Serta shalawat Dan Salam juga kita haturkan kepada Baginda Rasulullah, semoga demikian itu Allah subhanahu wa ta'ala meridhai atas diri kita Dan Allah subhanahu wa ta'ala memberikan ampunan kepada kita Ini yang penuh dengan banyaknya dosa, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin.
Nama allah, Dari asmaulhusnanya Allah subhanahu wa ta'ala yang ke 21 Dan 22 yaitu al-khobitulbasit
jadi menurut sebagian ulama kedua nama Allah Ini jangan di pisah, Karna kalau di pisah itu bisa menyebabkan salah pengertian terhadap Allah subhanahu wa ta'ala, jadi musti langsung di gabungkan keduanya.
( Kolal Al imamul ghazali rohimahullah huwalladzi yakbidhul arwah bil asbah indal mamats, wayakgshutul arwaha bil azzesad indal hayats, wayakgbhitusshadakoti Minal arghniya, wayakgshutul arzzaka liddhu'afa, yabbashutul rizqa alal arghniya, hatta layubqhi ya baqoh
wa yakhbituhu 'anil fukoroh hatta layubqhi tokhoh, wa yakhbitul Quluba bayudhoyyibuha bima yakhsibu biha, bima yakhsibu laha, an killatihi mubalatihi wata'alihi wajalallih, wayabba shutuha bima yutakhorrobu ilaiha bima yutakhorrabu ilaiha min birri hi wa lutdhbihi wa jamalih. )
Makna arti nama Allah al-khobit albasit menurut imam al-ghazali rahimahullah
( huwalladzi yakbidhul arwah 'anil asbah )
Dialah yang mengambil, menarik, ruh Dari tubuh manusia ketika dia mati, Allah lah yang mengambil, menarik ruh, Dari tubuh kita di waktu kita wafat itu, al-khobits,
( Wayakgshutul arwaha bil azzesad indal hayats, ) al-basit, dialah yang menyerahkan ruh pada jasad ketika hidup, ketika anak, janin, dalam Rahim, ber umur 120 hari, maka di situ diberikan Allah ruh, nah itu, al-basit, yang menyerahkan ruh, kepada tubuh, ketika di hidupkan tubuh itu.
Begitu di tiup sangkalala yang pertama alam semesta hancur, nah di tiup sangkalala yang kedua manusia hidup kembali, itu al-basit yang menyerahkan kembali ruh ruh itu kepada asalnya,
( wayakgbhitusshadakoti Minal arghniya wayakgshutul arzzaka liddhu'afa) di artikan pula al-khobits dialah yang mengambil sodaqoh-sodaqah, zakat zakat Dari orang kaya, dan albasit, dialah yang menyerahkan, zakat-sodaqoghitu kepada orang-orang yang lemah.
Allah menyuruh (khuz min amwalihim shodaqoh, attaubah ayat 103 ) ambil wahai rasul Dari harta mereka sebagai zakat, nah disitu al-khobits, Untuk mengambil harta orang kaya,
Kemudian Allah menyuruh lagi, serahkan harta itu kepada orang yang lemah, nah itu al-basit,
Maka disitulah awal mula wajib kepada seluruh ummat Islam untuk membayar zakat, bertujuan untuk membersihkan harta. 2.5% adapun lagi seperti membayar pajak dengan ketentuan-ketentuan yg berlaku,
Ambil harta itu kemudian serahkan kepada orang-orang lemah yang membutuhkan. Begitu maknanya.
( yabbashutul rizqa alal arghniya, hatta layubqhi ya baqoh ) al-basit, yang Maha membuka, meluaskan rezeki atas orang-orang yang kaya, sehingga tidak ia sisakan lagi hajatnya.
( wa yakhbituhu 'anil fukoroh hatta layubqhi tokhoh, ) Dan al-khobits, dialah yang menggenggam Dari orang fakir, sehingga tidak ia sisakan kemampuannya,
Orang fakir, yang susah rezekinya yang sempit rezekinya, itu Dari al-khobits.
( wa yakhbidul Quluba bayudhoyyibuha bima yakhsibu, bima yakhsibu laha, ming killatihi mubalatihi wata'alihi wajalallih )
Dan dialah al-khobits yang menggenggam hati manusia, menyempitkan hati manusia, dengan sesuatu yang dia buka hati hati manusia daripada ketidakperdulian Allah, Maha tingginya Allah, Dan kebesaranNya Allah.
( wayabba shutuha bima yutakhorrobu ilaiha ) Dan dialah yang melapangkan hati manusia, dengan sesuatu yang di hampirkan kepadanya daripada kebaikan Dan kelembutan daripada Allah subhanahu wa ta'ala.
Jadi al-khobits, albasit Ini banyak maknanya,
Al-khobits bisa di artikan : menarik, mengambil, menggenggam,
Albasit bisa di artikan, membuka, bisa di artikan menyerahkan menyerahkan,
Jadi kalau hanya satu saja yang kita bicarakan, Allah itu Al khobits, Maha menggenggam, Maha mengambil, itu di khawatirkan kita salah faham tentang Allah, dikiranya Allah itu hanya, mengambil, menarik, menggenggam. Musti di sambung ada albasit, yang membuka, yang menyerahkan, yang meluaskan.
Jadi al-khobitulbasit musti di satukan, supaya kita sempurna pengenalan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala,
Allah itu dengan nama al-khobits menggenggam hati manusia, dengan apa? dengan musibah, begitu kita kena musibah, kita dapat Hal Hal yang tidak menyenangkan kita, hati kitapun di genggam oleh Allah, hati kita jadi sempit, jadi susah, jadi gelisah, hati rasa sumpek, nah itu al-khobits.
Dan lagi Allah buka hati kita dengan kenikmatan- kenikmatan sehingga hati kita menjadi lapang, hati menjadi senang, itu al-basit.
Dikala kita ingat bahwa Allah itu Maha adil, Allah Maha agung, Allah Maha perkasa, Allah Maha penyiksa, begitu kita lihat, ingat, sifat-sifat itu hati kita jadi kecil, hati kita jadi takut, hati kita jadi sempit. Nah itu al-khobits
Di waktu kita melihat, mengingat Allah itu pemurah, Allah penyayang, Allah penyantun, Allah penyantun, itu al-basit yang melapangkan hati kita itu.
Jadi musti Dua, al-khobitulbasit,
Karna dalam satu menit bisa al-khobits, hati kita susah, hati kita sempit, hati kita tidak karu-karuan gelisah, di menit berikutnya hati kita langsung jadi terang, jadi terbuka, jadi lapang, nah itu al-basit.
Kalau Allah itu menampakkan ke hati kita keperkasaannya, ketidakper dulian kepada kita, maka hati kita jadi ciut, hati kita jadi sempit.
Tapi kalau Allah menampakkan ke hati kita kemurahhannya, kemaafannya, hati kitapun akan menjadi lapang, nah itu lah perbuatan daripada al-khobitulbasit, setiap hari kita menemui kedua nama Allah Ini, dalam kehidupan kita sehari hari
Kadang-kadang tampak kepada kita nama Allah itu al-khobits, kadang-kadang tampak kepada kita nama Allah itu al-basit.
Setiap yang kita jumpai dalam kehidupan tidak akan terlepas Daripada al-khobitulbasit, kadang-kadang al-khobits yang muncul hati kita jadi susah, kadang-kadang albasit yang muncul hati kita jadi senang,
kadang-kadang rezeki kita sempit al-khobits yang tampak, kadang-kadang rezeki luas al-basit yang nampak,
kadang-kadang ada orang yang hidup al-basit yang nampak, kadang-kadang ada orang meninggal al-khobits yang tampak.
Setiap hari nama Allah al-khobitulbasit selalu nampak dalam hati orang orang yang ber iman kepada Allah.
( Almukmin bismillahil khobitilbasit) orang yang beriman dengan nama Allah al-khobit/ albasit, kita wajib percaya kenapa kita wajib percaya? Karna Alquranul qarim menjelaskan.
Kolallahu ta'ala pada surah albaqorah ayat 245.
allah itu al-basit, al-khobitulbasit, Dan kepadanya lah kalian di kembalikan, maka musti kita percaya, yang menarik yang menyerahkan, yang menyempitkan yang meluaskan, yang menyusahkan yang menyenangkan, al-khobitulbasit.
Nah kalau kita sudah beriman, apa akhlak yang akan kita dapatkan ?
( ayyakuna khoufuhu warraju'uhu alal haddin syawab )
Takut Dan harap kita kepada Allah sama
Contohnya: bila kita ingat nama Allah al-khobit, yang takutan hati Ini, kalau nanti di matikan Allah, kalau di ambil allah ruh kita, kalau di sempitkan nya hati, nah takut di dalam hati.
Tapi kalau nampak nama Allah al-basit, hati kita berharap kepada Allah, hati kita jadi berharap kepada Allah,
Jadi kalau orang yang percaya kepada nama al-khobitulbasit, orang ini musti takut Dan harap kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam batas yang sama, seimbang, takut kita kepada allah 50%, berharapnya kita kepada Allah 50%
Eh kamu takut tidak sama Allah, takut sama allah
Kamu berharap ga sama Allah, berharap sama Allah
Nah takut Ini, harap Ini adalah segala macam bentuk kunci perbuatan taat kepada Allah, Dan segala macam bentuk benteng perkara yang tidak baik.
Para ulama salaf mengatakan :
( Law wuzina khoubul mukmin wa ra jaw'u hu la'a tadalah ) jikalau di timbang takutnya kita kepada allah, harapnya kita kepada Allah, di timbang, (la'a tadalah) sama timbangannya,
Karna kalau terlalu takut, kurang harap, kita akan jadi orang putus asa, sama Allah ni selalu al-khobits je yang kita pandang, selalu al-khobits yang kita ingat, nah itu kita bisa jadi putus asa,
nah kalau kita hanya memandang al-basit, meninggalksn al-khobits, kita bisa terperdaya, untuk menyeimbangkan itu agar jangan putus asa, agar jangan terperdaya, musti takut Dan harap tu sama dalam hati kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Kadang-kadang takut, kadang-kadang harap, kadang-kadang takut, kadang-kadang harap, kadang-kadang takut kadang-kadang harap kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Nah Untuk mengetahui keseimbangan takut Dan harap itu seperti apa?
Contohnya : Kita ni kebayangan berharap kepada Allah kurang takutnya, oleh karena itu kita berani berbuat dosa, kenapa? Karna kita menganggap Allah tu baik, Allah itu pemaaf, Allah tu penyayang, Allah tu pengampun, Allah tu pemurah, pasti aku di ampuni nanti, (walaupun hakikatnya Allah itu demikian)
Nah kita ni kebayangan harap, sehingga, kita berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah, melanggar hukum-hukum Allah.
Tapi kalau kita seimbangkan takut dah harap, kita tidak akan berani melakukan perbuatan buruk itu.
Al-khobits Allah Maha mencabut nyawa, pas kia hendak berbuat dosa, ingat Allah, maka tidak berani berbuat demikian, siapa tahu nanti habis ni di cabut Allah hanya tak sempat kita taubat. Macam mana nanti.
Oleh Karna kita jarang mengingat nama al-khobits, yang di ingat selalu albasit, nah disitu lah jatuh dalam maksiat, Karna yang kita ingat hanya sifat-sifat Allah yang indah, lupa sifat Allah yang besar, yang agung, yang Maha membalas.
( Nah disitulah kita terperdaya, Karna tidak sama takut Dan harap kita itu kepada Allah )
Sebagian ulama salaf lagi mengatakan
( Lau nudia layadkhulul jannata kullunNas illa rajulun wahid lakrhashitu an aquna ana zalikarrozul, Lau nudia layadkhulunnar kullunnas illa rajulun wahid larojauw tu an aquna zalikarrozul )
Ini membuktikan sama takut Dan harap kenapa Allah :
Jikalau ada pengumuman Dari Allah, Allah memberikan pengumuman, kata Allah seluruh manusia masuk syurga, kecuali satu yang keneraka, sekian milyar manusia semuanya ke syurga, kecuali satu yang ke keneraka ,
Nah kita mendengari tu, dalam hati kita, ya rabb, jangan-jangan yang satu itu aku orangnya, nah itu ada rasa takut.
Dan pengumuman yang kedua, kata Allah, semua, seluruh manusia masuk neraka, hanya satu yang kesyurga, aku berharap, akulah yang kesyurga itu.
Nah itu adalah gambaran untuk takut Dan berharap kepada Allah itu sama, takut kita kepada Allah, Dan harap kita kepada allah, sama , seimbang artinya.
Kolallahu ta'ala, pada surah al-anbiya ayat 90,
Maka kami perkenankan, kami kabulkan bagi zakaria doanya minta anak yahya, Dan kami baguskan istrinya sungguh mereka itu keluarga nabi zakaria mereka itu bersegera kepada kebaikan Dan beribah kepada kami berharap Dan takut.
Contoh : kita sembahyang, habis sembahyang itu, jangan lupa kita Dua Hal :
1. Takut : kalau sembahyang kita Ini di tolak oleh Allah, kurang khusuk, banyak pikiran, atau lainnya, takut kita kalau sembahyang kita tu di tolak oleh Allah
Baca alquran, habis baca Al-quran itu, jangan lupa kita takut kepada Allah, kalau pada saat kita baca Qur'an tu kurang adab kepada allah,
Tapi aku berharap : bahwa sembahyangku ini di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Nah itu musti ada rasa takut Dan harap dalam hati kita, diri kita, Karna nabi nabi terdahulu, Dan keluarga keluarga beliau beliau itu di sebut oleh Allah subhanahu wa ta'ala,
Mereka bila beribadah kepada ku kata Allah, mereka ada harap Dan takutnya kepadaku.
Jadi kalau habis berbuat taat, sembahyang jangan hanya berharap, diterima, diterima, diterima, ada juga merasakan takut
Karna pas kita ucapan, takbir, Allahu Akbar, itu semua gerak gerik kita, pikiran kita, ucapan kita, hati kita, di intai, di pantau oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Maka takutlah kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan tetapi dalam takut itu ada harap, Karna Allah itu Maha pengampun, Maha pemaaf, masih ada harapan kita ni sembahyang kita di terima Allah.
Jadi itu yang di maksud, sehingga setiap kita hendak melakukan perbuatan ibadah kepada Allah, sertakan takut Dan harap itu.
Contoh : kita ni habis melaksanakan tugas, diberi tugas olah seorang raja, ni kita ni budaknya, coba olah dulu Ini, kemudian kita pun olah, macam ni, macam ni, macam ni, setelah selesai, kitapun melapor, kepada atasan, kepada raja. Pasti ada rasa harap Dan takut.
Harap-harap apa yg ku buat tapi sesuai dengan kehendak rajani, diapun suka, tapi ada juga rasa takut kita, kalau nanti tak cocok macam mana, habis kita ni, potong gaji nanti, nah itu berharap-harap ada, takutnya pun ada.
Demikian juga lah sama Allah, itu yang di suruh oleh Allah kepada kita, kalau kita ni sudah selesai beribadah, habis ibadah, kita takutan, kalau ibadah kita ni kurang pas, Dan di tolak oleh Allah, Dan kita pun berharap kalau Allah ni Maha pemurah, Maha pemaaf, semoga yang kurang pas tu di maafkan Allah.
Nah demikian lah prihal rasa, jadi musti seimbangkan takut Dan harap kepada Allah subhanahu wa ta'ala, al-khobitulbasit.
Tapi dalam keadaan tertentu di suruh kita memenangkan takut, kita buang harap, kapan itu? Pada saat kita di hadapan dengan perkara melanggar hukum-hukum Allah, atau berhadapan dengan perbuatan dosa.
Nah, pandanglah takut kepada Allah, ni kalau ku buat perkara yang melanggar hukum-hukum ni, kalau ku buat, habis tu aku mati macam mana tak sempat bertaubat, masuk neraka nanti, kalau aku maksiat, Allah marah kepadaku, di tarik Allah ruh, di tarik Allah nikmat, macam mana?
Nah begitulah, dalam keadaan tertentu menangkan rasa takut, buang harap.
Karna kalau kita pakai harap pada keadaan itu, tertipu kita, aduh buat lah dlu, Allah tu kan Maha pemaaf, habis ni bertaubat nah itu tu yang memberdaya kita.
Dan kemudian di keadaan lain, harap kita menangkan, kemudian takut kita buang jauh-jauh, di waktu apa? Di waktu kita sakit, yang sakaratul maut, kita ni sudah tidak berdaya upaya lagi, sembahyang sudah tidak bisa, sudah udzhur, nafas aja lagi yang ada, cuman sadar, jangan hendak memandang saat itu Allah itu Maha penyiksa, Allah itu Maha menghitung, Allah itu Maha membalas, jangan ....
Tapi pandang lah saat itu Allah pemaaf, Allah pengampun, Allah penyayang, Karna saat itu kita ni butuh ampunan, perlu maaf, mahu sayangnya Allah,
Nah selain Dua keadaan Tadi , takut Dan harap itu seimbang, samakan, jangan berat sebelah artinya.
( Wa ayyakuna bi krhultathin nass bainal qafdi Wal bashti )
Bahwa dalam bergaul dengan manusia kita musti bersikap kadang-kadang khobits kadang-kadang basit, ni kita ni, kita bermasyarakat, kita bertetangga, kita berkawan,
( Kolassyafie rahimahullah, Al ingkibat'aninnas maksabatun lil 'adawah Wal inbisyatu ilaihim majlabatun liqurona'issuuu fakun bainal khobits walmun basit)
Kalau kamu bergaul dengan manusia, kita hanya khobits tertutup tidak menerima orang, itu akan menimbulkan permusuhan kita akan di musuhi orang.
Dan terlalu terbuka kepada manusia, kepada semuanya, siap berkawan kepada siapapun, tidak di pilih, nah itu akan mengundang kawan yang jahat.
( Fakun bainal min khobits walmun basit)
Jadilah engkau antara khobits Dan basit, kadang-kadang kita buka, kadang-kadang kita tutup,
Artinya : kalau kita liat orang ini baik, silahkan berkawan, berhadapan dengan orang-orang jahat, orang-orang yang sukaan berbuat tidak baik, nah kita musti tutup, jaga diri, keduanya dengan adab.
Jangan pula kita ni merasa benar, sampai menghina, mengejek, orang orang tu, musti ada adabnya.
Tidak berbuka sepenuhnya, tidak tertutup sepenuhnya.
Supaya kita ni lebih berhati-hati lagi. Takutnya nanti kita ni terikut, terperdaya, terpengaruh, bukan artinya kita ni sombong, atau tak mahu berkawan, cuman hanya lebih berhati-hati sahaja.
( Wa ayyakuna taratan yabshutul qulubal 'ibat bimayyuzakkiruhum, Minal wa taratan bima yunziluhum min jalalillah wa'a zabihi min 'a daih)
Yang ke tiga kalau kita beriman dengan nama Allah al-khobitulbasit, musti kita contoh : kadang-kadang kita musti cerita kepada manusia tentang nikmat-nikmat Allah, kita senangkan hati manusia tentang kebaikan Allah, pemaafnya Allah, penyayangnya Allah, supaya orang senang hati,
Tapi kadang-kadang tutup hati mereka, dengan menyebutkan Allah itu Maha adil, hati hati, Allah itu Maha penyiksa, Allah Maha menghitung, supaya orang tidak hanya mengenal Allah itu Maha pemaaf, tapi Allah juga Maha penyiksa, itulah al-khobitulbasit.
Contohnya: macam kita ni punya anak, di ingati nak, mahu dapat surga, jangan tinggal sholat, sembahyang, nanti Allah sayang, rezeki di luaskan, hidup berkah, nak banyak shalawat nanti nabi sayang kita.
Kadang-kadang juga, nak sembahyang, nanti kalau tak sholat nanti macam mana, Allah marah nanti, hidup tak berkah nanti,
Nah demikian lah al-khobitulbasit. Kadang-kadang di senangkan hati mereka dengan menyebutkan nikmat-nikmat Allah, kadang-kadang di sempitkan hati mereka dengan menyebutkan azab-azab Allah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar