Pages

Kamis, 13 Februari 2025

8 Syarat syarat sah berjamaah

( qolal mushonnif Rohima hullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni Amin, assani ayyaklamal makmum intiqolatil imam birukyatin aw sama'i muballgrhin ) Syarat sah sembahyang berjamaah, yang kedua adalah bahwa mengetahui makmum akan perpindahan perpindahan imam

jadi syarat sah berjamaah yang pertama adalah makmum musti di belakang imam, yang kedua si makmum inj mengetahui perpindahan perpindahan imam dari berdiri kepada rukuk, rukuk kepada iktidal, iktidal kepada sujud dan lainnya, nah makmum mengetahui, tahunya itu ( bi rukyatin ) dengan melihat imam ( aw sama'i muballgrhin) atau mendengarkan muballigrh, nah macam di Mekah tu ada muballigrh, yang nyaring suaranya ujar imam Allahu Akbar, muballgrh mengatakan Allahu Akbar, ( Qama kola sohibussaffatizzubat, wa sartu 'ilmuhu Af'alil imam, bi rukyatin aw sam'i tabi'il imam ) 

( Assalisu ) Yang ketiga, syaratnya ( Ayyanfial makmumu bahwa berniat si makmum ( alqudwata ) akan mengikuti imam, nah kita ni jadi makmum musti berniat mengikuti imam, ( awil jama'ata ) atau niat jamaah, ( awil makmumiyyata ) atau berniat makmumiyyah, nah ada 3 macam niatnya disini di sebutkan, ( makmuman lillahi ta'ala, atau jama'atan lillahi ta'ala, atau qudwatan lillahi ta'ala) contohnya macam usholli fardhal Zuhri arba'a roka'atin mustaqbilal qiblati makmuman, atau jama'atan, atau qudwatan lillahi ta'ala) nah musti makmum itu berniat mengikuti imam 

( Falau taba'a imamahu) Jikalau dia mengikut imam ( bi la niyyatin ) dengan tidak ada niat ( fi Ruknin ) pada satu rukun, ( waatholan tizoruhu ) dan lama menunggunya si makmum akan imam ( batholat solatuhu ? Maka batal sembahyang nya si makmum itu, nah ini tidak ada niat nya sama sekali hendak mengikuti imam, tapi sembahyang gerak geriknya menuruti imam, tapi tidak ada niatnya, apabila si makmum ini lama menunggu imam maka batal sembahyang yang mengikuti tadi, kenapa batal ? Karena tidak di ikat, tidak ada ikatan dengan niat 

Misalnya kita mengiringi imam, tapi tidak ada niat mengikuti imam, kemudian imam membaca surah yang panjang, macam selesai membaca surah Al Fatihah, waladdollin, aamiin, nah imam melanjutkan membaca surah panjang, nah makmum pun menganggu imam, tapi tidak berniat mengikut imam, hanya menunggu aja, nah ini ( batholat solatuhu) maka batal sembahyang 
Kenapa? Karena menggu orang yang tidak ada hubungannya dengan shalatnya itu, tapi kalau dia pasang niat mengikut imam, maka sudah terikat makmum dengan imam, nah ini boleh 

( Fanniyyatu wajibatun 'alal makmum ) Bermula niat itu wajib atas makmum ( dunal imam Nah imam tidak wajib berniat imaman, niat jadi imam, jadi imam tidak wajib niat imaman, cuman kalau dia Tidak berniat imaman maka tidak dapat pahala jamaah, Makmum tetap dalam 
Misal ada imam dan makmum, nah si imam ni terlupa hendak berniat jadi imam, berarti yang di belakang saja, makmum saja yang dapat pahala jamaah, imam tidak 
Karena tidak di niatkan, 

Misalnya kita ni sembahyang sendirian, kemudian datang orang di belakang, Allahu Akbar ujarnya, mengikut kita, nah kan boleh itu, tapi yang di ikuti ini kan niat pertamanya tidak jadi imam, yang di belakang aja yang berniat jadi makmum, nah kita sebagai imam itu tidak mendapat pahala jamaah, yang di belakang aja mendapatkan pahala jamaah 

( Fanniyyatu wajibatun 'alal makmum ) Bermula niat itu wajib atas makmum ( dunal imam Nah imam tidak wajib berniat imaman, ( Illafi arba'i shalawatin ) kecuali dalam 4 sembahyang ( fatazibu alal imam ) maka wajib bagi imam berniat imam, nah dalam sembahyang 4 ini si imam wajib berniat imaman, 

1. satu ( juma'ati ) pada sembahyang jumaat, nah kalau imam sembahyang jumaat itu dia wajib berniat jadi imam, kenapa ? Karna jumaat ini tidak sah kalau tidak shalat berjamaah, jadi imam wajib berniat imaman 
2. Yang kedua ( Wal mu'adah) sembahyang yang di kembalikan, umpamanya kita ni sudah sembahyang di surau Zuhur berjamaah, begitu kita ni hendak pulang ke rumah, ramai orang di rumah, keluarga datang dari tempat jauh, nah mereka pun menjadi cari imam, tidak ada yang bisa, ini mereka hendak melaksanakan shalat berjamaah, akhirnya kita di panggil, di suruh jadi imam 
Nah kita ni padahal sudah sembahyang di surau berjamaah, nah kita pun jadi imam sekali lagi di rumah, nah maka kita pun memasang niat imaman, karena sembahyang kita ni sembahyang ulangan namanya 
3. Yang ketiga ( Wal mutaqoddimatu fil mator )
Sembahyang jamak Takdim, pada masalah hujan
4. Yang ke empat ( Wal manjurotu jama'atan ) sembahyang yang di nazarkan berjamaah, misal aku hendak bernazar sembahyang Zuhur ini berjamaah, nah ini jadi imam dia, maka wajib berniat imam, karena di nazarkan 

(Arrobi'u) Yang ke 4, syarat syarat sah berjamaah lagi 
( ayyattawafaqo nazmu solatay hima )
Bahwa sesuai susunan pada kedua sembahyang itu, sembahyang imam dan sembahyang makmum itu susunannya sesuai, maksudnya ( ayyattafika fil Af'alil zohirah) bahwa cocok keduanya pada perbuatan yang zohir ( wa illam yattafiqo ) sekalipun berbeda keduanya
( fil adat ) Pada bilangan rakaat ( wanniyyat )dan niatnya

Contoh ( falatasihhu maktubatun krhlolfa janazatin ) tidak sah sembahyang fardhu Zuhur hendak mengikuti orang sembahyang kifayah, orang sembahyang jenazah, terus kita ikut di belakang sembahyang Zuhur, sah ? Tidak sah, kenapa? Karna tidak cocok susunan sembahyang nya, shalat jenazah itu tidak ada rukuk tidak ada sujud, nah, ( aw kusufin ) atau sembahyang gerhana, orang sembahyang gerhana matahari atau gernaha bulan, kita di belakang ikut shalat isya, contohnya, nah ikut kita di belakang, ini tidak sah, kenapa? Karna sembahyang gerhana ini dua kali rukuknya, sedangkan sembahyang biasa kan rukuk sekali saja, nah ini tidak sah mengikuti Karna lain susunan sembahyang nya

( Watasihhu zuhru khrolfal asri ) Nah kalau Zuhur di belakang asar nah ini sah saja, artinya imam sembahyang Asar, kita ni di belakang belum shalat Zuhur, nah ini kita ikut imam di belakang shalat Zuhur, sah saja, tapi makhruh, contohnya kita ni posisinya hendak mengqodo Zuhur, 

( Wal magribu khrolfal isya )'sembahyang magrib di belakang isya, sah aja, tapi makhruh juga, ( dan lagi Wal qodo'u khrolfal ada ) macam qodo'an di belakang ada'an, imam sembahyang tunai kita di belakang shalat qodo'an, nah sah aja, tapi makhruh juga, ( Wal fardhu khrolfan nafli) dan fardhu di belakang sunnat, imam sembahyang sunnat kita sembahyang fardhu, nah sah aja, contohnya imam ni dia sembahyang sunnat, tiba tiba kita di belakang, Allahu Akbar, hendak shalat fardhu, padahal ini orang yang di depan sembahyang sunnat nah dia pun jadi imam kita, nah sah aja, tapi makhruh
( Wakazalika aksu kullizalik ) Nah seperti demikian seperti itu semuanya

Imam sembahyang Zuhur 4 rakaat, kita ni sembahyang di belakang ikut, tapi kita ni qobliyyah Zuhur, nah sah aja, cuman makhruh, yang tidak sah itu yang berbeda susunan sembahyang, orang sembah jenazah kita hendak ikut sembahyang Zuhur tidak sah, orang sembahyang gerhana matahari kemudian hendak ikut sembahyang asar, tidak sah, Karna susunannya lain

( Al krhomisu ) Yang ke lima, ( Alla yukhrolifal makmum) 
Bahwa tidak menyalahi si makmum ( Al imama) akan imam ( fi sunnatin ) akan sunnat ( fahisyatil mukhralafah
Yang jahat menyalahinya ( kassujudissahwi aw sujudittilawah ) misalnya imam sedang sujud tilawah 
( Wahum la yas takbirun ) Terus sujud imam, nah makmum tidak ikut sujud, berdiri aja dia, nah batal sembahyang nya, tidak sah ikut mengikut, kenapa? Karna si makmum menyalahi yang jahat dalam hal yang sunnat 

Atau sebaliknya, ujar si imam membaca ( wahum la yastakbirun ) nah makmum pun sujud, imam tidak, namun ini sengaja, batal, Karna menyalahi sunnat, 
( Aw sujudittilawah) Macam sujud sahwi seperti itu juga 
Imam sujud sahwi Karna ada kelupaan, kemudian kita makmum di belakang tidak ikut, nah ini batal sembahyang makmum, atau imam tidak sujud sahwi, makmum yang sujud sahwi, ini pun batal juga shalatnya
Jadi misal imam tidak sujud sahwi, kita sebagai makmum jangan sujud sahwi

Misal subuh tertinggal bacaan qunut si imam, mustinya kan sujud sahwi, nah imamnya tidak sujud sahwi, ujar imam assalamualaikum warahmatullah, nah kita sebagai makmum, setelah mendengar salam imam, maka kita pun baru bisa sujud sahwi, namun kalau imam belum salam kita sendiri sujud sahwi, nah ini batal, kenapa? Karna mendahului imam, menyalahi imam

Sama hal nya juga seperti tasyahhud awal, umpamanya imam benar aja, Allahu Akbar, tasyahhud awal imam, nah si imam ni tidak sadar, tiba tiba berdiri, nah makmum ni pada posisi demikian wajib langsung turun ikut tasyahhud awal, mengikut imam, kalau makmum ni berdiri aja tidak mahu turun, batal shalatnya si makmum, atau imam yang terlupa, macam shalat Zuhur mustinya tasyahhud awal pada rakaat kedua, tapi tidak, imam langsung berdiri, makmum ingat, ini tasyahhud awal ni, 

Maka di berikan isyarat kepada imam, namun imam melanjutkan juga berdiri, maka kita makmum pun ikut berdiri bersama imam, jangan kita ni hendak tasyahhud awal sendirian, sedangkan imam berdiri, 
( Alla yukhrolifal makmum, Al imama fi sunnatin, fahisyatil mukhralafah, kassujudissahwi aw sujudittilawah ) nah beda hal nya kalau qunut tu tidak apa apa, misalnya imam tidak berqunut kemudian kita sempat berqunut nah ini tidak apa apa, Karna tidak terlalu jahat menyalahinya, adapun yang lebih baik mengikut imam, 

Namun kalau sebaliknya, imam berqunut, kemudian kita tidak, langsung aja hendak sujud, nah ini yang salah, kalau pun kita ni langsung sujud, kemudian sadar bahwa imam sedang qunut, maka si makmum langsung bangkit ikut berdiri, qunut bersama imam, 

( Assadisu) Yang ke 6, syaratnya sah berjamaah itu adalah ( ayyutabi'ahu ) bahwa mengikut imam, 
Lalu ( fa'intakhrallafa 'Anhu ) jikalau dia terlambat gerakannya daripada si imam, ( ay ta'arkh krhoro Anhu bi ruknaini fikliyaini ) dari 2 rukun fikli ( aw takoddama alaihi) atau mendahului imam ( bihima ) dengan dua rukun fikli, ( bila uzrin) dengan tidak adanya uzur padanya, ( batholat solatuhu) batal sembahyangnya

Nah ini kes mendahului daripada imam, atau terlambat daripada imam 2 rukun fikli, misalnya makmum berdiri, kemudian si imam, Allahu Akbar, rukuk, nah si makmum ni tetap aja berdiri, ujar imam ( sami'allahuliman Hamidah) masih aja berdiri si makmum ni, bacaan tidak apa tidak, tetap aja berdiri si makmum ni, ujar imam, Allahu Akbar, sujud imam, nah batal sudah sembahyang itu makmum, kenapa? Karna tertinggal dari imam pada 2 rukun fikli di dalam shalat, dengan tidak adanya uzur, kalau uzur nah ini lain kisahnya, 

Atau mendahului imam dengan dua rukun fikli, imam masih membaca surah, dia sudah rukuk, satu rukun sudah, kemudian makmum Allahu Akbar iktidal, nah dua rukun, begitu dia turun ke sujud ini makmum, batal sembahyangnya, Karna 2 rukun mendahului daripada imam, atau ( ta'akub ) nah ini satu rukun aja, tspi mendahului imam terus, kaya dia yanf yang menjadi imam, imam belum rukuk dia sudah , imam belum iktidal dia sudah, imam belum sampai lagi sujud, dia sudah sujud, nah ( batholat solatuhu) batal shalatnya 

Nah akan datang penjelasan uzur uzur dimana kita bisa tertinggal daripada imam, ada yang di bolehkan kita tertinggal dari imam, dengan cacatan uzur, nah itu ada, salah satu contohnya macam kita ni sudah tua, berumur, kemudian bacaannya sangat lambat, imam ni biasa aja tidak laju tidak lambat, kita ni aja yang sangat lambat,
Sehingga imam sudah rukuk, kita ni masih aja belum selesai membaca surah Al Fatihah, nah imam sudah iktidal ( sami'allahuliman Hamidah) masih aja kita ni membaca surah Al-fatihah belum selesai, nah ini di uzurkan, boleh bertinggal daripada imam, 3 rukun yang panjang, Karna itu ada uzur

( Wa sunnatu)  bermula Sunnah ) ( fil mutaba'ah) Pada mengikut imam, ( Ayyata 'akrh khro ro) Bahwa dia menunggu pada ( fiklul makmum ) pada perbuatan imam ( an fiklul imam, daripada perbuatan imam, ) 
( wayatakoddama ) dan terdahulu akan perbuatan makmum (Ala faroghi hi) atas selesainya imam, nah itu yang paling baik kalau kita hendak mengikuti imam dalam shalat, misalnya si imam Allahu Akbar rukuk, sudah benar benar rukuk sempurna si imam ni, baru kita di belakang sebagai makmum ikut rukuk, nah imam iktidal ( sami'allahuliman Hamidah) kita pun baru bangkit,

Wal hasil Kita jangan turun, jangan bangkit, jangan memperbuat suatu rukun, kecuali imam sudah selesai dengan sempurna atas rukun itu, nah belum lagi imam berangkat hendak mengganti rukuk kita masih tetap di rukun itu nah ini baru yang bagus, sujud contohnya, nah ketika sujud kapan kita turunnya sebagai makmum, ujar iman ( Allahu Akbar, imam hendak sujud, ) nah kita turun sujud itu ketika imam sudah meletakkan dahinya di tempat sujud, nah baru kita turun, ini Sunnah macam ini

( Wa iza Kana fil masjidi ) Bila adalah si imam dan makmum berada di dalam masjid, ( fayuzadu syartun ) di tambah lagi syaratnya ( wahuwa ) yaitu ( anla yakuna hunaka ha ilun ) Bahwa tidak ada disana pendinding 
( Yamna'uhu sulal makmum ) Yang mencegah sampai nya makmum ( Ilal imam ) kepada imam, ( Ayyakuna Lil makmum ) bahwa adalah makmum ( Al wusulu ) sampai ( Ilal imam ) kepada imam, sekalipun dengan berbalik 
( Bi ayyuwwaliha zohrah) Dengan bahwa membelakangi si makmum akan belakangnya 

( Lil kiblat ) Bagi kiblat, ( asna'a mururihi ) pada ketika lewatnya si makmum dengan berjalan yang biasa 
( Falayadurru zalik ) Maka demikian itu tidak mengapa 

Nah ini misalnya, masjid, di masjid ini ada imam seorangan, kemudian semua pintu di kuncinya, kita di bahagian terasnya boleh apa tidak hendak ikut shalat, nah tidak boleh, kenapa? Karna tidak bisa mendatangi si iman, Karna sudah terkunci, jadi kita boleh mengikuti imam yang di dalam masjid itu kalau kita bisa berjalan mendatangi nya, walaupun dengan jalan berbelok belok, asalkan bisa mendatanginya, Namun kalau hanya tertutup saja, tidak terkunci, nah itu boleh aja,

( Wa iza Kana ) Bila si makmum dan imam ( krho Rizal masjid ) di luar masjid, di tanah lapang atau di rumah misalnya shalat berjamaah, ( atau 'ahaduhuma fil masjid) salah satunya di masjid, ( wa 'a khroru khro Rizal masjid) dan yang lainnya di luar masjid, contoh imam di dalam masjid kita di luar masjid ( Fayuzadu salasatu syurutin ) Di tambah padanya 3 syarat maka sah mengikutnya

( Al awwalu ) Yang pertama ( alna yakuna hunaka ha 
Yadun Yamna'urrukyah ) bahwa tidak ada di sana dinding yang mencegah melihat, ( ayyarol makmumu) bahwa melihat si makmum ( Al imam ) akan imam, ( aw) atau ( yaro makmuman) atau melihat makmum ( akrhor) yang lain ( yarol imam ) bisa melihat akan imam, umpamanya imam sedang shalat di rumah, makmum di luar, nah suara imam ni kedengaran aja, cuman kita sebagai makmum tidak melihat imam itu, nah ini tidak boleh demikian kalau di luar masjid, nah itu contoh di rumah, ( imam berada di kamar, kita di luar kamar, kita tidak melihat imam, kita tidak melihat kepada makmum yang melihat imam, walaupun mendengar kan suara imam saja , nah tidak boleh kita mengikuti imam itu 

( Assani ) Yang ke dua ( ayyumkinal usul Lil imam ) bahwa mungkin ( budini zuwirorinn wan 'itafin ) dengan tanpa memalingkan belakang, nah ini, Syarat nya, kita ni hendak ikut imam di luar masjid, misalnya di rumah, itu kita melihat kepada imam, atau melihat makmum yang melihat imam, dan syaratnya kita bisa mendatangi imam tanpa berpaling badan kita ni dari arah kiblat, 
( Falau Kana hunakaha ilun ) Jikalau disana ada dinding ( yamna'ul usul mutlakan ? Yang mencegah akan sampai secara mutlak ( aw yumkinul usul ) atau mungkin sampai dengan memalingkan badan dari kiblat 
( Falatasihhul jamaah) Tidak sah berjamaah

( Assalisu ) Yang ketiga ( Alla yazida ma bainahuma ala salasih mi'ati ziroh ) bahwa tidak lebih antara imam dengan makmum itu 300 hasta, nah ini kalau kita berjamaah di luar masjid, antara imam dengan makmum itu tidak boleh lebih daripada 300 hasta, ( wa iza Kana dakhrilal masjid ) namun ketika di dalam masjid 
( Falatadurru ziyadah ) Tidak mengapa kalau lebih (Ala salasi mi'ati ziroh in ) Atas 300 hasta, ( itu mi'atin wa qkrhomsin Mitro) nah itu kira kira sekitar 150 meter, takriban, nah kalau di dalam masjid demikian itu tidak menjadi masalah, misal masjidnya itu panjangnya 200meter, imam paling depan , kita makmum paling ujung di belakang, nah ini boleh aja, asalkan di masjid

Namun kalau di luar masjid, tidak boleh lebih daripada 150 meter, ( wa iza Kana 'ahaduhuma da krhilal masjid) kecuali ini jamaah tersambung kepada masjid satu dengan masjid lainnya nah ini boleh, 

Yang ke empat ( la Tahsihhul jamaah ) tidak sah jamaah
( Li annahu la yumkinul usul) Karena tidak mungkin sampai ( Ilal imam ) kepada imam ( bi lazwiror wan itab) dengan tanpa berpaling badan daripada kiblat, contohnya masjid, kemudian ada pemisah, kemudian di luarnya itu tidak ada terasnya yang bukan daripada bahagian masjid, hapaman, tanah orang misalnya, nah si makmum sembahyang di luar itu, jadi dia ini tidak bisa menuju kepada imam, kecuali dengan berputar badan, kemudian tidak melihat akan imam, dan tidak juga melihat akan makmum yang melihat imam, nah itu tidak sah, 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah