Pages

Rabu, 08 Mei 2024

Al Qur'an / 26. as - syuara'a / hlm. 33

Bismillahirrahmanirrahim, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang dimana sampai saat ini kita masih di berikan begitu banyak nikmat, semisal nikmat hidup dan nikmat kesihatan, terkhusus juga nikmat iman dan Islam, maka tak lupa lah kita senantiasa mengucapkan Alhamdulillah

Shalawat serta salam tak putus-putusnya kita panjatkan kepada junjungan kita yakni Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mudah-mudahan dengan shalawat yang senantiasa kita bacakan itu kelak di akhirat nanti kita bisa mendapatkan pertolongan dari Allah dan syafaat daripada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam aamiin ya Allah aamiin ya rabbal alamin

_________

(As shadisu Wal isrun min shuwaril Qur'an, suratus syu'ara) surah yang ke 26 daripada surah yang ada di dalam Alquran, yakni surah yang bernama assyu 'ara 

ini sudah (makkiyyatun), di turunkan Allah kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa ta'ala sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah, (Wa ayatuha) Dan ayat-ayat ( sab'un wa isrun wa mi'atani)berjumlah 227 ayat, 

surah assyu 'ara ini banyak memberikan tentang kisah-kisah para Ambiya, tentang dakwah mereka, halangan dan rintangan yang di tempuh oleh para nabi-nabi dan rasul-rasul dalam berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta'ala, di dalam surah ini ada di sebutkan tentang nabi Musa 'alayhissalam dan kaumnya, nabi Ibrahim, nabi shaleh, nabi syu'aib, dan nabi yang lain-lainnya 

Dan berakhir dengan kemenangan para Ambiya, dan kekalahan, kehancuran orang-orang yang memusuhi Allah atau ingkar kepada mereka, dan di dalam surah ini juga banyak pula mengandung petunjuk kepada kita agar tetap berada di jalan yang lurus, berisi perintah dan larangan dari Allah subhanahu wa ta'ala, yang kesemuanya itu adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan orang-orang yang beriman kepada Allah 

Di antaranya nasihat bagi orang-orang yang berdagang yang berusaha, Allah menyampaikan di dalam Alquran pada ayat 181 dan seterusnya 

Allah memberikan petunjuk kepada para pengusaha, kepada para pedagang, (auful Kayla) sempurnakan takaran, ini bagi berjualan memakai takaran, maka kata Allah sempurnakan takaran, ( wala takunu minal mukrhsirin) dan kamu jangan sekali-kali menjadi orang yang mengurangi takaran 

Dan timbang lah dengan timbangan yang benar, kalau kamu berjual beli dengan memakai timbangan, maka gunakanlah dengan timbangan yang Mustaqim, timbangan yang lurus, timbangan yang benar 


(Wala tabkhrusunnasa Asiya ahum) Dan jangan kamu mengurangi atau merugikan daripada hak-hak itu manusia ( wala tak saw filaedhu mufsidin) dan jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi

Orang-orang yang mengurangi takaran, mengurangi ukuran, mengurangi timbangan, itu termasuk golongan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi

Berkaitan dengan ayat tersebut, kita mengutip daripada perkataan Al imam Al-Ghazali rahimahullah wanafa'ana bi 'ulumih, ( 'arba'atun ya zurrul ba'iq) ada 4 perkara yang membuatkan seorang pedagang itu menjadi rugi dunia akhirat, dan ini satu kewajiban yang musti di ketahui oleh para pedagang, nah apa 4 perkara itu?

1. ( As sanah) Memuji barang yang di jual, contohnya ini barangnya bagus, pujian-pujian kepada barang, sehingga orang yang awalnya tidak tertarik menjadi tertarik, karena itu pujian bukan karena barangnya 

2. ( Fa in washofahu lisil'athi li 'in kana bima laysa fiha fahuwa kizzbun wa talbisun wa julmun ) jikalau pada saat ia memuji itu, dan pujian itu tidak ada pada itu barang, maka itu namanya dusta, menipu, kedzoliman

(Wa in Asna bima fiha fahuwa hazayan, wa takalluqun bima bi kalamin la yaknih, wahuwa hasabun alayhi) jikalau pujiannya itu benar, memang ada pada barang itu, kemudian di pujinya, maka itupun perkataan yang sia"

Nah lain hal nya kalau kita ini menjelaskan kepada calon pembeli itu keistimewaan, dan kelebihan, kekurangan suatu barang yang hendak kita jual ini, supaya pembeli ini tahu, nah ini tidak jadi masalah, ini maksudnya kita jujur ada kekurangan dan keismewaan dari barang yang kita jual ini kita sampaikan kepada pembeli 

3. ( La siyya mal halqu Billah ) Dan jangan berani sekali-kali hendak bersumpah atas nama Allah, ini berbahaya, semisal ada pedagang, Wallahi memang segitu harganya, wallahi, rugi aku nanti kalau di tawar harganya segitu, nah ini orang sudah luar biasa, menjual nama Allah untuk kepentingan jualannya, kalau hendak berjualan, jual aja, kepada hendak bersumpah-sumpah atas nama Allah, ini yang tidak baik 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda 
( Waylun littazir min bala wallah) celaka / neraka bagi para pedangang yang selalu bersumpah, wallah, Billah, demi Allah, celaka bagi mereka itu dan celaka bagi tukang, nah ini umum, yang mereka ini selalu mengatakan esok esok, datang orang hendak mengambil barang, ujarnya besok saja, datang lagi orang itu besok, ujarnya belum siap, besok ya, artinya mengingkari janji dan menyusahkan orang lain, nah ini perhatian bagi penyedia jasa, sebaiknya perjanjian itu hendaknya di perhitungan sehingga orang yang hendak mengambil barang itu tidak bolak-balik

2. Yang memudaratkan pedagang itu ujar Al imamul Ghazali mengatakan (khidmanul wuyyub) menyembunyikan kerusakan cacat pada barang atau benda yang hendak di jualnya, 

(Qolan nabi shalallahu 'alaihi wa salam, la ya hillu Li 'ahadin yabi'u Bai'an illa ayyubayyina afatahu rowahu Baihaqi) kata nabi tidak halal seseorang itu menjual sesuatu kecuali dia terlebih dahulu menjelaskan kekurangan pada itu barang, nah ini kalau kita mengetahui kekurangannya, tapi kalau kita tidak tahu maka tidak di tuntut 

( Yajibu 'alal ba'i ayyuzhira jami'a uyubil mabik khrofiyyiha, wazalijiha, walayaktuma minha Syai'a , fa'in akhrfaa kana dzoliman khrossya ) 

wajib atas penjual itu membuka, menerangkan seluruh aib pada barang yang hendak di jual, baik kekurangan barang itu tersembunyi maupun yang tampak jelas, dan tidak boleh penjual itu tidak boleh menyembunyikan sedikitpun daripada kekurangan ini barang, manakala ia menyembunyikan kekurangan itu barang maka ia telah melakukan perbuatan dzolim dan menipu orang 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam mengatakan ( man khrossya falaisaa Minna ) orang yang menipu itu bukan termasuk golongan kami, nah kami berhati-hati kirain ni hendak menjadi pedagang 

3. ( Tadfiful kail, Wal Mizan, wazziro ) 
Mengurangi takaran, timbangan dan ukuran ( fal ihtiyatu fiha) wajib ihtiyat dalam menakar, menimbang, mengukur hukumnya wajib artinya melebihkan sedikit daripada pas, contohnya ada orang beli, kita ini menjual kain 1 meter, maka kita lebihkan sedikit

( Qolan nabi shalallahu 'alaihi wa ta'ala, Lil ba'i alladzistaro minhu zin wa arzih ) dahulu nabi kita ini pernah pergi ke pasar hendak menukar sesuatu kepada pedagang, ujar nabi kepada pegadang, Dzin wa arzih, timbang dan menangkan timbangannya, musti ada lebih sedikit, kartu itu selamat, lebih baik kita melebihkan sedikit daripada kurang 

Di dalam manaqib di sebutkan 


4. ( Al kizbu bissi'ir ) Dusta dalam harga 
( innad tudzar yub'asyuni yaumal kiyamah fudzar
Illa manittakallah, wa barro wasshodaq )
Kata Rasulullah pedagang-pedagang itu nantinya akan di bangkitkan pada hari kiamat sebagai orang yang fasik, kecuali pedagang yang taqwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur itu yang selamat 

Di dalam hadist Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan
( albayyi 'ani iza shodaqo wanasoha burika lahuma fi bay'ihima, Waiza Katama wakazzaba nuzi'at barokatu bay'ihima muttataq alaihi ) 

Pembeli dan penjual itu apabila keduanya jujur, nah pembeli inipun musti jujur juga, duit yang rusak jangan hendak di kasikan, penjual bila mana jujur,  pembeli jujur dan kedua-duanya hendak bermaksud baik, maka akan di berkati Allah jual beli keduanya, tapi bila kedua-duanya ini menyembunyikan sesuatu yang tidak baik, maka akan di cabut Allah berkah atas jual beli itu 

Nah di cabutnya Allah berkah ini bukan hal yang sepele, apabila duit hasil jual beli ini di cabut berkahnya dari Allah, maka itu akan mengarah kepada perkara yang kurang baik, yang Menjauhkan diri kita daripada Allah 
bah ini lah penting berkah itu 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa ta'ala mengatakan di dalam hadist ( fattaqullah, wa azmilu fittalaq) taqwalah kepada Allah wahai para pedangang dan bagus-bagus lah dalam mencari rezeki itu, 

( azmilu fittalaq) elok-elok lah dalam mencari rezeki, karena rezeki tidak akan bertambah dari sesuatu yang sudah di takdirkan Allah, dan tidak pula berkurang daripada ketetapan Allah, rezeki yang sudah punya kita pasti akan sampai kepada kita, pembeli yang hendak membeli barang jualan kita pasti akan sampai kepada kita, pembeli yang bukan takdirkan membeli barang kita bagaimanapun usaha kita pasti ia akan membeli di tempat yang lain, jadi santai aja, tawaqqal aja sama Allah

Qolan nabi shalallahu 'alaihi wa salam 
( Attazirusshodiq Al amin wa'annabiyyin wasshiddiqin wassyuhada rowahut Tirmidzi) 
Pedagang yang jujur, pedagang yang di percaya, pedagang yang benar, di hari kiamat nanti akan di kumpulkan bersama para Ambiya, para shiddiqqin dan bersama para syuhada 

nah demikianlah petunjuk dan arahan yang sudah di sampaikan oleh Allah kepada kita dalam hal jual beli, tata cara dan aturan kalau hendak menjadi pedagang yang baik, nah bagi kita yang selama ini ada kesalahan dalam berjual ini, mungkin dalam berjual beli pernah memuji, dalam berjual beli pernah melakukan sumpah dan dusta dalam harga, dalam jual ini pernah menyembunyikan aib, dan dalam jual ini kita pernah mengurangi takaran timbangan dan ukuran, 

Maka wajib baginya bertaubat kepada Allah, dan minta halal, minta ampun bagi orang-orang yang pernah di tipunya, itu kalau kita ingat orang-orangnya, tapi kalau sudah lama berpuluh-puluh tahun kita tidak ingat lagi, maka caranya adalah kita sisihkan sebahagian harta yang kita punya kemudian kita berikan kepada orang-orang fakir miskin, kepada kaum muslimin dan muslimat yang memerlukan, atau infaq wakaf, sedekah, niatkan pahalanya untuk orang-orang yang selama ini pernah aku dzolimi, yang selama ini pernah aku tipu dalam hal jual beli, bertaubat dan minta ampun kepada Allah 

Nah itu bertujuan agar kita ini selamat nanti di akhirat, Karna ini dosanya menyangkut kepada manusia musti benar-benar bertaubat, dengan demikian adalah sedikit harapan kita agar Allah subhanahu wa ta'ala memberikan ampunan dosa-dosa kita yang telah lalu itu, insyaallah 
























Tidak ada komentar:

More Article about this Blog