Pages

Minggu, 10 November 2024

Alquran / 83 Surah Al mutaffifin / hlm 90

Bismillahirrahmanirrahim 

Yang ke 83 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran adalah surah yang bernama Al mutaffifin, ini surah ( Madaniyyatun wa makkiyyatun) di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam di Mekkah menurut satu pendapat dan sebahagian lagi surat ini di turunkan di Madinah ( wa ayatuha ) dan ayat ayatnya berjumlah 
( Sittun wa salasun ) 36 ayat 


Berbagai macam pendapat yang mengartikan wailun itu
Ada yang berpendapat ( sittadul azabil akhiroh) bersangatan pedih azab di akhirat itu, dan ada lagi yang mengatakan ( innahuwadin fi jahannan yasiru
Fi sadidu ahlin nar) wailun itu adalah satu jurang di dalan neraka jahanam yang di situ mengalir Danur Danur ahli neraka, 


Bersangatan azab di akhirat nanti di dalam jurang dari neraka jahanam ( mutoffifin ) bagi orang orang yang mengurangi takaran dan timbangan maupun ukuran,



 yang apabila mereka itu menakar untuk diri mereka atas manusia mereka minta di sempurnakan, kalau mereka hendak menukar dengan orang mereka hendak supaya takarannya pas jangan di kurangi, minta di sempurnakan


Dan apabila mereka menakar untuk manusia atau menimbang untuk manusia mereka itu mengurangi takaran dan timbangannya, kalau membeli sama orang takut dia di curangi, takut timbangannya di kurangi tapi pas dia sendiri hendak menjual sama orang berani dia mengurangi takaran dan timbangan nah itulah orang orang yang di sebut ( mutoffifin) maka Allah mengancam mereka itu dengan wail, azan yang sangat dahsyat nanti di akhirat terhadap mereka itu 

Al imamul Ghazali rahimahullah mengatakan berkaitan dengan ( mutaffifin ini) ( wa Kullu man Fahuwa minal mutaffifin lil kail ) ujar imam Al Ghazali rahimahullah tiap tiap orang yang mencampurkan makanan, beras, gandum, gula tepung, mencampurkan dengan selain daripada itu bahan, kemudian dia takar, dia timbang lalu di jualnya, maka itu termasuk kepada ayat ini, Takarannya itu tidak kurang, namun bahannya ada campurannya, nah ini sama dengan mutaffifin, walaupun timbangan atau takarannya itu pada namun bahannya ada bercampur maka akan di ancam oleh Allah dengan siksa azab yang sangat pedih nsnti di akhirat, sama hal juga dengan berjualan minyak bensin lalu di nyampurkannya dengan bahan yang lain nah ini sama 

Dan tiap tiap tukang daging, tukang sembeli beserta daging itu ada tulak yang tidak berlaku dengan seumpamanya maka diapun termasuk orang orang yang mengurangi dalam timbangan, contohnya kita beli daging ayam sekilo, kemudian di timbang pas, lalu kita balik ke rumah di dalamnya ada tulang dan macam macamnya, nah walaupun sedikit ini termasuk ke dalam mutaffifin, berbuat curang dalam timbangan dan akan mendapat ancaman oleh Allah subhanahu wata'ala 

Dan bandingkanlah, kiaslahkan atas perkara ini sekalian takdir, sehingga pada ukuran yang biasa di lakukan oleh penjual penjual kain yang mana bila mereka itu menjual atau membeli kain mereka mengulurkan kainnya di waktu mengukur dan tidak memanjangkannya, sehingga nampak perbedaan pada kadar dan seluruhnya itu termasuk dslam mengurangi dan berbuat curang, jadi sesuatu yang bersifat curang, mengurangi, baik itu takaran, timbangan, ukuran dengan macam macam bentuk uang di sebutkan tadi maka termasuklah di dalam ancaman daripada Allah subhanahu wata'ala 

Dan berkata lagi Al imam Al qusyoiri rahimahullah 
( Waman talabahaqqaha nafsihi minannas, walayuktihim
Huquqohum kamayadhlubu Li nafsik Fahuwa min hazihil jumlah ) ujar imam qusyoiri mengatakan siapa siapa yang menuntut Haq dirinya daripada manusia sedangkan dia tidak memberikan manusia itu Haq haq mereka nah itupun termasuk dalam jumlah yang terkandung dalam ancaman daripada Allah subhanahu wata'ala, contohnya dia ini menuntut kepada orang lain agar menunaikan haq terhadap dirinya, tapi dirinya sendiri tidak memberikan Haq kepada orang lain, termasuk dalam ancaman ini 

Semisal orangtua, ayah, menuntut anaknya supaya bakti kepadanya, menuntut kepadanya supaya taat dan patuh kepadanya, tapi di ayah itu sendiri tidak menunaikan haq Haq anak yang ada pada dirinya, tidak melaksanakan tugas tugasnya terhadap anak, termasuk dalam ancaman Allah subhanahu wata'ala, seorang suami yang menuntut kepada istrinya, engkau musti taat kepadaku, Allah tidak akan menerima ibadahmu kalau engkau tidak taat kepadaku ujar si suami, tapi di suami ini sendiri banyak tidak menunaikan haq Haq istri yang ada padanya, banyak menyakiti istrinya, banyak mengurus tenaga istrinya, banyak pekerjaan rumah yang istrinya sendiri yang mengerjakan yang demikian itu tidak lah wajib di kerjaan oleh istrinya, nah ini termasuk akan mendapatkan ancaman daripada Allah menurut pendapat Al imam Al qusyoiri rahimahullah

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu sahabat Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam mengatakan 
( Al katlu fi Sabilillah yukaffiru zunub Kullaha, illal amanah, wal waznu amanah wal Kailu amanah rowahul Baihaqi ) orang yang terbunuh dalam perang Sabilillah seluruh dosa dosanya akan di hapus oleh Allah subhanahu wata'ala, kecuali Al amanah, kecuali ada amanah amanah orang yang dia khrianati maka itu tidak cukup terbunuh di Sabilillah untuk menghapuskan dosa itu, ( wal waznu amanah ) timbangan itu adalah amanah 
( Wal Kailu amanah) Takaran itu adalah amanah, orang yang kerjanya selalu mengurangi takaran, mengurangi timbangan, kemudian dia ini ikut fi Sabilillah gugur di jalan Allah sebagai syahid, maka tetap tidak akan terhapus dosa dosanya dalam melakukan kecurangan terhadap timbangan atau takaran itu 

Kemudian dia ikut berjuang fi Sabilillah, gugur sebagai syahid tetap tidak akan di halus Allah dosanya, apalagi dengan kebaikan kebaikan lain, tidak akan bisa terhapus, dengan sembahyang biasanya menghapuskan dosa, dengan puasa menghapuskan dosa, membaca Alquran menghapuskan dosa, tapi kalau dosa ya itu berupa penghianatan kepada amanah orang maka tidak akan bisa terhapus dosanya dengan perbuatan perbuatan baik sekalipun mempertaruhkan jiwanya dalan perang fi Sabilillah, nah itu bahayanya orang orang yang mengkhianati amanah 

( Qola Malik bin Dinar radiallahu'anhu) Malik din dinar salah seorang Aulia Allah subhanahu wata'ala, beliau berkata, ujar Malik bin Dinar aku mendatangi tetangga yang sedang sakit dalam keadaan yang begitu dahsyat 
Maka orang yang sakit itu selalu mengucapkan kata
( Jabalaini minnar, jabalaini minnar, jabalaini minnar) Seharusnya biasanya orang berdzikir, tapi dia tidak, nah artinya apa, 2 gunung api neraka 3x, lalu ujar Malik bin Dinar apa yang kamu baca itu, kenapa engkau membaca demikian itu, dia berkata ( dulunya aku ini berusaha mempunyai dua takaran, satu takaran aku gunakan untuk membeli, satu lagi aku gunakan untuk menjual, jadi dua gunung api neraka, satunya di gunakannya untuk mendapatkan keuntungan agar lebih ketika membeli, satu lagi di gunakannya itu takaran untuk mencungi orang yang beli 

Adalagi lagi Sebahagian ulama menceritakan bahwa, aku pergi menengok orang yang sakit, yang sudah dalam keadaan sakarat, aku bacakan padanya dzikir, la Ilaha Illallah, tidak tidak mahu mengikuti, sekalinya orang itu sadar, kenapa engkau tidak mahu mengikuti dzikir yang ku baca, kenapa? Ujarnya, wahai saudaraku, lisanku tertahan atas timbangan yang ku krhianati untuk mengucapkan kalimat la Ilaha Illallah, 

Nah dari kejadian kejadian yang kita kisahkan ini dapat kesimpulan bahwa orang orang yang berusaha dengan mengurangi takaran, mengurangi timbangan, berkhianat dalam perjanjian perjanjian bisnis lainnya, maka itu di tetapkan matinya itu sebagai suul krhotimah kalau dia ini tidak hendak sedikitpun di dalam hatinya bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala, mati dalam keadaan bersusah payah, ( coba bakdussalaf) berkata lagi sebahagian ulama salaf ( ashadu Alla kulli kayyalin aw wazzanin binnar, liannnahu la yaskadu aslam
illaman 'asomallah ) ujar Sebahagian ulama dahulu aku bersaksi, aku berani bersaksi kata mereka, tiap tiap orang yang berusaha kemudian berkhianat, maka matinya akan masuk neraka , nah begitu dahsyatnya ini dosa berkhianat dalam takaran, timbangan, ukuran
( liannnahu la yaskadu aslam) Karena tidak ini hampir hampir tidak akan selamat ( illaman 'asomallah ) kecuali orang itu di pelihara oleh Allah subhanahu wata'ala 

Artinya umumnya, rata-rata orang orang yang menggunakan takaran dan timbangan itu akan masuk neraka, kecuali orang orang yang bertakwa kepada Allah jujur dalam amanahnya itu , jujur dalam timbangan, ukuran, dan takaran itu, nah ini yang benar benar selamat

Takaran dan timbangan, ukuran itu adalah merupakan suatu alat jual beli dan kita tidak akan bisa terlepas daripada itu dalam kehidupan sehari-hari, adanya takaran, timbangan, ukuran itu bertujuan untuk memudahkan kita untuk berjual beli, nah oleh karena itu para ulama menjelaskan bagaimana caranya supaya orang orang yang berusaha menggunakan takaran, timbangan, ukuran itu bisa selamat daripada ancaman ancaman tadi dan bisa terpelihara daripada Allah 

Maka para ulama terdahulu mengatakan ada 3 hal yang perlu di perhatikan, ada 3 perkara yang perlu di jaga, 

1. ( Inko'u mizal wal mikyal minaddanas ) Membersihkan timbangan itu, takaran itu daripada kotoran-kotoran, atau sesuatu yang memberati itu timbangan, nah supaya kita ini selamat nanti ti akhirat, maka selalulah kita perhatikan dan waspada dan di amati, apakah masih bagus atau tidak itu timbangan, ( imam fudoil bil Iyad rahimahullah melihat anaknya mencuci dinar, dinar tu di basuh, supaya bersih, kenapa engkau membasuh? Aku hendak menggunakan ini supaya bersih, ujar fudoil kepada anaknya ( ya bunayya fikluka haza, afdolu min hajjataini wa isrina umrah) perbuatan engkau ini membersihkan Dinar tadi lebih afdhol daripada engkau 2 kali naik haji dan 20 kali umrah 

Nah jadi pedagang pedagang yang senantiasa membersihkan takarannya, mencek timbangannya, menjaganya agar bisa menakar dan menimbang dengan amanah sungguh besar pahalanya itu, 

2. ( Al ihtiyat ) Hati hati, artinya apa ( bi'anturjiha ) bahwa engkau menangkan itu takaran, contohnya ada orang membeli berat, 1 kilo, kemudian kita timbang, pas 1 kilo, nah tambahkan sedikit, itu kehati-hatian, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sewaktu beliau datang ke pasar, melihat orang sedang menimbang, ujar nabi ( ziin wa arjih ) timbang dan menangkan, jangan rata, jangan pas, nah kalau hendak ihtiyat, ke hati hatian, musti di menangkan itu takaran lebihkan sedikit sahaja tidak jadi masalah daripada kurang, nah yang kita lebihkan sedikit itu berapakah nilainya di sisi Allah kalau kita amanah dengan demikian itu ? ( Jannatun arduhassamawatu wal Ardh) Syurga seluar langit dan bumi, nah sedikit aja lebihkan mendapatkan pahala yang demikian itu daripada Allah


3. Bagi orang orang yang berusaha menggunakan takaran, timbangan, atau ukuran, di tuntut, di suruh 
 ( Iksarus shodaqoh) Memperbanyak sedekah, karena sedekah sedekah itu lah yang nantinya akan menutupi kekurangan selama yang terjadi di dalam jual beli menggunakan takaran atau timbangan tadi 


Orang orang yang mengurangi takaran, mengurangi timbangan, ukuran, tidak jujur dalam perjanjian usahanya, apakah tidak menyangka mereka itu bahwa nantinya mereka itu akan di bangkitkan kembali oleh Allah, apakah mereka itu tidak percaya akan adanya hari kiamat sehingga berani melakukan yang demikian itu 

Yaitu bagi hari yang besar, hari kiamat itu, orang orang yang berani melakukan khrianat dalam timbangan dan ukuran itu di anggap oleh Allah orang yang tidak percaya dengan adanya hari kiamat, kalau dia ini percaya dan beriman dengan adanya hari kiamat, hari pembalasan, pasti tidak akan berani mengurangi takaran dan timbangan itu 

Pada hari dimana semua manusia berdiri menghadap Allah tuhan semesta alam, di Padang Mahsyar, kita akan berdiri menunggu proses hukum kita satu persatu Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda ( yauma yaqumu ahadukum firoshihi ila Anshofi ujunaih )
Ada yang berdiri menunggu itu keringatnya banjir sampai ketelinga, nah berapa lama kita berdiri disitu menunggu, dengan cuaca yang sangat panas sampai keringat itu ke telinga 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
( Yakumunnas, mikdara salasi mi'ati sanah minaddun ya 
Layukmaru bihim bi'amrin ) Menunggu disitu adalah lamanya 300tahun, daripada tahun dunia, dan itupun belum ada kabar berita apapun, 300 tahun berdiri disitu menunggu dan belum juga ada perintah, ( waqola Ibnu Abbas, wahuwa bihaqqil mukminin, fakodrin sirofihim minassolah ) Ibnu Abbas berkata waktu masa yang 300 tahun tadi kita berdiri menunggu bagi orang orang yang beriman itu di rasakan oleh Allah hanya sekedar dia menyelesaikan sembahyang, artinya 300 tahun itu terasa bagi orang yang beriman seperti waktu kita menyelesaikan shalat, namun bagi orang orang yang di dalam dunia hidupnya dzolim, menipu orang, menganiaya orang, seperti orang yang mengurangi Takaran dan timbangan tadi, itu di akhirat dia akan berdiri menunggu gilirannya selama 300 tahun terasa seperti tahun tahun dunia lamanya 

Bagi orang orang yang beriman yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala lamanya menunggu proses itu sedekar dia hanya melaksanakan antara waktu sembahyang lima waktu di dalam dunia, sekitar 5 sampai 10 menit lebih kurang, nah maka senantiasalah kita berharap dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar kita di perlihatkan kebaikan, di pelihara daripada sifat kedzoliman dan khrianat dan sifat sifat yang tercela lainnya, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin 



Tidak ada komentar:

More Article about this Blog