Pages

Jumat, 02 Agustus 2024

Al-Qur'an/ 49. Surah Al Hujurat / hlm. 57


Bismillah wal hamdulillah segala puji syukur kita haturkan kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang mana hingga sampai saat ini begitu banyak nikmat yang sudah di berikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita semuaan ini maka tak lupalah kita untuk senantiasa mengucap Alhamdulillah, shalawat serta salam tak lupa juga kita hadiahkan kepada junjungan kita yakni Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam semoga dengan shalawat yang senantiasa kita bacakan itu mendapatkan pertolongan daripada Allah baik di dunia maupun di akhirat dan kita semuaan ini mendapat syafaat daripada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam Amin ya rabbal 'alamin .

( Attasyi' Wal arba'un min shuwaril qur'an suratul Hujurat)
Yang ke 49 daripada surah-surah Alquran, yaitu surah yang bernama Al Hujurat, ini surah (Madaniyyatun) di turunkan Allah kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam sesudah hijrah dari Mekkah ke Madinah
(Wa ayatuha) Dan ayat-ayatnya berjumlah 
( Shamaniya 'asro) 18 ayat 

( Ma makna Al Hujurat ) Al Hujurat artinya adalah kamar-kamar, di ambil daripada asal katanya mufradhujrah kamar, di sini di jamakkan sehingga menjadi kamar-kamar, maksudnya adalah Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam mempunyai 9 orang istri menurut sebahagian riwayat, dan masing-masing istri beliau itu ada satu kamar, jadi Al Hujurat beberapa kamar, 

Kenapa surah yang ke 49 ini di namakan dengan Al Hujurat, karena pada ayat 4 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquran pada surah ini 

sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau wahai Muhammad dari sebelah kamar, orang-orang yang memanggil engkau dari belakang kamar, kebanyakan mereka itu adalah tidak berakal, 


Andaikata mereka itu bersabar sehingga engkau keluar kepada mereka, niscaya yang demikian itu lebih baik dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang, 

Nah ayat ini menurut para ulama tafsir di turunkan kepada sebahagian daripada kabilah arab, mereka datang kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam, Baginda Rasulullah sedang istirahat, sedang tidur, lalu mereka teriak-teriak di luar, ujar mereka 
( Ya Muhammad ukrh ruz ilay) Ya Muhammad keluar, tiap-tiap kamar di teriaki oleh mereka, nah Allah marah kepada mereka, karena tidak punya ada kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam 

Sehingga Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan di dalam Alquran tadi 

Orang-orang yang memanggil engkau tadi dengan teriak-teriak adalah merupakan orang-orang yang tidak berakal, yang tidak punya adab, andaikata mereka itu bersabar sehingga engkau keluar dan menjumpai mereka, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang 

Nah jadi adab seperti itu bahwa seseorang itu cukup menunggu di depan rumahnya itu lebih baik daripada kita teriak-teriak memanggil orang yang dalam rumah, apabila yang kita datangi itu adalah orang-orang Shalihin, orang-orang para ulama, dan para habaib, maka lebih baik kita duduk menunggu daripada kita mengetuk apalagi memanggilnya dengan berteriak-teriak, 

Di kisahkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, sepupunya Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, nah Ibnu Abbas ini hendak mengaji, menuntut ilmu kepada ubbay bin kaaf, salah satu guru nya, jadi Ibnu Abbas begitu sampai kerumahnya ubbay bin kaaf gurunya, kalau pintu rumah gurunya itu terbuka dan di izinkan masuk maka Ibnu Abbas pun masuk ke rumah belajar, kalau kebetulan Ibnu Abbas datang kerumah gurunya itu pintu rumahnya tertutup, maka Ibnu Abbas duduk di bawah sambil menunggu bahkan kadang-kadang sampai setengah hari, nah macam inilah adab yang di ajarkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita orang-orang yang beriman kepada Allah 

Andaikata kita harus mengetuk pintu rumah yang kita datangi, umpamanya kita tidak sanggup menunggu lama, atau kita sedang dalam keadaan darurat, lalu kita hendak mengetuk juga, maka Allah subhanahu wa ta'ala memberikan pelajaran, memberikan tata cara bagaimana kita hendak masuk ke rumah orang itu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surah An-Nur

Hai orang-orang yang beriman jangan lah kamu sekalipun berani masuk ke rumah orang selainmu sehingga kamu minta izin terlebih dulu kepada mereka, kemudian kamu memberikan salam kepada penghuninya, maka yang seperti itu lebih baik bagi kamu, agar yang demikian itu menjadikan pelajaran dan peringatan bagimu

Nah jadi kalau kita tidak sanggup menunggu orangnya keluar, maka boleh kita ( tas tak nisu) minta izin, nah seperti apa caranya minta izin itu? Ada berbagai macam cara, mulai daripada ( ehem-ehem ) artinya kita ada di luar ni, ataupun mengata ( kita mengucapkan dzikir, atau tasbih ) nah supaya orang yang di dalam rumah ni tahu kalau ada orang di luar, atau mengetuk pintu sama aja, 

Nah begitu pintu di buka ( watusallimu 'ala ahliha ) memberikan salam kamu atas penghuni rumah itu, ataupun biasanya kita ucapkan salam sambil mengetuk pintu sama aja, nah yang demikian itulah merupakan cara dan adabnya kalau kita hendak bertamu ke rumah orang, nah berapa kali kita mengetuk berapa kali kita mengucapkan salam, ketika di luar rumah tadi ? Maka cukup 3 kali, bila sudah 3 kali kita ucapkan salam dan mengetuk pintu orang tak ada yang keluar, maka lebih baik kita balik, lebih baik kita pulang, 

Dan perkara yang demikian ini bukan hanya berlaku kepada kita, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam pun demikian, Baginda Rasulullah begitu hendak ke rumah sahabat beliau, Baginda Rasulullah sampai dan berdiam di hadapan pintu rumah itu, lalu Baginda Rasulullah berkata ( assalamualaikum a'ad krhulu) beliau meminta izin, apakah boleh aku masuk, 3 kali Baginda Rasulullah mengucap yang demikian dan tidak ada jawaban dari rumah maka beliaupun pulang, nah jadi artinya jangan sampai kita macam orang tadi yang teriak-teriak memanggil orang, ini Allah mengatakan perilaku seperti itu ( la yaqkilun) tidak berakal 

Sebagaimana dengan surat-surat yang lainnya maka sudah alhujurat ini juga banyak memberikan petunjuk dan arahan kepada kita untuk bisa selalu berada di jalan yang di Ridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala, antara lain firman Allah di dalam surah ini pada ayat 11 dan 12



Hai orang-orang yang beriman, janganlah meremehkan satu kaum satu kelompok daripada kelompok yang lain, atau satu orang daripada orang yang lainnya, jangan hendak meremehkan, jangan hendak mengolok-olok, mengejek, mentertawakan, barangkali orang yang di olok-olok itu di sisi Allah lebih baik daripada orang yang meremehkan itu 

Dan tidak boleh juga perempuan meremehkan perempuan-perempuan yang lain, barangkali perempuan yang di remehkan itu kedudukannya lebih di cintai oleh Allah daripada perempuan yang meremehkan itu, 

Dan janganlah kamu mencela akan diri kamu, dan janganlah kamu mencaci maki akan diri kamu, nah seperti apa mencaci maki diri kita? Maksudnya itu kita mengejek orang, menghina orang, akhirnya orangpun mengejek kita, menghina kita, 


Dan jangan lah kamu saling memanggil gelar yang tidak di sukai oleh orang yang di panggil, sejahat jahat nama atau panggilan  adalah kefasikan sesudah beriman, dan barangsiapa yang tidak taubat mereka itulah orang-orang yang dzolim


Hai orang-orang yang beriman jauhilah daripada prasangka buruk, sesungguhnya sebahagian prasangka buruk itu akan mendatangkan dosa bagi kalian, dan janganlah kamu suka mencari-cari kesalahan orang dan jangan pula kamu berani menggibah akan sebagain daripada sebahagian kamu, 


Apakah suka diantara kamu memakan daging atau bangkai saudaranya sendiri? Jelas tentu kamu tidak akan suka

Takwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan maha penyayang

Nah didalam ayat tadi pertama Allah melarang kita 
( Istizza) ( Sukriyah) ( Tahkir ala uyubil ghoyir wan naqo'is) Allah melarang kita mengolok-olok, atau menghina dan meremehkan atas kekurangan orang lain, baik kekurangan pada bentuk tubuhnya atau kekurangan pada pakaiannya , atau kekurangan pada agamanya, intinya kalau kita mengejek orang, menghina orang, Allah tidak suka perbuatan yang demikian itu , Allah tidak suka seorang hamba mengejek, menghina, meremehkan, mentertawakan hamba Allah yang lainnya 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda 
( Innal mustahzi'ina finnas Yuftahu li'ahadihim babun minal Jannah fayuqolu, halumma, halumma, fayazi biqarbihi warommih fi'iza 'atahu Ukrhlika dunahu ila akhir rwahubnu abiddun ya) orang yang suka mengolok-olok manusia, dibukakan bagi dia nanti di hari kiamat nanti pintu syurga, ujar malaikat silahkan masuk penghuni syurga, tapi pas giliran dia tidak bisa masuk, nah inilah balasan bagi orang-orang yang suka merendahkan, menghina, mengejek hamba Allah yang lainnya 

_________

2. Kemudian yang ke 2 Allah subhanahu wa ta'ala Allah melarang juga (wala talmizu anpusakum) jangan mencela, mencaci maki hamba Allah, baik Karna dia melakukan satu dosa atau maksiat atau melakukan berbagai macam kesalahan maka Allah melarang untuk mencaci mereka itu, terhadap kemaksiatan kita disuruh benci, tapi bukan bertujuan mencaci maki, perbuatannya itu yang kita benci tapi orangnya jangan kita caci maki 

Al imam al qurtubi mengatakan bahwa
Fala'alla may yuhafizu Alal 'akmali dzohirah, yaklamullaha min qolbihi wasfan mazmumah, latahsihhu ma'ahu tilkal 'akmal, Wala'alla man ro'aina alaiyhi tafritan awmaksiyah,Yaklamullahu min qolbihi wasfam Mahmuda yugrhfarlahu, Yagrhfirulahu bisababihi, 

fall 'akmal ammarotun zhonniyyah La'adillatun khotdiyyah, wayatarottabu 'alaiha 'adamul muluh bi takzimi man ro'ainahu 'alaihi 'af'alan sholihah wa'adamul 'ihtikal Li muslimin ro'aina alaihi 'af'alan sayyi'ah )

Barangkali orang ibadahnya bagus, tapi di hatinya itu ada sesuatu hal, ada sifat-sifat yang menyebabkan ibadahnya di tolak oleh Allah, dan barangkali orang yang kita lihat berbuat maksiat, atau berbuat dosa, barangkali itu orang di dalam hatinya ada sesuatu hal, atau sifat yang terpuji yang Allah ampuni dosanya sebab sifat terpuji itu,

Karna amal dzohir ini hanya merupakan tanda luaran, contohnya ada orang sembahyang bukan pasti dia ini orang yang baik, dan ada orang yang berbuat maksiat atau dosa belum pasti dia ini orang yang jahat, sehingga kesimpulannya tidak perlu lah kita keterlaluan melampaui batas pada mengagungkan orang yang kita lihat baik, barangkali ada di hatinya membuatkan Allah benci dan menolak ibadahnya ( wa'adamul 'ihtikal Li muslimin ro'aina alaihi 'af'alan sayyi'ah )Dan jangan kita sekalipun berani meremehkan, merendahkan, menghina, mencaci maki orang yang berbuat dosa, Karna barangsiapa di hatinya ada sifat yang membuat Allah mengampuni seluruh dosanya 

Orang yang beriman itu ujar Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ( Kal zasadil Wahid ) orang yang beriman itu adalah seperti satu batang tubuh, artinya kita benci kepada perbuatan maksiat itu, dan pelaku maksiat itu jangan di cela, jangan di caci maki, Kan seharusnya di obati, di nasihati orang yang melakukan maksiat itu bukan malah di ejek, di hinakan 
Jangan, Allah melarang yang demikian 

3. ( Attanabuz bil alqob )  Berpanggil panggilan dengan gelar yang tidak di sukai oleh orang yang kita panggil itu, baik gelarnya bagus atau gelarnya itu yang tidak bagus, ini termasuk perbuatan dosa yang di haramkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, misal ada kawan kita suka pakai kopiyah, kemudian datang dia, ujar kita tuan guru datang ni, nah kalau pun itu baik kalau orangnya tidak suka berdosa kita, kawan kita datang kita panggil dengan gelar yang mengejek dia, nah ini berdoa kita Allah tidak suka, ( walatanabazu bil alqob) jangan hendak memanggil-manggil orang yang gelar itu 

4. ( Su'uzzon ) Berburuk sangka, 
(Qolal Mahdawi, wa'aqsarul ulama ala Annal Zonnal Kabih biman zohiruhu alkrhairu, Layazuzzz Wa'annahu 
la haroza fi zonnil kabih Biman zohiruhu kubbehu ) 
Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa sangkaan buruk kepada orang yang Sholeh, orang yang selalu berbuat perkara yang Sholeh kemudian kita sangka buruk maka itu tidak boleh, dan tidak mengapa kalau kita berprasangka kepada orang yang kebiasaannya selalu buruk kita sangka tidak apa", Karna demikian itu sudah ada pada dirinya dan menjadi kebiasaannya 

5. ( Tazassus) Mencari-cari kesalahan orang lain, mencari aib orang, di zaman Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, ada seorang sahabat yang bernama Salman Al farisi , Salman ini punya kawan 2 orang, kebetulan kawan yang 2 orang ini lebih berada kedudukannya daripada Salman Al farisi, sehingga Salman membantu kedua orang tersebut, suatu hari 2 orang tersebut kehabisan makanan, lalu dia menyuruh Salman untuk berjumpa Rasulullah, kalau ada makanan disana minta sedikit untuk mereka 

Nah berangkat Salman kepada Baginda Rasulullah, Salman sampai kepada Rasulullah, ujar nabi aku tidak ada, coba engkau datangi Usamah bin Zaid, barangkali disana ada maakanan, berangkatlah salman, sampai disana ujar Usamah bin Zaid makanan ku habis, maka baliklah Salman kepada 2 orang yang menyuruhnya tadi, aku tadi datang ke rumah Baginda Rasulullah, tak ada, ujar nabi pergi ke rumah Usamah bin Zaid, sampai aku disana habis makanan, akupun pulang, seletah mendengarkan itu dua orang tadi berkata, ah Usamah ini paling ada nya itu makanan dirumahnya, di bilangnya ga ada, yuk nanti kita cek kerumahnya , nah ini sudah berdosa berprasangka buruk di tambah lagi dosa mencari-cari kesalahan orang 

Ibnu Mas'ud pernah di datangkan seorang laki-laki yang di janggutnya ada tetesan bekas arak, datang kepada Ibnu Mas'ud, dan beliaupun melayani orang tadi dengan baik, beliau diam dan tidak berkata apa-apa, nah ini 

6. ( Wala yarghtab bakdukum bakdo)
Dan jangan sekali-kali kamu berani berbuat Gibah, nah untuk Gibah ini cukup dengan 1 hadist Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam yang menyatakan 
( Iyyakum Wal grhibata, fa'innal grhibata 'asyaddu minal zina, fa'innal rozula kod yazni wayatub, Fayatubullah subhanahu alaih, wainnal sohibal grhibah la yagrhfirulahu Hatta yagrhfirulahu sohibuhu rowahubnu Abiddun ya, ) 

ujar nabi kita aku takuti kalian daripada melakukan Gibah, sesungguhnya Gibah itu lebih sulit taubatnya daripada zinah, seseorang laki-laki itu dia berbuat zina, dia bertaubat kepada Allah, maka Allah akan terima taubatnya, tapi kalau orang yang melakukan dosa Gibah, maka Allah tidak akan mengampuni dosanya sebelum dia meminta izin, minta maaf, dan orang yang dia Gibah itu mengampuninya barulah Allah memaafkan dosanya, nah ini beratnya dosa Gibah, harus kita jumpai orang yang kita Gibah itu, harus minta maaf kita, dan kalau di maafkan barulah Allah mengampuni dosa kita







Insyaallah di lain kesempatan kita akan lanjutkan kembali, 15.20









Tidak ada komentar:

More Article about this Blog