Pages

Kamis, 26 September 2024

Alquran / 58. surah Al mujadalah / hlm. 66

Bismillahirrahmanirrahim walhamdulillah 

Terima kasih yang tak terhingga kepada Allah subhanahu wata'ala atas segala macam nikmat yang sudah di berikan Allah kepada kita semuanya ini terkhusus nikmat iman dan Islam, maka tak lupalah kita untuk selalu mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah, 

shalawat serta salam juga di hadiahkan kepada junjungan kita yakni nabi besar Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, mudah mudahan dengan shalawat yang senantiasa kita baca itu di terima oleh Allah dan mendapatkan keridhaan Allah, serta syafaat daripada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, aamiin ya Allah , aamiin ya Rahman, aamiin ya rabbal 'alamin 

( Assamin Wal krhomsun min shuwaril qur'an, suratul mujadalah) yang ke 58 dari surah-surah yang ada di dalam Alquran, surah yang bernama Al mujadalah 
Ini surah ( Madaniyyatun) di turunkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam sesudah hijrah daripada Mekkah ke Madinah 
( Wa ayatuha ) Dan ayat-ayatnya berjumlah 
( Shintani wa 'isrun) 22 ayat 

Ma makna Al mujadalah, artinya adalah perdebatan, sebagaimana dinyatakan di permulaan surat ini tentang seorang perempuan yang mendebat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, Allah subhanahu wa ta'ala menyampaikan di dalam Alquran pada awal surah ini 

Sesungguhnya Allah mendengar, perkataan seorang perempuan yang mendebat engkau wahai Baginda Rasulullah tentang suaminya, dan perempuan itu mengadu kepada Allah subhanahu wata'ala dan Allah mendengar perbincangan kamu berdua, sesungguhnya Allah maha mendengar dan maha melihat 

Nah, menurut para ulama tafsir ayat ini adalah turunnya pada waktu itu salah seorang perempuan sahabat Baginda Rasulullah yang bernama krhauwlah binti sa'labah, ada yang mengatakan krhauwlah binti hakim, nah krhauwlah ini istri daripada sahabat nabi yang bernama 'aus bin samitd, di sebutkan di dalam riwayat itu suatu hari 'aus bin samitd ini mengajak istrinya untuk melakukan hubungan, dan istrinya tidak mahu, maka 'aus pun marah kepada istrinya, kemudian si 'aus ini mengucapkan kata-kata kurang baik kepada istrinya 

Setelah istrinya ini mendapatkan perkataan yang kurang baik oleh istrinya, maka krhauwlah pergi mengadu kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, ujarnya wahai Rasulullah, bahwasanya suami saya telah mengucapkan perkataan yang kurang baik kepadaku, kalo istilah fiqihnya zihar, menyamakan istrinya ini dengan ibunya, seolah-olah haram untuk berhubungan, maka Baginda Rasulullah pun menyampaikan 
( Harumti alaik) Engkau wahai perempuan haram atas suami engkau, nah si perempuan tadi kemudian mendebat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam 

Ya rasulallah ( maza karatholaka ) wahai Rasulullah suami saya tidak mengucapkan talak, tapi dia mengucapkan zihar, maka Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menjawab lagi ( harumti alaik) engkau wahai perempuan haram atas suamimu, artinya tidak boleh melakukan hubungan suami istri, nah si istri inipun terus mendebat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, nah inilah di namakan dengan surah yang ke 58 ini dengan surah Al mujadalah tadi 

Nah setelah itu Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam memanggil 'aus bin samitd, suaminya krhauwlah tadi, di panggil lah aus ini, apa yang sudah engkau lakukan aaus terhadap istrimu, ujar aus, saya telah menzihar dia ya rasulallah, lalu kata Baginda Rasulullah apakah engkau ini masih ingin berhubungan suami istri dengannya, masih ingin ujar aus, maka Baginda Rasulullah memberikan nasihat, 

ada 3 hal yang musti engkau lakukan 
1. Sebelum engkau menyentuh istrimu, maka engkau musti merdekakan seorang budak, 
2. kalau engkau tidak mampu maka puasalah dua bulan berturut-turut, 
3. Kalau engkau tidak mampu jua maka beri makan 60 orang miskin 

Nah setelah itu baru lah engkau boleh menyentuh istrimu
Nah inilah yang di sebut di dalam fiqih kaffarat zihar, jadi berhati-hati lah kita dalam ucapan kita, jangan kita ini berani mengucapkan hal hal yang tidak baik, Jadi ada beberapa hal, beberapa kejadian, beberapa perkara yang mungkin terjadi setelah seseorang itu menikah, 

1. Kemungkinan terjadi sesudah menikah itu adalah talak
Dan agama telah mengatur bagaimana talak itu supaya tidak menjadi yang di haramkan oleh Allah, sudah di atur oleh agama kita sedemikian caranya, bagaimana menceraikan istri agar tidak berdosa, 
2. Kemudian lagi sesudah menikah itu mungkin saja terjadi raj'ah, atau rujuk, Bagaimana hukumnya, bagaimana caranya, sudah di jelaskan juga di dalam agama kita
3. Adapun lagi setelah menikah itu yang mungkin terjadi lagi adalah zihar, menyamakan istri dengan orang yang haram di nikahi, walaupun hanya sekedar ucapan saja, maka berhati-hatilah, contohnya kecilnya, rambut engkau ini persis macam rambut ibuku, nah itu zihar kecil, menyematkan istri dengan orang yang haram di nikahi 
Maka berhati-hatilah, nah apabila kita menyamakan istri kita dengan orang-orang yang haram di nikahi tadi maka sejak ucapan itu tidak boleh kita menyentuhkan, kecuali kita melakukan salah satu di antara 3 perkara tadi yang sudah di sampaikan oleh Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam 
4. Setelah pernikahan itu mungkin juga terjadi sesuatu yang namanya ( ilaaah ) nah mungkin kita jarang mendengar kejadian ini di masyarakat, ilaa itu adalah seorang suami bersumpah, tidak akan menyentuh istrinya 4 bulan lebih, contohnya aku bersumpah demi Allah tidak akan menyentuh engkau 4 bulan sepuluh hari umpamanya, nah ini namanya ilaaah
5. Adalagi kejadian yang mungkin saja terjadi setelah pernikahan adalah, ( li'aan) adalah suatu kejadian umpamanya seorang suami melihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya melakukan perzinahan, atau si suami ini mendakwa istrinya melakukan perzinahan, nah ini kalau suami tidak melengkapi dengan 4 orang saksi atas kejadian tersebut, maka suami akan di hukum atas dakwaan itu, walaupun perkara itu benar-benar terjadi namun karena tidak adanya saksi maka batal dakwaannya 

Jadi kalau kita ini benar-benar melihat sendiri contohnya istri melakukan perzinahan namun kita tidak ada saksi maka jangan dulu mendakwanya, karena bila kita benar ni melapor namun tidak ada saksi maka kita yang akan di hukum orang, nah supaya jangan di hukum di laki-laki ini maka seperti apa caranya, maka ada istilah dalam fiqih yang namanya ( li'aan) bentuk li'aan itu macam apa, contohnya di masjid, di kumpulkan orang-orang muslimin dan muslimat, kemudian di situ ada hakim ugama, ada si  perempuannnya, kemudian si laki-laki naik ke atas mimbar, lalu ia berkata ( ashadu Billah, Inna nila
Minasshodiqin, fimaromaitu bihi Zawzi minazzinah ) ujar si laki aku bersaksi dengan Allah, bahwa aku benar menyaksikan, dan dengan apa yang aku dakwakan terhadap istriku daripada melakukan perbuatan zina

4 kali si suami mengucapkan itu di hadapan orang banyak, maka kemudian di akhiri dengan kalimat 
( Wa'alayya laknatullah, inkuntum minal kazibin) dan aku berani ujar suami menanggung laknat Allah sekiranya aku berdusta dalam apa yang aku dakwakan itu, nah ini namanya li'aan, bila si suami berani melaksanakan li'aan ini maka dia selamat daripada di hukum, Karna mendakwa istrinya tadi berzina tanpa ada saksi,

Nah sekarang istrinya yang akan mendapat hukuman, kecuali istrinya ini membalas li'aan dengan liaan juga, istrinya juga melakukan sumpah, maka istrinya selamat daripada hukuman dunia, dan suaminya pun selamat daripada hukuman di dunia, manakala di akhirat pasti akan sangkut di antara duanya siapa yang benar dan siapa yang salah, akan di sidang di mahkamah Allah subhanahu wa ta'ala, 

Jadi ayat yang pertama di dalam surah ini menyebutkan tentang seseorang perempuan yang mendebat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam tentang suaminya, bahwa dia mengatakan suaminya tidak menceraikan dia, tapi Rasulullah mengatakan walaupun demikian kamu wahai perempuan tetap haram bersentuhan dengan suamimu karena ucapannya yang demikian itu 

Sebagaimana dengan surat-surat yang lainnya, maka sudah Al mujadalah ini juga banyak memberikan arahan, petunjuk kepada kita semua orang beriman kepada Allah, agar tetap berada di jalan yang lurus, jalan yang di Ridai oleh Allah subhanahu wata'ala, di antara lainnya di dalam surah ini pada ayat 22, Allah menyatakan bahwa 

Tidak kamu jumpai, orang yang beriman kepada Allah dah hari akhir, mereka itu mencintai orang orang yang ingkar kepada Allah dan rasulnya, tidak akan kamu jumpai orang yang beriman itu mengasihi kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul, tidak kamu jumpai orang yang beriman itu mengangkat pemimpin kepada orang yang ingkar kepada Allah dan rasulnya, sekalipun mereka itu adalah keluarga, anak, saudara mereka, artinya walaupun Abah, tapi abahnya itu orang yang ingkar kepada Allah maka si anak sedikitpun tidak ada cinta kepada abahnya, seorang ayah yang beriman tidak akan cinta kepada anaknya yang ingkar kepada Allah dan rasulnya, seorang saudara yang beriman tidak akan cinta kepada saudaranya yang jelas-jelas menentang Allah dan rasul, mereka itu lah orang-orang yang Allah tetapkan di hati mereka iman, Allah perkuat mereka itu daripada cahayanya, Allah masukkan mereka PP itu ke dalam syurga yang di bawahnya itu mengalir sungai-sungai, Allah Rida kepada mereka, dan merekapun Rida kepada Allah, mereka itu lah golongan Allah, Ingatlah, sesungguhnya, golongan Allah itu lah adalah orang-orang yang beruntung 

Ibnu Abbas berkata ayat ini di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala pada sahabat nabi yang bernama Abi Ubaidah ibnil jarrah, Abi Ubaidah sahabat nabi tapi abahnya masih kafir, dalam perang Uhud bertemu anak dengan Abah, akhirnya Abi Ubaidah ini walaupun itu abahnya yang kafir tapi tetap perang dan diapun membunuh abahnya sendiri, nah disini Allah memuji sikap daripada Abi Ubaidah itu, walaupun itu orangtuanya, tapi karena ingkar kepada Allah, dan hendak perang melawan Baginda Rasulullah maka Abi Ubaidah melakukan yang demikian itu 

Umar bin Khattab membunuh pamannya sendiri 
Yang bernama Al 'ash Bin Hisyam, karena pamannya ingkar kepada Allah dan hendak memerangi Baginda Rasulullah, banyak lagi sahabat sahabat seperti yang demikian itu, Allah mengatakan bahwa Rida kepada mereka dan merekapun Rida kepada Allah subhanahu wata'ala, nah ini ayat merupakan landasan atau ayat daripada satu sikap yang mulia di sebut 
( Al hubbu Fillah wal bhurdhu Fillah ) 
Cinta kepada jalan Allah dan benci pada jalan Allah 
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda ( Awsaku Nurol iman  Al hubbu Fillah wal bhurdhu Fillah  rowahu Ahmad, ) paling kokoh ikatan iman seseorang, apabila ada di dalam dirinya, cinta pada sesuatu yang di cintai Allah dan benci pada sesuatu yang di benci oleh Allah subhanahu wa ta'ala 

Nah bila kita ini bisa melakukan yang demikian itu, kita cinta kepada seseorang yang di cintai Allah, dan kita benci kepada orang yang di benci Allah, maka itu menunjukkan kekuatan iman yang ada di dalam hati kita, di ceritakan bahwa Allah berwahyu kepada nabi Isa alaihissalam ( law Annaka 'abattani bi 'ibadati
Ahlissamawati wal Ardhi, wahubbun Fillah laysa
Wa bhurdhun fillahi laysa, ma 'arhna an syai'a, ) wahai Isa ujar Allah, andaikata kamu beribadah seperti ibadahnya seluruh penduduk langit dan bumi tapi di dalam diri kamu tidak ada (  Al hubbu Fillah wal bhurdhu Fillah ) maka ibadah itu tidak akan punya arti apa-apa sedikit juapun, Semisal, kita beribadah kepada Allah, kemudian kita mencintai seseorang atau sesuatu yang di murkai oleh Allah maka sia" lah ibadah kita, 

Nah ada dua tingkatan yang di maksud dengan 
 Al hubbu Fillah wal bhurdhu Fillah

1. Ayyuhibba lillah wa Fillah, 
Dia mencintai orang yang Sholeh, kenapa dia cinta kepada orang Sholeh? Karena orang Sholeh ini di cintai Allah, padahal orang Sholeh ini sedikit pun tidak pernah berjasa kepada dirinya, nah contoh kita dengan seseorang Fulan, ini Fulan orang Sholeh, orang yang takwa kepada Allah, dan si Fulan ini tidak pernah menasihati kita, tidak pernah berjasa kepada kita, tidak pernah, menyelamatkan kita, tidak pernah membantu kita, intinya beliau itu tidak ada jasa sama kita, tapi karena beliau itu ada orang yang Sholeh maka musti cinta kepada beliau, nah ini lah hubbun Fillah yang paling tinggi derajatnya, semata-mata cinta kepada seseorang karena Allah subhanahu wa ta'ala, dan karena orang itu di cintai Allah 

2. Ayyuhibbahu la lizatihi ballarhoirih, wazalikal rhoiru laysa rozi'an ila huzuzihi Fit dun ya, ) 
Kita mencintai orang yang Sholeh, orang yang taqwa, kita cinta kepadanya, nah kenapa cinta, karena beliau ini di cintai Allah, kemudian Karna beliau ini mengajari aku ilmu ugama, dengan ilmu ini aku bisa belajar sembahyang, bisa beribadah kepada Allah, nah maka hendaknya kita cinta kepada orang yang macam ini

Intinya dalam hal ini jangan sampai kita mencintai orang-orang yang fasik, orang yang ingkar apalagi yang menantang Allah subhanahu wata'ala, jadi iman kita selalu akan goyang karena menghadapi segala macam sesuatu keadaan, kenapa demikian, karena iman kita belum di ikat dengan  Al hubbu Fillah wal bhurdhu Fillah 
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam berdoa dalam sebuah doahnya.

( Allahumma la taz'al Li fazirin alayya minnatan Fatarzukani minhu mahabbatan ) 
Ujar nabi ya Allah, jangan engkau jadikan orang yang fasik itu berjasa kepadaku, karena aku khawatir nanti bahwa aku cinta kepada dia, kita paling khawatir bahwa orang yang paling baik sama kita, orang yang sangat berjasa dalam hidup kita, orang yang memperdulikan kita, orang yang selalu membantu hidup kita adalah orang yang fasik, nah itu paling bahaya, kenapa ? Kita mudah cinta kepada orang yang berbuat demikian itu 

Nah padahal agama mengajarkan kita tidak boleh cinta, kecuali kepada orang yang di cintai oleh Allah subhanahu wata'ala, dan kita tidak boleh benci kepada orang yang di benci oleh Allah, kita tidak boleh cinta kecuali kepada segala macam perkara yang di cintai oleh Allah dan kita tidak boleh benci kecuali kepada segala macam perkara yang di benci oleh Allah, Alhamdulillah mudahan kita semuaan ini di berikan Allah kemudahan, di jauhkan Allah daripada perkara dosa dan maksiat, ya Allah jagalah diri kami semuaan ini ya Allah, tolong lah kami ya Allah agar bisa menjadi hambamu yang benar-benar bertaqwa dan beriman kepada engkau, aamiin ya Rabb, aamiin ya Rabb, aamiin ya Rabb, aamin ya Allah ya rabbal 'alamin, insyaallah 

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog