Yang ke 86 daripada surah surah Al Qur'an adalah surah yang bernama at Thariq, ini surah ( makkiyyah) di turunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah daripada Mekkah ke Madinah, ( wa Ayatuha) dan ayat ayatnya berjumlah ( sab'a 'asaro) 17 ayat
Bismillahirrahmanirrahim
Allah subhanahu wata'ala bersumpah demi langit dan demi atthoriq, yang datang pada malam hari
Taukah engkau wahai Baginda Rasulullah apa itu attariq
apakah yang datang pada malam hari tu ?
Attariq itu adalah bintang yang cahayanya itu dapat menembus gelapnya malam
Allah subhanahu wata'ala bersumpah dengan langit, kemudian yang ke dua bersumpah dengan bintang, apakah di sumpahkan oleh Allah subhanahu wata'ala itu
Sesungguhnya tiap tiap diri atasnya ada yang memelihara, Allah menjelaskan kepada kita bahwa setiap diri itu pasti ada yang menjaganya, yang memeliharanya, dan Allah subhanahu wata'ala menyatakan demikian dengan sumpah, berarti itu tidak main main, untuk lebih meyakinkan kepada ummat manusia bahwa setiap manusia itu, setiap diri atasnya itu ada yang memelihara ada yang menjaganya
Imam Al qurtubi salah seorang pemuka ahli tafsir beliau itu menulis sebuah hadist tentang pengertian ayat Allah
( Wa Kullu mukminin mi'atun wa sittuna Malaka, yazubbuna anhuma malam yukoddar alaih rowahu tabaroni ) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda di wakilkan dengan setiap orang mukmin itu 160 malaikat, jadi 1 orang yang beriman itu Allah mengirim 160 malaikat, jadi sekitar kita ini ada 160 malaikat, jadi kalau semisalnya kita ini ikut majlis ilmu ramai orang disitu, nah berapa banyak malaikat yang hadir disitu
Nah apa tugasnya malaikat yang ada 160 yang di wakilkan Allah di tugaskan Allah malaikat kepada kita itu
( yazubbuna anhuma malam yukoddar alaih ) menjauhkan itu malaikat atau menghindarkan itu malaikat daripada seorang hamba sesuatu yang tidak di takdirkan Allah atasnya, nah itulah tugasnya, menghalau, menjauhkan sesuatu yang tidak di takdirkan Allah kepada seorang mukmin itu,
Setiap diri itu ada yang memeliharanya, menjaganya, nah menjaga apa ? Menjaga dari sesuatu yang bukan takdirnya, baik itu berupa nikmat atau itu berupa bala, misalnya ada orang hendak datang kepada kita memberi duit padahal itu duit bukan takdir kita nah itu akan di halau oleh malaikat, ini bukan Haq nya, hantarkan saja kepada orang yang punya yang sudah di takdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala, nah kita berdagang membuka toko, kemudian datang orang hendak membeli barang, sudah di lihatnya itu barang, sudah di tanyanya itu barang, tapi karna ini pembeli bukan di takdirkan Allah untuk membeli barang kita, akhirnya malaikat pun menghalau, itu si pembeli tadi tiba tiba tidak jadi membeli barang kita, nah di halau oleh malaikat kenapa? Karena itu pembeli takdirnya bukan membeli di tempat kita
Nah demikian halnya juga bala dan bencana tidak akan bisa sampai kepada kita kalau itu bukan takdirnya kita, karena akan ada 160 malaikat yang siap menjaga kita daripada hal hal yang demikian itu, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyampaikan kepada sepupu beliau yakni Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, ( waklam annal ummata Awiztama'at alaik Ayyanfa'uka bi syai'in lamyanfa'uka Illa bi syai'in khod katabahullahu lak, ila akhir ) ujar nabi kita kepada Ibnu Abbas ketahuilah oleh mu bahwasanya ummat seluruh manusia jikalau mereka sepakat untuk memberikan manfaat kepada engkau dengan sesuatu tidaklah mereka itu bisa memberi manfaat kepada engkau kecuali dengan sesuatu yang telah di takdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala
Sedua ini orang hendak sepakat menolong kita, semua orang sepakat membantu kita tidak akan bisa terjadi kalau itu bukan di takdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala, ( Ayyanfa'uka bi syai'in lamyanfa'uka Illa bi syai'in khod katabahullahu lak) dan jikalau seluruh manusia itu sepakat akan memudaratkan engkau, dengan sesuatu, tidaklah mereka itu bisa memudaratkan engkau melainkan dengan sesuatu yang telah di takdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala, sepakat semua orang di seluruh dunia ini hendak mencelakakan kita tidak akan bisa kalau itu bukan takdir kita,
Tiap tiap diri itu atasnya ada yang menjaga yang memelihara, agar jangan sampai kepada diri itu sesuatu sesuatu yang bukan di takdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala dan ayat yang ke 4 ini itu mengisyaratkan kepada kita agar kita bertawakal berserah diri kepada Allah subhanahu wata'ala, isyarat daripada Allah bahwa kita mestinya berserah hanya kepada Allah subhanahu wata'ala, di dalam surah lain Allah subhanahu wata'ala segara tegas menyatakan pada surah Al Maidnah ayat 23
Kepada Allah lah kamu bertawakal dan berserah diri jika kamu beriman, jika engkau mengaku beriman maka tawakallah kepada Allah, jika tidak artinya maka silahkan tawakal kepada yang lain, nah ini tegas, jadi tawakal merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala
Nah kalau tawakal itu adalah suatu kewajiban bagi kita tentu kita ini wajib mengetahui tentang tawakal itu sedekar untuk bisa mengamalkan dan juga menggugur kan kewajiban itu pada diri kita, Al imamul Ghazali rahimahullah mengatakan tawakal itu artinya adalah
( 'iktimadul qolbi alal wakil wahdah ) Berpegangnya hati atas yang di serahkan segala macam perkara kita itu kepada Allah subhanahu wata'ala, hatinya itu berpegang hanya dengan allah, tidak dengan kekuatanz, tidak dengan kekayaan, tidak dengan jabatan dan kedudukan, yang di pegangnya hanyalah Allah subhanahu wata'ala
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa tawakal itu terdiri dari 3 rukun apabila tiga rukun ini terlaksana maka kita di sebut sebagai ( Mutawakkil) orang yang bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala
1. Rukun tawakal adalah ilmu, namun kalau orang yang tidak punya ilmu sudah tidak di katakan dia itu orang yang bertawakal, nah itu sudah jelas ilmu, nah apa ilmunya? Meyakini ( annallah hayyun la yamut ) meyakini seyakin yakinnya bahwa Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati ( rahmanurrahim ) Allah itu maha pengasih dan maha penyayang, ( ahlinun bi'ahwalina wamahuwa krhorun Lana ) Allah subhanahu wata'ala itu maha tahu dengan keadaan kita dan paling tahu yang terbaik untuk kita, Allah subhanahu wata'ala ( kodirun) maha kuasa
( La yahtazu 'ilaina) Allah tidak perlu kepada kita , apakah kita ini bertawakal, apakah tidak, nah Allah tidak perlu
Kita mahu mengerjakan shalat, mahu tidak, Allah tidak terganggu, kita mahu menjunjung perintah atau melanggar hukum Allah, itu semua tidak mengurangi kebesaran daripada Allah subhanahu wata'ala
( La yukrhliful mi'ad) Allah itu tidak akan mengingkari janji, apa yang di janjikan oleh Allah pasti akan terlaksana( Yakfi mayyufawwiru amrohu ilaih ) Allah akan mencukupi bagi orang orang yang berserah diri kepadanya, nah sekurang kurangnya itulah yang kita yakini kepada Allah subhanahu wata'ala di dalam hati kita, kalau sudah kita yakin bahwa Allah itu maha pengasih Dan penyayang, Allah maha tahu dengan apa apa perkara yang kita perlukan, Allah mencukupi orang yang bertawakal kepada-nya, kalau kita sudah tahu kita yang demikian itu maka timbullah rukun yang ke dua yang namanya adalah
2. ( Hal ) Atau keadaan , nah apa keadaan ini itu
( Sakinatul qolbi bi waqilihi ) Tentram nya hati kepada Allah subhanahu wata'ala, kalau kita ini umpamanya tidak tahu sama sekali urusan ekonomi, tidak ngerti, sedangkan kita ini banyak punya duit, lalu ada orang, orangnya ini sangat cerdas dalam mengelola ekonomi, dan orang ini sangat kita kenal, sangat sayang kepada kita, ini orang jujur dalam amanahnya dan orang ini selalu memberikan bantuan kepada kita, maka tentu kita akan menyerahkan masalah ekonomi kita kepada orang yang ahlinya tadi, Contohnya kita ini punya duit 1 JT, nah kita tidak tahu ini duit di gunakan untuk apa, tapi kita punya kawan yang kita tahu ini kawan adalah orang yang jujur amanah, punya sifat yang cerdas dalam mengelola harta, tentu kita akan menyerahkan duit 1juta ini kepadanya untuk di kelola,
nah seperti itu lah kita dengan Allah subhanahu wata'ala
Kita tidak bisa menjaga diri kita, kita tidak tahu apa yang terbaik untuk kita, sedang kan kita meyakini bahwa Allah itu adalah maha maha atas segalanya, maka serahkanlah segala macam urusan perkara kita ini kepada Allah subhanahu wata'ala, inilah tawakal, nah kalau sudah seperti itu, lalu hati kita tentram dengan Allah sebagai wakil kita maka timbullah yang ke tiga adalah
3. Amal perbuatan, nah amal perbuatannya apa?
( Yakmalu wa yas'a wa Yad'u bima amarobihil wakil ) kita akan bekerja, kita akan berusaha, kita akan berdoa tapi sesuai anjuran wakil, seusai dengan anjuran daripada Allah subhanahu wata'ala, jadi tawakal itu bukan menyuruh kita untuk tidak bekerja, bukan, bukan menyuruh kita untuk berhenti bergadang, bukan, Berdaganglah, berusahalah, tapi sesuaikan dengan perintah dan undang undang daripada Allah subhanahu wata'ala, kita gunakan harta kita di jalan yang Allah ridai, kita gunakan seluruh anggota tubuh kita kepada perkara perkara yang Allah Rida, jangan pula kebalikannya
Nah perlu juga kita belajar bersama dalam hal apak Ita bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala?
ada 4 hal yang kita serahkan kepada Allah dalam urusan dunia
1. ( Zalkuma yanfaq) Menarik sesuatu yang bermanfaat, artinya bekerja, berusaha, berdagang, nah ini perlu tawakal kepada Allah subhanahu wata'ala, nah seperti apa bekerja dengan tawakal kepada Allah
A. Dia bekerja sesuai dengan arahan Allah, sesuai dengan petunjuk Allah, dan dia berpegang bahwa Allah yang memberi sesuatu itu kepadanya bukan karna usahanya itu, nah kalau kita berusaha demikian maka tidak akan bertentangan denfan tawakal kepada Allah
Orang yang berusaha, bekerja, dengan melakukan pekerjaan yang haram maka itu bukan termasuk kepada orang yang tawakal kepada Allah, orang yang berusaha namun menipu nah itu bukan bertawakal kepada Allah, orang yang berusaha berjualan kemudian menyembunyikan aib aib pada barang dagangannya maka itu bukan termasuk orang yang bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala, karena orang orang yang tawakal kepada Allah itu adalah dia berusaha dan mematuhi segala macam aturan aturan daripada Allah subhanahu wata'ala,
berusahalah engkau dan yakinlah bahwa usaha ini hanyalah merupakan sebab, dan yang memberikan tetaplah Allah subhanahu wata'ala nah itu lah tawakal
Rezeki kita ini sudah di atur oleh Allah subhanahu wata'ala, nah kita yakin itu, jadi usaha itu hanyalah merupakan sebab, di dalam kitab sirajut tolibin ada di sebutkan kisah orang yang bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala yang orangnya ini adalah ahli takwa dan ahli ibadah kepada Allah, urusannya hanya belajar, belajar, beribadah, belajar, beribadah, tidak punya kerja, tidak punya usaha, tidak ada, mengajar, belajar, ibadah, nah hidupnya hanya itu, mempunyai keluarga anak istri, karena dirinya ini tidak punya usaha, pekerjaan maka diapun sakit, hidupnya miskin,
Jadi ujar istrinya kenapa kerjaan engkau ini hanya belajar, mengajar orang, dan beribadah saja, macam mana hendak mengurus anak istri, macam mana memberikan makan anak istri, nah kita itu perlu makan, perlu yang lainnya, akhirnya seorang ahli ibadah tadi ketika mendengarkan itu dia ( mahmuma) bersedih hati, berduka cita, karena ekonominya miskin, istrinya mendesaknya terus, maka tiba lah malam hari si ahli ibadah ini bermimpi, di dalam mimpi itu di syaratkan, menyuruh, jalan lah engkau ke tempat ini, di sana ada dua karung barang, satu karung emas, dan satu karung lagi perak, mimpi si ahli ibadah tadi
Maka bangunlah dia, kemudian dia bercerita kepada istrinya malam tadi aku bermimpi yang demikian itu, maka setelah mendengarkan ceritaku itu istrinya langsung berkata, apa tunggu lagi, langsung lah kita datangi ujar istrinya, maka berangkatlah dia, sampai ke tempat itu ingat dia firman Allah subhanahu wata'ala yang mengatakan bahwa surah azzariyat ayat 22
rezeki kamu itu di langit, nah kalau aku asal mengambil ini berarti tidak sesuai dengan Alquran ujarnya, maka diapun balik lagi ke rumah, diapun menjelaskan kepada istrinya, maka malam yang ke 2 mimpi lagi dia, malam ke 3 mimpi lagi seperti itu juga dan diapun tetap tidak mahu mengambil demikian itu, nah istrinya ini pun bercerita kepada tetangganya sebelah, maka berangkatlah itu tetangganya, dan dia pun mengambil itu 2 karung, begitu di buka isinya ular dan kalajengking, ujar si tetangganya tadi berarti engkau ini hendak menipu aku, engkau bilang ada emas dan perak, ternyata hanya ular dan kalajengking
Maka diapun ikat kembali dua karung itu di bawanya ke rumah, bertujuan hendak marah kepada istri si ahli ibadah ini, Karena sudah berani berbohong, sampailah dia kerumah itu tetangga kita mempermainkan kita katanya ada emas dan perak ternyata ada ular dan kalajengking, nah malam ni kita lemparkan aja ini 2 karung ke rumah mereka, maka bangunlah si ahli ibadah tadi, karena terdengar ada benda yang jatuh di lemparkan ke arah atap rumahnya mereka, maka keluarlah mereka itu, di lihatnya ada 2 karung, yang pertama isinya dinar, yang kedua isinya dirham perak, masuk lah dia membawa dua karung itu, lalu istrinya bertanya apa itu yang jatuh tadi, itu ada 2 karung, satu berisi Dinar dan satu lagi dirham, kan sudah ku bilang
Rezeki itu dari langit datangnya yang di berikan oleh Allah subhanahu wata'ala, nah itulah kekuasaan daripada Allah, Allah mencukupkan orang orang yang bertawakal kepada-nya
2. Kemudian yang ke dua yang kita tawakallah kepada Allah subhanahu wata'ala adalah ( hifzumahasol) menjaga yang sudah ada, tadi itu mencari, sekarang ini menjaga memelihara yang sudah ada, nah dalam menjaga yang sudah ada ini agar jangan binasa, jangan hilang, maka kita serahkan kepada Allah subhanahu wata'ala yang memeliharanya, dan Allah tidak melarang kita berusaha dengan sebab sebab selama itu sesuai dengan aturan daripada Allah subhanahu wata'ala, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di datangi seorang Badawi, datang kepada nabi turun daripada untanya,
Lalu turun dia dan tidak mengikat untanya, dia hanya bertawakal kepada Allah, kenapa ujar nabi itu unta engkau tidak di ikat, lalu dia mengatakan aku bertawakal kepada Allah, maka nabipun memberikan nasihat, ikat terlebih dahulu kemudian engkau baru bertawakal kepada Allah nah itu yang benar, ikat dulu baru bertawakal kepada Allah, nah jadi artinya apa? Kalau kita mengunci kendaraan, kalau kita mengunci benda benda lain yang berharga maka itu tidak akan merusak akan tawakal kita kepada Allah, selama kita meyakini, berpegang bahwa yang memelihara itu adalah hakikatnya Allah subhanahu wata'ala, dan jangan kita berpegang kepada kunci atau tapi pengikat tadi
3. Yang ketiga kita tawakal kepada Allah adalah
( Da'umayanzur) Dalam hal menolak bala, bahaya, bencana, sakit dan sebagainya, nah kita bertawakal kepada Allah subhanahu wata'ala bahwa sesuatu itu tidak akan bisa membahayakan kita kalau bukan di kehendaki Allah, dan usaha kita ini di perintah untuk menghindari daripada bahaya bahaya itu, contohnya di larang kita ini tidur di tempat dimana disitu sudah jelas banyak binatang binatang buas, tidak boleh kita bersandar di dinding yang miring yang hendak rubuh, jangan pula sudahlah dindingnya miring hendak roboh kemudian kita datang bersandar lalu berkata aku bertawakal kepada Allah, nah itu tidak boleh,
Nah kita berlindung daripada dinding yang miring itu, berjauh daripadanya itu bukan menghilangkan tawakal kita, selama kita yakin bahwa yang menyelamatkan kita, yang menjaga kita adalah Allah subhanahu wata'ala
4. Yang ke empat kita bertawakal kepada Allah adalah
( Kat'umanazal) Memutuskan yang terjadi, sakit misalnya, kemudian kita berusaha bagaimana menghilangkan sakit maka kitapun berobat, nah itu tidak di larang oleh Allah subhanahu wata'ala, tidak di larang oleh agama kita dan itu tidaklah menghilangkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wata'ala, selama kita berobat itu sesuai dengan apa yang di anjurkan oleh agama, kalau kita ini berobat dengan cara cara yang di larang oleh agama, yang di larang oleh Allah subhanahu wata'ala, maka itu menghilangkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wata'ala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar