Pages

Jumat, 04 Juli 2025

24. Cara sembahyang hari raya

Bismillah

( Qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin, kayfiyyyatu sholatiha) bermula ini cara sembahyang hari raya, ( Hiya rok'atani) sembahyang hari raya itu dua rakaat, seperti sembahyang sunnat wudhu, seperti sembahyang duha, nah ini dua rakaat seperti biasa, itu adalah asal daripada sunnat hari raya, jadi misal kita ni di rumah, sedang uzur, ada sesuatu yang menyebabkan kita tidak bisa ikut shalat berjamaah, nah sembahyang hari raya, dan cara cara selengkapnya itu kita tidak bisa, Karna kan tidak ikut berjamaah, ini kita sedang di rumah, nah cukup aja kita shalat ( usholli sunnata 'idil Fitri, atau sunnatal 'aidil adha, rok'atayin lillahi ta'ala) 

( Yusonnu fi hima) Di sunnatkan pada dua rakaat itu pertama ( ayyukabbira fi rok'atil ula, sab'a takbirotin yakina, baina du'a il istiftah, watta'awuz, wafi rok'ati saniyyati krhomsa takbirah) di sunnatkan bahwa bertakbir seseorang pada rakaat pertama 7 kali takbir yakin, antara dua doa istiftah dan 'auzubillah, dan pada rakaat kedua 5 kali takbir yakin, nah ini sembahyang hari raya yang sempurna, ( usholli sunnata 'idil Fitri atau sunnatal 'aidil adha, rok'ataini makmuman, atau imaman, lillahi ta'ala) Allahu Akbar, nah baca doa istiftah sampai habis, nah selesai itu baru takbir 7 kali pada rakaat pertama itu, dengan yakin, kalau ragu ragu, sudah 7 kah atau masih 6, nah ambil yang 6, tambahkan 1 kali lagi takbir, biar dia lebih daripada kurang, nah itu tidak apa apa, tapi kalau yakin boleh, kalau ragu ragu ya seperti yang demikian tadi 
( Jadi takbir yang 7 itu sesudah kita membaca doa iftitah)

Kemudian yang kedua ( rok'ul yadayin fiha) mengangkat kedua tangan pada takbirat itu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, mengangkat kedua tangan, kemudian yang ke 3 
( Azzahru fiha) bernyaring pada ucapan takbir takbir itu, ( Lil imam, Wal makmum, walmunfarid) baik sembahyangnya menjadi imam, atau waktu, atau sembahyang sendirian, nah mengangkat tangan dan takbir itu 7 pada rakaat pertama dan 5 pada rakaat yang kedua, nah itu nyaring kita mengucapkannya, Allahu akbar, 

dan lagi yang ke 4 ( ayyaqula baina kulli takbirotayyin) 
sunnat dia mengata antara tiap tiap takbir 
( yakni Al baqiyyatissholihat) Mengucapkan, subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar, nah itu 
dan yang ke lima, sunnat juga ( ayyad'a yumnahu ) bahwa dia meletakkan tangan kanannya ( ala yusrohu) atas tangan kirinya, ( tahta sodrihi) di bawah dadanya
( Baina kulli takbirotayyin) Antara tiap tiap dua takbir 
Misalnya, Allahu Akbar, angkat tangan, kemudian letakkan tangan kanan di atas tangan kiri, kemudian kita membaca subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Wallahu Akbar, lanjut lagi, Allahu Akbar, letakkan lagi tangan kanan di atas tangan kiri di bawah dada, setelah itu ucapkan subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Wallahu Akbar, nah meletakkan tangan tadi di bawah dada itu sunnat, jangan di luruskan 

Kemudian yang ke 6 ( waslul takbirot ) sunnat menyambung takbirat itu dengan ucapan ta'awwuz, kan takbir pada rakaat pertama itu kan 7 sunnat, dan takbir pada rakaat yang kedua itu ada 5, nah takbir ini letaknya antara doa iftitah dan auzubillah, di takbir terakhir yang ke 7, atau di takbir yang ke 5, nah sunnat bagi kita menyambungnya, Allahu Akbar a'uzubillahiminassautonirrojim, nah itu kalau menjadi imam atau shalat sendirian, tapi kalau menjadi makmum, ikut ikut aja, nah setelah itu baru di lanjutkan membaca surah Al-fatihah, Dan kemudian yang ke 7, ( ayyakro'a fihima) sunnat membaca seseorang pada dua rakaat sembahyang hari raya itu ( suratul qaf, waktorobat ) atau ( Al 'akla, sabbihisma robbikal 'akla) Wal grhosiyyah, hal ataka hadisul grhosiyyah ) 

( Shunonul krhutbah, sunnat sunnat krhutbah, yusonnu ) di sunnatkan, ( iza Kana tissolatu jama'atan) bilamana sembahyang berjamaah ( ayyakrh tuba) bahwa melaksanakan krhutbah ( bakdaha) sesudah selesainya sembahyang hari raya, ( krhutbatayni) dua khutbah, kalau sembahyang jumuatkan sebelum shalat, kalau sembahyang hari raya khrutbahnya itu setelah selesai shalat hari raya, ( ka khrutbatail jumu'ah) sama itu krhutbahnya seperti shalat jumu'at, macam ( fil Arkan) rukun rukunnya sama, ( wasunan) sunnat sunnatnya sama, ( Al qiyyam) seperti berdiri, ( wal Satri) menutup aurat, ( wattoharoh) ( walzulusi bainahuma, 

Nah kalau sembahyang jumuaat wajib si khrotibnya itu suci, Wajib dia duduk di antara dua khutbah, tapi kalau sembahyang hari raya, krhutbahnya tidak menjadi syarat, boleh aja misalnya selesai sembahyang si khrotib ini batal wudhunya, langsung dia berkhutbah, nah ini boleh aja, sah sah saja, berbeda dengan shalat jumu'at, kalau Jumu'at musti suci, ( wa'iza sollamun faridan, falayakrhtubu) namun kalau dia ini shalat sendirian, tidak perlu adanya krhutbah, siapa yang hendak di khrutbahi kalau sendirian, 
Yang kedua di sunnatkan ( ayyazlisa Qoblahuma) bahwa duduk si khrotib sebelum kedua krhutbah itu, ( Jalasatan, krhofifatan) duduk yang sebentar, ( biqodri zulusihi) sekedar duduknya dia sambil menunggu adzan fil Jumu'ah, ( nah jadi sebelum di mulai itu kedua krhutbah, khrotib ini di sunnatkan duduk sebentar seperti lamanya itu menunggu adzan pada shalat Jumu'ah, setelah itu baru mulai krhutbahnya 

Kemudian yang ke tiga ( ayyuqobira bibtidahil ula) bertakbir di krhotib ini pada memulai khrutbahnya yang pertama ( tis'an wila'an) pada sembila berturut-turut 
( Wabibtidahissaniyyah) Pada permulaan krhutbah yang kedua ( sab'an wila'an) pada 7 kali takbir berturut-turut 
Jadi khrutbah yang pertama itu langsung berdiri dan bertakbir, ( Allahu Akbar 9x) nah kalau krhutbah kedua 7 kali berturut-turut, ( ayyazkuro fihima) bahwa menyebutkan si khrotib pada dua khutbah, ( mayaliku fil hal) yang sesuai dengan keadaannya ( fayata'arrodu) maka diapun menyampaikan ( li'ahkamil zakatil Fitri ) pada hukum hukum zakat fitrah, ( fi 'idihi pada hari raya fitrah) ( wali ahkam min 'udhiyyah) dan ataupun hukum hukum berkurban ( fi 'idiha) pada hari raya Aidil Adha

( Masa'ilu fil id) Masalah masalah dalam hari raya 
( Tusonnu tahni'ah bil 'id, ) Di sunnatkan tahni'ah bil 'id, tahni'ah ini bisa kita artikan macam ucapan selamat hari raya Aidil Fitri, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah subhanahu wa ta'ala menerima amal ibadah kita semuaan ini, aamiin ya Allah, nah ini termasuk kepada tahni'ah bil 'id, kan biasanya ada kita kalau jaman dulu mengirim surat, atau menelepon keluarga yang jauh, mengucapkan selamat hari raya, mohon maaf lahir batin semoga Allah menerima ibadah kita, nah itu adalah tahni'ah, nah ini sunnat di lakukan, kapan waktunya 
( Wa yadkhrulu waktuha fi Aidil Fitri ) Masuk waktunya pada hari raya Aidil Fitri, bi ghurubi Syamsi lailatiha) mulai tenggelamnya matahari, jadi ucapan tahni'ah itu berlaku pada malam hari raya sudah bisa, jangan seminggu lagi hari raya udah di ucapkan selamat

Wafihi fil adha) pada hari raya Aidil Adha, ( bi Subhi yaumi Arafah, pada subuh hari Arafah, yakni pada 9 Dzulhijah, nah ini sunnat, selamat hari raya Aidul adha, semoga Allah menerima ibadah kita, 

2. ( Law tabayyana qobla zawali yaumissalasin min ramadon annahu Yaumil 'id, fi syahadati rukyatil hilal,) jikalau nyata sebelum Tengah hari, pada hari 30 ramadhan, dan pada hari itu hari raya dengan penyaksian di liatnya anak bulan, sungguh tertinggal waktu untuk menghimpunkan manusia untuk sembahyang, maka merekapun berbuka puasa dan melaksanakan sembahyang hari raya, adaan, tunai, misalnya hari ini hari 30 ramadan, dan belum ada berita hari raya, jadi semua orangpun berpuasa, begitu jam 9 atau jam 10 pagi ada kabar orang melihat anak bulan, di sahkan, maka semuanya wajib berbuka puasa, dan melaksanakan sembahyang hari raya, nah itu boleh, asalkan belum masuk waktu tengah hari, dan sembahyang pun adaan, tunai, bukan qodoan, 

3 (lau tabayyana Zalik qoblaz zawal, walam yas'il waktu aw Bakdazzawal ) jikalau nampak yang demikian sebelum tengah hari, dan ( walam yas'il waktu) tidak cukup waktunya, tidak luas waktunya, atau sesudah tengah hari, dan di adilkan saksi sebelum tenggelamnya matahari, maka mereka berbuka puasa, dan keluputan sembahyang 'id, maka merekapun mengqodoknya, nah ini misalnya, jam 12 pas, baru ada berita, baru ada kabar hari raya, maka kita semuaan ini pun berbuka puasa, sembahyang id pun tidak sempat lagi Karna sudah tengah hari, maka jadi qodo'an, 

Ataupun umpamanya pada hari ke 30 ramadan tidak ada berita hari raya, maka kita pun berpuasa, sampai magrib kita pun berbuka puasa, begitu selesai magrib baru ada kabar dan berita, kalau tadi orang sudah hari raya, tak sampai berita ke tempat kita misal, maka kita pun besok hari sembahyang hari raya, adaan tunai, bukan qodoan, 

( Takbir dua hari raya fitrah dan adha, yusonnut takbir,) sunnat takbir dengan menyaringkan suara, lirrozul) bagi laki-laki, perempuan sunnat juga bertakbir, cuman tidak usah nyaring, nah itu tidak ada hukumnya, misalnya seperti sigrhotnya yang maksurah ( Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, lailaha illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar walilla hilhamd, Allahu Akbar Kabiro, walhamdulillahi kasiro, wa subhanallahi bukrotauw wa'asila, la Ilaha Illallahu walanakbudu Illa Iyyahu mukhrlisina lahuddin walauw karihal kafirun, la Ilaha Illahu wahdah, sodaqo wakdah, wanasoro 'abdah, wa 'a azzajundahu wa hazamal ahzaba wahdah, 

( Lailaha illallahu wahdah, tiada tuhan selain Allah, wahdah dia lah Allah yang sendiri, sodaqo wakdah, dia Allah menepati janjinya, wanasoro 'abdah , dia Allah yang menolong hambanya, wa a 'azza junndah, dia Allah yang memuliakan tentaranya, wahazamal ahzab, dia Allah yang mengalahkan musuhnya wahdah, dengan sendirian ) 

Nah baru di lanjutkan dengan membaca 


1. ( Aksamu takbir) Macam macam takbir, yanqasimu terbagi takbir itu ( ila kisma'yin ) kepada dua bahagian 
a. ( Mursalin ) Ada namanya takbir yang bebas, sebebas bebasnya, kapan sahaja hendak boleh kita takbir 
 ( wamukayyat) dan ada takbir yang berikat, berkaitan 
( Al mursalu) Yang mursal itu adalah huwal mutlak) ( fayukabbiru) dia  bebas bertakbir ( fi kulli waktin ) pada tiap tiap waktu, ( wayaqunu ) dan ini fil Fitri pada hari raya Aidil Fitri, Wal adha, nah bila waktunya takbir yang bebas itu? ( Waktuhu waktunya, min ghurubi Syamsi lailatil 'id, daripada tenggelamnya matahari di malam hari raya ( ilal ihram) sampai takbiratul ihram ( bissholah dengan sembahyang hari raya, jadi mulai magrib magrib paginya sampai imam mengangkat takbir sembahyang hari raya, nah ini boleh bebas, kapan aja bertakbir boleh
Baik malam hari raya fitrah atau malam hari raya qurban

Namun perbedaan antara hari raya fitrah dan hari raya qurban ini takbirnya itu, kalau hari raya fitrah takbirnya itu sesudah wirid shalat, magrib, isya, subuh, kalau malam hari raya haji, magrib, isya, subuh, nah itu takbirnya sesudah salam sembahyang sebelum berwirid, nah ini perbedaannya 

( Al muqoyyadu ) Yang kedua, yang muqoyyad, 
'ay bakdassholawat , sesudah sembahyang, ( sawa'un 'a kanat fardhon, sama ada sembahyang fardu ( Annaflan,) atau sembahyang sunnat, ada'an atau qodo'an, walau zanajatan, walaupun sembahyang jenazah, ( wayaqunu fil adha, adalah ini pada hari raya qurban ( faqods) sahaja, nah jadi kalau pada hari raya qurban, itu takbir nya luas, di tambah lagi sesudah sembahyang, baik itu sembahyangnya di kerjakan sunnat, fardhu, qodo'an, ataupun sembahyang jenazah, begitu selesai shalat, sunnat bertakbir, nah ini hari raya qurban, nah kapan waktunya, ( waktuhu) Li ghoiril haj, bagi orang yang bukan berhaji ( min Subhi yaumi Arafah, mulai subuh hari afarah pada 9 Dzulhijah, ila asri akhriri, ayyamin tasrik, sampai asar akhir hari tasrik 

Misalnya malam ini 9 Dzulhijah, nah subuh nanti kita sunnat bertakbir, karena esok hari Arafah, jadi mulai subuh tu sunnat bagi kita bertakbir, selesai sembahyang dhuha bertakbir, selesai dzuhur, takbir, selesai sembahyang asar bertakbir, selesai magrib, isya, bertakbir, sembahyang witir, bertakbir, semuanya ketika kita selesai sembahyang maka sunnat bertakbir, 

( Wa ammal haj) Adapun orang yang sedang berhaji 
( Fayuqobbiru ) Dia bertakbir ( min dzuhri yaumin nahar
mulai dzuhur hari raya ( ila Subhi akhriri ayyamin tasrik) sampai kepada subuh akhir hari tasrik ( fa'in tahal Lala) jikalau dia bertahallul, ( qobbara) dia bertakbir, sampai asar hari tasrik

( Wat takbirul mursalu ) Bermula takbir yang mursal, 
Takbir bebas ( Li 'idil Fitri ) bagi hari raya fitrah, ( afdholu
Lebih afdhol, nah jadi takbir yang lebih afdhol itu daripada malam malam hari raya qurban atau hari raya fitrah, lebih afdhol malam hari raya fitrah, ( wa amma takbirul mukayyat, adapun takbir yang mukayyat, takbir yang di kaitkan, ( Li 'idil adha, bagi Aidil Adha) fahuwa afdhol, nah itu lebih afdhol, min Ki layhima) daripada kedua-duanya, itu sebabnya begitu selesai sembahyang hari raya fitrah, begitu imam mengucapkan assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah, maka sudah habis takbir, Karna terakhir nya itu pada takbiratul ihram imam, berbeda kalau hari raya qurban, begitu selesai sembahyang hari raya haji, maka kita pun bertakbir, Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, 

Alhamdulillah 
Selesai ya Allah 
Mudahan bisa di lanjutkan kembali 


Hadrotin nabiyyi shallahu 'alaihi wasallam, alfatihah 






























Tidak ada komentar:

More Article about this Blog