Allah ta'ala berfirman : pada surah taha ayat 14
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Dirikanlah shalat, dirikanlah sembahyang untuk mengingat aku, sehingga mengingat Allah subhanahu wa ta'ala di dalam shalat itu merupakan bahagian daripada khusu', kemudian para ulama menerangkan atau menjelaskan apa yang di maksud dengan khusu' di dalam sembahyang itu, mereka berkata bahwa khusu' itu
( Shukunul jawarih ma'a huduril qolbih)
Tenram, tenang, anggota-anggota tubuh beserta hadirnya hati, nah demikianlah yang di maksudnya dengan khusu'
Nah apa yang di maksud dengan tentramnya anggota itu, artinya anggota tubuh kita tidak bergerak kecuali pada hal-hal yang di perintahkan, kepala, tangan, mata, seluruh tubuh tidak bergerak kecuali gerakan itu yang di perintahkan ketika shalat.
(Ma'a huduril qolbih)
Makna hadirnya hati itu (anla ya tafakkara illa Fi makna yakuluhu min qiro'atin, aw zikrin, aw du'a, )
Ia tidak berfirkir di dalam sembahyangnya itu kecuali pada makna yang ia katakan, kecuali pada makna yang ia sebut, daripada membaca bacaan alquran, atau dzikir, atau doa, nah itu lah yang di sebut dengan hadirnya hati, atau menghadirkan hati ketika shalat
Contohnya : وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ
Nah, sewaktu kita membawa wajjahtu wajhiya, itu hati kita memikirkan apa yang kita baca, (wajjahtu wajhiya) aku hadapkan wajahku, (lilladzi fatarossamawati Wal ardi) bagi tuhan yang menciptakan langit dan bumi
Sehingga hati kita ni memikirkan apa yang di baca oleh mulut kita, demikian lah yang di namakan hadirnya hati, adapun lagi contohnya ketika kita membaca alfatihah :
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
maka kita pikirkan apa yang kita bacakan oleh mulut kita itu, kemudian hati kitapun sama, kadang syaitan ni sering masuk membawa kita untuk memikirkan hal-hal dunia, dan adapun syaitan itu membawa kita untuk memikirkan prihal akhirat, walaupun itu baik, akan tetapi tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang kita baca maka lebih berhati-hati lah kita.
Sehingga setiap apapun yang kita ucapkan maka hendaklah kita hadirkan hati kita kepada Allah untuk menghadirkan di dalam hati kita apa yang kita bacakan itu, itu lah yang di sebut dengan hadirnya hati
Adapun contohnya dzikir seperti pada saat kita rukuk :
Subhana Rabbiyal 'azhimi wa bihamdih, maka pikiran lah apa yang kita bacakan itu kemudian hadirkan di dalam hati kita juga
Adapun doa seperti :
رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى
Artinya: "Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku"
Sehingga hadir hati itu maksudnya ialah bahwa kita tidak berfirkir kecuali pada makna yang ia ucapkan baik itu mebaca Al-quran, dzikir, doa
Sama halnya ketika kita membaca assalamualaika ayyuhannabiyu warahmatullah, maka hadirkan lah hati seakan-akan Rasulullah hadir pada saat itu, adapun kalau kita tidak, seolah-olah kita yang hadir di dalam Rasulullah, nah demikianlah namanya hadirnya hati
Sehingga ingat kepada Allah merupakan bahagian daripada khusuk, artinya dirikanlah shalat itu mengingat aku, dan kedudukan khusu' di dalam shalat imam ghazali mengatakan bahwa khusu'itu merupakan syarat sah shalat, dan kemudian pendapan yang lain mengatakan bahwa khusu'itu adalah merupakan sunnat mu'akkad daripada sembahyang.
sehingga ketika seseorang itu ketika shalat tidak khusu'maka shalat nya itu sah akan tetapi kurang saja pahalanya, adapun lagi yang mengatakan bahwa tidak mendapatkan pahala, karena khusu'itu merupakan ruhnya shalat.
Apakah khusu'itu di syaratkan di dalam shalat kita, maka para ulama pun tidak mensyaratkan, akan tetapi kalau ada yang bisa khusu'dalam seluruh sembahyang nya alhamdulillah, akan tetapi kalau kita contohnya mulai daripada allahu Akbar, sampai Salam, jelas tidak bisa kita sepenuhnya khusu, kalau ukuran manusia seperti kita ni, karena namanya hati kita ni sering bolak-balik, adapun tergesek, kita balikkan lagi, tergeser lagi kita balikkan lagi
Nah yang penting itu khusu'di dalam shalat itu ujar sebahagian ulama ada beberapa Hal :
1. Pada saat kita takbiratul ihram
2. Rukuk
3. Sujud
Maka perhatikanlah beberapa keadaan itu, jangan kita tidak khusu', tidak fokus, ataupun tidak sadar
Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquranul karim : 205
وَلَا تَكُنۡ مِّنَ الۡغٰفِلِيۡنَ
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai, nah Ini pengertian jangan artinya tegahan, penegasan jangan sampai kita sembahyang itu lalai, mulai Allahu Akbar sampai Salam artinya musti kita usahakan sebaik-baik kita sadar dalam shalat yang kita dirikan itu, sehingga nasihat yang bisa kita ambil bahwa janganlah kita ni sampai lalai dalam shalat kita
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam suruh An-Nisa ayat 43 :
لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
Dan janganlah kamu mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, nah Ini ayat sebenarnya di turunkan kepada orang-orang yang minum arak, karena awal-awal Islam minum Arak itu di bolehkan, pada akhirnya di larang keras, dah pada awal-awal mereka masuk Islam Arak masih di bolehkan, sehingga mereka habis minum Arak dalam keadaan mabuk di bawalah sembahyang, kadang-kadang jadi ngawur lah shalatnya
Yang musti memuji Allah malah memuji yang lainnya, ya namanya juga dalam keadaan mabuk, lalu Allah menurunkan ayat ini, janganlah kamu mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan artinya sadar.
Kemudian ada yang mengatakan mabuk karena banyaknya susah, adapula yang mengatakan mabuk karena cinta dunia, Wahhab bin munabbih berkata yang di maksud kan dengan mabuk itu ialah dzohirnya, yang di dalamnya terdapat peringatan atas mabuk dunia, karena Allah menjelaskan sebabnya pada ayat ini
حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ
Sehingga kamu mengetahui apa yang kamu katakan, banyak di antara kita tidak mabuk Arak, akan tetapi tidak tahu apa yang ia katakan Karena hatinya ntah kemana, nah yang di maksud mabuk itu bukan hanya mabuk Arak, bahkan mabuk apapun yang menyebabkan kita lupa terhadap apa yang kita baca, tidak sadar dengan apa yang kita kerjakan maka di hukumnya mabuk jua
Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat dan ia tidak minum khamar, akan tetapi ia tidak mengerti apa yang ia bacakan ketika shalat itu
Nah kemana sebabnya kita itu di dalam shalat tidak mahu menghadirkan hati, artinya hati kita ni sulit, atau tidak bisa menghadirkan hati kita ketika kita sedang shalat itu, apa sebabnya? Karena semua itu pasti ada sebabnya
1. Ada sebab yang dzohir
2. Kedua ada sebab yang bathin,
Sejatinya sebab dzohir itu lebih mudah di kalahkan, mengobatinya daripada sebab yang bathin
Baginda Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist: kalau sudah di hidangkan makanan dan kamu ingin makan, maka dahulukan makan daripada shalat itu, nah ini yang dzohir, karena kalau kita ni pada saat tersebut ke pinging sangat makan lalu kita dahulukan shalat, kita bawa sembahyang jelas sudah itu akan mengganggu shalat kita, yang di khawatirkan hati kita akan terbayang makanan itu, nah itu lah sebab yang dzohir, maka dahulukan makan
Mangkanya makhruh ketika kita shalat tetapi hati kita ni sedang berhajat, ntah itu makan, atau Hal lain sebagainya, kenapa sebabnya karena ini mengganggu hati, mengganggu pikiran, nah demikianlah sebab yang dzohir.
Kemudian sebab yang bathin itu contoh hubbuddun ya, orang yang hatinya di penuhi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, nah ini orang sembahyang macam mana pun di khawatirkan tidak khusu', karena pikirannya selalu memikirkan dunia, nah ini yang sebab bathin ini yang sulit mengobatinya.
Sehingga mulutnya berdzikir, mulutnya berdoa, mulutnya membaca alquran, tetapi hatinya tidak memikirkan apa yang ia ucapkan, maka tidak hadir hati namanya itu, karena hadirnya hati itu sangat penting
Sehingga orang yang khusu'itu adalah orang yang tahu setiap keadaan yang ia lakukan di dalam shalatnya itu, contohnya seperti oh aku sedang membaca alfatihah, aku sedang rukuk, sedang sujud, aku sedang di rakaat pertama, aku sedang di rakaat yang kedua, sehingga khusu'itu menjaga diri kita daripada kelalaian-kelalaian di dalam shalat kita
Baginda Rasulullah bersabda : (man sholla rak'ataini lam Yu haddist nafsahu, bihima, bisyai'in minaddun ya, hufirolahuma taqoddama minjanbih )
Barang siapa shalat Dua rakaat, dimana ia tidak berbicara dalam dirinya, dalam hatinya, maka ia di ampuni dosanya yang telah terdahulu, artinya shalat itu mulai dari takbiratul ihram sampai Salam, kita fokus, tidak ada sedikitpun kita memikirkan dunia, tidak membicarakan masalah dunia, InsyaAllah kita akan mendapatkan pahala daripada Allah subhanahu wa ta'ala.
Imam ghazali mengatakan : khusu'dalam sembahyang adalah fadilat yang mengarahkan kita kepada dzatnya (ruh)nya shalat sehingga sangat di anjurkan kepada kita untuk benar-benar mendirikan shalat dengan sempurna
Baginda Rasulullah bersabda:
( Innamassholatu tamasnuhun watawaddhu'un wa tadhorru'un wa ta awwuhun, wa tanadumun watadda'u yadayka watakulu Allāhumma Allāhumma Allāhumma famanlam yaf'al wahiya khridazun)
Artinya shalat itu hanyalah ketenangan, shalat itu ketenangan, tidak boleh terburu-buru, tergesa-gesa, shalat itu adalah ketenangan
Sembahyang itu merendahkan diri, setiap Kali kita mengucapkan Allahu Akbar, allahu Akbar, Allah Maha besar, nah itu mengambalikan kepada diri kita ni hanya hamba, diri kita ni rendah, Hina, kita ni orang yang kecil, nah sehingga shalat itu ada tawadhu nya,
mendekatkan diri kepada Allah, merapati kesalahan, dosa-dosa kita kepada Allah, maka kita pun mengucapkan ya Allah ya tuhan kami, ampunkan kami.
Nah barang siapa yang tidak melakukan itu di dalam shalatnya maka shalat itu kurang, shalatnya itu tidak tenang, shalat itu tidak ada tawadhu nya, shalat itu tidak ada rasa mendekatkan diri kepada Allah, shalat itu tidak ada ratapannya, shalat itu tidak ada penyesalannya, maka sembahyang itu di anggap khridazz, kurang
Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam hadist qudsinya yang di ambil dalam kitab-kitab terdahulu.
Tidaklah orang yang shalat aku terima shalatnya, tidak setiap yang sembahyang aku terima shalatnya kata Allah, aku hanya lah menerima shalat orang yang merendahkan diri karena keagunganku, dan tidak sombong terhadap hamba-hamba ku, ia memberi makan orang fakir kelaparan karena mengharapkan keridhaanku
Nah jadi artinya shalat kita ini khusu'semacam saja tidak cukup, artinya tidak lengkaplah masih terganjal, dan masih belum sempenuhnya di terima oleh Allah, shalat yang kita kerjakan ini, Allah bisa menerima shalat kita berhubungan dengan kelakuan-kelakuan kita, akhlak kita di luar sembahyang, kalau kita ni masih sombong kepada hamba Allah, kita tidak perduli kepada orang fakir yang kelaparan, kita sembahyang ni walaupun khusu' Allah tidak menerikan shalat kita
Sehingga sembahyang bukan hanya khusu' yang di perlukan, akan tetapi akhlak- akhlak kita ni sangat menentukan di terima nya sebuah sembahyang yang kita kerjakan itu
Baginda Rasulullah bersabda:
( Innama hurizzati sholatu waumira bilhajji, watawwab, washirotil manasiku, li uli iqomatizzikrillahi ta'ala
Artinya : di fardhukan shalat, di perintahkan haji dan tawwab, dan di syiarkan, ibadah-ibadah itu hanyalah untuk menegakkan supaya kita ni ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka apabila di dalam hatimu tidak terdapat, tidak terdapat bagi yang di ingat (Allah) do dalam hati kita maka hal tersebut di khawatirkan sia-sia
Dan Baginda Rasulullah bersabda kepada orang yang ia beri wasiat,
Ujar nabi kita (waija shollaita fasholli solata muwaddi'in)
Artinya apabila kamu shalat maka shalatlah seperti orang yang mahu berpamitan, meninggalkan, yakni meninggalkan dirinya, meninggalkan Hawa nafsunya, dan berjalan lah menuju Allah
Nah, sembahyang lah kamu sebagaimana kamu itu hendak menyucapkan Selamat tinggal, artinya apa kita sembahyang dzuhur, kita berkeyakinan, kita nerprinsip, bahwa dzuhur ini adalah akhir kita ni hendak melaksanakan shalat, waktu asar nanti kita belum tahu sampai umur atau tidak, nah ini salah satu cara untuk membuatkan khusu' di dalam shalat
Contoh: aku ni hendak sembahyang asar, nah asar ni aku rasa terakhir ku shalat, karena sembahyang magrib belum tahu, siapa yang tahu dan bisa menjamin atas dirinya bahwa nanti magrib dia bisa sembahyang? Nah pada saat kita sembahyang asar itu pasti kita akan sangat hati hati, karena rasa nya yang demikian, itulah pesan Baginda Rasulullah kepada seseorang
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquranul karim pada surah al-insiqaf ayat 6
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ
Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Tuhanmu , maka pasti kamu akan menemuinya
Allah ta'ala berfirman di dalam surah albaqorah 282 :
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ
Bertaqwa kepada Allah, dan Allah mengajarmu albaqorah ayat 223
وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.
Baginda Rasulullah bersabda:
( Manlam tanhamu sholatuhu 'anil fahsya Wal munkar, lamyazdad minallahi illah bu'dah)
Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya daripada kekejian dan kemungkaran, maka tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauh
Contoh: orang ini shalat, setiap hari sembahyang, tapi kemungkarannya tetap jalan jua, sembahyang tidak pernah ketinggalan, mungkarnyapun tidak pernah ketinggalan juga, nah orang ini sebenarnya makin hari makin jauh dengan Allah subhanahu wa ta'ala bukan makin mendekatkan diri kepada Allah
Artinya sembahyang yang ia kerjakan itu tidak di terima oleh Allah, karena shalat yang di terima oleh Allah pasti akan mencegah diri kepada melakukan perbuatan mungkar, karena hatinya sudah di jaga oleh Allah, orang yang benar dalam shalatnya tertutup mulutnya daripada berkata-kata yang tidak baik, orang yang benar-benar mendirikan shalat itu tercerah seluruh anggota tubuhnya untuk berani melakukan perbuatan-perbuatan dosa kepada Allah, karena shalat itu bentuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan perbuatan dosa akan membuatkan kita lalai kepada Allah
Dan adapun lagi seperti mulut, mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh badan kita ini, kalau kita mengaku benar-benar beriman kepada Allah, bener-benar mendirikan shalat, maka tertutup lah semua perbuatan-perbuatan dosa atas seluruh anggota tubuh badan kita, kalau masih saja suka mendengarkan dosa, melihat dosa, melakukan perbuatan dosa berarti itu petanda bahwa ada yang kurang pada saat kita melaksanakan shalat itu, belum sepenuhnya di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Shalat itu adalah bentuk munajat kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga sangat di perlukannya khusu' itu pada saat kita shalat sehingga kita mendapatkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala dan mendapatkan kedudukan yang baik di sisi Allah, tapi kalau hanya shalat saja tidak ada khusu'nya, berarti kita ni hanya melepaskan kewajiban kita saja
Pada saat shalat itu, kalau terlalu panjang tapi tidak khusu'lebih baik pendek tapi khusu', karena Baginda Rasulullah pernah menasihati sayyidina mu'az, pada saat itu sayyidina mu'az menjadi imam, dan membaca ayat yang panjang-panjang sehingga makmum di belakang marah kepada beliau, akhirnya mereka melapor kepada Baginda Rasulullah, dan Baginda rasul pun memanggil beliau, pesan rasul kalau hendak sembahyang menjadi imam (pal yukhroppid) entang-enteng, jangan terlalu panjang, karena melihat kondisi di belakang, ada orang yang sudah tua, ada orang yang tidak tahan berdiri lama-lama, barangkali di belakang ini makmum ini banyak kekurangan-kekurangannya sehingga hatinya akan terganggu
Dengan imamni yang sangat panjang bacaannya, surah sehingga di khawatirkan akan mengurangi kekhusukan di dalam shalat, apalagi berjamaah, supaya bisa menambah kekhusukan itu, contohnya seperti imam shalat jum'aat ni jangan sampai membaca surah yang sangat panjang sehingga makmum nanti akan terbisik di hatinya, karena kekurangan yang tidak bisa kuat lama untuk berdiri, maka akan mengurangi daripada ke khusu'kan itu. Nah kalau sembahyang seorangan terserah lah mau sepanjang apapun itu, sejuz, silahkan
Sehingga kita ni bukan hanya di suruh untuk khusu'akan tetapi orang lainpun kita usahakan juga untuk bisa sama sama khusu' contohnya seperti makmum
Bakar bin Abdullah berkata : hai anak Adam apabila kamu mau masuk kepada tuanmu tanpa izin dan kemudian kamu berbicara dengan tuanmu tanpa penerjemah, maka kamu dapat masuk, lalu di tanyakan bagaimana kah Hal itu, lalu di jawab kamu sempurnakan wudhu'mu dan kamu masuk ke mihrab mu, maka ketika itu kamu telah masuk kepada tuanmu tanpa izin dan kamu berbicara pada tuanmu tanpa penerjemah
Artinya sembahyang itu adalah kita menemui Allah, kita shalat itu berarti kita menemui Allah, kita bermunajat kepada Allah, berdialog kepada Allah, minta sesuatu kepada Allah dalam shalat kita itu
Dari Aisyah Radiallahu anhuma berkata : bahwa Baginda Rasulullah berbicara kepada kami dan kami berbicara kepadanya, (artinya berdialog) apabila datang shalat, maka seolah-olah beliau tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal-Nya, karena sibuk untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah azza wa jalla
Artinya Baginda Rasulullah di kisahkan ketika hendak sembahyang, maka beliau tidak lagi fokus kepada kami, kamipun demikian, hanya fokus kepada keagun Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga yang lainnya tidak terhiraukan. Sangkin tingginya rasa kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, takutnya kepada Allah
(La yanzurullahi ilassholatin, layuh zirurrazulu fiha qolba
Ma 'a badahini, )
Allah tidak memandang shalat seseorang, kepada shalat seseorang yang padanga ia tidak menghadirkan hatinya bersama badannya,
Artinya kalau kita sedang shalat, contohnya kita shalat berjamaah di masjid, tapi hati kita ni ntah kemana perginya, ada yang ke rumah, ke pekerjaan, kadang-kadang memikirkan hal-hal di luar sembahyang kita itu, nah, di khawatirkan Allah tidak memandang shalat kita itu, tidak mendapat nilai di sisi Allah, sehingga kita di anjurkan untuk berusaha menghadirkan hati kita pada saat kita sedang melaksanakan shalat dan akan mendapatkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta'ala
Baginda Rasulullah bersabda
( Laisya lil 'abdih min sholatihi ila ma'akola Minha )
Tidak ada shalat bagi seorang hamba dari sembahyang yang ia kerjakan itu melainkan yang ia sadar daripada shalatnya
Sehingga Allah hanya menilai shalat kita itu kalau kita ni ingat kepada Allah subhanahu wa ta'ala,
Ibrahim alkhalil alayhissalam
nabi Ibrahim, apabila berdiri untuk shalat maka terdengar detak jantungnya pada Dua mill, karena takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Sya'id attanukhi
Apabila shalat maka tidak terputuslah air mata daripada kedua pipinya, (artinya beliau menangis sangat takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Baginda Rasulullah
Melihat seseorang bermain-main dengan janggutnya di dalam shalat lalu Baginda rasul berkata :
( Lau khasya'a kholbu Haza La khasya'at jaawarihuhu )
Artinya seandainya hati seseorang ini khusu' niscaya anggota-anggota badannya itu khusu'
Jadi para aulia-aulia terdahulu, kekasih-kekasihnya Allah, mereka sembahyang nya itu, tidak sama satu sama lainnya, ada yang sembahyang itu senang gembira, hatinya nyaman karena ingin menghadap kepada Allah, adalagi yang selalu sedih, menangis, membasahi janggutnya, nah ini kenapa berbeda, tuhan yang di sembah sama, apa bedanya, beda maqom kedudukannya
Yang pertama kedudukannya di sebut
( 'u budillah ka Anna ka Tara)
Beribadahlah engkau kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah subhanahu wa ta'ala
Sehingga orang yang paling lezat kenikmatannya adalah orang yang bisa melihat Allah, nanti di dalam syurga, sehingga ketika nanti kita berjumpa dengan Allah di syurga itu adalah punjak dari segala macam kenikmatan yang ada di syurga kelak, nah jadi sembahyang kamu seolah-olah engkau melihat Allah, ataupun sebaliknya nah jadi nyaman artinya, serius, bersemangat, tidak main main ini,
Kemudian yang kedua
( fa'illam takun taro fahuwa yaro)
Sehingga kalau orang macam awam macam kita ni tidak bisa merasakan seolah-olah melihat Allah, maka ambil yang kedua, Allah melihat engkau, nah kalau shalat yang kita kerjakan ini kita rasa bahwa Allah sedang melihat aku, maka bisa gugup sembahyang nya, ada yang menangis, kita pun musti berhati-hati dalam setiap gerakan shalat kita, karena semuanya tidak terlepas daripada pantuan Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga hatinyapun takut untuk berpaling kepada Allah, karena ia sadar bahwa Allah mengetahui isi hatiku
karena ini sedang menghadap atasan ini, menghadap Allah yang memberikan kita nikmat sehingga kita ni bisa bernafas, nah itu perbedaan-perbedaan para aulia-aulia terdahulu para kekasih-kekasih Allah, orang yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Diriwayatkan bahwasanya hasan albasri, melihat kepada seseorang yang bermain-main dengan kerikil, di main di tangan, di putar-putar,
Dan iapun berdoa ya Allah kawinkanlah saya dengan bidadari, tapi tangannya sambil bermain kerikil, melihat itu lalu beliau Hasan albasri berkata : seburuk-buruk peminang adalah kamu, seburuk-buruk pelamar bidadari adalah kamu, kamu meminang bidadari padahal kamu bermain-main dengan kerikil, artinya ia berdoa kepada Allah tapi hatinya ntah kemana, malah tangannya bermain-main dengan kerikil tidak merasa bahwa Allah melihatnya, mendengarkan doanya itu
Khrallab bin Ayyub
Dikatakan kepada khrallab bin Ayyub, tidak kah lalat itu menyakitkan kamu dalam shalat lalu kamu tolak, ia menjawab, saya tidak membiasakan diriku daripada sesuatu yang merusak shalat ku, di tanyakan, bagaimanakah kamu sabar terhadap Hal itu,
Artinya : beliau ini, khrallab bin Ayyub, sembahyang, kemudian lalat hinggap kepada beliau, kemudian beliau tidak mengawaskan lalat itu daripada dirinya, atau memukulnya, atau mengkibah kibahkannya, maka di tanyakan kepada beliau, kepada engkau bisa tahan, membiarkan lalat itu, ia menjawab, telah sampai kepadaku bahwa orang fasik itu sabar terhadap cambuk-cambuk sultan agar di katakan pulan itu sabar, dan mereka berbangga akan Hal itu
Sedangkan saya berdiri di hadapan tuhanku, di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala, apakah saya bergerak karena lalat itu, artinya beliau tidak berani menepuk lalat ataupun nyamuk yang hinggap kepada dirinya karena sangatkan takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala, tidak boleh bergerak kepada sesuatu yang di suruh oleh Allah subhanahu wa ta'ala, nah demikianlah bentuk gambaran daripada khusu'jua namanya.
Muslim bin yasar
Apabila ia mahu shalat maka ia berkata kepada keluarganya berbicaralah kalian sesungguhnya saya tidak mendengarkan kalian, artinya tidak memikirkan keluarganya hanya fokus kepada shalat nya itu, hanya memikirkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Kemudian di lanjutkan lagi Riwayat yang lain, ia pergi shalat ke masjid berjamaah, satu bagian daripada masjid itu runtuh, lalu orang-orang berkumpul karena itu, tapi ia tidak mengetahui nya, Muslim bin yasar tadi, karena sangat mentakzimnkan, sangat mengagungkan kebesaran daripada Allah subhanahu wa ta'ala, nah demikian lah merupakan daripada bahagian khusu'
Sehingga kekhusukan itu tidak akan bisa kita dapatkan kalau tidak melalui ilmu dan latihan, jadi musti ada ilmunya, paham, mengerti serta di tambahkan dengan latihan-latihan, makna-makna yang kita baca saat shalat itu, sehingga dengan demikian kita berharap bisa mendapatkan fadilat daripada khusu' di dalam shalat itu InsyaAllah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar