Baginda Rasulullah bersabda :
Perumpamaan shalat fardhu adalah seperti timbangan, barangsiapa memenuhi maka ia menyempurnakan, Nah maksudnya : barangsiapa menyempurnakan akan timbangan itu (shalat fardhu lima waktu) maka ia berhak mendapat ganjaran atau balasan yang sempurna jua
Yazid ar-rakhasi berkata : shalat Baginda Rasulullah itu rata, seolah-olah di timbang, artinya sembahyang nabi itu tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat, artinya rata seolah-olah di timbang
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiah Radhiyallahu anhu berkata : Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi perbedaan keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi.
Nah maksudnya : ada dua orang shalat, kemudian yang satu shalatnya tidak khusu', dan satu lagi khusu', maka keutaman pahalanya itu berbeda bagaikan langit dan bumi, begitu maksud hadist demikian.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquranul karim pada surah al-mu'minun ayat 1-2 :
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ... الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusu' dalam shalatnya
Dari Ali bin Syaiban Radiallahu Baginda Rasulullah bersabda :
يا معشر المسلمين لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يُقِمْ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوْعِ والسُّجُوْدِ
Wahai kaum muslimin, tidak ada shalat bagi mereka yang tidak menegakkan punggungnya ketika ruku’ dan sujud(Hadist riwayat Ahmad, Ibnu Majah)
Artinya orang yang sembahyang ini, i'tidal(gerakan bangun dari sujud) tidak ada tuma'ninahnya, bila mana sembahyang ini tidak ada tuma'ninah berarti shalatnya tidak sah, karena tumakninah merupakan salah satu di antara rukun-rukun sembahyang.
Jadi tumakninah ini, i'dtidal itu seperti kita berdiri tegak semula, seperti habis sujud, dan selesai ruku', nah tegaklah kita selesai i'tidal itu, (harus rata) seperti asalnya, tegak, tidak boleh bengkok, supaya termasuk pada rukun tuma'ninah yang demikian itu.
Kemudian prihal memandang, menoleh ke kiri dan kanan, (maksudnya tidak ada gerakan tuntutannya untuk menoleh) saat shalat, maka hukumnya makruh, namun apabila ada tuntutan, kebutuhan tertentu maka boleh, tidak sampai membatalkan shalat, ketika tidak ada maka pandangilah tempat sujud kita itu ketika sedang shalat.
Barangsiapa yang sembahyang dengan shalat Pada waktunya, dan ia menyempurnakan wudhu'nya, ia sempurnakan ruku'nya, ia sempurnakan sujudnya, dan khusu'/tuma'ninahnya, maka shalat itu naik dalam keadaan putih cemerlang, sambil berkata semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memelihara saya.
Dan barangsiapa shalat di luar waktunya, ia tidak penyempurnakan whudu'nya, ia tidak menyempurnakan ruku'nya, ia tidak menyempurnakan sujudnya, dan tidak khusu'/tuma'ninahnya, maka shalat itu naik dalam keadaan hitam gelap, sambil berkata semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakan saya.
Sebagaimana perkataan yang menarik dari sahabat Nabi Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu, perkataan ini dinukil dari Imam Abdullah bin Mubarak Rahimahullah dalam kitab Beliau Az-Zuhud. Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
الصلاه مكيال
“Sholat adalah takaran (timbangan)”
فَمَنْ وَفَّى وُفِّيَ لَهُ
“Siapa yang menunaikannya dengan sempurna diberikan pahalanya secara sempurna”
وَمَنْ طَفَّفَ فَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْمُطَفِّفِينَ
“Sedangkan siapa yang mengurangi takaran sholat, timbangan sholat ia kurangi (baik itu dengan cara seperti yang sudah saya ungkapkan tadi, seperti mengakhirkan waktu sholat, mengerjakan sholat di akhir waktu, ataupun kadang sholat kadang tidak, ataupun tidak sholat sama sekali, ataupun sholatnya tidak khusyu’), maka sungguh engkau telah tahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan terhadap orang-orang yang mengurangi takaran pada surat Al-Muthaffifin.”
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
Karena orang-orang yang mengurangi takaran akan di ancam oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dengan azab yang sangat bagi orang-orang yang mengurangi takaran/timbangan itu
prihal keutamaan shalat berjamaah
Baginda Rasulullah bersabda :
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Shalat berjamaah itu melebihi pahalanya daripada shalat sendirian, dengan 27 derajat, 27 Kali lipat, sehingga para ulama menyimpulkan banyak keuntungan-keuntungan yang di dapat bagi orang-orang yang shalat berjamaah daripada orang yang shalat sendirian itu.
(Hadist riwayat Bukhari Muslim)
Antara lain keuntungan yang akan kita dapatkan 27 dejarat itu ketika kita shalat berjamaah ialah :
1. Berjalan ke masjid, surau, mushallah, kita mendapatkan fadilatnya, mendapatkan pahala daripada setiap langkah kita serta menghapuskan dosa dari setiap langkah kaki itu
2. Masuk masjid, surau, mushallah, dengan niat kita dari rumah untuk shalat berjamaah kemudian sampai masjid, maka kita juga mendapatkan pahala, kalau kita shalat di rumah tidak akan dapat itu
3. I'tikaf di masjid, karena tidak perlu lama i'tikaf Ini, cukup datang ke masjid sebentar dengan niat 'itikaf, maka kitapun mendapatkan pahala, nah kalau di rumah kita tidak akan dapat i'tikaf
4. Kemudian shalat sunnat tahiyatul masjid, nah dapat pahala juga, kalau di rumah tidak ada, adapun kalau kita tak memperbuat shalat tahiyatul masjid, kita sudah dapat pahalanya karena kita sudah datang ke masjid.
Contohnya kita sampai sudah adzan, kemudian kita shalat qobliyah, maka otomatis kita dapat pahala tahiyatul masjid itu.
5. Mendapatkan fadilat tolong-menolong atas taat kepada Allah, contohnya imam dan makmum itu saling tolong menolong dalam ketaatan, makin banyak orang yang datang berjamaah makin banyak mendapatkan fadilatnya, (Wa ta'awanu 'alal birri wattaqwa) nah dengan berjamaah ini kita mendapatkan pahala tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, jadi kalau shalat dirumah kita tidak akan dapati demikian itu
6. Mendapatkan pahala menunggu jamaah, contohnya : kita datang awal, kemudian sambil menunggu jemaah datang Dan menunggu waktu shalat berjamaah di mulai, maka selama kita menunggu itu kita mendapatkan pahala daripada Allah subhanahu wa ta'ala. Namun kalau dirumah kita tidak akan mendapatkan pahala itu
7. Orang yang shalat berjamaah itu mendapatkan istigfarul malaikat artinya malaikat memintakan ampun kepada Allah kepada orang-orang yang shalat berjamaah, jadi kalau sudah malaikat memintakan ampun sudah pasti Allah mengampunkan, kalau kita shalat di rumah tak akan dapat juga prihal demikian ini
8. Mendapatkan kesaksian oleh malaikat artinya di akhirat nanti malaikat akan bersaksi kepada orang-orang yang shalat berjamaah, nah kalau shalat sendiri kita tidak dapat ini juga
9. Selamat daripada gangguan dan godaan syaitan, sehingga orang yang sembahyang seorangan tidak akan mendapatkan Ini.
10. Ada pahala meratakan shaf, nah kita meratakan shaf itu ada pahalanya, jadi kalau shalat sendirian kita tidak dapat pahala demikian itu, karena Baginda Rasulullah sering sekali mendoahkan mereka yang berada di shaf paling depan ini mendapatkan rahmat dari Allah, shalat sendiri tidak dapat itu
11. Mendapatkan fadilat aturan shaf contohnya kita datang kemudian mengisi barisan jamaah, maka hendaknya di isi bahagian kanan terlebih dahulu kemudian di sebeleha kiri
12. Mendapat pahala takbiratul ikhram, contohnya ketika hendak memulai shalat, kemudian kita jadi makmum mendengarkan imam mengangkat takbiratul ikhram, maka makmum mendapatkan pahala tersendiri
13. Mendapatkan keamanan daripada lupa, kebiasannya ataupun kebanyakannya terhindar daripada lupa shalat mengerjakan shalat berjamaah itu
14. Sembahyang berjamaah ini adalah hasilnya khusu', kalau sembahyang sendiri belum tentu, maksudnya ialah kalau kita berada dalam masjid shalat berjamaah, kemudian jumlahnya ada 50 orang, kemudian di antara 50 itu ada 1 orang yang khusu', 49 tidak, maka 1 orang yang khusu'tadi akan memberikan berkah kepada yang lainnya, sehingga menjadi khusu' semuanya, dan di nilai oleh Allah subhanahu wa ta'ala, nah kalau shalat sendiri kita tidak dapat ini
15. Mendapatkan keutaman membaguskan keadaan, maksudnya kalau kita shalat di rumah sendiri biasa aja, tapi kalau kita shalat berjamaah di masjid, semuanya rapi, wangi dan bagus, nah ini mendapatkan pahala juga
16. Kita menghinakan syaitan artinya orang-orang ramai datang ke masjid, syaitan merasa hina, syaitan merasa terkalahkan, jadi sangat mudah mengalahkan syaitan ini, datang aja kita ramai-ramai untuk shalat berjamaah
17. Selamat diri kita daripada sifat munafik, dengan adanya kita shalat berjamaah, InsyaAllah terhindar daripada sifat demikian itu
18. Orang yang shalat berjamaah itu kita mendaparkan fadilat salam imam, contohnya di tahiyat akhir imam mengucapkan Assalamualaikum wa rahmatullah, nah kita dapat pahala ini
19. Menampakkan syiar Islam, nah kita mendapatkan pahala juga
20. Menghilangkan sangkaan buruk orang lain kepada kita, contohnya kita ni selalu shalat di rumah, tak pernah keluar pergi ke masjid, orangpun akan bersangkaan buruk kepada kita, jadi shalat berjamaah ini kita akan membantu oranglain untuk terhindar daripada dosa sangkaan itu, kitapun akan mendapatkan pahalanya
21. Shalat berjamaah itu di saksikan dengan iman dan kebaikan
22. Mengambil manfaat dengan berkumpul, berdzikir, mengingat Allah subhanahu wa ta'ala
23. Saling mengetahui prihal kaum Muslim, artinya berjumpa di masjid, selesai shalat, saling bertanya kabar, bercerita, saling membantu dan lainnya, kitapun akan mendapatkan pahala lagi
24. Mendengarkan bacaan imam, ayat-ayat suci Alquranul karim, doa, dan berdzikir kepada Allah nah mendengarkan bacaan-bacaan itu kita mendapatkan pahala juga, kalau sendirian tak dapat pahala itu kita
25. Mendapatkan pahala mengucapkan aamiin bersama dengan imam, nah bila bersama-sama mengucapkan aamiin Ini maka Allahpun akan mengampuni dosa-dosa kita, dan mendapatkan pahala daripada Allah
26. Sembahyang berjamaah itu artinya menegakkan Sunnah Baginda Rasulullah, dapat juga kita ni pahalanya
27. Meninggalkan orang yang rajin shalat berjamaah adalah dalam keadaan khusnul khatimah, maka jagalah shalat berjamaah kita semoga kita mendapatkan keberkahan daripada pahala daripada Allah, 27 derajat kebaikan itu aamiin ya Allah, aamiin ya rabbal'alaman.
Baginda Rasulullah berkeinginan untuk membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat/tidak shalat berjamaah, maksudnya disini Baginda Rasulullah sangat menegaskan supaya melaksanakan shalat berjamaah, karena fadilatnya, berkahnya itu sangat banyak yang bisa kita dapatkan, semoga kita semua ini nantinya, bagi kaum laki-laki lebih semangat lagi dalam melaksanakan shalat berjamaah
Baginda Rasulullah bersabda: barang siapa shalat isya berjamaah, maka ia bagaikan shalat(Sunah)setengah malam, dan barang siapa shalat subuh berjamaah maka ia bagaikan shalat(sunah)semalam penuh, (hadist riwayat Abu Dawud, tirmidzi)
Sehingga kalau kita sudah melaksanakan shalat berjamaah di kedua waktu tersebut maka kita sudah di anggap menghidupkan semalam penuh dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dan mendapatkan pahala dengan prihal demikian itu. Apatahlagi shalat berjamaah lima waktu
Maka barang siapa yang shalat dengan berjamaah maka ia telah mengisi seluruh anggota tubuhnys dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga dengan demikian itu adalah bentuk keutamaan-keutamaan shalat berjamaah yang di tujuan kepada kaum laki-laki, yang sudah baligh, berakal, merdeka, sehat) karena bagi kaum perempuan tidak ada tuntutan prihal demikian
Sehingga menurut para ahli-fiqih, alangkah baiknya mereka, kaum perempuan itu shalat berjamaah, mendirikan jamaahnya sendiri di rumah masing-masing, contohnya ibunya jadi imam, anak perempuannya menjadi makmum, maka demikianlah menurut hukumnya, karena itu lebih baik.
Keutamaan shalat berjamaah ke masjid di anjurkan dan di tujukan bagi kaum laki-laki yang sudah baligh, berakal dan sehat, manakala untuk perempuan cukup untuk shalat di rumah.
وقال صلى الله عليه وسلم: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً
Rasulullah bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Malik, imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam At-Tirmidzi, imam Ibnu Majah, dan imam An-Nasai dati sahabat Ibnu Umar r.a.
Said bin al-Musayyib
bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi al-Quraisy adalah salah seorang ulama ahli hadits dan ahli fiqih dari Madinah. Said Ibnul musayyib berkata : tidak lah muadzin itu azan sejak 20 tahun lamanya melainkan saya sudah ada di dalam masjid menunggu adzan berkumandang untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah.
Muhammad bin Wasi’
bin Jabir bin Akhnas, seorang imam Rabbani dan parawi hadist, murid dari Annas bin Malik, dan juga sahabat dari imam Hasan al-bashri, Muhammad bin wasi' berkata : saya tidak ingin kepada dunia kecuali kepada 3 hal.
1. Yang pertama ialah ingin mempunyai teman di dunia yang membimbing di jalan Allah, kalau aku salah, maka tegurlah, dan kalau aku benar di jalan Allah maka dukung lah.
2. Yang kedua ialah, mendapatkan makanan pokok dari rezeki yang halal, dan tidak mendatangkan mudarat apalagi menjauhkan diri dari Allah
3. Mengerjakan shalat berjamaah di masjid, mushallah, surau.
Imam Hatim al-asham
Nama asli Abdurrahman hatim bin alwan yang wafat pada 237 H, seorang ulama besar kurasan, yang mendapat julukan Al-Asham (yang tuli). Beliau tidak tuli, akan tetapi pernah berpura-pura tuli karena ingin menjaga kehormatan orang lain. Imam Hatim al-asham berkata : aku pernah terlupa untuk shalat berjamaah di masjid, kemudian abu Ishaq datang kepadaku dan kemudian menghiburku.
Maksudnya menghibur itu adalah mengucapkan takziah kepadaku, dan ucapan bela sungkawa, karena aku terlupa untuk shalat berjamaah padahal setiap kali kita tidak shalat berjamaah tanpa udzur (halangan), maka itu adalah sebuah musibah, karena setiap musibah dunia itu adalah meninggal dunia, dan musibah agama itu adalah tidak shalat berjamaah.
Abdullah Bin Abbas Radhiyallahu 'Anhu
adalah sahabat dan sepupu nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas, Abdullah bin Abbas berkata : barangsiapa yang mendengarkan adzan berkumandang, tapi tidak ingin hatinya untuk shalat berjamaah, dan tidak menginginkan kebaikan atas shalat berjamaah itu maka Allah pun tidak ingin menghendaki orang tersebut menjadi lebih baik.
Abu Hurairah
Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah, adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak, sehingga abu Hurairah berkata : sungguh telinga anak Adam itu di isi dengan timah yang panas lagi mendidih lebih baik daripada mendengarkan adzan kemudian tidak ingin memperkenankannya (tidak shalat berjamaah)
Maimun bin mihram
Berkata ketika sampai ke tempat shalat (masjid), dan tidak di dapatnya orang-orang disana yang ingin menunaikan shalat padahal sudah masuk waktunya, kemudian ia berkata : innalillahi wainnailaihi rojiun, sungguh keutamaan shalat berjamaah ini lebih aku sukai daripada kekuasaan wilayah irak
Baginda Rasulullah
Diriwayatkan dari Anas radiallahu'anhu bahwasanya Baginda Rasulullah bersabda, “Siapa yang melakukan shalat berjamaah niscaya dituliskan untuknya dua pembebasan; bebas (selamat) dari neraka dan bebas dari sifat munafik
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka
Maka demikianlah gambarannya, semoga kita semua bisa memahami daripada setiap makna perkataan, dan lebih takut lagi kita kepada Allah, bersemangat untuk mendirikan shalat secara berjamaah, dengan baik dan benar-benar penuh rasa kehambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala, semoga kita ini nantinya di jauhkan oleh Allah dari segala penyakit baik itu dzohir maupun bathin Aamiin ya Allah
Dan di katakan Bahwasanya pada hari kiamat nanti suatu kaum akan di kumpulkan di mana wajah mereka seperti bintang yang gemerlap, lalu malaikat bertanya kepada mereka, apakah amal-amal kalian mereka menjawab, kami apabila mendengar adzan, kami berdiri bangkit untuk bersuci, Dan kami tidak di sibukkan dengan urusan-urusan yang lainnya.
Artinya bilang mendengarkan adzan berkumandang, langsung mengambil wudhu, untuk mendatangi sembahyang berjamaah.
Kemudian lagi di kumpulkan sekelompok orang yang wajah mereka seperti bulan, Mereka menjawab, kami sudah bersiap, berwudhu sebelum masuknya waktu shalat, dan kami menunggu waktu shalat itu/sebelum adzan berkumandang, sudah siap-siap untuk shalat berjamaah
Kemudian lagi di kumpulkan sekelompok orang yang wajah mereka seperti matahari, lalu mereka menjawab, kami sudah ada di masjid, sebelum masuknya waktu/sebelum adzan berkumandang, sudah ada di masjid untuk menunggu shalat berjamaah
Dan kemudian di riwayatkan oleh para ulama-ulama salaf, ulama-ulama yang terdahulu itu, mereka mengucapkan takziah, bela-sungkawa, artinya turut berduka cita kepada diri mereka sendiri selama tiga hari, apabila mereka ketinggalan takbiratul ihram imam, dan mereka bersedih selama tujuh hari apabila mereka ketinggal shalat berjamaah.
Nah demikianlah tuntutkan shalat berjamaah bagi kaum laki-laki, kalau perempuan lebih baik berjamaah dirumah, lalu andaikata kaum perempuan tidak ada jamaah dirumah, tidak ada kawannya di rumah, atau tidak bisa jadi imam, atau tidak ada makmumnya, karena sendirian, kemudian mana lebih baik apakah shalat sendirian, atau shalat berjamaah ke masjid
maka pendapat para ulama akan menjelaskan prihal itu demikian perinciannya :
1. Kalau perempuan itu sudah berumur tua, contohnya seperti 60tahun ke atas umurnya, tidak di intai oleh orang lagi, maka boleh shalat berjamaah di masjid, karena demikian itu lebih baik daripada shalat sendiri
Akan tetapi kalau perempuan Ini masih muda, contohnya punya keadaan-keadaan yang bisa menggoda laki-laki, maka lebih baik shalat di rumah, daripada datang ke masjid berjamaah, walaupun shalat sendirian dirumah itu lebih baik, karena demikian itu hukum fiqihnya
Karena sembahyang dirumah untuk perempuan-perempuan yang masih muda, akan mendapatkan banyak pahalanya, tapi kalau perempuan yang masih muda ini, yang punya keadaan-keadaan yang demikian itu, masih saja mahu shalat berjamaah di masjid maka salah tempatnya untuk mencari pahala, artinya dapat pahala, tapi lebih baiknya shalat dirumah untuk mendapatkan lebih banyak pahala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar