Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi robbil 'alamin wassolatu wassalamu'ala asrofil anniya'i walmursalin sayyidina Muhammad wa'ala alihi wasohbihi ajma'in qolal mushonnif rohimahullah wanafa'ana bi ulumihi fid daroi ni amin
ini keterangan syarat syarat sah nya puasa
Apabila telah sempurnanya ini syarat-syarat maka sah lah puasa, yaitu ada 4 perkara :
1. Islam, maka di syaratkan bahwa adalah orang yang berpuasa itu muslim sepanjang puasa, jikalau dia murtad walaupun sekejap mata, maka batal lah puasanya
2. Akal, di syaratkan bahwa dia ini berakal sepanjang puasanya, walaupun dia ini tiba-tiba gila sekalipun sekejap mata, maka batallah puasanya
3. Bersih suci daripada haid dan nifas, dan di syaratkan bahwa perempuan itu suci, sepanjang puasa, jikalau perempuan itu haid pada akhir detik daripada puasa, misal lagi 1 menit lagi hendak berbuka puasa, haid dia, maka batallah puasanya
Demikian pula dia suci di pertengahan siang puasa
maka sunnat baginya untuk bertahan, jangan makan, jangan minum, kalau bisa menunggu sampai berbuka puasa, tujuannya adalah untuk menghormati orang orang yang sedang berpuasa
4. Mengetahui dengan keadaan waktu, dan menerima bagi puasa, maksudnya adalah bahwa mengetahui dia hari yang dia hari puasa itu, dan sah baginya itu hari puasa, dengan bahwa tidaklah itu hari tidak termasuk kepada hari hari yang tidak di bolehkan puasa, sehinnga kita ini tahu betul bahwa esok hari itu di bolehkan puasa
Syarat syarat wajib puasa
Bilamana sempurnah ini syarat maka wajibkan baginya untuk berpuasa, jikalau satu aja kurang daripada ini syarat maka tidak wajib baginya berpuasa, ada 5 perkara :
1. Islam, maka tidak di krhitab orang orang kafir di dalam dunia ini, yang di wajibkan untuk berpuasa itu adalah orang Islam, tapi nanti orang kafir di dunia itu tetap akan di siksa di akhirat karena tidak berpuasa, adapun orang yang murtad wajib baginya mengqodo, bilamana dia kembali kepada Islam, karena memberatkan atas si murtad tadi
2. Orangnya itu baligh, berakal, adapun bagi kanak-kanak, wajib bagi orang tuanya, atau orang yang mengurusinya menyuruh anak itu untuk berpuasa sejak berumur 7 tahun, dan dia wajib memukul si anak itu bila si anak berani meninggalkan puasa, bila sudah berumur 10 tahun, jikalau dia mampu untuk berpuasa
3. puasa atas puasa, bermula mampu untuk berpuasa itu adalah, tidak wajib berpuasa atas orang yang tua sekali, sangat tua renta, nah itu tidak wajib, dan orang yang sakit yang belum ada harapan untuk sembuh, maka ini pun tidak wajib berpuasa, tidak wajib puasa bagi orang yang haid dan nifas
4. Sihat, tidak wajib puasa bagi orang yang sakit, jadi Penjelasan daripada sakit yang membolehkan seseorang itu tidak berpuasa adalah seperti, ialah yang di takutkan daripadanya kebinasaan, kematian, namun kalau aku ni puasa bisa mudarat, bisa mati, nah sakit macam ini boleh tidak puasa, atau lambatnya orang ini sembuh, ujar doktor, orang ini kalau puasa tidak membahayakan, cuman nanti lambat dia ini sembuh, lambat segar badannya, maka bolehlah baginya tidak puasa, atau bertambah penyakitnya, boleh juga tidak puasa
5. mukim, tidak wajib puasa bagi musafir, yang musafirnya itu musafir panjang, artinya lebih daripada 82 kilometer jaraknya, dan ini adalah musafir yang baik, bukan musafir yang di haramkan, nah musafir yang di haramkan itu macam apa? Misalnya seorang perempuan atau istri yang lari daripada rumahnya, keluar rumah tanpa izin suaminya, nah ini musafir yang di haramkan, maka tetap baginya wajib puasa
Dan di syaratkan bagi bolehnya berbuka bagi musafir itu bahwa dia musafirnya sebelum terbit fajar, contoh kita hendak pergi ke luar kota, berangkat lah kita ini dari rumah dari jam 4 subuh, maka boleh aja tidak puasa di perjalanan, karena kita berangkat dari rumah itu sebelum terbit fajar, dan perjalanan kita itu sebagai perjalanan musafir yang jaraknya itu lebih daripada 82kilometer,
tapi kalau berangkatnya sesudah sembahyang subuh, nah itu tidak boleh kalau kita ni tidak puasa, maka wajib dia puasa, adapun nanti di perjalanan dia tidak tahan, sudah membahayakan kesehatannya, nah baru boleh dia berbuka puasa, di berikan keringanan kepadanya, Dan yang paling afdhol itu puasa bagi orang musafir jikalau tidak sulit baginya, jikalau sulit, lebih baik berbuka puasa
Rukun rukun puasa itu ada dua perkara
1. Niat, sama ada puasanya itu fardhu atau puasanya sunnat, ( karena telah datang sabda Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, Karna sesungguhnya sesuatu itu di mulai dengan niat, dan wajib niat itu tiap tiap hari, artinya tiap malam kita wajib berniat, Karna puasa itu tiap tiap hari adalah ibadah yang tersendiri, ibadah yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ibadah yang sebelum dan yang sesudahnya, misalnya kita berpuasa hari Selasa, dan hari Rabu, nah hari Rabu itu tidak ada hubungannya dengan hari Selasa, jikalau Rabu ini batal di tengah jalan, hari Selasa ini tidak terganggu, lain halnya sembahyang 4 rakaat, itu kan saling berhubungan, jadi niat tiap malam di wajibkan
dan tidak cukup niat satu saja untuk sebulanan, misalnya di awal Ramadhan dia ni berniat sahaja aku berpuasa sebulanan penuh di bulan Ramadhan wajib bagiku karena Allah ta'ala, nah itu tidak cukup, musti di tambahkannya dengan niat tiap tiap malam
Bermula perbedaan antara niat puasa wajib dan niat puasa Sunnat
1. Masuk waktu niat puasa Fardu itu mulai tenggelam matahari sampai kepada terbit fajar, jadi mulai orang azan magrib itu nah sudah boleh kita pasang niat untuk berpuasa esok hari, sampai lah kepada terbit fajar, imsak dan subuh, kalau puasa sunnat pula macam mana? masuk waktunya dari terbit matahari, dan terus sampai kepada tergelincirnya matahari pada jam 12 lewat, dan tidak wajib memalamkan niat, jadi kalau kita puasa sunnat itu boleh aja kita berniat jam 8 pagi, jam 10, jam 11, nah itu puasa sunnat, kalau puasa wajib niatnya pada malam hari
2. dan mewajibkan bagi menentukan niat itu, seperti niat hendak puasa Ramadhan, sahaja aku puasa esok hari pada bulan ramadhan, atau puasa Kaffarat, atau puasa nazar, atau puasa mengqodo, manakala niat puasa sunnat tidak wajib di tentukan, cukup aja niat hendak puasa sunnat, nah itu boleh, kecuali bila puasanya itu ada waktunya seperti puasa Arafah, nah itu harus di tentukan, harus di sebutkan, sahaja aku berpuasa esok hari pada hari Arafah, nah itu di sebutkan, karena itu mempunyai waktu waktunya
3. Tidak boleh menghimpunkan antara puasa dua Fardu dalam satu hari, misalnya puasa Ramadhan, sahaja aku puasa esok hari di bulan Ramadhan dan mengqodo puasa bulan Ramadhan yang tahun lalu karena Allah ta'ala, nah ini tidak boleh di gabungkan, tapi kalau puasa sunnat boleh kita menghimpunkan niat antara puasa dua sunnat atau lebih dengan niat yang satu, contoh, sahaja aku esok hari puasa Asyura, sekaligus mengqodo puasa sunnat Arafah, dan puasa tasyu'a karena Allah subhanahu wata'ala, nah itu boleh aja, karena sesama sunnat boleh di gabungkan, kalau fardhu tidak boleh
Sah bahwa berniat seseorang pada puasa sunnat sesudah subuh, dengan dua syarat :
1. Niatnya itu sebelum masuk waktu dzuhur,
2. Bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, dari terbit fajar sampai kepada waktu niat, contohnya selesai subuh kita ni tidur, bangun pukul 10 pagi, sahaja aku puasa hari ini puasa sunnat karena Allah ta'ala, nah ini boleh, kenapa? Karena mulai waktu subuh sampai jam 10 itu kita tidak melakukan hal hal yang membatalkan puasa, macam nabi kita di riwayatkan dalam sebuah hadist sesudah sembahyang subuh, nabi kita pun balik ke rumah, ujar nabi adakah makanan hari ini, ujar Aisyah hari ini kita sedang tidak ada makanan, ujar nabi kalau macam itu aku hendak puasa hari ini, nah ini lah niat sunnat yang macam tadi, boleh saja, asalkan sebelum itu tidak ada hal hal yang membatalkan puasa, walaupun niatnya itu di pasang di jam 8 pagi, sampai sebelum masuknya waktu dzuhur
Paling sempurnanya niat itu adalah
Bahwa dia melafazkan, menghadirkan di dalam hatinya, ( nawaitu sawmagrhodin an 'ada'i fardi Syahri Ramadhan Li hazihis sanati lillahi ta'ala) nah itu lah yang sempurna
Dan adapun pada apa jua rumah sah puasa sunnat dengan niat sesudah terbit fajar, memakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sebelum niat, ini ada puasa sunnat, masalah dengan lupa, dengan ingat, macam dia ni lupa kemudian dia makan pada hari biasa dia puasa, setelah itu dia ingat kembali maka dia pun berniat, dan niat itu waktunya sebelum masuk kepada waktu dzuhur, Dan rukun yang kedua adalah meninggalkan segala macam hal yang membatalkan puasa, dia ingat, dia tidak zahil daripada yang di uzurkan
Tidak batal puasanya bilamana dia berbuka dengan lupa, atau dia di paksa orang, di bawah tekanan atau ancaman, baik itu diri kita atau harta kita, dengan ancaman ancaman itu kita pun berbuka puasa nah itu tidak membatalkan puasa, atau dia ini zahil, yang tidak tahu, dan di uzurkan dengan ketidaktahuannya,
( orang yang zahil yang di uzurkan itu adalah
1. Dia ini orang jauh hidup daripada ulama, tempat yang terpencil, dan belum ada informasi tentang ketidaktahuannya itu, maka di bolehkan, tapi kalau sudah sampailah informasi itu padanya maka tidak berlaku lagi uzur
2. di maafkan itu adalah orang yang baru masuk Islam, kemudian dia ini tidak tahu, dia pun melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa maka di maafkan selama dia hendak meninggalkan itu perkara, karena dia tidak tahu maka di maafkan, tapi kalau macam kita ini sudah mengetahui, sudah lama Islam bertahun-tahun maka tidak lagi di maafkan
Alhamdulillah mudahan Allah berikan kemudahan kita semuuan ini dalam berpuasa dengan baik dan sempurna, insyaallah kita lanjutkan kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar