Pages

Minggu, 01 Juni 2025

21. syarat dah dua khrutbah jumu'at

Bismillah 

( Qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi pid daroini Amiin, syurutu sihhatil khrutbatayyin, 'isna 'asyar) ini merupakan keterangan daripada sahnya dia krhutbah jumu'at, yakni ada 12 perkara : Kurang daripada satu di antara 12 ini maka khrutbahnya tidak sah, 

1. ( Azzukuratu) Laki-laki yang jadi khrotib itu musti orangnya laki-laki, jadi tidak ada sembahyang jumu'at itu khusus perempuan, khrutbahnya perempuan juga, nah itu tidak ada, karena orang yang musti menjadi khrotib itu syaratnya yang pertama adalah laki-laki, jangan lagi hendak di ubah"

2. ( Atthoharotu Anil hadasayyin Nil asghor wala akbar ) 
suci daripada hadast kecil dan hasar besar, si khrotibnya ini ( fa'iza ahdasa asna'iha) bilamana dia berhadas di khrotib di pertengahan khrutbah, ( tawaddho'a) dia pun pergi kembali berwudhu ( wastaknafaha) dan dia memulai kembali khrutbahnya ( min Jadid) dari yang baru lagi, jadi misalnya di khrotib ini berkhutbah kemudian batal wudhunya, maka tidak boleh dia menyambung khrutbahnya, langsung terun, pergi ambil aid wudhu, selesai wudhu, balik dia, naik lagi dan mulai kembali khrutbahnya dari awal, 

nah ini sama seperti hal nya kita sembahyang, kalau kita sedang shalar, kemudian batal wudhu kita, batal, maka mulai dari awal, nah seperti itu juga, namun, khrutbah ini boleh aja orang yang menggantikan kalau ada jamaah di shaf hadapa yang bisa menggantikan, miaalnya si khrotib ini begitu krhutbah, batal, maka diapun turun, nah yang di bawah langsung naik ke mimbar menyambungkan krhutbahnya, nah ini boleh saja, sama seperti imam shalat juga, kalau batal, yang di belakang boleh maju menggantikan 

3. ( Atthoharotu) Suci si khrotib ( anin najasah) daripada najis, ( fissauf) pakaiannya ( wal badan, Wal makan) dan tempat, artinya ( thoharotu saufil khrotib) suci pakaian si khrotib ( wa badanihi ) dan badan si khrotib) ( wa makaninilladzi yubasiruhu ) dan tempat yang dia tempati
itu tempat ( Suci minan najasah) daripada najis, nah jadi mimbar itu, tempat dua telapak kakinya musti dimana krhotib berdiri itu, harus suci, dan tempat dia duduk di antara dua khutbah pun musti suci, itu yang penting

4. ( Shatrul auroti) Menutup aurat, ( walawin kasafat) jikalau terbuka auratnya ( wamadhok waktun) dan berlalu waktu ( yumkinu ayyasturaha) yang mungkin menutupi si khrotib akan auratnya ( walamyasturha) dan tidak dia tutupi ( batalotil khrutbah) batal krhutbahnya 
( Wawajaba 'i'adatuha) Wajib mengulangi kembali khrutbahnya, misal di khrotib ini sedang bediri kemudian terkena kipas angin, terbuka auratnya kelihatan lututnya, nah bila tidak cepat dia tutup auratnya langsung, maka batal krhutbahnya, tapi kalau langsung di tutupinya, nah itu tidaklah jadi masalah, boleh saja di maafkan itu 

5. ( Al kiyumu alal Kodir) mengkhrutbah itu musti berdiri
bagi orang yang mampu berdiri, ( fa'in azaza Anil kiyam) jikalau dia tidak mampu berdiri ( khrataba jalisa) maka krhutbah lah dia sambil duduk, ( fa'in azaza ) namun tidak bisa juga dia ini duduk, (  krhbata muttazi'a) berkhutbah lah sambil berbaring, ( Wal aula'una) yang lebih baik disini, kalau di khrotib ini khrutbah tidak bisa dia berdiri, atau duduk, lebih baik jangan jadi khrotib, di gantikan sahaja kepada yang lebih sihat, nah itu lebih baik, jadi kalau khrotib itu tidak bisa berdiri bisa aja dia sambil duduk, kalau pun tidak bisa dia duduk, bisa dia berbaring, misalnya tak ada lagi orang di situ yang bisa khrutbah, cuman dia ni aja yang pandai khrutbah, bisa aja, namun kalau dia ni tak bisa juga sambil duduk, lebih baik di gantikan saja sama orang lain, nah itu lebih bagus 

6. ( Aljulusu bainahuma fawkotumakninatis Sholah) Duduk di antara dua khutbah itu lebih daripada tumaktinah sembahyang, ( misalnya, wastaghfiru innahu huwal ghofurullrrohim) ujarnya, nah dia pun duduk, duduk itu duduk dengan tenang, dengan tumaktinah, jangan hendak tergesa-gesa duduk langsung bangkit, santai dulu aja, ( Wal afdhol ayyakuna bi kodri surotil ikhlas) duduknya si krotib itu sedekar lamanya seperti membaca surah Al ikhlas, ( baraqollahuli walakum fil qur'anil adzim, wanafa'ani wa'iyyakum bimafihi
minal ayati Wal dzikril Hakim, aqulu qawli haza wa'astaghfirullahal adzim wali walakum, wanisa'ul muksinin, Wastaghfiruh, innahu huwal ghofurullrrohim )
nah kemudian khrotibnya duduk, nah selama mana duduknya, sekedar dia membaca surah Al ikhlas dengan tenang dan nyaman, sunnat dia membacanya, 

adapun misal di masjid kita ada Bilal sambil bershalawat, nah itu daripada sebahagian pendapat ulama aja, itu tidak ada daripada Rasulullah, tidak ada daripada sahabat, tidak ada daripada tabi'in, dari tabi'i tabi'in tidak ada, Bilal yang membaca shalawat pada saat khrotib duduk antara dua khutbah tu daripada ulama ulama muta'akrh khririn, jadi kalaupun duduk, terus diam aja, boleh, cuman kenapa si tempat kita ada yang Bilal membaca shalawat itu, Karena menurut sebahagian pendapat bahwa di hari jumuat itu saat yang mustajab untuk berdoah itu adalah pada duduk antara dua khrutbah, ada pendapat yang demikian, 
nah doa yang paling baik apa? bershalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, nah lalu orang kita melayu bershalawat, allahumma shalli ala sayyidina Muhammad ujar Bilal, adapun kalau hendak berdoa masing masing pun boleh, karena disitu ada sebahagian pendapat ulama yang mengatakan mustajabnya doah( Fa'iza lam yazlis) Bilamana si khrotib tidak duduk di antara dia krhutbahnya itu ( khrusibata wahidatan) khrutbahnya hanya di hitung satu aja, nah artinya tidak sah, jadi musti adanya duduk

7. ( Al muwalatu bainal khrutbatayyini 'urfan, muwalat, 
antara dua khutbah itu urfan pada urfiyyah, ( wa bakduhum, sebahagian para ulama, koddaro'u) mentakdirkan, itu muwalat tadi ( birok'atayyin) dengsn dua rakaat ( khrafifatayyin? yang ringkas, ( falawtholal faslu) jikalau panjang pemisah ( jiyadatan) lebih ( anjalik) daripada yang demimian, ( wajaba 'i'adatul khrutbah? Maka wajiblah dia mengulang kembali khrutbahnya, kan tadi kita di suruh duduk antara dua krhutbah itu si khrotibnya itu, nah namun duduknya itu selama apa? sekedar membaca surah Al ikhlas dengan tenang, tumaktinah, nah jangan pula terlalu terburu-buru, dan jangan pula terlalu lama, bilamana terlalu lama si khrotib duduk melebihi daripada kadar lamanya mengerjakan sembahyang dua rakaat yang ringkas, nah batal krhutbahnya, putus muwalatnya itu ( Falawtholal faslu jiyadatan anjalik, wajaba 'i'adatul khrutbah)

9. ( Al isma'u minal khrotib, memperdengarkan daripada khrotib, ( arba'ina rozulan) 40 laki-laki, ( tan'aqidu bihimul jumu'at) yang terjadi bagi mereka itu jumu'at, ( arkanal khrutbatayyin) rukun rukun dua khrutbah, nah jadi suara krhotib ini, suaranya itu musti kedengaran orang 40 atau lebih, harus kuat, tidak boleh khrotib itu berbisik-bisik misal, dan orang yang mengedarkan itu musti mustawtinin, penduduk itu tempat, karena demikian itu terjadi jumu'at kepada mereka, bukan orang yang bermukim atau orsng musafir, memperdengarkan suaranya kepada jemaahnya

10. ( Ayyasma'ahuma arba'un) Bahwa mendengari akan kedua krhutbah itu orang 40, jadi orang yang hadir sembahyang jumu'at itu musti mengedarkan khrutbah, kalau yang hadir ini 40 pas, 2 orang tertidur, nah ini masalah, tidak sah jumuatnya, jadi musti mendengarkan, itu syaratnya, kalau mengerti atau tidak itu lain halnya, yang penting mendengarkan, faham atau tidak, tidak jadi masalah yang penting mendengarkan krhutbah, ( aysama'ul hadirin) mendengarnya itu hadirin 
( Li arkanil khrutbah) Bagi rukun rukun khrutbah, ( bil fikli, ay hakikatan) mendengar benar-benar, ( indannawawi, warrafi'i, wa ibni hajar,

11. ( Antakuna bil arobiyyah, ay arkanu ) bahwa itu rukun musti pakai bahasa arab, tidak usah di ganti ganti, misalnya, Alhamdulillah, tidak bisa di ganti dengan segala puji bagi Allah, namun kalau di terjemahkan sah saja, tapi kalau di ganti hanya pakai bahasa Indonesia saja nah itu yang tidak boleh, ( wusikum, wanafsi bi taqwallah, ) musti takwa kepada Allah, jangan, junjunglah perintah Allah jauhi larangannya, di artikan, namun bahasa arabnya tidak di baca, nah ini tidak boleh
Antakuna bil arobiyyah ay arkanu, wa zalika iza kana fil kaum man, ya'riful 'arobiyyah ) yang demikian itu bila ada di suatu kaum, penduduk itu orang yang bisa pakai bahasa arab ( wa illa ) namun, kalau tidak ada yang bisa
( Fal yakfi, bi 'ayyi lughotin) Maka cukup dengan apa saja loghot, bahasa ( bi syarti ayyabha ma'hal
hadirun) dengan syarat menggunakan bahasa yang di fahami oleh hadirin, oleh orang yang mendengarkan 

Namun semuanya ini tidak bisa juga pakai bahasa arab
nah boleh berkhutbah pakai bahasa yang di fahami, 
tapi dengan syarat ( wayajibu alaihim ta'allumul 'arobiyyah, ) wajib bagi si khrotib, atau mereka ini sambil belajar bahasa arab, ( wa illa ) jikalau tidak belajar ( 'asimu) berdosa semuanya itu, ( ma'a adami sihhati jumu'atihim) serta tiada sah jumu'at bagi mereka, jadi masal sembahyang juga kan pakai bahasa arab, tidak boleh di ganti ganti lagi pakai bahasa kita, kalau orang tidak bisa pakai bahasa arab sama sekali, nah di bolehkan dia khrutbah itu pakai bahasa Melayu dengan syarat sambil belajar bahasa arab

12. ( Antakuna Kulluha) Bahwa adalah seluruhnya itu khrutbah dalam waktu dzuhur, ( falawsara'a Fil hamdalah) jikalau si khrotib itu mulai dengan ucapan Alhamdulillah, ( Qoblaz zawa) sebelum tergelincir matahari, belum masuk lagi waktu shalat jumu'at (lam tasihha) tidak sah khrutbahnya, maka tidak sah juga jumu'at nya, 

Sunnat jumu'at 

1. Kemudian ( sunanul jumu'ati) sunat-sunat jumu'at, ( wahiya kasirotun) banyak seklai sunat-sunat jumu'at ini ( wa minha) dan setengahnya adalah ( alghuslu) mandi sunnat jumu'at, ( wawaktuhu) waktunya mandi sunnuat jumu'at itu ( yadkhrulu fi dhulu'il Fajri) waktunya itu dengsn terbit fajar, ( wayakhrluqu) dan keluar waktunya 
( Bil yaksi min hudurul jumu'at) daripada hadir jumu'at
misal orang sudah selesai azan subuh, maka boleh sudah mandi sunnat jumu'at, terbit fajar, kalau mandi hari raya tengah malam sebelum fajar pun sudah boleh, tapi kalau jumu'at mulai subuh, ( Wal afdholu ) Dan yang paling afdhol itu ( tak khriruhu ) melambatkan itu mandi
( Ilal rowah) Sampai kepada berangkat, jadi lebih baiknya mandi itu begitu kita hendak berangkat shalat jumu'at disitu mandinya, jangan mandi habis subuh, terus tak mandi lagi, berangkatnya jam 12, nah berapa jam sudah lamanya itu, kan kita ini di suruh mandi supaya menghilangkan bau bau yang tidak nyaman, biar badan bersih, wangi, jadi begitu siap mandi, langsung kita berangkat pergi jumu'at, nah itu yang afdhol

