Pages

Kamis, 18 September 2025

33. ini pembahasan cara membawa Jenazah

Bismillah, ( qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin 
( Mas'alatu hamlil mayyiti) mas'alah membawa orang mati, ( yazibu bi hay'i hay'atin) wajib membawa itu mayyit dengan apa jua keadaan, 
( wayahrumu) dan haram hukumnya, ( ingkana bi hai'atin muzriyyah) jika adalah membawa Mayyit itu dengan keadaan yang menghinakan, misalnya kita membawa mayyit seperti membawa jenjengan, di bawah pantat, ( aw yuhsa minhussyukut ) atau di takutkan daripadanya mayyit itu jatuh, ini pun hukumnya haram, jadi membawa mayyit itu terserah, seperti apapun keadaannya, yang penting keadaan membawanya itu tidak menghinakan mayyit dan aman daripada terjatuh, 

( wali hamlil mayyiti kayfiyyatani)dan membawa mayyit itu ada dua cara : 
1. ( Attarbik) namanya, ( wahuwa ayyahmilahu arba'atun) membawa akan mayyit itu 4 orang, ( kulli wahidin bi yuknin) tiap-tiap orang dengan satu rukun, kan biasanya keranta itu ada 4 sudutnya, 
( Fa'in 'azazu) jikalau mereka tidak mampu 4 orang, misalnya ini mayyit besar, ( fa sittatun) maka boleh 6 orang, misal tidak kuat juga membawa 6 orang, 
( wa illa fasamaniyyatun) bole 8 orang, nah batasnya hanya 8 aja, dan makrhuh hukumnya membawa mayyit itu seorangan, atau berdua satu di bahagian depan satu di belakang, makhruh juga, kecuali mayyitnya itu ( tiflun) kanak-kanak, nah ini tidak jadi masalah, jadi cara yang pertama membawa mayyit itu 4 orang, atau 6 atau 8

2. ( Al hamlu baynal 'amuda'yin) membawa mayyit itu antara dua 'amud, antara dua tiangnya ( Wahiya afdhol) karena yang demikian itu lebih afdhol, ( wahuwa ayyahmilahu) yaitu membawa mayyit itu ( salasatun) dengan 3 orang, ( yadho'u 'ahadahumul krhasabata'in) meletakkan salah seorang mereka akan dua kayu, ( Al mutaqoddimatayin) di bahagian hadapan, ( ala atiqo'ih) di atas bahu bahunya 
( wayak krhuzu isnani) dan memegang dua orang dengan dua tiang, atau dua kayu di belakangnya, jadi yang paling afdhol itu membawa mayyit, di depan itu seorang, dan dua di belakang, 
(Fa'in 'azazu) jikalau mereka bertiga tidak mampu, 
( fayuzadu isnani) maka di tambah dua orang, 
( yahmilanil krhasabata'in) yang membawa itu bagi dua orang ( almutaqoddima'in) di bahagian depan 

( yusonnul masyu) Di sunnatkan berjalan ( ma'a tasyi 'il janazah) serta mengantarkan jenazah, jadi sunnat berjalan menghantarkan jenazah itu, ( walqurbu minha ) dan sunnat dekat daripada jenazah itu, jadi ketika kita menghantarkan jenazah itu ke kubur, di sunnatkan berjalan dan dekat dengan jenazah ( wal afdholu) yang lebih afdhol
( 'amamaha) kita berjalan itu di depan jenazah, membelakangi mayyit ( wal 'isrou biha) dan sunnat bersegera dengan jenazah itu, jadi membawa mayyit itu jangan berjalan santai, jalan laju, 
Dan makruh mengikuti itu perempuan bagi jenazah
misal ada perempuan ikut juga nah ini makrhuh, arti makruh disni itu aman daripada hal hal yang negatif, tapi kalau tidak bukan hanya makrhuh, bisa menjadi haram, umpamanya ada perempuan menghantarkan jenazah itu auratnya kelihatan, rambutnya kelihatan, bajunya ketat, kelihatan aurat, dan lain sebagainya, nah ini hukumnya menjadi haram

( wayusonnu syukutu halal hamli) di sunnatkan berdiam ketika menghantarkan mayyit itu ( mutafakkiran fil maut) merenung, memikirkan tentang kematian ( wahalil mayyit) dan keadaan si mayyit ( bakdal maut) sesudah mati, jadi orang yang membawa mayyit itu, orang yang hendak menghantarkan mayyit itu disunnahkan berdiam sambil merenung kembali tentang kematian, artinya jangan bercakap-cakap, fikirkan aku pun nanti akan menjadi mayyit, akan menjadi jenazah, dan akan di bawa orang sama seperti ini, dan aku akan di kuburkan juga, dan mayyit di dalam keranta itu pun menurut beberapa hadist di riwayatkan ruh nya itu duduk di atas keranda, dan dia pun melihat siapa siapa yang menghantarkanya ke kubur, tahu dia, nah itu yang kita di suruh tafakkurkan 

( waza huwal aslu) Nah ini lah asalnya, jadi pada asalnya itu hukumnya sunnat kita berdiam, jangan hendak membawa apa-apa, apalagi sampai bercakap-cakap, diam aja, sambil merenung 
( wakadistahsana bakduhum al zahra fi dzikir) membaguskan ssbahagian ulama akan bernyaring dengan dzikir, agar mengganggu manusia ( anil Kalam) daripada berbicara yang sia-sia, ( fimalayakni) dan berbicara daripada perkara yang tidak bermanfaat, jadi kalau disitu orang yang bisa diam juga merenungkan akan kematian, lebih bagik di ganti dengan berdzikir dengan nyaring, supaya orang orang yang bercakap sia-sia, berbicara hal hal yang tidak bermanfaat itu diam, nah ini tujuannya di sunnatkan demikian dzikir itu 

3. ( Salisan) yang ketiga ( assolatu alal mayyit) sembahyang bagi mayyit (ahkamussholatil alal mayyit) hukum sembahyang ( salasatun) ada 3

1. ( wajibatun) wajib ( iza kana) bilamana mayyit itu ( musliman) muslim ( ghoira syahid) tidak syahid ( wassyiqti) dan tidak pula mayyit yang keguguran 
( yang keluar mati, jadi mayyit itu muslim, tidak syahid, dan tidak pula keguguran, karena demikian ini tidak wajib di sembahyangkan, 

2. ( muharromatun) haram hukumnya menyembahyangkan mayyit ( iza kana) bilamana itu mayyit ( syahida makrikatil kuffar) bila dia adalah seorang syahid perang Sabilillah melawan orang kafir, jadi orang yang mati dalam peperangan fi Sabilillah, matinya ini tidak usah di mandikan, tidak usah di sembahyangkan ( aw syiktan krhoroza mayyita) atau keguguran yang mati tadi, yang masih belum tampak padanya permulaan kejadian manusia, masih segumpalan daging misalnya, nah ini pun haram di sembahyangkan ( aw kafira) Dan juga orang kafir

3. Ada juga hukum menyembahyangkan mayyit itu hukumnya ( krhilaful aula) kurang baik artinya tidak 
haram tidak makhruh, dan tidak juga boleh, kurang baik, ( 'i 'adatuha) mengulangi menyembahyangkan mayyit, misalnya si mayyit ini ada beberapa lagi orang menyembahyangkan, tiba tiba kita datang kita sembahyangkan lagi nah ini kurang baik aja, karena cukup sekali sembahyang mayyit itu 
( falatusonnu 'i 'adatu solatil janazah) karena demikian tidak di sunnatkan untuk mengulanginya
biasanya kan mayyit itu di rumah di sembahyangkan keluarganya, nah setelah itu di hantarkan ke masjid atau ke mana, nah orang yang sudah menyembahyangkan di rumah, tidak usah lagi ikut sembahyangkan di masjid, karena demikian itu di suruh tidak perlu mengulanginya cukup aja sekali, tapi kalau hendak juga menyembahyangkan tidak haram, dan tidak pula sunnat, 

Waktunya sembahyang mayyit 

( waktuha) bermula waktu sembahyang jenazah itu 
( yadkhrulu) masuknya waktu ( bi gwhuslil mayyiti) dengan di mandikannya mayyit, jadi kalau mayyit itu sudah selesai di mandikan, maka sudah bolehlah di sembahyangkan, kalau mayyitnya belum di mandikan, maka tidak boleh, misalnya hendak sembahyang ghoib nah ini pun tidak boleh juga, jadi misalnya kita ini di luar negeri, ada kabar bahwa kawan kita di kampung meninggal, jadi sebelum hendak sembahyang ghoib itu, maka kita mustti yakin bahwa mayyit itu sudah selesai di mandikan 

Syaratnya sembahyang mayyit 

( Syurutuha) syarat sembahyang mayyit 
( kasrutissholah) sama seperti syarat sembahyang seperti biasanya ( min satril aurot) menutup aurat ( wastiqbalil kiblat) menghadap kepada jihad kiblat
(wa ghoiri zalik) dan selain daripada itu (wayuzaru syartun) dan di tambahkan dengan satu syarat ( wahuwa, alla yatakoddama alal mayyit) bahwa tidak termaju, tidak lebih hadapan daripada mayyit, misal kita sembahyang, ada mayyitnya, nah jangan di kemajuan, musti di belakang mayyit, dan jenazah itu di hadapan kita, artinya ketika kita berdiri mayyit itu berada di tengah-tengah antara kiblat dengan kita, ( wayasqutu farduha) dan gugurnya kewajiban sembahyang mayyit ( bi zakarin) dengan seorang laki-laki ( walaw sobiyya) sekalian kanak-kanak yang belum baligh, misalnya ada orang mati, sudah selesai juga kita mandikan, nah disitu ada kanak-kanak seorang aja yang ikut menyembahyangkan, maka sudah gugur fardhu kifayah, itu sudah cukup, 

Rukun-rukun sembahyang mayyit 

( arkanuha) rukun-rukun sembahyang mayyit ( sab'atun) ada 7 rukunnya

1. Niat ( Li qawlinnabi shallallahu alaihi wasallam 
innamal akmalu binniyyat, wayazibu takyinul mayyit, dan wajib menentukan mayyit pada niat, 
(walau ijmalan) walaupun secara gelobal, secara umum( walayazibu tafsila) dan tidak wajib tafsil, 
( fayakfi ayyaqula) sudah cukup baginya mengatakan bahwa( Usholli ala hazal mayyit, arba'a takbirotin fardon makmuman, atau imaman lillahi ta'ala) nah ini sudah cukup, 

( aw ala man sholla alihil imam, atau atas orang yang sembahyangnya iman, contohnya, ya Allah aku hendak sembahyang sebagaimana imam sembahyang, nah ini boleh ( aw alal mayyitil maujud fil mahrob) nah boleh juga, ya Allah aku hendak sembahyang bagi si mayyit yang ada di mihrab itu, yang ada di depan itu nah ini boleh juga,

(masa'ilu finniyyah ) Masalah masalah pada niat, 
jikalau dia bersalah ( Faqola) maka dia berkata 
(Usholli ala zaidin, fabada annahu Amrun) ternyata itu si amar, di kiranya mayyit itu si Zaid, rupanya di amar, sama halnya juga kita ni shalat ku pikir ni mayyit perempuan ternyata laki-laki, ( falatasihhu) maka ini tidak sah, ( Illa in 'asyaro ilaih) kecuali jikalau dia mengisyaratkan, ( li'annalvisyarah aqwah) karena isyarat itu lebih kuat 

( Law qola) Jikalau seseorang berkata ( Usholli ala ha ulail 'asyaroh) aku Sembahyang bagi mayyit yang 10 ternyata mayyitnya hanya 9, maka ini sah sembahyang, misalnya ini mayyit banyak, dia pun berniat kau hendak sembahyangkan ini mayyit 10, Allahu Akbar, sekali 9 aja mayyit nya, nah ini niatnya sah, ( law qola) jikalau dia mengatakan, ( usholli ala ha ulail 'asyaroh, ) aku hendak sembahyangkan ini mayyit yang 10 orang Allahu Akbar, ternyata mayyitnya lebih, 11 orang, nah ini tidak sah, karena kurang, jadi misalnya mayyitnya ini banyak,
( Usholli ala hazihil mauta arba'a takbirotin fardon makmuman lillahi ta'ala ) ya Allah aku sembahyangkan ini mayyit mayyit dengan 4 takbir fardhu mengikuti imam karena Allah ta'ala, jadi tak usah kita hitung hitung, satu, dua, berapa mayiit, cukup aja kita mengatakan, ( Usholli ala hazihil mauta ) 

( Takfi niyyatul fardhiyyah) Cukup niat fardhu, 
( Usholli ala hazal mayyit arba'a takbirotin fardon makmuman atau imaman lillahi ta'ala) ( walatazibu 
niyyatu fardhul kifayah, tidak wajib niat fardhu kifayah, tahdidan, tahdid, artinya kalau kifayah tertinggal tidak apa, yang penting fardunya terbuat, 
( Usholli ala hazal mayyit arba'a takbirotin fardon, 

2, ( arba'u takbirotin ) dengan 4 takbir ( ma'a takbirotil ihram) serta takbiratil ihram, ( walaw jaza khromisatan) jikalau dia menambahkan menjadi 5 kali takbir ( falayazurru) maka ini tidak mengapa 
( Li annahu dzikrun) Karena itu dzikir, misalnya ada imam terlupa sampai dia terlebih takbir menjadi 5 kali takbir , Allahu Akbar, nah ini tidak menjadi masalah, ( wa'iza kabbarohal imam) jikalau imam takbir 5 kali, jika tahu padahal sudah cukup aja 4

( Falayuthobi'uhul makmum) Maka kita sebagai makmum cukup aja diam, jangan ikut, misalnya kita ni jadi makmum, dan kita yakin kalau kita ni sudah mengangkat takbir 4 kali, nah si imam ni was was dia pun angkat takbir jadi 5, maka kita sebagai makmum yang sudah yakin 4, maka diam aja, tunggu selesai imam takbir yang ke 5, barulah kita ikut kembali salam bersama-sama dengan imam 
tapi kalau kita tidak pasti lebih baik ikut saja bersama dengan imam 

( Al qiyyamu ala Qodir) Sembah jenazah itu berdiri,
bagi orang yang mampu berdiri ( Li annaha fardhu kifayah, ( wayazuzu zulus)boleh aja kalau sembahyang jenazah ( Lil 'azis) bagi orang orang yang tidak mampu untuk berdiri ( dan yang ke 4 itu adalah qiro'atul Fatihah) membaca surah Al Fatihah
( Yazuzu antaquna bakda takbirotil ula) boleh di baca sesudah takbir pertama boleh, (awaissaniyyah) pun boleh ( awis salisah) dan pada takbir yang ketika pun boleh ( awirrobi'a) boleh juga pada rakaat yang ke 4, jadi kalau hendak membaca alfatihah bebas aja hendak di takbir yang ke berapa 

3. ( Walataljamu) 
Dan tidak lazim pula, ( antaquna) di khususkan bahwa hendak membaca alfatihah itu hanya di takbir yang pertama, karena kita wajib membaca alfatihah itu di awal sesudah takbir pertama hanya dalam dua masalah ( iza kana masbuka) kalau seandainya kita masbuk, artinya kita datang terlewati, imam sudah takbir yang ke dua, baru kita datang nah pada takbir yang kedua itu ( fayaqra'ul Fatihah) boleh kita baca surah Al-fatihah, dan selelah itu dia pun tertib mengikut imam

4. ( 'iza saro'a fiha) bila surah masuk kepada pembacaan Fatihah maka wajib baginya menyempurnakan itu bacaan, misal Allahu Akbar, 
nah jadi selesaikan dlu dengan baik bacaan itu baru lanjut kepada takbir yang kedua, 

5. kemudian yang kelima rukun sembahyang mayyit ( assholatu alannabi bakdassaniyyah) selawat kepada nabi sesudah takbir yang kedua, karna takbir yang pertama itu kita membaca alfatihah, takbir yang kedua shalawat kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, ( wa'aqolluha) sekurang-kurangnya shalawat, 
( Allahumma sholli ala muhammadin, ( wayusonnu) dan di sunnatkan ( dhommusshalam) menambahi dengan kalimat assalam, ( ilassholah) ( Wal hamdalah fi qoblaha) sebelum selawat, dan juga 
( Watdu'a Lil mukminin, bakdaha bakdassholawat
Jadi misalnya selesai takbir yang kedua 
( Alhamdulillahirobbil 'alamin, Allahumma sholli wa sallim ala sayyidina muhammadin wa ala ali sayyidina muhammad, allahummagrhfirlil mukminina wal mukminat) nah ini sunnat 

6. ( Addu'a lil mayyit) Berdoa untuk mayyit, ( bakdasshalisah) sesudah takbir yang ke 3, ( wasyartuhu) syaratnya ( ayyakuna krhalisah) bahwa dia mengkhususkan doa itu ( Lil mayyit) bagi si mayyit, ( falayakfiddu'a lahu bil umum ) tidak boleh doa untuk mayyit dengan doa umum, jadi pada takbir yang ketiga itu doa khusus untuk mayyit sahaja, tidak sesuai kita ucapkan allahummagrhfirlil mukminina wal mukminat ) karena itu umum ( wakazalikaddu'a) demikian doa 
bagi kedua orangtua kanak-kanak ( ibda idni hajar) jadi kalau yang wafat itu kanak-kanak, maka doa itu menuju kepada kedua orangtuanya 

( Ala adwiyyatul marwiyyah fi sholatil janazah) doa doa yang di riwayatkan pada sembahyang jenazah 
( Allahummagrhfirli hayyina wa mayyitina wa syahidina wagho'ibina, wasoghirina, wakabirina, wazakarina, wa unsana 


Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa walahu, wali jami'il muslimin birohmatik, ya arhamarrohimin, 

( Wa ingkana mayyit tifla) Namun kalau mayyit nya ini kanak-kanak, maka di tambahkan doanya 

allahummagrhfirlahu warhamhu, 

Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa walahu, wali jami'il muslimin birohmatik, ya arhamarrohimin, 

( Wayusonnuddu'a) Di sunnatkan membaca doa pada takbiratir robi'a) nah kalau pada takbir yang ke 4 sunnat aja berdoa, tidak wajib lagi hukumnya 
( Fayaqul) Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa walahu, (wayusolli alannabi shallallahu alaihi wasallam ) dan dia pun bershalawat atas nabi shalallahu 'alaihi wasallam 
( wayaqro'u) Dan dia membaca ( hazihil ayah) 


7. Nah ini takbir yang ke 4, kemudian yang terakhir itu adalah ( assalamul awwal, salam yang pertama itu rukun, dan wassani, salam yang dua itu sunnat, ini sama aja seperti salam sembahyang fardhu, ( wayusnno dan di sunnatkan, ziyadahu wabarokatu, sunnat menambahkan kalimat warabokatu, Inda Ibni hajar, macam salam ( assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ) 


Alhamdulillah selesai 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah