kepada beliau, wahai tuan, bagaimana shalat engkau, lalu ia menjawab, apabila tiba waktu shalat maka saya menyempurnakan waktu dan saya mendatangi tempat yang saya ingini, dan saya duduk padanya, lalu berdiri untuk shalat, saya jadikan ka'bah itu di antara alisku, sirat, (jembatan siratimmustaqim) jembatan di bawah telapak kakimu, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku, dimana shalat itu saya duga sebagai akhir shalatku, kemudian saya berdiri antara harap dan takut, 

Saya bertakbir dengan baik, saya membaca bacaan alquran dengan teliti, saya rukuk dengan rukuk yang merendahkan diri kepada Allah, saya sujud dengan khusu', menghambakan diri, saya duduk tahyat akhir dan saya laksanakan shalat itu dengan ikhlas, dan saya tidak mengetahui apakah shalat itu di terima atau tidak

Beliau yang shalat demikian itu sahaja belum yakin kalau shalatnya di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala, apalagi macam kita ini, padahal cara beliau shalat itu sudah sedemikian luar biasa rasa nya kepada Allah, 

Caranya : bila aku hendak melaksanakan shalat, aku membayangkan ka'bah itu di antara dua alisku, ka'bah di hadapanku, kemudian aku bayangkan kedua kakiku ini sedang berdiri di titian siratul mustaqim, aku bayangkan surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan aku anggap ini sembahyang yang terkahir dalam hidup ku, lalu kemudian aku pun shalat (Allahu akhbar) 

Lalu beliau sembahyang dengan baik, teliti, khusu'itupun beliau belum yakin kalau sembahyang itu di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala atau tidak, apalagi kita ni orang awam yang sembahyangnya tidak karu-karuan, kurang adabnya, hendak shalat malah bergaya-gaya, main-main, berbuat hal-hal yang tidak beradap, sungguh jauh daripada hatim Al ahsam ini

Ibnu Abbas radiallahu'anhu berkata Dua rekaat yang sederhana di dalam tafakkur mengingat Allah subhanahu wa ta'ala jauh lebih baik daripada mendirikan shalat satu malam penuh tetapi hatinya Lupa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, contohnya shalat sunnat

Jadi hatim Al ahsam tadi menasihatkan kepada kita caranya supaya kita benar-benar melaksanakan shalat, takjim kepada keagungan Allah, jadi kita sangat berhati hati dalam shalat kita, merasakan sembahyang yang terkahir, kita bayangkan kedua kaki kita berada di titiap sirat sehingga kita ni kalau salah-salah bisa terjatuh

Sehingga para ulama mengajarkan kepada kita kalau shalat 4 rakaat, sehingga mengatasi ragu-ragu dalam shalat, kalau kita ni sudah raakaat ke dua atau tiga kah, sehingga kita membayangkan pada rakaat pertama kita berada di mekah, rakaat kedua kita membayangkan sedang berada di baitul makdis, rakaat yang ketiga, kita membayangkan berada di langit yang pertama, kemudian di rakaat yang ke 4 kita membayangkan berada di sidratul muntaha, seperti macam perjalannya Baginda Rasulullah isra'mi'raj

Keutamaan masjid dan tempat-tempat shalat

Allah azza wa jalla berfirman ( innama yakmuru masyajidallah man Amanabillahi Wal yaumil akhir)

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan hari akhir, memakmurkan disini banyak femahamannya, bisa saja pengurus takmir masjid itu musti orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kepada? Karena masjid itu adalah tempat yang mulia, musti orang-orang yang beriman kepada Allah

Karena bila pengurus-pengurus masjid ini tidak beriman kepada Allah, maka akan menimbulkan masalah-masalah masalah, mudarat-mudarat, di masjid itu, karena masjid itu harta wakaf, kalau kita tidak kuat iman tidak usah mengurusi masjid, contohnya kipas angin masjid kipas angin wakaf, tikar masjid tikar wakaf, mic masjid mic wakaf, itu tidak boleh di pinjamkan, karena itu harta wakaf, kalau kalau ada tetangga mahu meminjam tidak maka tidak boleh, karena ini harta wakaf

Orang-orang yang adzan di masjid musti orang-orang yang di percaya, orang yang adil, kenapa? Karena adzan ini menentukan waktu, kalau dia tidak bersifat adil, kada bersifat jujur, terdengar nya adzan dia pun adzan juga, padahal belum masuk waktu, musti dia jujur, musti dia adil, karena ini menyangkut orang banyak, menyeleksi imam, nah ini tugas tugas takmir masjid ini yang di anjurkan, apakah orang ini patut jadi imam atau tidak, kalau tidak ganti, karena akan membahayakan makmum

Contohnya lagi seperti kalau orang ini imam banyak orang yang tidak suka, tidak setuju, ganti, seperti Hal nya lagi khatib, apakah dia cocok dengan aturan agama untuk menyampaikan sebagai khatib, atau tidak, kutbah panjang-panjang terus berkisah-kisah yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama, maka ganti khatib yang demikian itu, nah itu lah tugas takmir masjid, maka bukan gampang orang-orang yang bertugas mejadi pengurus masjid itu ( innama yakmuru masyajidallah man Amanabillahi Wal yaumil akhir ) 

Baginda Rasulullah bersabda
( Man bana lillahi masjidan, walau kamaf hasiqototin banallahu lahu qasrom bil jannah )

Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun seperti sarang burung umpamanya, tempatnya kecil, paling muat 5-6 orang di dalamnya, barang siapa yang membuat masjid karena Allah, walaupun demikian, maka Allah akan membangunkannya istana di syurga, asalkan? Membangun masjid itu karena Allah, ikhlas artinya Karena Allah tujuannya, bukan karena orang lain 


Di dalam buku Buku Kitab Tasawwuf dan Fiqh ITHAF SADATIL MUTTAQIN di sebutkan apabila orang hendak membangun suatu masjid kemudian ia namai masjid itu dengan namanya ini menunjukkan orang itu tidak ikhlas, umpamanya Abdullah, orangnya kaya, kemudian bercita-cita hendak membangun masjid, maka di buatnya nama masjid itu dengan masjid Abdullah, nah itu jelas sudah tidak ikhlas, di sebutkan di dalam kitab syarah ihya, 

Baginda Rasulullah bersabda
(Man alifal masjida alifallahu ta'ala )
Barangsiapa yang mencintai masjid maka Allah ta'ala mencintainya

Dan Baginda Rasulullah bersabda
( Iza dakhola ahadakulum masjida falyarkak rak'ataini qobla ayyazlisa )
Apabila salah seorang diantaranya kalian masuk ke masjid, maka hendaklah ia shalat Dua rakaat sebelum ia duduk, kecuali masjidil Haram, kalau kita masuk ke masjidil Haram langsung tawaf, karena itu merupakan penghormatan kepada masjidil Haram, Karna kalau kesana tak lagi kita buat tahiyatul masjid, tapi kita buat tawaf, baru tahiyatul masjid, karena demikian demikian itu adalah bentuk penghormatan masjid

Sunnat tahiyatul masjid itu ada beberapa hukumnya, hukum Dasarnya adalah sunnat, karena masjid itu menurut mazhab kita Al imammus syafi'i, hukumnya sunnat, kalau kita ni masuk masjid, lalu kita tidak mengerjakan sunnat tahiyatul masjid itu, maka hendaklah di ganti dengan bacaan subhanallah walhamdulillah, walailahaillallahu wallahu Akbar, walahaula walaquwwata illa bulla hil'alihlyul adzim, boleh sekali atau 4 Kali dibaca. Kalau kita ni masuk masjid tapi tidak hendak sembahyang tahiyatul masjid nah boleh juga di baca yang demikian itu 

Sama seperti halnya ayat ayat sajadah, nah di dalam alquran kan ada terdapat ayat ayat yang menyuruh kita sujud kalau kita ni tak mau sujud, ganti dengan bacaan yang demikian itu, kemudian sunnat tahiyatul masjid itu ada juga hukumnya wajib, apabila di nazarkan, contohnya aku bernazar hendak pergi ke masjid nanti mahu shalat sunnat tahiyatul masjid, nah sampai di masjid hukumnya wajib, karena sudah bernazar

Adajuga tahiyatul masjid itu hukumnya makruh, apabila sudah didirikan orang jamaah, nah kita ni terlambat datang ke masjid, tbtb sampai masjid orang sudah qomat, tidak boleh lagi kita ni sembahyang tahiyatul masjid, langsung saja shalat berjamaah 

Dan ada juga hukumnya Haram, apabila telah sempit nya waktu, karena sudah masuk waktu shalat, kemudian jangan lagi kita ni sunnat tahiyatul masjid, langsung shalat, ataupun kita ni meninggalkan waktu shalat bukan karena uzur, sesampainya di masjid sudah tertinggal waktu shalat maka di anjurkan kita untuk mengqodo shalat kita jangan lagi kita ni hendak tahiyatul masjid, langsung saja shalat yang tertinggal itu

Baginda Rasulullah bersabda
( La shalata lizaril masjidila FIL masjid ) 
Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid 
Ini hadiar umum Dan memberikan femahaman bermacam-macam, tidak ada sembahyang bagi tetangga masjid kecuali di masjid, maksudnya adalah shalat fardhu, karena orang yang bertetangga dengan masjid kalau hendak shalat musti ke masjid

Namum apabila ia hendak juga shalat di rumah maka para ulama menjelaskan : ada yang mengatakan bahwa 
( La shalata tadi bacaannya) berarti tidak sah, orang yang bertetangga dengan masjid tapi malah shalat di rumah aja, maka tidak sah, 

Ada lagi pendapat para ulama yang mengatakan tidak sempurna, padahal ini orang berjiran dengan masjid namum tidak shalat di masjid, maka shalatnya tidak sempurna, jiran itu artinya 40 ke kiri, 40 ke kanan 40 ke depan, 40 ke belakang, itu tetangga masjid namanya

Jadi kalau kita ni termasuk tetangga masjid, orang sembahyang fardhu di masjid namum kita di rumah seorangan tidak berjamaah maka shalat kita tidak sempurna, demikian itu mazhab kita imam syafi'i, kalau mazhab imam hambali tidak sah 

Dan Baginda Rasulullah bersabda
( Almalaikatu tushalli 'ala 'ahadikum mada fimushalla hulladzi yushalli fihi fakulu Allāhumma sholli 'alaihi, allahummarhamhu,allahummargfirlahu, malam yurkhdis aw yurkhruzal Minal masjid )

Artinya para malaikat itu memohon kan rahmat kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas salah seorang di antara kalian, selama ia duduk di masjid, berada di masjid, di tempat shalatnya, malaikat pun mengucapkan ya Allah berikanlah rahmat atasnya, ya Allah sayangi lah ia, ya Allah ampuni lah ia, selama ia belum beradas, atau sebelum ia keluar daripada masjid

Nah contoh kita ni di masjid shalat, setelah shalat kita ni masih duduk di masjid, nah itu kita sedang di doahkan oleh malaikat, sebelum kita keluar ataupun sebelum kita beradas, 

( Ya 'ati bi akhirizzaman na su minhummati ya'asunal masajida, payad 'udunafiha hilaqan hilaqo, zikruhumudduna wa hubbuddun ya latujarisuhum falaisa lillahi bihim hazahh )

Di akhir zaman akan datang kepada ummat ku akan datang ke masjid masjid mereka duduk padanya dengan berlingkaran lingkaran, dzikir mereka adalah dunia, cinta dunia, artinya duduk di masjid tapi yang di bahas, di ceritakan, adalah dunia, berkisah-kisah dunia, maka janganlah kamu duduk dengan mereka, karena Allah subhanahu wa ta'ala tidak mempunyai hajat dengan mereka, 

Menit 34 20 


Tidak ada komentar:

More Article about this Blog