Pages

Minggu, 26 Oktober 2025

33. Al Halim memberikan waktu kepada hamba-hambanya yang maksiat agar mereka kembali kepada taat

Bismillah 

Puji syukur selalu kita haturkan kepada Allah subhanahu wata'ala yang mana pada malam ini kembali Allah mengumpulkan kita, sholawat dan salam atas junjungan kita Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan seluruh keluarga pada sahabat, jurriyyat dan pengikut beliau sampai hari kiamah nanti 

33. Al Halim 

( Assalisu wassalasun min asma illah ta'ala alhusna, yaitu Al Halim ) yang ke 33 daripada Asmaul Husna adalah Al Halim 

( Qola bakduhum) Berkata sebagian ulama, menguraikan tentang makna daripada Al Halim itu, 
Al Halim itu adalah yang tidak bersegera dengan menyiksa, menghukum, dan pula tidak menahan akan pemberiannya daripada hamba-hambanya karena dosa-dosa mereka itu, bahkan dia memberikan rezeki orang yang maksiat sebagaimana dia memberikan rezeki kepada orang yang taat, dan itu Al Halim yang memaafkan, padahal dia mampu untuk menghukum

Al Halim itu yang memberikan waktu kepada hamba-hambanya yang maksiat agar mereka kembali kepada taat, Jikalau dia bersegera bagi hambanya itu membalas, maka tidak lah akan ada seseorang yang selamat daripada siksa Allah subhanahu wata'ala, nah jadi Al Halim ini sangat panjang, tidak cukup hanya kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, 

jadi dalam arti  nama Allah Al Halim ini banyak kandungannya : 
1. Tidak segera menyiksa 
2. Tidak menahan nikmat karena dosa, dia berikan rezeki kepada orang yang maksiat sebagaimana dia berikan rezeki kepada orang yang taat 
3. Dia memaafkan, padahal dia mampu untuk menyiksa 
4. Dia memberikan tempoh kepada hamba-hamba-Nya yang maksiat agar kembali kepada taat, nah itu lah makna daripada Al halim ini 

Allah subhanahu wata'ala dengan namanya Al Halim ini tidak segera menyiksa, ada orang minum arak, tidak langsung di siksa, ada orang berzina, tidak langsung di siksa pada saat itu, ada orang berdusta, tidak langsung di siksa oleh Allah subhanahu wata'ala, di berikan waktu dan tempoh

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( inna sohibassimal layarfa'ul qolam sitta sa'ah, minal abdil muslim, Al murghti 'awil Musi, fa'innadima wastaghrfarallaha, minha 
Al qoha, wa'ila katabbaha wahida) Rasulullah bersabda bahwa malaikat sebelah kiri, malaikat Atid, dia mengangkat akan penanya 6 jam, dari hamba yang muslim yang berbuat dosa, nah ini orang berzina, tidak langsung di tulis, oh ini si Fulan hari ini berzina, belum di tulis, masih di angkat penanya selama 6jam, bilamana di antara 6 jam itu, ada dia menyesal, dia istighfar, (Al qoha) maka malaikat tadi melemparkan cacatan amal itu

Tetapi kalau sudah 6 jam dia tidak bertobat, maka di tulislah baginya satu kesalahan, tapi tidak langsung di hukum oleh Allah, tidak langsung di tahan, tidak langsung di siksa Allah, ini lah salah satu kandungan daripada nama Allah Al Halim ini 

2. kemudian yang ke 2, Al Halim itu tidak menahan rezeki kepada hambanya karena dosa, dari orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat tetap di berikan Allah rezeki, sebagaimana Allah berikan rezeki kepada orang yang taat kepada Allah, nah maksiat itu tidak menghambat datangnya rezeki, tetapi maksiat itu menghambat datangnya barokah rezeki, jadi rezeki itu tetap, tapi karena dia ini suka maksiat maka berkahnya itu yang di tahan oleh Allah, 

3. Dia memaafkan padahal dia mampu untuk menyiksa, jadi ada orang berbuat salah, sehari, dua hari, tiga hari, tidak juga hendak bertaubat kepada Allah, padahal Allah mampu aja menyiksa ini orang, macam di kirim Allah satu bala, musibah, lumpuh kakinya, Allah mampu yang demikian, tapi Allah masih memaafkan, ini lah Al Halim, dia berikan tempo dan waktu kepada hamba-hambanya yang maksiat agar mereka kembali kepada taat, tunduk dan patuh kepada Allah subhanahu wata'ala 

Allah berfirman di dalam Alquran surah an nahl, 61

Andaikata Allah menyiksa manusia karena kedzaliman mereka, ada orang dzolim langsung di siksa oleh Allah, ada orang berbuat salah langsung di siksa, maka niscaya tidak akan Allah tinggalkan lagi di muka bumi ini satu binatang yang melata, habis, manusia selain daripada para nabi dan rasul itu tidak terpelihara daripada berbuat dosa dan maksiat, andaikata begitu setiap ada orang berbuat dosa dan maksiat langsung di hukum, habis lah di bumi ini tidak ada lagi manusia 

Jadi karena Allah ini punya nama Al Halim lalu dia berikan waktu, ada orang berbuat dosa, ada orang berbuat maksiat di berikan tempo, supaya dia bisa kembali kepada Allah subhanahu wata'ala 

di riwayatkan bahwa nabi Ibrahim alaihissalam melihat ada orang maksiat, kemudian berdoa ya Allah binasakan dia, mati orangnya, di lain waktu ada lagi nabi Ibrahim melihat orang berbuat maksiat, ya Allah binasakan dia, mati, di lain waktu melihat lagi ada orang berbuat dosa dan maksiat, berdoa lagi ya Allah binasakan dia, mati lagi, di lain waktu melihat lagi ada orang maksiat, begitu nabi Ibrahim hendak berdoa, ujar Tuhan, berhentilah engkau wahai Ibrahim, jikalau kami binasakan tiap-tiap hamba yang maksiat itu, bila ada orang maksiat mati, ada orang buat salah mati, ada orang buat dosa mati, maka habis manusia di dalam dunia ini 

Tetapi ujar Tuhan, bilamana hambaku itu maksiat, kamu beri dia waktu, jikalau dia tobat, maka kami terima taubat, jikalau dia tidak hendak berbuat, terus berbuat dosa, terus berbuat dosa, terus berbuat dosa, tetap kami akan tunda hukumannya, karena kami tahu dia tidak akan mampu keluar daripada Kerajaan kami, jadi ada orang berbuat dosa dan maksiat masih di biarkan sama Allah, karena Allah tahu ini orang suatu saat nanti akan di hukum dan dia tidak akan mampu dan bisa keluar daripada Kerajaan kami 

Jadi artinya Al Halim itu lengkap, kalau dalam bahasa Indonesia Al Halim itu di artikan dengan yang maha penyantun, nah itu arti sangat ringkas, jadi kalau kita lihat Asmaul Husna yang di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Al Halim artinya maha penyantun, padahal artinya lebih daripada itu makna yang sebenarnya, penyantun benar, penyabar benar, jadi wajib kita percaya, wajib beriman bahwa salah satu dari sekian nama nama Allah ada di antaranya Al Halim ini 

Kalau sudah beriman, percaya bahwa nama Allah itu ada Al Halim, orang yang beriman itu bahwa dia bersifat dengan hilim, jadi hilim itu sifat, manakala orangnya di sebut Halim, kalau kita beriman dan percaya bahwa Allah itu punya nama Al Halim maka kita hambanya Allah mustinya bersifat dengan sifat hilim, ini sama Persis yang sudah di sampaikan nabi kita Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam ( ta krhallaqu bi akhlaqillah) berakhlak lah dengan akhlak Allah, salah satunya adalah Al Halim ini 

( Qola bakduhum) berkata sebagian ulama, al hilim itu artinya meninggalkan, mengambil pembalasan ketika bersangatan marah padahal dia kuasa untuk melakukan pembalasan itu, nah ini sifat hilim, dia bisa membalas orang yang salah kepadanya, tapi dia maafkan, ada orang yang menghinanya, padahal kalau di pukulnya ini orang menghina boleh saja, tapi di maafkan, ada orang yang menyakitinya, dia sanggup untuk membalas tapi memilih untuk di maafkan, nah ini al hilim, beda hal nya ada orang menyakiti kita, kita ni berniat hendak membalas, cuman tak sanggup, jadi kita pun tahan amarah kita, nah ini bukan termasuk akhlaknya hilim tadi 

Misal seorang budak dengan raja, raja menyakiti budaknya, ni budak hendak melawan tidak bisa, tidak berani, Karna itu raja, budak ini pun marah, cuman karena tak bisa membalas dia pun diam aja, nah ini bukan hilim, tapi kalau budak ini menghinakan raja, menyakiti, meremehkan raja, nah raja itu boleh aja langsung di hukumnya itu budak, langsung di tahan, di tangkap, bisa aja, karena raja ini mampu untum membalas hal yang demikian itu, cuman dia memilih untuk memaafkan maka ini lah raja punya sifat hilim namanya 

Nah sama lah dengan Allah tadi dengan namanya Al Halim, hamba hamba yang berbuat dosa dan kemaksiatan kepadanya, walaupun Allah kuasa untuk menghukum, untuk membinasakan, tapi dia biarkan, dia beri tempo, waktu dan Allah memaafkan 

Banginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda ( innallah yuhibbul Halim ) Allah cinta kepada manusia yang punya sifat hilim itu, orang yang pemaaf itu belum tentu halim, tapi orang yang Halim itu lebih daripada sekedar memaafkan, Allah mencintai hambanya yang punya sifat hilim, memaafkan si saat mampu untuk membalasnya 

Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam 
( innarrozulal muslim layudriku bil hilmi darajata so'im, al qo'im ) bahwa seseorang muslim, dia memperdapati dengan sifat hilim itu kedudukan orang yang ahli puasa dan ahli tahajud, jadi contoh ini ada orang puasa sunnat setiap hari, malam penuh ibadah kepada Allah, tapi ini orang tidak punya sifat hilim, salah sedikit, marah marah, pada orangnya suka puasa, suka ibadah di malam hari, cuman kalau ada masalah sikit suka marah dan tersinggung, 

tapi ada seorang ini tidak rajin puasa sunnatnya, tidak juga kuat untuk ibadah di malam hari, tapi dia punya sifat hilim, ada orang mengganggunya dia maafkan, ada orang menghinanya dia maafkan, ada orang mencaci maki dia maafkan, nah orang ini dalam pandangan Allah sama derajatnya, dengan sifat hilim yang ada pada dirinya itu, maka di dapatkannya derajat seperti orang orang yang rajin puasa sunnat dan rajin bangun untuk sholat malam 

Setengah daripada doa Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, ( allhumma agrhnini bil 'ilmi, wajayyinni bil Hilmi, wa'akrimni bittaqwa, wa jammilni bil 'afiyah 

Ujar nabi ya Allah kayakan aku dengan ilmu, perhiasi diriku dengan sifat hilim, muliakan aku dengan taqwa dan elokkan diriku dengan 'afiyah 

, jadi artinya apa sifat hilim itu musti kita minta kepada Allah, agar yang demikian itu di berikan Allah kepada Allah, sifat hilim itu bukan bawaan asli manusia, sifat asli manusia itu setuju marah, mengutamakan hawa nafsu, jadi kalau untuk mendapatkan sifat yang namanya hilim tadi, maka musti ada usaha daripada diri kita, salah satu usaha agar kita punya sifat hilim, maka mintalah kepada Allah subhanahu wata'ala 

Jadi sudah kita dengar hilim ni bagus, siapa yang punya sifat hilim di cintai Allah, punya sifat hilim sederajat dengan orang yang ahli puasa dan ahli sembahyang, lalu kita ni berangan-angan hendak mendapatkan sifat hilim, nah tidak akan bisa, bertentangan dengan fitrah yang ada pada diri kita, artinya di dalam diri kita ini kalau ada orang yang menyakiti langsung balas, kalau ada orang yang menghina kita balas hina juga,  ada orang yang mengganggu kita balas ganggu juga, nah itu fitrah kita sebagai manusia, untuk memaafkan itu, musti dengan usaha salah satunya adalah kita berdoa kepada Allah agar kita di berikan sifat yang namanya hilim tadi 

Berkata imam Ali karranallahu wajhah, bukan lah kebaikan itu banyak harta, banyak anak, blum tentu baik, tetapi kebaikan itu ujar sayyidina Ali, bahwasanya banyak ilmu, dan besar sifat hilim yang ada pada dirinya, nah jadi yang pertama tadi kalau sudah beriman dengan nama Allah Al Halim maka kitapun musti punya sifat hilim, yaitu meninggalkan membalas ketika marah padahal kita kuasa untuk membalas itu

2. Kalau kita beriman bahwa Allah itu bernama Al Halim kita tidak boleh merasa sombong daripada orang berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, melihat ada orang yang berbuat dosa, kita ni merasa lebih baik, merasa bersih, melihat ada orang berbuat maksiat kita pun merasa diri kita suci, jangan seperti itu, hendaknya dia sayang, hendaklah dia kasihan kepada orang yang berbuat dosa dan maksiat itu, dan dia hendaknya berbicara kepada dirinya barangkali orang yang berbuat dosa dan maksiat itu dia berbuat taubat kepada Allah, dia mendekatkan diri kepada Allah lebih dekat daripadaku, nah ini ciri orang yang beriman kepada nama Allah Al Halim 

Karena orang-orang yang maksiat itu belum tentu matinya dalam keadaan maksiat, orang orang yang ahli maksiat sekarang ini, yang sering kita lihat, suka minum arak belum tentu sampai mati demikian, dan kita ini orang yang suka di masjid belum tentu juga sampai mati seperti ini, nah oleh karena itu ketika kita melihat orang yang bermaksiat itu jangan pernah membesarkan diri, jangan merasa jijik, jangan merasa enggan dengan orang yang berbuat maksiat, siapa tahu nanti dia bertaubat kepada Allah, dia mendekatkan diri kepada Allah lebih dekat dirinya daripada kita ini 

Jadi orang yang maksiat itu bukan untuk di hinakan, bukan untuk di kucilkan, tapi orang maksiat itu perlu di kasihani, perlu akan bimbingan, di doahkan agar mereka mendapatkan hidayah daripada Allah subhanahu wata'ala dan kita doahkan mereka bertaubat kepada Allah, ini lah sifat orang yang beriman kepada Allah dan nama Allah Al Halim, jadi kalau kita sudah bisa demikian, tidak membalas orang yang berbuat jahat kepada kita, padahal kita mampu untuk membalasnya, kemudian kita tidak marah, dan kita pun memaafkannya, 

Dan kita menyayangi, mengasihani, membimbing orang yang berbuat dosa dan maksiat dan mendoahkan mereka agar di berikan Allah hidayah dan bertaubat kepada Allah, jadi kalau kedua hal ini sudah ada pada diri kita maka kita pun di sebut sebagai Abdul Halim, hamba daripada Al Halim 

1. Berkata sebagian ahli hikmah, kalau kita marah, maka baca ya Halim 88, maka hilang sendiri itu marahnya, misal kita ni di hina orang, di caci orang, di ganggu orang, sampai kita ni marah sangat, sebagai manusia itu kan wajar, jadi marah ini kalau di biarkan bisa membahayakan ibadah kita, supaya marah ni hilang, ingat kita kepada Allah, baca ya Halim, itulah khasiatnya 

2. Kalau ada orang yang pemarah, maka bacakan padanya ya Halim, maka akan tenang marahnya, misalnya ada anak kita ni kelakuannya pemarah, begitu dia tidur bacakan di telinga, ya Halim, amalkan itu, maka anak ini akan menjadi orang yang bersifat hilim, 

Alhamdulillah mudahan Allah memberikan pertolongan kepadaku sehingga aku bisa menuliskan kembali ini pembahasan tentang nama Allah, dan bisa mengamalkannya, aamiin ya Allah, berkat daripada Baginda Rasulullah tolonglah hamba ini ya Allah, insyaallah

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog