Hanya kepada engkau kami menyembah, hanya kepada engkau kami beribadah, hanya kepada engkau kami mengabdi, hanya kepada engkau kami taat dan patuh,
( wa Iyya Kanas ta'in) dan Hanya kepada engkau kami meminta pertolongan, pertolongan dalam melaksanakan ibadah dan segala hal lainnya
Iyyakana'budu ) hanya kepada engkau kami beribadah, mengabdi, ibadah itu menurut pendapat sebahagian ulama artinya ( alkiyyamu fil fi'lil madhlub sar'aa) melaksanakan dengan melakukan sesuatu yang di tuntut pada sarak, melaksanakan apa yang di tuntut oleh sarak itu namanya ibadah, demikian yang di sebutkan di dalam kitab sirajud Thalibin.
Contohnya kita sembahyang berarti kita ibadah, kita membaca Alquran berarti kita ibadah, kita puasa berarti kita melakukan ibadah, ( alkiyyamu fil fi'lil madhlub sar'aa )
Hanya kepada engkau ya Allah kami menyembah, kami beribadah, dan hanya kepada engkau ya Allah minta tolong terutama dalam hal ibadah tersebut, karena ibadah itu begitu sulit dan rumit, maka sangat di perlukan bantuan, pertolongan daripada Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga ada 4 hal yang bersangkutan dengan ibadah :
1. Shehatul ibadah : sah nya ibadah
2. Qabulul ibadah : di terimanya ibadah itu
3. Qasratul ibadah wama mudawatuha ilal maut : banyaknya ibadah dan berkekalannya itu ibadah sampai mati
Karena firman Allah subhanahu wa ta'ala
4. Dan yang ke 4 memelihara ibadah yang ada dan jangan sampai di gugurkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala
A. Sahnya ibadah, di terimanya ibadah, banyak dan rutinnya ibadah, dan amannya ibadah daripada gugur daripada di hapuskan, nah jadi empat perkara itulah yang berkaitan dengan ibadah yang nama kita sangat memerlukan membutuhkan pertolongan daripada Allah subhanahu wa ta'ala ( wa iyyaka nasta'in)
1. Shehatul ibadah
Ibadah itu di katakan sah, shehatul ibadah yang pertama di ketahui sahnya ibadah itu ilmu, kalau kita tidak punya ilmu ibadah kita tidak sah, walaupun ibadah kita itu pas dengan yang sah, ( Al 'ilmu bil fardiyatil ibadah, Al 'ilmu bi kayfiyatil ibadah, ) ilmu dengan kefarduan ibadah, atau ilmu dengan cara ibadah, itu merupakan pokok yang pertama agar ibadah itu sah
A. Pertama ilmu tauhid, ilmu yang mengetahui siapa yang kita sembah, ilmu yang mengetahui siapa yang kita ibadati, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
( Kholilul 'amal Yam fa'uu ma'a 'ilmi Billah, wa kashiru 'amal, Laa yam fa'uu mahel jahli Billah ) sedikit amal cuma kita tahu dengan Allah, banyak amal tapi kita jahil dengan Allah maka tidak ada manfaatnya, sehingga ilmu tauhid yang pertama perlu kita ketahui
B. kemudian yang kedua ilmu fiqih, ilmu cara-caranya, kalau kita lihat kitab-kitab fiqih, mulai yang rendah sampai yang tinggi, mulai yang kecil sampai yang besar, misalnya wdhu, syarat sah wudhu apa ( Al 'ilmu bil fardiyatih wa kafiyyatih ) tahu dengan cara-cara nya tahu dengan kefarduan, sarat sah nya sembahyang apa? Mengetahui kefarduannya, tahu dengan cara-caranya, syarat sah puasa, zakat, dan semuaan ibadah itu syarat sahnya adalah ilmu, jadi kalau kita hendak beribadah kepada Allah musti kita menuntut ilmu
Nah apa hukumnya kita menuntut ilmu? Tergantung ibadah yang ingin kita lakukan, contohnya kalau ibadah yang kita lakukan sunnat, maka hukumnya sunnat menuntut ilmunya, ibadah yang Wajib yang ingin kita lakukan maka wajib pula hukumnya menuntut ilmu kita mengetahui caranya, jadi ( shehatul ibadah) sahnya ibadah itu yang pertama adalah ber ilmu
Contohnya orang yang pergi haji tidak ber ilmu, maka tidak sah hajinya, apapun ibadah musti dasarnya adalah 'ilim, ilmu
Pengarang kitab matan azzubah mengatakan
( Fakulu man bi ghoirin ''ilmin yakmalu... 'akmaluhu mardhudatun laa tuqbalu, syarahnya mengatakan laa tashihhuu) tiap tiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amalannya di tolak, la tashihhuu maksudnya di tolak, tidak sah, ( di kitab matan azzubah, mawahibus Shomad Syarah zubad) nah demikian ilmu adalah dasar pertama dalam ibadah
Kemudian yang ke 2 qabulul ibadah
Di terimanya ibadah, karena setiap ibadah belum tentu di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala, mangkanya ibadah ini sangat sulit, makanya kita sangat perlu pertolongan Allah, ( iyyakanakbudu, wa iyyakanasta'in) qabululnya ibadah, di terimanya ibadah, nah seperti ibadah kita ini ada harapan di terima oleh Allah, nah ini perlu juga kita belajar, kita ketahui : bagaimana caranya ibadah kita ini di terima oleh Allah supaya menjadi bekal kita nanti di akhirat nanti :
al-Imam Al-Ghazali mengatakan di dalam kitab ihya Ulumiddin, ( adalah at-taubah ) bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, kenapa sebabnya ibadah kita di terima ketika kita sebelumnya bertaubat kepada Allah? Karena ujar Baginda Rasulullah ( 'atta'it Habibullah) orang yang bertaubat kepada Allah itu kekasih nya, kalau sudah menjadi kekasih maka pasti di terima ibadahnya, begitupun sebaliknya ( orang yang mengekali dosanya, orang yang tidak mahu tobat daripada dosanya adalah Murka Allah, nah kalau orang yang sedang mendapat murka Allah, maka jelas sudah sulit ibadahnya di terima
Nah jadi bertaubat kepada Allah merupakan asas, pondasi (asasuttarik) pondasi kita untuk menuju jalan Allah dengan bertaubat, contohnya kalau mulut kita ni masih suka mengucap yang haram kemudian kita tidak mahu bertaubat kepada Allah maka ibadah kita selanjutnya tidak akan di terima oleh Allah, adapun lagi seluruh anggota tubuh badan kita yang kita gunakan untuk melakukan maksiat-maksiat kepada Allah lalu beribadah beribadah kepada Allah tanpa mau bertaubat kepada Allah terlebih dahulu, maka tidak di perkenankan oleh Allah .
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquran
Allah hanya menerima amal ibadah bagi orang-orang yang takwa kepada Allah, jadi sangat penting untuk kita selalu bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas segala macam dosa dosa anggota tubuh badan kita ni
Jadi, kalau kita hendak memahaminya kenapa sebelum sembahyang kita di suruh mengambil air wudhu, nah itu bukan hanya mensucikan secara dzohirnya sahaja daripada Hadas, dan di kehendaki kepada kita seluruh anggota tubuh badan kita inu suci juga daripada dosa-dosa, nah kalau kita ni sudah mengerti itu kemudian kita bawa sembahyang, maka shalat kita akan di perkenankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, maka jangan anggap enteng prihal taubat ini, karena bertaubat kepada Allah sangat membantu amal ibadah kita di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Contohnya selama kita ni masih suka menggibah orang, kita tidak bertaubat, maka ibadah kita terhenti di langit pertama demikian bunyi hadist tafsir serta terjemahannya daripada sahabat Muaz bin Jabal, aku ni menggibah orang, kemudian tidak mau tobat lalu ku bawa sembahyang kepada Allah maka ibadahku terhenti di langit pertama, tertolak, sehingga musti kita bertaubat terlebih dahulu kepada Allah subhanahu wa ta'ala baru mengerjakan ibadah
3. Qasratul ibadah wama mudawatuha ilal maut :
Ibadah itu di perlukan banyak, sehingga dengan itu ada harapan kita mendapatkan rida Allah, memperbanyak ibadah dan kemudian Istiqomah mengekalkan ibadah itu (Ilal maut) sampai kita mati, sehingga ini yang sangat menjadi masalah bagi kita, untuk bisa memperbanyak ibadah kemudian merutinkan, intiqomah dalam mengerjakan ibadah itu sampai kita mati
Nah, seperti apa caranya ibadah itu bisa rutin? Seperti selalu rajin membaca Alquran dan lain sebagainya, karena ibadah yang paling rutin, Istiqomah di jalankan itu yang di sukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala
( 'ahabbul 'akmal illallah adwamuha wa inn Kolla ) Allah sangat suka ibadah yang kekal walaupun sedikit, tapi Istiqomah selalu di kerjaan, dan alangkah baiknya ibadah itu banyak dan rutin di kerjakan
Nah bagaimana caranya supaya banyak beribadah dan bisa Istiqomah, rutin di kerjakan, maka para ulama ulama ahli suluk memberikan jalan jalannya :
1. Attajarrud aniddunya ( menyisihkan diri daripada dunia, selama kita masih sibuk kita mengurusi dunia, selama kita masih sibuk mengurusi dunia, mengurusi perdagangan, mengurusi pekerjaan, mengurusi hp, mengurusi macam macam hal dunia selama itu kita tidak akan bisa banyak beribadah dan tidak akan bisa rutin, contohnya kita ni hendak membaca surah tabarok tiap malam, nah musti kita fokuskan pada waktu malam itu tidak ada lagi mengurusi dunia hanya fokus di jam sekian sekian aku hendak membaca surah tabarok ataupun di lanjutkan lagi tiap malam membaca surah Yasin
Nah kalau orang yang tidak mah7 mengurusi waktunya untuk ibadah, hanya di urusi waktunya untuk prihal dunia, prihal pekerjaan, perdagangan, dan macam macam lainnya maka tidak akan bisa rutin mengerjakan ibadah itu pasti ada aja yang di pikirannya sehingga ia tidak bisa melakukan ibadah itu dengan rutin
Sehingga halau hendak ibadah itu bisa di lakukan secara rutin ( Attajarrud aniddunya) menyisihkan waktu daripada dunia yang membuatkan kita lupa dan lalai untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, jadi dunia ini bukan hanya mengganggu ibadah kita bahkan dunia ini bisa justru membuatkan kita kepada hal hal yang di murkai Allah subhanahu wa ta'ala
Contohnya: banyak orang yang tidak sembahyang karena sibuk dengan usahanya atau urusannya, dan banyak orang yang meninggal shalat berjamaah terkhusus laki-laki karena sibuk dengan urusan dagangan dan lain-lainnya semuaan itu sebabnya dunia yang menghambat ibadah dan rutinnya ibadah itu
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
( Man ahabba Dunya adorro Bi 'akhirotih -- waman 'ahabba 'akhirotah 'adorro bi Dunya ) orang orang yang cinta dunia akan mengganggu akhirnya dan orang orang yang cinta akhiratnya akan mengganggu dunianya
Nah yang mana kita pilih? Baginda Rasulullah pun menyambung itu hadist ( fa 'asiru ma yabqo 'ala ma yafna) pilih yang abadi tinggalkan yang fana )
Artinya apabila urusan kita ini berbentur dengan urusan akhirat, nah mana yang kita pilih, contohnya ku tutup toko kemudian aku pergi sembahyang berjamaah karena ini sudah maju masuk waktu sholat, atau ku buka toko dan aku melayani orang yang hendak membeli tapi aku tidak bisa shalat berjamaah ke masjid, nah bila macam ini terjadi pada kita, mana yang kita pilih, maka Baginda Rasulullah mengatakan ( fa 'asiru ma yabqo 'ala ma yafna) pilih yang abadi tinggalkan yang fana ) jadi kalau orang yang hendak hidupnya selamat maka musti mendengar nasihat daripada Rasulullah, bila mana orang tidak mau mendengarkan Rasulullah hidupnya tidak akan selamat
Rasulullah menyatakan lagi dalam suatu hadits:
( Laa ta'tiyannakum bakdi Dunya 'imanakun kama takkulunnar krothob ) selagi datang kepada kalian dunia yang memakan iman kamu seperti yang memakannya api akan kayu bayar yang kering artinya apa, nanti kita akan bertemu pada suatu masa Rasulullah mengabarkan ( ikhbar bil muuroyyabat ) Rasulullah mengabarkan kepada kita hal hal yang akan datang, yang goib, akan datang suatu masa ujar nabi dunia itu memakan iman, kita tidak akan mendapat duit dengan cara yang haram, kita tidak akan mendapatkan rezeki kalau tidak maksiat, tidak akan menjadi pejabat kalau tidak berbuat dosa, kita tidak akan mendapatkan pekerjaan kalau tidak curang dan lain sebagainya
Sehingga dunia kita dapat harus dengan melalui dosa, nah itu ujar Rasulullah akan ada masanya nanti kita akan mendapatkannya suatu masa itu datang kepada kita, sehingga orang orang jujur tidak akan mendapatkan apa apa dan orang orang yang suka melakukan perbuatan doa akan di puji dan di sanjung, nah ini adalah kabar daripada Rasulullah akan ada masa seperti itu yang akan kalian jumpai
maka musti kita ingatkan kepada diri kita, ( fa 'asiru ma yabqo 'ala ma yafna) pilih yang abadi tinggalkan yang fana ) sehingga kalau kita hendak melakukan ibadah secara rutin dan Istiqomah musti kita sisihkan dunia yang mengganggu kita ketika hendak beribadah kepada Allah, menyiapkan waktu waktunya serta mengasingkan diri, menjauhkan diri daripada mengurusi prihal dunia, insyaallah barulah kita bisa fokus untuk melaksanakan ibadah kita secara rutin setiap harinya
Maka sudah seharusnya kita sisihkan waktu kita yang di dunia ini untuk bisa fokus beribadah kepada Allah, jadi dunia ni tak semuanya jahat ada yang baik juga yang mendukung kita sehingga itu yang musti kita ambil yang musti kita jaga, manakala kita musti tinggalkan dunia yang selama ini mangganggu ibadah kita, menyisihkan diri daripada dunia ini adalah merupakan suatu hal yang sulit mangkanya kita perlu ( iyyakanasta'in) hanya kepada engkau yang Rabb kami meminta pertolongan
Yang kedua
Agar ibadah kita itu bisa banyak dan rutin di samping kita menyisihkan dunia dan kita juga menyisihkan makhluk-makhluk Allah subhanahu wa ta'ala, bila orang ini banyak ber isi kenalan, bila orang ini banyak ber isi kawan, orang ini suka bergaul maka di khawatirkan di bisa beribadah dan rutinnya itu ibadah, contohnya kita menggibah orang sebab kita bergaul, kita ria sebab kita bergaul, kita sombong mungkin dengan sebab kita bergaul, nah bila kita banyak bergaul banyak kenalan, hari ini ada undangan disana, hari ini ada acara disini, jam ini, jam ini sibuk tiap hari maka tidak lagi ada waktunya untuk ibadah dengan rutin itu bahkan kadang tertinggal tinggal sangkin sibuknya mengurusi dunia
Kenapa sebabnya itu ? Kebanyakan kenalan, kebanyakan kawan, maka tidak lagi bisa membuatkan kita banyak beribadah otomatis ibadah itupun tidak bisa rutin, jadi manusia manusia yang tidak menguntungkan ibadah kita di tinggalkan apalagi manusia-manusia kawan-kawan kita yang mengarahkan kepada maksiat lebih lebih lagi itu musti di tinggalkan,
imam Syafi'i berkata :
( Kasratul 'intibad tazlibu 'ikwanasshu wa kasratu 'intibad thurisul 'adawah fakun baina zalik )
Kalau hidup kita ini terlalu terbuka, artinya siapa aja hendak berkawan boleh, siapa aja hendak di turuti di patuhi di kenali kita akan mengundang kawan kawan jahat kepada diri kita, tapi kalau kita terlalu tertutup akan menimbulkan permusuhan, kebencian, fakun baina zalik, jadilah engkau di tengah tengah itu, artinya di tengah tengah itu apa, kita kenalan kenalan, berkawan selama itu membawa kita kepada taat dengan Allah dengan kemudian kita jauhi kenalan kawan bila itu membuatkan lalai kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka itulah cara supaya ibadah itu bisa banyak dan rutin maka sisihkan diri kita daripada makhluk-makhluk yang tidak membuatkan diri kita dekat kepada Allah,
Yang ke tiga
Yang menyebabkan kita ini sulit beribadah banyak dan beribadah rutin ialah syaitan, Karna syaitan sudah berjanji akan selalu menggoda mengarahkan manusia kepada jalan yang sesat, itu Alquran yang menjelaskan demikian, nah seperti apa caranya
( muharabbatussyaitan ) memerangi syaitan, maka para ulama suluk mengatakan ( bil 'ilim wattaqwa ) dengan ilmu dan takwa, syaitan selalu menggoda kita, apa godaan syaitan kepada kita yang pertama? ( Ukfur) kafir engkau, nah maksudnya syaitan ini tidak langsung menyuruh kita menjadi orang kafir, cuman dia akan menyesatkan sehingga gaya hidup dan tingkah laku kita ni seperti orang orang kafir, pakaian kita kyk orang kafir, design rumah kita kayak orang kafir, kebiasaan kita sehari-hari kyk orang kafir, semuaan kyk orang kafir,
Nah itu syaitan yang pertama mengajak kita (ukfur) kamu harus kafir, nah kita menjawab itu dengan ilmu,
Agama itu yang di ridai Allah hanya satu yakni Islam, jadi syaitan ketika mengajak kita kepada kafir maka insyaallah tidak bisa karena kita sudah yakin bahwa agama yang di ridoi oleh Allah adalah Islam
Apakah syaitan berhenti menggoda kita kalau kita sudah yakin dengan hal itu? Maka syaitan tetap akan menggoda kita, sehingga ujar syaitan kalau engkau tidak mau kafir ( laa takmal) jangan ber amal, buat apa engkau beribadah, buat apa engkau ber amal shaleh, maka kalau kita berilmu, maka ilmu kita akan menjawab wahai syaitan ( inna Li rabba ) aku punya Allah , yang menciptakan aku yang memberikan selalu rezeki kepadaku yang memberikan perlindungan kepadaku, sehingga wajib atasku untuk beribadah kepada Allah, wajib aku taati, karena itu adalah syukur atas segala nikmat yang sudah Allah berikan kepadaku
Nah sehingga bisikian bisikan syaitan itu bisa kita lawan dengan 'ilmu dan takwa, nah sesudah kita rajin beribadah, rajin ber amal, apakah syaitan berhenti menggoda kita ? Tidak berhenti, ujar syaitan kalau engkau hendak beribadah juga ( shawwufil 'amal) biasa biasa aja, contohnya kita ni masih muda, nah syaitan ni membisikkan di hati kita, nanti aja kalau sudah umur sekian sekian taubat, nanti aja masih mudah ini, tak apa, nanti nanti aja dulu taubatnya dan lain sebagainya, nah kalau kita ada ilmu, maka ilmu kitapun akan menjawab umur ini kita tidak tahu, bisa aja pendak bisa aja panjang umur, jadi setiap hari, jam, detik musti kita manfaatkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena umur tu tak ada yang tahu, maka itu jawaban kita kepada syaitan
Nah apakah sudah sampai disitu syaitan berhenti menggoda kita? Tidak maka syaitan pun akan mengatakan segeralah beribadah, cepat, sehingga menyebabkan kita tergesa-gesa tidak lagi adanya tumakninah, nah kalau kita ada ilmu maka ilmu kitapun menjawab yang tergesa-gesa itu datang daripada engkau syaitan dan yang tenang, perlahan, tumakninah itu datang daripada Allah subhanahu wa ta'ala,
Nah apakah samlai disitu syaitan berhenti menggoda kita? Tidak ia akan mengatakan kepada kita, berbisik di hati kita, engkau adalah orang yang baik, engkau adalah orang yang bagus yang sempurna di dunia ini, engkau ini orang yang di cintai Allah, taatmu, ilmumu, ibadadmu dan lain sebagainya, maka kalau kita mendapatkan bisikan seperti ini kalau kita punya ilmu maka kita pun terus minta ampun serta pertolongan kepada Allah supaya terhindar hati daripada segala macam penyakit seperti sombong, riya', takabbur dan lainnya, maka demikian itu lah gambarannya untuk memerangi syaitan musti ada ilmu dan takwa kepada Allah
Dan yang terakhir
Yang menghambat ibadah kita itu banyak dan rutin ialah nafsu, karena nafsu kita ni tak suka yang susah-susah, tak suka yang demikian itu, apalagi tengah malam bangun untuk shalat itu nafsu paling tidak setuju, karena nafsu yang dipikirkannya hanya kepentingan dan kelezatan hidupnya pada saat tu, nah untuk melawan nafsu itu ujar para ulama Ahli suluk mengatakan
( biriyadhotin nafsu ) dengan melatih diri untuk melawan nafsu, nah seperti apa cara melatih diri untuk melawan nafsu? ( BI hanlin nafsih 'ala massyhakkoh ) dengan memaksa diri dengan melakukan hal hal yang sulit, dengan memaksakan diri dengan melakukan hal hal yang tidak di sukai nafsu, nah bila kita paksa nafsu akan kalah dengan sendirinya,
Sehingga 4 perkara itu lah yang membuatkan kita terkendala untuk mengerjakan ibadah secara rutin,
1. Dunia
2. Makhluk
3. Syaitan
4. Nafsu
Bila sudah kita bisa menyisihkan ke 4 hal tersebut, maka kita bisa beribadah dengan banyak dan rutin, nah selanjutkan lagi yang di jaga adalah ibadah yang sudah banyak tadi, ibadah yang sudah rutin tadi jangan sampai gugur, jangan sampai terhapus gara-gara perbuatan kita
Nah apa yang menyebabkan ibadah kita itu jatuh, gugur, yang pertama (riddah) murtad, begitu ia murtad maka berguguran lah amal ibadahnya itu, nauzubillah min zalik, yang ke dua, ria, nah maksud ria disini adalah menggunakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada makhluk Allah, tujuannya ibadah untuk mengambil posisinya supaya dekat dengan orang di dunia, menggunakan ibadah untuk dipuji di sanjung, menggunakan ibadah supaya dikasihani orang
Kemudian yang ke tiga ujub merasa bisa beramal karena kepandaian, kemampuan, kesanggupan, kecerdikan diri sendiri sehingga lupa kepada Allah, lupa bahwa itu adalah nikmat dan anugerah daripada Allah,
Yang ke 4, yang menggugurkan amal apa? ('annadamah) menyesal ia mengerjakan ibadah, ntah itu amal, sedekah, atau membantu orang dan lain sebagainya
Yang ke 5
Yang menggugurkan amal ialah
( Almannu wal'aja)
Jika ibadah kita berupa sosial kepada masyarakat dan gugur pahalanya bila mana kita melakukan ( almannu wal'aja) menyebut-nyebut pemberian itu, mengungkit-ungkit pemberian itu sehingga di khawatirkan sampai menyakiti hati orang yang di beri itu itu menyebabkan ibadah kita itu di gugurkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, mangkanya ibadah itu di letakkan disini berkaitan dengan (iyyakanakbudu wa iyyakanasta'in) hanya kepada engkau kami beribadah dan hanya kepada engkau kami meminta pertolongan agar ibadah ini bisa sah, ibadah ini bisa di terima, ibadah ini bisa banyak, ibadah ini bisa rutin, Istiqomah sampai hari kiamat nanti
( Iyyakana'buduwa Iyya Kanas ta'in )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar