Pages

Kamis, 15 Desember 2022

pentingnya politik dengan unsur islami yang bertujuan memberikan manfaat bagi ummat

Alhamdulillah, puji syukur yang tak terhingga kehadhirat Allah subhanahu wata'ala, di karenakan hingga sampai saat ini Allah masi memberikan kita nikmat, iman dan Islam, dan memberikan kita waktu berupa umur yang panjang untuk bisa senantiasa beribadah kepada Allah.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Rasulullah, Nabi Besar Muhammad shalallahu alahi wasallam, serta keluarga dan para sahabat dan juga pengikut beliau sampai hari akhir.

Dan tak lupa juga kita untuk sentiasa mendoakan kedua orangtua kita, sehingga kiranya nanti kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada kedua orangtua, sehingga hal tersebut akan mendatangkan Ridha dan cintaNya Allah kepada kita.

Bismillah, 

الحمد لله ربّ العالمين و به نستعين على أمور الدين و الدنيا

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan dengan Allah kita minta pertolongan atas segala perkara dunia dan perkara agama

Firman Allah dalam Al-Quran surah az-zumar ayat 53 :

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sampaikan wahai Rasulullah, dan Allahpun berkata wahai hamba-hambaku, (kemudian para ulama mentafsirkan) yang di maksud dengan hamba-hambaku itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah, yang mana mereka itu melampaui batas akan diri mereka, (melakukan maksiat, melakukan perampokan, melakukan perbuatan yg tidak baik, melakukan perzinahan, dan melakukan perbuatan dosa lainnya. Maka segeralah bertaubat kepada Allah.

Karna secara sadar atau tidak sadar kita sangat lah lalai, sudah banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, maka daripada itu cepat lah untuk meminta ampunan Allah atas perbuatan silap dan salah yang kita lakukan ini, malu sama Allah dan segeralah bertaubat.

Maka daripada itu, untuk teman-teman sahabat, pada kesempatan kali ini kita saya akan berbicara berkenaan dengan politik, sesuai dengan judul yang akan saya sampaikan "politik ala islami akan memberikan manfaat bagi ummat", pertama-taman hendaknya terlebih dahulu kita memberikan waktu untuk bisa lebih menyukai dan membahas tentang politik itu sendiri, karna sejujurnya banyak diantara kita berpandangan bahwa berbicara politik atau membahas persiapan politik sama sekali tidak menarik.

Dan kadang ada juga yang mengatakan bahwa kalau ngomongin soal politik itu ga ada hubungannya dengan Islam, dan kalau ngomongin Islam keknya jangan bawa-bawa politik deh, karna kan sudah ada semacam asumsi yang akan di benak kita bahwa orang-orang yang berpolitik itu sama sekali tidak baik, omong doang, janji sana-sini, tidak ada yang benar dan yang bisa dipercaya, sehingga hal ini menimbulkan kesan yang tidak baik tentang politik dan kaitannya dengan Islam.

"Justru imam Al-Ghazali mengatakan bahwa Islam dan politik itu seperti suadara kembar yang tidak bisa dipisahkan"

Sehingga banyak diantara kita sering menegaskan bahwa, saya lebih menyukai pembahasan tentang Islam, yang berkaitan dengan akidah, ataupun secara ringkasnya tentang persoalan-persoalan keseharian seperti ibadah yang sangat di butuhkan oleh kaum muslimin, bukan berkaitan dengan politik.

Sehingga itu ialah pandangan yang salah, apalagi yang sering dikaitkan dengan perkataan yang sering sekali kita dengar "politik itu kan kotor, Islam itu suci, jangan di kaitkan, ga boleh, adapun yang bisa kita lihat, orang-orang yang masuk dalam dunia politik sangat menampakkan atau pengajaran hal-hal yang tidak baik dalam kepemimpinannya, seperti contoh perebutan kekuasaan yang memakan korban dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dan kekuasaan dan juga bentuk perhuatan yang tidak baik lainnya.

Maka daripada itu, saya ingin mengoreksi pandangan tersebut, sesungguhnya justru agama ini mengajarkan kepada kita, Islam mengajarkan kepada kita bahwa politik itu sesuai yang sangat penting.

Maka untuk teman-teman, sahabat, pada kesempatan kali ini juga saya akan berbicara tentang apa hikmah daripada kita membahas tentang politik dan manfaatnya bagi ummat, terlebih dahulu kita harus menyakamakan definisi kita makna daripada politik itu sendiri, sehingga kita bisa berbicara berkenaan azas dan makna daripada politik yang hakiki, politik yang baik. Politik yang benar dan yang mendatangkan manfaat bagi ummat.

Maka daripada itu saya akan mengutip dari kamus bahasa Arab bahwa politik atau as-siyasah, itu adalah hiya ri'ayatussu'un. Yang bermaksud bahwa politik itu adalah yang mengatur, yang mengurusi, dan yang memelihara urusan-urusan, urusan siapa? Al-Qiyaam *Alaa syai'i bimas yushlihuhu, urusan yang berkaitan dengan segala sesuatu yang memberikan perubahan atau kebaikan, mengurusi sesuatu urusan supaya menjadi lebih baik.

Maka dengan makna ini sesungguhnya kita sudah bisa menangkap sebuah pesan penting bahwa politik itu adalah sesuatu yang agung, bahwa urusan politik itu adalah bukan satu atau dua irang, akan tetapi urusan yang menyangkut semua orang, dan dengan tujuannya adalah, *maa yushlihuhu, mencari sesuatu yang bisa memperbaiki, memperbaiki apa? Memperbaiki urusan keadaan masyarakat tentunya.

Nah, itulah yang dimaksud dengan politik yang benar, bahwa politik itu adalah riayatu su'uninnas, memperhatikan dan memelihara urusan-urusan manusia.

Bahkan di dalam Islam politik itu sangatlah agung, karena merupakan pekerjaan atau amalnya para nabi, bagaimana tidak, kita bisa mencermati di dalam nash-nash syaraa', di dalam sebuah hadist misalnya,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «كانت بنو إسرائيل تَسُوسُهُمُ، الأنبياء، كلما هلك نبي خَلَفَهُ نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون بعدي خلفاء فيكثرون»، قالوا: يا رسول الله، فما تأمرنا؟ قال: «أوفوا ببيعة الأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، واسألوا الله الذي لكم، فإنَّ الله سائلهم عما اسْتَرْعَاهُم»

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat kepada (khalifah) yang pertama kemudian kepada yang berikutnya, lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.”

yang terjemahan secara singkatnya ialah, dulu Bani Israil itu senantiasa di pimpin oleh para nabi, *tasusuuhum, di urusi urusan-urusannya oleh para nabi, setiap kali satu nabi itu meninggal dunia atau wafat, maka kemudian akan di gantikan oleh nabi-nabi yang lain.

Kemudian setelahku kata Rasulullah, laa nabiya ba'da, tidak ada nabi setelahku, wa'sayakunu ba'di khulafaa fayaktsurun., Maka setelahku akan ada para Khalifah yang jumlahnya banyak, kemudian Qolu, mereka para sahabat bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, fa mas tamuruna, apa yang engkau perintahkan kepada kami, Qala, Rasulullah bersabda, memerintahkan kepada kita supaya memenuhi hak terhadap pemimpin, atau orang-orang yang di angkat menjadi pemimpin sesuai dengan kesepakatan bersama, atau hasil daripada musyuwarah, sesuai dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 159 : 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

159. Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.

1. Sehingga hak dari pemimpin itu ialah seperti mentaati, 2. hak untuk diberikan nasihat saat mereka membutuhkan nasihat, hak untuk dikoreksi saat mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak tepat atau bahkan kemudian mengarah kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang di tetapkan Allah. Maka itu adalah bentuk hak yang kita sampaikan kepada pemimpin, karna itu merupakan hak mereka, untuk di nasihati, di koreksi, di berikan peringatan.

Sehingga sudah kita fahami bahwa, para nabi-nabu Bani Israil itu mereka memiliki tugas yang sangat besar yang sangat mulia, dan tak lupa juga contohnya seperti Rasulullah, yang dimana tugas yang besar itu, yang mulia itu di rangkum dalam sebuah kalimat yang sekarang kita kenal sebagai (politik)/ yang artinya ialah memperbaiki suatu urusan menjadi lebih baik lagi, sesuai dengan apa yang sudah di sampaikan oleh Rasulullah, kata politik itu ialah, mereka-mereka yang mengatur, mengurusi, mengatur urusan-urusan yang ada di tengah-tengah masyarakat supaya menjadi lebih baik.

Nah, bahkan Al-Quranul karim itu sendiri di sebut sebagai Dustuur, karna Al-Quran bukan hanya sekedar pedoman, tetapi juga sebagai konstitusi atau bahasa gaulnya sekarang sebagai undang-undang dasar.karena di dalam Al-Quran itu sendiri bukan hanya kalimat-kalimat Allah, petunjuk atau nasihat sahaja, akan tetapi kalau kita lebih serius untuk memahaminya, akan tetapi Al-Quran itu sebagai konstitusi, yaitu undang undang yang paling tinggi yang dimiliki oleh manusia dan yang harus di praktekkan oleh manusia. 

اِنَّآاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ

Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat

Maka di situ sangat tegas sekali Allah mengatakan makna litahkuma bainannas, untuk mengurusi, untuk membuat aturan di antara manusia, itu lah politik, (karna politik itu tadi ialah, makna hakiki ya memperbaiki urusan manusia menjadi lebih baik), 


sehingga Rasulullah mengajarkan atau menjelaskan tentang politik di awal era dakwah rasulullah, karna tercantum di dalam Al-Quran surah Ar-Ruum, yang termasuk kedalam surah makkiyah, yang turun di awal-awal dakwah rasulullah, waktu masih di Madinah, nah, di dalam Quran surah Ar-Ruum, Allah berfirman ayat 1 sampai 4 : 

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓمٓ

Alif Laam Miim

«الم» الله أعلم بمراده في ذلك.

(Alif lam mim) hanya Allah yang mengetahui maksudnya.

غُلِبَتِ ٱلرُّومُ

Telah dikalahkan bangsa Rumawi,

«غُلبت الروم» وهم أهل الكتاب غلبتها فارس وليسوا أهل كتاب بل يعبدون الأوثان ففرح كفار مكة بذلك، وقالوا للمسلمين: نحن نغلبكم كما غلبت فارس الروم.

Telah dikalahkan bangsa Romawi) mereka adalah ahli kitab yang dikalahkan oleh kerajaan Persia yang bukan ahli kitab, bahkan orang-orang Persia itu penyembah berhala. Dengan adanya berita ini bergembiralah orang-orang kafir Mekah, kemudian mereka mengatakan kepada kaum Muslimin, "Kami pasti akan mengalahkan kalian, sebagaimana kerajaan Persia telah mengalahkan kerajaan Romawi."

فِىٓ أَدْنَى ٱلْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang

«في أدنى الأرض» أي أقرب أرض الروم إلى فارس بالجزيرة التقى فيها الجيشان والبادي بالغزو الفرس «وهم» أي الروم «من بعد غلبهم» أضيف المصدر إلى المفعول: أي غلبة فارس إياهم «سيغلبون» فارس.

(Di negeri yang terdekat) yakni di kawasan Romawi yang paling dekat dengan wilayah kerajaan Persia, yaitu di jazirah Arabia; kedua pasukan yang besar itu bertemu di tempat tersebut, pihak yang mulai menyerang adalah pihak Persia, lalu bangsa Romawi berbalik menyerang (dan mereka) yakni bangsa Romawi (sesudah dikalahkan itu) di sini mashdar dimudhafkan pada isim maf'ul, maksudnya sesudah orang-orang Persia mengalahkan mereka, akhirnya mereka (akan menang) atas orang-orang Persia.

فِى بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ ٱلْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ

dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,

«في بضع سنين» هو ما بين الثلاث إلى التسع أو العشر، فالتقي الجيشان في السنة السابعة من الالتقاء الأول وغلبت الروم فارس «لله الأمر من قبل ومن بعد» أي من قبل غلب الروم ومن بعده المعنى أن غلبة فارس أولا وغلبة الروم ثانيا بأمر الله: أي إرادته «ويومئذٍ» أي يوم تغلب الروم «يفرح المؤمنون».

(Dalam beberapa tahun lagi) pengertian lafal bidh'u siniina adalah mulai dari tiga tahun sampai dengan sembilan atau sepuluh tahun. Kedua pasukan itu bertemu kembali pada tahun yang ketujuh sesudah pertempuran yang pertama tadi. Akhirnya dalam pertempuran ini pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan kerajaan Persia. (Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya) yakni sebelum bangsa Romawi menang dan sesudahnya. Maksudnya, pada permulaannya pasukan Persia dapat mengalahkan pasukan Romawi, kemudian pasukan Romawi menang atas mereka dengan kehendak Allah. (Dan di hari itu) yakni di hari kemenangan bangsa Romawi (bergembiralah orang-orang yang beriman).

Singkatnya bahwa : di dalam quraan surah Ar-Ruum itu harus kita pahami bahwa yang pertama kaum muslimin itu baru tumbuh, ibaratnya seperti seorang bayi yang baru lahir, tidak bisa apa-apa, bahwa pengikutnya Rasulullah pun sangat sedikit di kala itu, dan mereka juga orang-orang yang belum memiliki kekuatan di tengah-tengah masyarakat apalagi dalam kekuatan politik.

Akan tetapi Al-Quran sudah mengajarkan kepada mereka tentang peraturan politik, tentang sebuah negara, yaitu Romawi, dan tentang kabar dari Allah bahwasanya Romawi akan di kalahkan dan kemudian akan di takhlukan sesuai dengan firman Allah ayat Ar-Ruum 1sampai 4 tadi.

Sehingga kalau kita pahami dan cermati Rasulullah, telah mengajarkan politik kepada kaum muslimin khususnya, dan rasulullah menyampaikan dakwah politiknya itu kepada masyarakat di 3 tahun pertama Rasulullah menyampaikan dakwah, 

Dan di dalam hadish shahih muslim dari ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda : 

أَرْسَلَنِى بِصِلَةِ الأَرْحَامِ وَكَسْرِ الأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لاَ يُشْرَكُ بِهِ شَىْءٌ »

Aku diutus untuk menyambung tali persaudaraan, menghancurkan berhala, dan agar mentauhidkan Allah serta tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun.

Maka dalam penghancuran berhala tersebut ialah bentuk daripada aktivitas politik yang nyata, itu ialah bentuk daripada Rasulullah mengajarkan kita tentang politik, yang mana hal tersebut ialah baik dan mendatangkan manfaat.

Maka waspadalah, kalau hari ini ada banyak sekali pandagan-pandangan yang ingin sekali menjauhkan pembahasan kaum muslimin daripada politik, sesungguhnya itu adalah pandangan-pandangan yang kurang baik, sehingga bertujuan untuk menjauhkan kaum muslimin dari posisinya sebagai umat yang akan segera meraih kembali kepemimpinan dunia dengan Islam.

Dan pandagan itu merupakan upaya-upaya yang tidak baik, untuk menutupi ketidakbaikan sistem pada saat ini, maka kembalikanlah semua persoalan kepada pandangan Islam, sungguh Islam telah mengajarkan bahwa politik adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan oleh Islam itu sendiri, sehingga kita bisa memperhatikan kembali tentang akhidah kita, yakni akhidah siyasah, atau akidah politik yang sesuai dengan yang sudah di contohkan oleh Rasulullah dalam kepemimpinannya dan juga para sahabat.

Maka daripada itu untuk teman-teman, sahabat, para mahasiswa, khususnya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, atau generasi muda sekarang, supaya lebih serius dan fokus dalam urusan ini, sehinga yang paling penting itu ialah keterkaitan diri kita kepada Allah, menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, ataupun mengajarkan tingkah laku, atau contoh yang baik, memperdalam ilmu agama atau perintah-perintah Allah, sehingga siapapun yang menjadi pemimpin dan siapapun yang di pimpin akan senantiasa menjunjung tinggi perintah Allah, dan akan menjalankan tanggungjawabnya dengan baik, Islam dengan politik sangatlah berkaitan.

Maka dari itu, saya ucapkan terima kasih karena sudah diberikan waktu untuk menyampaikan pidato saya, dan saya memohon maap sekiranya ada kesalahan kata atau bahasa yang tidak berkenan, sekali lagi saya memohon maap kepada semua dan memohon ampunan kepada Allah, sekian terima kasih, wassalamu'alaikum.


Tidak ada komentar:

More Article about this Blog