( wayakunul ghuslu Li hadiriha) Dan itu mandi di sunnatkan bagi orang yang menghadiri jumu'at, lain hari raya, kalau hari raya itu sunnat semua umat Islam mandi hari raya, yang hendak pergi ke lapangan, yang hendak pergi ke masjid, sunnat semuanya mandi, tapi kalau jumu'at ni tidak, orang yang mandi sunnat itu hanya orang yang hendak menghadiri shalat jumu'at sahaja, 

2. ( Attazayyunu bi ahsani siyyap) Berhiyas dengan sebaik baik pakaian, ( walbidhu aula) warna putih lebih baik, ( fayalbasu sauba) maka dia memakai saup, pakaian, Al ghomisa) gamis, jubah, ( Wal imamata) pakai surban, ( warrida'a) pakai selendang, ( wayusonnu) dan juga di sunnatkan ( ayyubalighol krhotib? di sunnatkan dekat dengan khrotib, artinya duduk di shaf pertama, saf hadapan( bi Husnul hay'ah) 
dengan duduk dalam keadaan yang baik, sopan

3. ( Attanazzub) di sunnatkan pula bersih-bersih pada hari jumu'at itu, ( min hal qi'anatin) daripada membersihkan bulu kemaluannya, ( wanabti 'ibtin) mencabuti bulu ketiak, ( wa khossi syaribin) memotong kumis, (wataqlimi jufrin) menggunting kuku, ( wa'izalati rihin karihah) menghilangkan bau bau yang tidak nyaman, bau bau yang tidak baik, ( wa siwakin) memakai siwak, ( wa ghoiri Zalik? Dan lain sebagainya
nah jadi urusan bulu bulu di tubuh kita manusia ini, maka sunnat mengurusnya, jangan di biar kan, lalu dalam mengatur bulu bulu itu, ada yang di cabut, ada yang di gundulkan, ada yang di gunting, nah kumis itu yang disuruh di gunting, jangan sampai lebih dari bibir itu kumis, kalau bulu ketiak itu disuruh di cabut, ujar imam Syafi'i, aku tidak tahan, sakit kalau di cabut, jadi di gunting nya aja, kalau kita di cukur, misalnya, macam kuku di potong ( Hal qi'anah) Kalau bulu yang di sekitar ari-ari, itu tidak di suruh di gunting, tidak di suruh di cabut, tapi di suruh di gundul

Nah itu sunnat, jadi sebelum kita hendak berangkat shalat jumu'at, di suruh kita ini merapikan semuanya Tadi, 

4. ( Attatoyyub? Berharum harum, (yarrazuli) bagi laki-laki, ( wahuwa ma khrofiyya launuhu, wadzoharu
'ihatuhu ? yang baik minyak harum adalah yang baik warnanya tidak kelihatan tapi baunya ada, nah itu bagi laki laki, jadi laki laki itu di sunnatkan memakai minyak harum yang warnanya tidak kelihatan dan baunya ada, baunya menyengat tapi warnanya tidak ada di baju, nah sebaliknya dengan perempuan, kalau perempuan itu ada warnanya tapi baunya sedikit, tidak mencolok, tidak menyengat, tak terlalu awet baunya paling afdhol minyak harum itu ( Al misik) 

5. ( Attabqir ilaiha) dan sunnat nya lagi, bersegera menuju jumu'at, cepat berangkat, lebih awal, jangan di lama lama kan lagi waktu hendak pergi jumu'at itu, jangan datang itu waktunya pas pasan, misal begitu datang orang udah hendak khrutbah, nah ini kurang baik, tak sempat lagi hendak berdzikir, bershalawat , shalat sunnat dan lain sebagainya, ( wawaktuhu) Waktunya ( min dhulu'il Fajri ) dari terbit fajar, ( ila khruruzil imam) sampai keluarnya imam ( Ilal jumu'at ) daripada jumu'at ( illal imamah) kecuali imam, ( falayusonnu lahu) tidak di sunnatkan bagi si imam itu, 
( Attabqir) Pas pasan datang waktu ke jumu'at, tapi kalau khrotib boleh aja datang pas pasan, begitu datang dia tidak lama kemudian naik ke mimbar, 

6. Al istigholu fi tarikihi) bekerja pada perjalanannya menuju kepada masjid itu, ( bi qiro'atin? sambil membaca Alquran, sambil mengulang hafalan, ( aw dzikrin? Atau dia berdzikir kepada Allah, nah jadi pas kita hendak berangkat, jalan menuju masjid itu kita bisa membaca Alquran, mengulang hafalan Alquran, atau berdzikir kepada Allah, ( fayakti) maka dia akan mendatangkan ( biddu'ail khruruz) dengan doa keluar rumah, ( Ilal masjid ) sampai kepada masjid, ( wayajid) dan dia menambahkan doa( allahumma ja'alni min awjahiman tawazzah ilaik, wa akrobi man takorroba ilaik, wa afdholi man sa'alaka wa roghiba ilaik, ) 

7. ( Qiro'atu surotil Kahfi ) Di sunnatkan membaca surah Al Kahfi, yaumaha wa lailataha) malam dan siangnya hari jumu'at itu di suruh kita membaca surah Al Kahfi, 

8. ( Al iksaru minassholat Alan nabi shalallahu alaihi wasallam ) memperbanyak kita bershalawat kepada baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dah disini di sebutkan sekurang kurangnya memperbanyak itu 300 kali, jadi dari malam jumu'at kita bershalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, di hari jumuuat, perbanyak lagi shalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

9. ( Al insat, wal istimak Ilal khrutbah ) Memperhatikan, mendengar dengan baik daripada itu khutbah yang di sampaikan, jangan hendak bercakap-cakap, berkata-kata, menoleh kesana sini, melakukan perbuatan sia-sia, jangan ( fayadruqu aami'u? meninggalkan oleh yang mendengar ini dengan ( azzikro) akan dzikir, Wal kalamah? berkata-kata, macam kalau kita ni duduk di hadapan atau di pertengahan, dengar kita jelas khrotib, jangan kita ni hendak membaca-baca, hendak, dzikir, fokus ada mendengar, apalagi berkata-kata ( wa ghoiru samik) sekalian daripada itu ( yadrukul kalam fakod) misal dia ini jauh duduknya di ujung, orang sudah ramai sangat di masjid dia duduk paling ujung, nah ini di suruh sambil berdzikir kepada Allah, apa aja silahkan yang penting sambil berdzikir di dalam hati atau pelan", jangan pula kuat kuat bacanya, jangan terbalik, udah lah duduk nya di ujung, kurang dengar khrutbah, terlambat, terus malah bercakap-cakap dengan orang 
( Wayazibu roddussalam) dan wajib menjawab salam 
( Asna'al khrutbah) di pertengahan khrutbah, misalnya ada orang masuk, ujarnya assalamualaikum, nah kita mendengar itu menjawab wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, wajib di jawab 

10. ( Tahhiyyatul masjid) Sunnat tahyatul masjid, ( yusonnu) di sunnatkan, ( ayyusholliha) sembahyang tahyatul masjid itu ( arba'a rokatatin) 4 rakaat, ( bi tasyahhutin wahid) dengan sekali tasyahhud, jadi 4 rakaat dan di akhir tasyahhud sebelum salam ( yakro'u fihinna) dia membaca pada itu 4 rakaat tadi ( suratal ikhlas ) surat Al ikhlas, ( khromsina marrah) 50 kali 
( Fi kulli rok'atin ) Pada tiap tiap rakaat ( bakdal Fatihah) sesudah membaca Al Fatihah, nah ini bagi orang orang yang datang lebih awal, seperti 1 jam sebelum masuk waktu shalat jumu'at misalnya ( wa'iza dakhrolawal imam yakrhtubu) bilamana masuk dia ke masjid imam sedang berkhutbah, ( fayusholli rok'atayin) maka sembahyanglah dia dua rakaat sajaha ( wayujibu takhr wifuha) dan wajib baginya mencepatinya, dua rakaat yang ringkas saja, jadi kalau kita ni datang ke masjid, sudah mulai krhutbahnya, maka tetap kita di tuntut untuk sembahyang tahyatul masjid dua rakaat dengan ringkas, jangan pula lama 

11. ( Adamul ihtiba) Tiada duduk yang tidak baik, 
Duduk yang membuatkan kita mengantuk, ( Li 'anna yurisunNaum) karena itu demikian itu akan membuatkan kita mengantuk, duduk macam tasyahhud awal aja, biar tak mengantuk, 

12. ( Al iksar minaddu'a) Memperbanyak doa kepada Allah subhanahu wa ta'ala ( wataharri sa'atil) ijabah
mengerti, tahu, mengintai saat saat dimana si kabulkannya doa, mustajabnya berdoa kepada Allah, 
( Wahiya min julusil imam? Daripada duduk nya imam pada pertengahan khrutbah ( ilassalam minassholah) sampai salam daripada sembahyang jumu'at 
(Ala 'a sohhil akwal) Atas qoul yang paling shohih








































Tidak ada komentar:

More Article about this Blog