عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «كانت بنو إسرائيل تَسُوسُهُمُ، الأنبياء، كلما هلك نبي خَلَفَهُ نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون بعدي خلفاء فيكثرون»، قالوا: يا رسول الله، فما تأمرنا؟ قال: «أوفوا ببيعة الأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، واسألوا الله الذي لكم، فإنَّ الله سائلهم عما اسْتَرْعَاهُم».
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
159. Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
1. Sehingga hak dari pemimpin itu ialah seperti mentaati, 2. hak untuk diberikan nasihat saat mereka membutuhkan nasihat, hak untuk dikoreksi saat mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak tepat atau bahkan kemudian mengarah kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang di tetapkan Allah. Maka itu adalah bentuk hak yang kita sampaikan kepada pemimpin, karna itu merupakan hak mereka, untuk di nasihati, di koreksi, di berikan peringatan.
Sehingga sudah kita fahami bahwa, para nabi-nabu Bani Israil itu mereka memiliki tugas yang sangat besar yang sangat mulia, dan tak lupa juga contohnya seperti Rasulullah, yang dimana tugas yang besar itu, yang mulia itu di rangkum dalam sebuah kalimat yang sekarang kita kenal sebagai (politik)/ yang artinya ialah memperbaiki suatu urusan menjadi lebih baik lagi, sesuai dengan apa yang sudah di sampaikan oleh Rasulullah, kata politik itu ialah, mereka-mereka yang mengatur, mengurusi, mengatur urusan-urusan yang ada di tengah-tengah masyarakat supaya menjadi lebih baik.
Nah, bahkan Al-Quranul karim itu sendiri di sebut sebagai Dustuur, karna Al-Quran bukan hanya sekedar pedoman, tetapi juga sebagai konstitusi atau bahasa gaulnya sekarang sebagai undang-undang dasar.karena di dalam Al-Quran itu sendiri bukan hanya kalimat-kalimat Allah, petunjuk atau nasihat sahaja, akan tetapi kalau kita lebih serius untuk memahaminya, akan tetapi Al-Quran itu sebagai konstitusi, yaitu undang undang yang paling tinggi yang dimiliki oleh manusia dan yang harus di praktekkan oleh manusia.
اِنَّآاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ
Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat
Maka di situ sangat tegas sekali Allah mengatakan makna litahkuma bainannas, untuk mengurusi, untuk membuat aturan di antara manusia, itu lah politik, (karna politik itu tadi ialah, makna hakiki ya memperbaiki urusan manusia menjadi lebih baik),
sehingga Rasulullah mengajarkan atau menjelaskan tentang politik di awal era dakwah rasulullah, karna tercantum di dalam Al-Quran surah Ar-Ruum, yang termasuk kedalam surah makkiyah, yang turun di awal-awal dakwah rasulullah, waktu masih di Madinah, nah, di dalam Quran surah Ar-Ruum, Allah berfirman ayat 1 sampai 4 :
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓمٓ
Alif Laam Miim
«الم» الله أعلم بمراده في ذلك.
(Alif lam mim) hanya Allah yang mengetahui maksudnya.
غُلِبَتِ ٱلرُّومُ
Telah dikalahkan bangsa Rumawi,
«غُلبت الروم» وهم أهل الكتاب غلبتها فارس وليسوا أهل كتاب بل يعبدون الأوثان ففرح كفار مكة بذلك، وقالوا للمسلمين: نحن نغلبكم كما غلبت فارس الروم.
Telah dikalahkan bangsa Romawi) mereka adalah ahli kitab yang dikalahkan oleh kerajaan Persia yang bukan ahli kitab, bahkan orang-orang Persia itu penyembah berhala. Dengan adanya berita ini bergembiralah orang-orang kafir Mekah, kemudian mereka mengatakan kepada kaum Muslimin, "Kami pasti akan mengalahkan kalian, sebagaimana kerajaan Persia telah mengalahkan kerajaan Romawi."
فِىٓ أَدْنَى ٱلْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ
di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang
«في أدنى الأرض» أي أقرب أرض الروم إلى فارس بالجزيرة التقى فيها الجيشان والبادي بالغزو الفرس «وهم» أي الروم «من بعد غلبهم» أضيف المصدر إلى المفعول: أي غلبة فارس إياهم «سيغلبون» فارس.
(Di negeri yang terdekat) yakni di kawasan Romawi yang paling dekat dengan wilayah kerajaan Persia, yaitu di jazirah Arabia; kedua pasukan yang besar itu bertemu di tempat tersebut, pihak yang mulai menyerang adalah pihak Persia, lalu bangsa Romawi berbalik menyerang (dan mereka) yakni bangsa Romawi (sesudah dikalahkan itu) di sini mashdar dimudhafkan pada isim maf'ul, maksudnya sesudah orang-orang Persia mengalahkan mereka, akhirnya mereka (akan menang) atas orang-orang Persia.
فِى بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ ٱلْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ
dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,
«في بضع سنين» هو ما بين الثلاث إلى التسع أو العشر، فالتقي الجيشان في السنة السابعة من الالتقاء الأول وغلبت الروم فارس «لله الأمر من قبل ومن بعد» أي من قبل غلب الروم ومن بعده المعنى أن غلبة فارس أولا وغلبة الروم ثانيا بأمر الله: أي إرادته «ويومئذٍ» أي يوم تغلب الروم «يفرح المؤمنون».
(Dalam beberapa tahun lagi) pengertian lafal bidh'u siniina adalah mulai dari tiga tahun sampai dengan sembilan atau sepuluh tahun. Kedua pasukan itu bertemu kembali pada tahun yang ketujuh sesudah pertempuran yang pertama tadi. Akhirnya dalam pertempuran ini pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan kerajaan Persia. (Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya) yakni sebelum bangsa Romawi menang dan sesudahnya. Maksudnya, pada permulaannya pasukan Persia dapat mengalahkan pasukan Romawi, kemudian pasukan Romawi menang atas mereka dengan kehendak Allah. (Dan di hari itu) yakni di hari kemenangan bangsa Romawi (bergembiralah orang-orang yang beriman).
Singkatnya bahwa : di dalam quraan surah Ar-Ruum itu harus kita pahami bahwa yang pertama kaum muslimin itu baru tumbuh, ibaratnya seperti seorang bayi yang baru lahir, tidak bisa apa-apa, bahwa pengikutnya Rasulullah pun sangat sedikit di kala itu, dan mereka juga orang-orang yang belum memiliki kekuatan di tengah-tengah masyarakat apalagi dalam kekuatan politik.
Akan tetapi Al-Quran sudah mengajarkan kepada mereka tentang peraturan politik, tentang sebuah negara, yaitu Romawi, dan tentang kabar dari Allah bahwasanya Romawi akan di kalahkan dan kemudian akan di takhlukan sesuai dengan firman Allah ayat Ar-Ruum 1sampai 4 tadi.
Sehingga kalau kita pahami dan cermati Rasulullah, telah mengajarkan politik kepada kaum muslimin khususnya, dan rasulullah menyampaikan dakwah politiknya itu kepada masyarakat di 3 tahun pertama Rasulullah menyampaikan dakwah,
Dan di dalam hadish shahih muslim dari ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda :
أَرْسَلَنِى بِصِلَةِ الأَرْحَامِ وَكَسْرِ الأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لاَ يُشْرَكُ بِهِ شَىْءٌ »
“Aku diutus untuk menyambung tali persaudaraan, menghancurkan berhala, dan agar mentauhidkan Allah serta tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun.
Maka dalam penghancuran berhala tersebut ialah bentuk daripada aktivitas politik yang nyata, itu ialah bentuk daripada Rasulullah mengajarkan kita tentang politik, yang mana hal tersebut ialah baik dan mendatangkan manfaat.
Maka waspadalah, kalau hari ini ada banyak sekali pandagan-pandangan yang ingin sekali menjauhkan pembahasan kaum muslimin daripada politik, sesungguhnya itu adalah pandangan-pandangan yang kurang baik, sehingga bertujuan untuk menjauhkan kaum muslimin dari posisinya sebagai umat yang akan segera meraih kembali kepemimpinan dunia dengan Islam.
Dan pandagan itu merupakan upaya-upaya yang tidak baik, untuk menutupi ketidakbaikan sistem pada saat ini, maka kembalikanlah semua persoalan kepada pandangan Islam, sungguh Islam telah mengajarkan bahwa politik adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan oleh Islam itu sendiri, sehingga kita bisa memperhatikan kembali tentang akhidah kita, yakni akhidah siyasah, atau akidah politik yang sesuai dengan yang sudah di contohkan oleh Rasulullah dalam kepemimpinannya dan juga para sahabat.
Maka daripada itu untuk teman-teman, sahabat, para mahasiswa, khususnya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, atau generasi muda sekarang, supaya lebih serius dan fokus dalam urusan ini, sehinga yang paling penting itu ialah keterkaitan diri kita kepada Allah, menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, ataupun mengajarkan tingkah laku, atau contoh yang baik, memperdalam ilmu agama atau perintah-perintah Allah, sehingga siapapun yang menjadi pemimpin dan siapapun yang di pimpin akan senantiasa menjunjung tinggi perintah Allah, dan akan menjalankan tanggungjawabnya dengan baik, Islam dengan politik sangatlah berkaitan.
Maka dari itu, saya ucapkan terima kasih karena sudah diberikan waktu untuk menyampaikan pidato saya, dan saya memohon maap sekiranya ada kesalahan kata atau bahasa yang tidak berkenan, sekali lagi saya memohon maap kepada semua dan memohon ampunan kepada Allah, sekian terima kasih, wassalamu'alaikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar