terjemahan daripada ayat itu adalah: orang-orang yang beriman dengan yang ghoib, dan mendirikan atau menegakkan sembahyang dan daripada rezeki yang kami berikan kepada mereka lalu mereka menafkahkannya,
Nah arti dirikan, menegakkan shalat itu, shalat lah kamu dengan benar-benar, sempurna, rukunnya, syaratnya, batasan, khusuk, tumakninah dan juga adabnya, karena ( wayukimunasshalah ) itu berbeda dengan sholli, sembahyang lah kamu, nah di luar waktu pun sembahyang juga namanya, kalau sembahyangnya tidak khusuk, tidak ada adab dan tumakninah, sembahyang juga namanya, kalau sudah dikataian dirikanlah shalat nah ini musti ada yang demikian itu, musti benar-benar
serta orang-orang yang beriman dengan kitab yang sudah di turunkan kepada engkau ( maknanya Alquran) dan juga kitab yang diturunkan dari sebelum engkau ( taurat, Zabur, Injil) dan kemudian meyakini adanya akhirat, dan mereka itu lah mengikuti petunjuk dan mereka itu adalah orang-orang yang beruntung
Dari 3 ayat ini para ulama tafsir menyimpulkan bahwa ( niftahul Huda Wal falah khromsthatun) kunci daripada petunjuk dan keberuntungan dunia akhirat itu ada pada lima perkara, orang-orang yang beruntung dunia akhirat, orang-orang yang selalu berada di jalan petunjuk Allah ialah orang-orang yang mengerjakan dan melakukan lima perkara di dalam ayat-ayat tadi
Yang Lima perkara itu adalah :
1. Al ladzina yukminuna bil ghoib ( artinya Al iman bil ghoib, beriman kepada perkara yang goib,
2. ikomusshalah ( menegakkan mendirikan shalat )
3. Infakul malil halal BI wazhim mashru' ( menafkahkan mengeluarkan harta yang halal pada jalan yang di syariatkan
4. Al iman bil Qur'an Wal kutub bisshamawiyah ( beriman kepada Alquran dan seluruh kitab-kitab shamawi
5. Al yakin bil akhirah ( yakin dengan adanya hari akhirat)
Nah itu adalah ( Miftahul Huda Wal falah) kunci daripada petunjuk dan keberuntungan
1. Al ladzina yukminuna bil ghoib ( artinya Al iman bil ghoib, beriman kepada perkara yang goib,
Nah, iman itu menurut sebahagian para ulama, daripada berbagai macam pendapat, kita ambil salah satunya adalah iman itu ( wat tasdikul qolbi ) membenarkannya hati, sehingga iman itu adalah perkara hati, hati itu membenarkan, itu adalah iman, dan goib itu artinya ( ma ghoba 'anil hawa sol khromss ( sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra yang tidak bisa di perdapati oleh panca indra ( fayad khrulubihi ) maka termasuklah disini ( at tas dikul qolbi ) membenarkannya hati ( Billah ) dengan Allah, ( wa Mala ikatihi ) malaikatnya ( wa kutubihi ) kitab-kitab nya ( warusulihi ) rasul-nya ( Wal Yaumil akhir ) hari kiamat ( wa bil khodar ) dengan takdir ( ghroyrihi wa syarrihi ) baik dan buruknya ( Minallah ) dari Allah subhanahu wa ta'ala, nah itu adalah perkara yang ghoib, sehingga kalau kita percaya dengan demikian itu maka sudah termasuk lah kita pada ayat itu ( Al ladzina yukminuna bil ghoib ) yang menjadikan petunjuk dan keberuntungan kepada kita dunia dan akhirat
Contohnya Allah itu ghoib, kenapa? Karena tidak bisa di lihat oleh mata dzohir ini, malaikat ghoib juga tidak bisa di lihat dengan panca indra kita, ( kutubihi) kitab-kitab Allah, nah itu pun hal yang ghoib juga, kita tidak pernah tahu bagaimana Allah menurunkan kitab itu kepada rasul-nya, itu ghoib bagi kita, ( wa rasulihi) rasul-rasul Allah pun ghoib bagi kita, ( Wal yaumil akhir) termasuk juga hal yang ghoib yang kita tidak tahu, dan takdir baik dan buruk pun ghoib juga, nah bila kita percaya dengan semuaan itu maka kita sudah termasuk pada ayat tersebut ( Al ladzina yukminuna bil ghoib )
1. Iman, imam Al Bukhari mengatakan di dalam kitab beliau shahihul Bukhari, di dalam aljamius shahih, ( Al iman Yazid wa yangkus) keimanan kita kepada hal-hal yang demikian itu tadi bisa bertambah bisa berkurang, bisa menguat bisa juga melemah, bisa semakin tajam dan juga bisa semakin tumpul, jadi iman yang ada pada kita ini ( Yazid wa yangkus ) bertambah dan juga bisa berkurang,
Contohnya kadang-kadang iman kita naik, kadang-kadang iman kita turun, macam sinyal hp jugalah macam itu, nah iman juga seperti itu, ( yazidu bitta'ah ) wa yangkus bil maksiah) iman kita itu dia bertambah dengan sebab mengerjakan perbuatan taat kepada Allah
Contohnya seperti berdzikir kepada Allah, bershalawat kepada Baginda Rasulullah, berkumpul di majlis ilmu, nah itu perkara yang menambah iman, ( wa yangkusu bil maksiah ) dan iman itu akan turun, berkurang, dengan kita melakukan perbuatan maksiat, bahkan ada beberapa macam maksiat yang bila kita lakukan bisa membuatkan iman kita hilang sama sekali, sinyalnya sudah tidak ada lagi, kalau hp kita ni sudah tidak ada sinyal seperti apapun canggihnya pasti tidak berguna, seperti apapun mahalnya itu hp kalau tidak ada sinyal, maka tidak bisa di pakai, nah orang kalau sudah tidak ada iman di beri nasihat tidak akan masuk, apalagi hendak memberikan nasihat kepada orang lain
Nah ada kalanya iman itu hilang sama sekali di sebabkan kita melakukan perbuatan maksiat, Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda ( man zana awwsyaribal khromro, naza'allahu minhul iman, kama yaghrrlaul insanul khromisa min raksih, rawahul hakim )
Barangsiapa berzina atau dia meminum minuman keras, Allah cabut daripada iman, sebagaimana mencabut, melepaskan seseorang akan bajunya dari kepalanya.
Jadi perbuatan zina itu di khawatirkan akan menghilangkan iman sama sekali, dan meminum minuman keras, Allah cabut itu iman seperti iman hendak melepaskan baju gamis kita, sangat mudah,
Kemudian Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda lagi ( laa lazni zani hina yazni wahuwa mukmin
, Wala yasriqu shoribu hina yasriqu wahuwa mukmin, wala shoribul khromroh hina yasrobuha wahuwa mukmin, ila akhir, rowahu Bukhari wa muslim )
Tidak ada iman bagi sesorang yang hendak melakukan perbuatan zina itu, tidak ada iman bagi orang-orang yang hendak melakukan perbuatan dosa seperti mencuri, tidak ada iman bagi orang-orang yang berani meminum minuman keras itu, maka artinya orang-orang yang melakukan 3 perkara itu pada saat waktu telah di cabut imannya, dan tidak ada sama sekali imannya pada saat itu, zina, minum minuman keras dan mencuri
Sehingga 3 macam perkara itu adalah penyakit masyarakat, baik masyarakat kelas bawah maupun masyarakat kelas atas tidak lepas daripada 3 perkara itu, nah kenapa 3 macam perbuatan itu di katakan sebagai perkara yang menghilangkan iman, sebab di cabutnya iman itu :
1. Zina, karena zina ini sangat keras ancamannya daripada Allah, sampai-sampai ada sebahagian para ulama yang menyebutkan dalam kitab khabair, ini peringkat dua dosa besarnya, yang pertama itu syirik kepada Allah,
seperti firman-Nya dalam surat Al Isra ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk
( Imam Ahmad bin Hambal )
Umatku senantiasa ada dalam kebaikan selama tidak terdapat anak zina di antara mereka, namun jika terdapat anak zina, maka Allah, akan menimpakan azab kepada mereka
Karena zina ini akan menghancurkan tatanan masyarakat, dan zina ini kalau dia jadi anak akan menumbuhkan generasi yang tidak baik, sehingga akan mendapatkan azab daripada Allah subhanahu wa ta'ala, nah itu sebabnya zina ini sangat di kecam keras di dalam Alquran,
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berpesan dalam sebuah hadist
( LAA yadhrulul Jannata lahbun Nabata min haram ) tidak masuk syurga daging yang tumbuh daripada yang haram, artinya orang yang memberikan nafkah, mencari rezeki daripada cara yang haram, ( fannaru aulabih ) karena neraka lebih patut daripadanya, itu daging yang diberi makan dengan makanan yang haram, apalagi perbuatan zina akan lebih parah daripada itu,
Maka perbanyaklah meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ini adalah masalah yang serius, jangan di anggap remeh, sungguh demikian itu jelas adanya, dan Alquran sungguh sudah memberikan peringatan kepada kita
Bagi orang-orang yang tidak mahu bertaubat kepada Allah, bagi orang-orang yang tidak mahu menyesali perbuatannya itu, dan bagi orang-orang yang tidak punya rasa takut dan malu di hadapan Allah, menganggap Enteng, mereh, prihal zina, maka ketahuilah oleh kalian bawah sesungguhnya zina itu adalah hutang, ini orang yang tidak mahu bertaubat maka sungguh hutang tetaplah hutang, maka hutang itu akan di bayar orang anaknya, orang keturunan kelak akan di zinahi orang
Kemudian lagi yang menghilangkan iman itu adalah minum-minum keras, minum arak,
kemudian lagi yang menghilangkan iman, di cabutnya iman itu adalah di sebabkan oleh mencuri, kita ambil contoh seperti orang yang korupsi yang melibatkan ratusan orang yang sengsara akibat perbuatannya itu, nah apakah ada iman dalam dirinya pada saat ia melakukan perbuatan demikian? Maka jelas iman itu sudah di cabut oleh Allah pada saat ia hendak melakukan perbuatan demikian, yang mengakibatkan jutaan masyarakat sengsara gara-gara perbuatannya itu
Bila orang itu di dalam hatinya tidak ada iman, dan masih melakukan perbuatan demikian lalu di bawanya shalat, berangkat haji menghadap Allah maka itu jelas orang munafik, sehingga perbuatan ibadahnya itu hanya untuk di tujukan kepada makhluk sahaja, sehingga anggapannya kalau ianya itu adalah orang yang baik, orang yang suka berbuat dengan masyarakat, orang yang bersosial, dan lain sebagainya, ia bisa menipu manusia namun tidak bisa menipu Allah subhanahu wa ta'ala
Jadi iman itu bisa bertambah seiring kita taat kepada Allah, iman kita bisa bertambah kalau kita dekat dengan orang-orang yang shaleh, iman kita turun, iman kita habis, iman kita hilang, kalau kita suka melakukan perbuatan maksiat dan menganggap enteng itu perbuatan dosa kemudian tidak mahu bertaubat kepada Allah, nah itu lah
Orang-orang yang beriman dengan perkara yang ghaib,
Kemudian yang ke dua
Kunci keberuntungan tadi adalah ( ikomusshalah) mendirikan shalat, menegakkan shalat, menegakkan shalat, lain dengan orang yang mengerjakan shalat,
Contohnya orang yang memasang tiang, asal pasang aja tak jadi masalah, nah lain hal nya dengan orang yang menegakkan tiang,
Karena Allah mencela orang-orang yang shalat di dalam Alquran dan Allah memuji orang-orang yang menegakkan shalat,
Maka daripada itu sehingga Allah subhanahu wa ta'ala bukan sahaja menyuruh kita memerintahkan kepada tentang shalat akan tetapi
Dirikanlah shalat itu, kenapa sebabnya? Karena bilamana kita mampu mendirikan shalat, maka shalat itu akan menjadikan benteng kepada kita, sehingga kita terhindar daripada segala macam perbuatan dosa, baik itu kepada Allah maupun kepada sesama manusia
Nah seperti apa mendirikan shalat itu ?
seperti apa menegakkan shalat itu ?
seperti apa shalat kita itu bisa jadi benteng daripada segala macam perbuatan dosa ?
para ulama suluk mengatakan bahwa yang di maksud dengan ( ikomusshalah) itu adalah
( fi'lus shurud, Wal Arkan, wa sunat, wa tarkul mubtilat, Wal Muharromat, wal makhruhat, dzohiraw wa batinan)
Mendirikan shalat itu adalah melaksanakan syarat, rukun, dan Sunnat di dalam sembahyang,
dan kemudian meninggalkan yang bisa membatalkannya, meninggalkan yang haram yang tidak membatalkannya, serta meninggalkan yang makhruh.
Sehingga kalau kita pada saat shalat bisa melakukan demikian maka kita sudah di katakan sebagai orang yang menegakkan shalat, Alhamdulillah
Contohnya melakukan syarat sembahyang: suci, menutup aurat, mengharapkan kiblat, tahu/mengerti cara-cara sembahyang,
rukun-rukun sembahyang laksanakan dengan baik
Adapun lagi sunnat-sunnat sembahyang di laksanakan, sunnat sembahyang itu macam tasyahud awal, qunut, membaca iftitah, membaca surah sesudah alfatihah, itu sunnat-sunnat di salam sembahyang, kita kerjakan itu
dan tinggalkan perkara yang bisa membatalkan sembahyang, dan tinggalkan pula yang haram-haram tapi tidak sampai membatalkan sembahyang,
karena di dalam shalat ada perkara yang haram namun tidak membatalkan shalat, ujar ulama fiqih contohnya seperti mentasditkan yang tidak bertasdit, ( maaa Lik kiyawwiddin, ) nah seharusnya kan tidak bertasdit, nah itu haram, tapi tidak sampai membatalkan sembahyang, nah perkata demikian itu juga harus di hindari
( Wal makruhat ) dan meninggalkan perkara yang makhruh-makhruhnya, nah macam apa contohnya seperti meninggalkan membaca auzubillahiminassyaitorirrojim, meninggalkan tasyahud awal, makhruh juga, jadi segala macam perbuatan makhruh di dalam shalat kita usahakan untuk meninggalkannya baik secara dzohir maupun bathin,
sehingga kalau kita bisa meninggalkan semua perkara itu, maka kitapun di katakan sebagai
( wayukimunassholah) mendirikan shalat, nah adapun kita ni susah hendak menegakkan shalat itu, paling tidak kita berusaha untuk hampir-hampir ke arah demikian
Karna Baginda Rasulullah mengatakan bahwa ( wa qoribu ) tidak bisa juga secara sempurna mendirikan shalat, maka yang mendekati sempurna ( wa qoribu)
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
( Kam min qoi, min hazuhu min sholati'i ta'ab wan nashob, ) Berapa banyak orang yang sembahyang itu hanya mendapatkan susah payahnya sahaja, kenapa? Karena shalatnya di tolak oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Contohnya kalau kita ni di suruh orang memasang tiang, kalau tiang yang kita pasang itu miring, tidak di terima oleh yang punya rumah, jadi terpaksa kita mengulangi,
( 'innal 'abda layusholli Sholah, Laa yuktabu lahu shulsuhaa wala usruha , mi'innama yuktabu li'abdi min sholatihi ma'a qola Minha ( rowahu abu daud )
Bahwa seorang hamba yang sembahyang tidak di tulis 1/6nya tidak di tulis, daripada sholat 1/10 tidak dapat daripada sholatnya itu, kecuali yang di tulis daripada sholat itu yang mana kita sadar pada saat ketika kita sedang mengerjakan ini shalat
Contohnya pada saat rukuk, kita sadar kita sedang rukuk, kita i'dital, kita sadar kita sedang i'dital, pada saat sujud, kita sadar kita sedang sujud, nah itu yang di tulis oleh Allah, yang di terima oleh Allah, ( demikian itulah yang dinamakan sebagai mendirikan shalat
Kemudian yang ketiga
( 'infakul mal fi wazhin mashruh ) menafkahkan harta yang halal di jalan syariat,
ada yang wajib contohnya seperti zakat, menafkahi keluarga,
ada yang sunnat membantu fakir miskin, menolong orang, bersedekah, wakaf dan sebagainya,
Nah ini Perlu di perhatikan ( 'infak maalil halal ) yang diberikan itu yang di nafkahkan itu adalah harta yang halal, kalau itu harta yang haram jangan berani-berani di nafkahkan, kenapa? Tidak boleh seharusnya di kembalikan kepada yang punya, bukan malah di nafkahkan
Kita ni berisi, punya harta haram kemudian hendak memandai-mandai kita wakafkan ke masjid, jangan, cocoknya harta yang haram itu kita kembalikan kepada yang punya nya siapa,
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
( man ashoba malan min ma'sam, fawasholabihi rhohima, aw tashoddaqo bi wanafaqohu fi Sabilillah, jama Allahu zalik jami'a, shumma kazafahu finnar, ( rowahu abu daud )
siapa yang dapat harta dari jalan dosa, siapa yang mencari harta melalui cara yang haram kemudian dia berikan kepada keluarganya, dia sodaqohkan, dia bagi-bagi itu harta kepada orang, nah orang semacam ini nanti di akhirat Allah kumpulan semua itu kemudian Allah timpakan/lemparkan kepadanya bersama-sama dirinya masuk kedalam neraka, ( kazafahullahu.... finnar kazafahullah.... finnaar...2x)
Jadi bersedekah, menyumbangkan duit yang haram itu, hasil daripada kerja yang haram itu bukan membuatkan kita mendapatkan pahalaaaa,
malah nantinya akan memberati, kenapa? karena duit yang haram itu mustinya di balikin kepada pemiliknya, kepada yang berhaknya siapa? Nah itu baru benar
Contohnya riba, nah semisal kita ini bekerja menghutangi orang, orang berhutang kepada kita 2 juta, jadi 1 juta 2ratus, berarti kita sedang melakukan riba, berjalan sekian bulan atau sekian tahun, kemudian Allah bukakan hati kita lalu kita hendak bertaubat kepada Allah, nah seperti apa caranya hendak taubat kepada Allah :
1. Berhenti, jangan lagi buat seperti itu
2. Yang kita tagih itu, modal aja, ( raksu Malih ) yang kita ambil uang kita aja, modal kita yang kita pinjamkan ke orang, jangan lagi ada lebihnya, berapa uang yang kita pinjamkan ke orang, nah itu yang harus kita ambil, jangan lagi ada lebih-lebihnya,
yang berapa bulan, berapa tahun kita ambil duit orang yang lebih itu kita Hitung kemudian kita kembalikan kepada yang punyanya, demikian itu lah taubat daripada riba namanya dalam hal ini, kalau tidak seperti itu , tidak benar-benar bertaubat namanya
Nah berapa bulan, berapa tahun, ini orang mencicil uang dengan kita, maka musti kita balikkan uangnya, Karna kiga sekarang hendak taubat kepada Allah, maka langsung kita Jumpai sama itu orang
Assalamualaikum tuan, aku sekarang hendak bertaubat kepada Allah, aku hendak meminta maaf, ini duit engkau, ini bukan aku punya, tidak halal bagiku, aku minta ampun minta Rida, sekarang aku hendak bertaubat kepada Allah, ini duit engkau mau ku kembalikan, nah seperti itu mustinya
Jangan duit bunga itu di sedekahkan, di sumbangkan, di nafkahkan kejalan Allah itu salah kaprah namanya, karna agama kita mengatur itu duit harus di pulangkan kembali kepada yang punyanya,
Contoh kalau seandainya yang punya tidak ada lagi, sudah mati orangnya, kasi kan sama anaknya, warisnya, tidak ada anaknya, sudah meninggal juga, kasikan kepada keluarganya, tak ada juga, tak tahu kita siapa, atau sudah lupa, nah baru di sumbangkan untuk kepentingan ummat Islam dan niatkan ini pahalanya untuk orang yang punya ini uang, dan niatku hendak benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada Alla, nah macam itu lah caranya, itupun uang-uang riba uang bisa kita hitung, macam mana kalau uangnya itu banyak, semuaan isi rumah kita ini uang riba semua nah ini yang sulit, disana ada uang riba, disini ada menang permainan, perdagangan jual beli ada juga yang riba, disini ada uang hasil penimu orang dan macam-macam lagi, terkumpul duit macam-macam dirumah, nah ini yang jadi masalah, susah hendak membalikkannya
mudah-mudahan kita di tolong Allah untuk bisa benar-benar bertaubat dalam hal ini aamiin ya Allah aamiin ya rabbal alamin
Jadi ( infakul mal fi wazhin mashruh ) menafkahkan harta yang halal kepada jalan syariat, jalan yang benar, dengan cara yang halal,
jadi duitnya itu duit halal, dan di gunakan ke jalan yang halal, yang di izinkan oleh syariat
Kemudian yang ke empat
Daripada kunci keberuntungan dunia akhirat adalah beriman dengan Qur'an dan beriman dengan kutubusshamawiyah)
Abi Zhar pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ( Kam kita ban anzalallah )
wahai Rasulullah berapa jumlah kitab yang di turunkan Allah kedunia ini ( kola ) menjawab Baginda Rasulullah
( mi'atu kitabin wa 'arba'atu kutubin ) ada 104 kitab jumlahnya yang di turunkan Allah sejak nabi Adam sampai Rasulullah, nah itu wajib kita percaya dengan adanya kitab-kitab samawi,
( 'anzalallah 'ala sis, khromsina shohibah ) Allah turunkan kepada nabi sis, anaknya nabi Adam 50 kitab, 50 lembar,
( wa 'ala 'akhr nuh, shalasinah shohibah) nabi Idris 30,
( wa 'ala Ibrahim, asra shooha ib ) 10
( wa'anzala 'ala Musa kobla taurot, ashra sho'ha ib ) nabi Musa sebelum di beri kitab taurat dapat 10 kitab samawi,
kemudian ( wa 'anzala taurot, wazzabur, Wal inzil, Wal qur'an) semuanya jumlahnya 104, nah itu yang wajib kita percayai
Nah yang ke lima
Kunci daripada keberuntungan dunia akhirat adalah
( Al yakin bil akhiroh) yakin kepada akhirat, beriman dengan yang ghoib, rukun iman yang 6 perkara, nah itu termasuk ghoib
1.Beriman kepada hal yang ghoib
2. Mendirikan shalat
3. Menafkahkan harta yang halal kepada jalan yang di syariatkan
4. Beriman kepada kitab-kitab Allah
5. Yakin dengan akhirat
Nah yakin itu apa artinya? Nah yakin ini ada sedikit perbedaannya dengan iman,
( imam sahal bin abdullah at tustari mengatakan, yakin itu artinya Al iman ma'azziyadah) iman plus artinya,
Kalau orang itu beriman belum tentu punya keyakinan, tapi kalo orang sudah yakin, dia pasti beriman
contoh ada orang dengan akhirat dia yakin, maka
gambarannya kalau orang itu yakin dengan akhirat yang pertama ialah ia akan mempersiapkan, berusaha untuk bekalnya di alam kubur,
(Al kobru awwalun man zilin min manazilil akhiroh)
kubur itu adalah tempat pertama daripada tempat-tempat akhirat, dan kemudian yakin dengan Padang Mahsyar, timbangan, Mizan, syirat, syurga, neraka dan lain lain,
nah yakin ini ( yaktasibu bil quwwaaah wattho'aa) yakin ini bisa kuat bisa lemah, seperti iman juga, tapi intinya yakin ini ( Laa syak) tidak ragu-ragu,
contohnya kita tidak ragu-ragu kalau kita akan masuk ke dalam alam kubur setelah dunia ini,
Tentang akhirat pula
nah kalau kita kuat dengan keyakinan itu, maka kita seharusnya musti bersungguh-sungguh membangun, mempersiapkan bekal kita nanti di alam kubur, nah ini yang jadi masalah, yakin apa tidak, kalau tidak ini bermasalah, kalau yakin, seberapa yakin ? Kuat atau lemah, kalau kuat Alhamdulillah berarti dirinya sudah mempersiapkan apa sahaja bekal yang hendak di persiapkan menuju alam barzah
Coba lah kita pikirkan baik-baik, kalau memang kita benar-benar beriman dengan hari kiamat maka musti kita persiapkan daripada sekarang kubur kita, jangan kita lengah, jangan kita lalai,
contohnya lagi Titian tirot, kita musti percaya dengan semikian, titian sirat ... ini musti kita cepat melewatinya, jangan lama-lama, jangan lengah, bawahnya ini neraka, harus yakin kita
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
( ta'allamul yakin ) pelajari yakin itu, karena sedikit amal dari orang yang yakin jauh lebih baik daripada orang yang banyak amal tapi ragu-ragu,
nah seperti apa belajar yakin itu, imam Al-Ghazali ( zaalisul muqinin) menyampaikan kalau hendak belajar yakin maka musti kita kawani orang-orang yang yakin, jangan kita kawan orang-orang yang lemah keyakinannya, nanti terikut kita,
dekat-dekat duduk bersama semajlis dengan orang-orang yang kuat keyakinannya, niscaya menjalar kepada kita, artinya orang yang rajin belajar, rajin ibadah, rajin memperbaiki diri, rajin mengurusi dirinya dan menjauhkan diri daripada perbuatan-perbuatan dosa, perbuatan yang sia-sia, sehingga kitapun akan ikut menjadi orang yang demikian, insyaallah
Nah apabila 5 perkara itu bisa kita persiapan sebsgai bekal kita menjadi orang yang beruntung dunia dan akhirat, maka selamatlah kita, Allah mengatakan
Merekalah orang-orang yang di atas petunjuk Tuhan, dan mereka itu lah orang-orang yang beruntung, yang sukses dunia dan akhirat, semoga kita semuaan ini bisa menjadi orang-orang yang seperti demikian itu aamiin ya Allah amiin ya rabbal 'alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar