Pages

Senin, 18 Agustus 2025

26. Pembahasan shalat meminta Hujan

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi robbil 'alamin, wassolatu wassalamu'ala asrofil anniya'i walmursalin sayyidina, wahabibina, Muhammadiw, wa'ala alihi wasohbihi ajma'in, ( qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin, bahu sholatil istisqoh, ay haza babu sholatil istisqoh, bermula ini pembahasan berkenaan tentang sembahyang istisqoh 

( Al istisqoh, huwa tolabussuffiyah) Istisqoh itu artinya adalah meminta Hujan, ( walahu salasu marotiba, bagi istisqoh itu ada 3 macam martabatnya, ( Adnaha) sekurang-kurangnya, ( addu'a'u) doah ( Al istisqoh) untuk meminta Hujan, ( mutlaqon, mutlak, sesudah sembahyang, jadi perbanyak ada doa selesai shalat, misalnya, ya Allah berikan kami hujan, ya Allah turunkan hujan, ya Allah turunkan hujan, ya Allah kabulkan ya Allah ,nah ini umpamanya, sesudah sembahyang berdoa meminta Hujan, itu sekurang-kurangnya 

( Awfi qunutin nazilah) Atau pada qunut nazilah, artinya sembahyang fardu, pada di rakaat yang terakhir baca qunut, meminta, memohon kepada Allah untuk hujan, 
( Awsatuha? Atau yang tengah di antara tiga martabat tadi, ( addu'a'i lil istisqoh fi khrutbatil jumu'ati) doa minta hujan pada khutbah Jum'at, jadi si khrotib di dalam khutbah jum'atnya meminta kepada Allah untuk di berikan hujan ( atmaluha) dan yang paling sempurna, 
sholat istisqoh ini adalah ( Al Istisqoh 'u bissholah) sembahyangnya Istisqoh yang benar, yakni sembahyang yang khusus meminta Hujan, nah ini yang paling sempurna ( wakaza likassa'um) puasa, ( wa taubatu) bertaubat kepada Allah, ( Wal krhuruz minal madzolim) dan keluar daripada segala maca perbuatan dzolim, 
( kama sayaktis) berniat kedepannya itu melakukan perbuatan yang baik saja 

( Yusonnu ayyakmural hakimu bissholatil Istisqoh wassawmi, salasata ayyamin wabittawbati, Watasadduqi, wa'akmalalbir, Wal krhuruz minal madzolim, wa kullima yamna'u min nuzulirrohmah, 

Fa'iza amarohum fataqunussolatu wajibatan alal qodirin 
wakazalikassawmu, walaqodo 'alayh) dan sunnat memerintahkan oleh pemerintah dengan sembahyang meminta Hujan itu, dan puasa 3 hari, taubat, bersedekah, beramal kebaikan, keluar daripada segala macam bentuk kedzoliman, dan tiap tiap perkara yang mencegah turunnya Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala 
Jadi misalnya pada saat ini biasanya musim hujan, tapi tak ada hujan, kemarau terus berpanjangan, nah itu pemerintah di sunnatkan untuk menyuruh masyarakat untuk mengadakan sembahyang istisqoh, puasa 3 hari, bertaubat dan lain sebagainya tadi 

( Fa'iza amarohum) Bilamana pemerintah memerintahkan yang demikian tadi, ( fataqunussolah) maka jadilah sembahyang Istisqoh itu wajibatan, wajib hukumnya, ( wakazalikassaum) dan demikian pula berpuasa wajib hukumnya ( fayazibu fihi tabyitunniyyah) 
maka wajib pada puasa itu berniat di malam hari seperti berpuasa di bulan Ramadhan, misalnya ada pengumuman dari pemerintah, di beritahukan kepada seluruh masyarakat bahwasanya di harapkan untuk melaksanakan sembahyang Istisqoh pada hari Ahad, dan sebelumnya di mintai kepada masyarakat untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut, nah maka masyarakat itu wajib melaksanakan sembahyang Istisqoh dan berpuasa, misal orang tak mahu berpuasa( Wayaksamulladzi la yasum) maka berdosa orang yang tidak mahu berpuasa itu ( walaqodo' alaih) dan tidak ada mengqodo atasnya 

( Kayfiyyyatu sholatiha) Cara sembahyang Istisqoh 
(Rok'atani) Dua rakaat, ( kasholatil 'id) seperti sholat hari raya, ( fayusonnu fiha) di sunnat pada sembahyang Istisqoh ( ma yusonnu fi solatil 'id) sama seperti yang di sunnat shalat hari raya, ( min sab'in takbirotin, fi rok'atil ula) daripada 7 takbir pada rakaat pertama ( wa kromsin takbirotin fi rok'atissaniyyah ) dan lima takbir pada rakaat yang kedua, sama persis seperti sembahyang hari raya, ( Usholli sunnatan Istisqoh rok'atayin lillahi ta'ala, Allahu Akbar ( Wa yakro'u fiha, ) Dan membaca si imam pada sembahyang Istisqoh itu, surah qaf atau surah waktarobat, awil 'akla, atau surah walghosiyyah, 

( Waktussholah) Waktunya sembahyang shalat Istisqoh itu adalah ( fil Yaumirrobi') pada hari ke4, ( bakda siyyami shalasatin ayyam, ) pada selesai puasanya 3 hari, jadi artinya kita puasa dulu 3 hari dan pada hari ke4 kita sembahyang Istisqoh, kalau soal hari terserah aja hari apa, yang penting selesai puasa 3 hari maka hari ke 4 nya kita sembahyang Istisqoh, ( yakrh ruzun ilassyahroh) keluarnya di tanah lapang, sembahyang nya tidak di masjid, di luar, misalnya di tanah lapang 
( Bi siyabin nazilah) Dengan pakaian yang lusuh, lawan daripada hari raya, kalau hari raya itu kan kita di suruh berpakaian yang baru, kalau Istisqoh ini pakaiannya dengan pakaian yang biasa saja tak perlu pakaian yang baru macam hari raya, ( Wal afdhol ) yang lebih afdhol lagi ( wahum so'imun) pada hari ke 4 itu berpuasa sambil melaksanakan sembahyang Istisqoh 

( Wala yazibu alaihim assawmu fihi) dan tidak wajib bagi mereka puasa pada hari ke 4 itu, yang wajib hanya 3 hari sebelumnya tadi, ( wayustohabbu) dan di sunnatkan
( ikrh rozu sibyan) Mengeluarkan, mengajak kanak kanak pun ikut sekali ke lapangan untuk melaksanakan shalat Istisqoh, ( Wal baha'im) binatang-binatang, kambing, ayam, bawa ikut sekali, ( wassyu yurkh) orang orang yang sudah tua pun ikut di bawa sekali, nah di kumpulkan semuanya itu ( Li qawlinnabi shallallahu alaihi wasallam,) Karna sabda Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, ( laula sababun khrussa'
Wa baha'imun ruttaq, wassyu yu'un rukkaq, wa'atfalun ruddaq, la subbaq 'alaikumul 'azabu shobbaha) ujar nabi andaikata tidak ada pemuda yang ahli ibadah, andaikata tidak ada binatang yang mengembala, andaikata tidak ada orang tua yang suka sholat, andaikata tidak ada anak anak yang sedang menyusu, niscaya di tumpahkan bagi kalian semua itu azab, sebagaimana Allah menurutkan azabnya, nah jadi ini yang shohih 

Kenapa bala bala ini tergindar, kepada kita ini di hindarkan Allah daripada bala? Bukan Karna ada orang wali, bukan Karna tuan guru, bukan Karna ulama, tapi ujar nabi, Karna disitu masih ada pemuda pemuda yang ahli ibadah, di sana masih ada binatang-binatang yang memakan makanannya, masih ada orang orangtua yang ahli ibadah, masih ada anak anak yang masih menyusu, jikalau andaikata tidak adanya semuaan itu 
( La subbaq 'alaikumul 'azab shobbaha) Maka turunlah azab daripada Allah subhanahu wata'ala 

( Wa qawlihi, dan sabda Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, wahal turzakun watunsarun, illa bi du'afa 'ikum) adakah kalian itu di berikan rezeki, di tolong Allah? Melainkan dengan sebab adanya orang yang lemah di antara kalian itu, orang orang yang lemah, orang orang yang tua jompo, orang orang yang buta, orang orang yang miskin dan kelaparan, itulah sebabnya Allah memandang kepada mereka semuaan itu, maka Allah pun tidak menurunkan bala dan bencana kepada manusia ini ( wala yarkh ruzu ma'ahunnisa min jawatil Hai'at, ) dan tidak usah keluar besertanya tadi itu perempuan perempuan yang mempunyai Hai'at, perempuan tak usah ikut, laki laki sahaja

( Kayfiyyyatul khrutbati ) Caranya khrutbah ( yusonnu ayyakrhtuba khrutbataini,) di sunnatkan bahwa mengkhrutbah itu dua kali khrutbah, ( Bakdaha) sesudah mengerjakan sembahyang ( aw wahidatan) atau sekali khrutbah sahaja, ( wayazuzu qoblassholah) boleh juga di lakukan sebelum sembahyang atau sesudah sembahyang khrutbahnya itu, ( wayastagfhiru bi awwalil Khrutbatil ula) beristighfar si Khotib pada awal khrutbah pertama ( tis'an) sebanyak 9 kali, ( wafi awwalin khutbati tsaniyyah) dan pada awal khrutbah yang kedua, ( sab'an) 7 kali istighfar, kan macam sembahyang hari raya khrotib kan menyucapkan kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, 9 kali, nah ini kalau sembahyang hari raya,

Tapi kalau sembahyang Istisqoh, si khrotib mengucapkan kalimat istighfar, ( astagfirullahhal adzim, astaghfirullahal adzim, astaghfirullah hal adzim, 9 kali, dan pada rakaat yang kedua sebanyak 7 kali, Dan si khrotib menghadap kepada kiblat pada saat berdoa 
( Bakda shulusil khrutbatissaniyyah, ) Sesudah sepertiga khrutbah yang kedua, ( hattal Faroq) sampailah selesai ( minaddu'a) daripada doanya itu 
nah jadi khrutbah yang kedua itu si khrotib itu sebahagian menghadap kepada manusia, dan sebahagiannya lagi menghadap jepada kiblat untuk berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, nah selesai berdoa ( Summa yastakbilunnas) barulah berbalik lagi mengarah kepada manusia 

Adapun lagi pakaian laki laki ini ada Rida, ada izar, kalau izar itu mulai pusat ke bawah itu izar, sedangkan Rida itu mulai daripada bahu sampai ke pusat itu namanya Rida, Jadi pada waktu khrotib membalikkan badannya menghadap kiblat hebdak berdoa, maka kita jamaah disuruh membalikkan Rida kita, selendang kita, atau apa sahaja yang ada di bahagian bahu itu, di balikkan, yang bawah ke atas yang kiri di letakkan ke kanan, di balik, benar benar, nah ini apa artinya, ( tafa'ul) mudah mudahan terbalik juga lah keadaan, kesdaan yang kemarau gersang, menjadi keadaan yang hujan, nah itu tujuannya, ( illannisa) kecuali perempuan tidak perlu membalikkan ridanya, ( wa yukrohu Tarku tahwil) dan di makhruhkan meninggal perkara yang membalikkan itu, jadi musti di balikkan kalau tak hukumnya makhruh

( Masa'ilu fil Istisqoh) Masalah masalah dalam sembahyang Istisqoh ( yusonnul wuslu ) di sunnatkan mandi ( Li solatil Istisqoh ) untuk sembahyang minta hujan, ( kama takoddam) sebagaimana yang telah lalu 
Sudah di sampaikan, ( Al afdhol antakuna fi waktil 'aid ) 
yang afdholnya sembahyang Istisqoh itu pada waktu hari raya, ( wayazuzu Fil lail) boleh juga pada waktu malam 
( Fawaktil karohah) Boleh juga pada waktu asar, 
( illam yuskaw 'a 'adus salasaniyyan wa shalisah ) 
Kalau seandainya hujan tidak turun juga ulangi lagi seperti biasa sampai dua atau tiga kali, ( insuku qoblassholah ) jikalau di berikan hujan sebelum mengerjakan sembahyang, misalnya kita ini sudah mendapatkan mengumuman hendak sembahyang Istisqoh, kita pun sudah berniat hendak pergi ke lapangan untuk shalat, nah begitu dalam perjalanan ke lapangan, hujan sudah turun, nah ( shollaw) tetap mengerjakan sembahyang, ( sebagai Syukron lillah) bertuk syukur kepada Allah subhanahu wata'ala ( wa tolaban Lil Majid )

Dan di sunnatkan juga pada turunnya hujan untuk membasahkan badan, untuk mandi, untuk berwudhu, ( fissail) Pada aliran aliran air di badan itu, Aurat jangan di buka, nah itu di sunnatkan ( yusonnu) dan di sunnatkan juga ( ayyaqula) bahwa mengata seseorang itu 
( indassama'ir rokdi) ketika mendengarkan petir
( subhana mayyusabbihu rokdu bihamdihi, wal mala'ikatu min khrifatih, allahumma la tuhlikna Bi azabiq, wala taqtulna bi ghodobika Wa'afina Qobla Zalik) ( yusonnu ayyaqula indarukyatil barki) sunnat dia ketika melihat kilat ( subhana mayyurikumul barka krhauwfan watoma'an, dan sunnat juga jangan mencengangi pada itu kilat 

( Yusonnu ayyaqula inda nujulil mathar) Sunnat juga kita mengatakan ketika turunnya hujan, ( allahumma soyyiban, hani'am, mari'an nafi'a, ( wa bakdannuzul) sesudahnya bersyukur banyak kepada Allah, bilamana hujan turun yang berlebihan itu, sampai banjir misalnya, maka di sunnatkan kita berdoa kepada Allah 
( Allahuma hawalaina, wala Alaina) Nah ini pada jaman Rasulullah, pada hari Jumu'at itu, pada saat nabi kita berkhutbah sembahyang jumuat, ada sahabat memohon kepada Rasulullah agar berdoa jepada Allah meminta Hujan, maka nabipun berdoa, supaya hujan hari, nah semingguan hujan tak berhenti henti, banjir kita Madinah , Karna hujannya tak berhenti, nah Jumu'at berikutnya datang lagi Sabahat itu memohonkan kepada Rasulullah supaya hujannya berhenti, maka nabi kitapun berdoa kepada Allah ( allahuma hawalaina wala Alaina, allahumma hawalaina wala Alaina) Nah sejak saat itu pun hujan berhenti, jadi kalau ada di tempat kita ni hujan lebat terus tak berhenti-henti maka perbanyaklah membaca doa, allahumma hawalaina wala Alaina) 

Alhamdulillah ya Allah 
Mudahan Allah berikan pertolongan untuk menyelesaikan ini pembahasan dan Allah berikan kemudahan untuk memahami ilmu Allah, amiin 
Insyaallah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah