Bismillah, ( qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin, ( masa'ilu fi sholatil janazah, ay hazihi masa'ilu fi sholatil janazah ) ( awlannas bi sholati alaih, orang yang paling berhak di antara manusia dengan menyembahyangkan atas mayyit, orang yang paling dekat daripadanya, kemudian baru ( zawil Arham,) contohnya si Fulan ini meninggal dunia, nah siapa yang paling berhak untuk menjadi imam menyembahyangkan jenazah si Fulan ini
yang paling berhak menyembahyangkan si Fulan ini adalah bapaknya, atau ayahnya sendiri, kalau tidak ada, atoknya sampai seterusnya, kalau misalnya ayahnya sudah tidak ada, atoknya sudah tidak ada baru kemudian anaknya, cucunya dan seterusnya sampai kebawah, nah itu yang paling berhak menjadi imam untuk menyembahyangkan ini mayyit, ( baru kemudian zawil Arham) contohnya adalah laki-laki daripada pihak ibunya, atau cucu laki-laki daripada anak kita yang perempuan
2. ( Yakiful imam) Imam itu berdiri, ( indarraksirrozul) di sampai kepala laki-laki, ( wa innda 'azuzil mar'ah) dan si samping punggungnya perempuan, contohnya kalau mayyitnya laki-laki maka imam berdiri sejajar dengan kepala mayyit laki2, dan posisi mayyit itu kakinya mengarah ke sebelah kiri bahu mayyit, manakala perempuan kaki mayyit itu mengarah pada sebelah kanan bahu mayyit, dan posisi imam berdiri di tengah2 punggung
( La yusonnu fiha du'a ul istiftah) tidak di sunnatkan
pada sembahyang jenazah itu doah iftitah, ( misal wajjahtu, tidak ada dalam sembahyang kifayah ini
( wa amma ta'awwudz,) Adapun mengucapkan a'uzubillah, ( fayusonnu) maka ini tetap di sunnatkan, macam kita takbiratul ihram, Allahu Akbar, ( a'uzubillahi minassyaitonirrozim, bismillahirrahmanirrahim)
4. kemudian yang keempat ( iza ta akrhorol makmum bi uzrin anil imam bi takbiratayni
batholat sholatuhu) bilamana berlambat si Makmun dengan tiadanya alasan atau udzur, terlambat ini makmum daripada imam dengan selisih dua takbir maka batal sembahyang si Makmun ( Li annahuma) karena dua takbir itu ( fimakomir ruknaynil fa'layli) pada menempati dua rukun fikli, nah ujar imam Allahu Akbar, sedangkan makmum ni belum angkat takbir lagi, nah ini sudah satu kali takbir, imam pun melanjutkan takbir yang ke dua, Allahu Akbar, nah ini makmum diam aja, tidak ada alasan, tidak ada udzur baginya, nah ini batal sembahyangnya si makmum, sama juga halnya orang bertinggal dengan dua rukun fikli,
misal sembahyang, imam sudah Allahu Akbar, rukuk, nah di makmum ni masih aja berdiri, sami'allahu liman Hamidah, ujar di imam, nah ini sudah dua rukun fikli, bertinggal daripada imam dua rukun fikli dengan sengaja tanpa ada udzur, maka akan membatalkan sembahyangnya si makmum, lain halnya kalau di makmum ini sedang membaca, karena lambatnya ia, karena kekurangan pada dirinya, nah ini tidak jadi masalah
5. ( iza kabbaral makmumu liyakro'al fatihah) bila bertakbir si makmum untuk membaca altafihah, ( faqobbaral imamu saniyyatan), manakala takbir si imam yang kedua, ( walam yakro'il makmum Al fatihata) belum membaca si makmum akan altafihah (bakdu)sesudahnya itu ( saqotat) gugur alfatihah daripada makmum(wahukmuhu) Hukumnya makmum ( hukmul masbuk) maka di hukumi dengan hukum orang yang masbuk, misalnya tengah sembahyang jenazah, imam pun takbir Allahu Akbar, kitapun ikut, sekalinya belum lagi kita ni selesaikan membaca alfatihah imam sudah takbir yang kedua Allahu Akbar, maka langsung kita ikut saja imam, Allahu Akbar, karena alfatihah yang kita kurang itu sudah di tanggung imam, sama hal nya seperti orang masbuk dalam sembahyang fardhu biasa
6. ( Assholatul ala gho'ib) sembahyang bagi si mayyit yang ghoib, mayyit yang tidak ada di hadapan kita, ( tusholla di sembahyangkan itu mayyit goib, ( iza matal mayyitu ) bilamana mati si mayyit, ( fi ghoiri baladil musholli) anggaplah balad itu kabupaten, atau satu wilayah, misalnya ada orang mati di negeri 9, kita di selagor sembahyang ghoib, tapi kalau satu wilayah, tidak boleh sembahyang ghoib, masih satu kabupaten misalnya nah ini tidak boleh ( falawsholliya alaihi) jikalau di sembahyangkan juga atasnya ( fi baladin) dengan wilayah yang sama ( falayazuzu Li ahadin) maka tidak boleh bagi seseorang melakukannya
( wasyartu sihhatissholah) syarat sah nya sembahyang ghoib, ( ayyaquna min ahli wujubissholah) bahwa adalah dia termasuk ahli wajib sembahyang ( wakta mautil mayyit) pada waktu matinya si mayyit, jadi sembahyang ghoib ini tidak ada waktu habisnya berapa hari kah, semenjak mati si mayyit itu, asalan pada waktu mati di mayyit itu kita ini sudah dalam keadaan baligh dan berakal, artinya pada saat dia ini mati, kita ini sudah hidup, dan kita sudah baligh dan berakal bah itu syaratnya
( yusonnu antaquna sholatul janazah fil masjid) di sunnatkan bahwa adalah sembahyang jenazah itu di masjid, nah ini yang sunnat, jangan di rumah, lebih baik di masjid daripada di rumah ( wafi salasati suqufin fa aksar) Dan dengan tiga shaf atau lebih, jadi sembahyang di masjid dan di buatkan Shafnya itu 3 atau pun lebih daripada itu, misalnya di situ cuman ada 7 orang, maka di jadikan imam satu, kemudian, shaf terpada dua orang, saf kedua, 2 orang, dan saf ketiga, 2 orang
maka jadilah 3 saf, nah sunnat yang demikian ini
8. ( Assholatu alal madfun) Sembahyang atas orang yang sudah di kubur, (Inda qobrih? di samping kuburnya ( tazuzu) boleh ( inkanal musholli) jikalau adalah orang yang sembahyang itu (min ahli wujubissholah) dari ahli wajibnya sembahyang ( wakta mautil mayyit) pada waktu matinya si mayyit, sama halnya dengan ghoib tadi,
misalnya kita ni datang ke kubur ulama, ke kubur orang Sholeh, ke kubur habaib, nah sembahyang kita di samping kuburnya, boleh? boleh asalkan pada waktu si mayyit ini wafat, kita pada saat itu kita sudah dalam keadaan baligh dan berakal
nah ini prihal sembahyang jenazah di samping kubur, nah tidak boleh itu orangnya sudah mati lama, belum lagi kita lahir orangnya sudah mati, belum lagi kita baligh nah ini tidak boleh,
Alhamdulillah ya Allah telah selesai sudah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar