Pages

Jumat, 18 Oktober 2024

Alquran, / 63. Surah Al munafiqun / hlm. 70

Bismillahirrahmanirrahim 

( Asshalisatu wassittun min shuwaril qur'an suratul munafiqun ) yang ke 63 daripada surah-surah yang ada di dalam Alquran yaitu surat Al munafiqun, ini surah 
( Madaniyyatun) Di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sesudah hijrah dari Mekkah ke madinah
( Wa ayatuha ) Dan ayat-ayatnya berjumlah 
 ( ihda 'asro ) 11 ayat 

di namakan surah ini dengan surah Al munafiqun, karena di dalamnya ada mengandung cerita tentang orang-orang yang munafiq, firman Allah subhanahu wata'ala 
Di dalam surah ini pada ayat 1  

Apabila datang kepada engkau wahai rasul orang orang yang munafik, mereka itu bersumpah bahwasanya engkau sungguh utusan Allah, dan Allah mengetahui bahwa engkau itu wahai rasul adalah Rasulullah, dan Allah menyaksikan bahwasanya orang-orang munafik itu sungguh mereka berdusta 

Jadi kalau orang-orang munafiq ini kalau datang kepada Baginda Rasulullah mereka bersumpah bahwa mereka beriman kepada Rasulullah, beriman kepada Allah, beriman dengan hari akhir, dan lainnya, nah itu adalah perkataan mereka , tetapi Allah menyatakan bahwa semua itu adalah ( lakazibun ) sungguh dusta 

( ittakrhozu aymanahum zunnah ) Mereka menjadikan sumpah itu sebagai perisai, sebagai pelindung, supaya tidak di ganggu, tidak di usir dari Madinah, lalu mereka pun mengatakan demikian, berpura-pura beriman kepada Allah dan Baginda Rasulullah biar hidup mereka di kota Madinah itu akan dan di lindungi, 

( Fashoddu 'an Sabilillah ) Mereka itu menahan diri daripada jalan jalan Allah, sungguh mereka itu telah 
( innahum sa'a makanu yakmalun ) 
melakukan sesuatu perkara yang sangat jahat 

Sebagaimana para ulama berkata apa yang di maksud dengan munafiq itu, munafiq itu adalah orang yang dalam dirinya ada sifat nifaq, sebagaimana dengan orang yang beriman, di dalam dirinya ada iman, maka diapun disebut sebagai mukmin, tapi kalau orang yang di dalam dirinya ada sifat nifaq maka disebutlah ia munafiq
nah nifaq itu artinya adalah
( izharur khroir wa izdmarur ssyar) Menampilkan, menampakkan kebaikan, tetapi menyembunyikan sesuatu yang jahat, di lihat diluarnya bagus, pandangan di luar baik, tetapi hatinya penuh dengan kejahatan, nah itulah di sebut dengan nifaq 

( Fa'ingkana fiqtiqodil iman ) Jika nifaq itu berkaitan dengan iqtikat, seperti dia mengiktikatkan tidak beriman kepada Allah, keyakinannya tidak beriman kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, tetapi mulutnya, dzohirnya beriman nah ini adalah nifaqul iktikad ( Fa'ingkana fiqtiqodil iman ) jika itu nifaq pada masalah keyakinan iman( Fahuwa nifaqul kufri ) itu namanya adalah nifaqul kufur, keyakinan orang kafir

( Wa Illa fahuwa nifaqul amal ) Jika berlainannya dzohir dan batin itu bukan dalam masalah iktikad maka itu di sebut namanya nifaqul amal, munafik dalam amal perbuatan, jadi munafiq itu ada dua, munafiq dalam keyakinan nah itu jelas kafir, kemudian munafik amal, di luar bagus, di tempat ramai baik, kalau sendirian jahat, buat dosa dan maksiat, di pandangan baik di hatinya jahat, nah ini 

( Nifaqul kufri ka 'izharul Islam, walqolbu masqunun bil kufur ) nifaqul kufri adalah menampakkan Islam sedangkan hatinya penuh dengan kekafiran, dia hanya berpura-pura, munafiq, seperti contohnya seorang laki-laki hendak melamar seorang perempuan muslimah, sedangkan dirinya itu belum beragama Islam, jelas lamarannya akan di tolak, maka kemudian dia berpura-pura masuk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, padahal hatinya tidak demikian, tujuannya hanya untuk menikahi perempuan muslimah, bukan hendak beriman kepada Allah subhanahu wata'ala, nah itu namanya adalah nifaqul kufur, orang yang munafik lgi kafir 

Sebagaimana yang sudah di sampaikan oleh Allah subhanahu wata'ala di dalam Alquran yaitu 

Sebagian manusia ada yang mengatakan bahwa kami beriman dengan Allah, beriman dengan hari akhir, padahal mereka jelas tidak beriman dengan yang demikian itu 

2, kemudian yang ke dua adalah ( wanifaqul amal ) 
Munafiq perbuatan ( ka'izhoril krhusuk walqolbu krhoiru krhosik) seperti menampakkan kekrhusu'an padahal hatinya jauh daripada krhusuk, munafiq pada amal, nampak orang dia ni baik, padahal hatinya jauh dari itu, 
gayanya macam orang alim padahal hatinya busuk, pikiran dosa dan bermaksiat kepada Allah, nah ini ujar Ibnu kasir termasuk pada dosa besar, maka berhati-hatilah kita dengan demikian itu, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyampaikan bahwa
( Ta'awwazubillah min khrusu'innifaq, rawahul Baihaqi) Berlindunglah kamu daripada Allah, dari krhusuk yang nifaq tadi, 

Nah nifaqul amal ini tidak bisa di anggap remeh, tidak bisa di anggap enteng, sebab orang yang munafiq amal ini , kalau dia terbiasa sedemikian rupa secara terus menerus bisa membawa kepada nifaqul iktikad, munafik dalam kekafiran, nah oleh karena itu niqaful amal ini di masukkan dalam golongan dosa dosa yang  besar 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyampaikan di dalam sebuah hadist
( Ayatul munafiq shalasun iza Haddasa Kazaba 
Wa'iza wa'ada akrh lafa, Wa'iza tukmina krhana rowahul Bukhori ) tanda orang munafiq itu ada tiga, munafiq secara umum 
1. ( iza Haddasa Kazaba ) Apabila dia berkata-kata dia berdusta, menurut para pensyarah hadist mengenai maknanya, apabila dia berkata-kata dia berdusta artinya sering kali berdusta, bilamana dia bercerita, dia membawa berita sering berdusta 
2. ( Wa'iza wa'ada akrh lafa ) Bilamana dia berjanji, artinya sebelum dia mengatakan janji itu dia sudah ada niat untuk menyalahi janjinya itu, mulutnya berjanji tapi pada saat itu juga hatinya berdusta akan janjinya itu, jadi menyalahi janji yang di golongan kepada tanda orang munafiq itu adalah mulutnya berjanji dan pada saat itu juga hatinya hendak berdusta akan janjinya itu, lain hal nya ketika dia berjanji, mulutnya berjanji dan hatinya pun ikut demikian tapi pada waktunya dia ada halangan, ada rintangan yang membuatkan dia terhalang untuk menunaikan janjinya itu maka ini tidak digolongkan kepada orang-orang munafiq 
3. ( Wa'iza tukmina krhana ) Dan bilamana dia di berikan amanah, seringkali mengkhianati amanat itu, nah itu tandanya orang yang munafiq 

( Qola bakdul 'ulama ) Bahagian ulama pun menjelaskan lagi tentang tanda-tanda orang yang munafiq itu, ujar mereka ( Al munafiq, lil masjid, khoddthoyri fil qhafhsi ) 
Salah satu tanda orang munafiq itu adalah, bilamana dia berada di dalam masjid, dia seperti burung yang berada dalam sangkar, burung di dalam kurungan, artinya hendak keluar saja pikirannya, sama dengan orang munafiq itu kalau sedang berada di masjid pikirannya tidak memikirkan Allah hendak cepat-cepat keluar, tidak ada hatinya, sama seperti burung di dalam kurungannya, 

( wal munafiq ya shukku Fillah, ayyuttirrizqa amlak iza layaktasib ) orang munafiq itu dia garu ragu pada Allah, adakah Allah memberikannya rezeki apa tidak, apabila dia tidak berusaha, orang munafiq itu berpikiran, kalau dia tidak berusaha, dia ragu-ragu, dan berkata-kata di dalam hatinya apakah Allah memberikan rezeki kepadaku atau tidak? Nah ini tanda orang munafiq, artinya kalau ada di dalam hati kita mengatakan kalau aku ni tidak berusaha macam mana aku dapat duit, kalau aku tidak berusaha macam mana aku makan, kalau aku tidak berusaha macam mana aku hendak memberikan makan oranglain, nah pernyataan seperti itu adalah pernyataan hati orang munafiq, Dia menyatakan bahwa usaha itulah satu satunya jalan Allah bisa mendatangkan rezeki kepadanya, 

( Wal munafiq ya akrh rhuzuddun ya, fil hirsy, wayamna'u bisshak Wayunfiqu birriya ) orang munafiq itu dia mengambil dunia dengan penuh kerakusan, orang munafiq itu mengambil dunia dengan penuh perasaan rakus, dan dia menahan hartanya tidak menafkahkan, tidak menyumbangkan, karena keragu-raguan, kalau ku sedekahkan hartaku ini, kalau ku sumbangkan hartaku, apakah benar akan di lipat gandakan Allah, ujarnya, apa jangan jangan tidak, nah orang-orang munafiq itu menahan hartanya dengan penuh keragu-raguan kepada janji Allah subhanahu wata'ala 

( Wayunfiqu birriyak ) Dan orang munafik itu kalau dia menyumbangkan hartanya, itupun dengan ria, dengan mintak namanya di ketahui orang, agar di pandang orang dia, agar di puji orang dia, agar di sayang oleh makhluk Allah subhanahu wata'ala, dan lupa kepada Allah 

Jadi sifat nifaq yang ada pada diri seseorang, itu membuat seseorang di benci oleh Allah subhanahu wata'ala, karena hanya ada dunia bagi orang-orang yang bersifat munafiq ini, satu dia kelak di dalam neraka 
( berkanaan dengan nifaqul iktikad) Dan kemudian kedua berkaitan dengan nifaqul amal, munafiq dalam amal perbuatannya, nah oleh karena itu, para ulama ulama kita yang terdahulu sering kali mereka menyampaikan salah satu kewajiban tanda orang yang berikan kepada Allah dan rasul, adalah bersungguh-sungguh dan berusaha untuk menghilangkan sifat nifaq yang ada di dalam hati itu, terutama bagi kita orang awam ini sering terjadi nifaqul amal, munafiq dalam amal perbuatan akan mendapat dosa yang besar, jadi berhati-hati lah kita 

Di jaman Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ada salah seorang sahabat yang di juluki sebagai suhibusssir Rasulillah ( pemegang rahasia rasul ) sahabat yang bernama huzaidah Al yamani, huzaifah Al yamani ini , orang yang sangat tahu siapa yang munafiq siapa yang tidak, nah itulah keistimewaan yang dimiliki beliau yang di berikan oleh Allah subhanahu wata'ala 
Karena sahabat Baginda Rasulullah ini banyak, masing-masing punya kelebihan, ada yang punya kelebihan dalam bidang Al Qur'an, ada punya keistimewaan dalam bidang pembagian harta waris, ada yang punya keistimewaan dalam bidang halal dan haram, nah kalau huzaifah ini mengetahui hati seseorang, apakah dia ada munafiqnya atau tidak

Sahabat Baginda Rasulullah semuanya datang kepada huzaifah, hai huzaifah, adakah di hatiku ini sifat nifaq, sifat munafiq, karena apa, karena orang yang ada di dalam hatinya itu mengandung sifat nifaq, berarti dia ini di murkai oleh Allah subhanahu wata'ala, nah jadi para ulama kita terdahulu mewajibkan atas setiap muslim dan muslimah, untuk menghilangkan, atau berusaha bersungguh-sungguh untuk menghilangkan sifat kemunafikan di dalam diri, dan cara menghilangkan sifat kemunafikan itu ujar mereka adalah 

1. Pertama dengan ilmu pengetahuan, ilmu apa ? Ilmu tentang bahayanya sifat nifaq itu, seperti firman Allah subhanahu wata'ala yang ada di dalam Alquran pada surah an-nisa ayat 145

orang orang munafiq itu firman Allah subhanahu wata'ala, mereka semua itu di lapisan yang paling bahwa daripada neraka, ( walan tazida lahum nasiro ) dan tidak akan kami dapati bagi mereka itu orang yang bisa menolongnya kecuali Allah subhanahu wata'ala 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pun sudah menyampaikan kepada kita, mengajarkan kepada kita suatu doa ( allahumma inni a'uzubika minassikoq, wannifaq, wasu'ik akrhlak ) ini doa yang di baca oleh Baginda Rasulullah, aku berlindu kepada engkau ya Allah ( minassikoq ) daripada perbantahan, ( wannifaq ) kemunafikan ) ( wasu'il akrhlak ) dan buruknya Budi pekerti, perilaku yang tidak baik, dan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pun sudah memberikan amalan kepada kita, agar kita terhindar daripada perkara buruk yang demikian itu, agar di selamatkan Allah daripada sifat kemunafikan ini 

Dan sungguh amalannya pun sangat berat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyampaikan 
( Man sholla lillah, 'arba'ina yauman bi jama'atin 
Yudriku takbirotal ula, Kutibalahu baro'atani baro'atun minannar, wa baro'atun Minannifaq ) barangsiapa yang sembahyang karena Allah, sembahyangnya itu selama 40 hari berjamaah, dan tidak boleh masbuk, artinya musti dia memperdapati takbiratul ihram bersama dengan imam, maksudnya sebelum azan sudah ada di masjid, dan ikut melaksanakan shalat karena Allah subhanahu wa ta'ala, selama 40 hari dia bisa melakukan itu, maka dia akan di pastikan akan selamat daripada neraka, akan selamat daripada kemunafikan, dengan catatan dia senantiasa melakukan taat kepada Allah dalam setiap detik dalam hidupnya dan menjauhkan diri daripada segala macam perbuatan dosa setiap detik dalam hidupnya 

Sebagaimana dengan surat-surat yang lainnya, di dalam surah ini juga banyak memberikan petunjuk dan arahan daripada Allah subhanahu wata'ala kepada kita semuanya ini orang orang yang beriman kepada Allah, antara lainnya adalah Allah mengatakan di dalam Alquran pada surah ini ayat 9 dan seterusnya 

Ini Allah menyeru, hari orang-orang yang beriman, artinya orang munafiq, orang kafir, tidak ikut dengan seruan ini, Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman 
( La tulhikum amwalukum wala auladukum andzikrillah ) 
Janganlah melalaikan akan kamu harta harta kamu, anak anak kamu, daripada mengingat Allah subhanahu wata'ala, artinya daripada taat kepada Allah, menjauhi diri daripada dosa dan maksiat dan mengerjakan segala macam bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala 

Nah kenapa di sebut Allah harta yang dahulu, karena yang sering kali membuat kita lalai adalah masalah harta, ( wamayyaf'al dzalik,) siapa-siapa hidupnya, selalu sibuk dengan urusan harta dan anak sehingga dia lalai beribadah, lalai taat kepada Allah dan berani berbuat dosa dan kemaksiatan kepada Allah, ( Fa'ulaika humul krhosirun) maka mereka itulah orang yang sangat rugi kata Allah, nah ini Allah sendiri yang mengatakan rugi, jelas ini adalah perkara yang perlu di perhatikan baik baik 

Macam kita ini sembahyang, menuntut ilmu, silaturrahmi, membaca Alquran, semuanya itu adalah ibadah kepada Allah, nah apabila kita meninggalkan yang demikian itu karena kita di sibukkan dengan urusan harta benda atau prihal anak dan dunia lainnya, maka Allah menyatakan jelas kita ini sedang dalam kerugian yang sangat besar 
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Innallaha 'azza wazalla yakul, Inna 'anzalnal malali'ikissholah, wa'ita'izzakah, ila akhir) Allah menyatakan bahwa sesungguhnya kami menurunkan harta itu untuk mendirikan shalat dan membayar dzakat, 

Artinya adalah Allah menciptakan harta ini agar manusia itu mendirikan shalat dan membayar dzakat, mendirikan shalat itu adalah simbol ibadah yang hubungannya kepada Allah, dan menunaikan dzakat adalah simbol ibadah yang hubungannya kepada manusia, artinya apa Allah menciptakan harta ini agar kita kita berbuat baik kepada manusia, kepada makhluk Allah, dan juga kita bisa Ihsan kepada Allah subhanahu wata'ala nah itulah tujuan Allah mengolah sedikian harta, emas, berlian, batu bara, tujuannya Allah menciptakan segala-galanya bertujuan agar manusia ini bisa beribadah kepada Allah 

Nah kalau sampai pekerjaan-pekerjaan itu melupakan kita kepada Allah, melupakan kita untuk beribadah kepada ini nah ini sudah terbalik, ini masalah namanya 
Itu sebab Allah mengatakan di dalam Alquran 
( Fa'ulaika humul krhosirun) Jelas mereka itu adalah orang-orang yang sangat rugi, dan yang paling di murkai oleh Allah adalah orang yang beribadah untuk mencari harta, makin marah lagi Allah, orang yang beribadah, tujuannya untuk mendapatkan harta nah ini makin dahsyat lagi,

Andaikata ada bagi seorang manusia itu satu lembah daripada emas, ada orang ini punya sebuah gunung emas, ( la'ahabba ayyakuna lahu Sani ) pasti dia hendak memiliki yang lainnya, karena merasa kurang 
( Walaukanalahu Sani ) Jikalau dia punya dua gunung emas, jelas psti hatinya hendak tiga, nah itulah kelakukan manusia( Walayamlau yababni adam illatturob ) dan tidak ada yang bisa memenuhi rongga manusia kecuali mati ( wayatubullahu ala mantabbe) dan sungguh Allah akan menerima taubat orang orang yang bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala rowahu Ahmad

Nah jadi kita kembalikan kepada Allah, bahwa fungsi harta, fungsi kekayaan, isi bumi dan sebagainya ini adalah bertujuan kedekatan kita kepada Allah, untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah, makin banyak kita punya harta makin di tuntut untuk menambah ibadah kita kepada Allah, Pada ayat ke 10 menyampaikan 

( Wa 'anfiqu mimma rozaknakum ) Berikan, nafkahkan, 
Mimma, ujar para ulama nahu ( mimma itu litab'id) sebagian, bukan keseluruhan, mimma sebahagian rezeki yang kami berikan Allah kepada kamu, Allah menyuruh kita membelanjakan rezeki, menafkahkan sedekah, sebagian rezeki ( ming qobli ayyaktiya 'ahadakumul maut
sebelum datang kepada kamu malaikat maut 

Mangkanya sedekahkan, wakaf, hadiah, yang paling afdhol itu adalah waktu kita sihat, waktu kita kuat, itu ibadah sedekah yang paling afdhol, yang nomor dua kita sudah terbaring, sakit sakitan, tidak sihat lagi, yang sedikit lagi pahalanya kita mengatakan bila nanti aku mati Kasikan, bila nanti aku mati sedekahkan, wakafkan hartaku, nah pas diberikan Allah kesihatan, pas di berikan Allah rezeki, tidak mau bersedekah, pas hendak mati baru sibuk bersedekah, nah ini paling sedikit pahalanya daripada yang di atas tadi

Karena Allah jelas mengatakan nafkahkan sebahagian rezeki kamu ( ming qobli ayyaktiya 'ahadakumul maut )
sebelum datang kepada kamu malaikat maut 

Waktu malaikat maut itu datang kepada kita, kita akan berkata wahai Tuhan beri aku sedikit waktu, meminta kepada Allah agar bisa hidup sehari contohnya, ujar malaikat malaikat ? ( Faniyatil ayyam, falyaum) Hari sudah habis bagi kamu tidak ada hari harian lagi, ujar kita ( assa'ah ) meminta di hidupkan kembali walau sejam saja ( Falassa'ah ) tidak ada lagi jam bagi kamu 
( Walahjah ) Kita meminta sedetik saja waktu,

 maka tidak ada lagi detik bagimu, 

Karena Allah tidak akan menunda seseorang bilamana sudah datang azalnya, kapan azal itu datang kepada kita, malaikat maut sudah datang nah itu azal kita, nah ketika kita melihat malaikat maut berarti kita sudah azal, apapun kebaikan yang kita lakukan tidak akan di terima lagi kalau sudah kita bertemu melihat malaikat maut yang hendak mencabut nyawa kita 

Dan Allah maha mengetahui dengan apa yang kalian kerjakan, nah jadi ayat ini memberikan petunjuk kepada kita agar kita benar- bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah, terkhusus bersedekah jauh jauh hari agar kita sempat, sebelum kita di jemput oleh malaikat maut  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah