اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ
Puji syukur kita panjatkan kehadhirat Allahu subhanahu wata'ala, sholawat dan salam atas sanjungan kita kepada Baginda Rasulullah, hingga nantinya kita mendapat syafa'at kelak di Yaumil akhir karna sholawat yang setiap harinya kita ucapkan.
Yang ke empat dari Asmaul Husna ialah Al - Malik ( Maha Raja )
Al - Malik ialah Allah lah pemilik dari tiap-tiap sesuatu,maupun penguasa atas tiap-tiap sesuatu pelaku pada tiap tiap sesuatu tanpa ada batasan yang membatasinya.
Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 189)
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 189)
Nah itulah artinya Al Malik ya Allah.
Artinya tidak ada satu pun di alam semesta ini melainkan miliknya Allah
Tidak ada satu pun di alam semesta ini Melainkan dibawah kuasanya Allah.
Dan tidak ada satu pun di alam semesta ini Melainkan perlakuan, dari perlakuan-perlakuannya Allah,
Dia yang memiliki sepenuhnya, jadi artinya bahwa alam semesta ini milik Allah sepenuhnya, tidak ada sekutu, mutlak milik Allah.
Dan dia yang menguasai sepenuhnya,
dan tidak ada satupun di alam semesta ini Melainkan miliknya Allah, dan tidak ada satu pun di alam semesta ini Allah lah yang memiliki sepenuhnya tanpa ada batasan, mutlak milih Allah,
(larodhali hukmih)
Apapun yg di putuskannya Allah tidak ada yg bisa membatalkannya,
Apapun yang di putuskan Allah tidak ada yg bisa menolaknya
Apapun yang ia inginkan, apa yang ingin ia perbuat tidak ada yang bisa menghalanginya, begitulah Almaliknya Allah.
apapun yang di putuskan oleh Allah perkara atas alam semesta ini adalah ketentuan Dari Allah.
Firman Allah surah Ali imran
قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Al Malik, dia maha raja, raja segala raja, dialah raja yang sebenar,benar raja,
Sesuai dengan firman Allah di dalam alquranulkarim, surah Al mukminun, surah ke 23, pada juz 18
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ
(Mahatinggi Allah,dia lah raja yanf sebenarnya)
Nah, apabila ada seorang makhluk Allah di sebut seorang raja, manusia contohnya, maka ungkapan kita kepada mereka itu ialah mazaz, hanya ungkapan, bukan raja yang ssbenarnya, atau di sebut sebagai raja kecil, atau bahasa lainnya seperti raja-rajaan,
Contohnya kyk mobil ketika iya besar, maka mobil namanya, akan tetapi kalau kecil, maka ia jadi mobil-mobilan,
Karna sesuai dengan firman-nya Allah tadi,
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ
Maka akan muncul pertanyaan
Kenapa makhluk, yg diberi oleh Allah kerajaan, di sebut raja kecil? Atau raja yg tidak sebenarnya raja,
Karna makhluk itu bagaimanapun ia berkuasa tetap
mempunyai keterbatasan-keterbataaan, mempunyai keberhajatan-keberhajatan kepada orang lain, dan bagaimanapun seorang makhluk itu menjadi raja, atau berkuasa, suatu saat kekuasaannya itu akan berakhir.
Maka itu istilahnya tadi kita sebut mereka di namai raja kecil. Karna maha raja yang sebenarnya itu ialah Al Malik nya Allah.
Amat sangat banyak ayat di dalam Al-Quran, dan sabda-sabda Rasulullah, yang mendorong kita agar menjadi orang dekat dengan Al maliknya Allah, dan bahkan di dalam Al-Quran dan sabda-sabda rasulullah itu intinya ialah menyuruh kita agar dekat dengan Al-malik, supaya menjadi kekasih oleh Al-maliknya itu.
Karna apa? Karna keselamatan, kebahagiaan, baik di dunia dan akhirat, itu di berikan kepada orang yang dekat dengan Al-malik itu, Karna keselamatan, kebahagiaan, baik di dunia dan akhirat, itu di berikan kepada kekasihnya Allah almaliknya Allah itu
Nah, kalau kita jauh dengan Al maliknya Allah, kita akan sengsara dunia akhirat, dan kalau kita tidak mahu dekat Al-maliknya Allah, maka hidup kita akan susah dunia akhirat
Hadis, Kalam, firman, agar mendorong kita supaya dekat dengan Allah, Almaliknya Allah.
Maka bisa kita bayangkan dalam kehidupan kita sehari-hari, orang yg hidupnya dekat dengan orang yg mempunyai pangkat, bagaimana senangnya, bagaimana nyamannya orang yang dekat makhluk Allah ini, yg mempunyai pangkat, mempunyai kekuasaan, nah ini raja-raja kecil,
Kita contohnya :
Orang yg pangkatnya rendah, bila dekat dengan raja kecil imi pangkatnya cepat naik, lekas naik pangkat,
Orang yang punya usaha, bila di sayang raja kecil ini, lancar usahanya
Orang-orang yg menjadi pedagang, bila mana kenal kenal raja kecil maka, lancar dagangannya
Nah begitulah contohnya, jadi kita bisa menyaksikan secara jelas, secara dzohir, bagaimana nyamannya, senangnya, bahagianya, orang yang dekat dengan dekat dengan raja kecil, bagaimana nyamannya, senangnya orang yg di sayangi oleh raja kecil ini,
Padahal raja kecil, punya banyak keterbatasan, keterbatasan, akan tetapi sudah begitu nyaman orang yg dekat dengannya,
Nah apalagi kalau kita bayangkan ketika kita dengan dengan Allah, yang punya nama Al Malik ini, yang maha raja, masyaAllah,
Allah berfirman, : pada surah Yunus, surah 10, ayat
أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali, kekasih" orang yg dekat dengan Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Rasulullah bersabda : dalam hadis Bukhari Muslim,
"Sesungguhnya wali-wali Allah adalah orang-orang yang saleh lagi beriman." Artinya ialah : di kutip dalam tafsir Ibnu kasir, artinya adalah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kepada sesama makhluk.
Allah berfirman dalam Al-Quranul karim, surah Ali Imran, surah ke 3, pada juz 3/4,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada mereka yang merasa mencintai Allah, “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larang-an-Nya yang disyariatkan melalui aku, juga ditambah dengan melaksanakan sunahsunahku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
Demikian lah Allah dan kekasihnya itu Rasulullah, mengajarkan kepada kita,
Nah, ini kita bisa menyaksikan, kenapa kita pada umumnya hanya senang hati, cenderung ingin dekat, kepengen, kepada raja- kecil ini, yang sangat terbatas kemampuannya?
Dan tidak punya minat ingin dekat kepada Allah, yang punya nama Al-malik ini, yg maha raja ini, kenapa sebabnya?
Sebabnya ialah hanya satu?
Ya azezi uqhulikim,
Li dhoafi uqhu lihim,
Karna lemahnya akal kita, karna akal kita lemah, hanya ingin dekat dengan raja kecil, dan menghiraukan dan meninggalkan Allah,
Dalam istilah lain, umur ja tua, tapi akal masih kanak-kanak,
Kita kasih contohnya lagi, ketika kita kasih kan kepada kanak-kanak sebuah mobil Avanza,
dan satu lagi mobil mainan,
Kenapa sebabnya, Begitulah sebenarnya akalnya.
Nah begitulah sebaliknya, sebaliknya kekita akal kita punya akal dewasa pasti akan kita ambil mobil tadi,
Apa akhlak ketika kita beriman dan percaya kepada Al Malik Allah? Pemilik, penguasa, pelaku atas, tanpa ada batasannya,
Kalau kita beriman kepada nama Al-malik ini.
Maka kita akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar