Yang ke 104 daripada surah surah yang ada di dalam Alquran adalah surah yang bernama Al Humazah, ini surah ( makkiyyatun) di turunkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah dari Mekkah ke Madinah
( Wa Ayatuha ) Dan ayat ayatnya berjumlah ( this'un )
9 ayat
( Wail ? Menurut para ahli tafsir ada yang mengatakan satu ungkapan kebencian dan kemurkaan dari Allah subhanahu wata'ala atau yang di artikan dalam bahasa kita dengan celaka, ada lagi pendapat ulama tafsir yang mengartikan ( wail ) itu adalah ( jabalun fi Jahannam) nama gunung di neraka Jahannam, dan ada lagi pendapat ahli tafsir yang mengatakan bahwa ( wail ) itu adalah jurang yang ada di dalam neraka jahanam
Neraka bagi tiap tiap orang yang menggunjing, mengumpat dan mencela ( Humazah ( adalah orang yang ghibah, dengan lisannya, dengan mulutnya, sedangkan lumazah, itu orang yang ghibah dengan lisan atau dengan mata, dengan mulut, dengan hati, atau juga dengan tulisannya, di dalam ayat yang pertama ini Allah subhanahu wata'ala mengancam dengan ancaman yang keras terhadap orang yang suka menggibah itu, atau mengumpat, menggunjing akan kekurangan kekurangan orang lain
Di dalam sebuah hadist Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
( Lammaa'u Riza bimarortu Bi rizalin Tukta'uzuluhum
Bimaa karidho minnar , faqultu man ha ula, qolaalladzina yatazayyanun )
( qola summa marortu Bi zubbin muntinin rih, fasamiktu fih aswatan syadidah, Fakultu manha'ula ya Jibril, qolu nisa kunna yatazayyanna bi zina, wayyuktina Mala yahillu la hunna, Summa marortu ala Nisa'i wa Rizal, wa'allaqina bisadyi hinna Faqultu manha'ula ya Jibril, Qola ha'ula'il Hamma zunna Hamma zad, akrhozahul Baihaqi )
Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan ketika beliau isra dan mi'raj, beliau lewat dengan sekelompok laki-laki, yang mana kulit laki laki itu di potong dengan gunting dari api neraka, Baginda Rasulullah bertanya kepada Jibril, siapakah mereka itu wahai Jibril, Jibril menjawab ( alladzina yatazayyanun) itu laki laki yang suka berhias dengan perhiasan yang tidak di halalkan untuk mereka, seperti memakai sutra, emas, dan lainnya atau memakai pakaian yang menyerupai dengan perempuan, intinya laki laki yang suka berhias dengan yang tidak di halalkan oleh Allah, maka nanti di akhirat kitanya aoan di gunting dengan gunting api neraka
Kemudian Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lewati di suatu lubang yang sangat busuk baunya, disitu ada terdengar teriakan teriakan yang keras, nabi pun bertanya kepada Jibril, siapakah mereka itu, Jibril menjawab itulah perempuan perempuan yang berhias, perempuan perempuan yang berhias dengan perkara yang tidak di halalkan oleh Allah subhanahu wata'ala, di masukkan ke dalam lubang yang sangat buruk baunya di dalam api neraka, dan mereka berteriak dengan suara yang keras, perempuan perempuan yang memakai perhiasan yang di larang oleh Allah
Seperti pakaian yang membuka aurat, atau perhiasan perhiasan yang melampaui batas, dan ujar Baginda Rasulullah aku lewat lagi di suatu tempat, di situ ada perempuan dan laki-laki, mereka di siksa di neraka, ku tanyakan kepada Jibril siapakah mereka itu, Jibril menjawab ( ha'ula'il Hamma zunna Hamma zad) itu lah orang orang yang suka menggibah daripada laki laki dan juga perempuan.
Di dalam Alquran tidak hanya surah ini dan ayat ini sahaja yang melarang kita untuk melakukan ghibah itu, sebelum sebelumnya pun ada ayat ayat yang melarang melakukan ghibah, sehingga di akhir ayat ini, di akhir akhir surah dengan ancaman yang keras, Allah menyatakan neraka jahanam bagi tiap tiap orang yang menggibah, orang yang mengumpat itu
Lalu bagaimana ghibah yang di ancam dengan ancaman yang keras itu, apa yang di maksud dengan menggumpat, menggibah itu, nah ini perlu kita belajar juga, Al imamul Ghazali di dalam kitabnya, ihya Ulumiddin mengatakan ghibah itu ( antazkuro, akhraqa bima Yakro'uhu ,Lau balaghohu ) ghibah itu kamu sebut saudara engkau dengan sesuatu yang ia tidak suka andaikata dia mendengarnya, nah itu ghibah, kita menyebut saudara kita, membicarakan saudara kita, yang andaikata dia mendengar, dia tidak suka, apapun itu yang kita bicarakan
( Shawa'un zakartahu binaksin fi badanihi ) Sama ada engkau menyebutkan, membicarakan tentang kekurangan di badannya, Baginda Rasulullah sewaktu bersama Siti Aisyah, di datangi oleh seorang perempuan, begitu perempuan tadi balik, ujar Aisyah, pendek nya perempuan itu tadi, nabi kita langsung menyampaikan wahai Aisyah kenapa engkau berkata demikian, engkau telah menghibah dia, setiap apapun kekurangan pada diri orang lain, kemudian kita sebut ( ghibah, )
( Awnasabihi ? Atau keturunannya, macam kita mengatakan, oh ayahnya itu dulu jahat orangnya, Abah nya itu dulunya orang yang suka berjudi, dan minum minuman, nah ini pun ghibah juga namanya
( Awfi khruluqihi ) Atau pada Budi pekertinya, atau akhlaknya, liat itu orangnya pelit, itu orangnya sombong, suka marah, emosian, oh itu dia orangnya baperan, nah kita sebut sebut pribadi akhlaknya, maka demikian itu pun termasuk kepada ghibah
( Awfi fiklihi ) Atau kepada perbuatannya, lah itu orangnya suka tidur, oh itu orangnya kuat makan, oh itu orangnya malas, nah andaikata dia mendengar pasti dia tidak suka kalau dia sedang di bicarakan demikian
( Awfi qaulihi ) Atau pada perkataannya, oh itu suaranya tidak bagus, jelek, ( awfi dinihi ) atau pada agamanya, itu orang sembahyang aja malas, kadang sembahyang kadang tidak, intinya malas lah dia itu orangnya, intinya hal hal yang bersangkutan dengan agama,
( Awfi dun ya hu ) Atau pada dunianya, ( Hatta fi saubih ? Sehingga pada pakaian yang di pakainya, kenapa dia pakai baju itu m, tidak cocok sama sekali, kita bercerita dengan kawan kita, itu orang tidak cocok sekali pakai pakaian seperti itu, itu apa baju seperti itu, seluar macam itu, tidak cocok, ( wadarihi) rumahnya kita bicarakan, apa itu rumahnya ( wadabbatihi ? Dan tunggangan kendaraannya, demikian lah definisi atau takrif daripada ghibah, karna bilamana kita menyebutkan hal hal yang tadi, maka kita di khawatirkan akan masuk dalam ancaman Allah subhanahu wata'ala di dalam Alquran
Ada yang mengatakan ghibah ini adalah dosa yang besar, dan ini pendapat yang paling kuat, Karna mendapatkan ancaman yang keras dari Allah subhanahu wata'ala, terlepas daripada ghiba itu dosanya besar atau kecil, intinya ghibah ini taubatnya lebih sulit daripada zina, sulit taubatnya, Al imamul Ghazali mengatakan bahwa ghibah itu ada beberapa sebab yang kalau kita ingin benar benar meninggalkan ghibah itu, maka tinggalkan sebabnya, pertama ujar imam Ghazali adalah
1. ( Al ghrodob wal hikid) Marah dan dendam, Karna kita marah kepadanya, kemudian timbul dendam di dalam hati, nah itu adalah penyebabnya kita menggibah orang,
2. ( Muwafaqotul ikhrwam ? Mengikuti pergaulan temannya, artinya apa kita berteman dengan orang orang yang suka membicarakan orang lain, suka menggibah orang, akhirnya kitapun ikut menggibah orang lain juga karna sebab pergaulan lingkungan kita seperti itu
3. ( Al hasad ) Dengki dan benci , nah kalau sudah dengki kita kepada seseorang, maka akan mudah kita untuk menggibah kekurangan kekurangan orang itu
4. ( Hubbul zah ) Suka kedudukan, pangkat, persaingan dalam merebut kedudukan, akhirnya membicarakan kekurangan kekurangan orang lain, terutama pada siangan saingannya, nah ini jelas akan selalu di ghibah
5. ( Al'ab, wah hazal, wat tadhiq ) Bermain main, banyak bergaya, berhias, banyak tertawa tawa, nah ini akan mudah mengolok olok orang, mudah menggibah orang
Demikian lah penyebab penyebab umum mendatangkan gibah dan masih banyak lagi, kalau kita marah dan dengki kepada orang lain, maka tidak ada jalan lain untuk mengobati selain daripada mengingat Allah, mengingat firman Allah di dalam Alquran, mengingat hadist Baginda Rasulullah yang menyampaikan bahwa memaafkan itu adalah merupakan sesuatu yang sangat besar nilai pahalanya di sisi Allah subhanahu wata'ala, orang orang yang pemaaf di dalam dunia maka di akhirat ( bi ghoiri hisab)
Contohnya, kita ini ada jengkel kepada orang, marah kepada orang, dendam kepada orang, maka ingatlah firman Allah, hadist Rasulullah, nang kalau kita memaafkan demikian maka kita di berikan ketenangan di akhirat nanti, kalau kita sebagainya sudah berusaha untuk kita menggibah, kemudian kawan kita yang suka menggibah, maka cari saja kawan yang lain, Karna seperti apapun cara kita menahan diri daripada ghibah, kalau kawan kita sendiri yang suka menggibah orang, nah ini masalah
Nah jadi kalau kita ini hendak berusaha menjauhkan diri dari ghibah, maka jauhilah sebab sebabnya itu,
Neraka Jahannam bagi tiap tiap orang yang menggunjing, mencela, dan ghibah
Dan bagi orang orang yang menghimpun harta dan menghitung hitungnya, membilang bilangnya, ada orang suka menghimpun harta, kemudian menyebut nyebutnya, aku ni ada harta di situ, ada harta di sana, ada daerah kampung, nah di hitung hitungnya, di sebut sebutkannya kepada orang, suka dengan demikian itu
Dia menyangka bahwa hartanya itu membuatkan dia kekal maksudnya dia mengira bahwa dengan harta itu semua masalah yang dia hadapi selesai, jadi orang orang yang mengumpulkan, menumpukkan harta dan menyebut, nyebutin, menghitungnya, itu akan di ancam oleh Allah subhanahu wata'ala, kenapa? Karna ada bukan untuk di simpan, bukan untuk di tumpuk, tapi di putar, supaya orang orang susah terasa dengan peredaran harta itu
Mangkanya di dalam surah sebelumnya di sebutkan
( Al hakumut takasur) Bahwa kita mencari harta itu ada hukumnya wajib, untuk menafkahi keluarga dan diri kita, misalnya kalau hari ini aku tidak bekerja maka kita bisah memberikan makan anak dan istriku, nah ini hukumnya wajib bekerja dan usaha pada hari ini
Ada bekerja dan berusaha yang hukumnya itu sunnat, untuk nafaqoh fi Sabilillah, macam dia ini persoalan nafkah keluarga sudah beres, maka di gunakannya rezeki itu untuk sedekah kepada orang orang pejuang fi Sabilillah, untuk membantu masjid, untuk membantu madrasah, untuk membantu penuntut ilmu, untuk menolong pondok pesantren, nah ini fi Sabilillah
Atau lagi untuk silaturrahim, aku bila dapat rezeki hendak berangkat menemui keluarga di daerah kampung, nah ini sunat mencari harta, aku hendak bekerja, kemudian hendak ku tabung, nanti bila cukup aku hendak berangkat haji dan umrah, nah ini sunnat, mencari harta kemudian ku tabung untuk persiapan kalau seandainya nanti ada orang yang hendak pertolongan bisa ku bantu
Nah ini aku mencari harta kemudian ku tabungan, untuk persiapanku nanti kalau seandainya sakit, bisa ku gunakan untuk berobat, nah ini hukumnya sunnat
Adalagi aku hendak mencari harta, kemudian di tabungan, agar nanti kalau aku nanti , anak istriku tidak menjadi pengemis, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji orang orang yang mati dan meninggalkan harta kepada anaknya, agar anaknya jangan menjadi minta minta kepada manusia,
Nah yang tidak boleh itu adalah menumpuk harta, menyimpan harta, tidak di gunakan untuk menolong orang, tidak di gunakan untuk ibadah kepada Allah, tidak di gunakan untuk fi Sabilillah, nah itu yang di cela oleh Allah subhanahu wata'ala
Jadi tidak salah kalau hendak menabung, mengumpulkan harta, asal bisa di gunakan dalam perkara yang mendapatkan keridhaan oleh Allah subhanahu wata'ala
Dia menyangka bahwa hartanya itu membuatnya kekal, sangkaannya kalau banyak berisi harta, banyak duit ini semua masalah beres, semua urusanku jadi mudah,
( Kalla ) Tidak demikian ujar Allah subhanahu wata'ala
Makin banyak harta di tinggal makin berat, bukan makin mudah,
Sungguh dia dan hartanya akan di lemparkan pada ( Hutamah )
Tahukah engkau apa itu Hutamah?
Neraka Allah yang di nyalakan
Ya mana api neraka itu bukan hanya membakar tubuh kita, tetapi membakar sampai kedalam hati kita, jadi api neraka itu membayar luaran dan juga dalaman pada diri kita ini, nah sesudah terbakar itu hatinya maka tubuhnya akan kembali seperti semula lagi, kemudian di bakar lagi
Sampai lah masanya berakhir, dia akan seperti demikian
Bahwasanya neraka itu atas mereka di tutup, jadi mereka itu di bakar demikian di kurung di dalam tutupan itu, jadi tidak akan ada orang yang bisa membuka tutupan itu kalau belum dapat izin dari Allah subhanahu wata'ala untuk membukanya
Di dalam sebuah hadist di sebutkan di dalam api neraka itu, karna di tutup, Allah mendengar ada suara dari dalam api neraka itu berkata, ya Hannan, ya Mannan, ya Hannan, ya Mannan, sudah 1000 tahun ini orang selalu mengucapkan ya Hannan ya mannan, maka Allah memanggil Jibril, itu orang ahli neraka yang mengucapkan ya Hannan, ya Mannan, tarik, bawa kesini,
Begitu Jibril hendak masuk ke dalam neraka, ternyata neraka itu ( mukshodah ) tertutup, tidak bisa di masuki, kemudian Jibril melapor kepada Allah, ya Allah, itu neraka tertutup, nah setelah mendapatkan izin dari Allah, baru lah Jibril bisa membuka tutupan api neraka itu dan masuk untuk mengambil manusia yang sudah 1000 tahun di dalam neraka mengucapkan ya Hannan ya Mannan tadi
Sedang mereka itu di ikat di dalam neraka tadi pada tiang tiang yang panjang,
Nah jadi di dalam surah Al Humazah ini Allah subhanahu wata'ala memberikan ancaman yang keras, peringatan yang keras, kepada manusia manusia antara lain adalah
1. Yang suka menggibah orang
2. Yang suka mengumpul , menumpuk, memperbanyak harta, dan dia tidak mahu menggunakan hartanya itu kepada jalan jalan yang di ridai oleh Allah
Nah mudah mudahan kita semuan ini mendapatkan perlindungan oleh Allah subhanahu wata'ala dan di jauhkan Allah dari api neraka, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin, insyaallah di lain kesempatan kita berjumpa kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
minta doahkan, insyaallah