Pages

Jumat, 22 November 2024

Alquran / 92 Surah Al Lail / hlm. 99



Yang ke 92 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran yaitu surah yang bernama Al lail, ini surah 
( Makkiyyatun) Di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah 
( Wa ayatuha) Dan ayat-ayatnya berjumlah 
( ihda wa 'isrun ) 21 ayat 

Berbagai macam pendapat ahli tafsir tentang turunnya ini surat Al lail, ada yang mengatakan bahwa surat Al lail ini di turunkan pada abu bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anh, yang mana beliau di kenal sangat membantu, menolong kaum muslimin terutama kaum duafa pada waktu itu, 

Dan ada lagi pendapat para ulama tafsir yang mengatakan bahwa surat Al lail ini turun pada seorang laki-laki yang bernama abu dahdah, dimana diriwayatkan ada seseorang yang menanam pohon kurma, menanamnya itu di perbatasan tanah dengan orang sebelah, setelah beberapa waktu kurma itu berbuah dan sebahagian dahannya itu ke sebelah tetangga, nah sedangkan tetangga sebelah ini banyak mempunyai anak anak yang masih kecil, sehingga apabila kurma itu berjatuhan ke sebelahnya, maka anak anaknya itu langsung mengambil kurma kurma yang punya tetangga sebelah tadi 

Nah yang punya kurma keberatan dengan demikian dan melapor kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, di kisahkan kisah tadi kepada Baginda Rasulullah, lalu Baginda Rasulullah mengatakan mahukah engkau sedekahkan itu kurma kepada tetangga engkau yang di sebelah, nanti akan di ganti Allah bahwa engkau akan mendapatkan pohon kurma di dalam syurga, ( fa'aba ) oh tidak bisa wahai Rasulullah, kalau dunia dunia, kalau urusan akhirat ya akhirat, tidak bisa 
Kalau tidak mahu ujar nabi ya tidak apa-apa, nabi hanya menawarkan sahaja

Begitu laki-laki tadi pulang maka cerita ini pun di dengar oleh abu dahdah, lalu abu dahdah ini mendengarkan cerita ini maka mendangi laki-laki yang punya pohon kurma itu, ujar abu dahdah, wahai laki-laki engkau jual tidak pohon kurma engkau itu, aku mau beli, nah ini cocok ujar laki-laki tadi, di beli abu dahdah lah sebatang yang mengarah ke tetangganya tadi itu, 

Maka abu dahdah pun pergi kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wahai Rasulullah apakah masih berlaku tawaran yang semalam itu bahwa sebatang pohon kurma yang di halaman itu akan di gantikan Allah di syurga, masih ujar nabi kita 
( Walladzi nafsih biyadihi) Bersumpah Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, masih, nah kalau demikian itu aku serahkan sebatah itu nanti akan aku ambil kembali di dalam syurga 1 batang kurma 

Maka Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun memanggil laki-laki yang menjadi tetangga si yang punya pohon kurma tadi, di panggil lah dia lalu di bagikan Rasulullah kepadanya pohon kurma itu, nah sesudah itu maka turunlah surat ini, yang mana Sebahagian kandungannya adalah memuji perilaku abu dahdah tadi dan mencela laki-laki yang tidak mahu menyedekahkan kurmanya itu kepada tetangganya 

Allah subhanahu wata'ala bersumpah demi malam, apabila dia menutupi cahaya siang, 

Dan demi siang apabila dia membuka gelapnya malam

Dan demi tuhan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan, 

Sesungguhnya amal perbuatan kamu itu berbeda-beda, ada yang seperti abu dahdah tadi, ada pula yang seperti laki-laki yang tidak mau bersedekah, yang pelit tadi, nah Allah sudah menyatakan bahwa sesungguhnya amal ibadah tiap tiap orang itu berbeda-beda, 

Antara orang yang serumah itu berbeda-beda tingkah lakunya, bahkan orang orang yang bersaudara pun, Adin beradik pun berbeda-beda tingkah lakunya, karena ini jelas sudah di sampaikan di dalam Alquran 

Maka adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, dan dai bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala 

Dan dia percaya bahwa akan adanya balasan ganjaran nanti di syurga, maka akan kami permudah dia bagi syurga, 

Nah di dalam ayat ayat ini Allah subhanahu wata'ala menjelaskan bahwa adapun orang yang memberi 
( Wattaqo) Dan bertakwa kepada Allah dan hal urusan beri memberi itu, nah bagaimana orang yang memberi itu bertakwa dalam pemberiannya, karena ada juga orang yang memberi tapi tidak bertakwa nah ini tidak termasuk kepada golongan orang orang yang di mudahkan masuk syurga, Karena orang yang di mudahkan masuk syurga itu adalah syaratnya takwa dan dia suka memberi, 

Nah adapun orang yang memberi kemudian dia bertakwa kepada Allah, maka akan ada beberapa syarat 

1. Dia memberikan itu (Min halalil ) daripada yang halal, orang yang memberikan sesuatu yang tidak halal nah itu namanya memberi tapi tidak bertaqwa kepada Allah, Karena Allah menjelaskan di dalam Alquran adalah pada surah Al Baqarah ayat 267

Berikanlah dari yang Baik baik hasil usaha kalian, yang halal daripada usaha kalian, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan bahwa 
( Man asoba malan min makzamin fawasolabihi rohima, aw tashaddaqo bihi, aw anfaqohu bi Sabilillah, jama'allahu bihi Zalik Summa kaza fahu finnar ) ujar nabi kita yang artinya barangsiapa yang mendapatkan harta dari jalan dosa, dari jalan yang di haramkan Allah, macam mencuri, merampok, korupsi, dan riba lainnya, nah dia mendapatkan harta dari jalan dosa, lalu harta ini di gunakannya untuk bersedekah, dia berikan kepada keluarga yang miski, bantu keluarga kepada orang orang sudah atau dia sedekahkan harta tadi, atau dia infaqkan di jalan Allah, maka akan Allah himpunkan semuanya hartanya itu, kemudian Allah lemparkan ke dalam api neraka hartanya itu bersama-sama dengannya 

Jika sama sekali tidak ada gunanya kalau kita itu memberikan sesuatu daripada jalan yang haram, atau harta yang haram, karena harta yang haram itu jangan hendak di sedekahkan, seharusnya di balikkan kepada uang punya, contoh kita ini melakukan praktek riba, maka duitnya itu jangan kita sedekahkan seharusnya kita balikkan kembali kepada yang punya nya, jadi kalau harta yang haram ini kita berikan kepada orang maka akan makin berat urusannya nanti, makin berat hukumnya daripada Allah subhanahu wata'ala 

Akan mendapatkan 3 hukuman 

1. Kita mengambil hak orang lain 
2. Kita menggunakan kepada yang bukan berhaknya
3. Kita menyakiti orang yang kita berikan harta haram itu, contohnya ada orang ni tak tau apa-apa, kemudian kita berikan harta daripada jalan yang haram, nah ini akan mencelakainya, kalau orang yang menerima jelas tidak berdosa, tapi akan berpengaruh kepada akhlak nya dan tingkah laku kita, nah apalagi tahu 

Contohnya kita tidak tahu bahwa ini adalah harta yang haram, kemudian kita makan, walaupun kita tidak berdosa karena kita tidak tahu, tapi karna itu adalah harta haram maka akan bisa mempengaruhi dengan jiwa, sikap dan kekakuan kita, karena sesuatu yang berasal daripada yang haram itu automatis akan menumbuhkan perilaku yang tidak baik, jadi intinya kalau kita ini memberikan kepada orang lain dengan harta yang haram makak Ita akan merusak dirinya, seharusnya harta yang haram ini kita kembalikan kepada yang punya nya, bukan malah kita sedekahkan, nah ini yang tidak baik 

2. Kemudian yang ke dua adalah ( min zayyidin) daripada yang terbaik yang kita punya, contohnya kalau kita punya beras berikanlah beras yang terbaik, jangan pula ada kotornya, memberikan makanan, beri lah yang bagus, jangan pula sisa sisa makanan yang kita makan kemudian kita berikan kepada orang lain, memberikan buah yang bagus, jangan pula yang tak elok baru hendak kita berikan kepada orang lain, memberikan baju yang bagus, jangan pula yang sudah buruk, yang bekas, yang kita sendiripun tak mahu memakainya kemudian kita berikan pula kepada orang lain nah ini yang kurang baik 

Allah subhanahu wa ta'ala menyampaikan di dalam al-qur'anul Karim pada surah Al-Baqarah ayat 267 

Jangan kamu mengambil menuju sesuatu yang tidak baik daripadanya engkau berikan, sedangkan kamu seandainya di berikan kamu pun tidak akan mengambilnya, 

Jadi yang di berikan itu musti yang kita mahu mengambil dan memakannya, nah itu yang kita berikan, supaya termasuk dalam ayat ( man akto wattaqo) di berikan yang baik baik, 

3. ( ittikhro Mardhotillah ) Memberikan lah sesuatu itu semata-mata mengharap Rida daripada Allah subhanahu wata'ala, tidak ada tujuan lain, selain daripada Allah, memberi itu untuk di ridai Allah, 

4. ( Adamul manni) Tiada merasa berjasa kepada orang yang di beri itu, contohnya kita ini menolong orang, memberikan pertolongan kepada orang, jangan ada di dalam hati kita bahwa kita ini berjasa kepada orang itu, jangan, karena yang demikian itu adalah hak nya Allah, kita hanya merupakan perantara dari Allah kepada orang tersebut, jangan ada di dalam hati kita tersirat bahwa kita ini banyak berjasa kepada orang lain, apalagi sampai kita ucapkan, nah si Fulan itu dulunya ku bantu, itu dulunya tidak makan ku berikan makan, nah ini jangan 

Nah bila mana kita berjasa dengan pemberian kita itu maka kita sudah tidak tergolong kepada orang orang yang takwa, padahal antara memberi dan menerima, itu sebenarnya adalah sama sama berjasa, yang memberi berjasa, yang meneripun berjasa kepada yang memberi, karena di terimanya itu lalu adalah pahala, jadi sama sama memberikan keuntungan, jangan hanya sendirian kita ini merasa berjasa kepada orang lain 

5. ( Adamul aza) Tidak menyakiti, baik dengan mulut, baik dengan tangan, baik dengan apapun, memberi tapi menyakiti hati orang, kita ini suka memberikan kepada orang tapi mulut kita ni suka mencela, heis engkau ini menyusahkan aja, nah ini tidak perlu, kalau hendak menolong tolong saja, kenapa hendak menyakiti hati orang lain, Allah subhanahu wata'ala berfirman di dalam al-qur'anul Karim pada surah Al-Baqarah ayat 264

Jangan kamu batalkan pahala sedekah kamu dengan manni, wal aza, orang yang bersedekah kemudian merasa dirinya berjasa, orang yang bersedekah tapi mulutnya menyakiti kepada orang yang di berikannya itu nah ini akan mendapatkan pahala apapun, dan tergolong kepada orang orang yang tidak takwa kepada Allah 


6. Menggunakan, memberikan harta itu lebih baik adalah kepada orang ( Ilan man, la yasrifuhu fi maksiatilllahi ta'ala ) memberikannya kepada orang yang tidak menggunakan dalam bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala, yang di berikan ini adalah orang yang Sholeh, orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala, nah ini yang lebih baik 

Nah bila sudah ada 6 perkara ini ketika kita memberikan itu ( man'akto wattaqo) tergolong kepada orang orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala 

Dan dia membenarkan dengan adanya gantian daripada Allah subhanahu wata'ala, dia percaya bahwa apa yang ci berikannya itu akan di ganti oleh Allah subhanahu wata'ala, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 
( Ma min Yaumin yusbihul 'ibadu fihi Illa wamalakani yanzilan Fayaqulu ahaduhum ( allahumma aktimumfikan khrolafa, wayaqulul akhror waaktimumsikantalafah rowahul muslim) setiap hari ada 2 malaikat turun ke bumi, yang satu tugasnya berdoa ( allahumma aktimumfikan khrolafa) ya Allah berikanlah gantian kepada orang yang suka bersedekah, itu ada kerjaannya berdoa kepada Allah untuk mendoahkan orang yang suka bersedekah di jalan Allah 

Dan ada lagi malaikat yang bertugas mendoahkan 
( Allahumma aktimumsikantalafah) Yang Allah bisanakanlah harta orang yang bakhril itu, dan membinasakan harta itu Allah subhanahu wata'ala macam macam caranya, ada dengan cara yang keras, ada dengan cara lembut tidak terasa, tapi sama saja harta akan habis, ada yang kebakaran habis hartanya, ada yang kehilangan harta, ada yang di berikan Allah penyakit, seminggu 100ribu beli obat, akhirnya lama lama habis hartanya, sudahlah sakit habis pula duit

Adalagi dengan anak, yang tidak bisa di urus, akhirnya hartanya pun habis, karena demikianlah doa daripada malaikat, kepada orang orang yang bakhril, akan tetapi orang orang yang memberikan hartanya kemudian dia bertakwa dan dia percaya dengan gantian daripada Allah itu adalah 

Maka akan kami permudah dia menuju jalan kebahagiaan, jalan menuju syurga 

Adapun orang yang bakhril dia dia merasa dirinya kaya, orang yang Bakrhil, orang yang merasa tidak perlu akan Allah, orang yang merasa tidak butuh akan ganjaran dari Allah, 


Dan dia tidak percaya dengan gantian daripada Allah 

Maka akan kami mudahkan dirinya menuju jalan kesengsaraan, menuju jalan neraka, dan kalau sudah masuk mereka ke dalam neraka 

dan tidak lah berguna hartanya itu, tidak akan memberikan manfaat baginya sama sekali, sebanyak apapun hartanya itu di dalam dunia, ketika dia sudah masuk ke dalam neraka maka harta yang banyak itu tidak akan bisa memberikan apa apa manfaat kepadanya, kecuali hartanya itu ada di gunakannya untuk jalan jalan yang Allah Rida nah itu yang dapat memberikan pertolongan padanya nanti di akhirat 

Mudahan mudahan kita semuaan ini di berikan kemudahan oleh Allah subhanahu wata'ala, dalam melaksanakan apa apa yang ada di dalam ayat ini, dan Allah senantiasa menjaga kita semuaan ini dan terjauhkan diri daripada perkara yang di larang oleh Allah subhanahu wata'ala aamiin ya Allah 

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog