Pages

Minggu, 02 November 2025

37. Al 'Ali, derajat dan martabat Allah itu lebih tinggi daripada apapun

Bismillah

Mudahan Allah berikan kemudahan dalam belajar ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wata'ala, insyaAllah 

37. Al 'ali 

( Assabi' wassalasun min asmailla Al Husna Al 'ali)
Yang ke 37 dari asmailla Al Husna adalah Al 'ali, artinya yang maha tinggi, maksudnya itu Al 'ali adalah yang tidak ada martabat di atas daripada martabatnya, dan sekalian martabat itu posisinya di bawah martabatnya Allah subhanahu wata'ala, derajat Allah itu maha tinggi, pangkat Allah itu maha tinggi, jangan di maksud tinggi itu zatnya bukan, itu adalah kelompok mujassimah, jadi Allah bukan seperti itu, jangan di bayangkan demikian

Tinggi itu maksudnya martabatnya Allah, derajatnya, pangkatnya Allah subhanahu wata'ala itu maha tinggi, dan jangan di faham pula, tempat Allah itu tinggi, misalnya Allah berada di tempat yang paling tinggi, jangan di faham yang demikian, karena Allah tidak bertempat, jangan di katakan pula yang maha tinggi itu adalah tempat Allah, bukan, yang maha tinggi itu adalah martabatnya, derajatnya Allah subhanahu wata'ala 

Di dalam Alquran banyak sekali di sebut nama Allah Al 'ali ini, di antaranya Allah berfirman di dalam surah Al Baqarah ayat 255 

Luas kursinya Allah, meluasi kursinya Allah itu akan langit dan bumi, dan tidak susah Allah menjaga langit bumi itu, dan dia Allah Al 'ali, yang maha tinggi dan Allah Al azim, yang maha agung 

Di dalam ayat lain juga mengatakan ( waqola ta'ala)
surah Al hajj, ayat 62 

yang demikian itu dengan bahwa Allah yang maha benar dan sesuatu yang mereka sembah selain daripada Allah itu batil, dan sesungguhnya Allah huwal 'aliyyu, maha tinggi, Al Kabir, maha besar 

Kita mengenal yang namanya Al Khaliq, maha pencipta, kenal kita itu, dengan dalil akal atau dalil Naqli, dan kita kenal juga yang namanya makhluk, seperti langit, bumi, gunung, malaikat, haiwan, manusia, itu makhluk, jadi ada Khaliq pencipta dan ada pula makhluk yang di cipta, nah disini martabat Al Khaliq, martabat pencipta itu lebih tinggi daripada martabat yang di cipta, jelas itu sudah 
kedudukan yang menciptakan tentu lebih tinggi daripada yang di ciptakan, nah itu lah artinya Al 'ali yang maha tinggi, 

Dan mahluk ini pun bermacam-macam lagi martabat, orsngtua martabatnya lebih tinggi daripada seorang anak, oleh karena itu Allah memerintahkan kenapa anak agar taat, bakti, hormat kepada orangtua, daripada sangking tingginya martabat orsngtua ini bahkan Allah menggantung ridonya dengan Rido orangtua, sehebat apapun manusia itu beribadah kepada Allah kalau orangtuanya belum meridoi, maka Allah tidak akan meridhoinya, sedemikian tinggi martabat kedudukan orangtua itu, nah ini contoh makhluk yang punya martabat 

Macam suami itu lebih tinggi martabatnya di bandingkan dengan seorang istri, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, andaikata manusia itu boleh sujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan perempuan perempuan itu untuk sujud kepada suaminya, 

Ada hadist yang menyatakan seorang perempuan yang mati, kemudian mendapatkan Rida daripada suaminya, maka perempuan itu masuk surga, jadi martabat suami ini lebih tinggi daripada martabat seorang istri, itu Allah sendiri yang meninggikan martaban suami, sampai demikian tadi

Macam pemimpin, seorang pemimpin ini lebih tinggi martabatnya daripada seorang rakyat biasa, kenapa? Karena Allah menyuruh kita ini yang rakyat biasa taati Allah, taat Rasul, taati pemimpin kamu, nah itu lah gambaran tingginya derajat seorang pemimpin itu daripada rakyatnya, nah itu lah makhluk-makhluk ini punya martabat yang berbeda-beda juga, 

Namun setinggi-tingginya martabat orsngtua, setinggi-tingginya martabat seorang suami, seorang pemimpin itu, dan Karna mereka semuanya itu hanya makhluk, maka martabat mereka masih jauh di bawah martabat Al Khaliq, martabatnya Allah subhanahu wata'ala, sehingga hukum hukum yang di keluarkan oleh Al Khaliq ini lebih tinggi kedudukannya daripada hukum yang di keluarkan oleh mahkluk, sehingga yang di bawah ini musti patuh kepada atasannya, sehingga setiap hukum yang bertentangan dengan hukum yang paling tinggi yakni hukum Allah, maka hukum itu akan gugur, tidak berlaku, tidak di pakai, dan tidak berguna 

macam suruhan orangtua wajib di taati anak, selama suruhan orangtua ini tidak bertentangan dengan hukum Allah yang tertinggi itu, macam perintah suami wajib di laksanakan istri, asalkan perintah suami itu tidak bertentangan dengan hukum tertingginya Allah subhanahu wata'ala, kalau semua itu bertentangan maka wajib untuk di tinggalkan, dan pemerintah yang mengeluarkan hukum hukum yang macam macam, itu tidak ada gunanya, kalau hukum pemerintah ini bertentangan dengan hukum Allah subhanahu wata'ala, 

Jadi orang yang sudah beriman dengan nama Allah Al 'ali, maha tinggi, kita sudah percaya bahwa Allah itu maha tinggi derajatnya, maha tinggi martabatnya, hendaklah si hamba ini mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wata'ala,
nah seperti apa caranya? Yang demikian adalah musti bersikap tawadhu dengan Allah, dan tawadhu dengan mahluk Allah subhanahu wata'ala, tawadhu kepada Allah macam apa? Mematuhi perintah dan hukum hukum Allah, tawadhu kepada mahluk Allah seperti apa? Rendah diri, jangan merasa bersih, jangan merasa mulia, jangan merasa suci dengan mereka, jangan merasa paling mulia dengan mereka, bila kita merasa bersih berarti hakikatnya kita ini kotor, bilamana kita ini merasa mulia di sisi manusia, berarti kita ini hina di sisi Allah 

Ujar banginda Rasulullah barangsiapa yang tawadhu karena Allah maha akan Allah tinggikan kedudukannya, Baik di sisi makhluk maupun di sisi Allah, maka rendah hati lah kalian itu, jangan kita ni sombong dengan orang lain, ada di kisahkan di zaman dahulu, di negeri itu ada seorang ahli ibadah, pekerjaannya ibadah, ada pula di situ orang yang ahli maksiat, Karna di setiap tempat pasti ada yang seperti itu, ada yang ahli ibadah, ada yang ahli maksiat, itu sudah lumrah, suatu hari orang yang ahli maksiat ini melihat orang yang ahli ibadah itu duduk di suatu tempat, ujarnya, aku hendak duduk di sampingnya, hendak minta nasihat atau apakah, mudahan aku mendapatkan berkah, mudahan aku dapat hidayah dari Allah lewati di Fulan yang ahli ibadah itu, begitulah hatinya hendak bertemu, 

Datanglah si ahli maksiat ini kepadanya, begitu duduk dia di samping seorang yang ahli ibadah tadi, langsung berdiri ahli ibadah meninggalnya, di dalam hati orang yang ahli ibadah ini, apa ini orang maksiat datang kepadaku, merasa bahwa dirinya ini mulia dan tidak pantas duduk bersama dengan orang yang ahli maksiat kepada Allah, nah begitu di ahli ibadah tadi langsung berdiri pergi meninggalkan si ahli maksiat ini, dia pun sedih, hancur hatinya, karena hendak berniat baik malah di tinggalkan, akhirnya Allah mewahyukan kepada nabi pada saat itu, ujar Tuhan, wahai nabi panggil kedua orang itu, ahli ibadah itu panggil, ahli  maksiat itu panggil, katakan kepada mereka berdua itu, bahwa sejak mulai hari ini kedua-duanya kembali kepada titik nol masing masing 

Artinya apa orang yang ahli ibadah tadi nol, habis ibadahnya kenapa? Karena sifat kesombongannya, dan di ahli maksiat pun nol, semua dosanya habis sudah di hapus oleh allah, karena perasaannya hina, tadi maka dia pun di muliakan oleh Allah, jadi itu lah pentingnya kita jangan merasa diri ini lebih baik, lebih mulia, lebih bersih daripada makhluk Allah, takut kita ini nanti masuk ke dalam kelompok golongan orang orang yang sombong, siapapun yang kita lihat, sekalipun dengan orang kafir, kenapa sebabnya? Bisa saja Allah bagi dia hidayah, bersih dia dari dosa kemudian Allah wafatkan dirinya, sementara kita ini belum tentu 

2. Kalau sudah kita beriman dengan nama Allah al'ali yang maha tinggi, dia menyukai perkara-perkara yang tinggi, contohnya seperti ingin dekat dengan Allah subhanahu wata'ala, mencari perhatian Allah, benar-benar hendak menjadi orang yang taqwa kepada Allah, nah ini lah, yang ku inginkan hanya dekat dengan Allah, macam hendak benar menempati syurga Allah, itu yang kita cari, maka kita pun bersungguhlah menjauhkan diri daripada neraka, minta kepada Allah yang demikian itu, kalau hanya hendak kesenangan dunia, itu masih perkara yang rendah

Tidak ada komentar:

More Article about this Blog