Ayat ke 2 daripada surah Al-Baqarah
( Zalikal kitabula raybafih )
Itu alquran tidak di ragukan padanya bahwa dia daripada Allah, ( hudallilmuttaqin) dan Alquran itu petunjuk bagi orang-orang yang takwa, orang-orang yang takwa kepada Allah mereka mejadikan alquran sebagai pedoman hidupnya, dan orang-orang yang beriman kalau ingin menjadi orang-orang yang takwa kepada Allah maka musti alquran itu di jadikan pedoman hidupnya
Pada kesempatan sebelumnya, Alquran memberikan petunjuk kepada kita tentang makan, minum, berpakaian, berhias, kawin, rumah tangga, pergaulan di masyarakat dan lain sebagainya, dan alquran pun pula memberikan petunjuk bagi mereka-mereka yang bertakwa kepada Allah, bagaimana cara mencari penghidupan di alam dunia ini, salah satu petunjuk Alquran kepada orang-orang yang beriman yang ingin bertakwa kepada Allah, bagaimana mencari penghidupan di dalam dunia ini
Salah satunya Alquran memberikan petunjuk : Al-Baqarah ayat 275
Disini Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman yang ingin bertakwa kepada Allah, bagaimana mencari sumber penghidupan atau rezeki, Allah memberikan petunjuk ( wa a hallaallahu bai'a wa harramarriba') Allah telah menghalalkan jual beli, ( wa harramarriba') Allah mengharamkan riba, jadi jual beli atau perniagaan, perdagangan, salah satu pentunjuk Allah kepada orang-orang yang beriman yang ingin bertakwa untuk mencari sumber penghidupan atau rezeki itu, dan Allah melarang keras mencari rezeki dengan cara riba, ( wa harramarriba')
( Yamhakullahurriba' wayurbisshodakod) Allah akan menghancurkan riba itu, Allah akan menghilangkan berkah daripada rezeki yang di dapatkan daripada riba itu, ( wayurbisshodakod) dan Allah akan mengembangkan, menyuburkan sadakoh, ayat ini jelas memberikan petunjuk kepada kita bahwa riba itu tidak menguntungkan bahkan sebaliknya riba itu menghancurkan, Allah maha benar firman-nya ( Yamhakullahurriba) Allah akan menghancurkan riba
Jadi kalau kita berusaha mencari rezeki, dengan jalan riba pasti akan bangkrut usaha kita, pasti ada hutang, itu sudah jaminan Allah, kalau ada orang yang riba tapi rezekinya luas, kalau ada orang yang riba tapi hidupnya makmur, itu merupakan ( istizzrajun Minallah ) Allah biar saja hal itu terjadi yang tidak lain adalah agar dia nanti di akhirat Sempurna mendapatkan siksanya, itu petunjuk Allah agar kita menjauhkan riba
Nah ada berapa macam riba? Oleh ulama fiqih di sebutkan ada 4 macam jenis riba itu
1. Ribal Fadhli
( Bi'ayyazida 'iwado yin ) dengan artiannya bahwa lebih daripada salah satu gantinya, adanya tambahan diantara satunya, ini khusus tentang barang atau benda-benda Ribawi, benda-benda yang mengandung riba, seperti makanan, buah-buahan, emas dan perak, termasuk air, itu barang dan benda yang mengandung Ribawi, artinya kalau kita bermu'amalah, berjual beli dengan barang-barang tersebut, maka berhati-hatilah karena demikian itu mengandung benda-benda Ribawi,
Nah rival Fadhli ini umpamanya kita punya beras 10 kilo, kemudian kawan kita punya berat 8 kilo, kemudian kita tukarkan, nah ini riba karena salah satu di antaranya ada yang lebih, emaspun seperti itu, perak pun seperti itu, uang, buah-buahan, kacang, jagung, anggur dan lain semacamnya pun seperti itu juga,
2. Riba nasa'i
( Bi'ayyu atzila 'ahaddal 'iwadhoyyin ) dengan bahwa dia penimpukkan salah satu dua gantinya, contohnya kawan kita punya berat 10kg, kita bilang sama dia aku hendak menukarkan berasku 10 kilo dengan engkau punya beras, kemudian pada saat pertukaran kita ambil berasnya, kemudian kita bilang aku tempo dulu nanti aku kasi engkau beras ku 20 kilo itu, sehingga kita menunda waktu pertukaran dalam waktu yang tidak tentu, maka itu disebut riba nasa'i
3. Riba yadh
( Bi 'ayyufharika qoblal qabdi ) dengan bahwa dia perpisahan sebelum serah terima, nah jadi ini barangku, beras sekian sekian, dan engkaupun punya beras sekian sekian, sama, tapi belum lagi serah terima sudah di tinggalkan, nah itu namanya riba juga, riba yadhi namanya, sehingga barang-barang nya itu musti yang mengandung barang Ribawi, macam makanan, buah-buahan, emas, perak, air.
Nah lain kalau baju, itu tidak mengandung unsur ribawi, contoh semisal, kita punya 1 lembar baju, kawan kita punya 2, nah kemudian kita tukarkan itu tidak apa-apa, atau pun juga barang-barang bangunan, itu tidak apa-apa, Karena itu tidak mengansur ribawi,
4. Ribal qordhi ( riba hutang) ini yang banyak kita lakukan
( Kullu qhordin, zarra manfa'tan lil mukrib ) tiap-tiap hutang yang ada manfaat bagi yang mengutangi, termasuk bunga, itu ada manfaat bagi yang menghutangi, contohnya, kita meghutangi orang 1 juta rupiah, kemudian kendaraannya kita pakai hari-hari, karena mungkin sebagai jaminan, jadi kitapun pakai kendaraan itu, karena kita ni memberikan hutang kepadanya, itu riba, kita mengambil manfaat karena kita menghutangi kepada orang tersebut, nah itu ribal qhordi
Sehingga peraktek-peraktk riba seperti ini Allah menyatakan di dalam Alquran ( yamhakullahurriba') Alla menghancurkan riba itu, tidak akan ada harapan untung berusaha, tidak ada harapan untuk meningkatkan usaha, bila ada orang yang melakukan riba demikian kemudian usahanya lancar, usahanya makmur, usahanya meningkatkan maka itu adalah ( istizzrajun Minallah)
tanda-tanda daripada Allah, supaya apa, supaya nanti di akhirat akan mendapatkan siksa yang sempurna, yang lebih banyak lagi daripada apa yang dia lakukan di dunia
Nah,
allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba
Kemudian perdagangan atau jual beli, Islam atau alquran memberikan petunjuk kepada kita macam apa jual beli itu yang benar, macam apa jual beli itu yang di ridai Allah, macam apa jual beli itu yang membawa kita masuk ke dalam syurga, alquran memberikan kita petunjuk
orang-orang yang tidak di lalaikan oleh perdagangannya daripada mengingat Allah, orang-orang yang tidak di lalaikan oleh usahanya daripada undangan-undangan peraturan Allah, orang-orang yang berusaha namun tidak terlewatkan daripada mengerjakan sembahyang, zakat dan ibadah lainnya,
nah jadi artinya dalam berbisnis, dalam berusaha itu di perlukan, satu, perjual ini Rida dan yang membeli ini pun Rida, Allah selalu saksi serta pengatur pun akan Rida, artinya tidak meninggalkan tanggungjawab kita sebagai hamba untuk beribadah kepada Allah, maka kalau tiga-tiganya Rida maka usaha, bisnis yang kita jalankan itu sesuai dengan ( Huda ) petunjuk daripada Alquran, Alhamdulillah
Perdagangan, usaha, jual beli jangan sampai membuat kita berani melanggar hukum Allah, jangan sampai lalai sembahyang fardhu, zakat, puasa dan sebagainya, sehingga kita berdagang, berusaha, jual beli, yang tujuannya mencari untung, jangan sampai kita berani mengorbankan agama, mengorbankan hukum Allah, jangan asal untungnya aja, sampai kita lupa kepada Allah
Kadang banyak orang berusaha, banyak mendapatkan keuntungan, tapi di akhir Allah tidak senang, Allah tidak Rida, apa sebabnya? Karena lalai akan tanggungjawabnya, dan melanggar hukum daripada Allah subhanahu wa ta'ala
Adapun Salah satu contoh jual beli yang tidak di ridai Allah itu semacam kita ni hendak membeli buah yang ada di pohon punya orang, semisalnya pohon rambutan, masih lagi hijau di pohon, belum masak artinya, kemudian datang kita, berapa itu harganya buat sepohon itu, biar ku bayar semuanya, ujar yang punya pohon oh itu sekian ratus ribu, oke terjadilah transaksi jual-beli
Nah kalau macam itu boleh, asalkan pada saat itu langsung di putik semuaan buahnya, jangan kita tunggu sampai buahnya itu masak dulu baru kita putik nah itu Allah tidak Rida, itu melanggar peraturan daripada Allah subhanahu wa ta'ala
Nah coba kalau buah yang di pohon itu sudah masak, kemudian kita beli semuaan buah itu, boleh kita ambil tempo beberapa Minggu lagi nanti aku datang untuk memetiknya, demikianlah hukum daripada Allah subhanahu wa ta'ala dan petunjuk daripada Alquran
Sehingga kalau kita mau membeli buah yang masih mentah di pohon itu boleh, tapi syaratnya langsung di ambil jangan bertempo seminggu, dua Minggu, apalagi sampai menunggu buahnya menjadi masak, itu curang namanya, karena itu lah pentunjuk daripada Alquran ( serta dzikirillah) hukum-hukum daripada Allah
Dan lagi Alquran memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berusaha ini melalui peringatan-peringatannya,
Alquran mengancam neraka, neraka wail, bagi orang-orang yang mutaffifin, mutaffifin ni apa? Orang yang bila mana menukar, atau membeli ia minta di sempurnakaan timbangannya, tapi kalau dirinya menjual kepada orang lain, dirinya mengurangi timbangan atau takarannya, nah ini mutaffifin, dia ni kalau beli beras sama orang, sangat teliti, sedikit aja kurang minta tambahi, takut aja di kurangi orang berasnya, tapi kalau dianya menjual, mengurangi takaran, atau tinbangan, atau ukurannya, nah inilah cara-cara perdagangan yang tidak sesuai daripada petunjuk Alquran,
Sehingga Alquran mengancam dengan neraka
Maka demikian lah Alquran memberikan kita petunjuk untuk mencari kehidupan di dunia ini dengan cara jual beli yang baik, kemudian Alquran memberikan petunjuk juga kepada para ilmuan, para ulama, agar mereka itu menjadi orang yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, petunjuk Alquran jelas, di dalam surah Al-Baqarah ayat 44
apakah kalian menyuruh manusia berbuat baik, tapi kalian melupakan diri kalian, kalian membaca kitab, apakah kalian tidak berakal? Nah ini peringatan Allah kepada para ulama, para orang-orang yang dakwah, mubalighin, yang menyuruh manusia berbuat baik, jangan sampai melupakan diri sendiri untuk berbuat kebaikan, kadang-kadang kita membacakan dakwah, ceramah, hadist Rasulullah dan lain sebagainya
Contohnya: sembahyang witir itu 11 rakat, itu sangat baik, di sampaikan kepada orang, tapi dirinya sendiri tidak pernah shalat witir 11 rakaat, adapun lagi, sembahyang Dhuha itu paling banyak 8 rakaat, dan fhadilatnya hafal dia, untuk ini, ini, ini, tapi dirinya sendiri tidak pernah melaksanakan ataupun mengamalkan shalat sunnat Dhuha 8 rakaat,
Nah ini di tentang oleh Alquran jangan sampai demikian, karena Al-Qur'an sudah memberikan petunjuk
Cerita tentang hadist Rasulullah, menyampaikan tentang keutamaan-keutamaan sodakah, bagaimana keutamaan berwakaf, bagaimana fadhilatnya orang yang menyumbangkan hartanya di jalan Allah, membantu orang lain, menolong fakir miskin, nah tapi diri sendirinya itu belum pernah melakukan seperti itu, ini hanya bisa mengajak orang berbuat kebaikan tapi melupakan dirinya sendiri
Maka Alquran pun memberikan arahan kepada para ulama, semisal ulama itu, ada ulama yang pemurah, adapula ulama yang pelit itu sangat nampak, bisa kita membedakannya, dan ulama itu kalau berbuat sedekah harus terang-terangan, jangan sembunyi-sembunyi, kenapa demikian ?
1. Supaya di ikut orang banyak
2. Menghindari prasangka orang kalau Diani ulama yang pelit,
Jadi kalau ada ulama yang tidak pernah ada orang dengar Diani bersedekah, wakaf, dan lain sebagainya maka di khawatirkan orang akan berprasangka buruk kepadanya mengatakan ianya ulamanya pelit, tidak ada istilah untuk para panutan agama kalau hendak bersedekah itu sembunyi-sembunyi, karena kalau untuk para ulama lebih baik terbuka, agar menghilangkan sangka-sangkaan buruk kepadanya dan juga bisa menjadi contoh supaya di tiru oleh orang banyak, itulah manfaatnya
Apapun bentuk ibadah kalau itu sebagai panutan maka itu lebih baik terbuka, lain halnya untuk orang-orang umum, orang-orang awam macam kita ni, kalau bersedekah hendaknya sembunyi karena itu lebih baik bagi kita,
firman Allah subhanahu wa ta'ala, Allah sangat murka, Allah sangat marah, kemarahan yang besar di sisi Allah, bahwa kalian itu mengata sesuatu yang tidak kalian perbuat, nah ini lah petunjuk bagi para ilmuan, para ulama, untuk para da'i mubalighin, agar mereka jangan terlepas daripada petunjuk Alquran itu
Dan Alquran juga memberikan petunjuk bagi para-para penguasa, bagi para pejabat, yang mengurusi manusia, yang mengurusi rakyat, agar mereka ini menjadi seorang penguasa yang takwa, agar mereka ini menadi seorang pejabat yang takwa, yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, maka Alquran memberikan pelajaran kepada mereka, memberikan petunjuk kepada mereka, apa kata Alquran.
Sempurnakan, tepatilah, janji-janji kamu, karena demikian itu akan di mintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir, nah saudara-saudara kita, kawan-kawan kita, Nang jadi DPR, yang jadi presiden, kampanye janjinya macam apa, yang jadi bupati, gubernur yang janji-janji mereka itu macam apa ( innal 'ahda Kana mas ula ) nanti di hadapan Allah, Allah akan minta pertanggungjawaban atas janji-janji itu, jadi kasian sebenarnya saudara-saudara kita, kawan-kawan kita yang menjabat itu, apabila Mereka tidak bisa menunaikan janji-janjinya itu maka akan berat kelak mempertanggungjawabkan di akhirat kelak
Saydina Umar sewaktu menjadi Khalifah, beliau berkata, andaikata seekor haiwan mati kelaparan di negeri yang ku pimpin ini, maka aku takut, tanggungjawab ku kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala, saydina Umar sangat Taku kalau-kalau ada haiwan yang kelaparan di negeriku ini sewaktu beliau menjadi Khalifah, apalagi manusia yang kelaparan
Sehingga Alquran ini menjadi petunjuk supaya para pejabat atau orang-orang yang bekerja dalam ranah mengurus masyarakat supaya bisa mendapatkan kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan hendak benar-benar menjalankan hukum-hukum Allah, maka ikutilah petunjuk yang sudah di berikan oleh Alquran, karena kalau mereka itu baik dalam menjalankan tugasnya maka sungguh melimpah rahmat dan kebaikan akan datang kepada mereka, besar pahalanya bagi mereka yang taat itu, manakala apabila mereka malakukan perbuatan yang curang maka sangat amat besar pula ganjaran dosanya, jadi hati-hati kalau orang yang hendak menjadi pejabat ini
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
( Innakum tsha tahrisuna alal imarah waTakuna damah yaunal kiyamah ) kamu ujar nabi ingin memegang jabatan itu, ingin memegang kekuasaan, tapi berhati-hati , jika engkau tidak amanah, di akhirat kelak engkau akan menyesal, sungguh, pasti kalian akan menyesal
( Wa aufu bil 'ahdi ) maka sempurnakanlah janji dengan rakyat pada waktu kampanye dulu, janji yang sudah bersumpah Alquran di atas kepala, wah ini tidak main-main, alquran ini, nah demikian itu lah,
( innal 'ahda Kana mas ula )
Allah menyuruh kalian siapa saja, yang di beriman amanah, baik itu amanah kepada Allah, ataupun amanah kepada manusia, termasuk para Umara, para pemimpin, memerintahkan kepada kalian bahwa hendaknya menyampaikan itu amanat kepada rakyat, duit-duit rakyat, duit-duit yang ada pada negara itu adalah amanat daripada rakyat, harta-harta yang di ambil daripada negara ini adalah merupakan harta kepunyaannya rakyat nah itu amanat rakyat, kalau kalian tidak menyampaikan kepada rakyat, maka mereka itu sudah jelas menentang Alquran, menentang petunjuk Alquran, nah orang yang hendak menentang Alquran maka neraka tempatnya, tapi kalau kita ikuti petunjuk Alquran maka Alquran ini akan menuntun kita untuk mendapatkan rida daripada Allah subhanahu wa ta'ala dan menuntun kita ke syurga
Dan lagi, bila mana kamu menghukumkan, memberikan satu keputusan kepada manusia, maka berilah kelutusan yang adil, yang sesuai pada tempatnya, nah itulah petunjuk daripada Alquran, sehingga tidak ada alasan lagi bagi para penguasa, mereka yang jadi ulama, mereka yang di berikan amanat itu, tidak ada alasan lagi kekurangan petunjuk, karena Alquran sudah jelas memberikan pedoman kepada kita semua, seperti apa menjadi penguasa yang baik, seperti apa jadi ulama yang baik, seperti apa jadi pengusaha yang baik, seperti apa jadi orang yang takwa kepada Allah, semua itu sudah ada di dalam Alquran, yang datang daripada Allah subhanahu wa ta'ala
Baginda Rasulullah mengatakan dalam sebuah hadist yang artinya : setiap orang yang menjabat satu jabatan, maka kelak di pasang Mahsyar tangannya akan di borgol, apabila ianya adil, borgolnya akan terlepas, bilamana ianya tidak adil, maka akan terbiarlah keadaannya seperti itu, demikian lah peringatan daripada nabi kepada kita yang menjabat suatu jabatan untuk kemaslahatan ummat
Maka untuk menjadi orang yang takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada jalan lain selain menjadikan Alquran sebagai petunjuk, sebagai pedoman hidup dalam berbagai macam keadaan kita dan Alquran lun telah siap memberikan bimbingan kepada kita, dan di dalam Alquran 100 kali Allah memberikan tentang takwa, dan tujuan Alquran ini untuk mengajak manusia menjadi orang yang takwa, sehingga apa keuntungannya kita menjadi orang yang takwa itu?
Semisal kalau kita takwa apa ganjarannya, namun kalau kita tidak takwa apa juga balasannya? Maka Alquran pun menjelaskan keuntungan orang-orang yang takwa dan Allah di dalam Alquran pun sudah sangat banyak menyuruh kita untuk bertakwa kepada Allah,
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan bantu dia, dan berikan dia jalan keluar daripada setiap kesulitan, dan Allah berikan dia rezeki daripada yang tidak terduga-duga, artinya apa, orang yang tidak itu insyaAllah hidupnya tidak akan sulit, dan orang yang takwa itu hidupnya akan selalu penuh mendapatkan rezeki dari Allah yang tidak terkira-kira datangnya, nah demikianlah ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa itu
Kemudian lagi firman Allah subhanahu wa ta'ala: surah Al-Baqarah 282
Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan Allah akan mengajarkan kepada kalian apa-apa yang mengandung kebaikan bagi urusan dunia dan akhirat kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, maka tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuannya
Dan firman Allah lagi yang paling utama ialah : surah almaidah,
Allah hanya menerima amal ibadah orang yang takwa kepada Allah, nah bilamana kita tidak takwa ibadah kita di khawatirkan tidak akan di terima oleh Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga ini sangat penting untuk kita
Nah coba kita ambil contoh laki-laki yang memakai emas, kemudian di bawanya sembahyang, maka sudah jelas shalatnya itu tidak di terima Allah, oke lah di masukkannya emas itu di kantong celana kemudian iapun shalat, nah ini saja aja, mengolok-olok peraturan Allah, karena selesai shalat ia berniat hendak memakai lagi emas itu
Lagi contohnya lagi, saudara-saudara kita orang-orang yang mewarnai rambutnya, lalu kemudian di bawanya sembahyang, macam mana Allah mahu menerima shalatnya, karena ini orang tidak suka pemberian Allah, kalau pun rambut kita ni beruban, nah itu boleh aja di warnai selain daripada warna hitam, atau warna-warna yang terang, semisal rambut kita ni sudah putih, ubanan, nah itu boleh warnai, nah inipun ada syaratnya, ubannya macam apa banyak bnyak? Menurut para ulama kalau di hitung atau di lihat lebih banyak putihnya, lebih banyak ubannya itu daripada rambut nah maka boleh di warnai, contoh itu macam pak Hattarajasa, Mentri perhubungan, nah itu boleh kalau hendak di warnai
Tapi kalau orang yang rambutnya baik, kemudian di warna-warnainnya, ini orang yang tidak bisa berterima kasih kepada Allah, sama aja juga seperti perempuan yang mengukir-ukir alis keningnya itu, nah kasian keluarga kita, kawan kita, anak kita nanti yang macam ini, kita wajib memberi tahu itu tidak boleh, ( karena itu sama aja, ana kafirah bi nikmati rabbi ( aku kafir dengan nikmat tuhanku )
Sehingga sangat penting ibadah kita itu di terima oleh Allah, semoga kita semuaan ini bisa benar-benar bertaubat kepada Allah, musti menyesali perbuatannya kita, jangan lagi hendak melakukan perkata yang demikian itu dari setiap perbuatan yang buruk yang sudah kita lakukan dan bersungguh-sungguh menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah, dan kitapun kalau beribadah kepada Allah dengan keadaan kita benar bertaubat maka Allah pun mengatakan
Dan kemudian lagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah akan selalu menang, baik di dunia atupun di akhirat, kenapa? Surah Al-Baqarah ayat 194
bertakwalah kamu Kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa, selalu akan dapat kemenangan baik di dunia maupun di akhirat
Syurga yang seluas langit dan bumi ini akan di sediakan
( Lil muttaqin ) bagi orang-orang yang takwa, Karna kalau hanya mengandalkan iman aja tidak cukup, musti bertakwa
( Al iman, 'uryaaann, walibasuhuttaqwa, wa zinatuhul haya', wa tsamrotuhul 'ilmu ) iman itu telanjang, adapun pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah malu, sedangkan buahnya adalah ilmu
Sehingga cara kita untuk menjadi takwa adalah dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, insyaallah kita akan melanjutkan ayat ke 3 daripada surah Al-Baqarah di lain kesempatan, Alhamdulillah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar