Surah Al-Baqarah ini madaniyyun, madaniyyatun, artinya di turunkan sesudah Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah, ( ayatuha mi'asthani wa stab'ul wa sthamanu ayah) ayatnya surat Al-Baqarah ini 287 ayat, paling panjang surah di antara surah surah Al-Qur'an itu ayatnya 287
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda
( Latazi'alu buyutakum quburo,fa'innal baytal ladzi tukrouu fihi suratul baqoroh, laa yadrhuluhussyaiton, rowahu muslim) jangan kamu jadikan rumah kamu itu kubur sesungguhnya rumah yang di bacakan padanya surah Al-Baqarah tidak akan masuk kerumah itu syaitan,
hantu termasuk jenis syaitan juga, hantu hantu yang mengganggu termasuk syaitan juga, jadi alangkah baiknya rumah itu rajin di bacakan surat Al-Baqarah supaya jinnya, syaitannya tidak ada yang masuk, ( yadrhuluhussyaiton ) tidak masuk kerumah itu syaitan
Al-Baqarah itu artinya adalah seekor sapi betina, kenapa surah ini dinamakan surah Al-Baqarah seekor sapi betina? Karena di dalam surat ini ada menyebutkan tentang kisah nabi Musa alayhissalam dengan seekor sapi betina itu, jadi untuk mengingatkan kembali kepada kita yang terjadi pada jaman nabi Musa tentang seekor sapi betina maka surat ini di namai dengan nama itu albaroqoh
Di sebutkan di dalam tafsir Alquran dari berbagai macam tafsir di waktu nabi Musa alayhissalam memimpin Bani Israil, ada terjadi pembunuhan, pembunuhan seorang saudagar yang tidak di ketahui pembunuhnya siapa, akhirnya terjadilah percekcokan, pertengkaran, tuduh menuduh, lalu mereka datang kepada nabi Musa minta petunjuk, wahai nabi Musa seperti apa kita mengatasi persoalan ini, ada seseorang yang mati namun pembunuhnya tidak di ketahui, kemudian nabi musa minta Wahyu kepada Allah, maka akhirnya Allah menurunkan Wahyu kepada nabi Musa alayhissalam
kata Allah suruh mereka itu wahai Musa membeli seekor sapi, nah di sampaikan lah Wahyu daripada Allah, ujar nabi Musa wahai Bani Israil menyeruh kalian menyembelih seekor sapi, nah apa hubungannya orang mati yang tidak dapat siapa yang membunuhnya dengan sapi? Lalu ujar Bani Israil ( kolu attakrizuna hujuwa ) wahai Musa apakah engkau ini mengolok-olok kami, ( kola auzubilla an akuna minajjahilin ) aku berlindung daripada Allah daripada orang yang mengolok-olok itu, artinya aku tidak mengolok-olok kalian, mengejek kalian
Lalu mereka akhirnya percaya, mereka bertanya kepada nabi Musa, wahai Musa itu sapi, apakah sapi anak, atau sapi tua, padahal ujar nabi kita, Rasulullah bersabda andaikata mereka mereka itu menyembeleh seekor sapi cukup aja, cuma mereka ini orang Bani Israil, orang yang dikenal keras dan cerewatnya, sapi anak kah, atau sapi tau kah wahai Musa
Padahal perintahnya daripada Allah cukup sapi sahaja, sapi ni kan umum aja, cuman karena mereka ini bertanya sapi anak kah atau sapi yang tua, turun lagi Wahyu wahai Musa sampaikan kepada mereka sapi itu tua tidak anak tidak, mereka bertanya lagi kepada nabi Musa, sapi itu warnanya apa? Musa bertanya lagi kepada Allah, turun Wahyu ujar Musa, wahai Bani Israil Allah mewahyukan kepadaku sapi nya itu warnanya yang kucing sebiji, nah ini jarang sapi yang ada warna ini, biasanya kan coklat, putih warnanya, ini kuning yang jelas nampak warnany
Kemudian di tanya lagi wahai Musa, apakah sapi itu sapi ternak kah atau sapi pekerja kah, kan ada yang bawa gerobak, ada sapi yang membajak sawah, nah turun lagi Wahyu kepada nabi Musa, Allah mewahyukan lagi sapi itu sapi yang bukan pekerja, sapi ternak, nah akhirnya mereka mencari keseluruhan pesuluk kota tidak ketemu, sapi yang tidak tua, yang tidak kecil, sapi yang warna kucing sebijian ini, dan sapi ternak
Akhirnya di suatu pelosok kampung ada seorang pemuda, pemuda ini di kenal taat kepada Allah dan bakti kepada kedua orang tuanya, nah pemuda ini kerjaannya sehari sehari mencari kayu, apabila mana kayu itu di jual hasilnya di baginya tiga, satu untuknya, SE/3 untuk ibunya, SE/3nya untuk di sedekahkannya, kalau malam hari pemuda ini, SE/3 malam di gunakannya untuk berbakti kepada ibunya, SE/3 malam dia tidur, SE/3 malam ia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ini pemuda tadi dapat warisan dari ayahnya, hanya seekor sapi yang kuning warnanya persis seperti yang di tunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Nah laki-laki ini yang bakti yang Sholeh ini, mendapatkan ilham daripada Allah melalui malaikat, artinya sapi kamu ini jangan di jual, kecuali harganya itu sepenuh kulitnya emas, sehingga orang Bani Israil ini ingin menghindari permusuhan, perkelahian lalu mereka membeli itu sapi tadi seberat emas, kemudian petunjuk Allah sapi itu di sembelih dan ambil bagian daripada tubuh sapi itu lalu pukulkan kepada orang yang mati itu, dan orang yang mati itu pun hidup, lalu ia berkata yang membunuh aku Fulan bin Fulan
Maka merekapun menyembeli sapi, kemudian mengambil bagian daripada tubuh sapi itu, lalu di pukul kan di lisan orang yang mati tadi, lalu orang mati itu berkata ( khatalani Fulan bin Fulan) kemudian mati lagi orangnya itu, baru di kubur, nah hilanglah fitnah-fitnah antara Bani Israil, karena sudah jelas siapa pelaku pembunuhannya si Fulan bin Fulan tadi, nah itu lah ceritanya kenapa surah ini di namakan surah Al-Baqarah seekor sapi ..
Surah Al-Baqarah yang pertama ayatnya
Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang:
Bermacam-macam ulama yang mengartikan aliflammim itu, orang orang ahli tasawuf mengartikan Alif lam mim itu ( A nya Allah, Lam nya Lillah, mim nya Minallah) jadi artinya kalau kita hendak beramal ibadah itu kita meyakini bahwa kita bisa beribadah itu Minallah, dari Allah, dan amal kita itu Lillah karena Allah, maka Allah akan menerima amal ibadah itu ( Alif lam mim)
Ada lagi yang mengartikan Alif itu Allah, lam itu Jibril, mim itu Muhammad, shallallahu alaihi wasallam, nah itu pendapat pendapat para ulama, namun yang paling kuat daripada segala macam pendapat itu adalah Alif lam mim, ( Allahu 'aklam bi murodihi Bi dzalik) Hanya Allah yang tahu maksudnya apa itu Alif lam mim tadi
Kemudian ayat yang kedua :
( Jalikal kitabu : itu Alquran, laa roybafihi : tidak di ragukan padanya, Alquran tidak di ragukan padanya, ujar ulama tafsir menafsirkan ('annahu min 'indillah) Qur'an itu dari Allah bukan daripada manusia, bukan pula dari Rasulullah, karena Qur'an itu langsung daripada Allah subhanahu wa ta'ala.
Nah orang orang qurays mereka meragukan Alquran itu dari Allah, dan mereka juga mengatakan Qur'an itu adalah bikinannya Rasulullah, Qur'an itu bikinan manusia, bukan dari Allah, lalu Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat :
kata Allah jikalau kalian ragu ragu terhadap Qur'an yang kami turunkan atas hamba kami Muhammad itu, kalau Kamu ragu ragu itu dari Allah, maka coba buatan, olahkan, 1 surah saja macam Alquran, nah yang pintar pintar kaum Qurais, ahli ahlinya, coba buatan yang sama seperti Alquran itu, yang kalian katakan Alquran itu buatan manusia, coba buatan yang sama kyk Alquran ini
Mereka tidak bisa menirukan Alquran, kenapa? Karena Alquran ini menceritakan berbagai macam cerita dan merupakan sumber dari berbagai ilmu, Qur'an cerita surga, neraka, Padang Mahsyar, Qur'an cerita kisah kisah masa lalu, mulai nabi Adam, Nuh, dan seterusnya, bahkan Alquran menceritakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa yang akan terjadi, nah siapa manusia yang bisa menirukan membuat Alquran?
Contohnya
alquran mengatakan, bangsa Romawi di kalahkan oleh bangsa Persia, tetapi nantinya, bangsa rum akan mengalahkan Persia, sehingga jarak antara turun Wahyu itu dari kejadian tersebutlah 7 tahun, nah 7 tahun setelah itu Romawi membalas mengalahkan Persia, maka Alquran menceritakan kejadian yang akan terjadi? Siapa yang bisa mengolah itu?Tidak lah sanggup manusia bisa membuat demikian, kecual allah subhanahu wa ta'ala
( Maka kata Allah tadi, wad'u syuhada 'akum mindunollah, 'ingkuntum shodikin) jadi jelas, tidak ragu ragu sedikitpun bahwa Alquran adalah min'indillah, dari Allah subhanahu wa ta'ala,
kemudian di lanjutkan lagi ayatnya ( hudallilmuttaqin) Alquran adalah petunjuk bagi orang orang yang takwa, orang orang yang takwa ini lebih khusus daripada orang orang yang ber iman, karena setiap orang yang beriman belum tentu ia takwa, tapi setiap orang yang takwa sudah pasti ber iman, sehingga ada istilahnya, (mukmin 'ashi) orang beriman yang beriman yang makasiat, tapi kalau orang yang bertakwa tidak melakukan perbuatan maksiat, kalau ia maksiat maka tidak takwa namanya,
Artinya banyak orang yang beriman itu tidak menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, tapi kalau orang yang takwa pedoman hidupnya, petunjuk hidup hanya Alquran, ( hudallilmuttaqin) petunjuk bagi orang orang yang takwa
Jadi apabila kita ni selaku orang yang sudah beriman, kemudian hendak menjadi orang yang bertakwa, maka tidak ada jalan lain selain daripada menjadikan Alquran sebagai petunjuk dan pedoman hidup kita dalam kehidupan ini, dan Alquran mencukupi apa yang kita perlukan, petunjuk apa yang kita cari dalam Al-Qur'an itu ada, contohnya pedagang, dagang apa yang baik, di Alquran ada, usaha, usaha apa yang cocok, dalam alquran ada, semuaan kejadian yang kita perlukan ada di dalam Alquran
Allah berfirman di dalam Alquran : surah Al an'am 38
Tidak lah kami alphakan, kami tinggalkan di dalam Al-Qur'an itu sedikit pun, sedikit juapun, tidak kami tinggalkan, artinya cukup apa yang kita butuhkan,
namun kalau kita tidak tahu : surah alanbiya ayat 7
bertanyalah kepada yang tahu, sehingga semuanya yang kita perlukan ada di dalam Al-Qur'an, kalau kita hendak menjadi orang yang takwa kepada Allah,
Kita ambil contoh petunjuk Alquran kalau kita hendak jadi orang takwa :
1. Masalah makan dan minum, kebutuhan kita sehari sehari, Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada kita kalau kita ingin menjadi orang yang takwa : surah al'araf ayat 31
Artinya apa, kata Allah silahkan makan, silahkan minum, tapi ada syaratnya: (wala tusripuu) jangan melampaui batas ( innahu laa yuhibbul musripin) Allah tidak suka orang yang melampaui batas
Nah melampaui batas ini dua maksudnya : pertama melampaui yang halal, mengarah kepada yang haram, artinya makan, jangan sampai yang haram di makan, minum jangan sampai yang haram di minum, yang kedua jangan sampai melampaui batas memakan yang halal, makanannya halal tapi melampaui batas itu pun Allah tidak suka, orang yang makan di atas kenyang nah itu Allah tidak suka, Contohnya kita ni masih kenyang hendak makan pula lagi, nah itu Allah tidak suka melampaui batas,
Lukmanul hakim berwasiat kepada anaknya,(ya bunayya) wahai anakku ujar Lukmanul hakim, andaikata perut engkau masih kenyang dan kamu masih ada punya makanan, lebih baik kamu berikan kepada haiwan peliharaanmu, daripada kamu makan makanan itu karena takut rusaknya
Contohnya ada makanan ini, perut kita kenyang, maka lebih baik di berikan, walaupun kepada haiwan peliharaan, daripada kita memakannya dalam keadaan kenyang karena itu melampaui batas,
(Innahu laa yuhibbul musripin) nah itu adalah pedoman Alquran
Kita tu boleh makan sekenyang-kenyangnya, ada dua syaratnya: 1. yang pertama kita menjadi tuan rumah, ada tamu datang lalu kita sediakan makanan, nah boleh kita bertambah makan, bertujuan untuk mengenyangkan tamu, supaya tamu ini makan bersemangat, tamu ini makan bergairah, jadi kitapun bertambah makan, jangan kita ni menyuruh orang tambah, kita tidak tambah, nah ini tidak cocok, jadi kalau kita ni tuan rumah seperti demikian itu
Yang kedua :
Atau kita ni menjadi tamu, kalau di suruh tuan rumah kita tambah, kitapun tambah, di suruh nya lagi tambah, kitapun tambah, hahah, memuliakan tuan rumah, Allah tidak mencela itu, karena itu tidak termasuk ( musripin) yang melampaui batas, Sehingga itulah pedoman, petunjuk Alquran urusan makan dan minum, jangan melampaui batas kepada yang haram atau makan di atas kenyang
Kita ambil contoh lagi pakaian, khususnya perempuan Al-Qur'an menerangkan:
wahai nabi kata Allah, katakan terhadap istri istri engkau, anak anak engkau, dan perempuan-perempuan yang beriman kepada Allah, hendaklah mereka itu mengenakan jilbabnya ketika keluar rumah, atau menghadapi laki laki yang bukan mahram, ini aturan Alquran kepada perempuan dalam hal cara berpakaian bila mana keluar rumah, atau dalam rumah yang sedang menghadapi yang bukan mahram
Jadi perempuan-perempuan yang beriman yang hendak naik tingkatan menjadi orang yang takwa dalam hal berpakaian Allah memberi pelajaran supaya menutup aurat pada tubuh supaya tidak terlihat lekuk tubuhnya dan mengenakan jilbab
Contohnya lagi seperti perhiasan, nah seperti apa manusia menggunakan perhiasan, berhias, berindah indah, itu di sukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala, bahkan nabi kita kalau musyafir, Rasulullah tidak akan lupa membawa celak mata, itu tandanya apa nabi kita suka berhias, cuma Alquran membatasi dalam berhias itu
berbias itu boleh aja, tapi jangan sampai merubah ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala, jangan sampai kita berhias, kita memperindah diri tapi merubah ciptaan Allah, dapat laknat kita dari Allah dan rasulnya, contohnya rambut di kasi keriting hendak di lurusi, rambut lurus hendak di keritingi, gigi yang tidak rata di kikir menjadi rata, khususnya perempuan punya alis di kening di Alus alusi, di tipisi, nah ini akan mendapatkan laknat daripada Rasulullah ( la 'anna Rasulullah, 'anna mishod wa tanammishod aw kamakolar rasul ) Rasulullah melaknat perempuan perempuan yang mengukir keningnya, apalagi alisnya itu di gundul, di lukis ulangnya pula pakai spidol, makin menjadi-jadi kalau ini, itu perempuan perempuan tidak tahu diri, tidak tahu malu, tidak malu kepada Allah, tidak malu kepada manusia
Sehingga alis pemberian Allah jangan di rubah rubah, ada adanya saja, itu lah sudah, karena itu tidak termasuk kita di suruh menghiasinya, nah jadi kita boleh saja berhias asalkan tidak merubah ciptaan Allah,
kalau kita merubah ciptaan Allah karena untuk hajat, nah ini boleh, di maklumi Allah dan rasulnya, umpamanya, mohon maaf, orang yang di lahirkan dalam keadaan sumbing, lalu ia operasi, di bagus kannya itu, nah itu tidakpapa, karena itu hajat, itu untuk keperluannya dan tidak termasuk hal yang di larang, lain hal macam yang tadi, demikian lah Alquran menjelaskan tentang berhias, boleh kita berhias asalkan tidak merubah daripada ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala
Kemudian lagi petunjuk petunjuk daripada Alquran tentang nikah, tentang kawin, Alquran mengatakan pada surah Al-Baqarah ayat 221
Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada orang yang beriman yang ingin takwa kepada Allah, yang ingin tergolong Muttaqin, yang hendak mencari pasangan hidup itu maka sungguh lebih baik memilih budak hamba sahaya yang beriman kepada Allah, itu lebih baik daripada perempuan yang memiliki segala-galanya tetapi dia tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Dan kemudian laki-laki yang beriman kepada Allah, walaupun dia budak, walaupun dia hamba sahaya, walaupun dia pembantu akan tetapi kalau dia beriman kepada Allah maka itu lebih baik daripada memilih laki-laki yang punya segala-galanya tapi tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala, nah ini petunjuk daripada alquran
Jadi dalam memilih pasangan hidup itu artinya apa, alquran memberikan petunjuk kepada kita kalau hendak memilih yang pertama adalah iman terlebih dahulu, apakah dianya beriman kepada Allah atau tidak, oh beriman, kalau orang nya itu tidak punya harta insyaallah akan Allah mudahkan, Allah datangkan rezeki, sehingga kalau hendak memilih pasangan maka pilih yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ururan harta, urusan keturunan, urusan cantik dan ketampanan itu nomor sekian yang utama ialah iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Jangan berani mengatakan bahwa urusan iman nanti aja, bisa di ajarkan, wah itu sangat sulit, sangat payah, mendidik diri sendiri saja sangat susah apalagi hendak mendidik orang lain, maka pilih lah iman terdahulu, ini nasihat daripada Al-Qur'an
Kemudian lagi dalam urusan berumah tangga, orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam urusan rumah tangga, nah contohnya seperti apa kedudukan istri, seperti apa kedudukan suami yang hendak bertakwa kepada Allah, ini musti kita belajar juga, Alquranul Karim menjelaskan di dalam surah Al-Baqarah ayat 228 :
Perempuan ada punya hak pada suami, suami ada punya hak pada istri, masing masing ada punya hak, tapi Allah melanjutkan ( wa lirrizali 'alayhinna darozah) cuma untuk laki-laki lebih 1 tingkat daripada istri,
Nah haknya istri kepada suami apa? Meminta nafkah, minta perlindungan, minta pendidikan, minta keamanan, itu perempuan berhak menuntut kepada suaminya, dan suamipun berhak menuntut kepada istrinya untuk taat dan patuh hormat kepada suami, sehingga masihg masing punya hak, bila suami istri ini taat, takwa kepada Allah, insyaallah rumah tangga itu akan nyaman dan tentram, kenapa? Karena berpedoman kepada Alquranul Karim
Oke sekarang andaikata istri kita jadi masalah, istri menampakkan hal-hal yang tidak baik, maka laki-laki yang takwa kepada Allah seperti apa menanggapi sikap terhadap istri yang seperti ini, maka Alquranul Karim menjelaskan pada surah an-nisa ayat 34
alquran mengatakan bahwa perempuan-perempuan yang sudah jelas menampakkan durhakanya, kurang menghormati kepada suami, bersuara lebih banyak, tinggi nada bicaranya kepada suami, ini petunjuk gelagat istri yang durhaka, sehingga apa yang musti suami lakukan, maka bagaimana suami yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala menghadapi hal ini, yang pertama adalah tugas suami ( fa 'izu hunna ) berikan dia nasihat, aku berikan kamu nasihat, ga boleh seperti itu, aku ni ngomong baik-baik, aku ini suami kamu, walaupun aku ni orang miskin, tapi aku ni suami kamu, wajib kamu hormat sama aku, bukan aku yang minta hormati, Allah ta'ata yang menyuruh, istri itu hendaknya hormat kepada suami, nah yang pertama adalah memberikan nasihat kepada istri
Kalau sudah di nasihati tidak mahu, ( wahzuru hunna fil madhazi'') jangan tidur sekamar sama istri, maskudnya pas hendak tidur beda kamar, jangan pula dia tidur di kamar kita tidur di luar, nah, tidak bisa juga, tidak mempan juga, istri tetap seperti itu, menampakkan durhakanya kepada suami maka di lanjutkan ayatnya ( waddribu hunna) pukul mereka, nah pakai apa memukulnya? Jangan pula pukul pakai kayu, mati nanti anak orang, ( waddribu hunna ) pukul mereka, ujar ulama tafsir mengatakan, pukul mereka dengan sapu tangan contohnya, pakai handuk, ini memukul bukan hendak menyakiti, tetapi hanya memberikan isyarat bahwa kita ni sangat marah kepadanya, karena di nasihati tak mempan, pisah tidur pun tak mahu berubah juga, baru kita pukul dengan sapu tangan menandakan kita sedang marah kepadanya
Nah sehingga kalau tidak mempan juga di pukul, baru lah kita berpikir tentang bagaimana cara dan solusinya ini, sehingga proses menuju talaq itu sangat jauh, tidak sembarang-sembarangan talaq, sangat jauh proses menuju talaq itu
Nah di lanjutkan lagi ayat, ( fa'in a'toknakum ) jika istri ini sudah taat lagi kepada kalian, ( fala tab'u 'alayhinna Sabila ) maka kita tidak berhak lagi untuk memarahinya, maka demikian lah aturan-aturan daripada Al-Qur'an kepada orang orang yang hendak takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, di dalam hal perselisihan rumah tangga
Nah gantian, yang jadi masalahnya sekarang ini suaminya, istrinya baik, suaminya pulak yang tidak baik, sehingga suami ini menimbulkan sifat yang tidak di sukai oleh istri, membuatkan istrinya tidak suka, membuatkan istrinya marah, dan tidak mencintai lagi suami, maka Alquranul Karim memberikan jalan keluar yang baik, parah surah Al-Baqarah ayat 229
Kalau perempuan ini sudah melihat gelagat bahwa dianya tidak lagi mahu mencintai suaminya, tidak mahu hormat lagi kepada suaminya, tidak sayang lagi kepada suaminya, karena alasan-alasan yang membuatkan ia melakukan demikian maka perempuan punya hak mengusulkan kepada walinya, atau kepada hakimnya untuk minta cerai, dan mengganti kembali, dalam istilah fiqih, khuluq namanya
Karena ulah daripada suami, baik akhlaknya baik sifatnya, baik tanggungjawab yang tidak diberikannya kepada istri, yang mana itu menyebabkan istri tidak lagi sayang, tidak lagi suka, tidak lagi menghormati suaminya, maka ia boleh mengusulkan kepada itu, dan jika hakim memutuskan maka laki-laki musti menceraikan, istilahnya tebus sayang namanya, ganti mahar, berapa dulu maharnya, maka balikkan, nah itu lah aturan-aturan daripada Islam
Dahulu pernah kejadian di zaman Rasulullah, seorang perempuan yang bernama zalimah binti Abdullah, dan punya suami bernama sabit bin qois, zamilah datang kepada rasul, wahai Rasulullah, aku tidak lagi hendak mencintai suamiku ini, Bukan karena perangainya, ianya baik, bukan karena agamanya, agamanya baik, jadi apa sebabnya? Cuman suamiku ini kalau berkumpul, nongkrong sama kawannya, orangnya ni paling Girang sekali, jadi sebab itu aku tidak lagi cinta kepadanya
Maka Baginda Rasulullah memanggil sabit bin qois, kata nabi wahai sabit, istri kamu tadi datang kepadaku dan menceritakan kisah engkau, maka sabitpun berkata kalau macam itu aku wahai Rasulullah siap aja menceraikan cuman ganti kerugian, akhirnya di ganti maka jadi lah khuluq istilah kita di dalam Islam, menjadi jalan keluarnya untuk para perempuan
Nah , lain halnya kalau istri ini meminta cerai kepada suaminya karena terpikat oleh laki-laki lain, maka itu haram mencium bau syurga, dia ni sudah punya suami, kemudian terpikat hatinya kepada laki-laki lain, kemudian karena itu hendak meminta cerai kepada suaminya, maka ini perempuan ( fa 'arapun 'alayha rohilatun Jannah) haram atasnya bau bauan syuga
Maka apapun yang kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam rumah tangga, makan, minum, pakaian, dan dalam kehidupan kita bermasyarakat, Alquran sudah secara jelas nampak memberikan petunjuk kepada kita, bila mana kita ingin menjadi orang yang beriman, dan menjadi orang yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka itulah maksud daripada
petunjuk bagi orang orang yang takwa, sehingga kalau ada masalah kembali kepada Al-Qur'an, maka Alquran akan memberikan jalan keluar, akan memberikan solusi yang paling baik,
Contohnya lagi di dalam pergaulan masyarakat, Alquran memberikan petunjuk kepada kita, pada surah alhujarat ayat 11
Dalam kehidupan bermasyarakat, Al-Qur'an memberikan petunjuk, hai orang yang beriman, jangan lah mengolok-olok, merendahkan suatu kaum dengan kaum yang lain, janganlah merendahkan satu kaum dengan kaum yang lain, dan jangan lah perempuan yang satu merendahkan kepada perempuan yang lain, barangkali yang direndahkan itu lebih baik daripada yang merendahkan, kata Alquran, dan janganlah kamu mencela antara kamu, dan janganlah kamu saling panggil panggil dengan gelar, dengan julukan yang orang itu tidak Rida dengannya, kecuali gelar itu di senangi oleh orang yang di gelar,
Ini Alquran langsung mengatakan ( wala tanabaju bil alqob ) jangan berpanggil panggilan dengan gelar yang orang tidak suka dengan itu
Kemudian di lanjutkan lagi ayatnya surah alhujarat ayat 12
jangan suka buruk sangka kepada orang lain, kepada kawan, kepada sebelah rumah, kepada siapapun juga, karena itu buruk sangka adalah dosa, contohnya kawan kita ni baru beli mobil, nah jangan hendak kita buruk sangka, alah itu dia banyak gaya aja, jangan seharusnya kita doakan, Alhamdulillah kawanku itu berikan rezeki oleh Allah, maka demikian lah Alquran memberikan nasihat, memberikan pelajaran kepada kita dalam kehidupan bermasyarakat,
( Wala tazassashuu ) dan jangan hedak mencari tahu, menelitinya, mencari-cari kesalahannya, contohnya, aduh, kawan ku tadi baru beli mobil, ni harus ku cari tau ini duitnya daripada mana, jangan jangan dia ni baru menang berjudi, kenapa kita berani melakukan demikian,
( Wala tazassashuu ) jangan hendak mencari-cari kesalahan orang, nah kalau hendak menjadi masyarakat yang takwa kepada Allah maka jangan buruk sangka kepada orang lain, dan jangan lupa mencari-cari kesalahan orang lain, nah itu baru menjadi orang yang takwa kepada Allah dalam kehidupan bermasyarakat
dan jangan pula hendak menggibah orang, jadi Alquranul Karim memberikan pelajaran kepada kita, semuanya di atur di dalam Alquran, supaya apa? Supaya semua orang yang beriman kepada Allah bisa menjadi orang orang yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Insyaallah di lain kesempatan akan di lanjutkan kembali, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar