Yang ke 78 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran yaitu surah yang bernama an naba, in surah
( Makkiyyatun) Di turunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sebelum hijrah daripada Mekkah ke Madinah
( wa ayatuha) dan ayat ayatnya berjumlah ( arba'un) 40
Surah an naba adalah merupakan bagian daripada Jujuk yang akhir di dalam Alquran, ayat yang ke 17 dan 18 daripada surah ini adalah , Allah menyampaikan bahwa
Sesungguhnya pada hari itu akan di putuskan segala macam perkara manusia, dan hari demikian itu sudahlah di tentukan oleh Allah subhanahu wata'ala, hari dimana tidak akan ada Seseorang juapun yang merasa dirinya akan di dzolimi, hari dimana tidak ada seseorang juapun yang akan merasa di rugikan dan di aniaya, Karena pada hari itu Allah subhanahu wata'ala menjadi hakim yang sangat adil dan bijaksana kepada seluruh makhluknya Teruma kepada kita manusia ini,
Pada hari yang di tiupkan sangkakala, maka kalian semua datang berduyun-duyun, berkelompok kelompok, menuju kepada itu tempat yang di sebut dengan Mahsyar, nah sebagaimana yang kita ketahui bahwa ada dua kali tiupan sangkakala itu, pertama, isrofil alayhissalam meniup sangkakala terjadilah kiamat kubro, tidak ada lagi makhluk hidup, kecuali orang orang tertentu, dan seluruh apa yang ada di alam ini hancur berantakan, 40 tahun kemudian, di tiup lagi sangkakala kedua, maka bangkitkan seluruh manusia, bangun daripada tidurnya, untuk mendatangi suatu tempat yang di sebut Mahsyar tadi, maka di situlah manusia akan di sidang, akan di adili dengan seadil adilnya
Salah seorang sahabat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pernah bertanya kepada nabi
( Rawa Sohibul kassyaf, an muaz, 'annahu sa'ala Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ahnu, ) meriwayatkan pengarah kitab Al kassyaf daripada muaz, bahwa muaz bertanya kepada Baginda Rasulullah tentang itu pengertian ayat Allah , ( fataktuna afwaza)
Bahwa manusia itu datang ke tempat Mahsyar itu berkelompok kelompok, apa itu maksudnya wahai Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam,
( Faqola alaihissalam ) Maka nabi kita menjawab,
( Ya muaz, sa'alata an Amrin 'azim, minal umur, summa Arsala haina'ih) Nabi kita mengatakan Hai muaz, kamu sungguh bertanya tentang suatu perkara yang besar, kemudian nabi kitapun menangis sebelum menjelaskan, menafsirkan tentang pengertian ayat tersebut ( waqola)
Dan bersabda Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ( yurghsaru, arsotu asnafin Min ummati, )
di halau nanti, artinya begitu kita bangkit, kita akan di halau untuk menuju satu tempat yang di sebut Mahsyar tadi, ummat ummat ku itu di halau kata Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam terbagi menjadi
10 kelompok akan di halau daripada ummatku itu
( Bakduhum ) Sebahagian ummatku di halau menuju tempat Mahsyar itu ( ala surotil qirodah) atas rupa kera
Ada ummatku ujar nabi yang di halau menuju pada Mahsyar itu yang mana rupanya itu seperti rupa kera,
( Wa bakduhum ala surotil krhanazir ) Ada lagi sebahagian ummatku kata Rasulullah yang di halau rupanya itu seperti babi, ( wabakduhum munakkasun) dan sebahagian daripada ummatku lagi, mereka di halau dalam keadaan terbalik artinya ( arzuluhum fauqa wujuhihim yushabuna alaiha ) artinya kepalanya itu di bawah, kakinya di atas, dan diseret seret wajah mereka itu, jadi berjalan daripada kubur itu sampai ke Padang Masyar terseretlah wajah mereka itu
( Wabakduhum 'umyun) Ada sebahagian daripada ummatku yang di halau itu dari kuburnya dalam keadaan buta, padahal di dalam dunia dia ini bisa melihat,
( Wabakduhum summum bukmun ) Dan sebahagiannya lagi di halau daripada ummatku itu dalam keadaan tuli dan bisa, ( wabakduhum yamdokrhuna ala sinatuhum wahiya mudallatun ala sudurihim yansilul qoihu min afwahihim, Yatakazzaruhum ahlul Jamak) sebahagian lagi dari ummatku itu yang di halau ada yang menggigit lidahnya sendiri, lidahnya itu panjang sampai dadanya, dan mengalir nanah dari mulutnya, merasa jijik orang orang yang melihat demikian
( Wabakduhum mukotta'atun aidihim wa arzuluhum )
Sebahagian ummatku ada lagi yang di halau itu dalam keadaan tidak punya kaki dan tidak punya tangan,
( Wabakduhum musallafuna ala juju'im minnar) sebahagian ummatku ada lagi yang di halau menuju Mahsyar itu dalam keadaan di salip pada dahan yang di buat daripada api neraka, ( wabakduhum) dan ada lagi sebahagian ummatku yang di halau dari kuburnya itu
( 'asyaddu natnam minal jiyad) Bersangatan bau busuknya itu daripada bangkai, ( wabakduhum) dan sebahagian lagi ummatku itu di halau ( mulabbasun ) ( mulbasuna) mereka di pakaikan ( jilbaban) jubah
( Sabikrhotan) Yang meliputi tubuhnya itu dengan bahan tar yang sangat panas mendidih, ( lajikotan bijunudihim)
Yang demikian itu senantiasa melekat di kulit kulit mereka
Nah itulah semuanya ini bukanlah orang yahudi, bukan orang kafir, bukan orang munafik, tapi ujar daripada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam adalah
( min ummati ): termasuk daripada ummatku artinya orang orang Islam, orang yang beriman kepada Allah dan rasul, dan kemudian Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menjelaskan siapa siapa mereka tadi,
( Fa'ammalladzina 'ala surotil kirodah
Fal khodtatumminannas ) orang orang yang di halau seperti kera tadi adalah orang orang yang
( Khodtat minannas, atau manmam) Yang suka namimah, yang suka adu domba sesama manusia contohnya mendapat berita daripada si A, lalu di smapaikannya kepada di B, dapat kabar dari si B, di sampaikan kepada si A, akhirnya si A dan B ini berkelahi
jadi orang orang yang suka melakukan demikian itu, kalau dia tidak mahu bertaubat kepada Allah, sebelum dia wafat maka akan bangkit nanti dari kuburnya seperti kera
Nah jadi kalau ini orang walaupun rajin beribadah kepada Allah, orangnya beriman kepada Allah, tapi suka melakukan dosa namimah, adu domba maka tidak akan bisa langsung di syurga, tetap akan di mintain pertanggungjawaban terlebih dahulu atas perbuatannya itu selalu hidup di dunia, makanya sebelum terlambat maka bertaubat lah kepada Allah subhanahu wata'ala,
Al imam Abdullah bin Mubarok mengatakan bahwa
( Kullu manla yaktumul hadist wamasyabin namimah, Dalla la'ala Annahu Waladuzzina ) orang orang yang tidak bisa menyimpan rahasia, dan dia melakukan namimah, adu domba, menyampaikan kesana kemari, menunjukkan bahwa orang tersebut adalah anak zina, jadi salah satu tanda bahwa anak itu adalah anak daripada hasil zina, ini orang suka melakukan namimah, pekerjaannya suka namimah itu, di dalam hadist yang lain di sebutkan lagi
( Aw syai'un Minha) Atau ada sesuatu yang bersifat daripada seperti anak zina tadi, bisa seperti orangtuanya itu bersetubuh, sedangkan ibunya itu sedang haid, jadi anak, kemudian keluar anak, nah ini bisa termasuk bagian daripada itu
Nah namimah itu, yang suka adu domba itu apa tujuannya, sehingga di anggap menjadi suatu dosa yang besar, sehingga Al imamul Ghazali mengatakan dan juga para imam imam yang lain, salah satu tujuan daripada orang yang namimah itu adalah menghendaki kejahatan
( iradatussuk lil mahki'an) Menghendaki, ada niat yang tidak baik kepada orang lain, misalnya si A ini ada menyampaikan sesuatu yang tidak baik kepada si B, mungkin karena kesal atau apa, kemudian si C ini mendengar, kemudian dia hendak si A dan si B ini bermusuhan, saling marah antara satu dengan lainnya
Kemudian di sampailah lah ke si a, tadi si b mengatakan begini kepada engkau
Nah ada lagi tujuan namimah itu adalah untuk menyampaikan kecintaan kepada seseorang yang di sampaikan berika kepadanya, si c ini mendengar kabar tentang si A ini macam macam, kemudian di sampaikan kabar itu kepada di B, aku ni sebenarnya sayang kepada engkau, aku ni peduli kepada engkau, jadi engkau hati hati ya, karena si B ini aku dapat kabar dia hendak melakukan sesuatu yang tidak baik kepada engkau si A
Nah tujuannya hanya satu supaya mencari perhatian bahwa dia ini mahu di anggap baik, yang memberikan informasi ini, termasuk juga kepada namimah
Dan lagi termasuk juga ke pada bagian namimah adalah
Orang yang tidak ada punya tujuan, tidak ada merusak hubungan orang, tujuan hatinya tidak ada hal yang buruk, cuman dia ini suka aja berkabar kesana kemari, ada informasi di ceritakan, cuman kerjaannya kemana mana hendak menceritakan rahasia orang aja nah ini pun termasuk kepada namimah juga, sehingga nabi kita
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Man 'a sya'a ala muslimin Kalimatan liyasinahu Biha
bi ghoiri Haq, syanahullahu Biha finnar yaumal kiyamah, rowahu tabaroni, ) barangsiapa yang menyiarkan, menyampaikan berita kepada suatu muslim pada itu dari kalimat yang dia berniat hendak menjahatkan si muslim tadi dengan satu kalimat itu, maka nantinya Allah akan menjahatkan Itu orang sebab kalimatnya di dalam api neraka pada hari kiamat, Jadi berhati hati lah kita dalam menyampaikan sesuatu
Dan ada juga namimah yang di anggap benar tapi dalam masalah masalah tertentu, yang tujuannya adalah untuk menyelamatkan, yang tujuannya untuk memberikan nasihat, contohnya kita melihat ada seseorang sedang mengasah parang, lalu kita bertanya wahai tuan kepada engkau mengasah itu perang, ujarnya, besok aku hendak membunuh itu si Fulan, dengan alasan ini ini, nah, kita tahu Informasi itu maka kita sampaikan kepada si Fulan, wahai Fulan besok engkau hati hati, karena ada orang yang hendak membunuh engkau, nah ini imformati bukan termasuk kepada namimah yang tercela, bertujuan supaya ini orang selamat daripada terbunuh maka kita sampaikan lah imformati yang berkenan tadi, supaya dua duanya selamat, selamat daripada di bunuh dan selamat daripada pembunuhan, nah ini tidak jadi masalah
Atau lagi yang termasuk kepada namimah yang benar adalah ada orang bercerita kepada kita, kayaknya aku tidak suka sama si anu itu, hendak ku tipu dia dalam urusan perniagaan, nah ketika kita mendengarkan itu mendapatkan informasi tersebut, maka kita sampaikan kepada orangnya hai tuan itu orang hendak berniat yang tidak baik kepada engkau hendak menipu engkau, nah ini termasuk namimah yang di perbolehkan, jadi tidak lah semua perkara namimah itu tercela, ada namimah yang di perbolehkan kita untuk menyampaikannya dan itu tidak bertenrang dengan hukum Allah
( Wa'ammalladzi ala surotil krhanazir fa'ahlussuhti )
Adapun orang orang yang di halau kepada mahsyar di bangkitkan di dalam kubur, rupanya itu seperti rupa babi
( Fa'ahlussuhti ) Nah itulah orang orang yang bergelimang hidupnya dengan perkara perkara yang di haramkan oleh Allah subhanahu wata'ala, pekerjaannya haram, atau Makan yang di makannya itu haram
( Wa'ammal munakkassun 'ala huzuhihim ) adapun orang orang yang di balik tadi, di seret itu mukanya, kaki ke atas kepala di bawah ( fa'akalaturribak) maka itulah orang orang yang suka melakukan praktek riba, orang yang meminjam duit, orang yang memberikan pinjam ada bunganya, itu akan di bangkitkan dalam keadaan demikian, di dalam hadist lain menambahkan itu orang nanti akan bangkit dalam keadaan terbalik dan orang itu seperti orang gila, sudahlah terbalik di tambah gila lagi
( Wa'ammal 'umyu) Adapun yang buta ( fallazina yazuruna fil huqmi) nah itulah orang orang yang dzolim dalam hukum, orang orang yang memberikan hukum, menyampaikan hukum tapi dzolim, tidak benar, tidak adil, nah itu akan di bangkitkan dalam keadaan buta
( Wa'ammal summu bukmu fal Mukzibuna bi'akmalihim )
Adapun orang orang yang di bangkitkan dalam keadaan tuli, dalam keadaan bisa, maka itulah orang orang yang ujub, berbangga dirinya dripada perkara ibadah yang dia lakukan itu, nah ujub ini termasuk bagian daripada dosa hati yang di katakan termasuk kepada dosa besar
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Laulam Tuznibu Lakrhositu Alaikum mahuWa akbaru min Zalik, Al 'ujubu, Al 'ujubu, rowahu Baihaqi) ujar nabi
Andaikata kalian itu tidak pernah melakukan dosa, tidak pernah ini orang berdosa, maka niscaya aku khawatir kepada sesuatu yang lebih besar, yang lebih parah daripada itu adalah ujub, nah karena ini orang merasa tidak pernah berbuat dosa, tidak punya dosa, maka dia menganggap dirinya adalah orang yang bersih, dirinya adalah terbaik di bandingkan dengan orang lain
Nah orang orang yang berbuat taat, tetapi sesudahnya di iringi dengan perasaan ujub, maka dirinya itu sejatinya lebih hina daripada orang yang berbuat dosa, tetapi sesudah itu dia merasa akan kehinaan dirinya kemudian dia pun bersedih hati, dan bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala, Al imamul Ghazali menjelaskan apa yang di maksud dengan ujub itu, ( istikzomun Nikmah warrukunu ilaiha, ma'anisyani 'idhofatiha ilal mun'im)
Ujub itu adalah merasa atau membesarkan nikmat, dan merasa bangga diri dengan nikmat itu, di sertai lupa menyandarkan nikmat itu dengan yang memberikan nikmat itu yakni Allah subhanahu wata'ala
Semisalnya kita merasa bangga diri, merasa senang dengan taat kita itu, dan kita lupa bahasa semua itu adalah pemberian daripada Allah subhanahu wata'ala, nah kalau kita merasa besar dengan nikmat yang diberikan oleh Allah, baik nya diriku inih, oh rajinnya aku ibadah, oh banyaknya sunggu hartaku, tingginya pangkatku, ini semua semata-mata berkat daripada usahaku selama ini yang aku usahakan, nah kita gembira dengan demikian itu dan kemudian kita ingat dan sadar diri bahwa semua itu hanyalah titip dan anugrah daripada Allah, yang di berikan Allah kepadaku maka itu tidak ujub
Ataupun lagi kita ini merasa akan semua nikmat daripada Allah kemudian kita takut dan khawatir kalau kalau nikmat yang di berikan allah ini sewaktu-waktu bisa di tarik oleh Allah nah ini pun tidak ujub namanya
Karena orang ujub itu adalah orang-orang yang merasa besar pada dirinya, dan merasa senang dengan nikmat itu dan lupa kepada orang yang memberikan nikmat itu kepadanya, yakni Allah subhanahu wata'ala, sehingga orang yang mati dalam keadaan ujub dan tidak mahu bertaubat kepada Allah dalam keadaan demikian maka nanti pada saat di bangkitkan kembali dari kuburnya dalam keadaan tuli dan bisu,
( Wa'ammalladzni na 'yamdokhruna Al sinatahum fal ulama'u Wal khrussas, Alladzina yukhrollifu qauluhum 'amalahum ) adapun lagi orang orang yang menggigit lidahnya sendiri, lidahnya terjulur sampai dadanya, itu adalah orang orang yang punya ilmu, orang orang penceramah, tapi dia tidak mengamalkan dengan ilmunya dan tidak melakukan apa yang dia ceramah kan
Maka akibatnya nanti seperti itu, begitu di gigitnya lidahnya itu akan putus, kemudian terjulur lagi, di gigit lagi putus, sampai seterusnya dalam keadaan demikian
( Wa'ammalladzni kuti'at aidihim waarzuluhum fahumulladzina uhjunal Jiran,) adapun orang orang yang di potong tangan dan kakinya, maka itulah orang orang yang semasa dia hidup suka menyakiti tetangganya, menyakiti jirannya, perkataannya, kelakuannya, nah nanti di akhirat orang ini di bangkitkan dalam keadaan tidak punya tangan, maka berhati-hatilah kita dengan demikian
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Mankana yukminu Billah wal Yaumil akhir, falayukzizaro
Rowahul Bukhori) Siapa yang beriman dengan Allah beriman dengan hari kiamat maka janganlah sekali kali menyakiti tentangganya, karena tetangga ini punya kedudukan khusus di dalam agama kita, seringkali malaikat Jibril berpesan kepada Baginda Rasulullah tentang keutamaan tetangga ini, Jiran itu
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( La'ayyazniyal rozul bi'asroti niswatin, aysoru min ayyazni Bim ro'ati jarih, wala ayyasrikal rozul min asroti abyad, aysoru min ayyasrika Min baiti jarih rowahu Ahmad) sungguh bahwa berzina seseorang laki laki, dengan 10 orang perempuan itu lebih enteng siksanya daripada dia berzina daripada 1 orang daripada tetangganya, sungguh andainya mencuri seseorang daripada 10 buah rumah lebih enteng dosanya ketika di timbang daripada dia mencuri sebuah rumah, tetapi itu adalah rumah tetangganya, jadi kedudukan tetangganya itu sangat besar daripada pandangan agama kita
Sehingga Jiran, atau tetangga ini juga berperan sebagai menentukan kedudukan kita di sisi Allah apakah kita ini orang baik atau tidak, tergantung kepada kita ini baik kepada Jiran kita atau tidak, nah suatu ketika ada seseorang laki laki datang kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, lalu dia bertanya kepada Baginda Rasulullah ( wahai Rasulullah, berikan lah kepada saya ini amalan, apa yang baik, bila saya amalkan kemudian mati masuk syurga, maka nabi menyampaikan bahwa, jadikanlah diri kamu itu Muhsin, jadikan diri kamu itu orang yang baik, nah itu pasti akan ke syurga,
( kayfa aklam anni Muhsin ya rasulallah):
Bagaimana saya tahu bahwa saya ini orang baik atau tidak, maka Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menyampaikan ( saljiranak) maka berbuatlah kebaikan kepada tetangga tetangga engkau, Bilamana mereka itu semua mengatakan bahwa engkau ini adalah orang yang baik, maka baiklah engkau, bila sebaliknya maka sebaliknya lah jawabannya, tetangga kita ini baik di sebelah kanan kiri, depan belakang, semuaannya
( Wa'ammalmuusollabuna ala zuzu'im minannar, fassi, fassu'atu bin nassila Sulton )Adapun lagi orang orang yang di salip daripada tiang tiang neraka, kemudian di seret, nah ini lah orang orang yang suka melaporkan manusia kepada kerajaan, Intel Intel kerajaan, contoh ada orang hendak mengkritik pemerintah dengan bertujuan yang baik supaya itu negara bisa lebih baik, kemudian di laporkannya, lalu orang yang mengkritik itu di tangkap, ada lagi orang yang mengkritik kebijakan - kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan undang-undang apalagi melanggar hukum Allah, kemudian dia ini melaporkan, akhirnya orang yang mengkrit itu di tangkap
Nah tukang lapor seperti ini akan di salip dan di seret nanti di akhirat menuju Padang Mahsyar
( Wa'ammalladznihum 'asyaddu natnam minal jiyad
Falladzinattabi'una syahwat, wallazzat, wamanaw haqqallahu ta'ala Wal fuqoro min amwalihim) orang orang yang bersangatan busuk luar biasa, lebih busuk daripada bangkai bau ini orang, itulah orang orang ujar nabi, yang selalu mengikuti syahwatnya dan kelezatannya, dan dia mencegah haq Allah kepada fuqoro daripada harta harta Mereka, mereka bersenang-senang punya pakaian, makanan, minuman kendaraan, rumah, akan tetapi Haq Allah tidak di bayarnya kepada orang orang miskin, artinya tidak tahu bersedekah, zakatnya tidak beres
( Wa'ammalladzina yalbasunal jibab ) Adapun orang orang yang memakai jubah jubah yang terbuat dairoada bahan bakar neraka yang sangat panas dan mendidih itu
(Fa'ahlul kibri, Wal Fahri, wal huyalah) itulah orang orang yang bersifat sombong dan angkuh,
demikianlah yang di maksudkan Allah di dalam Alquran pada surah ini ayat 18, Allah subhanahu wata'ala menyampaikan bahwa
yang di sebut dengan padang Mahsyar tadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
minta doahkan, insyaallah