Bismillah
( Qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin, mas'alatul istihrklaf,) bermula ini adalah masalah istihrklaf, menggantikan imam atau khrotib, mendapatkan keuzuran sewaktu melaksanakan tugasnya, ( wahiya) masalah istihrklaf ini, ( iza khrorozal imam minassholah, fayazuzu ayyastarkhrlifa rozulan, yutimmu sholatah, wayusomma khrolifatan
Walahu halatani, thoratan yakunu fil jumu'ati , batholatan yakunu fi ghoiriha) apabila keluar si imam daripada sembahyang, batal ini si imam umpamanya, sembahyangnya baru hanya 1 rakaat, kemudian batal dia, ( fayazuzu ayyastarkhrlifa rozula) boleh si imam itu, mengangkat penggantinya, akan seseorang laki laki yang menyempurnakan sembahyang, ( wayusomma khrolifatan ) maka itu laki laki di sebut sebagai Khalifah,
Jadi disini itu membahas tentang ( Al istihrklaf fil Jum'at)
menggantikan pada sembahyang Jum'at, ( ala shalasati anwa) atas tiga macam :
A. ( Al istihrklafu fil krhutbah) Minta gantikan si imam akan seseorang dalam khrutbah, ( ya sihhuh) nah ini sah, misal si imam ni udah mulai khrutbahnya, sudah membaca Alhamdulillah, sudah membaca shalawat, nah sampai di pertengahan si imam ni uzur, misalnya sakit perut, atau batal wudhunya, maka imam boleh menunjukkan salah seorang yang di shaf hadapan itu adalah untuk maju, menggantikannya
( Wayussharatu bil Khalifah) Di syaratkan pada orang yang hendak menggantikan ini ( Ayyakuna) bahwa dia
( Kod sami'a) Mendengar, ( mamadho' minal Arkan) daripada rukun rukun yang telah lalu, jadi syaratnya yang menggantikan ini musti yang mendengarkan mulai dari permulaan khrutbah, jadi begitu si khrotib turun karena batal wudhu nya tadi, langsung naik orang yang menggantikan, terus di sambung aja, jangan pula di mulai dari awal, nah boleh yang demikian itu, syaratnya tadi apa, orang yang menggantikan ini musti mendengar dari awal
2. ( Al istihrklaf bainal khrutbah wassholah) menggantikan antara khrutbah dan sholat, (ya sihhuh, ni syarti syama'il khrolifah jami'al Arkan, ) minta gantikan si khrotib antara khrutbah dan sembahyang, ini boleh, dengan syaratnya si pengganti ini mendengarkan dari awal, nah mustinya orang yang jadi khrotib itu sekaligus jadi imam, nah ini afdholnya, bahkan sebahagian pendapat ulama orang yang jadi khrotib itu, musti dia juga yang jadi imam, tidak boleh tidak, kalau mazhab kita imam Syafi'i, yang jadi khrotib itu , dia juga yang jadi imam, dan boleh aja selesai khrutbah pertama, selesai khrutbah kedua, selesai iqomah, boleh si khrotib ini menyuruh orang lain menggantikannya menjadi imam, ( tapi ada syaratnya, syaratnya apa? orang yang di tunjuk jadi imam ini, musti mendengarkan khrutbah seluruhnya, dari awal sampai akhir khrutbah kedua
Pengertian mendengarkan itu, ujar sebahagian para ulama, mendengarkan dengan benar, nah ini yang boleh jadi imam, kalau mengantuk, atau tidak fokus mendengar khrutbah nah ini tidak boleh, orang khrutbah mengantuk, tiba-tiba terdengar iqomah, tebangun, di suruh pula jadi imam, nah ini tidak boleh, Karna dia tidak benar benar mendengarkan khutbah itu
3. ( Al istihrklaf fissholah) Nah ini menggantikan dalam sembahyang ( walil Khalifah arba'u halatin?
Bagi orang yang menggantikan ini ada 4 keadaannya
A. ( Ayyuna qoblaqtida'ir kholifah bil imam ) bahwa adalah dia sebelum mengikut si Khalifah dengan imam ( fayamtani'ur istihrklaf, mutlakqoh) ini tidak boleh menggantikan, secara mutlak, ) umpamanya si imam ini sudah mulai, Allahu Akbar, takbiratul ihram, sudah baca doa iftitah, nah yang di belakang ini belum juga siap mengangkat takbir, imam sudah mulai membaca surah Al Fatihah, bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi robbil 'alamin, arrahmanirrohim, nah yang di belakang ini belum juga mengangkat takbir, tiba-tiba batal si imam, nah tidak boleh yang belum mengangkat takbir ini maju menggantikan si imam, ( yang menggantikan ini musti orang yang sudah mengikuti imam, kalau orang yang belum sembahyang lagi, hendak menggantikan nah ini tidak boleh
B. ( Wa ayyakuna ba'daq tida'ihi fi qiyami rok'atil ula, aufi ruku'iha, wa yasihhul istihrhklaf, watahsuhulahul jumu'atu, walil qaumil mushollin) bahwa adalah dia sesudah mengikutnya pada berdiri rakaat pertama, atau rukuk rakaat pertama, maka sah menggantikan, dan sah hasil bagi dia jumu'at dan juga jamaah yang Sembahyang, jadi kita ikut sembahyang pada rakaat pertama, kan ju'muat ini dua rakaat, Karna rakaat pertama dan rakaat kedua itu lain hukumnya, nah ini ikut shalat pada rakaat pertama, nah dia ini sudah mengikuti imam, begitu imam baca alfatihah di pertengahan batal wudhunya si imam ini, maka majulah dia, nah ini majunya sah, shalatnya sah, yang jadi jamaah pun sah,
Atau rakaat pertama begitu imam rukuk, yang di belakang pun ikut rukuk, pas rukuk batal wudhu si imam, maka maju menggantikan yang di belakang, nah ini sah, nah si pengganti ini, misalnya imam baca Al Fatihah, waladdhollin, amin, begitu selesai amin, batal si imam, nah kita maju menggantikan, nah kita ni belum membaca Al Fatihah lagi, Karna kita masih mendengar si imam tadi, kita belum baca alfatihah, maka baca dulu alfatihah,
Lain hal nya kalau si imam ini sudah selesai membaca surah Al-fatihah, kita pun sudah selesai membaca alfatihah juga, di imam membaca surah sabbihis ma rabbikal a'la, misalnya, nah di pertengahan batal wudhunya, maka kitapun maju, tinggal sambung aja ayatnya Karna kita sudah membaca Al Fatihah, jadi ini perlu di ketahui, kalau kita ni belum baca alfatihah, terus hendak menggantikan imam, batal nanti semua jamaah yang ada di masjid, itu sebabnya orang orang yang berada di belakang imam itu sudah ahli dan mengerti prihal yang demikian ini
3. ( Ayyaquna baqdatida'ihi) Bahwa adalah dia ini sesudah mengikut imam, ( wa bakda ruku'irrok'atil ula ) dan sesudah rukuk pada rakaat pertama ( Walau fiktidaliha ) sekalipun pada iktidalnya ( fayahrumu alaih) maka haram baginya menggantikan, ini imam sudah iktidal dari rukuk yang pertama, nah datang kita, Allahu Akbar, nah kita ni yang terlambat tidak boleh menggantikan, kenapa? Karna kita ini sudah tertinggal pada rakaat yang pertama, orang yang menggantikan ini musti orang yang ikut bersama imam mulai daripada awal takbiratul ihram bersamaan dengan imam,
4. ( Ayyaqa'a Bakda an adroka rukuk assaniyyah, rok'atissaniyyah, wasajedatayha, fastagrhlafa fi tasyahhud, fa'inda nib hajar layudrikul jumu'ata
Bal yutimmuha dzuhro, wa indal Ramli, Wal khrotib, wa syaikrhul Islam, yudrikuha, fayaqti bi rok'atin ) bahwa jatuh dia mengganti kan itu, sesudah dia memoerdapati rukuk pada rakaat yang kedua, dan kedua sujud, dia menggantikan si imam itu pada tasyahhud akhir, misal si imam ini tasyahhud akhir, datang kita ni terlambat, Allahu Akhbar, langsung duduk, batal si imam, nah kita gantikan imam, maka kita sembahyang dzuhur 4 rakaat
Menurut imam Ramli, khrotib dan Syaikhul Islam, ( yudrikuha, ) dia memperdapati akan jumu'atnya, ( fayakti bi rak'atin) maka dia mendatang dengan 1 rakaat, nah ini masalah sembahyang jumu'at,
Dan masalah mengganti imam ini, kita musti maju, walaupun hanya sedikit majunya daripada Makmum, dan berdiri, misalnya di imam posisinya batal pada tasyahhud akhir, nah kita maju menggantikan itu apakah harus merangkak, mengesot ke depan untuk maju, tidak, musti berdiri dahulu, melangkan misalnya selangkah, langsung duduk tasyahhud akhir, atau pada saat rukuk, batal imam, lalu kita maju, apakah sambil rukuk majunya tidak? Berdiri dahulu, melangkah kaki kanan, walaupun hanya satu langkah sahaja misalnya, maju, baru lanjut rukuk, jadi musti berdiri menggantikannya itu
Saniyyan) yang kedua masalah jumu'at, ( Al istihrklaf fi ghoiril jumu'ati, ) menggantikan imam pada bukan jumu'at, ( lahu halatani) pada dua keadaan, ( ayyastarkhrlifa bakda hadasil imam ) dia mengganti sesudah berhadas si imam, nah ini ada keterangannya
( illam yuqoli fil krolifatu al imama bil tartibi sholatihi
karrok'atil ula, awi saniyyah firrubu'iyyah
Fayazuzu, ) maka boleh, misal ini bukan sembahyang jumu'at, sembahyang fardhu biasa, jika tidak menyalahi si pengganti akan imam pada susunan sembahyangnya, pada rakaat pertama atau ketiga, pada shalat rakaatnya dua, tiga atau 4, nah ini boleh ( sama'un 'azaddadal makmumun) sama ada memperbaharui si makmum pada niatnya mengikut ( Amla) atau tidak
2. Kemudian yang kedua ( wa'in khralafal Khalifatul imama bi tartibi sholatihi, ) jikalau menyalahi si pengganti pada susunan sembahyangnya ( kassaniyyah, awirrobi'ah) seperti rakaat kedua atau rakaat yang ke 4,
( Aw shalisatil maghrib,) Atau para rakaat kedua shalat magrib, ( fayazuzu) nah ini boleh, ( 'inzaddadal makmumun) jika memperbaharui si makmum ( niyyatal kudwah) akan niat mengikut ( wa illa) jikalau makmum tidak memperbaharui niat mengikut, ( falayazuzu ) tidak boleh
3. ( Ayyaqtadiyal Khalifah) Bahwa mengikut si pengganti itu ( bil imam) dengan imam, ( Qobla hadasihi) sebelum hadasnya, mengikut si pengganti sebelum berhadas si imam, ( fayazuzu mutlakan) maka ini boleh secara mutlak ( wa innamal yazuzul istihrklaf ) hanyasanya boleh mengganti (izalam yanfaridzil makmumun, ) bila tidak bersendirian si makmum ( bi ruknin) dengan rukun
( Walau qawliyan) Walaupun rukun qawli ( wa illa) jikalau tidak, ( imtana'a fil Jum'at ) tertegah pada Jum'at ( mutlaqon) mutlak, ( wafi ghoiriha) dan pada selain jumu'at, ( bi niyyatin iqda'in) dengan niat ('iktidak), nah ini menggantikan ini lama waktunya, misal imam batal, tidak ada yang bisa menggantikan, lama menunggu, baru ada yang menggantikan , maka si makmum ini semua musti memperbaharui niatnya untuk mengikuti si imam yang baru menggantikan ini, namun kalau normal aja, begitu batal, ada orang langsung yang menggantikan, nah ini tidak jadi masalah
Kemudian ( babu sholatin 'ai Dayin) sembahyang hari raya ( ai sholatin 'ai Dayin, bil Fitri Wal adha, ) sembahyang dua hari raya Fitri dan adha, ( wa sholatu 'aidil adha) sembahyang Aidil Adha, ( afdholu) lebih afdhol daripada sembahyang hari raya fitrah, ( Li wurudiha) karena mendatangkan itu shalat hari raya Aidil Adha ( fil Qur'an, ) ada di dalam Al-Qur'an, ( fi qowlihi ta'ala) yang surah di sampaikan Allah di dalam alquranul Karim
( Hukmuha) hukum sembahyang Aidil Adha, dan aidul Fitri ( sunnatun) sunnat, ( bal Hiya) bahkan sembahyang itu dua hari raya ( afdholun nawafil) paling afdhol sembahyang sunnat, ( wakila) di katakan orang ( innaha) sembahyang hari raya itu fardhu kifayah ( wa indal imami Abi Hanifah) menurut imam abu Hanifah, itu hukumnya wajibatun, sembahyang hari raya hukumnya wajib, ( waktuha) waktunya sembahyang hari raya ( min thulu'issyamsi) daripada terbitnya matahari ( iladzzawa) sampai tergelincir, seperti pukul 6 lebih sampai pukul 12 misalnya, ( min yaumi 'idil fitir) daripada sembahyang Aidil Fitri ( Al awwal minassyawwal) ( wamin yaumi Aidil adha, Al 'asyir, mindzhilhijjah) pada 10 Dzulhijjah,
( Sunanuha) Sunnat sunnat pada sembahyang hari raya,
( Ta'khriruha) Melambatkan sembahyang hari raya ( ila an tartafi'a) sampai terangkatnya matahari, sekedar tombak, kan terbit matahari misalnya jam 6 15, nah jangan langsung sembahyang hari raya, tunda 1 jam lebih setelah itu, nah itu sunnat, Jam 7 lebih kah, atau jam 8 lebih, yang kedua( sunnat fi'luha) memperbuat sembahyang hari raya ( fil masjid ) di masjid, melaksanakannya itu di masjid, jikalau masjidnya itu besar, masjidnya itu luas, ( wa illa) namun masjidnya itu kecil misalnya, tak cukup untuk mencakup semua jamaahnya, ( fi ghoirih) boleh melaksanakan selain daripada masjid, bisa di lapangan, atau di tempat yang luas, terserah aja, ( wataqiful) berhenti itu perempuan-perempuan yang haid ( bi babil masjid) pada pintu pintu masjid, untuk mendengarkan khutbah,
nah jadi sembahyang hari raya ini perempuan perempuan pun di suruh untuk ikut ke masjid, di suruh juga ikut ke lapangan misalnya, cuman tidak shalat, tapi mendengarkan khutbah, kalau dia pergi ke masjid jangan berani masuk, cukup aja di luar sambil mendengarkan khutbah, dan yang ke tiga di sunnatkan ( ihya'u lailatihima ) menghidupkan malam malam hari raya itu dengan bil ibadah, dengan memoerbanyak ibadah kepada Allah, dan yang ke 4 ( Al ghuslu) mandi di sunnatkan, mulai daripada ( wayadkrhulu ) tengah malam hari raya sudah boleh, misal kalau sunnat mandi sholat jumuat itu waktunya sebelum kita hendak berangkat shalat nah kita mandi sunnat jumu'at, tapi kalau mandi sunnat hari raya, mulai dari tengah malamnya besok pagi hendak shalat, tengah malam nya kita mandi sunnat hari itu sudah boleh, misal jam 1 malam kita mandi , sahaja aku mandi sunnat hari raya Aidil Fitri lillahi ta'ala, nah boleh itu
Yang ke 5 ( attatayyubu watazayyun) di sunnatkan juga berharum-harum, Berhiyas, pada hari raya itu, ( Lik qo'it) bagi yang diam di rumah aja, atau yang pergi me masjid, sunnat juga, baik yang tua maupun yang masih kanak kanak, semuanya sunnat pada hari raya itu berhias dan berharum harum, ( sawa'unil mushollin minhu wa ghoiruh) baik yang ikut sembahyang maupun yang tidak sembahyang misalnya bagi perempuan yang haid, sunnat juga hukumnya berhias dan berharum harum ( wayushonnu khruruzul 'azuz) si sunnatkan keluarnya perempuan perempuan tua ( wa ghoiri zawakil hai'ah minannisa') dan perempuan perempuan yang tidak mempunyi keadaan baik, di sunnatkan keluar bagi perempuan perempuan tua, dan perempuan perempuan yang tidak mempunyai keadaan baik, keluar dengan ( bi siyabin bathilah) dengan pakaian yang biasa
Kan tadi sunnatkan perempuan perempuan ke masjid, ke lapangan, nah, cuman yang sunnat itu perempuan perempuan yang sudah tua, dan perempuan perempuan yang tidak mempunyai keadaan yang baik, yang tidak cantik, yang tidak mempunyai keistimewaan, perempuan yang biasa, yang tidak mencolok, nah itu sunnat, ( wa abba syabbah ) adapun perempuan perempuan yang masih muda, ( wajawatul hai'ah) ini perempuan yang mempunyai kecantikan, keindahan, kelebihan, keistimewaan ( fayukro'u lahunna) di makruhkan bagi mereka ( hudurul 'aidayin) ikut sembahyang hari raya,
Jadi perempuan yang masih muda, yang mempunyai keistimewaan pada dirinya, punya kecantikan, punya kelebihan, itu makhruh ikut sembahyang hari raya
( Wa sholatu hunna bi buyuti hinna) Sembahyang di rumah lebih afdhol bagi mereka, jadi tak usah ikut ke masjid, tak usah ikut ke lapangan, sembahyang aja di rumah pahalanya jauh lebih besar
Nah sembahyang di rumah macam apa, ya seperti biasa aja, ( usholli sunnatal Aidil Fitri rok'atain lillahi ta'ala) nah lebih baik seperti itu bagi perempuan perempuan, yang mempunyai hai'ah tadi. Yang ke 6, bersegera bagi bukan imam, yang ke 7 ( Al mashu ilaiha) berjalan kepada sembahyang aid, ( zahaban) perginya ( warruzu'u bi tarikin akrhar) Dan baliknya jalan lain, jadi di sunnatkan kalau kita pergi ke masjid, kalau dari rumah kita itu ada dua jalan menuju masjid maka pergi dan pulangnya di jalan yang lain, misalnya pergi itu ambil jalan yang jauh, kalau pulangnya ambil jalan yang terdekat, ( Li Anna 'akzazahab a'zhom) karena pahala pergi itu jauh lebih banyak daripada jalan pulang
( fayundabu tadhwiluhu ) Jadi sunnat memanjangkannya daripada itu langkahan kaki( Liyaksural azru) agar banyak mendapatkan pahala dengan banyaknya melangkah, waliyus tafta) dan di mintai orang nasihat, agar di mintai orang fatwa, ( inhaka min ahlil ilim) jikalau ini orang adalah ulama, ahli ilmu ( waya tashoddaqo fihima) dan sunnat baginya bersedekah pada kedua jalan itu ( walayas hadalahu tariqoni) agar menyaksikan baginya pada dua jalan itu, karena nanti di akhirat jalan jalan yang kita lewati itu akan menjadi saksi, misal kita ni jalan ke masjid, jalan jalan itu nanti akan menjadi saksi di akhirat kelak untuk kita di hadapan Allah
Kemudian 8 di sunnatkan juga ( takzilu sholati aidinnahar menyegerakan sembahyang Aidil Adha, ( fi awwali waktiha) di awal waktu, agar luas waktu hendak berqurban setelah selesai shalat itu, dan yang ke 9 sunnat juga ( ta'khriru sholati Aidil Fitri ) di sunnatkan melambatkan sembahyang Aidil fitri, kalau Aidil Adha lebih baiknya di segerakan, jadi Aidil Fitri itu di lambatkan sedikit waktunya tujuannya apa ( Li qayyat tasihha ikhr rozul Fitra qoblassholah ) Supaya luas Waktu mengeluarkan fitrah sebelum melaksanakan shalat, kemudian yang ke 10, ( Al fitru qobla sholatil Aidil fitri, ( sunnat makan pagi sebelum sembahyang Aidil fitrah) jadi sebelum berangkat shalat sunnat kita makan terlebih dahulu, ( Wal afdhol ayyaquna bi Tamrin)
Yang ke 11, ( Al ismak min thulu'il Fajri fi 'ifil adha) Tapi kalau sembahyang aid adha, dia bertahan, jangan makan, jangan minum mulai daripada terbit fajar, pada hari raya kurban, ( Hatta yafrugha) sampai selesai sembahyang hari raya qurban....
Alhamdulillah ya Allah,
mudahan Allah menolong kami agar bisa menyelesaikan menuliskan kembali ini kitab
Aamiin ya rabbal 'alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar