Pages

Minggu, 09 Februari 2025

6. Belajar Shalat berjamaah

 Shalat berjamaah 

( Qolal mushonnif Rohima hullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni Amin, Babu solatin jamaah ayhaza babu solatil jamaah ) Ini ban mengenai sembahyang berjamaah, ( Al jama'atuh lughotan atto'i fatu ) jamaah itu menurut bahasa arab artinya adalah ( to'ifah ) kelompok, golongan, ( wa minhu qouluhu ta'ala) dan dari ini makna, firman Allah subhanahu wata'la pada surah an-nisa ayat 102

Hendaklah berdiri suatu kelompok daripada mereka itu beserta engkau ( wa kazalika kauluhu watto'ifatum minalladzi na ma'ak, wasyar'an ) menurut syarah, jamaah itu artinya ( Rab tu solatil makmum bi solatil imam ) mengikat sembahyang nya makmum dengan sembahyang nya imam, ( 'aqolluha ) Sekurang kurangnya jamaah ( imamun wa makmumun ) seorang imam dan seorang makmum, ( fatusamma jama'atan ) dinamakan yang demikian itu adalah shalat berjamaah

( Wayahsulu biha ) Dan hasil dengannya ( aslu sawabil jamaah, ) maka dapatlah ia pokok pahala berjamaah, nah jadi kalau pun hanya seorang imam dan seorang makmum sudah dapat pahala jamaah, ( fadluha ) kelebihannya berjamaah, ( kabirun ) besar, ( walayatahawanu biha ) dan tidak meremehkan, tidak menganggap enteng dengan jamaah itu, ( illa man Fi qolbihi nifaqun ) kecuali orang yang di dalam hatinya itu ada sifat munafik, orang yang tidak memperdulikan dengan shalat berjamaah itu adalah orang yang di khawatirkan di dalam dirinya itu ada sifat munafik

( Kamaqola bakduhum ) Sebahagian para ulama mengatakan demikian, artinya tu meganggap Enteng aja prihal shalat berjamaah ini, tidak merasa ada punya tanggung jawab hendak shalat berjamaah, tidak merasa ingin melakukan shalat berjamaah, tidak punya rasa dengan prihal berjamaah ini nah, padahal rumah nya dekat dengan masjid, dekat dengan surau, kalau tiba masuk azan nah rumahnya paling kuat terdekat suara azan tu, tapi tidak ada langsung tergerak di dalam hatinya hendak melaksanakan shalat berjamaah nah ini di khawatirkan punya sifat munafik, demikian itu yang di sampaikan para ulama 

Karna kalau orang beriman itu malu dirinya kalau tidak shalat berjamaah, apalagi dekat rumahnya dekat masjid, ada rasa malu kalau tidak pergi shalat berjamaah
( Walayatahawanu biha Illa man Fi qolbihi nifaq ) 
Kalau di zamannya Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, siapa yang tidak shalat berjamaah jelas itu orang munafik, itu sudah di cap, arti munafik apa orang yang hanya mengaku dirinya beriman kepada Allah tapi di hatinya tidak sepenuhnya, iman itu tidak sesuai dengan apa yang di ucapkannya itu, tingkah laku dan perbuatannya itu tidak sesuai dengan imannya

( Wafil hadist di sebutkan di dalam hadist, ( inna solatal jama'ah takdilu krhomsan wa'isrin Min solatil fajr, ) bahwasanya sembahyang berjamaah itu menyamai 25 kali daripada sembahyang sendiri pahalanya, di dalam manaqib manaqib para Aulia, itu di sebutkan apabila mereka itu ada ketinggalan sembahyang berjamaah sekali, maka mereka akan bayar 25 kali, misalnya sibuk atau apakah itu kemudian tidak sempat berjamaah, nah mereka bayar dengan 25 kali, supaya tidak rugi, karena sembahyang berjamaah itu ganjaran nya 25 dari sembahyang sendirian

( Fawa'iduha kasirotun ) Faedah sembahyang berjamaah itu banyak, ( Min ha ) setengahnya ( Al itku wannazatu minannar ) terbebas, selamat daripada neraka
( Assalamatu minannifaq ) Selamat daripada kemunafikan, di dalam hadist Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan ( man solla lillahi arba'ina yauman fi jama'atain yudriku takbirotun ula kutibalahu bara'atani bara'atum minannar wa bara'atum minannifaq ) barangsiapa sembahyang karena Allah, 40 hari berjamaah, secara terus menerus, tidak pernah Alfa, memperdapati dia akan takbiratul ula, artinya sebelum imam hendak memulai shalat dia sudah bersiap, tidak terlambat, tidak masbuk, nah di tulis baginya dua keselamatan, pertama selamat daripada api neraka dan yang kedua selamat daripada munafik

Yang ketiga keuntungan sembahyang berjamaah itu adalah ( qobulussolah ) sembahyang kita di terima Allah, namun kalau sembahyang seorangan nah ini kurang, apalagi tidak krhusuk, kalau sembahyang berjamaah di terima Allah, walaupun dia kurang krhusu, akan di terima Allah, nah ini lah keuntungan daripada salat berjamaah itu, di dalam hadist Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa
( innallaha tabarok wa ta'ala layakjabu minassolah filjumak ) Allah subhanahu wata'la layakjabu, artinya yardo wayusib ) Allah subhanahu wata'la senang dan memberikan pahala, daripada itu sembahyang berjamaah ( magfirotuzzunub) di ampun kan Allah dosanya, ( al ajru 'adzim ) mendapatkan pahala yang besar, ( daf'ul was was) tertolaknya was was, Dan 
( walhibju ) Dan terpelihara dirinya ( minassyaiton ) daripada syaitan, 

Hadist menyampaikan : ujar Rasulullah kalau orang itu bolak balik masjid artinya selalu datang berjamaah sembahyang, saksikanlah orang itu dengan iman nah nabi mengatakan lihat lah itu orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'la, 

Tingkatan tingkatan shalat berjamaah 

( Afdholu jamaah, ) Paling afdhol jamaah, ( jama'atu solatil juma'ati ) jamaah sembahyang jummat nah ini paling afdhol, ini wajib, dan yang kedua ( Summa jama'atu Subhi ) kemudian berjamaah subuh, di dalam hadist ada menyampaikan yang maksudnya, ujar nabi orang munafik itu tidak sanggup sembahyang subuh berjamaah, nah mudah mudahan Allah menolong kita sehingga kita terhindar daripada sifat munafik dan bersungguh-sungguh hendak melaksanakan shalat subuh berjamaah, aamiin ya Allah 

( Summa jama'atul isya ) Kemudian shalat isya berjamaah, ( Summa jama'atul asri ) kemudian shalat asar berjamaah ( Summa jama'atul dzuhri ) shalat Zuhur berjamaah ( Summa jama'atul magrib ) dan shalat berjamaah pada shalat magrib, nah pada jaman Rasul, semua orsng orang ikut shalat magrib, jadi tidak bisa di ketahui mana yang munafik mana yang tidak, nah begitu subuh baru ketahuan mana yang mukmin mana yang munafik, jadi di zaman Rasulullah sudah seperti itu 

Hukum shalat berjamaah 

( Hukmu shalatil jamaah ) hukum shalat berjamaah 
( Al muktamadu ) yang muktamad ( annaha fardhu kifayatin ) sembahyang berjamaah itu Fardu kifayah
Artinya kalau di suatu tempat di suatu kampung itu tidak ada orang yang shalat berjamaah, maka di situ semuanya berdosa, Karna fardhu kifayah, nah tapi kalau di kampung itu ada orsng shalat berjamah walaupun hanya dengan seorang imam dan seorang makmum maka selamat lah itu satu kampung, ( bihayyisu yazharu syi'ar ) dengan sekira kira nampak syi'ar, maksudnya di kampung itu ada tempat yang di laksanakan shalat berjamaah, tidak terlalu jauh itu tempat, dan tidak ada malu siapapun datang ke tempat itu, maksudnya tidak ada halangan orang orang hendak ke tempat itu, nah ini namanya syi'ar 

Misalnya masjid kosong, tidak ada orang datang, tapi tiap tiap rumah orang shalat, nah ini tidak gugur, tetap di tuntut sembahyang berjamaah di masjid, kenapa? Karna kalau di rumah masih masih orang segan hendak masuk ke rumah orang, kenapa tidak sama sama pergi ke masjid berjamaah, nah ini maksudnya, jadi sembahyang berjamaah itu di tuntut melaksanakannya di tempat itu, tidak terlalu jauh orang datang, dan siapapun bebas masuk ke tempat itu, nah syi'ar namanya, biasanya di tempat tempat itu ada masjidnya, ada suraunya nah itu bagus di laksanakan shalat berjamaah, jadi kalau surah ada orang di suatu tempat itu melaksanakan shalat berjamah maka semua orsng yang tinggal di tempat itu gugur kefarduannya, Karna ini fardhu kifayah 
( wahuwa qoulun Nawawi ) Itu pendapat imam Nawawi 

( Wa'innareofi'i ) Dan menurut imam rofi'i ( annaha jamaah ) bahwa jamaah itu ( sunnatun mu'akkadatun) sunnat mu'akkadah, nah tapi ini pendapatnya lemah, yang kuat, yang muktamad, adalah seperti tadi bahwa sembahyang berjamah iti fardhu kifayah 

Hukum hukum sembahyang berjamaah 

( Ahkamu solatil jamaah, sab'atun ) Hukum hukum sembahyang berjamaah Itu ada 7 

1. ( Fardu 'ainin ) Ada jamaah itu Fardu 'ain ( wazalika fi solatil juma'ati) yang demikian itu pada sembahyang jumaat ( Ala man tazibu alaihim ) bagi orang yang wajib mengerjakan shalat jummat, jumaat itu tidak bisa di kerjakan sendirian, musti berjamaah, nah Fardu ain
2. ( Fardu kifayah) Yang kedua ada sembahyang jamaah itu hukumnya Fardu kifayah ( fil maktubat ) pada sembahyang fardhu, macam Dzuhur asar magrib isya, subuh, ( alarrizal ) bagi laki laki ( Al ahror ) yang merdeka ( Al mukimin ) yang mukim, ( alal muktamad,) atas pendapat yang muktamad ( indannawawi ) nah laki laki, yang merdeka, yang mukim maksudnya bukan musafir, ( li qawlin nabi shallahu alaihi wasallam, ma min shalasatin fi qoryatin aw badiyyatin la tuqomu fihimul jamaah, illastahwaza alaihiMussyaiton ) 

Tidak ada daripada 3 orang pada satu kampung atau tempat, tidak di laksanakan pada mereka itu shalat berjamaah, melainkan meliputi atas mereka itu oleh syaitan, ( Fa'alaika bil jamaah ) Maka lazimilah shalat berjamaah itu ( fa'innama yakqulu zikbuh ) Hanyasanya memakan akan serigala itu( Minal ghonamil khosiyyah ) Daripada kambing yang menyendiri, nah kalau kambing itu bersama dengan rombongan nya, serigala tidak berani, tapi kalau ada kambing menyendiri nah ini mahu di hantam nya, begitu juga syaitan kalau kita ni rajin shalat berjamaah, syaitan itu tidak berani macam macam

Ketiga ( mandubatun ) ada sembahyang berjamaah itu yang di sunnatkan, tidak Fardu kifayah, tidak Fardu ain
( Finnawafil ) Yang sunnat sunnat ( Alladzi tusro'u fihal jamaah ) yang di syara' kan pada nawafil itu jamaah 
( Ka 'iyda'in Wal istisqoq) Shalat hari raya, nah itu sunnat berjamaah, tidak Fardu kifayah tidak Fardu ain dan juga sembahyang minnta hujan sunnat berjamaah 

( Wajama'atinnisa') Dan jamaah perempuan, macam perempuan hendak shalat berjamaah nah ini sunnat, tidak Fardu kifayah, 

Yang ke 4 ( mubahatun ) ada sembahyang berjamaah itu mubah ( Fin nawafil ) pada sunnat sunnat, ( alladzi la tusro'u fihal jamaah) yang tidak di syara' kan padanya berjamaah, ( qodduha ) macam shalat duha berjamaah nah ini boleh boleh saja, tapi tidak sunnat ( warrawatib ) sembahyang qobliyyah dan bakdiyyah berjamaah, hendak sembahyang hajat berjamaah, hendak sembahyang tasbih berjamaah, nah itu boleh, tapi tidak ada pahala jamaah, Karna itu tidak di anjurkan sembahyang yang demikian itu berjamaah, tapi boleh aja di lakukan secara berjamaah 

Yang ke lima adalah ( krhilaful aula ) kurang baik berjamaah, artinya baik di kerjakan sendiri, ( iza Kanat solatul imam ada'an, Wal makmum qodo'an) 
( Wa kazalikal aksu) Demikian sebaliknya, ini berkaitan dengan shalat qodo lebih baik sendiri, 

Yang ke 6 ( makruhatun ) yang makruh, ( iza kanal imamu fasikan ) bilamana seorang imam itu fasik, 
( 'awub ta di'an ) Atau imannya itu berbuat bid'ah, nah apa arti fasik ? Seseorang itu di katakan fasik apabila melakukan suatu dosa besar, melakukan satu dosa besar maka dia di katakan fasik, di dalam fiqih di contohkan seperti berzina, meminum minuman keras, makan harta anak yatim, melakukan praktek riba, namimah, ghibah, adu domba, merampas, mencuri harta orang, nah ini lah contoh contoh orang yang fasik, maka hendaknya dia berbuat taubat, bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah subhanahu wata'la 

atau dia tidak berbuat dosa besar cuman berbuat dosa kecil, sering kali berbuat, terus menerus berbuat dosa kecil, Nah seperti apa berbuat dosa kecil itu.? Umpamanya laki laki memakai emas, tapi ini di buatnya terus tiap hari, nah dosa kecil yang di lakukan secara terus menerus itu berubah menjadi dosa besar, macam membuka aurat, tiap hari di bukanya auratnya nah ini menjadi dosa besar, macam berdusta juga sama, nah ini mengakibatkan dirinya fasik,

Yang ke 7 ( Haramu maksihaati ) Haram tapi sah, sembahyang berjamaah haram tapi sah aja, ( iza Kanat fi Ardin makzubah ) bilamana jamaah itu di laksanakan pada bumi yang di rampas, tempat rampasan, atau tempat yang di yakini haramnya, nah ini haram kita berjamaah tapi sah aja, ( aw khrofa krhu ruzal wakti law solla jama'atan) Atau dia takut keluar waktu jika dia shalat berjamaah, nah ini haram juga, macam kalau sembahyang berjamaah keluar waktu kalau sembahyang sendiri sempat nah ini wajib baginya shalat sendiri 

( Wama'a 'adamissihhah ) Dan ada juga yang haram dan tidak sah, ( izarhh talafa nazmussolah ) bila berlainan, berlawanan, daripada susunan sembahyang

Keafdholan jamaah yang banyak 

( afdoliyyyatul Jama'atil Kasiroh ) Ke afdholan jamaah yang banyak, berjamaah bertiga lebih baik daripada berdua, 4 orang lebih baik daripada 3, makin banyak orangnya makin baik, makin banyak orangnya makin afdol berjamaahnya ( Al jama'atul Kasiroh afdholu min Jama'atil Kalilah ) jamaah yang banyak lebih afdhol daripada jamaah yang sedikit, macam di tempat kita ada masjid dan ada surau, nah biasanya di masjid ini ramai orang, dan di surau ini hanya ada beberapa orang, nah lebih baik kita pergi ke masjid, Karna yang banyak itu lebih afdol 

( Illa fi masaila ) Kecuali dalam beberapa masalah, maka lebih baik sedikit daripada banyak jamaahnya, ( Minha, iza kanatil jama'atul kolilatu tata'assalu bi krhiyabih ) bila ada jamaah yang sedikit itu menjadi kosong dengan tiadanya dia, contoh macam di surau ni ada jamaah 4 orang, dia jadi imam, nah kalau dia ini pergi ke masjid otomatis 3 orang yang biasa ke surau ini tidak berjamaah, maka suraupun sepi tidak ada orang pergi shalat berjamaah, nah lebih baik menghadapi orang yang berempat itu supaya ada juga shalat berjamaah di surau 

Yang kedua ( iza Kana imamul jama'atil kasiroh fasik0) 
Bilamana imam yang ada di dalam berjamaah itu fasik
Dan Kita mengetahui bahwa itu imam orangnya membungakan duit, melakukan praktek riba, nah walaupun jamaahnya sangat ramai, dan ada lagi imam yang baik, tapi cuman ada beberapa saja jamaahnya maka lebih afdhol yang sedikit itu 

Yang ketiga ( iza Kana imamul jama'atil kasiroh) dimana imam yang banyak jamaah itu ( sohiba bid'atin ) orangnya bid'ah, tapi bid'ah yang ( la yukaffaru biha) yang tidak di kafirkan dengannya, macam ada orang yang menganggap bahwa sahabat Rasulullah yang bernama sayyidina abu bakar Ash-Shiddiq itu adalah manusia yang jahat, padahal beliau adalah orang yang di muliakan oleh Allah nah di anggap nya demikian, nah ini orang bid'ah tidak sampai kepada kafir ( aw mujassimin
Atau dia termasuk golongan mujassim, ini golongan yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wata'la itu berjisim, nah ini bid'ah, cuman tidak sampai kepada kafir

Nah jadi imam lah orang orang yang demikian itu maka makhruh ikut berjamaah, 

Yang ke empat ( iza Kana imamul jama'atil kasiroh mukrhalifan lil Mazhab kahanafiyyin ) bilamana imam jamaah yang banyak itu lain Mazhab dengan kita, macam di kampung kita ini bermazhab Syafi'i semuanya, nah ada 2 tempat, tempat pertama imamnya Mazhab Hanafi, yang satu lagi imamnya Mazhab Syafi'i, nah lebih baik kita ikut bersama imam yang sama mazhabnya dengan kita, berbeda kalau kita ini pergi ke luar negeri, macam kita pergi ke Makkah, kan lain Mazhab nya itu, ya bebas aja hendak ikut ber jamaah 

Yang kelima ( iza Kana imamul jama'atil kasiroh sya ri'al kiro'ah Wal makmum mub'a ti'a ) bilamana imam yang jamaah banyak itu cepat bacaannya sedangkan makmum ini lambat, nah disitu banyak sekali jamaahnya, cuman laju benar ini imam membaca, dan di tempat lain sedikit jema'ah nya cuman imamnya membacanya dengan bacaan yang sedang, tidak laju tidak lambat, nah baik yang sedikit 

Yang ke enam ( iza Kana imamul jama'atul kholilah)
Bilamana jamaah yang sedikit itu ( tu solla fi waktil Fadilah ) di laksanakan pada waktu waktu utama 
Misalnya hendak sembahyang Dzuhur,  di satu mesjid tempat waktunya, di tempat yang lain banyak jamaahnya cuman kadang terlambat waktunya, nah lebih baik yang sedikit ini, Karna apa, Karna melaksanakannya tepat pada waktunya shalat berjamaah 

Yang ke tujuh ( iza kanatil jama'atul kolilah tusolla fil'ardin la subhata Fiha ) bilamana jamaah yang sedikit ini di laksanakan di tempat yang tidak ada subhat padanya, nah ini jamaahnya sedikit, dan kita meyakini bahwa itu tempat bersih, di buat dengan biaya yang halal yang bersih, nah ada lagi tempat walaupun banyak jamaahnya tapi itu di bangun dengan biaya biaya yang kurang baik, macam riba dan lain sebagainya, nah macam macam, lebih baik yang sedikit, Karna yakin kalau tanahnya, tempatnya bersih , murni , halal, 
Nah itu kalau kita mengetahui kalau tidak tahu yang tidak apa apa shalat berjamaah 

Insyaallah di lain kesempatan kita akan lanjutkan kembali, aamiin ya Allah ya rabbal alamin 

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog